Beranda blog Halaman 2249

Pengkaderan IMM Unmuha “Kader Bangsa yang Religius”

0

Nukilan.id – Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Universitas Muhammadiyah Aceh (Unmuha) akan melaksanakan perkaderan pada tanggal 9-11 April 2021 di Banda Aceh dengan mengusung tema “Generasi IMM Sebagai Kader Bangsa yang Religius”.

Ketua Koordinator Komisariat IMM Unmuha, Ridwansyah Harahap mengatakan, perkaderan dilaksanakan sebagai upaya penambahan kader dan pengembangan potensi kader untuk IMM kedepannya.

“Sebagai organisasi mahasiswa yang bergerak dalam bidang keagamaan, keilmuan dan kemasyarakatan. Perkaderan merupakan salah satu hal vital dalam organisasi. Maka dari itu melalui perkaderan ini kita akan berupaya menciptakan kader-kader yang peduli terhadap bangsa dan juga memiliki karakter religius dalam kepribadiannya,” kata Ridwansyah kepada nukilan.id, Jum’at (2/4/2021).

Ridwansyah menyebutkan pentingnya perkaderan IMM untuk membangun jiwa organisasi agar kader berperan aktif dalam menghadapi perkembangan zaman.

“Tantangan kader sekarang bagaimana meningkatkan keaktifan dan pembentukan karakter dalam menghadapi zaman yang semakin maju,” ujarnya.

IMM berupaya untuk mencetak kader-kader bermutu guna meningkatkan kesejahteraan Aceh.

“Kita berupaya untuk meningkatkan kesejahteraan Aceh khususnya dari sektor pendidikan untuk mendidik generasi muda yang lebih baik kedepannya,” tambahnya.

Ia berharap kegiatan perkaderan akan membentuk kader-kader yang berperan aktif dan bermanfaat terhadap masyarakat, umat dan bangsa.

“Perkaderan IMM nantinya dapat membentuk kader-kader yang mampu berperan aktif dan bermanfaat bagi masyarakat, umat dan bangsa,” kata Ridwansyah.[]

Pimpinan DPRA Salurkan Bantuan Kebakaran TPA di Abdya

0

Nukilan.id – Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA), Safaruddin, menyerahkan bantuan tanggap darurat untuk korban musibah kebakaran Taman Pendidikan Al-quran (TPA) An Nur di Gampong Keude Siblah, Kecamatan Blang Pidie, Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya), Jumat (2/4/2021).

Safaruddin usai menyerahkan bantuan tersebut kepada wartawan mengatakan, penyerahkan bantuan itu merupakan satu bentuk perhatian pemerintah, jika ada musibah atau bencana yang menimpa warga.

“TPA di lingkungan Keude Siblah ini merupakan lembaga pendidikan yang banyak melahirkan anak-anak didik generasi islam di Kecamatan Blangpidie, yang tampil dan memiliki berprestasi. Tentunya kami prihartin atas kondisi yang terjadi akibat musibah kebakaran ini,” ujarnya.

Bantuan yang diberikan, kata Safar, merupakan bantuan tanggap darurat yang disuport Dinas Sosial Aceh, serta sejumlah bantuan tambahan seperti semen dan beberapa bantuan lainnya yang bersumber dari pribadinya sendiri.

“Semoga saja ke depan kami dapat memberikan bantuan yang lebih lagi, seperti bantuan untuk merehab bangunan TPA yang terbakar ini, sehingga aktivitas pendidikan agama di sini dapat berjalan normal kembali,” ujarnya.

Safaruddin berharap, bantuan tersebut dapat berguna untuk kebutuhan TPA tersebut, serta meringankan beban atas musibah yang terjadi.

“Semoga ini juga mengingatkan sesama kita agar dapat saling membantu bagi saudara kita yang tertimpa musibah,” harap Politisi Partai Gerindra Aceh ini.

Sementara itu, Kepala TPA An Nur, Tgk Sayuti, mengatakan musibah kebakaran yang menimpa tempat pendidikan agama yang dipimpinnya itu terjadi pada Selasa sore, 30 Maret 2021.

“Sampai saat ini kami belum mengetahui penyebab pasti kebakarannya. Dari musibah ini, terdapat beberapa kelas dan satu mushalla yang terbakar, serta sejumlah buku-buku agama dan kitab kuning yang juga ikut terbakar,” imbuhnya.

Tgk Sayuti mengucapkan terima kasih atas bantuan yang diberikan Wakil Ketua DPRA tersebut, yang telah meringankan beban dari musibah yang menimpa TPA-nya.

“Bantuan ini mungkin tidak sanggup kami balas, semoga Allah membalas nantinya atas bantuan yang diberikan ini,” imbuhnya. []

Wakapolda Pantau Keamanan Pelaksanaan Paskah di Banda Aceh

0

Nukilan.id – Wakil Kepala kepolisian Daerah (Wakapolda) Aceh Brigjen Pol Drs. Raden Purwadi, S.H didampingi sejumlah pejabat utama Polda Aceh, Jumat (2/4/2021) mengunjungi beberapa tempat ibadah umat Kristiani di Kota Banda Aceh.

Kunjungan tersebut dilakukan untuk melihat dan mengecek langsung situasi serta kesiapan pengamanan ibadah Jumat Agung dan Paskah di tempat ibadah umat Kristiani.

“Hari ini Wakapolda mengadakan pengecekan ke tempat-tempat ibadah, khususnya saudara-saudara kita pemeluk agama Kristiani dan tentunya kita antisipasi terhadap kemungkinan yang bisa saja terjadi,” kata Wakapolda melalui Kabid Humas Polda Aceh Kombes Pol. Winardy, S.H., S.I.K., M. Si, Jumat (2/4/2021).

Winardy menyebutkan, Polda Aceh tetap melakukan pengamanan demi terciptanya rasa aman bagi umat Kristiani menjalani ibadah saat peringatan wafatnya Isa Almasih dan Paskah.

Lebih lanjut ia mengatakan, pengamanan tempat ibadah oleh personel Polri adalah prosedur tetap yang rutin dilaksanakan pada setiap hari besar keagamaan.

Tujuannya tidak lain adalah memberikan jaminan keamanan dan kenyamanan sehingga masyarakat bisa menjalankan ibadah dengan tenang dan damai.

“Ini sebetulnya sudah protap (prosedur tetap) setiap ada kegiatan peribadatan. Kepolisian, dalam hal ini Polda Aceh tetap hadir untuk mengamankan dan memberikan rasa aman kepada masyarakat yang melaksanakan ibadah,” sebutnya.

“Secara umum, pelaksanaan Paskah di Aceh relatif aman dan damai,” pungkasnya.[Bidhumas Polda Aceh]

Peneliti JSI: Teuku Riefky Punya Peran Penting Halau Gangguan KLB Moeldoko

0

Nukilan.id – Persoalan sengketa Partai Demokrat kini telah usai, Kementerian Hukum dan HAM (Kemenkumham) secara resmi menolak Partai Demokrat hasil Kongres Luar Biasa (KLB), di Deli Serdang Sumatera Utara.

Peneliti Jaringan Survei Inisiatif (JSI), Farnanda, MA mengatakan, kesuksesan tersebut tidak terlepas dari peran penting dari Sekretaris Jenderal Dewan Peimpinan Pusat (DPP) Partai Demokrat Teuku Riefky Harsya (TRH).

“Di masa-masa seperti ini, Teuku Riefky Harsya mempunyai peran penting membantu ketua umum, dalam melawan ancaman ‘Begal Politik,” ujar Farnanda, Jumat (2/4/2021).

Ia menambahkan, TRH merupakan politisi yang dikenal sebagai ahli strategi dan cerdas, sehingga mampu melakukan penyelesaian berbagai konflik. Begitu juga dengan persoalan sengketa di Partai Demokrat.

Seorang sekjen harus mempunyai kepiawaian mengatur organisasi, mulai DPP sampai dengan akar rumput. Begitu juga dalam menjalankan tugas, juga harus punya networking bagus, tenang, dan terukur.

“Sehingga nantinya terlihat di publik para pengurus Solid dan implementasi dilapangan baik dalam pembagian tugas merata,” tutur Pengamat Politik dan Pemerintahan ini.[]

Libur Paskah, Pemerintah Aceh Larang ASN Keluar Daerah

0
Gubernur Aceh, Ir. H. Nova Iriansyah, MT

Nukilan.id – Pemerintah Aceh melarang seluruh Aparatur Sipil Negara (ASN) untuk keluar daerah selama libur panjang peringatan wafat Isa Almasih dan Paskah 2021. Larangan yang berlaku sejak 1-4 April 2021 tersebut guna mencegah penularan covid-19.

Kepala Biro Humas dan Protokol Setda Aceh, Muhammad Iswanto, mengatakan terdapat sejumlah poin yang mengatur detail pelaksanaan Surat Edaran (SE) yang telah dikeluarkan oleh Sekretaris Daerah (Sekda) Aceh terkait larangan bepergian.

“Salah satu poinnya perlu dilakukan pembatasan kegiatan bepergian ke luar daerah bagi ASN selama peringatan wafat Isa Al Masih kala masa pandemi covid-19,” kata Iswanto yang dikutip Nukilan.id dari medcom.id, Jumat, (2/4/2021).

Tetapi, kata Iswanto – larangan tersebut dikecualikan bagi ASN yang melakukan perjalanan melaksanakan tugas kedinasan dengan memperoleh surat tugas yang ditandatangani oleh minimal Pejabat Pimpinan Tinggi Pratama atau Kepala Satuan Kerja Perangkat Aceh (SKPA).

“Pengecualian berlaku terhadap ASN yang dalam keadaan terpaksa yang perlu melakukan kegiatan bepergian ke luar daerah, dengan terlebih dahulu mendapatkan izin tertulis dari Pejabat Pembina Kepegawaian di lingkungan instansinya,” jelas Iswanto.

Ia juga menjelaskan bahwa, dalam surat edaran Sekda Aceh tersebut juga meminta ASN yang terpaksa bepergian ke luar daerah, agar memperhatikan peta zonasi risiko covid-19 dan kebijakan pembatasan keluar masuk orang di wilayah tersebut, serta menerapkan protokol kesehatan.

“Bagi ASN yang tidak mengikuti ketentuan sesuai surat edaran itu akan dikenakan sanksi disiplin,” ujarnya.[]

9 April Bedah Buku “Rihon”, Penulis: Soal Rindu Perempuan

0

Nukilan.id – Rindu adalah perasaan yang manusiawi. Saat merindu, kita dibawa pada dimensi lain. Dimensi dimana dunia menjadi samar. Hanya objek rindu kita yang mencuat.

Dalam kumpulan cerpen bertajuk Rihőn (rindu) Ihan Nurdin menuangkan berbagai rindunya. Kerinduan pada kemurnian, cinta dan kehangatan kemanusiaan.

Ihan banyak mengeksplorasi perasaan perempuan (dan non perempuan) dalam menghadapi berbagai konflik.

Sebagai jurnalis, Ihan terbiasa mencari angle unik mendalami sebuah peristiwa. Ia dapat menemukan hal-hal renik dalam perasaan perempuan, yang tidak atau belum digarap penulis lain.

Kompilasi cerita pendek setebal 200-an halaman ini, akan dibedah pada Jumat, 9 April 2021.  Pisau bedah dipegang penyair Diyus Hanafi dan penulis Dian Guci.

Dikenal dengan diksinya yang unik, Diyus tentunya akan menampilkan operasi pembedahan yang menarik.

Sementara itu, acara besutan Perempuan Peduli Leuser ini akan berlangsung di Cafe Albatros, Gampong Peulanggahan, dari pukul 14.30-16.30 Wib.

Diketahui, Perempuan Peduli Leuser (PPL) adalah komunitas beranggotakan perempuan dari lima Kabupaten/Kota di Aceh.

Fokus utama kegiatan mereka adalah isu-isu lingkungan hidup, kesetaraan, hak anak dan pemberdayaan.

Sebagai komunitas gabungan boomers-milenial-Gen Z, mereka mengoptimalkan platform media sosial sebagai alat kampanye.

Rindu lukisan, mata suratan, hatimu nan merindu, kata komponis besar Ismail Marzuki. Mereka yang merindu kegiatan literasi sastra dari perempuan, oleh perempuan dan untuk perempuan, sila mengontak narahubung: Yelli Sustarina di nomor 085260080834. [DG]

Foto Ibu Nanik Irfan TB Kenalkan Songket Lamno Aceh Jaya

0
Ernani Wijaya (Foto:dekranasda_kabupaten_aceh_jaya)

Nukilan.id – Istri Bupati Aceh Jaya Ernani Wijaya memperkenalkan kain songket Lamno, Kecamatan Jaya, Aceh Jaya, melalui akun intagram dekranasda_kabupaten_aceh_jaya.

Dalam postingan instagram itu memperlihatkan Ibu Nanik Irfan TB–panggilan akrab Ernani Wijaya–berpose mengenakan songket karya lokal dari Desa Serba, Kecamatan Jaya, Aceh Jaya.

Dalam postingan itu diberi komentar, dengan nuansa kearifan lokal dan pesona alam Aceh Jaya baju kreasi songket Lamno, Khas Aceh Jaya ini mengangkat khazanah warisan Budaya dan tetap mengikuti Trend Mode yang sesuai Syariat.

Berikat penjelasan lengkap Songket dan foto-foto penampilan Ibu Nanik tampil mengenakan songket asli Aceh Jaya tersebut;

dekranasda_kabupaten_aceh_jaya Mengenal Wastra Aceh Jaya.

Wastra yang dibuat dari rangkaian ribuan benang yang tersusun rapi dan teratur yang ditenun oleh seorang perajin yg bernama Asma dari Desa Serba Kecamatan Jaya, Kabupaten Aceh Jaya.

Songket yang indentik dengan penggunaan benang emas dan perak ini seiring perkembangannya sudah memiliki berbagai macam warna dan motif, diantaranya motif uroet Meuranteee (akar Meranti), Bungong kupula (bunga tembaga), pucoek paku(pucuk Pakis) dan putik Meulu (kuncup melur).

Dalam cerita Wastra kali ini Dekranasda kabupaten Aceh Jaya mengangkat tema “Keanggunan Kreasi dengan Kearifan Lokal”.

Menggunakan Kain Songket Lamno dengan motif Uroet Meurantee (akar Meranti) dan Bungong putik meulu (kuncup bunga Melur) dengan warna dasar ungu, merah muda dan
dikombinasikan dengan Benang Emas…

Dengan Nuansa Kearifan Lokal dan pesona Alam Aceh Jaya Baju kreasi songket lamno Khas Aceh Jaya ini mengangkat khazanah warisan Budaya dan tetap mengikuti Trend Mode yang sesuai Syariat..

@kemenkopukm
@dekranas.id
@dekranasda_aceh

Foto-Foto Ibu Nanie yang diposting di IG Dekranasda_kabupaten_aceh_jaya

BMKG: Waspada, Aceh Dilanda Angin Kencang

0

Nukilan.id – Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun I Sultan Iskandar Muda, merilis laporan, wilayah Aceh sedang dilanda angin kencang, masyarakat diimbau untuk waspada.

Kepala Seksi Data dan Informasi BMKG Stasiun I Sultan Iskandar Muda, Zakaria mengatakan, angin kencang tersebut disebabkan karena terjadinya pertumbuhan awan comulonimbus.

“Selama ini memang wilayah Aceh sedang terjadinya hujan dan juga banyak terdapat pertumbuhan awan comulonimbus, sehingga bisa menyebabkan terjadinya angin kencang,” kata Zakaria, Jumat (2/4/2021).

Zakaria menambahkan, berdasarkan hasil pemantauan, maka kecepatan angin tersebut mencapai 45 kilometer per jam dan belum termasuk cuaca ekstrem, hanya tergolong kategori menengah.

Kecepatan angin yang mencapai 45 kilometer per jam, juga berpotensi menumbangkan pohon, merusak atap rumah warga dan lainnya, masyarakat diimbau untuk mewaspadai genjala cuaca tersebut.

“Kecepatan angin yang terjadi saat ini bisa menumbangkan pohon, papan reklame dan juga bisa merusak atap rumah warga, maka kami mengimbau kepada masyarakat untuk selalu waspada,” tutur Zakaria.[]

DKPP Banda Aceh Pastikan Harga Pangan Stabil Jelang Ramadhan

0
Pasar Peunayong (nukilan.id)

Nukilan.id – Kepala Bidang Ketahanan Pangan Dinas Kelautan Perikanan dan Pertanian (DKPP) Banda Aceh, Wahyuni Wahfar, S.Pt, M.Si mengatakan, harga bahan pokok pangan di Kota Banda Aceh relatif stabil memasuki dan pada Ramadhan.

“Tidak ada kenaikan harga pangan di kota Banda Aceh, harga relatif stabil menuju bulan ramadhan,” kata Wahyuni Wahfar kepada Nukilan.id, Kamis (1/4/2021) di kantor DKPP, Gampong pande, Banda Aceh.

Bahkan–katanya–kondisi cuaca di kota Banda Aceh tidak akan mempengaruhi harga pangan.

“Alhamdulillah sampai saat ini harga pangan stabil walaupun kondisi cuaca sekarang,” jelasnya.

Wahyuni menyebutkan stok pangan yang ada untuk kota Banda Aceh terpenuhi dan tidak ada masalah.

“Untuk stok pangan tidak ada masalah, walaupun kita membawa bahan pangan dari luar kota seperti Sumut, tidak ada masalah sejauh transportasi lancar,” ujarnya.

Kepastian harga stabil berdasarkan data yang menunjukan hasil survei yang dilakukan di empat pasar besar di kota Banda Aceh.

“Kita mensurvei pasar Peunayong, Stui, kampung baru dan Ulee Kareng,” ujar Wahyuni.[]

Reporter: Yuli Asmiati

Teror: Belajar dari Kasus Aceh

0
Ilustrasi Hasan Tiro (Tirto.id)

Farid Gaban*

Nukilan.id – Per Difinisi terorisme adalah kekerasan dengan motif politik (termasuk ideologi dan agama). Teror dilakukan untuk mencapai sasaran politik tertentu: misalnya menuntut kemerdekaan.

Taktik teror ini umumnya dipakai oleh kelompok kecil (seperti gerakan separatis) ketika melawan negara induk. Mereka menyandera atau menyerang target sipil yang random untuk meningkatkan daya tawar politik.

Teror lewat aksi militer menentukan daya tawar di meja perundingan. Itu sebabnya gerakan kemerdekaan umumnya memiliki dua sayap: sayap militer dan sayap politik.

Gerakan kemerdekaan Irlandia, misalnya, punya Sein Fein (sayap politik) dan Tentara Irlandia Utara (sayap militer). Demikian pula dengan gerakan serupa di Mindanau, Palestina, bahkan Aceh.

Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dulu juga diberi label teroris oleh Pemerintah Indonesia. Mereka memiliki sayap militer di gunung dan pedesaan Aceh, serta sayap politik di pengasingan (Eropa).

Meski umumnya dipakai kelompok kecil, berarti negara induk dan kelompok besar tidak pernah melakukannya. Mereka menyerang target sipil seolah-olah itu dilakukan oleh kelompok separatis. Tujuannya: memperoleh dukungan publik kuat untuk menumpas separatisme secara lebih keras dan meyakinkan.

Pada 13 September 2000, bom meledak di Bursa Efek Jakarta dan menguncang ekonomi nasional. Pemerintah Indonesia menuduh GAM Aceh pelakunya. Gelombang amarah publik dipakai oleh pemerintah untuk menjustifikasi daerah operasi militer (DOM) dan represi militer di Aceh.

Aksi teror berbau fitnah atau lempar batu sembunyi tangan bahkan lebih sering dilakukan oleh kelompok atau negara besar.

Di level internasional, Amerika, misalnya, pernah menenggelamkan kapalnya sendiri di Teluk Tonkin, Laut China Selatan, dan menuduh Vietcong (Komunis Vietnam) pelakunya. Itu menjadi dalih serangan besar-besaran Amerika ke Vietnam.

Di level yang lebih kecil, Peristiwa Malari (Malapetaka 15 Januari 1974) diyakini merupakan gerakan teror palsu untuk mendiskreditkan demonstrasi mahasiswa. Peristiwa itu memberi pemerintah justifikasi untuk menindas gerakan mahasiswa dan memenjarakan para tokohnya.

                 ***** 

Sekali lagi: terorisme adalah kekerasan bermotif politik. Tanpa motif politik, bukan terorisme.

Tindakan seorang psikopat misalnya, yang tidak punya motif politik, bukanlah terorisme.

Karena merupakan kekerasan bermotif politik, maka politik pula yang akan menjadi dasar solusinya: negosiasi tuntutan politik dan menyediakan saluran damai aspirasi politik.

Kita punya pengalaman untuk itu, berkaitan dengan GAM misalnya. GAM ingin Aceh merdeka, sementara Indonesia bersikeras “NKRI Harga Mati”. Tapi, negosiasi politik berlangsung belakangan, kompromi pada akhirnya ditemukan, dan sekaligus menghentikan teror kedua pihak.

Di beberapa negeri lain, terorisme kelompok separatis diredam dengan cara memberi saluran politik damai: yakni lewat referendum. Misalnya Quebec di Kanada.

Penggemar klub Barcelona tahu bahwa Cataluna itu secara politik bukan Spanyol. Basque dan Cataluna terus berusaha memerdekakan diri dari Spanyol, bukan dengan cara kekerasan, namun lewat referendum.

Singkat kata, kita tak akan bisa membasmi terorisme tanpa mengudari motif atau mengetahui motif politik sebenarnya para pelaku.

Kita juga tak akan bisa memecahkan terorisme tanpa ada kawan yang kongkrit untuk negosiasi politik (sayap politik).

Selama 20 tahun kita telah diharu-biru terorisme, yang memakan begitu banyak korban nyawa, membawa banyak kesedihan, memicu sikap curiga antar umat beragama dan menggerus energi bangsa kita.

Mungkinkah solusi serupa ditemukan? Apa motif politik para teroris-teroris belakangan ini? Adakah sayap politik mereka yang bisa diajak negosiasi?

Di situlah letak masalahnya. Terorisme Islam di Indonesia agak ajaib: motif dan tuntutan politik mereka tidak jelas.

Sering disebut disebut oleh polisi dan badan intelijen, bahwa motif para teroris adalah akan mendirikan negara Islam atau khilafah. Tapi, motif itu terlalu abstrak untuk bisa dinegosiasikan. Di mana khilafah akan didirikan?

Teror Islam di Indonesia juga tidak koheren (nyambung) antara aksi dengan tujuan. Misalnya, bagaimana bom bunuh diri Gereja Katedral Surabaya atau menyerang sendirian Mabes Polri bisa mendukung berdirinya khilafah?

Dalam banyak kasus, seperti dua aksi mutakhir di Makassar dan Mabes Polri, tuntutan politik bahkan justru absen. Orang hanya tahu motif dari surat wasiat yang disodorkan polisi belakangan.

Motif politik tindakan terorisme lebih sering diungkapkan polisi dan para pengamat dibanding oleh tersangka teroris sendiri.

Lebih dari itu, tidak ada organisasi (sayap politik) yang bisa menampung leverage dari aksi teror. Dalam kasus GAM kita masih bisa menemukan kawan negosiasi: Wali Naggroe di pengasingan.

Kita tidak menemukan kawan negosiasi seperti itu dalam kasus-kasus teror belakangan ini.

Di situlah letak masalahnya, mengapa teror di Indonesia berlangsung lama dan sulit dicari solusinya.

Kalau tidak ada tuntutan politik dan tidak jelas motif politiknya, serta tak diketahui lawan negosiasi politiknya, ya artinya kita sedang melawan hantu.

Dan hantu bisa diciptakan oleh siapa saja, untuk tujuan apa saja.

Farid Gaban adalah Jurnalis Senior Republika.co.id

Sumber: Republika