Beranda blog Halaman 259

Sherly Annavita Kirim Pesan Harapan untuk Generasi Muda Aceh di Tengah Ujian Bencana

0
Kreator konten asal Aceh, Sherly Annavita. (Foto: Dok SindoNews)

NUKILAN.ID | JAKARTA — Kreator konten asal Aceh, Sherly Annavita, menyampaikan pesan penuh empati dan harapan kepada masyarakat Aceh, khususnya generasi muda, yang sedang berjuang bangkit setelah diterpa bencana. Pesan tersebut ia sampaikan dalam siniar To The Point Aja yang tayang di kanal YouTube SindoNews, Kamis (25/12/2025).

Dalam pernyataannya, Sherly mengingatkan bahwa sejarah telah membuktikan kekuatan masyarakat Aceh dalam menghadapi berbagai ujian.

“Sherly pengen bilang bahwa masyarakat Aceh itu lahir dari rahim-rahim pejuang, sejarah sudah mencatat itu. Dan ketika hari ini masyarakat Aceh dicoba lagi dengan bencana, ditambah respons yang begitu lambat, maka boleh jadi ini adalah cracking selanjutnya untuk membuat Aceh bisa naik kelas,” kata Sherly.

Sambil menahan tangis, perempuan kelahiran Aceh tersebut menyampaikan refleksi mendalam tentang makna menghadapi musibah secara bersama-sama.

“Ketika bencana ini dihadapi bersama-sama, dihadapi dengan hati dan pikiran agar bagaimana kita keluar dari situasi ini, maka bukankah ada istilah kita mengira kita sudah dikubur, padahal kita sedang ditanam,” ungkapnya.

Sherly kemudian menjelaskan perbedaan makna antara “dikubur” dan “ditanam” sebagai simbol dari proses menuju masa depan yang lebih baik. Menurutnya, dikubur berarti berakhir, sedangkan ditanam merupakan proses persiapan menuju hasil yang berbeda.

Ia juga menyinggung keresahan anak-anak muda Aceh yang mempertanyakan masa depan mereka setelah bencana menghancurkan banyak sendi kehidupan, termasuk sektor pendidikan dan pertanian keluarga.

“Maka masyarakat Aceh, khususnya anak muda, teman-teman yang di sana berpikir ‘Kami masih ada harapan nggak, ya tentang masa depan, kami akan sekolah bagaimana tahun depan, lima tahun ke depan, sedangkan sawah-sawah orang tua kami juga sudah habis?’, Sherly ingin sampaikan bahwa masalah itu nggak pernah salah milik pundak teman-teman,” ujar Sherly.

Dalam penutup pesannya, Sherly menegaskan bahwa beban yang kini dipikul generasi muda Aceh justru menjadi tanda bahwa mereka sedang dipersiapkan untuk masa depan yang lebih besar.

“Hari ini Tuhan lewat semesta alam akhirnya memilih pundak teman-teman, itu tandanya yang akan dipersiapkan adalah teman-teman. Mari kita lihat ini sebagai satu realitas, tanpa mendramatisasi, ini adalah realitas yang kita hadapi, tapi sejarah menunjukkan bahwa kita selalu bisa go bigger ketika kita menghadapinya dengan kuat,” lanjutnya. (XRQ)

Banjir Bandang: Balasan Alam atas Dosa Kolektif di Hulu Sumatera

0
Ilustrasi. (FOTO: AI)

NUKILAN.ID | INDEPTH — Deru alam yang pecah dari pegunungan itu terdengar seperti lonceng peringatan panjang—bukan hanya tentang hujan yang turun terlalu deras atau tanah yang tak lagi sanggup menahan beban, melainkan tentang kegagalan yang telah lama dibiarkan tumbuh diam-diam.

Dari hulu yang terluka, tanah bergerak dan air meluap tanpa kendali, menyeret desa-desa di Aceh, Sumatera Utara, hingga Sumatera Barat ke dalam kubangan lumpur, kehilangan, dan duka yang tak kunjung usai. Di hadapan reruntuhan itu, satu pertanyaan terus menggema: sampai kapan siklus kehancuran ini akan dibiarkan berulang?

Musibah tak mengenal pilih kasih. Rumah-rumah tercerabut dari fondasinya, hamparan sawah lenyap tertimbun material, sungai kehilangan bentuk aslinya. Hingga Sabtu (13/12/2025) pukul 18.08 WIB, korban meninggal tercatat mencapai 1.006 jiwa — sebuah bilangan besar yang tetap tak mampu menggambarkan sepenuhnya luasnya penderitaan yang terjadi.

Di sebuah pos pengungsian, seorang ibu memeluk seragam sekolah anaknya. Kain itu masih basah, warnanya memudar, dan tak lagi layak dikenakan. Ia tak tahu kapan buah hatinya bisa kembali belajar. Ia pun tak tahu apakah rumahnya kelak dapat berdiri kembali di lokasi yang sama, atau harus memulai hidup di tempat yang asing sama sekali.

Ada petani yang sepanjang hidupnya bertumpu pada sebidang lahan. Longsor datang dan menghapus ladang itu dari peta kehidupannya. Ada anak-anak yang terbaring demam, terserang diare akibat ketiadaan air bersih. Malam-malam mereka lalui di tenda darurat, tubuh menggigil, telinga siaga mendengar hujan dengan kecemasan yang sama: apakah tanah akan kembali bergerak?

Pertanyaan khas Sumatera Utara pun terdengar lirih di tengah puing, “cemana” pascabencana? Sementara jawaban negara kerap hadir dalam bentuk deretan angka. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menghitung kebutuhan rehabilitasi dan rekonstruksi di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat mencapai Rp51,82 triliun.

Aceh sendiri memerlukan sekitar Rp25,41 triliun, Sumatera Barat Rp13,52 triliun, sementara sisanya dialokasikan untuk Sumatera Utara. Dana tersebut direncanakan untuk membangun ulang infrastruktur dasar: jalan, jembatan, rumah, hingga fasilitas publik.

Namun tragedi ini tidak sekadar dipicu oleh curah hujan. Ia merupakan akumulasi luka panjang dari kerusakan wilayah hulu. Dari hutan yang digunduli, dari sungai yang disempitkan, dari izin-izin yang terbit tanpa pertimbangan daya dukung lingkungan.

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mencatat setidaknya 118 daerah aliran sungai (DAS) di Aceh dan Sumatera Utara mengalami dampak langsung banjir. Temuan itu berdasarkan analisis citra satelit Sentinel-1A. Angka tersebut menunjukkan bahwa persoalan ini bersifat menyeluruh dan struktural. Bukan sekadar satu sungai, bukan pula satu titik longsor.

“Nah, untuk daerah aliran sungai yang terdampak bencana, ini ada 118 DAS, daerah aliran sungai yang terdampak untuk Aceh dan Sumatera Utara yang bisa teridentifikasi oleh citra satelit kami,” kata Kepala BRIN, Arif Satria.

Jejak Korporasi di Balik Lumpur

Greenpeace Indonesia menegaskan bahwa sudah waktunya pemerintah menghentikan narasi yang menyederhanakan rangkaian bencana di Sumatera dan Aceh sebagai sekadar kejadian alam. Menurut organisasi lingkungan tersebut, kehancuran hutan, lemahnya tata kelola ekosistem, dan pembiaran terhadap operasi perusahaan saling berkaitan erat dalam menciptakan risiko bencana yang semakin parah.

Senior Data Strategist Greenpeace Indonesia, Sapta Ananda Proklamasi, menilai negara tidak dapat melepaskan tanggung jawabnya dalam persoalan ini. Bahkan, keberadaan izin resmi justru dinilai sebagai bagian dari persoalan struktural yang memperparah krisis lingkungan.

“Kami memandang bahwa dugaan keterlibatan aktivitas pembalakan liar dan perusahaan-perusahaan pemegang konsesi harus ditindak secara tegas, baik sanksi administratif maupun pidana. Jika sebuah perusahaan terbukti mengabaikan kewajiban perlindungan hutan, membuka kawasan lindung, atau melakukan praktik ilegal, maka negara wajib mengenakan denda, pencabutan izin, pemulihan ekologis wajib tanaman ulang, dan proses hukum atas kejahatan lingkungan. Tanpa itu, bencana akan terus berulang,” ujarnya saat berbincang dengan Inilah.com.

Sapta menambahkan, pembangunan kembali infrastruktur seperti jalan dan rumah tanpa menyelesaikan akar persoalan ekologis hanya akan menunda datangnya bencana berikutnya.

“Pembenahan tata lingkungan hanya mungkin terjadi jika pemerintah berani menata ulang perizinan, membuka data konsesi secara transparan, dan memulihkan fungsi DAS yang rusak akibat ekspansi industri ekstraktif dan perkebunan. Rehabilitasi tidak cukup bila akar masalahnya, yaitu regulasi longgar, tumpang tindih izin, dan minimnya penegakan hukum tetap dibiarkan. Rekonstruksi fisik pascabencana tidak akan mengurangi risiko jika regulasi yang salah tetap dipertahankan,” tuturnya.

Ia juga menekankan pentingnya segera dilakukan audit tata ruang secara independen, pemberlakuan moratorium izin baru di kawasan rawan bencana, serta penerapan prinsip strict liability terhadap korporasi yang terbukti memiliki kontribusi terhadap terjadinya banjir dan longsor, sebagai langkah mendesak yang tidak lagi dapat ditunda.

Negara Menagih

Satuan Tugas Penertiban Kawasan Hutan (PKH) mulai menjalankan fungsi penegakan kewajiban negara terhadap puluhan perusahaan yang terbukti memanfaatkan kawasan hutan tanpa mengantongi izin resmi. Hingga Selasa (9/12/2025), tercatat 71 perusahaan dari sektor perkebunan sawit dan pertambangan telah dikenai kewajiban pembayaran denda oleh negara.

“Itu sudah dilakukan per hari ini terhadap 71 perusahaan korporasi, yang terdiri dari korporasi sawit dan tambang,” kata Juru Bicara Satgas PKH, Barita Simanjuntak, Selasa (9/12/2025).

Dari jumlah tersebut, 49 perusahaan sawit tercatat memiliki kewajiban denda senilai Rp9,42 triliun. Namun realisasi pembayaran hingga saat ini baru mencapai Rp1,84 triliun, sementara tiga perusahaan di antaranya belum menunjukkan kepatuhan dengan tidak menyelesaikan kewajiban finansialnya kepada negara.

Adapun dari sektor pertambangan, terdapat 22 perusahaan yang juga ditagih dengan nilai denda jauh lebih besar, mencapai Rp29,2 triliun.

“Nah dari 49 PT, ada 3 korporasi yang belum hadir, belum memenuhi kewajibannya. Satgas PKH sebagai instrumen negara akan melakukan langkah-langkah hukum untuk memastikan dipatuhinya kewajiban terhadap negara,” ujarnya.

Bukan Cuma Replanting

Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) memiliki pandangan sejalan dalam melihat akar persoalan ini. Menurut Manajer Kampanye Hutan dan Kebun WALHI, Uli Artha Siagian, aktivitas pembalakan hutan—baik yang berlangsung tanpa izin maupun yang dilegalkan melalui perizinan resmi—merupakan faktor utama yang memperbesar risiko terjadinya bencana.

“Soal apakah perusahaan harus dihukum secara administratif, bagi kami hukuman secara administrasi itu harus dilakukan, tetapi bukan hanya dana replanting, seharusnya hukuman secara administrasi itu harus dilakukan dengan melakukan pencabutan izin terhadap Perusahaan yang memang menjadi penyebab dari terjadinya banjir dan longsor,” tuturnya kepada Inilah.com.

Ia menegaskan bahwa sanksi administratif tidak boleh berhenti sebatas pembayaran denda semata. Langkah pemulihan lingkungan serta proses penegakan hukum pidana harus turut dijalankan apabila ditemukan pelanggaran.

“Tapi menurut kami sanksi administrasinya itu dua, pencabutan izin dan penagihan tanggung jawab untuk pemulihan lingkungan serta pidana. Dalam proses evaluasinya itu menunjukan adanya pidana lingkungan maka kemudian itu harus diproses secara hukum. Kalau misalnya benar terbukti melakukan pidana lingkungan maka ada sanksi yang harus didapatkan, mulai dari denda dan juga kurungan penjara,” tutur dia.

Lebih jauh, Uli mengingatkan bahwa tanpa pembenahan regulasi yang menyeluruh, upaya rekonstruksi hanya akan mengulang kesalahan lama. Ia juga menyoroti kebijakan yang membuka hampir seluruh wilayah daratan untuk kepentingan pertambangan, terutama melalui relaksasi persyaratan lingkungan hidup dalam Undang-Undang Cipta Kerja.

“Engga. Jauh lebih besar sebenarnya dia juga harus di ikuti dengan kritik terhadap regulasinya, atau perubahan terhadap regulasinya, jadi harus ada penguatan terhadap beberapa undang-undang,” ujarnya.

Di sisi lain, negara mulai bergerak dengan menagih denda, menyusun anggaran, serta merancang pembangunan kembali wilayah terdampak. Namun tanpa keberanian untuk mencabut izin usaha, menata ulang kerangka regulasi, dan memulihkan kawasan hulu yang telah rusak, seluruh proses rekonstruksi itu hanya akan menjadi jeda sebelum bencana berikutnya terjadi.

Selama hutan masih dipandang semata sebagai komoditas ekonomi dan bukan sebagai penyangga utama kehidupan, maka lumpur akan terus menemukan jalannya turun, dan korban akan kembali tercatat sekadar sebagai angka statistik.

Di balik angka kerugian dan lembaran laporan resmi, ada tanah yang kehilangan daya serapnya, sungai yang kehilangan arah alirnya, dan manusia yang kehilangan rasa aman di rumah sendiri. Setiap tetes hujan kini bukan lagi berkah, melainkan potensi malapetaka. Negara boleh saja merancang ulang bangunan, membangun tanggul, dan menyusun skema pemulihan, tetapi alam mencatat dengan caranya sendiri: bahwa hutan yang dirusak tak pernah lupa, dan keserakahan selalu menagih kembali dengan bunga penderitaan.

Jika hulu tak dipulihkan, izin tak dicabut, dan hukum tak ditegakkan, maka rekonstruksi hanyalah ritual administratif—sementara bencana berikutnya sudah diam-diam menunggu musim hujan berikutnya. (XRQ)

Reporter: AKIL

Belajar dari Tsunami Aceh, SBY Sampaikan Pesan Penting untuk Penanganan Banjir di Sumatera

0
Presiden ke-6 Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). (FOTO: IST)

NUKILAN.ID | JAKARTA — Presiden ke-6 Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), menyampaikan pandangannya mengenai penanganan bencana banjir dan longsor di Sumatera kepada Presiden RI Prabowo Subianto. Pesan tersebut ia sampaikan setelah mencermati percakapan publik yang berkembang serta dampak besar dari bencana yang melanda sejumlah wilayah di Sumatera.

Melalui akun media sosial X pada Rabu (24/12/2025), SBY menekankan bahwa penanganan bencana bukan perkara sederhana, terutama pada fase tanggap darurat.

“Penanganan bencana itu kompleks dan tidak segampang yang dibayangkan. Terutama pada fase tanggap darurat yang biasanya terjadi kelumpuhan di sana-sini,” ujar SBY.

SBY menjelaskan bahwa penanganan bencana, termasuk proses rehabilitasi dan rekonstruksi, membutuhkan waktu, sumber daya yang memadai, dukungan finansial, kebijakan yang terencana, serta pelaksanaan yang efektif. Ia menyebut, pemahaman tersebut ia peroleh dari pengalaman memimpin Indonesia dalam menghadapi berbagai bencana besar di masa lalu.

“Ini semua saya dapatkan dari apa yang dilakukan oleh pemerintahan yang saya pimpin dulu dalam mengatasi bencana tsunami di Aceh dan Nias, gempa bumi di Yogya dan Padang dan sejumlah bencana alam berskala besar lainnya,” kata dia.

Lebih lanjut, SBY menekankan pentingnya sistem komando dan pengendalian yang berjalan efektif. Menurutnya, idealnya presiden memimpin langsung melalui mekanisme manajemen krisis. Namun, ia juga menyadari bahwa setiap pemimpin memiliki pendekatan berbeda.

“Misalnya, apa yang dilakukan oleh Presiden Prabowo saat ini bisa tidak sama dengan yang saya lakukan dulu. Ini disebabkan oleh perbedaan situasi atau konteks dari bencana itu; perbedaan jenis bencana dan magnitude dari kerusakan yang ditimbulkan, serta perbedaan cara di antara para pemimpin,” kata SBY.

SBY menilai Presiden Prabowo Subianto telah menunjukkan keseriusan dengan turun langsung ke lapangan serta memberikan perhatian penuh terhadap penanganan bencana. Ia juga meyakini bahwa pemerintah telah mengambil berbagai kebijakan untuk membangun kembali wilayah-wilayah di Sumatera yang terdampak.

“Sekarang ini, perhatian kita semua tertuju pada rehabilitasi dan rekonstruksi Aceh, Sumut dan Sumbar, agar kondisinya pulih dan bahkan lebih baik dari sebelumnya. Ada sejumlah faktor agar rehabilitasi dan rekonstruksi berhasil, antara lain: konsep rehabilitasi dan rekonstruksi yang baik, organisasi dan kepemimpinan di lapangan yang efektif, serta implementasi dari rencana yang juga efektif. Jangan dilupakan, akuntabilitas penggunaan uang negara juga dijaga dengan baik,” ujar SBY.

Menutup pernyataannya, SBY mengajak seluruh elemen masyarakat untuk mendukung langkah pemerintah dalam membangun kembali daerah-daerah terdampak bencana di Sumatera.

“Demikian pendapat saya. Dan mari kita dukung langkah-langkah pemerintah untuk membangun kembali Sumatera pasca bencana dan memastikan saudara-saudara kita yang terkena musibah memiliki masa depan yang baik,” imbuh dia. (XRQ)

Forkopimda Banda Aceh Imbau Warga Tidak Rayakan Pergantian Tahun 2026

0
Forkopimda Banda Aceh Imbau Warga Tidak Rayakan Pergantian Tahun 2026. (Foto: Humas Banda Aceh)

NUKILAN.ID | Banda Aceh — Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Kota Banda Aceh mengeluarkan seruan bersama yang meminta masyarakat tidak menggelar perayaan malam pergantian Tahun Baru Masehi 2026.

Seruan tersebut disepakati dan ditandatangani dalam rapat koordinasi pengamanan Natal dan Tahun Baru (Nataru) yang berlangsung di ruang rapat Pendopo Wali Kota Banda Aceh, Rabu (24/12/2025).

Dalam seruan itu ditegaskan, “Kepada warga Kota Banda Aceh agar pada malam pergantian tahun baru Masehi 1 Januari 2026 tidak melakukan perayaan apapun baik di tempat terbuka maupun tempat tertutup seperti pesta kembang api, mercon atau petasan, meniup terompet, balap-balapan kendaraan dan permainan atau kegiatan hura-hura lainnya yang tidak bermanfaat serta bertentangan dengan Syariat Islam dan adat istiadat Aceh.”

Selain larangan tersebut, Forkopimda juga mengajak masyarakat untuk menjaga keharmonisan sosial.

“Memperkokoh persatuan dan kesatuan serta kerukunan umat beragama, meningkatkan kepedulian dalam menegakan syariat islam, saling menghormati dan membantu demi tercapainya ketertiban dan keamanan,” bunyi seruan itu.

Wali Kota Banda Aceh, Illiza Sa’aduddin Djamal, mengatakan Pemerintah Kota Banda Aceh bersama unsur Forkopimda telah menyepakati langkah pengamanan sekaligus larangan perayaan tahun baru dalam rangka menciptakan situasi yang kondusif.

“Kami menghimbau kepada warga Kota Banda Aceh untuk tidak merayakan tahun baru, mari memperbanyak ibadah, muhasabah (introspeksi diri), dan berdoa agar tahun baru membawa kebaikan,” ujar Illiza.

Ia menambahkan, meskipun sebagian besar masyarakat Banda Aceh tidak merayakan Natal dan Tahun Baru, pemerintah daerah tetap menyiapkan pengamanan secara maksimal.

“Meski sebagian besar warga Banda Aceh tidak merayakan natal dan tahun baru, namun Pemerintah Kota Banda Aceh bersama Forkopimda tetap akan melakukan pengamanan untuk menciptakan suasana yang kondusif serta menghindari hal-hal yang tidak kita inginkan,” tambahnya.

Rapat koordinasi tersebut turut dihadiri Wakil Wali Kota Banda Aceh Afdhal Khalilullah, Kapolresta Banda Aceh Kombes Pol Joko Heri Purwono, unsur Forkopimda, para asisten, camat, serta kepala organisasi perangkat daerah terkait. (xrq)

Jembatan Tenge Besi di Bener Meriah Kembali Bisa Dilintasi Kendaraan

0
Sejumlah kendaraan mulai melintas di kawasan Jembatan Tenge Besi di Desa Gemasih, Kecamatan Pintu Rime, Kabupaten Bener Meriah, Aceh, Rabu (24/12/2025) (Foto: Video Pemprov Aceh)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH — Aktivitas masyarakat di Kabupaten Bener Meriah mulai kembali normal setelah Jembatan Tenge Besi di Desa Gemasih, Kecamatan Pintu Rime, kini resmi dapat dilalui kendaraan, Rabu (24/12/2025).

Jembatan tersebut sebelumnya mengalami kerusakan akibat banjir yang melanda wilayah itu pada akhir November 2025, sehingga sempat menghambat mobilitas warga dan distribusi logistik ke sejumlah daerah pedalaman.

Sekretaris Daerah (Sekda) Aceh, M Nasir, menyampaikan bahwa berfungsinya kembali jembatan tersebut membawa harapan baru bagi masyarakat, khususnya dalam pemulihan aktivitas sosial dan ekonomi.

“Terhubungnya kembali Jembatan Tenge Besi ini membawa harapan baik bagi masyarakat,” kata M Nasir di Banda Aceh, Rabu (24/12/2025).

Menurut Nasir, pemulihan infrastruktur tersebut merupakan langkah krusial untuk memulihkan mobilitas warga sekaligus menjaga stabilitas ekonomi daerah. Ia optimistis normalisasi jembatan akan memperlancar distribusi logistik ke wilayah pedalaman, terutama ke Kabupaten Bener Meriah dan Aceh Tengah.

“Kita harapkan proses distribusi logistik ke wilayah pedalaman kembali lancar tanpa hambatan,” ujarnya.

Ia juga menjelaskan bahwa Jembatan Tenge Besi menjadi salah satu jalur utama bagi para petani di dataran tinggi Gayo. Selama jembatan terputus, aktivitas pertanian dan distribusi hasil panen ke luar daerah mengalami kendala yang berdampak pada menurunnya pendapatan petani.

“Dengan normalnya arus lalu lintas, hasil pertanian masyarakat kini bisa diangkut dengan mudah. Kami optimistis hal ini akan mempercepat pemulihan ekonomi masyarakat pascabencana,” kata dia.

Sementara itu, Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Aceh, Mawardi, memastikan kondisi lalu lintas di sekitar jembatan sudah kembali lancar. Meski demikian, ia mengingatkan masyarakat agar tetap menjaga ketahanan jembatan yang baru selesai diperbaiki.

“Petugas tetap mengimbau para pengendara untuk berhati-hati dan memperhatikan muatan kendaraan. Hal ini penting demi menjaga ketahanan jembatan dalam jangka panjang,” ujarnya.

Selain itu, Mawardi juga mengimbau pengguna jalan agar meningkatkan kewaspadaan, khususnya saat cuaca ekstrem atau melakukan perjalanan pada malam hari. Ia menyarankan masyarakat menunda perjalanan jika hujan deras dan tidak dalam kondisi mendesak.

“Kami imbau kepada pengendara, jika sedang turun hujan atau sudah sore hari sebaiknya ditunda dulu perjalanannya. Kecuali dalam keadaan mendesak,” ujarnya.

Hampir Seluruh Sekolah di Aceh Tamiang Terendam Banjir, Seragam Siswa Rusak

0
Personel Satuan Brimob Polri membersihkan lumpur dan puing kayu yang mengenangi pekarangan dan ruang sekolah di SD Negeri 1 Karang Baru, Aceh Tamiang, Aceh, Sabtu (20/12/2025). (Foto: ANTARA FOTO/Irwansyah Putra)

NUKILAN.ID | KUALA SIMPANG — Wakil Bupati Aceh Tamiang, Ismail, mengungkapkan bahwa dampak banjir yang melanda wilayah tersebut pada November lalu sangat parah terhadap dunia pendidikan. Ia menyebut hampir seluruh sekolah di Aceh Tamiang sempat terendam banjir.

“90 persen sekolah kami yang tenggelam. Kelasnya tenggelam dan kemungkinan baju-baju anak sekolah juga habis,” kata Ismail saat ditemui di Aceh Tamiang, Rabu (24/12/2025).

Tak hanya bangunan sekolah, berbagai fasilitas penunjang pendidikan juga ikut terdampak. Saat ini, proses pemulihan terus dilakukan dengan melibatkan berbagai pihak, mulai dari personel TNI hingga Polri yang turun langsung membersihkan lumpur dan sisa material banjir dari lingkungan sekolah.

Ismail menjelaskan bahwa kegiatan belajar mengajar di sejumlah sekolah masih berlangsung dalam kondisi darurat.

“Sekarang lagi ada upaya untuk pembersihan kelas-kelas sekolah. Ada beberapa sekolahnya yang belajar secara darurat. Intinya belum sempurna lah,” ujarnya.

Pemerintah daerah menargetkan seluruh sekolah yang terdampak dapat kembali beroperasi normal pada Januari 2026, bertepatan dengan dimulainya kembali aktivitas belajar setelah libur akhir tahun.

“Kita upaya Januari ini bisa masuk lah (sekolah). Setelah liburan dan tahun baru,” pungkasnya.

Dua Desa di Bener Meriah Kembali Terendam Banjir, Hujan Lebat Picu Listrik Padam

0
Banjir kembali terjadi di Bener Meriah (FOTO: Dok. Tangkapan Layar Media Sosial)

NUKILAN.ID | REDELONG — Banjir kembali melanda wilayah Kabupaten Bener Meriah, Aceh, pada Rabu malam (24/12/2025). Hujan deras yang mengguyur sejak sore hari menyebabkan debit air sungai meningkat dan merendam dua desa, yakni Buntul dan Lampahan.

Kepala Pusat Data dan Informasi Posko Penanganan Bencana Hidrometeorologi Kabupaten Bener Meriah, Ilham Abdi, dikutip Nukilan.id menjelaskan bahwa banjir terjadi akibat hujan lebat yang terus turun sejak sore.

“Di Bener Meriah banjir di Buntul dan Lampahan. Banjir akibat hujan lebat sejak sore tadi sehingga menyebabkan debit air sungai sejumlah titik kembali naik,” kata Ilham Abdi, Rabu (24/12/2025).

Meski banjir melanda sejumlah desa, Ilham memastikan lokasi pengungsian di wilayah tersebut tidak terdampak banjir. Namun, kondisi cuaca masih belum membaik karena hujan lebat terus mengguyur kawasan itu.

Selain banjir, gangguan juga terjadi pada akses komunikasi di Desa Pantan Kemuning, Kecamatan Timang Gajah. Hingga malam hari, kondisi desa tersebut belum dapat dipantau karena debit air masih meningkat.

“Sekarang listrik di Lampahan dan Buntul padam,” jelas Ilham.

Sebagai informasi, Kabupaten Bener Meriah sebelumnya juga sempat dilanda banjir bandang pada 26 November lalu. Bencana tersebut menyebabkan sejumlah jalan dan jembatan putus hingga wilayah itu sempat terisolasi. Pada hari yang sama, banjir juga kembali melanda Kabupaten Pidie Jaya, Aceh, dan berdampak pada belasan desa. (XRQ)

Reporter: AKIL

Banjir Kembali Rendam Pidie Jaya, Ketinggian Air Tembus Dua Meter

0
Kondisi di Pidie Jaya akibat hujan dengan intensitas tinggi melanda daerah itu. (FOTO: TANGKAPAN LAYAR)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Sejumlah permukiman warga di Kabupaten Pidie Jaya (Pijay), Provinsi Aceh, kembali terendam banjir setelah hujan dengan intensitas tinggi mengguyur wilayah tersebut sejak Selasa hingga Rabu (24/12/2025). Debit air Krueng Meureudu dan sejumlah sungai lainnya kembali meningkat dan menggenangi rumah warga yang sebelumnya masih dipenuhi lumpur sisa banjir.

Wakil Bupati Pidie Jaya, Hasan Basri, menyampaikan bahwa 19 desa di tiga kecamatan kembali terdampak banjir, yakni Kecamatan Meurah Dua, Meureudu, dan Bandar Dua.

Di Kecamatan Meurah Dua, air memasuki Desa Dayah Husen, Mancang, Dayah Kruet, Meunasah Raya, Blang Cut, Buangan, dan Beuringen.
Sementara di Kecamatan Meureudu, banjir melanda Desa Berawan, Meunasah Lhok, Grong-grong Beracan, serta Desa Masjid Tuha–Lhokga.

“Di Kecamatan Bandar Dua air menggenangi Desa Juelanga, Alue Keutapang, Paya Pisang Klat, Alue Mee, Babah Krueng, Blang Kuta, Drien Tujoh, dan Alue Sane,” kata Hasan dalam keterangan kepada Nukilan.id, Rabu (24/12/2025).

Seorang warga Pidie Jaya, Nasruddin, membenarkan bahwa air kembali memasuki rumah-rumah warga setelah hujan belum juga berhenti hingga Rabu malam.

“Iya, Bang. Air kembali menggenangi rumah warga pascadiguyur hujan yang sampai sekarang belum berhenti,” ujarnya saat dihubungi.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pidie Jaya, Muhammad Nur, menjelaskan bahwa hujan deras menyebabkan meluapnya air di beberapa sungai besar, yakni Krueng Meureudu, Krueng Beuracan, Krueng Ulim, serta krueng di kawasan Alue Keutapang.

“Ketinggian air bervariasi 1 sampai 2 meter. Lokasi terdampak hampir menyeluruh di delapan kabupaten yang ada di Pidie Jaya,” kata Muhammad Nur.

Ia memastikan kondisi pengungsi relatif aman karena sebagian besar lokasi pengungsian berada di kawasan yang lebih tinggi.

“Untuk masyarakat kita sendiri Alhamdulillah aman dan tertib, dan tidak terlalu panik karena sebelum itu sudah kita imbau. Kami mengimbau kepada warga kalau memang banjir semakin parah, segera bergeser ke tempat paling aman,” ujarnya. (XRQ)

Reporter: Akil

Mahasiswa UTU Salurkan Bantuan Kemanusiaan untuk Korban Banjir Aceh Tamiang

0
Mahasiswa UTU Salurkan Bantuan Kemanusiaan untuk Korban Banjir Aceh Tamiang. (Foto: For Nukilan)

NUKILAN.ID | KUALA SIMPANG — Pemerintahan Mahasiswa Universitas Teuku Umar (PEMA UTU) kembali menunjukkan kepeduliannya terhadap krisis kemanusiaan dengan menyalurkan bantuan bagi korban banjir di Kabupaten Aceh Tamiang, yang terjadi pada 26 November 2025. Penyaluran bantuan dilakukan di empat titik terdampak terparah, yakni tiga lokasi di Desa Perkebunan Pulau Tiga, Kecamatan Tamiang Hulu, serta satu titik di wilayah Kota Lintang.

Bencana banjir tersebut menyebabkan banyak warga kehilangan tempat tinggal, mengalami kekurangan pangan, serta terputus dari akses pelayanan dasar. Sejumlah fasilitas umum juga dilaporkan mengalami kerusakan berat, sehingga menghambat proses pemulihan pascabencana.

Akses menuju Desa Perkebunan Pulau Tiga dilaporkan sangat sulit akibat kondisi jalan yang rusak parah. Kendaraan tim PEMA UTU sempat mengalami hambatan dalam perjalanan, namun hal itu tidak menghalangi proses penyaluran bantuan sebagai wujud solidaritas kemanusiaan.

Dalam kegiatan tersebut, PEMA UTU menyalurkan makanan siap saji kepada masyarakat terdampak. Bantuan tersebut disambut haru dan antusias oleh warga yang selama ini mengalami keterbatasan pangan akibat bencana.

Selain makanan, PEMA UTU juga menyalurkan bantuan logistik sebanyak 5 ton berupa kebutuhan pokok serta menyerahkan satu unit genset untuk wilayah yang masih terisolasi dan belum mendapatkan pemulihan aliran listrik. Genset tersebut dimanfaatkan untuk kebutuhan penerangan dan menunjang aktivitas ibadah di masjid setempat.

Sebagai bentuk apresiasi dan kepercayaan masyarakat, Kepala Mukim bersama warga Desa Perkebunan Pulau Tiga secara langsung meminta agar spanduk PEMA UTU dipasang di Posko Utama Bantuan Kemanusiaan. Spanduk tersebut kini terpasang sebagai simbol kehadiran mahasiswa di tengah situasi darurat kemanusiaan.

Ketika tim PEMA UTU tiba di titik terakhir penyaluran bantuan di wilayah Kota Lintang, Presiden Mahasiswa UTU didatangi warga terdampak yang berharap PEMA UTU dapat menjadi penghubung antara masyarakat dan pemerintah. Warga menyampaikan harapan agar bantuan dan perhatian terus berlanjut, baik secara moral maupun material, khususnya dalam masa pemulihan pascabencana.

Presiden Mahasiswa UTU, Putra Rahmat, kepada Nukilan.id mengungkapkan keprihatinannya setelah menyaksikan langsung kondisi di lapangan.

“Sungguh memprihatinkan ketika saya melihat langsung kondisi masyarakat di lokasi. Setiap langkah yang saya lalui, air mata ikut keluar. Penderitaan ini sangat menusuk hati. Masyarakat berharap adanya perhatian dan pelayanan yang lebih serius dalam penanganan pascabencana. Mereka berharap pemerintah pusat menetapkan bencana ini sebagai bencana nasional serta membuka pintu bantuan internasional agar pemulihan dapat segera dilakukan,” ungkapnya pada Rabu (24/12/2025).

Aksi kemanusiaan tersebut melibatkan jajaran Pemerintahan Mahasiswa UTU, termasuk Wakil Ketua I dan Wakil Ketua II Majelis Permusyawaratan Mahasiswa (MPM) UTU, Menteri Sosial Masyarakat dan Lingkungan, serta seluruh anggota PEMA UTU.

PEMA UTU menegaskan komitmennya untuk terus mengawal aspirasi masyarakat Aceh Tamiang dan mendorong percepatan pemulihan dalam masa darurat kemanusiaan, agar warga dapat kembali hidup secara layak dan bermartabat. (XRQ)

Reporter: Akil

Pemerintah dan Telkomsel Kirim Genset serta Ponsel Pintar untuk Korban Banjir di Sumatra

0
Direktur Jenderal Komunikasi Publik dan Media (Dirjen KPM) Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi), Fifi Aleyda Yahya mengatakan bantuan ini untuk memastikan warga terdampak tetap dapat berkomunikasi, memperoleh informasi, dan menjaga ketenangan di tengah situasi darurat. (Foto: Audie Ichsan/Indonesia.go.id-KPM Kemkomdigi)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Pemerintah menyalurkan bantuan kemanusiaan berupa genset dan ponsel pintar bagi warga terdampak banjir di sejumlah wilayah Sumatra sebagai bagian dari upaya percepatan pemulihan layanan dasar, terutama listrik dan komunikasi.

Bantuan tersebut dilepas oleh Direktur Jenderal Komunikasi Publik dan Media (Dirjen KPM) Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi), Fifi Aleyda Yahya, mewakili Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid, di Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta, Senin (22/12/2025). Program ini merupakan hasil kolaborasi antara Kemkomdigi dan Telkomsel.

Dirjen KPM menyampaikan bahwa bantuan ini bertujuan memastikan masyarakat tetap dapat berkomunikasi, memperoleh informasi, dan menjaga ketenangan di tengah kondisi darurat.

“Bantuan itu menjadi simbol kehadiran pemerintah dan sektor privat untuk meringankan beban masyarakat terdampak banjir di Sumatra, juga sebagai wujud nyata gotong royong kita untuk memastikan kehidupan warga dapat kembali pulih setelah musibah ini,” tutur Fifi.

Bantuan logistik yang dikirimkan meliputi 100 unit genset 10 KVA guna mendukung pemulihan pasokan listrik secara darurat, serta 500 unit ponsel pintar untuk memudahkan komunikasi warga. Selain itu, turut disalurkan 1.500 paket perlengkapan ibadah yang terdiri dari jilbab, mukena, dan Al-Qur’an.

Penyaluran bantuan akan menjangkau seluruh wilayah terdampak banjir di Sumatra, dengan fokus pada daerah yang mengalami dampak terparah seperti Kabupaten Aceh Tamiang, Takengon di Kabupaten Aceh Tengah, serta Blangkejeren di Kabupaten Gayo Lues.

“Situasi di lapangan sangat dinamis. Banyak masyarakat yang sebenarnya sinyalnya sudah ada, tetapi handphone-nya rusak atau hilang akibat banjir. Karena itu, bantuan HP ini menjadi sangat penting,” ujar Fifi.

Ia menjelaskan bahwa pengiriman ponsel dan genset ditujukan untuk menjaga konektivitas warga agar tetap terhubung dengan keluarga dan memperoleh informasi terkini, sementara perlengkapan ibadah diharapkan dapat menjadi penguat batin bagi para korban.

Fifi menambahkan bahwa tidak ada kriteria penerima yang bersifat kaku dalam distribusi bantuan ponsel. Penetapan penerima dilakukan berdasarkan kebutuhan riil di lapangan dengan melibatkan Telkomsel, pemerintah daerah, serta tim tanggap bencana.

“Semoga bantuan ini dapat membantu warga agar dapat memberi kabar kepada keluarga sekaligus memberikan ketenangan batin,” tambah Fifi.

Ia juga menegaskan komitmen Kemkomdigi untuk terus mempercepat pemulihan infrastruktur digital agar seluruh wilayah terdampak bencana dapat kembali terhubung.