Beranda blog Halaman 28

Aceh Tengah dan Bener Meriah Tak Masuk Daftar Penerima Tambahan DAU Bencana

0
Screen Capture salinan surat Keputusan Menteri Keuangan. (Foto: Dok Lintasgayo)

NUKILAN.ID | TAKENGON – Pemerintah pusat melalui Kementerian Keuangan resmi merilis rincian tambahan Dana Alokasi Umum (DAU) untuk daerah terdampak bencana di Aceh dan Sumatera. Namun, Kabupaten Aceh Tengah dan Bener Meriah tidak termasuk dalam daftar penerima.

Mengutip Lintasgayo.com, hal tersebut tertuang dalam salinan Keputusan Menteri Keuangan (KMK) Nomor 56 Tahun 2026, Selasa (24/3/2026). Dalam keputusan itu, hanya 10 kabupaten/kota di Aceh yang mendapatkan tambahan DAU.

Padahal, Aceh Tengah dan Bener Meriah diketahui mengalami kerusakan cukup parah akibat bencana hidrometeorologi. Sejumlah infrastruktur penting seperti jalan dan jembatan dilaporkan rusak di berbagai wilayah.

Akibat kerusakan tersebut, hingga kini masih terdapat kecamatan dan desa yang hanya dapat diakses melalui jembatan darurat.

Kondisi ini diperparah dengan krisis keuangan daerah akibat defisit anggaran yang meningkat, sehingga menghambat upaya perbaikan infrastruktur.

Tidak hanya kedua daerah tersebut, kabupaten lain yang terdampak parah seperti Aceh Tamiang dan Aceh Utara juga disebut tidak masuk dalam daftar penerima tambahan DAU.

Sementara itu, belum ada keterangan resmi dari pemerintah daerah terkait tidak masuknya wilayah mereka dalam daftar penerima bantuan tersebut.

Informasi yang dihimpun Nukilan.id menyebutkan, sejumlah kepala daerah, termasuk bupati Aceh Tengah dan Bener Meriah, dijadwalkan menghadiri rapat di Banda Aceh pada Kamis (26/3/2026).

Rapat tersebut disebut akan membahas tambahan DAU guna mempercepat pemulihan daerah pascabencana. (XRQ)

Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News.

Zakat untuk Pendidikan: Baitul Mal Aceh Selatan Dorong Akses dan Masa Depan Generasi Muda

0
Direktur Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Tapaktuan, Dr. Sufyan Ilyas, S.Th, MH. (Foto: For Nukilan)

NUKILAN.ID | TAPAKTUAN – Baitul Mal Kabupaten Aceh Selatan terus memperkuat komitmennya dalam menjadikan zakat sebagai instrumen pembangunan sumber daya manusia, khususnya di sektor pendidikan.

Upaya tersebut salah satunya diwujudkan melalui program Podcast Kito – Sahabat Zakat yang kembali menghadirkan ruang edukasi publik bertajuk “Zakat untuk Pendidikan: Membangun Generasi Aceh Selatan”. Episode ini tayang pada 24 Maret 2026 pukul 20.00 WIB melalui kanal YouTube resmi Podcast Kito Sahabat Zakat dan media sosial lainnya.

Dalam episode tersebut, Direktur Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Tapaktuan, Dr. Sufyan Ilyas, S.Th, MH hadir sebagai narasumber dan berdialog bersama host Sepri Kurniadi, S.Pd, M.Pd, dosen Politeknik Aceh Selatan. Keduanya membahas peran strategis zakat dalam mendukung pendidikan, terutama bagi mahasiswa dari keluarga kurang mampu.

Dilansir Nukilan.id ia menegaskan bahwa zakat tidak hanya dimaknai sebagai kewajiban ibadah, tetapi juga sebagai kekuatan sosial yang mampu membuka akses pendidikan.

“Zakat adalah jembatan kepedulian yang mampu menghadirkan kesempatan. Dari zakat, lahir harapan, dan dari harapan, terbangun masa depan,” ujar Sepri.

Sementara itu, Dr. Sufyan Ilyas menekankan bahwa zakat memiliki peran vital dalam menjaga keberlangsungan pendidikan, khususnya bagi mahasiswa yang menghadapi keterbatasan ekonomi. Menurutnya, banyak mahasiswa berpotensi yang terhambat oleh persoalan biaya.

“Banyak mahasiswa yang sebenarnya memiliki kemampuan, tetapi terkendala biaya. Dengan adanya bantuan zakat, mereka dapat melanjutkan pendidikan dengan lebih tenang dan fokus,” jelasnya.

Ia menambahkan, zakat menjadi penghubung antara kepedulian para muzakki dengan masa depan generasi muda. Manfaatnya pun telah dirasakan langsung oleh mahasiswa penerima bantuan, tidak hanya dalam meringankan beban biaya, tetapi juga meningkatkan semangat dan prestasi akademik.

“Zakat bukan sekadar bantuan sesaat, tetapi investasi sosial jangka panjang. Dari mahasiswa hari ini akan lahir pemimpin, pendidik, ulama, dan profesional masa depan,” ungkapnya.

Dalam diskusi tersebut juga disoroti pentingnya peran lembaga pendidikan dalam membangun kesadaran berzakat. Kampus dinilai tidak hanya sebagai ruang transfer ilmu, tetapi juga sebagai tempat pembentukan nilai sosial dan spiritual, termasuk pemahaman zakat sebagai bagian dari sistem keadilan sosial dalam Islam.

Selain itu, mahasiswa penerima zakat diingatkan untuk menjaga amanah yang diberikan. Bantuan tersebut diharapkan menjadi motivasi untuk berprestasi serta mendorong mereka agar kelak dapat bertransformasi menjadi muzakki.

Dr. Sufyan juga menekankan pentingnya pengelolaan zakat yang profesional, transparan, dan akuntabel guna meningkatkan kepercayaan publik. Dengan pengelolaan yang baik, zakat dinilai mampu menjadi solusi nyata dalam mengurangi kemiskinan, memperkuat sektor pendidikan, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Di akhir perbincangan, disampaikan harapan agar Baitul Mal Aceh Selatan terus mengembangkan program berbasis pendidikan serta memperkuat kolaborasi dengan berbagai lembaga pendidikan agar manfaat zakat dapat dirasakan secara berkelanjutan.

Menutup podcast, Sepri kembali mengingatkan makna mendalam dari zakat sebagai instrumen perubahan sosial.

“Setiap rupiah zakat adalah amanah. Ia harus dikelola dengan integritas, transparansi, dan tanggung jawab, agar benar-benar menjadi sumber keberkahan bagi umat,” tutupnya.

Program Podcast Kito Sahabat Zakat merupakan bagian dari kemitraan strategis antara Baitul Mal Kabupaten Aceh Selatan, MPD Pemuda ICMI Aceh Selatan, dan PD IPARI Kabupaten Aceh Selatan dalam mengoptimalkan peran masing-masing lembaga untuk berkontribusi bagi masyarakat. (XRQ)

Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News

Catatan Kemanusiaan BFLF Aceh Selatan: Ironi di Balik Keengganan Mendonor

0
Ketua Blood For Life Foundation Aceh Selatan, Gusmawi Mustafa. (Foto: For Nukilan)

NUKILAN.ID | TAPKTUAN — Di tengah perjuangan pasien yang bergantung pada ketersediaan darah, muncul fenomena yang diam-diam mengusik nilai kemanusiaan: keengganan sebagian keluarga pasien untuk mendonorkan darah, meski secara kondisi fisik dinyatakan sehat dan memenuhi syarat.

Di ruang-ruang rumah sakit, harapan kerap bertumpu pada satu hal sederhana—setetes darah dari sesama. Namun ironi muncul ketika relawan justru hadir tanpa ikatan apa pun, sementara dari lingkaran terdekat pasien, berbagai alasan kerap muncul untuk menghindar.

Ada yang mengaku takut jarum suntik, merasa lemah, hingga memilih diam tanpa kepastian. Di sisi lain, waktu terus berjalan, sementara nyawa orang terkasih berada di ujung penantian.

“Ini bukan sekadar soal berani atau tidak. Ini soal kejujuran hati. Ketika kita mengaku sayang, tetapi enggan berkorban, maka ada nilai kemanusiaan yang sedang kita abaikan,” ujar Gusmawi Mustafa, Ketua Blood For Life Foundation Aceh Selatan kepada Nukilan.id.

Ia menilai fenomena tersebut sebagai ironi yang menyakitkan. Di satu sisi, keluarga tampak cemas dan penuh kasih, namun ketika peluang untuk berkontribusi nyata hadir, justru dihindari dengan berbagai dalih.

“Cinta itu bukan hanya air mata dan doa. Cinta itu keberanian untuk hadir dan memberi, bahkan ketika itu sedikit menyakitkan bagi diri sendiri,” tegasnya.

Selain itu, Gusmawi juga menyoroti persoalan lain yang tak kalah memprihatinkan, yakni relawan donor darah yang perlahan dilupakan setelah kebutuhan pasien terpenuhi.

Menurutnya, tidak sedikit relawan yang kehilangan komunikasi dengan keluarga pasien yang pernah mereka bantu. Pesan tak lagi dibalas, silaturahmi terputus, bahkan ucapan terima kasih pun kerap tak terdengar.

Padahal, bagi para relawan, hubungan tersebut bukan sekadar tentang darah yang telah diberikan. Ada nilai kemanusiaan, empati, dan harapan akan ikatan kebaikan yang terus terjaga.

“Relawan tidak pernah meminta balasan. Tetapi menghargai itu adalah bagian dari kemanusiaan. Ketika komunikasi terputus begitu saja, yang terluka bukan hanya perasaan, tetapi juga semangat untuk terus membantu,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa gerakan donor darah bukan hanya soal memenuhi kebutuhan medis, tetapi juga membangun ekosistem kepedulian yang berkelanjutan. Ketika relawan merasa dihargai, mereka akan terus hadir. Sebaliknya, jika dilupakan, semangat itu dapat memudar.

“Jangan biarkan orang-orang baik merasa sendiri. Jangan biarkan ketulusan dibalas dengan keheningan,” tambahnya.

Fenomena ini, lanjutnya, menjadi refleksi bagi masyarakat bahwa kepedulian tidak berhenti saat kebutuhan selesai. Ia harus terus hidup melalui rasa terima kasih, silaturahmi, dan saling menghargai.

Di akhir pernyataannya, Gusmawi mengajak masyarakat untuk kembali merenungi makna kepedulian yang sesungguhnya.

“Jika kita belum mampu menjadi penolong, jangan menjadi orang yang menghalangi. Jika kita belum bisa memberi banyak, jangan menutup hati untuk memberi sedikit. Karena bisa jadi, satu kantong darah yang kita abaikan hari ini, adalah harapan yang hilang bagi orang yang kita cintai,” pungkasnya.

Kondisi ini menjadi pengingat bahwa kemanusiaan tidak hanya diuji saat seseorang membutuhkan pertolongan, tetapi juga saat diberi kesempatan untuk memberi—dan di sanalah, nilai kemanusiaan sejati diuji. (XRQ)

Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News

Bolehkah Menggabungkan Niat Puasa Syawal dan Senin Kamis? Ini Penjelasan Ulama

0
Ilustrasi puasa Syawal dan Senin Kamis. (Foto: Gemini AI)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Puasa Syawal merupakan salah satu ibadah sunah yang sangat dianjurkan setelah Ramadan. Keutamaannya bahkan disebut setara dengan puasa setahun penuh jika dikerjakan selama enam hari di bulan Syawal.

Di sisi lain, puasa Senin dan Kamis juga termasuk amalan sunah yang dianjurkan. Nabi Muhammad SAW menyebut dua hari tersebut sebagai waktu diangkatnya amal manusia, sehingga beliau menyukai berpuasa pada hari-hari itu.

Lantas, bolehkah kedua puasa sunah ini digabungkan dalam satu niat?

Perbedaan Pendapat Ulama

Dikutip Nukilan.id dari NU Online, Ustaz Muhamad Hanif Rahman menjelaskan bahwa terdapat perbedaan pandangan di kalangan ulama terkait penggabungan dua niat ibadah sunah dalam satu amalan.

Sebagian ulama, seperti Imam al-Qaffal yang dikutip oleh Imam Jalaluddin as-Suyuthi dalam kitab al-Asybah wan Nadhair, berpendapat bahwa dua niat sunah dalam satu ibadah tidak dianggap sah.

Namun, ada juga ulama yang memperbolehkan penggabungan tersebut. Pendapat ini dianalogikan dengan beberapa ibadah lain yang dapat digabungkan, seperti mandi sunah Jumat dan Id.

“Dan, seyogyanya dapat disamakan juga, seseorang yang berniat puasa hari Arafah dan Senin misalnya, maka puasa tersebut sah,” kata Ustadz Hanif Rahman menukil as-Suyuthi dalam kitab al-Asybah wan Nadhair.

Pendapat lain disampaikan oleh Imam Bujairami yang menyebut bahwa penggabungan dua niat puasa sunah adalah sah, baik diniatkan sekaligus maupun salah satunya saja.

“Terkadang ditemukan puasa memiliki dua sebab, seperti hari Arafah atau Asyura yang jatuh pada Senin atau Kamis, atau kedua hari tersebut jatuh dalam enam Syawal. Dalam kondisi seperti ini, puasa tersebut menjadi lebih ditekankan karena mengandung dua sebab, dengan memperhatikan keutamaan masing-masing,” kata Ustaz Hanif mengutip Imam Bujairami.

“Jika seseorang berniat puasa untuk keduanya sekaligus, maka pahala dari kedua puasa tersebut dapat diperoleh, sebagaimana sedekah kepada kerabat yang sekaligus menjadi bentuk sedekah dan silaturahmi,” lanjutnya.

Sementara itu, Imam Ibnu Hajar al-Haitami menegaskan bahwa niat menjadi faktor utama dalam menentukan pahala.

“Jika ia berniat untuk keduanya sekaligus, maka kedua ibadah itu dianggap telah dilaksanakan. Namun, jika ia hanya berniat salah satunya, maka tuntutan untuk yang lain gugur, tetapi ia tidak mendapatkan pahala,” jelasnya.

Hukum Menggabungkan Puasa Syawal dan Senin Kamis

Berdasarkan penjelasan Kementerian Agama RI Kota Denpasar, menggabungkan niat puasa Syawal dengan puasa Senin Kamis diperbolehkan dan dinilai sah oleh sebagian ulama.

Pendapat ini juga diperkuat oleh penjelasan Syaikh Abu Bakar dalam kitab I’anatut Thalibin, yang menyebutkan bahwa dua amalan sunah dapat digabung dalam satu ibadah dan tetap memperoleh keutamaan keduanya.

Seseorang yang berpuasa Senin atau Kamis di bulan Syawal tetap berpeluang mendapatkan keutamaan puasa Syawal.

Penjelasan serupa juga disampaikan oleh Syekh Muhammad Nawawi Al-Bantani yang menegaskan bahwa puasa sunah Syawal tetap bernilai meski dilakukan bersamaan dengan niat puasa lain.

Niat Puasa Syawal dan Senin Kamis

Dalam praktiknya, puasa Syawal dan puasa Senin Kamis memiliki lafal niat yang berbeda.

Niat puasa Syawal (malam hari):
نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ سُنَّةِ الشَّوَّالِ لِلّٰهِ تَعَالَى
Artinya: Aku berniat puasa sunnah Syawal esok hari karena Allah ta’ala.

Niat puasa Senin:
نَوَيْتُ صَوْمَ يَوْمِ الِاثْنَيْنِ لِلّٰهِ تَعَالَى
Artinya: Aku berniat puasa sunah hari Senin karena Allah ta’ala.

Niat puasa Kamis:
نَوَيْتُ صَوْمَ يَوْمِ الخَمِيْسِ لِلّٰهِ تَعَالَى
Artinya: Aku berniat puasa sunah hari Kamis karena Allah ta’ala.

Dengan demikian, umat Islam diperbolehkan menggabungkan niat puasa Syawal dan puasa Senin Kamis dalam satu waktu, selama tetap memahami perbedaan pendapat ulama dan niat yang mendasarinya. (XRQ)

Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News.

Bahasa Arab Jadi Penyumbang Kosakata Asing Terbesar dalam Bahasa Indonesia

0
10 Bahasa Asing Penyumbang Kosakata Terbanyak di KBBI. (Foto: goodstats.id)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Data Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) menunjukkan bahwa bahasa Arab menjadi penyumbang kosakata serapan terbesar dalam bahasa Indonesia hingga Desember 2025, dengan total mencapai 1.037 kata.

Dilansir Nukilan.id, dominasi tersebut mencerminkan panjangnya interaksi sejarah antara Nusantara dan dunia Arab, terutama melalui jalur perdagangan, penyebaran Islam, serta perkembangan ilmu pengetahuan dan budaya selama berabad-abad.

Selain bahasa Arab, pengaruh global juga terlihat dari kontribusi bahasa Latin sebanyak 455 kata dan bahasa Inggris sebanyak 374 kata. Kedua bahasa ini banyak menyumbang istilah dalam bidang ilmu pengetahuan, hukum, serta teknologi modern.

Sementara itu, bahasa bersejarah seperti Sanskerta dan Belanda tercatat memiliki jumlah serapan yang relatif lebih kecil, masing-masing 272 dan 181 kata. Hal ini disebabkan banyak kosakata dari kedua bahasa tersebut telah lama berasimilasi dan tidak lagi dianggap sebagai kata asing dalam penggunaan sehari-hari.

Bahasa Arab sendiri memberikan kontribusi luas dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat Indonesia, mulai dari agama hingga percakapan sehari-hari. Sejumlah kata yang umum digunakan antara lain “kursi”, “kitab”, “kabar”, “dunia”, hingga “sabun”.

Selain itu, terdapat pula kata yang berkaitan dengan konsep dan sifat seperti “adil”, “wajib”, “khusus”, “paham”, dan “sehat”. Dalam komunikasi harian, pengaruh bahasa Arab juga tampak pada penggunaan kata seperti “salam” dan “terima kasih”.

Penyerapan kosakata ini tidak terjadi secara instan, melainkan melalui proses panjang selama lebih dari 12 abad. Dalam perkembangannya, banyak kata tersebut mengalami penyesuaian pengucapan agar sesuai dengan lidah lokal masyarakat Indonesia.

Data ini menegaskan bahwa bahasa Indonesia bukan hanya hasil perkembangan lokal, tetapi juga merupakan refleksi dari interaksi global yang membentuk identitas budaya dan linguistik bangsa. (XRQ)

Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News.

Momentum Idulfitri, Pemkab Aceh Tamiang Perkuat Sinergi dengan NGO dan Relawan

0
Momentum Idulfitri, Pemkab Aceh Tamiang Perkuat Sinergi dengan NGO dan Relawan (Foto: Humas Aceh Tamiang)

NUKILAN.ID | KUALA SIMPANG – Pemerintah Kabupaten Aceh Tamiang memanfaatkan momentum Hari Raya Idulfitri untuk mempererat sinergi dengan berbagai organisasi non-pemerintah (NGO), LSM, dan relawan kemanusiaan.

Bupati Aceh Tamiang, Armia Pahmi, menggelar kegiatan silaturahmi bersama para relawan dan lembaga kemanusiaan di Pendopo Bupati Aceh Tamiang, Minggu (22/3/2026).

Dalam kesempatan tersebut, Bupati menyampaikan apresiasi atas peran aktif para relawan dan organisasi kemanusiaan dalam membantu percepatan pemulihan pascabanjir bandang yang melanda wilayah tersebut.

“Pemerintah Kabupaten Aceh Tamiang menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada seluruh relawan, NGO, dan lembaga kemanusiaan yang telah berkontribusi dalam percepatan pemulihan pascabanjir bandang. Sinergi ini sangat penting dan kami berharap dapat terus berlanjut hingga proses pemulihan tuntas,” ujarnya.

Ia juga menegaskan komitmen pemerintah daerah untuk terus mendampingi masyarakat hingga kondisi benar-benar pulih.

Dalam forum itu, pemerintah membuka ruang dialog bagi para relawan dan organisasi untuk menyampaikan berbagai masukan, laporan, serta kendala yang dihadapi di lapangan, termasuk hambatan birokrasi dan kebutuhan mendesak.

“Kami membuka ruang seluas-luasnya kepada seluruh relawan dan organisasi untuk menyampaikan masukan, laporan, serta kendala di lapangan, baik terkait hambatan birokrasi maupun kebutuhan mendesak. Mari kita cari solusi bersama secara terbuka dan konstruktif,” lanjutnya.

Bupati juga mengajak seluruh pihak menjadikan momen silaturahmi ini sebagai langkah menyatukan visi dan strategi dalam mempercepat pemulihan daerah.

“Silaturahmi ini diharapkan menjadi momentum untuk menyatukan visi, misi, dan langkah strategis. Pintu pendopo dan kantor kami selalu terbuka untuk diskusi yang solutif demi kemajuan Aceh Tamiang,” pungkasnya.

Kegiatan tersebut turut dihadiri oleh Sekretaris Daerah, kepala SKPK, unsur Forkopimda, serta berbagai organisasi kemanusiaan dari dalam dan luar daerah, seperti Palang Merah Indonesia, Human Initiative, Majelis Syura Aceh, serta sejumlah komunitas relawan lainnya.

Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News.

Koalisi Sipil Soroti Klaim Prabowo Soal Pemulihan Bencana di Aceh, Sebut Warga Masih Tinggal di Tenda

0
Warga Korban Banjir Bertenda di Kantor Bupati Bireuen (Foto: KabarBireuen)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Koalisi Masyarakat Sipil Peduli Bencana mengkritik pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang menyebut pemulihan pascabencana di Aceh hampir mencapai 100 persen dan warga sudah tidak lagi tinggal di tenda pengungsian.

Koalisi menilai klaim tersebut tidak sesuai dengan kondisi di lapangan. Mereka bahkan menyebut pernyataan itu sebagai bentuk pembohongan publik yang sistematis.

Perwakilan Masyarakat Transparansi Aceh (MaTA), Alfian, mengatakan bahwa persoalan ini bukan sekadar kesalahan teknis informasi, melainkan upaya terstruktur untuk menutupi klaim keberhasilan pemerintah dalam penanganan bencana ekologis di Sumatra.

“Pola ini akan terus terjadi ke depan meskipun realitasnya selalu jauh dari kondisi yang dirasakan masyarakat di lapangan,” tegas Alfian dalam siaran pers yang diterima redaksi, Senin (23/3/2026).

Koalisi yang terdiri dari MaTA, KontraS Aceh, Yayasan CAIO, Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS), LBH Banda Aceh, AJI Banda Aceh, serta Masyarakat Transparansi Aceh juga menyoroti kunjungan Presiden ke Aceh Tamiang saat momen Salat Idul Fitri.

Mereka menyebut dalam kunjungan tersebut, warga korban bencana diduga dipaksa keluar dari tenda pengungsian, bahkan tenda-tenda dibongkar agar kondisi terlihat normal.

Menurut Alfian, langkah tersebut justru merugikan masyarakat karena hingga kini masih banyak korban yang belum mendapatkan hunian sementara secara merata.

Alih-alih mempercepat pembangunan hunian sementara menjelang Lebaran seperti yang dijanjikan pemerintah, kata dia, warga justru dipaksa meninggalkan tempat pengungsian.

Koalisi juga mengkritik kinerja Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi yang dinilai belum optimal. Hal ini disebut disebabkan oleh kewenangan yang tersebar di berbagai kementerian.

Selain itu, Satuan Tugas Pemantauan DPR RI juga dinilai belum berjalan efektif dalam mengawasi proses percepatan rehabilitasi dan rekonstruksi.

Di lapangan, lanjut Alfian, masih banyak masyarakat Aceh yang belum bisa kembali ke rumahnya. Sebagian dari mereka belum mendapatkan hunian sementara dan masih tinggal seadanya di tenda pengungsian.

Fasilitas umum juga disebut belum pulih sepenuhnya. Sejumlah sekolah masih mengalami kerusakan bahkan tertimbun longsor, sehingga kegiatan belajar mengajar terpaksa dilakukan di tenda atau di sekitar reruntuhan.

Atas kondisi tersebut, Koalisi mendesak pemerintah pusat untuk menetapkan bencana ekologis di wilayah Sumatra sebagai bencana nasional.

Mereka menilai langkah tersebut penting mengingat luasnya dampak kerusakan yang meliputi rumah warga, lahan pencaharian, hingga fasilitas umum di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat. Penetapan status bencana nasional diyakini dapat mempercepat proses rehabilitasi dan rekonstruksi.

Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News.

Pemerintah Siapkan Skema WFH 1 Hari Sepekan, Sektor Pelayanan Publik Berpotensi Dikecualikan

0
wfh
Ilustrasi WFH. (Foto: Ist)

NUKILAN.ID | JAKARTA – Pemerintah tengah mengkaji kebijakan penerapan work from home (WFH) atau bekerja dari rumah selama satu hari dalam sepekan bagi aparatur sipil negara (ASN) dan sektor tertentu.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menyatakan kebijakan ini akan berlaku untuk ASN serta menjadi imbauan bagi sektor swasta yang tidak berkaitan langsung dengan pelayanan publik.

“Ini berlaku untuk ASN dan juga sebagai imbauan bagi swasta, khususnya yang tidak terkait pelayanan publik,” ujar Airlangga, dikutip dari detikfinance, Senin (23/3/2026).

Ia menjelaskan, kebijakan tersebut rencananya akan mulai diterapkan setelah libur Lebaran 2026. Saat ini, pemerintah masih mematangkan teknis pelaksanaannya melalui Kementerian Ketenagakerjaan dan Kementerian Dalam Negeri.

“Akan didetailkan, tetapi sesudah Lebaran kita akan melakukan,” tegasnya.

Di sisi lain, Menteri Sekretaris Negara, Prasetyo Hadi, menegaskan tidak semua sektor dapat menerapkan kebijakan WFH.

“Supaya tidak disalahpahami, misalnya sektor pelayanan, industri, perdagangan tentu mungkin tidak menjadi bagian dari kebijakan tersebut,” kata Prasetyo di Istana Merdeka, Jakarta.

Ia menyebutkan, kebijakan ini hanya akan diterapkan pada sektor yang memungkinkan pekerjaan dilakukan secara jarak jauh.

Kebijakan WFH satu hari dalam sepekan ini merupakan arahan Presiden dalam sidang kabinet paripurna menjelang Lebaran 2026. Langkah tersebut diambil sebagai upaya meningkatkan efisiensi kerja, termasuk mengurangi konsumsi bahan bakar minyak (BBM) di tengah meningkatnya tensi geopolitik di Timur Tengah.

“Sebagaimana disampaikan Bapak Presiden pada saat sidang kabinet paripurna bahwa kita sedang merumuskan beberapa kebijakan dalam rangka kita mulai menyadari bahwa kita semua harus bersama-sama mengefisienkan diri kita dalam hal bekerja,” ujar Prasetyo.

Meski demikian, pemerintah memastikan bahwa kebijakan ini bukan disebabkan oleh gangguan pasokan energi di dalam negeri.

“Sebagaimana yang terus kita sampaikan bahwa insyaallah pasokan BBM tidak ada masalah, pasokan BBM aman,” tegasnya.

Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News.

Momen Lebaran, Wali Kota Illiza Sambangi Kediaman Wali Nanggroe Aceh

0
Wali Kota Banda Aceh, Illiza Sa’aduddin Djamal, melakukan kunjungan silaturahmi ke kediaman Wali Nanggroe Aceh, Tgk Malik Mahmud Al Haytar, dalam suasana Hari Raya Idul Fitri, Senin (23/3/2026). (Foto: Instagram @illizasaaduddin).

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Wali Kota Banda Aceh, Illiza Sa’aduddin Djamal, melakukan kunjungan silaturahmi ke kediaman Wali Nanggroe Aceh, Tgk Malik Mahmud Al Haytar, dalam suasana Hari Raya Idul Fitri, Senin (23/3/2026).

Amatan Nukilan.id, kunjungan tersebut dibagikan melalui akun Instagram pribadi Illiza, Instagram (@illizasaaduddin). Dalam unggahannya, ia menyampaikan rasa syukur atas kesempatan bersilaturahmi di momen hari kemenangan umat Islam.

“Alhamdulillah, dalam suasana Idul Fitri yang penuh berkah, saya berkesempatan bersilaturahmi ke kediaman Wali Nanggroe Aceh, PYM Tgk Malik Mahmud Al Haytar,” tulisnya.

Illiza berharap pertemuan tersebut dapat semakin mempererat hubungan dan membawa dampak positif bagi pembangunan daerah.

“Semoga silaturahmi ini semakin mempererat kebersamaan dan membawa kebaikan bagi Banda Aceh dikemudian hari. Amin..,” lanjutnya.

Momentum Idul Fitri kerap dimanfaatkan berbagai kalangan, termasuk pejabat daerah, untuk memperkuat hubungan dan komunikasi dalam rangka membangun sinergi ke depan. (XRQ)

Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News.

Tgk Yong Apresiasi Bupati Safaruddin, Konsisten Jadi Ayah Anak Yatim Abdya

0
Tgk Yong. (Foto: Humas Abdya)

NUKILAN.ID | BLANGPIDIE – Mantan Penerangan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) wilayah Blangpidie, TR Kamaluddin, mengapresiasi komitmen Bupati Aceh Barat Daya, Safaruddin, dalam memperhatikan anak-anak yatim di daerah tersebut.

Menurut pria yang akrab disapa Tgk Yong itu, Safaruddin dinilai telah menepati janjinya untuk menjadi “ayah” bagi anak-anak yatim di Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya).

“Kita menilai, selama ini Bupati Safaruddin benar-benar peduli terhadap anak-anak yatim di Abdya,” ujarnya.

“Komitmen ini dia buktikan dengan rutinnya beliau menyantuni anak yatim dalam setiap kegiatan yang selama ini dia jalankan,” kata TR Kamaruddin, Minggu (15/3/2026) lalu.

Tgk Yong menjelaskan, kepedulian tersebut bukan hal baru. Ia menyebut Safaruddin telah menjalankan program santunan anak yatim jauh sebelum menjabat sebagai bupati.

“Kita melihat, program santunan anak yatim sudah menjadi agenda rutin tahunan Safaruddin, baik saat hari raya maupun peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW,” urainya.

“Di tambah lagi memberikan biaya pendidikan untuk anak yatim,” ujarnya.

Ia pun menyatakan dukungan penuh terhadap langkah Pemerintah Kabupaten Abdya dalam memberikan perhatian kepada anak yatim. Menurutnya, kepedulian tersebut sejalan dengan ajaran agama.

“Kita sangat mendukung langkah Bupati Safaruddin dalam memberikan perhatian terhadap anak yatim di Abdya,” tukas dia.

“Kita berharap program ini terus berjalan setiap tahunnya,” harapnya.

Selain itu, Tgk Yong juga meminta pemerintah daerah agar memberi perhatian khusus kepada anak yatim korban konflik di Aceh.

“Tentu kita semua tahu kalau selama ini masih banyak anak yatim korban konflik yang kehidupan mereka masih sangat memprihatinkan,” beber Tgk Yong.

“Kita berharap kedepan pemerintah juga bisa memberikan perhatian lebih kepada mereka, terutama di bidang pendidikan,” ucapnya.

Ia juga menyatakan dukungan terhadap berbagai program pemerintah daerah yang dinilai berdampak positif bagi masyarakat, termasuk program keagamaan yang sedang digalakkan.

“Artinya kita melihat dari semua sisi positif tanpa ada unsur lain,” terang dia.

“Dimana langkah pemerintah yang memihak kepada masyarakat dan agama sudah sewajarnya dan patut kita beri dukungan,” pungkasnya.

Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News.