Beranda blog Halaman 302

Kepala BPKA Berfoto Bersama Mendagri dan Wali Nanggroe Aceh Usai Penganugerahan Gelar Adat

0
Kepala BPKA Berfoto Bersama Mendagri dan Wali Nanggroe Aceh Usai Penganugerahan Gelar Adat. (FOTO: FOR NUKILAN)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Kepala Badan Pengelolaan Keuangan Aceh (BPKA), Reza Saputra, S.STP., M.Si., turut berfoto bersama Menteri Dalam Negeri RI, Jenderal Pol (Purn). Prof. Muhammad Tito Karnavian, M.A., Ph.D., serta Paduka Yang Mulia Wali Nanggroe Aceh, Tgk. Malik Mahmud Alhaytar. Momen ini juga diikuti unsur Forkopimda Aceh dan jajaran pejabat lainnya.

Sesi foto tersebut berlangsung setelah prosesi penganugerahan gelar adat “Petua Panglima Hukom Nanggroe” kepada Tito Karnavian di Balai Keureukoen, Meuligoe Wali Nanggroe Aceh, Banda Aceh.

Sebagai informasi, Tito Karnavian menerima gelar kehormatan tersebut langsung dari Wali Nanggroe Aceh, Teungku Malik Mahmud Al Haythar. Prosesi penyematan dipimpin sendiri oleh Malik Mahmud dan disaksikan Wakil Gubernur, Sekda Aceh, unsur Forkopimda, serta sejumlah pejabat terkait.

Acara penganugerahan ditandai dengan penyematan medali dan pemasangan selempang, yang kemudian dilanjutkan dengan prosesi peusijuek atau tepung tawar.

Dalam sambutannya, Wali Nanggroe menyampaikan bahwa momen tersebut memiliki nilai sejarah penting. Ia menegaskan bahwa lembaga Wali Nanggroe memberikan tanda kehormatan tertinggi berupa medali dan gelar Petua Panglima Hukom Nanggroe.

“Anugerah ini diberikan atas jasa dan dedikasi beliau dalam menjaga keamanan nasional, memperkuat keamanan di Aceh, serta pengabdian luar biasa dalam menjaga perdamaian Aceh,” kata Malik Mahmud.

Ia juga menambahkan bahwa selama menjabat sebagai Kapolri, Tito telah memberikan kontribusi besar bagi perdamaian Aceh, dan pengabdian tersebut terus berlanjut ketika Tito menjabat sebagai Mendagri.

“Dengan penganugerahan ini, rakyat Aceh menyampaikan rasa hormat dan terima kasih yang mendalam. Semoga menjadi lambang persaudaraan yang terus terjaga,” ujar Malik Mahmud.

Sementara itu, Tito Karnavian mengatakan bahwa gelar tersebut merupakan kehormatan besar bagi dirinya.

“Ini akan menjadi kenangan seumur hidup saya karena telah diberikan gelar Petua Panglima Hukom Nanggroe, yang diserahkan langsung, tanpa diwakili, oleh Paduka Yang Mulia Wali Nanggroe Aceh, Malik Mahmud,” kata Tito.

“Saya bangga menerima ini dari sebuah lembaga adat yang sangat kredibel di Aceh,” sambungnya.

Kepala BPKA Dampingi Sekda dan Kapolda Aceh Lepas Kepulangan Mendagri Tito Karnavian

0
Kepala BPKA Dampingi Sekda dan Kapolda Aceh Lepas Kepulangan Mendagri Tito Karnavian. (FOTO: BPKA)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Kepala Badan Pengelolaan Keuangan Aceh (BPKA), Reza Saputra, S.STP., M.Si., bersama Sekda Aceh, M. Nasir, S.IP., M.PA., serta Kapolda Aceh, Brigjen Pol Drs. Marzuki Ali Basyah, M.M., turut hadir melepas keberangkatan Menteri Dalam Negeri RI, Jenderal Pol (Purn) Prof. Muhammad Tito Karnavian, M.A., Ph.D., yang kembali ke Jakarta melalui Bandara Sultan Iskandar Muda, Blang Bintang, Aceh Besar.

Kunjungan Mendagri ke Aceh berlangsung dalam rangka penganugerahan gelar adat “Petua Panglima Hukom Nanggroe” yang diberikan oleh Wali Nanggroe Aceh, Paduka Yang Mulia Teungku Malik Mahmud Al Haythar. Gelar tersebut disampaikan sebagai bentuk penghormatan atas kontribusi Tito terhadap Aceh.

“Anugerah ini diberikan atas jasa dan dedikasi beliau dalam menjaga keamanan nasional, memperkuat keamanan di Aceh, serta pengabdian luar biasa dalam menjaga perdamaian Aceh,” kata Malik Mahmud.

Ia juga menegaskan bahwa selama menjabat sebagai Kapolri, Tito berperan penting dalam mewujudkan dan menjaga perdamaian Aceh, dan kontribusi tersebut tetap berlanjut ketika Tito mengemban tugas sebagai Menteri Dalam Negeri. “Dengan penganugerahan ini, rakyat Aceh menyampaikan rasa hormat dan terima kasih yang mendalam. Semoga menjadi lambang persaudaraan yang terus terjaga,” ujarnya.

Di hadapan tamu undangan, Tito Karnavian menyampaikan apresiasi dan rasa harunya atas kehormatan yang ia terima. ‎”Ini akan menjadi kenangan seumur hidup saya karena telah diberikan gelar Petua Panglima Hukom Nanggroe, yang diserahkan langsung, tanpa diwakili, oleh Paduka Yang Mulia Wali Nanggroe Aceh, Malik Mahmud,” kata Tito.

Ia menambahkan bahwa gelar tersebut memiliki nilai khusus bagi dirinya. ‎”Saya bangga menerima ini dari sebuah lembaga adat yang sangat kredibel di Aceh,” sambungnya.

Lima Pejabat BPKD Aceh Barat Ditahan Terkait Korupsi Insentif Pajak Rp3,5 Miliar

0
Lima tersangka korupsi insentif pajak di Aceh Barat. (Foto: Dok. Kejari Aceh Barat)

Nukilan.id | Meulaboh – Kejaksaan Negeri (Kejari) Aceh Barat resmi menahan lima tersangka kasus dugaan korupsi pemberian insentif pemungutan pajak daerah dan retribusi daerah di Kabupaten Aceh Barat periode 2018-2022, Rabu (12/11/2025).

Kepala Seksi Intelijen Kejari Aceh Barat, Ahmad Lutfi, membenarkan penahanan tersangka tersebut dalam keterangan tertulisnya yang diterima Nukilan.

Kelima tersangka merupakan pejabat Badan Pengelolaan Keuangan Daerah (BPKD) Aceh Barat yang menjabat pada periode berbeda diantaranya berinisial MH selaku Kepala BPKD tahun 2018-2019.

Kemudian Z selaku Kepala BPKD tahun 2019-2020 dan 2021-sekarang, EH selaku Kabid Pendapatan tahun 2018-2019, SF selaku Kabid Pendapatan tahun 2019-2022, dan JJ selaku Plt. Kepala BPKD tahun 2020-2021.

Para tersangka telah diserahkan dari penyidik kepada penuntut umum pada 6 November lalu dalam tahap penyerahan kedua, lengkap dengan barang bukti. Mereka langsung ditahan selama 20 hari di Lapas Kelas IIB Meulaboh, terhitung sejak 6 November hingga 25 November 2025.

Berdasarkan hasil penyidikan, kelima tersangka diduga mencairkan dana insentif atau upah pungut pajak dan retribusi daerah tidak sesuai ketentuan dan diberikan kepada pihak yang tidak berhak.

Perbuatan tersebut menimbulkan kerugian keuangan negara sebesar Rp3.580.707.692 dari total insentif Rp4.432.914.871 selama periode 2018-2022. Hingga kini, telah dilakukan pengembalian sebagian kerugian negara sebesar Rp624.469.196 kepada penyidik Kejari Aceh Barat.

Kelima tersangka dijerat dengan Pasal 2 ayat (1) jo Pasal 3 jo Pasal 18 ayat (1) huruf a, b, d ayat (2) dan (3) UU Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 dan Pasal 64 ayat (1) KUHPidana.

Kepala Seksi Intelijen Kejari Aceh Barat, Ahmad Lutfi, S.H., menjelaskan proses hukum akan segera dilanjutkan ke tahap penuntutan setelah berkas dan barang bukti dinyatakan lengkap.

“Tentunya penahanan ini dilakukan untuk kepentingan hukum dan kelancaran proses persidangan. Kami memastikan penanganan perkara ini dilakukan secara profesional dan transparan,” tandasnya.

Reporter: Rezi

Tito Karnavian Terima Gelar Kehormatan dari Wali Nanggroe Aceh Hari Ini

0
Menteri Dalam Negeri Muhammad Tito Karnavian (kiri) menerima kunjungan silaturahmi Wali Nanggroe Aceh Teungku Malik Mahmud Al Haythar (kanan) di Kediaman Dinas Mendagri, Jakarta. (Foto: Kementerian Dalam Negeri)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH — Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian dijadwalkan menerima gelar kehormatan dari Wali Nanggroe Aceh, Tgk Malik Mahmud Al-Haythar, Rabu (12/11/2025).

Dari informasi yang dihimpun Nukilan.id, prosesi penganugerahan tersebut berlangsung di Pendopo Wali Nanggroe, Lamblang Manyang, Kecamatan Darul Imarah, Aceh Besar, pukul 10.00 WIB.

Pemberian gelar adat ini menjadi bentuk penghormatan terhadap peran Tito Karnavian dalam menjaga hubungan antara pemerintah pusat dan Aceh yang dinilai tetap harmonis.

Menjelang acara tersebut, Gubernur Aceh Muzakir Manaf alias Mualem turut menyampaikan ucapan selamat kepada Tito atas Anugerah Adat yang akan diberikan oleh Wali Nanggroe.

Hal itu disampaikan Mualem saat bertemu Tito Karnavian di ruang kerjanya di Kantor Kementerian Dalam Negeri, Jakarta Pusat, Selasa (11/11/2025). Dalam pertemuan itu, Mualem juga memohon maaf karena tidak dapat hadir langsung dalam prosesi adat tersebut.

“Ia menjelaskan bahwa terdapat agenda lain yang tidak dapat ditinggalkan, sehingga tidak memungkinkan untuk mendampingi Mendagri dalam prosesi adat tersebut. Saya mohon maaf karena besok tidak dapat hadir pada acara adat bersama Bapak Mendagri. Saya ingin menyampaikan ucapan selamat kepada Bapak Mendagri, semoga sukses dan selalu dalam kebahagiaan,” ujar Mualem.

Sementara itu, Tito Karnavian menyampaikan apresiasi terhadap kelancaran penyelenggaraan pemerintahan di Aceh yang menurutnya berjalan baik berkat sinergi antara pemerintah pusat, Pemerintah Aceh, serta lembaga adat.

“Saya turut menyampaikan selamat atas segala urusan yang berjalan lancar di Aceh selama ini, berkat arahan dan perhatian seluruh pihak,” ujar Tito.

Ia juga menyampaikan rasa terima kasih kepada Wali Nanggroe atas penghargaan yang akan diberikan, serta menilai bahwa hubungan pemerintah dengan lembaga adat Aceh selama ini terjalin baik dan produktif.

“Tito juga memberikan apresiasi kepada Wali Nanggroe atas rencana pelaksanaan pemberian anugerah adat yang akan berlangsung. Ia menyampaikan terima kasih atas dukungan dan komunikasi yang baik dari seluruh pemangku kepentingan adat Aceh,” demikian keterangan yang diterima. (XRQ)

Reporter: Akil

Mendagri Tito Karnavian Disambut Hangat Wagub Aceh di Bandara SIM

0

NUKILAN.ID | BANDA ACEH — Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia, Muhammad Tito Karnavian, tiba di Aceh, Selasa (11/11/2025). Kedatangannya disambut langsung oleh Wakil Gubernur Aceh, H. Fadhlullah SE, di Bandara Internasional Sultan Iskandar Muda (SIM), Aceh Besar.

Kunjungan Mendagri kali ini dilakukan dalam rangka menghadiri acara Anugerah Adat yang akan diberikan oleh Wali Nanggroe Aceh pada Rabu (12/11). Acara tersebut menjadi agenda penting karena penganugerahan adat diberikan sebagai bentuk penghormatan atas dedikasi dan kontribusi Tito Karnavian dalam memperkuat hubungan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Aceh.

Turut hadir dalam penyambutan di Bandara SIM, Kapolda Aceh, Wakapolda, Kabinda, Kasdam Iskandar Muda, Danlanud SIM, Majelis Tuha Peut Wali Nanggroe, serta sejumlah pejabat Pemerintah Aceh seperti Asisten I Sekda Aceh, Kepala Badan Kepegawaian Aceh (BKA), Kepala Badan Pengelolaan Keuangan Aceh (BPKA), dan Kepala Biro Administrasi Pimpinan Setda Aceh.

Sebelumnya, di Jakarta, Gubernur Aceh H. Muzakir Manaf telah menyampaikan ucapan selamat secara langsung kepada Mendagri atas rencana penganugerahan adat tersebut. Pertemuan keduanya berlangsung di ruang kerja Mendagri, Kementerian Dalam Negeri.

Dalam pertemuan itu, Gubernur Aceh juga menyampaikan permohonan maaf karena tidak dapat hadir langsung dalam prosesi penganugerahan adat di Aceh. “Saya mohon maaf karena besok tidak dapat hadir pada acara adat bersama Bapak Mendagri. Saya ingin menyampaikan ucapan selamat, semoga sukses dan selalu dalam kebahagiaan,” ujar Gubernur.

Sementara itu, Mendagri Tito Karnavian menyampaikan apresiasi terhadap penyelenggaraan pemerintahan di Aceh yang dinilainya berjalan baik berkat koordinasi antara Kementerian Dalam Negeri, Pemerintah Aceh, dan lembaga adat.

“Saya turut menyampaikan selamat atas segala urusan yang berjalan lancar di Aceh selama ini, berkat arahan dan perhatian seluruh pihak,” kata Mendagri.

Tito juga mengungkapkan penghargaan kepada Wali Nanggroe Aceh atas rencana pelaksanaan Anugerah Adat tersebut. Ia berharap kegiatan itu semakin mempererat hubungan antara Pemerintah Pusat dan masyarakat Aceh, sekaligus menjadi simbol keharmonisan antara nilai adat dan tata pemerintahan.

Kisah Cut Vivia Talitha: Bangkit dari Peringkat Terbawah hingga Lolos ke ITB

0
Alumnus SBM ITB, Cut Vivia Talitha menceritakan perhatian gurunya, Ibu Juraidah semasa SMP yang membuatnya bangkit dari ranking 40 di kelas. (Foto: Dok. Pribadi)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH — Perjalanan pendidikan Cut Vivia Talitha bermula dari titik yang tidak mudah. Pernah berada di peringkat terakhir—ranking 40 dari 40 murid—saat duduk di bangku kelas 3 SMP, alumnus Sekolah Bisnis dan Manajemen Institut Teknologi Bandung (SBM ITB) itu mengungkapkan bahwa masa tersebut menjadi titik balik terpenting dalam hidupnya.

Lahir di Denpasar, Bali, Vivia pindah ke Bireuen, Aceh, pada usia 11 tahun. Kepindahan itu terjadi di tengah konflik yang melanda keluarganya. Pada tahun pertama bersekolah di SMPN 1 Peusangan, ia masih mampu masuk 10 besar. Namun keadaan berubah drastis di tahun berikutnya. Konflik keluarga yang berlanjut dan masalah finansial membuat konsentrasinya terpecah. Ia kerap malas mengerjakan tugas, sering dihukum guru, dan prestasinya merosot tajam.

“Hingga semester 1 kelas 3 (SMP), aku jatuh ke ranking 40,” tulisnya sebagaimana dikutip NUKILAN.ID dari akun Instagram miliknya @viviatal. Ia mengenang momen ketika sang wali kelas, Ibu Juraidah, menatapnya dan berkata, “Vi, Vivi ranking 40. Kenapa bisa sejauh ini?” Pertanyaan itulah yang menjadi awal perubahan besar dalam hidupnya.

Perhatian Guru yang Mengubah Segalanya

Vivia bercerita bahwa Ibu Juraidah pernah memergokinya menangis. Saat itu, ia tidak mampu mengucapkan sepatah kata pun. Situasi keluarga yang sulit membuatnya tertekan dan mengalami depresi.

“(Karena) konflik keluarga terus diikuti oleh kejatuhan finansial,” ujar Vivia saat dikutip dari Kompas.com.

Sejak itu, Ibu Juraidah mulai lebih sering melibatkan Vivia dalam aktivitas kelas. Ia disapa ketika terlihat melamun dan dipercaya mengerjakan soal di papan tulis. Ketika Vivia mampu menjawab dengan benar, sang guru berkata, “Tuh kan, Vivi bisa jawab. Kawan-kawan aja belum bisa materi ini.”

Teman-teman dengan peringkat atas pun ikut mendukungnya. Walau hanya membalas dengan senyum, pujian itu perlahan menembus dinding yang selama ini membatasi dirinya.

Hari pembagian rapor menjadi momen lain yang tak terlupakan. Rapor untuk siswa yang hendak mendaftar kelas akselerasi di SMAN 1 Bireuen dibagikan bersamaan dengan rapor miliknya. Ketika Vivia mengatakan bahwa ia tak berencana mengikuti kelas akselerasi, ekspresi Ibu Juraidah tiba-tiba berubah murung. Reaksi itu membekas dalam benak Vivia.

Beberapa waktu kemudian, hasil try out Ujian Nasional diumumkan. Di luar dugaan, Vivia meraih peringkat pertama dari 300 siswa seangkatan. Pada pertemuan berikutnya, sang guru menyambutnya dengan penuh semangat dan berkata bahwa Vivia sejatinya adalah anak yang pintar. Ia kembali berpesan, “Vivi kalau memang enggak mau masuk kelas aksel setidaknya nanti harus masuk kelas unggulan di SMA 1, ya?”

Kalimat itu—dan semua perhatian kecil lainnya—menjadi titik penting. “Walau hanya menjawab dengan senyuman, sejak saat itu aku terus berjanji ke diri sendiri ‘Aku harus bangkit. Aku harus penuhin harapan Bu Juraidah’,” ungkapnya.

Bangkit, Bertahan, dan Meraih Mimpi

Setelah lulus SMP pada 2012, Vivia terus membawa semangat itu hingga jenjang SMA. Ia menargetkan untuk berkuliah di perguruan tinggi negeri di Pulau Jawa setelah lulus pada 2015.

Namun usahanya belum berhasil. Tak memiliki biaya kuliah jika tidak mendapatkan beasiswa, ia memutuskan bekerja sambil menunggu kesempatan berikutnya.

Tahun 2016 menjadi tahun pembuktian. Melalui jalur Bidik Misi, ia berhasil lolos ke Jurusan Kewirausahaan di SBM ITB. Vivia menuntaskan studinya pada 2021 dan terus melangkah maju. Kini ia telah menulis buku berjudul Confidence in You dan aktif sebagai penulis muda.

Bagi Vivia, keberhasilannya tidak terlepas dari peran seorang guru yang mau melihat lebih jauh dari sekadar nilai rapor.

“Anak-anak yang menyembunyikan emosi aslinya, terlihat nakal, berantakan, atau bahkan ranking terakhir dan terlihat bodoh di kelasnya… bukan berarti tidak peduli dengan masa depan mereka. Bisa jadi, mereka sedang menunggu seseorang yang mau bertahan dan percaya,” ujarnya.

Kisah Vivia menjadi pengingat bahwa satu perhatian tulus dari seorang guru dapat mengubah masa depan seorang anak—bahkan dari peringkat paling bawah sekalipun. (XRQ)

Reporter: AKIL

ASN Aceh Dibekali Deteksi Dini Radikalisme, BPKA Libatkan Densus 88 Perkuat Ketahanan Ideologi

0
BPKA Libatkan Densus 88 Perkuat Ketahanan Ideologi pada ASN di Aceh. (Foto: For Nukilan)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH — Upaya memperkuat ketahanan ideologi di lingkungan birokrasi terus ditingkatkan. Badan Pengelolaan Keuangan Aceh (BPKA) menggelar sosialisasi pencegahan intoleransi, radikalisme, ekstremisme, dan terorisme (IRET) bagi Aparatur Sipil Negara (ASN), Selasa (11/11/2025). Kegiatan ini menghadirkan Detasemen Khusus (Densus) 88 Anti Teror Polri sebagai narasumber utama.

Kombes Pol Fadli Widiyanto, S.I.K., S.H., M.H., dari Satgas Wilayah Aceh Densus 88, memaparkan strategi deteksi dini serta pola penyebaran paham radikal yang kini banyak bergerak melalui ruang digital maupun interaksi sosial sehari-hari.

“Radikalisme bisa tumbuh dari obrolan ringan, grup daring, bahkan aktivitas keseharian. ASN harus cermat memilah informasi dan tetap berpijak pada kepentingan negara,” tegas Fadli.

Kegiatan yang berlangsung di Aula BPKA dan diikuti pula secara daring melalui Zoom itu menghadirkan diskusi interaktif tentang potensi infiltrasi ideologi ekstrem di lingkungan kerja serta langkah-langkah pengendalian yang dapat diterapkan ASN.

Kepala BPKA Reza Saputra, S.STP., M.Si., kepada NUKILAN.ID menekankan bahwa peran ASN tidak hanya sebatas pelayanan publik, tetapi juga penjaga nilai-nilai kebangsaan.

“ASN bukan sekadar pelayan publik, tapi juga penjaga nilai kebangsaan. Mereka harus jadi teladan dalam toleransi dan semangat persatuan,” ujarnya.

BPKA berencana menjadikan kegiatan edukatif seperti ini sebagai program berkelanjutan. Tujuannya, memperkokoh kolaborasi dengan berbagai lembaga untuk menciptakan birokrasi yang sehat, harmonis, dan berintegritas. (XRQ)

Reporter: Akil

Nakes RSJ Aceh Keluhkan Pemotongan Jasa Medis

0
Nakes RSJ Aceh melakukan aksi damai di Kantor Gubernur Aceh, Banda Aceh, pada Selasa 11 November 2025. (Foto: Nukilan/Rezi)

NUKILAN.id | Banda Aceh – Sejumlah tenaga kesehatan di Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Aceh mengeluhkan pemotongan jasa medis yang mencapai 100 persen sejak Januari 2025. Kondisi ini dinilai mengganggu semangat kerja dan berpotensi menurunkan kualitas pelayanan kepada pasien.

Salah satu dokter spesialis berinisial FA mengungkapkan, pihaknya telah melakukan advokasi dan mengirim surat untuk meminta diskusi dengan pihak terkait, namun hingga kini belum ada realisasi.

“Di RSJ Aceh, jasa medis dipotong seluruhnya, padahal di rumah sakit lain tidak ada pemotongan. Kami sudah melakukan advokasi dan mengirim surat untuk meminta diskusi, tapi sampai sekarang belum juga diwujudkan,” ujar FA kepada Nukilan saat aksi damai di Kantor Gubernur Aceh, Selasa (11/11/2025).

FA menjelaskan, dana jasa medis tersebut bersumber dari Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan dengan jumlah mencapai miliaran rupiah di masing-masing rumah sakit. Namun, dana tersebut tertahan dan tidak bisa dibayarkan kepada tenaga medis karena adanya regulasi baru.

“Kalau dana ini bersumber dari APBA, tentu kami tidak akan memaksa. Tapi ini dana BPJS yang memang hak tenaga kesehatan. Dana itu ada, hanya tidak bisa dicairkan karena regulasi,” katanya.

Menurutnya, pemotongan jasa medis tidak hanya berdampak pada dokter spesialis, tetapi juga dokter umum, perawat, bidan, dan tenaga kesehatan lainnya. Kondisi ini dinilai sudah tidak kondusif dan berpotensi memengaruhi kinerja tenaga kesehatan.

“Rumah sakit memiliki risiko tinggi. Jangan sampai seorang dokter bedah sedang operasi teringat uang jasa medisnya belum dibayar. Hal-hal seperti ini bisa memengaruhi konsentrasi dan berujung pada kelalaian. Kami ingin ini diantisipasi jauh-jauh hari,” ujarnya.

FA menyebut masalah ini muncul setelah diberlakukannya Peraturan Gubernur (Pergub) Nomor 15 Tahun 2024 yang mewajibkan setiap rumah sakit atau Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) memilih salah satu skema antara tunjangan kinerja (TPP) bagi PNS atau jasa medis.

Padahal, menurut FA, jasa medis diatur dalam Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes) Nomor 28 Tahun 2014 yang memperbolehkan 30-50 persen dari total pendapatan BPJS dialokasikan untuk jasa medis.

Pihaknya berharap Sekretaris Daerah (Sekda) Aceh dapat segera menjumpai perwakilan tenaga kesehatan untuk berdiskusi mencari solusi agar jasa medis tahun 2025 segera dibayarkan dan ada perbaikan regulasi untuk tahun 2026.

“Kami hanya berharap hak kami segera dibayarkan agar pelayanan kepada masyarakat bisa tetap optimal,” pungkasnya.

Reporter: Rezi

Ketua DPRA Jamu Mendagri Tito Karnavian Jelang Penganugerahan Gelar Adat

0
Ketua DPRA, Zulfadhli, berbincang akrab dengan Mendagri Muhammad Tito Karnavian dalam jamuan makan malam di Banda Aceh. Turut hadir Wakil Gubernur Aceh Fadhlullah, Kapolda Aceh Irjen Marzuki Ali, dan Wali Kota Banda Aceh Illiza Sa'aduddin Djamal. (Foto: ist)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Muhammad Tito Karnavian mendapat jamuan makan malam dari Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA) Zulfadhli, Selasa malam, 11 November 2025, setibanya di Banda Aceh. Kehadiran Tito dilakukan menjelang prosesi penerimaan anugerah adat dari Wali Nanggroe Aceh, Malik Mahmud Alhaytar, yang dijadwalkan berlangsung Rabu, 12 November 2025.

Pertemuan berlangsung dalam suasana hangat di salah satu restoran di Banda Aceh. Amatan Nukilan.id, selain Ketua DPRA dan Mendagri, tampak hadir Wakil Gubernur Aceh Fadhlullah, Kapolda Aceh Irjen Marzuki Ali, dan Wali Kota Banda Aceh Illiza Sa’aduddin Djamal.

“Saya dan Mendagri merupakan sahabat dan mitra dalam kerja-kerja pemerintahan,” kata Zulfadhli di sela jamuan tersebut.

Politisi Partai Aceh itu menyebut dirinya kerap berdiskusi dengan Tito Karnavian terkait berbagai isu politik dan pemerintahan di Aceh. Menurutnya, jamuan makan malam itu merupakan bentuk penghormatan sekaligus simbol kedekatan hubungan antara keduanya.

“Lagi pula ini kan tradisi dan budaya Aceh untuk pemulia jamee,” ujarnya.

Zulfadhli, atau yang akrab disapa Abang Samalanga, turut mengungkapkan bahwa Gubernur Aceh Muzakir Manaf (Mualem) menghubunginya dari Jakarta. Dalam komunikasi itu, Mualem meminta agar ia menyambut langsung kedatangan Mendagri di Banda Aceh.

“Ini juga ada arahan dari Mualem. Selain memang Mendagri ini juga sahabat,” imbuhnya.

Di akhir pertemuan, Zulfadhli menyampaikan ucapan selamat kepada Tito atas anugerah adat yang akan diterima dari Wali Nanggroe Aceh. Ia berharap penghargaan tersebut memperkuat hubungan antara Pemerintah Aceh dan Pemerintah Pusat.

“Selamat ya Pak Tito atas gelar adat yang diraih dari PYM Wali Nanggroe Aceh. Semoga anugerah itu hati makin dekat dan cinta Aceh lebih dalam,” pungkasnya. (xrq)

Reporter: Akil

BNNP Aceh Rehabilitasi 11 Warga Lampulo yang Terjaring Operasi Narkotika

0
BNNP Aceh melakukan rehabilitasi terhadap 11 pengguna narkoba yang terjaring operasi pemulihan kampung narkotika di Lampulo, Banda Aceh. Simak detail program rehabilitasi ini. (Foto: AntaraNews)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Aceh kembali menegaskan komitmennya dalam memutus rantai penyalahgunaan narkoba di Banda Aceh. Sebanyak 11 warga Lampulo kini menjalani rehabilitasi setelah terjaring dalam operasi pemulihan kampung narkotika yang digelar pada Jumat (7/11/2025).

Operasi yang dilakukan di kawasan Lampulo, Kecamatan Kuta Alam, itu menjadi pintu masuk bagi proses deteksi dini penyalahgunaan narkoba. Dari 18 warga yang menjalani pemeriksaan urine, hasilnya menunjukkan 11 orang positif mengonsumsi ganja dan sabu-sabu.

Pelaksana Harian Kepala BNNP Aceh, Saiful, menyebutkan bahwa keputusan rehabilitasi diambil berdasarkan asesmen menyeluruh terhadap para warga tersebut.

“Dari hasil asesmen, mereka pemakai dan positif mengonsumsi narkoba saat operasi pemulihan kampung narkotika. Berdasarkan hasil asesmen, mereka harus menjalani rehabilitasi,” ujar Saiful.

Rawat Jalan di Klinik Pratama BNNP Aceh

Proses rehabilitasi dilaksanakan di Klinik Pratama BNNP Aceh secara rawat jalan. Mayoritas peserta dinilai belum berada pada tahap kecanduan berat sehingga tidak memerlukan rawat inap. Dari 11 orang tersebut, dua di antaranya tergolong pecandu berat, sementara lainnya masih dalam fase coba-coba.

Saiful memastikan program ini diberikan secara gratis bagi seluruh peserta. “Rehabilitasi tidak dipungut biaya. Lama proses rehabilitasi tergantung keyakinan dan proses mereka menjalani pemulihan. Biasanya, proses rehabilitasi berlangsung selama empat bulan,” katanya.

Dukungan Masyarakat Mengalir

Langkah BNNP Aceh ini disambut positif oleh masyarakat. Kesadaran publik untuk ikut memberantas penyalahgunaan narkoba disebut semakin meningkat. Hal ini terlihat dari banyaknya laporan warga yang meminta agar operasi serupa dilakukan di desa mereka.

Plt Kepala Bidang Pemberantasan dan Intelijen BNNP Aceh, Mukhlis, turut mengapresiasi partisipasi masyarakat tersebut.

“Sekarang ini, banyak laporan masyarakat meminta operasi serupa dilakukan di desa mereka guna mendeteksi penyalahgunaan narkoba. Kami merespons laporan tersebut dengan menggelar operasi serupa di sejumlah wilayah di Aceh,” ujarnya.

BNNP Aceh menegaskan akan terus memperluas operasi dan memperkuat program pemulihan sebagai bagian dari strategi pemberantasan narkoba yang humanis dan berkelanjutan.