Beranda blog Halaman 237

Pesantren Darul Aitami Gelar Peringatan Isra’ Mi’raj, Doakan Kedamaian dan Keberkahan Aceh Selatan

0
Pesantren Darul Aitami Gelar Peringatan Isra’ Mi’raj, Doakan Kedamaian dan Keberkahan Aceh Selatan. (Foto: For Nukilan)

NUKILAN.ID | TAPAKTUAN – Pesantren Darul Aitami Kabupaten Aceh Selatan menggelar peringatan Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW pada Kamis malam (15/1/2026). Kegiatan yang berlangsung pukul 21.00 hingga 23.00 WIB tersebut diikuti pimpinan pesantren, dewan guru, santri, serta jamaah dengan penuh khidmat.

Peringatan Isra’ Mi’raj diisi dengan pembacaan Raja Shalawat, Dalail Khairat, dan doa bersama. Rangkaian ibadah ini bertujuan menumbuhkan kecintaan kepada Rasulullah SAW, memperkuat spiritualitas santri, serta memohon keberkahan dan perlindungan Allah SWT bagi masyarakat Aceh Selatan.

Pimpinan Pesantren Darul Aitami, Tgk. Sumardy Tarmisal, dalam tausiyahnya menegaskan bahwa peristiwa Isra’ Mi’raj menjadi momentum penting untuk memperkokoh iman dan ketakwaan umat Islam, khususnya melalui penjagaan shalat lima waktu sebagai perintah langsung dari Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW. Ia juga menekankan keutamaan shalawat dan dzikir sebagai amalan yang bernilai tinggi di sisi Allah.

Dalam kesempatan tersebut, Tgk. Sumardy Tarmisal mengingatkan jamaah pada firman Allah SWT:

“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan.” (QS. Al-Ahzab: 56)

Ia juga mengutip sabda Rasulullah SAW:
“Barang siapa yang bershalawat kepadaku satu kali, maka Allah akan bershalawat kepadanya sepuluh kali.” (HR. Muslim)

Melalui doa bersama, keluarga besar Pesantren Darul Aitami memohon agar Aceh Selatan senantiasa berada dalam lindungan Allah SWT, diberikan keamanan, persatuan, dan kesejahteraan, serta dijauhkan dari musibah dan perpecahan. Doa juga dipanjatkan agar para pemimpin daerah diberikan kekuatan, keikhlasan, dan kebijaksanaan dalam menjalankan amanah.

Peringatan ini diharapkan menjadi sarana turunnya rahmat Allah SWT, mempererat ukhuwah Islamiyah, serta meneguhkan peran pesantren sebagai pusat pembinaan iman dan akhlak umat. (xrq)

DPM USK Soroti Minimnya Keterlibatan Mahasiswa dalam Proses Pemilihan Rektor

0
Wakil Ketua DPM USK, Muhammad Alif Dhiya’ulhaq. (Foto: Dok. Pribadi)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH — Dewan Perwakilan Mahasiswa Universitas Syiah Kuala (DPM USK) menilai proses pemilihan Rektor USK belum sepenuhnya menjunjung prinsip transparansi dan partisipasi mahasiswa.

Perwakilan mahasiswa di Majelis Wali Amanat (MWA) disebut belum menjalankan fungsi representatif secara maksimal karena tidak membuka ruang komunikasi dan dialog dengan fakultas maupun organisasi kemahasiswaan (ormawa) di lingkungan USK.

Hal itu disampaikan Wakil Ketua DPM USK, Muhammad Alif Dhiya’ulhaq, kepada Nukilan.id pada Kamis, 15 Januari 2026. Menurutnya, pemilihan rektor merupakan agenda strategis yang akan menentukan arah kebijakan dan kepemimpinan universitas ke depan, sehingga aspirasi mahasiswa seharusnya dilibatkan secara luas.

“Pemilihan rektor tidak bisa dilakukan secara tertutup dan elitis. Mahasiswa adalah bagian penting dari tata kelola universitas dan aspirasinya harus didengar,” ujar Alif.

Alif menjelaskan, hingga kini MWA wakil mahasiswa belum pernah melakukan pertemuan bersama fakultas dan ormawa untuk membahas calon rektor maupun kriteria kepemimpinan universitas. Kondisi tersebut dinilai menunjukkan lemahnya mekanisme penyerapan aspirasi mahasiswa lintas fakultas.

Ia menambahkan, DPM USK sebenarnya telah mengambil inisiatif dengan memfasilitasi forum dialog terbuka yang dirancang sebagai ruang resmi bagi mahasiswa untuk menyampaikan pandangan, evaluasi, serta harapan terhadap figur rektor yang dinilai layak dan kompeten.

“Namun sangat disayangkan, MWA wakil mahasiswa tidak menghadiri forum yang telah kami fasilitasi. Ketidakhadiran ini menunjukkan sikap yang tidak sejalan dengan semangat partisipasi dan representasi mahasiswa,” katanya.

Menurut Alif, perwakilan mahasiswa di MWA seharusnya berfungsi sebagai jembatan aspirasi mahasiswa dalam pengambilan keputusan strategis universitas, bukan justru menjauh dari basis mahasiswa yang diwakilinya. Ia menegaskan bahwa representasi mahasiswa tidak cukup dimaknai secara struktural semata, tetapi harus diwujudkan melalui dialog aktif dan keterbukaan.

Alif juga menekankan pentingnya menghadirkan rektor USK yang memiliki integritas, kapasitas kepemimpinan, serta komitmen terhadap penguatan akademik, kesejahteraan mahasiswa, dan demokrasi kampus. Menurutnya, penilaian terhadap hal tersebut tidak dapat dilakukan secara objektif tanpa mendengar langsung suara mahasiswa dari berbagai fakultas dan ormawa.

“MWA wakil mahasiswa harus segera membuka dan melaksanakan dialog publik yang inklusif guna menyerap aspirasi mahasiswa dalam proses pemilihan Rektor Universitas Syiah Kuala. Ini adalah kewajiban moral agar keputusan yang diambil benar-benar mencerminkan kehendak mahasiswa,” tutupnya. (XRQ)

Reporter: Akil

Satgas Bencana Baitul Mal Aceh Bergerak Cepat Pulihkan Masjid dan Pesantren Pascabencana

0
Satgas Bencana Baitul Mal Aceh Bergerak Cepat Pulihkan Masjid dan Pesantren Pascabencana. (Foto: For Nukilan)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH — Satuan Tugas (Satgas) Bencana Baitul Mal Aceh melakukan aksi tanggap darurat dengan membersihkan sejumlah masjid dan pesantren yang terdampak banjir bandang di berbagai wilayah Aceh. Langkah ini dilakukan untuk mempercepat pemulihan sarana ibadah dan pendidikan keagamaan yang terdampak bencana.

Sejak pagi hari, personel Satgas berkumpul di halaman Kantor Baitul Mal Aceh untuk mengikuti arahan dan prosesi pelepasan. Mereka membawa berbagai peralatan kebersihan, seperti sekop, cangkul, sepatu boots, pakaian kerja, serta gerobak dorong guna mempercepat proses pembersihan lumpur, sampah, dan material sisa banjir yang menggenangi area masjid dan kompleks pesantren.

Dalam sambutannya, Ketua Baitul Mal Aceh, Tgk. H. Muhammad Yunus M. Yusuf, SH atau Abon Yunus, menegaskan bahwa gerak cepat ini merupakan bagian dari komitmen lembaga dalam merespons setiap musibah yang menimpa masyarakat Aceh. Ia menekankan pentingnya segera memulihkan fungsi masjid dan pesantren, terlebih menjelang datangnya bulan suci Ramadan.

“Masjid dan pesantren adalah tempat vital bagi masyarakat. Karena itu, kami berupaya agar aktivitas ibadah dan belajar mengajar dapat kembali berjalan secepat mungkin, apalagi sebentar lagi akan masuk bulan Ramadhan,” ujar Abon Yunus, Kamis (15/01/2026).

Ia berharap, kegiatan pembersihan yang dilakukan Satgas Bencana Baitul Mal Aceh dapat membantu meringankan beban masyarakat serta mempercepat proses pemulihan pascabencana. Ke depan, Baitul Mal Aceh juga menyatakan akan terus memantau perkembangan di lapangan dan menyalurkan bantuan lanjutan sesuai kebutuhan sebagai wujud tanggung jawab sosial dan kemanusiaan bagi warga terdampak.

Sementara itu, Koordinator Lapangan Satgas Bencana Baitul Mal Aceh, Tgk. Naga Selatan, menyampaikan bahwa sebanyak 21 relawan dikerahkan untuk membersihkan masjid dan pesantren terdampak selama 20 hari ke depan. Kegiatan tersebut akan dilaksanakan di Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh Timur, Aceh Utara, Bener Meriah, Bireuen, dan Pidie Jaya.

Pada kesempatan yang sama, Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA), Fadmi Ridwan, SP., M.A, berpesan kepada seluruh relawan agar selalu mengutamakan keselamatan diri, menjaga kekompakan tim, serta tetap fokus dan waspada saat menjalankan tugas di setiap lokasi.

Acara pelepasan Satgas Bencana Baitul Mal Aceh ditutup dengan doa bersama dan lantunan shalawat sebelum para relawan diberangkatkan, sebagai harapan agar seluruh kegiatan mendapat keberkahan dan perlindungan dari Allah SWT.

KSP Salurkan Mesin Penyuling Air untuk Warga Terdampak Banjir Aceh Timur

0
Kepala Staf Kepresidenan Muhammad Qodari mengunjungi warga terdampak bencana di Dusun Karang Kuda, Desa Bunin, Kecamatan Serbajadi, Kabupaten Aceh Timur, Provinsi Aceh, Rabu (14/01/2026). (Foto: For Nukilan)

NUKILAN.ID | IDI RAYEUK — Kepala Staf Kepresidenan Republik Indonesia, Muhammad Qodari, meninjau langsung kondisi warga terdampak banjir di Dusun Karang Kuda, Desa Bunin, Kecamatan Serbajadi, Kabupaten Aceh Timur, Rabu (14/1/2026).

Dalam kunjungan tersebut, Qodari menyerahkan bantuan berupa water purifier guna membantu pemenuhan kebutuhan air bersih dan air minum masyarakat.

Bantuan water purifier diberikan sebagai solusi darurat atas keterbatasan akses air bersih pascabanjir. Alat tersebut mampu menyaring air dari sumber yang tersedia agar layak konsumsi.

“Kita menyampaikan dukungan bantuan untuk water purifier atau penyulingan air, salah satu kebutuhan pokok di sini. Untuk kebutuhan air, 12 kilometer dari sini. Dengan adanya water purifier ini, insyaallah segera terpenuhi kebutuhan air minum, dengan kapasitas 3.000 liter per hari. Alhamdulillah airnya bisa langsung diminum,” kata Qodari di hadapan warga.

Qodari menjelaskan, Kantor Staf Presiden menyiapkan sejumlah unit water purifier untuk wilayah yang paling membutuhkan. Ia juga menyampaikan apresiasi kepada Kapolda Aceh, Irjen Pol Marzuki Ali Basa, atas masukan terkait kebutuhan tersebut, yang dinilai sangat sesuai dengan kondisi warga Dusun Karang Kuda.

“Kami terima kasih kepada Kapolda Aceh (Irjen Pol Marzuki Ali Basa) yang menyarankan water purifier ini, dan mendengarkan pernyataan dari Kepala Dusun, ternyata betul-betul yang diberikan ini relevan dengan situasi warga di sini,” tutur Qodari.

Dalam kunjungan tersebut, Qodari bersama Kapolda Aceh dan Bupati Aceh Timur, Iskandar Usman Alfarlaky, turut mencoba langsung air hasil penyulingan.

“Enak rasanya, ada manis-manisnya. Airnya sudah diperiksa secara aspek medis, aspek kesehatan, dan hasilnya baik. Mudah-mudahan bantuan ini bisa dimanfaatkan maksimal oleh warga di sini,” ujarnya.

Selain menyalurkan bantuan air bersih, Qodari dan Bupati Alfarlaky juga membahas rencana pembangunan hunian sementara dan hunian tetap bagi warga terdampak banjir, termasuk masyarakat Desa Bunin yang mengalami dampak cukup parah. Qodari mengakui masih terdapat persoalan lahan yang perlu diselesaikan dan akan segera dikoordinasikan dengan kementerian dan lembaga terkait.

“Ada permasalahan lahan yang harus diselesaikan, akan kami sampaikan kepada pihak Kementerian/Lembaga yang relevan, termasuk BUMN,” ujar Qodari.

Qodari juga memastikan persoalan penanganan bencana di Aceh Timur akan dibahas dalam rapat Satuan Tugas Penanganan Bencana Sumatra yang dijadwalkan berlangsung Kamis (15/1/2026).

“Segera kami sampaikan secara langsung kepada Pak Tito (Mendagri yang ditunjuk Presiden sebagai memimpin Satgas),” pungkas Qodari.

Sementara itu, Bupati Aceh Timur Iskandar Usman Alfarlaky menyampaikan apresiasi atas perhatian pemerintah pusat. Ia menyebut bantuan water purifier dari KSP, serta dukungan peralatan dari Polri seperti pompa apung dan dapur umum, sangat membantu percepatan pemulihan daerah.

“Termasuk alat pembersih berupa pompa apung dan dapur umum yang disediakan Polri, agar cepat pulih kembali, khususnya Aceh Timur,” kata Alfarlaky.

Ucapan terima kasih juga datang dari Kepala Dusun Karang Kuda, Rizky Ariga. Ia mengungkapkan bahwa selama ini warga harus membeli air minum dari luar desa dengan jarak cukup jauh.

“Ini sangat bermanfaat, karena selama ini untuk memenuhi kebutuhan air minum, kami harus beli 12 kilometer dari kampung ini,” ujar Rizky.

Dinkes Aceh Tamiang Teruskan Fogging di Lokasi Pengungsian Pasca-Banjir

0
ilustrasi fogging, (Foto: nusabali)

NUKILAN.ID | KUALA SIMPANG — Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Aceh Tamiang memastikan kegiatan pengasapan (fogging) dan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) di lokasi-lokasi pengungsian korban banjir terus berlanjut guna mencegah penyebaran penyakit, khususnya demam berdarah dengue (DBD).

Kepala Dinkes Aceh Tamiang Mustaqim mengatakan bahwa upaya tersebut masih dilakukan hingga saat ini, dengan fokus utama pada area pengungsian dan tenda-tenda warga.

“Kita masih terus fogging (pengasapan) terutama di lokasi pengungsian dan tenda-tenda tempat warga mengungsi,”

Menurutnya, sejauh ini sudah terdapat belasan titik yang menjadi sasaran penyemprotan pembasmi nyamuk Aedes aegypti. Pengasapan telah berlangsung sejak 20 Desember 2025, ketika banyak warga masih mengungsi di atas Jembatan Kuala Simpang, dan terus berlanjut hingga sekarang.

“Ada 17 lokasi di antaranya lokasi pengungsian GOR, gedung DPRK, RSUD dan terakhir tempat penginapan relawan Praja IPDN,”

Ke depan, Dinkes Aceh Tamiang menargetkan seluruh puskesmas, desa-desa yang dijadikan tempat pengungsian, serta rumah-rumah warga sebagai sasaran program fogging. Pelaksanaan kegiatan ini juga telah diteruskan ke tingkat desa melalui puskesmas dan puskesmas pembantu (pustu) dengan koordinasi pihak kecamatan.

“Program fogging ini juga sudah diteruskan ke desa-desa melalui puskesmas atau pustu (puskesmas pembantu) berkoordinasi dengan kecamatan setempat,”

Selain upaya pengendalian vektor penyakit, pelayanan kesehatan di puskesmas kini kembali berjalan normal setelah sebelumnya mengalami krisis air bersih. Pasokan air bersih dan air minum diperoleh dari fasilitas desalinasi RO yang dipasang oleh Satgas Air Universitas Pertahanan (Unhan) bekerja sama dengan Tim Yonzipur Kodam I/BB.

“Alhamdulillah puskesmas sudah aktif semua setelah pengerahan personel TNI dan Polri dan relawan membantu mempercepat pemulihan layanan kesehatan masyarakat. Ini kita mau pogging setiap puskesmas,”

Dengan langkah-langkah tersebut, Dinkes Aceh Tamiang berharap risiko penyakit pascabanjir, terutama DBD, dapat ditekan dan kesehatan warga tetap terjaga.

T. Auliya Tekankan Rektor USK Harus Berkarakter Pemecah Masalah dan Bebas dari Politik Praktis

0
T Auliya Rahman
Ketua Ikatan Alumni Ilmu Pemerintahan USK, T. Auliya Rahman. (Foto: Dok. Pribadi)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH — Majelis Wali Amanat (MWA) Universitas Syiah Kuala (USK) menuntaskan tahap awal penjaringan calon rektor, Senin (12/1/2026). Tahapan tersebut ditandai dengan penyampaian visi, misi, dan program kerja para kandidat yang berlangsung sejak pagi hingga sore hari.

Memasuki pukul 15.00 WIB, anggota MWA membuka hak suara dan menetapkan tiga nama yang lolos ke tahap berikutnya. Berdasarkan informasi yang diperoleh redaksi, tiga besar calon rektor USK yakni Prof. Dr. Ir. Agussabti, M.Si., IPU, Prof. Dr. Ir. Marwan, dan Prof. Dr. Mirza Tabrani. Keputusan tersebut menjadi dasar bagi panitia untuk melanjutkan proses seleksi menuju penetapan rektor terpilih pada tahapan berikutnya.

Ketua Panitia Pemilihan Rektor (PPR) USK, Prof. Dr. Rusli Yusuf, M.Pd., membenarkan bahwa seluruh rangkaian penjaringan telah berlangsung sesuai dengan tata kerja MWA. Ia menambahkan, agenda pemilihan rektor USK dijadwalkan berlangsung pada Februari 2026 sebagaimana telah ditetapkan oleh panitia pemilihan.

Di tengah dinamika proses seleksi tersebut, perhatian publik tidak hanya tertuju pada figur kandidat, tetapi juga pada arah kepemimpinan yang diharapkan mampu menjawab persoalan Aceh secara lebih substansial.

Ketua Ikatan Alumni Ilmu Pemerintahan USK, T. Auliya Rahman, menilai momentum pemilihan rektor ini sangat strategis bagi masa depan peran kampus dalam pembangunan daerah.

Saat diwawancarai nukilan.id, Kamis (15/1/2026), Auliya menegaskan bahwa USK memiliki posisi sentral dalam kehidupan sosial dan politik Aceh. Menurutnya, kepemimpinan rektor ke depan harus mencerminkan kebutuhan nyata masyarakat.

“Berkaca dari kondisi dan tantangan yang sedan dialami Aceh, saya rasa rektor USK ke depan harus memiliki karakter akademik dan problem solving, sehingga setiap keterlibatan dan dukungan yang diberikan oleh kampus kepada pemerintah berlandaskan data dan minim unsur politis,” katanya.

Pernyataan tersebut mencerminkan harapan agar USK tidak hanya menjadi institusi pendidikan semata, tetapi juga pusat solusi berbasis ilmu pengetahuan yang berdiri di atas kepentingan publik, bukan kepentingan kekuasaan.

Ketika ditanya mengenai nilai fundamental yang seharusnya menjadi fondasi kepemimpinan rektor di tengah dinamika dunia pendidikan dan tantangan global saat ini, Auliya menekankan pentingnya menjaga marwah akademik agar tetap kokoh dan tidak tergelincir ke dalam pusaran kepentingan politik praktis.

“Tentu saja harus ada nilai integritas dan independensi. Dalam artian rektor harus dapat menjaga netralitas dunia akademik di Aceh, tidak terseret arus politik praktis yang dpat merugikan masyarakat,” ungkapnya.

Pandangan tersebut memperkuat pesan bahwa kepemimpinan USK ke depan tidak hanya diuji oleh capaian administratif dan akademik, tetapi juga oleh keberanian moral untuk menjaga independensi kampus sebagai ruang berpikir bebas, kritis, dan berpihak pada kepentingan rakyat Aceh. (XRQ)

Reporter: AKIL

Dinilai Cerminkan Ekonomi Pancasila, Pengamat Apresiasi Polda Aceh Salurkan Bibit Cabai untuk Warga Terdampak Banjir

0
Pengamat Ekonomi Kerakyatan di Aceh Strategy Advisory (ASA), Uqra Fhalinfarabi M.E. (Foto: Dok. Pribadi)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH — Langkah Polda Aceh menyalurkan bantuan berupa bibit tanaman dan perlengkapan penanaman kepada masyarakat terdampak banjir di Kota Langsa, Rabu (14/1/2026), mendapat apresiasi dari berbagai pihak. Bantuan tersebut diberikan sebagai bagian dari upaya pemulihan ekonomi dan penguatan ketahanan pangan pascabencana.

Kapolda Aceh Irjen Pol Marzuki Ali Basyah menyampaikan bahwa bibit yang diberikan, di antaranya bibit cabai, diharapkan dapat dimanfaatkan oleh warga sebagai kebun keluarga untuk menunjang kebutuhan sehari-hari.

Apresiasi salah satunya datang dari Uqra Fhalin Fharabi M.E, Pengamat Ekonomi Kerakyatan di Aceh Strategy Advisory (ASA). Dalam wawancaranya kepada Nukilan.id, Kamis (15/1/2026), Uqra menilai inisiatif tersebut sebagai langkah positif yang mencerminkan keberpihakan negara kepada masyarakat kecil.

“Kami mengapresiasi langkah Polda Aceh yang menyalurkan bibit cabai kepada warga terdampak banjir di Langsa. Meski ini bukan tugas utama kepolisian, inisiatif ini mencerminkan kehadiran negara yang berpihak pada rakyat kecil dalam situasi krisis,” ujarnya.

Menurut Uqra, bantuan tersebut memiliki nilai strategis karena bersifat produktif dan mendorong kemandirian ekonomi keluarga, bukan sekadar bantuan konsumtif jangka pendek. Hal ini dinilainya sejalan dengan prinsip ekonomi kerakyatan.

“Masyarakat tidak hanya dibantu untuk bertahan, tetapi juga diberi peluang untuk kembali berproduksi. Ini sejalan dengan prinsip ekonomi kerakyatan yang menempatkan rakyat sebagai pelaku utama pembangunan,” tuturnya.

Lebih lanjut, ia menilai program tersebut mampu memperkuat ketahanan pangan rumah tangga sekaligus membantu menekan beban pengeluaran warga setelah bencana. Ia pun mendorong agar program serupa dapat diperluas dan didukung lintas sektor.

“Program sederhana seperti ini, jika diperluas dan didukung lintas sektor, dapat mempercepat pemulihan ekonomi masyarakat dan memperkuat struktur ekonomi rakyat di tingkat paling bawah,” ungkapnya.

Uqra berharap model bantuan produktif ini dapat menjadi contoh bagi instansi lain dalam merancang program pemulihan ekonomi yang lebih adil, berkelanjutan, dan benar-benar menyentuh kebutuhan masyarakat terdampak bencana.

“Inilah praktik nyata ekonomi Pancasila, gotong royong, keadilan sosial, dan kemandirian rakyat,” tutupnya. (XRQ)

Reporter: AKIL

Lebih dari 18 Ribu Kelompok Rentan Terdampak Banjir di Aceh Utara

0
Tim DP3A Aceh saat melakukan trauma healing kepada anak-anak terdampak bencana di Aceh, Kamis (25/12/2025). (Foto: DP3A Aceh)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH — Bencana banjir bandang yang melanda Kabupaten Aceh Utara berdampak besar terhadap kelompok rentan. Hingga 13 Januari 2026, tercatat sebanyak 18.366 orang dari kelompok rentan terdampak, terdiri atas ibu hamil, balita, lanjut usia (lansia), serta penyandang disabilitas.

Juru Bicara Posko Tanggap Darurat Bencana Aceh, Murthalamuddin, mengatakan kelompok rentan menjadi prioritas utama dalam penanganan bencana.

“Kelompok rentan menjadi prioritas utama dalam setiap upaya penanganan, mulai dari evakuasi, penyediaan logistik, hingga layanan kesehatan di lokasi pengungsian,” ujarnya di Banda Aceh, Kamis (15/1/2026).

Dihimpun Nukilan.id berdasarkan data Pusat Informasi Posko Bencana Banjir Kabupaten Aceh Utara, kelompok rentan tersebut meliputi 1.433 ibu hamil, 9.525 balita, 6.895 lansia, serta 513 penyandang disabilitas.

Secara keseluruhan, bencana banjir di Aceh Utara berdampak pada 124.549 kepala keluarga atau 433.064 jiwa. Dari jumlah tersebut, sebanyak 16.201 kepala keluarga atau 54.795 jiwa terpaksa mengungsi di 160 titik pengungsian.

Selain menimbulkan pengungsian massal, banjir juga mengakibatkan korban jiwa. Tercatat sebanyak 245 orang meninggal dunia, sembilan orang dilaporkan hilang, dan 2.127 orang mengalami luka-luka.

Kerusakan infrastruktur dan permukiman warga pun tergolong parah. Sebanyak 72.364 rumah terendam banjir, 3.506 rumah dilaporkan hilang, 6.236 rumah mengalami kerusakan berat, 16.325 rumah rusak sedang, dan 20.280 rumah rusak ringan.

Murthalamuddin menegaskan, Posko Bencana Aceh bersama Posko Kabupaten Aceh Utara terus melakukan pendataan, evakuasi, serta distribusi bantuan dengan melibatkan berbagai instansi terkait.

“Upaya ini bertujuan agar penanganan darurat berjalan efektif dan warga terdampak, terutama kelompok rentan, mendapatkan perlindungan dan layanan yang memadai,” katanya. (XRQ)

Reporter: Akil

Polda Aceh Salurkan Bibit Cabai untuk Warga Terdampak Banjir di Langsa

0
Kapolda Aceh Irjen Pol Marzuki Ali Basyah (tengah) menyerahkan bantuan bibit tanaman dam perlengkapan penanaman kepada Polres Langsa untuk disalurkan kepada masyarakat terdampak bencana di Langsa, Aceh, Rabu (14/1/2026). (Foto: Bidhumas Polda Aceh)

NUKILAN.ID | LANGSA — Polda Aceh menyalurkan bantuan berupa bibit tanaman dan perlengkapan penanaman kepada masyarakat terdampak banjir di Kota Langsa, Rabu (14/1/2026). Bantuan tersebut diberikan sebagai bagian dari upaya pemulihan ekonomi dan ketahanan pangan pascabencana.

Kapolda Aceh Irjen Pol Marzuki Ali Basyah menyampaikan bahwa bibit yang diberikan, di antaranya bibit cabai, diharapkan dapat dimanfaatkan sebagai kebun keluarga.

“Bibit tanaman ini dijadikan kebun keluarga dan diharapkan dapat membantu meringankan beban ekonomi masyarakat. Serta menjadi langkah awal dalam mendukung pemulihan kehidupan warga dan peningkatan ketahanan pangan keluarga pascabanjir,” katanya.

Bantuan tersebut secara simbolis diserahkan Kapolda kepada Kapolres Langsa AKBP Mughi Preasetyo Habrianto di Mapolres Langsa untuk selanjutnya disalurkan kepada warga terdampak banjir.

Dalam pelaksanaannya, Polda Aceh menerapkan metode penanaman dengan memanfaatkan tanah lumpur sisa banjir yang dimasukkan ke dalam karung. Karung tersebut kemudian difungsikan sebagai polibag untuk menanam berbagai jenis tanaman, termasuk cabai. Setelah ditanami, polibag dibagikan kepada masyarakat dan ditempatkan di pekarangan rumah warga.

“Kami berharap bantuan bibit tanaman ini menghasilkan panen untuk kebutuhan sehari-hari masyarakat terdampak bencana banjir. Bantuan ini memanfaatkan tanah lumpur dari banjir,” ujar Marzuki Ali Basyah.

Kapolda menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan bentuk kepedulian Polri terhadap masyarakat yang terdampak musibah sekaligus dorongan agar warga dapat segera bangkit dan pulih pascabencana.

Melalui kegiatan tersebut, Polda Aceh berharap masyarakat di Kota Langsa dapat kembali menjalani aktivitas sehari-hari dengan semangat kebersamaan dan gotong royong.

“Polri tidak hanya hadir dalam menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat, tetapi juga berkomitmen memberikan dukungan kemanusiaan, terutama bagi masyarakat yang tertimpa musibah,” kata Marzuki Ali Basyah.

Dugaan Kekerasan di Sekolah, Gusmawi Mustafa: Anak Bisa Berada di Posisi Korban dan Pelaku

0
Koordinator Wilayah Barat Yayasan P2TP2A Rumoh Putroe Aceh, Gusmawi Mustafa. (Foto: Dok. Pribadi)

NUKILAN.ID | TAPAKTUAN — Kasus dugaan pengeroyokan terhadap Agus Saputra, seorang guru SMK di Jambi, menuai perhatian publik. Insiden yang terjadi pada Selasa (13/1/2026) itu bermula dari perselisihan di ruang kelas setelah seorang siswa melontarkan kata-kata tidak pantas saat ditegur.

Agus diduga bereaksi dengan menampar siswa tersebut, sebelum konflik berkembang dan melibatkan sejumlah siswa lain, meski pihak sekolah sempat melakukan mediasi.

Dalam perkembangannya, muncul dua versi berbeda mengenai pemicu kejadian. Pihak siswa mengklaim adanya ucapan bernada penghinaan terkait kondisi ekonomi, sementara Agus membantah tudingan tersebut.

“Saya tidak bermaksud mengejek. Kalimat itu adalah motivasi agar kita tidak bertingkah macam-macam di tengah keterbatasan,” tutur Agus.

Koordinator Wilayah Barat Yayasan P2TP2A Rumoh Putroe Aceh, Gusmawi Mustafa, menilai kasus ini tidak bisa dipahami secara sepihak. Ia menekankan pentingnya melihat peristiwa secara utuh dan berimbang, terutama karena melibatkan anak.

“Dalam banyak peristiwa kekerasan di sekolah, anak kerap berada dalam posisi ganda, sebagai korban sekaligus pelaku. Jika benar terdapat dugaan pemukulan dan ucapan yang melukai perasaan siswa lebih dahulu, maka itu merupakan bagian penting dari rangkaian peristiwa yang tidak boleh diabaikan,” ujar Gusmawi kepada NUKILAN.ID, Kamis (15/1/2026).

Menurutnya, sekolah seharusnya menjadi ruang aman bagi semua pihak. Ketika kekerasan justru diduga berawal dari figur otoritas, hal itu mencerminkan persoalan serius dalam relasi pendidikan.

Gusmawi menegaskan, guru memiliki tanggung jawab etika dan moral yang lebih tinggi karena posisinya sebagai pendidik dan teladan. Ia menyebut, tindakan kekerasan fisik maupun verbal dari guru tidak dapat dibenarkan dalam situasi apa pun.

“Sekalipun siswa mengeluarkan kata-kata yang tidak pantas, respon pendidik harus tetap berada dalam koridor pendidikan. Kekerasan fisik maupun verbal dari guru tidak dapat dibenarkan dalam kondisi apa pun,” katanya.

Ia juga menyoroti dampak psikologis yang dapat timbul jika siswa mengalami kekerasan, yang berpotensi memicu reaksi emosional lanjutan. Menurutnya, kesalahan anak merupakan sinyal adanya masalah dalam sistem pendidikan yang perlu dibenahi.

“Anak boleh salah. Namun kesalahan anak sejatinya adalah alarm bagi dunia pendidikan. Itu tanda bahwa pembinaan karakter, ruang dialog, dan mekanisme perlindungan belum berjalan sebagaimana mestinya,” ujarnya.

Gusmawi menekankan pentingnya pendekatan pembinaan, pendampingan psikososial, serta keadilan restoratif dalam menangani konflik yang melibatkan anak.

“Perlindungan anak tidak gugur hanya karena anak berbuat salah. Anak tetap berhak atas perlakuan manusiawi, bebas dari kekerasan, dan mendapatkan pendampingan yang layak,” tegasnya.

Di sisi lain, ia menilai perlindungan terhadap guru tetap penting, namun tidak boleh dijadikan pembenaran atas pelanggaran etika profesi. Menurutnya, kasus ini harus menjadi momentum evaluasi menyeluruh terhadap sistem pendidikan.

“Jika kekerasan dari figur otoritas tidak dihentikan sejak awal, maka rantai kekerasan akan terus berulang. Dunia pendidikan membutuhkan sistem pencegahan, bukan hanya penindakan,” katanya.

Menutup pernyataannya, Gusmawi menegaskan kembali tujuan utama pendidikan.

“Kekerasan siswa terhadap guru adalah kesalahan serius. Namun kekerasan guru terhadap siswa adalah pengkhianatan terhadap nilai dasar pendidikan. Anak boleh salah, tetapi anak tidak boleh dilukai,” pungkasnya. (xrq)

Reporter: Akil