Beranda blog Halaman 29

Prancis Bungkam Swedia 3-0, Melaju ke Babak 16 Besar Piala Dunia 2026

0
Pemain Timnas Perancis, Mbappe. (Foto: Reuters)

NUKILAN.ID | East Rutherford – Prancis memastikan langkah ke babak 16 besar Piala Dunia 2026 dengan penampilan yang sangat meyakinkan. Les Bleus menaklukkan Swedia melalui kemenangan telak 3-0.

Duel Prancis kontra Swedia berlangsung di Stadion MetLife, Rabu (1/7/2026) pagi WIB. Sepanjang pertandingan, tim asuhan Didier Deschamps tampil dominan dan mengendalikan jalannya laga.

Amatan Nukilan.id, kapten tim sekaligus penyerang andalan, Kylian Mbappe, mencetak dua gol untuk Prancis. Satu gol lainnya disumbangkan Bradley Barcola, sementara Michael Olise berperan besar lewat dua assist yang ia ciptakan.

Berkat kemenangan tersebut, Prancis akan menghadapi Paraguay pada babak 16 besar untuk memperebutkan tiket menuju perempat final Piala Dunia 2026. Sebelumnya, Paraguay lebih dulu membuat kejutan dengan menyingkirkan Jerman.

Jalannya Pertandingan

Swedia mengawali pertandingan dengan cukup baik. Mereka mampu menguasai bola pada menit-menit pertama, sebelum kombinasi Viktor Gyokeres dan Alexander Isak menghasilkan tembakan yang masih bisa diamankan Mike Maignan.

Memasuki pertengahan babak pertama, Prancis mulai menemukan permainan terbaiknya dan berbalik mendominasi penguasaan bola. Beberapa percobaan dilakukan oleh Kylian Mbappe dan Lucas Digne, namun belum cukup merepotkan Jacob Widell Zetterstrom.

Usai hydration break, Swedia memperoleh peluang emas melalui skema bola mati. Sebuah umpan terobosan mengarah kepada Alexander Isak di dalam kotak penalti, tetapi penyelesaiannya terlalu lemah sehingga mudah diamankan Maignan.

Prancis segera memberikan respons. Mbappe mengirim umpan kepada Adrien Rabiot yang kemudian melepaskan tembakan dari sudut sempit, namun Zetterstrom masih mampu melakukan penyelamatan.

Les Bleus kembali memperoleh peluang berbahaya. Umpan tarik Jules Kounde disambut Mbappe di kotak enam yard, tetapi sepakannya hanya membentur tiang gawang Swedia.

Tak lama berselang, Michael Olise mencoba peruntungan lewat tendangan salto dari dalam kotak penalti yang juga mengenai tiang gawang. Bola pantul kemudian disambar Ousmane Dembele, tetapi tendangan melengkungnya hanya melintas tipis di sisi gawang.

Prancis akhirnya memecah kebuntuan menjelang turun minum. Mbappe membawa timnya unggul 1-0 atas Swedia.

Gol itu bermula dari situasi sepak pojok di sisi kiri. Kerja sama Olise dan Dembele menghasilkan umpan mendatar yang diselesaikan Mbappe dengan tembakan ke tiang jauh hingga bersarang di sudut bawah gawang.

Swedia hampir langsung menyamakan kedudukan. Operan Anthony Elanga ke kotak penalti sempat diblok, kemudian bola liar disambar Elliot Stroud. Namun, sepakannya masih melebar dari sasaran.

Prancis Semakin Tak Terbendung

Prancis langsung meningkatkan intensitas permainan selepas turun minum. Hasilnya terlihat pada menit ke-53 ketika Bradley Barcola menggandakan keunggulan menjadi 2-0.

Gol tersebut diawali keberhasilan Aurelien Tchouameni merebut bola di lini tengah yang memicu serangan balik cepat. Bola kemudian diteruskan kepada Michael Olise sebelum diumpankan kepada Barcola, yang melepaskan tendangan keras ke sudut atas gawang Swedia.

Setelah itu, Olise dua kali mengancam pertahanan Swedia. Percobaan pertama berupa tendangan melengkung kaki kiri dari sisi kanan kotak penalti masih mampu ditepis Zetterstrom. Beberapa saat kemudian, tembakannya yang lahir dari skema serangan balik cepat hanya mengenai sisi luar gawang.

Gol ketiga yang dinantikan Prancis akhirnya tercipta pada menit ke-74. Mbappe kembali mencatatkan namanya di papan skor sekaligus membawa timnya unggul 3-0.

Serangan dari sisi kiri diakhiri Olise dengan umpan terobosan matang kepada Mbappe di dalam kotak penalti. Sang kapten lolos dari kawalan lini belakang Swedia sebelum melepaskan tembakan kaki kiri yang sukses memperdaya Zetterstrom.

Barcola nyaris mencetak gol keduanya pada pertandingan tersebut. Ia menggiring bola melewati dua pemain bertahan Swedia sebelum melakukan penyelesaian akhir, tetapi Zetterstrom kembali mampu melakukan penyelamatan.

Memasuki dua menit terakhir waktu normal, Swedia hampir memperkecil ketertinggalan. Viktor Gyokeres memperoleh peluang dari jarak dekat, namun Mike Maignan melakukan blok penting untuk menjaga gawangnya tetap aman.

Prancis membalas melalui peluang Jean-Philippe Mateta. Umpan silang Desire Doue mengarah ke tiang jauh, tetapi tendangan voli Mateta masih melambung di atas mistar.

Susunan Pemain

Prancis: Mike Maignan; Jules Kounde (Malo Gusto 75′), Dayot Upamecano, William Saliba, Lucas Digne (Theo Hernandez 78′); Aurelien Tchouameni, Adrien Rabiot; Ousmane Dembele (Desire Doue 75′), Michael Olise (Jean-Philippe Mateta 85′), Bradley Barcola; Kylian Mbappe (Rayan Cherki 85′).

Swedia: Jacob Widell Zetterstrom; Gustaf Lagerbielke, Victor Lindelof, Gabriel Gudmundsson; Daniel Svensson (Mattias Svanberg 82′), Yasin Ayari (Benjamin Nygren 82′), Lucas Bergvall (Besfort Zeneli 66′), Elliot Stroud (Taha Ali 66′); Anthony Elanga, Alexander Isak; Viktor Gyokeres. (xrq)

Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News

Hari Bhayangkara Ke-80, 62 Personel Polres Aceh Timur Naik Pangkat

0
Hari Bhayangkara Ke-80, 62 Personel Polres Aceh Timur Naik Pangkat. (Foto: Humas Polres Aceh Timur)

NUKILAN.ID | IDI RAYEUK – Sebanyak 62 personel Polres Aceh Timur memperoleh kenaikan pangkat setingkat lebih tinggi pada momentum peringatan Hari Bhayangkara Ke-80. Penghargaan tersebut diberikan sebagai bentuk apresiasi institusi atas dedikasi, integritas, serta kinerja para personel dalam melaksanakan tugas memberikan pelayanan kepada masyarakat.

Prosesi Upacara Laporan Kenaikan Pangkat Terhitung Mulai Tanggal (TMT) 1 Juli 2026 dipimpin langsung oleh Kapolres Aceh Timur AKBP Irwan Kurniadi, S.I.K., di Lapangan Apel Sarja Arya Racana Polres Aceh Timur, Selasa (30/06/2026) sore.

Kegiatan itu turut dihadiri Wakapolres Aceh Timur Kompol Abdul Muin, S.H., M.M., Ketua Bhayangkari Cabang Aceh Timur Ny. Zilka Irwan Kurniadi beserta jajaran pengurus, para pejabat utama, perwira staf, seluruh kapolsek jajaran, serta keluarga personel yang menerima kenaikan pangkat.

Adapun rincian personel yang mendapatkan kenaikan pangkat meliputi satu personel dari IPTU menjadi AKP, 13 personel dari Aipda menjadi Aiptu, 37 personel dari Bripka menjadi Aipda, satu personel dari Brigpol menjadi Bripka, lima personel dari Briptu menjadi Brigpol, dan lima personel dari Bripda menjadi Briptu.

Dalam amanatnya, Kapolres Aceh Timur menegaskan bahwa kenaikan pangkat tidak diberikan secara otomatis sebagai sebuah hak, melainkan melalui proses penilaian yang objektif berdasarkan prestasi, dedikasi, loyalitas, disiplin, serta rekam jejak personel selama mengemban tugas.

“Kenaikan pangkat merupakan bentuk kepercayaan sekaligus penghargaan institusi atas kinerja yang telah ditunjukkan. Karena itu, setiap pangkat yang disandang harus dipertanggungjawabkan melalui peningkatan kualitas pengabdian kepada masyarakat, bangsa, dan negara,” tegas Kapolres.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa setiap kenaikan pangkat juga diikuti dengan tanggung jawab yang semakin besar. Untuk itu, seluruh personel diharapkan terus meningkatkan profesionalisme, disiplin, wawasan, etos kerja, serta kemampuan dalam menghadapi dinamika tugas kepolisian yang kian kompleks.

“Pangkat yang lebih tinggi harus diiringi dengan integritas yang semakin kuat, pelayanan yang semakin baik, dan semangat pengabdian yang semakin tinggi. Jadikan amanah ini sebagai motivasi untuk bekerja lebih profesional serta memberikan manfaat nyata bagi masyarakat dan institusi,” ujar AKBP Irwan.

Menurutnya, peringatan Hari Bhayangkara bukan sekadar menjadi momen perayaan bagi institusi Polri, tetapi juga menjadi pengingat bahwa setiap penghargaan yang diterima personel harus diwujudkan melalui pelayanan publik yang semakin humanis, responsif, dan berorientasi pada kepentingan masyarakat.

Rangkaian upacara berlangsung dengan khidmat hingga selesai dan ditutup dengan pembacaan doa sebagai ungkapan rasa syukur atas kenaikan pangkat yang diterima para personel Polres Aceh Timur.

Messi Jadi Spider-Man? Kemunculannya Bersama Tom Holland Gegerkan Penggemar

0
messi
Lionel Messi membuat kejutan besar dengan tampil dalam teaser terbaru Spider-Man: Brand New Day. (Foto: Tangkapan Layar)

NUKILAN.ID | New York – Lionel Messi membuat kejutan besar dengan tampil dalam teaser terbaru Spider-Man: Brand New Day. Video berdurasi sekitar 40 detik itu memperlihatkan kapten timnas Argentina tersebut memasuki sebuah kafe di kawasan Brooklyn dan bertemu Peter Parker.

Amatan Nukilan.id dari adegan video tersebut, Messi berkata kepada Parker bahwa dirinya tengah mencari Spider-Man. Tak lama berselang, sang manusia laba-laba muncul dan membawa versi deepfake Messi berayun melintasi langit Kota New York.

Film keempat Spider-Man yang kembali dibintangi Tom Holland dan Zendaya sebelumnya telah merilis trailer penuh aksi. Meski begitu, sejumlah teka-teki masih menyelimuti film tersebut, termasuk siapa sosok antagonis utama yang akan dihadapi Spider-Man dalam cerita terbaru ini.

Kemunculan teaser tersebut dinilai hadir pada waktu yang sangat tepat. Saat ini Messi sedang berada dalam performa terbaiknya di ajang Piala Dunia setelah mengoleksi enam gol sekaligus memecahkan rekor sebagai pencetak gol terbanyak sepanjang sejarah turnamen tersebut. Bintang Argentina itu juga tengah berupaya mengantarkan negaranya meraih gelar Piala Dunia kedua sebelum memutuskan pensiun.

Jalan Argentina Menuju Final Piala Dunia 2026

Messi sukses mencetak gol dalam seluruh laga penyisihan grup bersama Argentina. Pada babak 32 besar, tim berjuluk Albiceleste dijadwalkan menghadapi Tanjung Verde pada Jumat, 3 Juli pukul 23.00 BST atau Sabtu pukul 00.00 waktu musim panas Eropa Tengah.

Apabila berhasil lolos, Argentina berpotensi bertemu Australia atau Mesir di babak 16 besar. Selanjutnya, Swiss, Ghana, Aljazair, atau Kolombia dapat menjadi lawan di perempat final. Di semifinal, Brasil, Norwegia, Ekuador, maupun Inggris berpeluang menjadi penghalang langkah Messi dan rekan-rekannya.

Sementara itu, di bagan berbeda, Spanyol dan Prancis diprediksi menjadi kandidat terkuat untuk mencapai partai final. Jalur tersebut juga dihuni sejumlah tim tangguh lainnya seperti Senegal, Amerika Serikat, Portugal, Kroasia, hingga Swedia.

Di sisi lain, Spider-Man: Brand New Day dijadwalkan tayang pada rentang 29–31 Juli, bergantung pada masing-masing wilayah penayangan. Jadwal tersebut hampir bertepatan dengan berakhirnya gelaran Piala Dunia, sehingga momentum film dan turnamen sepak bola terbesar dunia itu diperkirakan akan saling melengkapi perhatian publik. (XRQ)

Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News

Hotman Paris Geram Komnas Perempuan Tak Sebut Kasus YTR sebagai Penyiksaan

0
HOTMAN PARIS
pengacara kondang, Hotman Paris Hutapea dalam akun TikTok @hotmanparisofficialf. (Foto: Tangkapan Layar)

NUKILAN.ID | Jakarta – Pernyataan Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan) yang menyatakan dugaan penyekapan dan penganiayaan terhadap YTR di Bandung belum dapat dikategorikan sebagai penyiksaan memicu kritik keras dari pengacara Hotman Paris Hutapea. Menurutnya, kondisi korban yang mengalami luka serius akibat dugaan kekerasan yang berlangsung selama bertahun-tahun sudah cukup menunjukkan adanya tindakan penyiksaan.

Dilansir Nukilan.id dari sebuah video yang diunggahnya di media sosial, Hotman Paris menyampaikan kekecewaannya terhadap sikap Komnas Perempuan. Ia bahkan meminta agar pejabat lembaga tersebut yang menyampaikan pernyataan tersebut dipanggil oleh DPR untuk dimintai penjelasan serta dievaluasi oleh pemerintah.

Dalam pernyataannya, Hotman mempertanyakan dasar Komnas Perempuan yang belum mengategorikan kasus YTR sebagai penyiksaan.

“Bagaimana kau bisa mengatakan bahwa yang dialami Yuvita bukan penyiksaan? Kepalanya penuh luka, penuh belatung, infeksi, itu bukan penyiksaan? Bibirnya disayat, itu bukan penyiksaan?” ujar Hotman Paris yang dikutip pada Selasa, 30 Juni 2026.

Ia menilai berbagai luka yang dialami korban merupakan bukti nyata bahwa penderitaan yang dialami YTR tidak dapat dipandang hanya sebagai kasus penganiayaan biasa.

“Kalau bibirmu disayat, itu penyiksaan atau apa? Disayat-sayat, lalu kepalamu dipukul pakai helm sampai penuh luka, kemudian dikunci. Apa itu bukan penyiksaan?” lanjutnya.

Menurut Hotman, Komnas Perempuan semestinya menjadi garda terdepan dalam memberikan perlindungan terhadap perempuan korban kekerasan. Ia menilai lembaga tersebut tidak seharusnya memunculkan perdebatan mengenai istilah hukum ketika korban masih menjalani proses pemulihan akibat kekerasan yang dialaminya.

Desak DPR dan Presiden Lakukan Evaluasi

Selain menyampaikan kritik, Hotman Paris juga meminta DPR segera memanggil Komnas Perempuan guna meminta klarifikasi terkait pernyataan tersebut. Ia turut meminta Presiden untuk mengevaluasi pejabat yang dinilai tidak menjalankan tugasnya sebagaimana mestinya.

“Halo DPR, mohon segera pejabat ini dipanggil. Halo Bapak Presiden, Komnas Perempuan ini dipecat. Sangat tidak pantas. Padahal tugasnya adalah melindungi perempuan,” tegasnya.

Dalam video yang sama, Hotman mengingatkan bahwa lembaga negara dibiayai oleh uang masyarakat sehingga menurutnya harus bekerja sepenuhnya untuk kepentingan publik.

“Kamu dibayar dari pajak yang kita bayar. Gajimu berasal dari pajak masyarakat. Tugasmu melindungi perempuan,” katanya.

Komnas Perempuan Berpegang pada Definisi Konvensi PBB

Sebelumnya, Komisioner Komnas Perempuan Sondang Frishka Simanjuntak menjelaskan bahwa pihaknya belum dapat mengategorikan kasus YTR sebagai penyiksaan apabila mengacu pada definisi yang terdapat dalam Konvensi Menentang Penyiksaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (Convention Against Torture/CAT).

Menurut Sondang, definisi penyiksaan dalam konvensi tersebut tidak hanya mensyaratkan adanya penderitaan yang berat, tetapi juga harus disertai tujuan tertentu serta adanya keterlibatan negara ataupun pembiaran oleh negara terhadap tindakan tersebut.

“Kasus YTR itu kita belum bisa melihatnya sebagai sebuah kasus penyiksaan dalam definisi Konvensi Anti-Penyiksaan,” ujar Sondang.

Meskipun demikian, ia menegaskan Komnas Perempuan tetap membuka kemungkinan adanya unsur penyiksaan apabila proses pendalaman nantinya menemukan keterlibatan negara, baik dalam bentuk pembiaran maupun kegagalan memberikan perlindungan kepada korban.

“Nah, di situlah kita bisa melihat bahwa sudah ada keterlibatan negara, memberikan pengabaian sehingga masuk dalam kategori penyiksaan yang ada di dalam Konvensi Anti-Penyiksaan,” jelasnya.

Tetap Dorong Penerapan Pasal Berlapis

Walaupun belum menggunakan istilah penyiksaan berdasarkan ketentuan konvensi internasional, Komnas Perempuan menilai kasus yang dialami YTR merupakan dugaan penganiayaan berat yang dilakukan secara berulang dan menimbulkan dampak serius terhadap korban.

Komnas Perempuan juga mendorong penyidik untuk melakukan visum secara menyeluruh agar seluruh bentuk kekerasan yang dialami korban dapat dibuktikan melalui pemeriksaan medis. Selain itu, lembaga tersebut meminta aparat penegak hukum mempertimbangkan penerapan pasal-pasal berlapis, termasuk Undang-Undang Tindak Pidana Kekerasan Seksual (UU TPKS), apabila nantinya ditemukan unsur pidana yang memenuhi ketentuan hukum.

Penanganan Kasus Masih Berjalan

Kasus dugaan penyekapan dan penganiayaan terhadap YTR hingga kini masih terus menjadi perhatian masyarakat luas. Korban dilaporkan mengalami luka berat, gangguan fisik, serta trauma mendalam setelah diduga disekap selama bertahun-tahun oleh Taufik Hidayat.

Sementara itu, Taufik Hidayat telah ditetapkan sebagai tersangka dan saat ini menjalani proses hukum di Polda Jawa Barat. Penyidik masih terus mendalami kemungkinan adanya tindak pidana lain sehingga seluruh dugaan perbuatan tersangka dapat diproses secara menyeluruh.

Di sisi lain, penggunaan istilah “penyiksaan” dalam perkara tersebut masih menjadi perdebatan di ruang publik. Sebagian kalangan menilai perhatian utama seharusnya tetap diarahkan pada pemulihan korban serta penegakan hukum secara maksimal terhadap pelaku, terlepas dari adanya perbedaan tafsir mengenai definisi hukum yang saat ini masih dikaji oleh lembaga terkait. (XRQ)

Maroko Singkirkan Belanda Lewat Adu Penalti, Hakimi Cs Melaju ke 16 Besar!

0
Timnas Maroko memastikan tiket ke babak 16 besar Piala Dunia 2026 setelah menyingkirkan Belanda melalui drama adu penalti dengan skor 3-2. (Foto: FIFA)

NUKILAN.ID | JAKARTA – Timnas Maroko memastikan tiket ke babak 16 besar Piala Dunia 2026 setelah menyingkirkan Belanda melalui drama adu penalti dengan skor 3-2. Kedua tim sebelumnya bermain imbang 1-1 hingga berakhirnya babak tambahan waktu dalam pertandingan 32 besar yang berlangsung di Estadio Monterrey, Meksiko, Selasa (30/6/2026).

Amatan Nukilan.id, sejak awal laga Maroko tampil lebih dominan dalam penguasaan bola. Pasukan Mohamed Ouahbi berupaya mengendalikan ritme permainan dan lebih sering menginisiasi serangan.

Peluang emas pertama hadir pada menit ke-19 melalui sundulan Neil El Aynaoui yang memanfaatkan sepak pojok. Berselang dua menit, Achraf Hakimi mengancam lewat tendangan keras dari luar kotak penalti.

Namun, kedua kesempatan tersebut berhasil dimentahkan kiper Belanda, Bart Verbruggen, yang tampil sigap menjaga gawangnya tetap aman.

Hingga pertandingan memasuki jeda minum, skor masih belum berubah. Setelah laga kembali dilanjutkan, Belanda masih kesulitan membangun serangan yang benar-benar membahayakan pertahanan Maroko.

Sebaliknya, Maroko beberapa kali memperoleh momentum untuk menciptakan peluang. Sayangnya, penyelesaian akhir yang kurang tenang membuat peluang-peluang tersebut belum mampu dikonversi menjadi gol.

Pada menit ke-52, Maroko kembali hampir memecah kebuntuan. Achraf Hakimi menerima umpan terobosan dari Azzedine Ounahi sebelum melepaskan tembakan, tetapi bola hanya membentur mistar gawang Belanda.

Dominasi Maroko semakin terlihat sepanjang babak kedua. Serangan demi serangan terus dilancarkan sehingga membuat lini belakang Belanda berada dalam tekanan.

Melihat situasi tersebut, pelatih Ronald Koeman melakukan sejumlah pergantian pemain guna menyegarkan permainan timnya.

Perubahan itu akhirnya membuahkan hasil pada menit ke-72. Belanda berhasil membuka keunggulan melalui Cody Gakpo.

Gol berawal dari aksi penetrasi Crysencio Summerville ke dalam kotak penalti. Meski sempat terjatuh, Summerville masih mampu mengirim umpan kepada Gakpo yang langsung menyelesaikannya menjadi gol. Belanda pun memimpin 1-0.

Ketika kemenangan Belanda sudah di depan mata, Maroko berhasil memaksakan pertandingan berlanjut. Pada menit ke-90+1, Issa Diop mencetak gol penyeimbang melalui sundulan keras yang gagal dihentikan Bart Verbruggen sehingga skor berubah menjadi 1-1.

Maroko Mendominasi Extra Time

Memasuki babak tambahan waktu, Maroko tetap menjadi tim yang lebih agresif.

Peluang terbaik hadir pada menit ke-97 saat Soufiane Rahimi melepaskan tembakan dari jarak dekat. Akan tetapi, Verbruggen kembali menunjukkan refleks gemilang dengan menepis bola tersebut.

Sepanjang extra time, Maroko terus menguasai jalannya pertandingan dan lebih sering mengancam pertahanan Belanda.

Di sisi lain, Belanda memilih melakukan pergantian pemain, termasuk menarik keluar Cody Gakpo untuk digantikan Justin Kluivert.

Memasuki babak kedua extra time, Maroko terus mengepung pertahanan Oranje. Belanda tampak lebih fokus bertahan dan mengandalkan serangan balik sembari bersiap menghadapi kemungkinan adu penalti.

Hingga peluit panjang dibunyikan, tidak ada tambahan gol yang tercipta sehingga pemenang harus ditentukan melalui babak tos-tosan.

Adu Penalti Menentukan Nasib

Belanda memperoleh kesempatan pertama sebagai eksekutor.

Eksekutor pertama Maroko, Neil El Aynaoui, gagal setelah tendangannya membentur mistar. Namun setelah itu situasi justru berbalik.

Tiga penendang Belanda gagal menjalankan tugasnya. Satu tendangan melebar, satu mengenai tiang gawang, dan satu lagi berhasil ditepis Yassine Bounou.

Achraf Hakimi sebenarnya juga gagal karena sepakannya membentur tiang. Namun, Ismael Saibari sukses menjadi penendang terakhir yang memastikan kemenangan Maroko dengan skor adu penalti 3-2.

Hasil tersebut mengantarkan Maroko melangkah ke babak 16 besar, di mana mereka akan menghadapi Kanada.

Hasil Adu Penalti

Belanda

  • Teun Koopmeiners: Gol.
  • Justin Kluivert: Gagal, membentur tiang kanan.
  • Wout Weghorst: Gol.
  • Jurrien Timber: Gagal, bola melebar ke kanan.
  • Crysencio Summerville: Gagal setelah ditepis Yassine Bounou.

Maroko

  • Neil El Aynaoui: Gagal, mengenai mistar.
  • Soufiane Rahimi: Gol.
  • Talbi: Gol.
  • Achraf Hakimi: Gagal, mengenai tiang kanan.
  • Ismael Saibari: Gol penentu kemenangan.

Susunan Pemain

Belanda: Bart Verbruggen; Nathan Ake (Teun Koopmeiners 71′), Virgil van Dijk, Jan Paul van Hecke, Micky van de Ven (Hato 86′), Frenkie de Jong (Marten de Roon 110′), Ryan Gravenberch, Denzel Dumfries, Cody Gakpo (Justin Kluivert 114′), Crysencio Summerville, Brian Brobbey (Wout Weghorst 71′).

Maroko: Yassine Bounou; Noussair Mazraoui, Chadi Riad (Anass Eddine 75′), Issa Diop, Achraf Hakimi, Ayyoub Bouaddi (El Mourabet 79′), Neil El Aynaoui, Bilal El Khannouss (Talbi 87′), Azzedine Ounahi (Soufiane Rahimi 86′), Brahim Diaz (Gessime Yassine 79′), Ismael Saibari. (XRQ)

Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News

BBPOM Aceh Temukan Jamu Mengandung BKO saat Sidak Lima Warkop di Banda Aceh

0
Sidak BBPOM Aceh yang dilakukan di salah satu warung kopi di Banda Aceh, Senin (29/6/2026). (Foto: BBPOM Aceh)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) di Banda Aceh kembali menemukan produk jamu yang mengandung Bahan Kimia Obat (BKO) dalam pengawasan yang dilakukan di lima warung kopi di Kota Banda Aceh, Senin (29/6/2026). Produk yang ditemukan berupa Jamu Daun Binahong tanpa izin edar yang berpotensi membahayakan kesehatan apabila dikonsumsi tanpa pengawasan tenaga kesehatan.

Temuan tersebut diperoleh dalam kegiatan SANGER Ureung Aceh (Sidak dan Edukasi Warung Kopi Ureung Aceh), program inovasi BBPOM Aceh yang memadukan pengawasan produk dengan edukasi kepada pelaku usaha dan masyarakat.

Kepala BBPOM di Banda Aceh, Riyanto, mengatakan petugas segera menindaklanjuti temuan tersebut sesuai ketentuan yang berlaku. Pemilik warung juga diberikan pembinaan agar tidak lagi memperdagangkan produk tanpa izin edar maupun produk yang mengandung bahan berbahaya.

“Warung kopi merupakan bagian dari budaya masyarakat Aceh. Karena itu, kami menghadirkan pengawasan di tempat masyarakat berkumpul agar edukasi dapat tersampaikan secara langsung sekaligus memastikan produk yang dikonsumsi aman. Kami ingin membangun kesadaran bersama bahwa perlindungan konsumen dimulai dari memilih produk yang legal, aman, dan bermutu,” kata Riyanto dalam keterangannya kepada Nukilan, Selasa (30/6/2026).

Selain menemukan jamu mengandung BKO, petugas melakukan pemeriksaan terhadap berbagai produk yang dijual di warung kopi serta mengambil sampel pangan untuk diuji secara cepat di lokasi. Hasil pengujian menunjukkan seluruh sampel makanan memenuhi persyaratan keamanan dan tidak ditemukan kandungan bahan berbahaya berdasarkan parameter yang diperiksa.

Dalam kegiatan tersebut, BBPOM Aceh juga mengedukasi pelaku usaha dan masyarakat mengenai pentingnya memilih produk yang aman melalui prinsip Cek KLIK, yaitu memeriksa kemasan, label, izin edar, dan tanggal kedaluwarsa sebelum membeli atau mengonsumsi produk. Masyarakat juga diimbau lebih waspada terhadap berbagai klaim khasiat instan, terutama pada produk obat bahan alam dan suplemen kesehatan.

Menurut Riyanto, keberadaan Bahan Kimia Obat dalam jamu merupakan pelanggaran karena obat tradisional seharusnya hanya mengandung bahan alami. Penambahan BKO dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan apabila dikonsumsi tanpa pengawasan tenaga kesehatan, terlebih jika digunakan dalam jangka panjang.

“Jangan ragu untuk menjadi konsumen yang cerdas. Pastikan setiap produk yang dikonsumsi memiliki izin edar BPOM dan hindari produk yang menjanjikan khasiat instan tanpa dasar yang jelas. Kesadaran masyarakat merupakan kunci utama dalam mencegah peredaran produk yang tidak memenuhi ketentuan,” ujarnya.

Melalui program SANGER Ureung Aceh, BBPOM Aceh terus memperkuat pengawasan obat dan makanan dengan mendekatkan layanan kepada masyarakat melalui warung kopi yang menjadi ruang interaksi publik di Aceh. Program ini diharapkan mampu meningkatkan kepatuhan pelaku usaha sekaligus memperkuat kesadaran masyarakat untuk hanya mengonsumsi produk yang legal, aman, dan bermutu. []

Reporter: Sammy

Masih Buron, Mantan Keuchik di Pidie Tetap Divonis 5 Tahun Penjara

0
Ilustrasi sidang in absentia. (Foto: AI)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH — Majelis Hakim Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Banda Aceh menjatuhkan vonis lima tahun penjara secara in absentia kepada mantan Keuchik (Kepala Desa) Gampong Kambuek Payapi Kunyet, Kecamatan Padang Tiji, Kabupaten Pidie, Sayuti bin M. Adam.

Hingga ketukan palu hakim, Sayuti diketahui masih berstatus buron atau masuk dalam Daftar Pencarian Orang (DPO). Ia dinyatakan terbukti bersalah dalam perkara korupsi pengelolaan dana desa Anggaran Pendapatan dan Belanja Gampong (APBG) Tahun Anggaran 2023.

Dalam amar putusannya, majelis hakim menyatakan terdakwa tidak terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan tindak pidana korupsi sebagaimana dakwaan primer. Meski dibebaskan dari dakwaan utama, hakim menilai Sayuti terbukti bersalah melakukan korupsi sebagaimana dakwaan subsider.

“Menjatuhkan pidana kepada terdakwa dengan pidana penjara selama 5 tahun dan denda Rp200 juta. Apabila denda tidak dibayar, diganti dengan pidana penjara selama 120 hari,” ujar hakim dikutip Nukilan, Senin (29/6).

Selain hukuman badan dan denda, hakim juga menjatuhkan pidana tambahan berupa kewajiban membayar uang pengganti sebesar Rp222.891.000. Uang tersebut wajib disetorkan paling lama satu bulan setelah putusan berkekuatan hukum tetap (inkracht).

“Apabila uang pengganti tersebut tidak dibayar, harta benda terpidana akan disita dan dilelang oleh jaksa. Jika harta bendanya tidak mencukupi, maka diganti dengan pidana penjara selama 2 tahun 6 bulan,” lanjut hakim.

Kasus ini mencuat setelah ditemukannya dugaan penyimpangan dalam pengelolaan APBG 2023 di desa tersebut. Berdasarkan hasil audit Perhitungan Kerugian Keuangan Negara (PKKN), tindakan rasuah yang dilakukan Sayuti telah merugikan negara sebesar Rp292.891.000.

Sebelumnya, Sayuti ditetapkan sebagai DPO oleh Kejaksaan Negeri Pidie karena mangkir dari tiga kali panggilan penyidik. Hingga kini, pihak kejaksaan masih terus memburu keberadaan Sayuti yang diduga kuat melarikan diri ke Malaysia.

Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News

Reporter: Rezi

Lumpur Belum Surut, Pengabdian Polisi Terus Berlanjut

0
Ilustrasi Pengabdian Anggota Polda Aceh Pascabencna di Aceh Tamiang. (Foto: For Nukilan)

NUKILAN.ID | FEATURE – Malam itu, 29 November 2025, Banda Aceh belum benar-benar pulih. Di sejumlah sudut kota, listrik masih padam. Bahan bakar minyak sulit didapat. Tabung gas menjadi barang langka. Warga berusaha bertahan di tengah situasi yang serba terbatas setelah cuaca ekstrem melanda berbagai wilayah Aceh.

Di tengah kondisi itu, Brigadir Rachmat Novriska, S.H., justru bersiap meninggalkan rumah.

Ia memeriksa kembali perlengkapan yang telah disusun sejak sore. Seragam lapangan, sepatu pacok, pakaian ganti, dan perlengkapan pribadi dimasukkan ke dalam tas. Tak banyak barang yang dibawa. Ia tahu, begitu tiba di lokasi bencana, tidak ada waktu untuk beristirahat. Tugas telah menunggu.

Namun sebelum menjadi seorang polisi, Rachmat adalah seorang suami sekaligus ayah.

Ada anak dan istri yang ia tinggalkan di rumah, tepat ketika Banda Aceh sendiri sedang dilanda berbagai kesulitan. Sebagai kepala keluarga, kegelisahan itu tak mungkin diabaikan. Bagaimana jika listrik belum juga menyala? Bagaimana jika bahan bakar semakin sulit diperoleh? Bagaimana jika keluarganya membutuhkan dirinya ketika ia berada ratusan kilometer jauhnya?

“Kalau kondisi di rumah baik-baik saja, mungkin saya tidak terlalu kepikiran,” katanya mengenang malam keberangkatan itu. “Tapi waktu itu situasinya juga sedang kacau. Sebagai manusia biasa, tentu ada rasa khawatir. Namun demi tugas dan pengabdian kepada masyarakat, mau tidak mau harus siap berangkat sesuai perintah.”

Kalimat itu meluncur tanpa nada heroik. Tidak ada upaya membesarkan pengorbanannya. Ia hanya menceritakan apa yang dirasakan seorang ayah yang harus meninggalkan keluarga ketika mereka sama-sama berada dalam situasi sulit.

Sekitar pukul delapan malam, ia bersama personel lain mengikuti apel di Pelabuhan Ulee Lheue. Dua jam kemudian kapal yang membawa bantuan logistik sekaligus personel kemanusiaan bergerak meninggalkan dermaga, membelah laut menuju Krueng Geukueh.

Perjalanan berlangsung hampir empat belas jam.

Di atas kapal, tidak banyak yang bisa dilakukan selain beristirahat dan menyiapkan tenaga. Mereka adalah gelombang ketiga personel Polda Aceh yang diterjunkan membantu penanganan pascabanjir bandang di Aceh Tamiang. Gelombang pertama telah lebih dahulu diberangkatkan sehari sebelumnya. Rachmat dan rekan-rekannya akan memperkuat personel yang sudah bekerja di lapangan.

Selama sebelas tahun berdinas di Kepolisian Negara Republik Indonesia, Rachmat telah menjalani berbagai penugasan. Dua tahun terakhir ia bertugas di Unit III Subdirektorat IV Renakta Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Aceh sebagai penyidik yang menangani perkara perempuan dan anak. Pekerjaan sehari-harinya akrab dengan ruang pemeriksaan, berkas perkara, dan pendampingan korban.

Namun penugasan kali ini sama sekali berbeda.

Tidak ada meja kerja.

Tidak ada berkas.

Tidak ada ruang penyidikan.

Yang menanti adalah lumpur, reruntuhan, dan ribuan warga yang sedang berusaha menyusun kembali hidup mereka.

Saat kendaraan yang membawa rombongan memasuki Aceh Tamiang, pemandangan yang selama ini hanya ia lihat melalui layar telepon genggam mendadak menjadi kenyataan.

Di hadapannya terbentang sebuah kota yang nyaris kehilangan wajah.

Lumpur menutupi jalan-jalan utama. Sebagian bangunan masih dipenuhi endapan tanah berwarna cokelat pekat. Dinding rumah menyisakan garis bekas ketinggian air. Perabotan berserakan di halaman. Aroma lumpur bercampur kayu basah memenuhi udara.

Di beberapa titik, tenda-tenda pengungsian berdiri seadanya.

Anak-anak berlarian di antara genangan.

Lansia duduk memandangi rumah mereka yang belum bisa ditempati.

Bayi digendong bergantian oleh orang tua yang wajahnya menyimpan kelelahan berhari-hari.

“Perasaan saya sangat sedih,” kata Rachmat.

Ia mengaku sempat terdiam beberapa saat.

Selama ini ia sering mendengar orang menyebut Aceh Tamiang saat itu seperti “kota zombie”. Sebutan itu terdengar berlebihan ketika hanya dibaca di media sosial.

Tetapi ketika ia menyaksikannya sendiri, istilah itu justru terasa menggambarkan keadaan yang ada.

Listrik belum menyala.

Aktivitas masyarakat nyaris berhenti.

Jalan dipenuhi lumpur.

Orang-orang berjalan pelan dengan wajah kosong, seolah masih berusaha menerima kenyataan bahwa rumah dan harta benda mereka hilang hanya dalam hitungan jam.

“Saya benar-benar terkejut melihat kondisinya.”

Tidak lama setelah tiba, seluruh personel langsung mengikuti apel pembagian tugas.

Personel kesehatan bertugas memberikan layanan medis.

Polwan disebar untuk membantu trauma healing bagi perempuan dan anak-anak.

Tim logistik menyalurkan bantuan kebutuhan pokok.

Sebagian personel mengatur distribusi bantuan.

Rachmat ditempatkan pada kelompok pembersihan.

Tugas mereka sederhana ketika diucapkan, tetapi sangat berat ketika dijalankan: membersihkan lumpur.

Mereka menyisir jalan-jalan utama, rumah sakit, sekolah, masjid, kantor pelayanan publik, hingga fasilitas umum lain agar dapat kembali digunakan masyarakat.

Hari-hari berikutnya hampir selalu dimulai dengan aktivitas yang sama.

Mengangkat lumpur.

Membuangnya.

Lalu kembali mengangkat lumpur.

Begitu berulang dari pagi hingga sore.

“Bayangkan, lumpurnya setinggi pinggang,” katanya.

“Kadang terpikir, sanggup tidak kita bersihkan semua ini?”

Pertanyaan itu muncul bukan karena ia ingin menyerah.

Melainkan karena luasnya wilayah yang harus dibersihkan hampir sulit dibayangkan.

Setiap kali satu halaman rumah selesai dibersihkan, halaman lain masih tertutup lumpur.

Setiap kali satu ruas jalan mulai terbuka, masih ada sekolah, masjid, atau fasilitas kesehatan yang menunggu giliran.

Pekerjaan itu seperti tidak pernah habis.

Namun setiap personel sudah dibagi ke dalam kelompok-kelompok kecil.

Masing-masing memiliki target.

Masing-masing memiliki wilayah kerja.

“Di dalam hati saya cuma bilang, dalam dua minggu ini harus bersih. Bersih tidak bersih, tetap harus dikerjakan.”

Kalimat itu menjadi pegangan selama bertugas.

Sebab di tengah bencana, tidak semua pekerjaan bisa diselesaikan dengan cepat.

Tetapi setiap sekop lumpur yang berhasil dipindahkan berarti satu langkah bagi masyarakat untuk memulai kehidupan mereka kembali.

Malam menjadi waktu paling sunyi.

Ketika pekerjaan berhenti dan suara mesin penyedot lumpur mulai menghilang, barulah rasa letih benar-benar terasa. Tubuh dipenuhi lumpur yang mengering, telapak tangan terasa pegal, sementara pakaian yang dipakai sejak pagi belum sempat benar-benar bersih.

Tidak ada penginapan yang nyaman.

Tidak ada kasur empuk.

Bagi Rachmat dan personel lainnya, tempat beristirahat bukanlah sesuatu yang bisa dipilih. Ada yang tidur di tenda darurat, ada pula yang membaringkan badan di dalam mobil dinas. Yang penting, tubuh memiliki waktu beberapa jam untuk memulihkan tenaga sebelum pekerjaan dimulai lagi keesokan harinya.

Makan pun tidak jauh berbeda.

Siang hari mereka masih bisa memanfaatkan dapur umum yang dibangun untuk melayani para pengungsi dan relawan. Namun pagi dan malam, menu mereka sering kali hanya mi instan, roti, atau makanan kaleng yang dimasak bersama.

“Kami tidak mungkin membebani warga. Mereka juga korban,” ujarnya.

Bagi Rachmat, kesulitan yang ia alami selama bertugas tidak sebanding dengan apa yang dirasakan masyarakat Aceh Tamiang.

Ia masih memiliki rumah untuk kembali.

Masih ada keluarga yang menunggu di Banda Aceh.

Sementara ribuan warga di hadapannya bahkan tidak lagi tahu harus pulang ke mana.

Di sela-sela pekerjaan membersihkan lumpur, Rachmat berusaha menyempatkan diri berbincang dengan warga.

Bukan sebagai penyidik yang sedang meminta keterangan.

Bukan pula sebagai aparat yang menjalankan prosedur.

Melainkan sebagai sesama manusia yang ingin mendengar cerita.

Dari sekian banyak wajah yang ditemuinya, ada satu percakapan yang hingga kini masih tersimpan jelas dalam ingatannya.

Hari itu ia melihat seorang anak kecil bermain di sekitar tenda pengungsian.

Anak itu tampak ceria. Sesekali ia berlari mengejar teman-temannya. Tidak ada raut kesedihan yang terlihat di wajahnya.

Rachmat menghampiri.

“Rumah adik di mana?” tanyanya.

Anak itu menjawab singkat.

“Rumah saya tenggelam, Om.”

Jawaban itu membuat Rachmat terdiam.

Ia kembali bertanya.

“Sekarang tinggal di mana?”

“Di tenda.”

“Senang tidur di tenda?”

Anak itu mengangguk sambil tersenyum.

“Senang, karena tidur rame-rame.”

Jawaban polos itu justru menghadirkan kesunyian yang panjang.

Bagi seorang anak, tidur bersama banyak orang mungkin terasa seperti petualangan.

Tetapi bagi orang-orang dewasa yang mendengarnya, kalimat itu menyimpan kenyataan yang getir.

Anak tersebut kehilangan rumah.

Kehilangan tempat bermain.

Kehilangan kamar tidurnya.

Namun ia belum cukup mengerti bahwa semua itu adalah kehilangan besar.

“Itulah dunia anak-anak,” kata Rachmat.

“Di mana pun mereka tetap berpikir untuk bermain. Wajah mereka terlihat bahagia. Tapi sebagai polisi dan sebagai manusia, kami sedih melihat kondisinya.”

Peristiwa sederhana itu tidak pernah masuk ke dalam laporan tugas.

Tidak ada kolom administrasi yang mencatat percakapan singkat antara seorang polisi dan anak pengungsi.

Namun justru percakapan itulah yang paling lama tinggal di ingatan.

Karena di tengah bencana, angka-angka sering kali gagal menjelaskan bagaimana rasanya kehilangan.

Cerita serupa datang dari Akram.

Rumah yang selama bertahun-tahun ia bangun bersama keluarga tidak lagi menyisakan banyak hal. Air bah datang begitu cepat hingga mereka tidak sempat menyelamatkan barang-barang berharga.

“Yang tersisa cuma pakaian di badan,” katanya.

Selama tiga hari tiga malam, ia bersama keluarga bertahan di lantai dua rumah tetangganya.

Jumlah orang yang mengungsi terus bertambah.

Persediaan makanan semakin menipis.

Air minum dibagi seadanya.

Tidak ada listrik.

Tidak ada jaringan telepon.

Mereka sama sekali tidak mengetahui bagaimana keadaan keluarga lain di luar sana.

“Kami hanya bertahan.”

Kalimat itu diucapkannya singkat, tetapi menggambarkan betapa panjang tiga hari yang mereka lalui.

Baru ketika air mulai surut pada 1 Desember, Akram bersama warga lain berani turun.

Mereka mencoba melihat kondisi rumah masing-masing.

Sebagian hanya menemukan lumpur.

Sebagian lagi menemukan bangunan yang sudah tidak lagi menyerupai rumah.

Di saat itulah bantuan mulai berdatangan dari berbagai daerah.

Relawan datang silih berganti.

Ada yang membawa makanan.

Ada yang membuka layanan kesehatan.

Ada pula yang membawa perangkat Starlink dan memasangnya di salah satu warung kopi agar warga dapat menghubungi keluarga mereka.

Di tengah keterbatasan itu, kehadiran personel kepolisian menjadi salah satu hal yang paling ia rasakan manfaatnya.

“Mereka membersihkan jalan, rumah sakit, masjid, sekolah dan fasilitas umum lainnya,” kata Akram.

“Kalau tidak dibersihkan, masyarakat tentu akan lebih sulit memulai aktivitas lagi.”

Bagi Akram, yang dilakukan para polisi mungkin terlihat sederhana.

Mengangkat lumpur.

Menyapu.

Membuang sampah.

Tetapi justru pekerjaan-pekerjaan sederhana itulah yang menjadi awal bagi sebuah kota untuk bangkit kembali.

Setiap hari Rachmat menyaksikan cerita yang berbeda.

Ada ibu yang menangis karena album foto keluarganya hanyut.

Ada pedagang yang tokonya tertutup lumpur hingga atap.

Ada anak-anak yang kehilangan buku sekolah.

Ada lansia yang duduk diam memandangi rumah yang tidak lagi bisa ditempati.

Semua kehilangan sesuatu.

Tidak semua kehilangan itu dapat diganti dengan bantuan logistik.

Banyak yang hilang justru berupa kenangan.

Dan kenangan tidak pernah dijual di mana pun.

Barangkali karena itulah, perlahan Rachmat tidak lagi memikirkan rasa lelah.

“Yang luar biasa, saya tidak lagi terpikir soal uang atau capek,” ujarnya.

“Yang ada hanya keinginan membantu.”

Kalimat itu lahir bukan karena ia ingin dipuji.

Ia mengaku, rasa itu muncul begitu saja setiap kali melihat warga berusaha membersihkan rumah mereka sendiri.

Melihat seorang ibu menyendok lumpur dari ruang tamunya.

Melihat seorang ayah mengangkat lemari yang sudah rusak.

Melihat anak-anak membantu orang tuanya memungut barang-barang yang masih bisa diselamatkan.

“Kalau pun tidak dibayar, kami tetap ikhlas.”

Baginya, pengabdian tidak selalu diwujudkan dalam tindakan besar.

Kadang pengabdian hanya berarti ikut memegang sekop ketika warga sudah kehabisan tenaga.

Atau ikut mendorong gerobak berisi lumpur agar jalan bisa kembali dilewati.

Sedikit demi sedikit, jalan mulai terlihat.

Halaman sekolah mulai bersih.

Masjid kembali digunakan.

Rumah sakit mulai beroperasi.

Lumpur memang tidak hilang dalam satu hari.

Tetapi harapan masyarakat perlahan kembali muncul, bersamaan dengan setiap sudut kota yang berhasil dibersihkan.

Beberapa hari kemudian, ketika masa penugasan berakhir, Rachmat kembali ke Banda Aceh. Lumpur yang melekat di sepatu mungkin bisa dibersihkan. Namun ingatan tentang Aceh Tamiang tidak semudah itu hilang.

Ia masih mengingat wajah anak kecil yang mengaku rumahnya tenggelam, tetapi tetap tersenyum karena bisa tidur ramai-ramai di tenda. Ia juga masih mengingat warga yang menyambut para relawan dengan mata yang menyimpan lelah, sekaligus harapan. Di tengah kehilangan yang begitu besar, ia menyaksikan sendiri bagaimana gotong royong menjadi tenaga yang menggerakkan pemulihan.

Bagi Rachmat, penugasan itu mengubah cara pandangnya terhadap profesi yang telah dijalaninya selama sebelas tahun.

“Saya benar-benar merasa bangga menjadi polisi. Pekerjaan ini mulia. Kita membantu orang. Mungkin yang kita lakukan tidak seberapa, tetapi ada kepuasan batin yang besar. Saya selalu ingat semboyan Brimob, ‘Jiwa raga demi kemanusiaan’. Apa pun yang kami lakukan di sana, semuanya untuk kemanusiaan,” ujarnya.

Ia berharap, kelak anak-anaknya membaca kisah itu bukan untuk melihat ayahnya sebagai sosok yang luar biasa, melainkan sebagai seseorang yang berusaha menjalankan tanggung jawabnya dengan sebaik-baiknya. Bahwa menjadi polisi bukan hanya soal menegakkan hukum, tetapi juga hadir ketika masyarakat berada pada titik paling rapuh.

Banjir memang akhirnya surut. Jalan-jalan perlahan kembali terbuka. Lumpur sedikit demi sedikit terangkat dari rumah, sekolah, masjid, dan rumah sakit. Namun bagi Rachmat, pengabdian tidak ikut surut bersama air. Ia tetap hidup dalam setiap sekop lumpur yang diangkat, setiap tangan yang diraih, dan setiap harapan yang perlahan dibangun kembali di Aceh Tamiang.

Kutipan Soekarno soal “Pemuda Merokok dan Minum Kopi” Dipastikan Tidak Memiliki Sumber Historis yang Valid

0
Kutipan Soekarno soal "Pemuda Merokok dan Minum Kopi". (Foto: Ist)

NUKILAN.ID | JAKARTA – Kutipan yang selama ini beredar luas di media sosial dan dinisbatkan kepada Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno, dipastikan tidak memiliki dasar historis yang dapat dipertanggungjawabkan.

Kutipan tersebut berbunyi: “Aku lebih senang pemuda yang merokok dan minum kopi sambil diskusi tentang bangsa ini, daripada pemuda kutu buku yang memikirkan diri sendiri.”

Berdasarkan penelusuran Nukilan.id terhadap berbagai sumber sejarah, tidak ditemukan bukti bahwa pernyataan tersebut pernah diucapkan atau ditulis oleh Soekarno. Kutipan itu juga tidak tercantum dalam naskah pidato, buku biografi, kumpulan pidato resmi, maupun dokumen historis yang berkaitan dengan Presiden pertama RI tersebut.

Sebaliknya, berbagai catatan sejarah justru menggambarkan Bung Karno sebagai sosok yang sangat mencintai buku. Sejak usia muda, ia dikenal gemar membaca dan memiliki ribuan koleksi buku dari berbagai bidang pemikiran, termasuk karya-karya tokoh seperti Willy Münzenberg dan Ernst Henri, yang turut membentuk cara pandangnya dalam merumuskan dasar negara serta gagasan perjuangan bangsa.

Kecintaan Soekarno terhadap literasi juga tercermin dalam berbagai pidatonya yang mendorong masyarakat, terutama generasi muda, untuk rajin membaca sebagai jalan memperluas wawasan dan membangun bangsa yang cerdas. Dalam sejumlah kesempatan, Bung Karno bahkan menjadikan kebiasaan membaca sebagai teladan yang ia praktikkan sendiri.

Sementara itu, kutipan mengenai “pemuda merokok dan minum kopi sambil diskusi tentang bangsa” diperkirakan baru mulai beredar luas di media sosial sekitar tahun 2020.

Sejumlah pemerhati sejarah menilai kalimat tersebut lebih merupakan analogi yang dibuat oleh pengguna media sosial untuk membandingkan aktivisme sosial dengan aktivitas akademik, bukan ucapan autentik Soekarno. Hingga kini, belum ada bukti primer yang dapat mengaitkan kutipan tersebut dengan Bung Karno.

Para sejarawan dan pemerhati sejarah pun mengingatkan masyarakat agar lebih berhati-hati dalam menyebarkan kutipan yang mengatasnamakan tokoh nasional.

Mereka menilai setiap kutipan sebaiknya diverifikasi melalui sumber primer, seperti arsip pidato, buku resmi, maupun dokumen sejarah yang dapat dipertanggungjawabkan, sehingga tidak menimbulkan kesalahpahaman di tengah masyarakat. (xrq)

Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News

Jerman Tersingkir Dramatis, Paraguay Melaju ke 16 Besar Usai Menang Adu Penalti

0
Orlando Gill jadi bintang kemenangan Paraguay atas Jerman di adu penalti. (FOTO: REUTERS/Peter Cziborra)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Paraguay memastikan tempat di babak 16 besar Piala Dunia 2026 setelah menyingkirkan Jerman melalui drama adu penalti pada pertandingan 32 besar, Selasa (30/6/2026) WIB.

Laga berakhir imbang 1-1 hingga perpanjangan waktu sebelum Paraguay menang 4-3 dalam adu penalti.

Kiper Orlando Gill menjadi pahlawan kemenangan Paraguay. Ia menggagalkan tendangan Kai Havertz pada penalti pertama dan kembali menghentikan eksekusi Nick Woltemade di giliran keempat.

Jerman sebenarnya sempat mendapatkan harapan ketika Antonio Sanabria gagal memanfaatkan kesempatan untuk mengunci kemenangan Paraguay. Setelah itu Nadiem Amiri sukses menjalankan tugasnya sebagai algojo, sementara Fabian Balbuena juga gagal pada kesempatan berikutnya sehingga skor adu penalti kembali seimbang.

Pada babak sudden death, Jonathan Tah gagal mencetak gol setelah tendangannya melambung di atas mistar. Kesempatan itu dimanfaatkan Jose Canale yang dengan tenang menaklukkan Manuel Neuer untuk memastikan kemenangan Paraguay.

Dalam waktu normal, Paraguay lebih dahulu memimpin melalui gol sundulan Julio Enciso yang memanfaatkan umpan silang Matias Galarza.

Jerman membalas pada menit ke-54. Florian Wirtz mengirim umpan lambung ke kotak penalti yang disambut Kai Havertz dengan sundulan membelakangi gawang untuk menyamakan kedudukan menjadi 1-1.

Selepas gol tersebut, Jerman tampil lebih dominan dan beberapa kali menciptakan peluang. Namun hingga waktu normal berakhir tidak ada tambahan gol sehingga pertandingan berlanjut ke babak tambahan.

Di extra time, Jerman sempat mengira telah berbalik unggul melalui sundulan Jonathan Tah pada menit ke-102 setelah menerima umpan sepak pojok Nathaniel Brown. Akan tetapi, wasit menganulir gol tersebut usai meninjau VAR karena Waldemar Anton dinilai melakukan pelanggaran terhadap kiper Paraguay, Orlando Gill.

Skor 1-1 bertahan hingga 120 menit dan pertandingan harus ditentukan lewat adu penalti. Paraguay tampil lebih tenang dan akhirnya mengamankan kemenangan 4-3 untuk memastikan langkah ke babak berikutnya, sementara Jerman harus mengakhiri perjalanan mereka di Piala Dunia 2026. (xrq)

Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News