Beranda blog Halaman 22

BMKG: Banda Aceh dan Aceh Besar Berawan Tebal, Hujan Ringan Berpotensi Terjadi Akhir Pekan

0
Ilustrasi hujan ringan. (Foto: RRI)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Sultan Iskandar Muda Aceh memprakirakan kondisi cuaca di wilayah Banda Aceh dan Aceh Besar didominasi cuaca berawan tebal dalam beberapa hari ke depan. Masyarakat juga diminta mewaspadai potensi hujan ringan dan kondisi udara kabur yang diperkirakan terjadi pada akhir pekan.

Forecaster on Duty BMKG, Angga Dita, mengatakan kondisi atmosfer di wilayah Aceh masih mendukung pertumbuhan awan hujan, terutama pada pagi hingga sore hari di sejumlah daerah.

“Wilayah Banda Aceh secara umum diprakirakan berawan tebal sejak Jumat hingga Minggu dengan suhu udara berkisar 25 hingga 32 derajat Celsius. Potensi hujan ringan diperkirakan terjadi pada Sabtu pagi,” kata Angga Dita kepada Nukilan, Kamis (14/5/2026).

Berdasarkan prakiraan BMKG, Kota Banda Aceh pada Jumat (15/5/2026) akan didominasi cuaca berawan tebal mulai dini hari hingga malam hari. Suhu udara maksimum diprakirakan mencapai 32 derajat Celsius dengan kecepatan angin berkisar 6 hingga 15 kilometer per jam. Sementara pada Sabtu (16/5/2026), hujan ringan berpotensi terjadi sekitar pukul 07.00 WIB sebelum cuaca kembali berawan tebal pada siang hingga malam hari.

Sementara itu, wilayah Aceh Besar diprakirakan mengalami kondisi cuaca yang lebih bervariasi. Pada Jumat, hujan ringan diprediksi turun pada sore hari, sedangkan kondisi udara kabur berpotensi terjadi pada siang dan malam hari. Suhu udara berkisar antara 24 hingga 31 derajat Celsius dengan kelembapan mencapai 90 persen.

BMKG juga memprakirakan potensi kabut atau asap masih terjadi di Aceh Besar pada Sabtu hingga Senin mendatang. Hujan ringan diprediksi terjadi pada dini hari, pagi, hingga malam hari pada Sabtu, sementara Minggu didominasi kondisi kabut/asap pada pagi hingga siang hari.

Untuk periode Senin hingga Kamis pekan depan, Banda Aceh diprakirakan masih didominasi cuaca berawan tebal dengan suhu udara berkisar 25 hingga 32 derajat Celsius. Sedangkan Aceh Besar berpotensi mengalami kabut/asap dan udara kabur dengan suhu minimum mencapai 18 derajat Celsius.

BMKG mengimbau masyarakat tetap waspada terhadap perubahan cuaca yang dapat terjadi secara tiba-tiba, terutama saat beraktivitas di luar ruangan dan berkendara pada malam atau dini hari akibat berkurangnya jarak pandang karena kabut maupun udara kabur. []

Reporter: Sammy

Yakin Allah Maha Kaya, Kisah Jemaah Haji Korban Banjir Aceh Tamiang yang Tetap Berangkat ke Tanah Suci

0
Hartati Musirun Mukmin, jemaah haji Indonesia asal Aceh Tamiang. (Dok. MCH 2026/Akmal)Olahraga Indonesia

NUKILAN.ID | MEKAH — Perjalanan Hartati Musirun Mukmin menuju Tanah Suci tidak dimulai dari kondisi yang serba berkecukupan. Jemaah haji asal Aceh Tamiang itu justru memulai langkahnya dari situasi penuh keterbatasan, setelah rumah warisan orang tuanya diterjang banjir bandang dan longsor, dokumen penting hanyut, hingga biaya pelunasan haji belum sepenuhnya tersedia.

Enam bulan lalu, musibah banjir bandang melanda kediamannya. Lumpur menimbun rumah tersebut hingga setinggi leher orang dewasa, membuat seluruh barang di dalam rumah tidak sempat diselamatkan.

“Air itu tiba-tiba langsung sreeet (menerjang) gitu naik. Jadi kami enggak bisa lagi sempat nyingkirkan (menyelamatkan). Barang tuh udah langsung habis, jadi nggak bisa diamankan lagi,” ungkapnya sebagaimana dikutip dari MI, Kamis (14/5/2026).

Tidak hanya perabot rumah tangga yang hilang, berbagai dokumen penting seperti KTP, kartu keluarga, hingga berkas pendaftaran haji juga ikut hanyut terbawa banjir. Dalam situasi sulit tersebut, Hartati mengaku hanya bisa berserah kepada Tuhan.

“Saya pun nggak tahu ke mana saya harus mengadu. Cuma saya mengadunya sama Allah,” ujarnya lirih.

Perempuan berusia 56 tahun itu mengaku hingga kini belum mampu memperbaiki rumahnya. Sejak sang suami, Muhammad Sofyan, meninggal dunia pada 2014, Hartati harus membesarkan ketiga anaknya seorang diri dengan kondisi ekonomi yang terbatas.

“Rumahnya belum bisa saya perbaiki, karena uang pun nggak ada untuk perbaiki rumah,” tuturnya.

Di tengah kondisi tersebut, keberangkatannya ke Tanah Suci sempat terancam karena masih kekurangan sekitar Rp17 juta untuk pelunasan biaya haji. Namun, ketiga anaknya bergotong royong membantu agar sang ibu tetap dapat memenuhi panggilan ibadah.

“Dengan izin Allah, karena panggilan Allah, berkat anak-anak saya, saya bisa ke sini,” katanya sambil menahan haru.

Hartati mengaku sempat sulit percaya ketika akhirnya mendapat kepastian berangkat haji tahun ini. Pasca bencana, ia bahkan tidak tahu dari mana biaya pelunasan akan diperoleh.

“Karena kita tuh nggak tahu uang di mana, ya saya bilang, Insya Allah, bu, mudah-mudahan ada rezeki dari mana. Saya bilang kayak gitu,” ujarnya.

Selain persoalan biaya, proses pengurusan dokumen juga menjadi tantangan tersendiri. Beruntung, data kependudukan Hartati masih tersimpan dalam sistem pemerintah sehingga proses pencetakan ulang dokumen dapat dilakukan dengan cepat.

Koordinator dan Pengendali Jemaah Haji Aceh, Jamaluddin Affan Asyi, mengatakan pemerintah Aceh bersama pihak Imigrasi bergerak cepat membantu para jemaah korban banjir agar tetap dapat berangkat ke Tanah Suci.

“Maka, jamaah haji Aceh cukup mencocokkan ulang sidik jari mereka di Dispendukcapil. Dari situ datanya langsung keluar semua,” tutur Jamal.

Bahkan, proses pengurusan dokumen sempat dilakukan di sebuah warung kopi yang masih memiliki sambungan internet setelah bencana melanda wilayah tersebut.

Jamaluddin juga mengungkapkan bahwa dampak bencana di Aceh Tamiang sangat berat. Dari sekitar 150 calon jemaah haji di daerah tersebut, pada tahap awal pelunasan hanya satu orang yang mampu melunasi biaya keberangkatan.

“Tamiang itu adalah daerah yang sangat-sangat berat bencana, di sana ada jemaah haji 150 jemaah haji pada saat pelunasan pertama, ya hanya baru satu orang,” ungkapnya.

Melihat kondisi itu, pemerintah menerapkan strategi jemput bola. Tim Kementerian Haji dan Umrah bersama pemerintah daerah turun langsung ke lapangan untuk membantu proses istita’ah kesehatan hingga koordinasi dengan pihak perbankan agar pelunasan dapat dipermudah.

Kini, di tengah jutaan jemaah dari berbagai negara yang memadati Kota Mekah, Hartati menjalani ibadah dengan penuh rasa syukur. Musibah yang menimpa hidupnya tak lagi menjadi beban yang terus diratapi.

“Walaupun saya nggak ada rumah, saya lebih dekat sama Allah,” ucapnya pelan.

Saat berada di Tanah Suci, Hartati juga menerima bantuan dana wakaf sebesar 2.000 ريال Saudi dari Waqaf Baitul Asyi. Sebagian dana tersebut digunakan untuk kebutuhan selama berhaji, sementara sisanya ingin ia simpan sebagai bekal hidup setelah kembali ke Indonesia.

Di balik seluruh kehilangan yang dialaminya, Hartati tetap percaya bahwa selalu ada jalan bagi mereka yang yakin pada pertolongan Tuhan. Baginya, panggilan berhaji bukan semata tentang kemampuan materi.

“Mungkin pulang dari sini saya dapat rezeki. Entah rezeki apa saya nggak tahu, rahasia Allah. Cuma saya yakin saya pulang dari sini saya dapat rezeki dari Allah,” katanya.

Dari Kota Mekah, Hartati juga menitipkan pesan bagi masyarakat agar tidak takut bermimpi menunaikan ibadah haji meski sedang berada dalam kondisi sulit.

“Kan Allah itu Maha Kaya. Betul tidak?” tutupnya.

Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News

Bupati Aceh Barat Siapkan Tim Investigasi Usai Warga Keluhkan Dugaan Limbah Pabrik Sawit

0
Bupati Aceh Barat, Tarmizi. (Foto: Pemkab Aceh Barat)

NUKILAN.ID | MEULABOH — Bupati Aceh Barat, Tarmizi, menyatakan pemerintah kabupaten akan menurunkan tim investigasi menyusul adanya aduan masyarakat terkait dugaan dampak limbah pabrik kelapa sawit di Kecamatan Bubon.

Pernyataan itu disampaikan Tarmizi saat agenda Berkantor Sehari di Gampong Peulanteu SP, Kecamatan Bubon, Rabu (13/5/2026), setelah sejumlah geuchik menyampaikan aspirasi warga mengenai persoalan lingkungan yang diduga berkaitan dengan aktivitas perusahaan sawit di wilayah tersebut.

Para geuchik dari sejumlah gampong di sekitar kawasan perusahaan menyebut masyarakat mulai merasakan dampak yang diduga berasal dari limbah pabrik, sehingga meminta pemerintah daerah segera mengambil langkah penanganan.

Menanggapi keluhan tersebut, Tarmizi mengatakan pemerintah daerah akan memanggil pihak-pihak terkait serta melakukan audit investigatif guna memastikan kondisi yang sebenarnya di lapangan.

“Harus dipanggil, nanti harus kita turunkan tim untuk lakukan audit investigatif memastikan itu jangan sampai merugikan masyarakat,” kata Tarmizi.

Ia menegaskan pemerintah daerah tidak ingin mengambil keputusan tanpa dasar yang jelas, sehingga proses pemeriksaan lapangan dinilai penting agar setiap kebijakan yang diambil benar-benar berdasarkan fakta dan data yang dapat dipertanggungjawabkan.

“Kita harus memastikan dulu kondisi sebenarnya di lapangan, karena keputusan pemerintah harus berdasarkan data dan informasi yang valid,” ujarnya.

Selain persoalan dugaan limbah pabrik sawit, dalam kegiatan tersebut para geuchik juga menyampaikan sejumlah persoalan lain yang dihadapi masyarakat, mulai dari infrastruktur, pelayanan publik, hingga persoalan ekonomi. Berbagai aspirasi itu langsung ditanggapi oleh bupati bersama kepala SKPK yang turut hadir.

Tarmizi mengatakan program Berkantor Sehari menjadi ruang komunikasi antara pemerintah daerah dan masyarakat agar berbagai persoalan yang muncul di lapangan dapat diketahui secara langsung dan segera ditindaklanjuti.

“Kegiatan seperti ini penting agar pemerintah mengetahui langsung persoalan masyarakat dan bisa segera mencari solusi bersama,” katanya.

Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News

Jubir Pemerintah Aceh Sebut Massa Aksi Demo JKA Menolak Dialog

0
Dr Nurlis Effendi, Juru Bicara (Jubir) Pemerintah Aceh. (Foto: For Nukilan)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH — Juru Bicara Pemerintah Aceh, Nurlis Effendi, menyatakan aksi unjuk rasa mahasiswa terkait penolakan Pergub Jaminan Kesejahteraan Aceh (JKA) berlangsung sesuai ketentuan yang berlaku, meskipun dalam pelaksanaannya diwarnai penolakan dialog dari pihak peserta aksi.

“Walaupun mahasiswa menolak dialog, namun mereka telah menjalankan perannya dan polisi juga melaksanakan tugasnya,” kata Nurlis di Banda Aceh, Kamis (14/5/2026).

Menurut Nurlis, Pemerintah Aceh telah beberapa kali berupaya membuka ruang komunikasi dengan para pengunjuk rasa melalui pendekatan akademik. Namun, upaya tersebut disebut tidak mendapat tanggapan dari massa aksi.

“Mereka benar-benar menolak berdialog, tapi itu hak mereka juga,” ujarnya.

Ia menjelaskan, sejumlah pejabat Pemerintah Aceh sebelumnya juga telah mencoba membangun komunikasi, di antaranya Sekretaris Daerah Aceh, Nasir Syamaun, Asisten III Setda Aceh, Murtala, serta Kepala Inspektorat Aceh, Abdullah. Namun, menurutnya, upaya tersebut juga belum mendapat respons dari peserta aksi.

Pada unjuk rasa yang berlangsung Rabu (13/5/2026), pemerintah kembali menurunkan Pelaksana Tugas Kepala Dinas Kesehatan Aceh, Ferdiyus, bersama Pelaksana Tugas Kepala Biro Hukum Aceh, Dekstro Alfa, untuk membuka ruang komunikasi dengan massa.

“Namun mereka tidak mau berdialog,” katanya.

Meski aksi berlangsung dinamis di lapangan, Nurlis menegaskan Pemerintah Aceh tetap terbuka terhadap kritik yang disampaikan masyarakat, baik melalui aksi di ruang publik maupun media sosial. Menurutnya, seluruh masukan tersebut menjadi bahan evaluasi pemerintah, termasuk terkait Pergub Nomor 2 Tahun 2026 tentang Jaminan Kesejahteraan Aceh.

“Pemerintah Aceh tidak alergi dengan kritik. Semua itu menjadi bahan evaluasi, termasuk terhadap Pergub Nomor 2 Tahun 2026 tentang Jaminan Kesejahteraan Aceh,” ujarnya.

Ia juga menyampaikan bahwa aksi tersebut merupakan hari terakhir dari izin unjuk rasa yang diajukan selama tiga hari kepada Polresta Banda Aceh. Menurutnya, aparat kepolisian telah beberapa kali mengingatkan agar aksi berlangsung secara tertib.

“Namun ada upaya mendobrak barikade untuk memasuki area kantor gubernur,” katanya.

Nurlis menambahkan, massa aksi juga disebut tidak mengindahkan imbauan aparat untuk membubarkan diri setelah batas waktu unjuk rasa berakhir pada pukul 18.00 WIB. Kondisi tersebut, kata dia, membuat aparat akhirnya melakukan penertiban di lokasi aksi.

“Polisi sudah mengimbau batas waktu, tapi massa tetap bertahan di halaman kantor gubernur sehingga dilakukan penertiban,” ujarnya.

Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News

Plt Direktur PDAM Tirta Mountala dan Banleg DPRK Aceh Besar Tinjau Lokasi Pembangunan WTP Seulimuem

0
Anggota Banleg DPRK Aceh Besar bersama jajaran PDAM Tirta Mountala Aceh Besar meninjau lokasi pembangunan WTP Seulimuem di Gampong Seuneubok, Kecamatan Seulimuem, Aceh Besar, Kamis (14/5/2026). (FOTO: MC ACEH BESAR)

NUKILAN.ID | JANTHO – Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Utama PDAM Tirta Mountala Aceh Besar, Ir Yusmadi, MM, bersama Badan Legislasi (Banleg) DPRK Aceh Besar melakukan peninjauan langsung ke lokasi pembangunan Water Treatment Plant (WTP) Seulimuem yang berada di Gampong Seuneubok, Kecamatan Seulimuem, Aceh Besar, Kamis (14/5/2026).

Kunjungan tersebut dilakukan untuk memastikan kesiapan lahan sekaligus mempercepat proses administrasi pelepasan aset yang menjadi salah satu syarat penting sebelum proyek strategis penyediaan air bersih itu direalisasikan.

Ketua Banleg DPRK Aceh Besar, Ridha Hidayatullah, SHi., MH., mengatakan pihaknya ingin memastikan proses pengalihan aset dari Pemerintah Kabupaten Aceh Besar kepada PDAM Tirta Mountala dapat berjalan dengan baik dan memiliki landasan hukum yang kuat.

Menurut Ridha, saat ini DPRK Aceh Besar sedang mempersiapkan Rancangan Qanun (Raqan) terkait pelepasan aset tersebut dan ditargetkan segera memasuki tahap finalisasi.

“Kita ikut memastikan bahwa mengenai aset dari Pemkab ke PDAM ini clear. Kita di Banleg mendukung mengenai qanun,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa kepastian status aset sangat penting agar pembangunan WTP Seulimuem tidak menimbulkan persoalan hukum di kemudian hari. Karena itu, Banleg DPRK Aceh Besar berkomitmen menuntaskan pembahasan regulasi tersebut dalam waktu dekat.

“Kita di Banleg siap membahas Raqan dan insyaallah masuk tahap finalisasi, minggu depan insyaallah selesai,” katanya.

Selain membahas aspek regulasi, DPRK Aceh Besar juga berencana menggelar Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) di Kecamatan Seulimuem dan Kuta Cot Glie sebagai wilayah yang nantinya akan menerima manfaat dari proyek penyediaan air bersih tersebut.

Sementara itu, Plt Direktur Utama PDAM Tirta Mountala Aceh Besar, Ir Yusmadi, MM, menyampaikan apresiasinya kepada anggota DPRK Aceh Besar yang tetap turun langsung ke lapangan meskipun berada di tengah masa libur.

Menurut Yusmadi, pembangunan WTP Seulimuem merupakan kebutuhan mendesak bagi masyarakat di Kecamatan Seulimuem, Kuta Cot Glie, dan daerah sekitarnya. Fasilitas itu direncanakan mampu melayani sekitar 4.000 sambungan rumah dengan kapasitas distribusi air mencapai 40 liter per detik.

“WTP Seulimuem ini merupakan hajat hidup orang banyak di wilayah Kecamatan Seulimuem, Kuta Cot Glie dan sekitarnya,” katanya.

Ia menjelaskan, pembangunan WTP tersebut mendapat dukungan anggaran APBN aspirasi anggota DPR RI sebesar Rp47 miliar dan akan dibangun di atas lahan seluas 3.300 meter persegi.

Karena itu, PDAM Tirta Mountala berharap dukungan penuh dari masyarakat selama proses pembangunan berlangsung agar proyek tersebut dapat berjalan lancar tanpa hambatan.

“Kita mohon nanti masyarakat di sini membantu pada saat pembangunan jangan ada kendala apapun, karena ini merupakan uang dari pusat yang cukup besar yaitu Rp47 miliar,” kata Yusmadi.

Amatan Nukilan.id, peninjauan lapangan tersebut turut dihadiri sejumlah anggota DPRK Aceh Besar, yakni Zulfikar, SH., MKn., Tgk. Irfan Siddiq, SPd., Maulana Akbar, Dr. Yusran Yunus, SPd.I., MA., H. Syahrizal, S.Kom., dan Muslim.

Dari pihak PDAM Tirta Mountala Aceh Besar hadir Direktur Umum Devid Zainal, SE., serta Direktur Teknis Ir. Salman, ST., MSi. Kegiatan itu juga dihadiri Kabag Ekonomi dan Sumber Daya Alam Aceh Besar, Darwan Asrizal, SE., MT., serta Kasubsi Datun Kejari Aceh Besar Haris Akbar. (XRQ)

Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News

Projo Sebut Jokowi Kerap Didatangi Tokoh Masyarakat hingga Kepala Desa dari Aceh sampai Papua

0
Presiden ke-7 Republik Indonesia, Joko Widodo (Jokowi), Kamis (6/11/2025). (Sumber: KOMPAS.COM/Fristin Intan Sulistyowati)

NUKILAN.ID | JAKARTA — Sekretaris Jenderal Projo, Freddy Alex Damanik, mengungkapkan bahwa Presiden ke-7 Republik Indonesia Joko Widodo masih kerap menerima kunjungan dari berbagai elemen masyarakat, mulai dari tokoh masyarakat hingga kepala desa dari berbagai daerah di Indonesia.

“Beliau juga selalu didatangi oleh masyarakat, tokoh-tokoh masyarakat, termasuk para kepala desa dari seluruh Indonesia. Mulai dari Aceh sampai dengan Papua,” kata Freddy.

Menurut Freddy, interaksi yang terus terjalin dengan berbagai tokoh dari daerah membuat Jokowi memahami secara mendalam kondisi masyarakat Indonesia saat ini.

“Jadi Pak Jokowi mengetahui dan memahami betul kondisi masyarakat Indonesia saat ini,” ujarnya.

Freddy juga menyebut Jokowi masih rutin menerima berbagai laporan, termasuk hasil survei terkait kondisi sosial, politik, dan ekonomi nasional.

“Pak Jokowi juga masih selalu dikirimin laporan-laporan maupun hasil-hasil survei kondisi sosial, politik, ekonomi kita saat ini. Sehingga beliau memahami betul semuanya,” ucap Freddy.

Ia menambahkan, atas dasar pemahaman tersebut, Jokowi menyampaikan pesan kepada para relawannya agar selalu siap membantu masyarakat dalam berbagai situasi.

“Oleh karena itu Pak Jokowi menyampaikan kepada relawannya agar selalu siap membantu masyarakat dan selalu bersiap-siap dengan kondisi apapun.”

Selain itu, Freddy mengungkapkan bahwa Jokowi berencana melakukan perjalanan keliling Indonesia mulai Juni 2026, menyusul kondisi kesehatannya yang disebut telah pulih hampir sepenuhnya, yakni sekitar 99 persen.

“Benar sekali bahwa pernyataan tersebut disampaikan Pak Jokowi kepada para relawannya, pada pertemuan Pak Jokowi dengan relawannya pada tanggal 1 Mei 2026 yang lalu di daerah Rawamangun,” kata dia.

Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News

Empat Atlet Wushu Aceh Besar Lolos ke PORA XIV, Dua Sabet Medali Emas

0
Empat Atlet Wushu Aceh Besar Lolos ke PORA XIV, Dua Sabet Medali Emas. (Foto: Humas Abes)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Pengurus Cabang (Pengcab) Wushu Aceh Besar memastikan empat atlet berhasil mengamankan tiket menuju Pekan Olahraga Aceh (PORA) XIV setelah mengikuti babak kualifikasi cabang olahraga Wushu yang berlangsung di Banda Aceh sejak 9 Mei 2026.

Dari empat atlet yang dinyatakan lolos, dua di antaranya sukses meraih medali emas untuk kontingen Aceh Besar. Kedua atlet tersebut adalah M Saif Ritonga yang bertanding di kelas 75 kilogram putra serta Rabil Di Maret yang turun di kelas 56 kilogram putra.

Sementara itu, dua atlet lainnya yang juga dipastikan tampil pada PORA XIV adalah Novriza Raihanda di kelas 48 kilogram putri dan Sri Ardianti di kelas 52 kilogram putri. Keduanya memperoleh tiket melalui jalur wildcard berkat pengalaman mereka yang sebelumnya pernah memperkuat Aceh pada ajang Pekan Olahraga Nasional (PON).

Ketua Pengcab Wushu Aceh Besar, Muhajir SSTP MPA, kepada Nukilan.id menyampaikan apresiasi kepada seluruh atlet dan tim pelatih atas kerja keras yang telah ditunjukkan selama babak kualifikasi berlangsung.

“Alhamdulillah, empat atlet Wushu Aceh Besar berhasil lolos ke PORA. Dua atlet kita bahkan mampu meraih medali emas pada babak kualifikasi ini. Ini tentu menjadi kebanggaan bagi Aceh Besar,” kata Muhajir saat menghadiri penyerahan medali kepada atlet di Banda Aceh, Kamis (14/5/2026).

Menurut Muhajir, capaian tersebut menjadi bukti bahwa proses pembinaan atlet Wushu di Aceh Besar terus menunjukkan perkembangan yang positif.

“Keberhasilan ini tidak lepas dari disiplin latihan para atlet dan dukungan semua pihak. Kami berharap para atlet terus menjaga performa agar nantinya mampu memberikan hasil terbaik pada PORA mendatang,” ujarnya.

Ia menambahkan, kehadiran atlet-atlet yang memiliki pengalaman bertanding di level nasional, khususnya mereka yang pernah tampil di PON, menjadi kekuatan tambahan bagi tim Wushu Aceh Besar dalam menghadapi persaingan di PORA XIV.

“Kami optimis dengan kekuatan yang dimiliki saat ini, termasuk atlet wildcard yang memiliki pengalaman bertanding di level lebih tinggi, Aceh Besar dapat bersaing dan meraih prestasi maksimal di PORA nanti,” katanya.

Selain empat atlet yang telah dipastikan lolos, Pengcab Wushu Aceh Besar juga masih menunggu keputusan resmi dari Pengprov Wushu Aceh terkait peluang satu atlet putri lainnya, Inayah Adilla J, yang bertanding di kelas 60 kilogram putri.

“Saat ini kita masih menunggu pengumuman dari Pengprov Wushu Aceh terkait atlet putri atas nama Inayah Adilla J kelas 60 kilogram putri. Kemungkinan besar juga akan lolos ke PORA tahun ini,” ungkap Muhajir.

Apabila Inayah Adilla J nantinya dinyatakan lolos, maka jumlah atlet Wushu Aceh Besar yang akan berlaga pada PORA XIV bertambah menjadi lima orang.

“Jika nanti dinyatakan lolos, maka Aceh Besar akan mengirim lima atlet Wushu ke PORA XIV nantinya,” pungkasnya. (XRQ)

Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News

Pemerintah Aceh Buka Beasiswa S3 Timur Tengah 2026, Fokus Cetak Kader Ulama dan Akademisi Islam

0
Pemerintah Aceh Buka Beasiswa S3 Timur Tengah 2026, Fokus Cetak Kader Ulama dan Akademisi Islam. (Foto: For Nukilan)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH — Pemerintah Aceh melalui Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Aceh resmi membuka pendaftaran Beasiswa Program Doktor (S3) Timur Tengah Tahun Anggaran 2026. Program tersebut menjadi bagian dari upaya penguatan sumber daya manusia di lingkungan dayah dan pesantren, sekaligus mencetak kader ulama serta akademisi Islam yang memiliki kompetensi sesuai kebutuhan masyarakat Aceh.

Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Aceh, Marthunis, menjelaskan program beasiswa ini disusun untuk mendukung visi dan misi Pemerintah Aceh dalam mewujudkan pelaksanaan syariat Islam secara kaffah melalui peningkatan kualitas dan kualifikasi tenaga pengajar dayah maupun pesantren.

Program studi doktoral tersebut difokuskan pada perguruan tinggi di kawasan Timur Tengah yang berhaluan Ahlussunnah wal Jama’ah, dengan penekanan pada pengkajian Mazhab Syafi’i, guna menjaga kesinambungan pemahaman keagamaan masyarakat Aceh.

“Program ini bukan sekadar pengembangan individu, tetapi bertujuan memperkuat sistem pendidikan Dayah dan keberlanjutan syariat Islam di Aceh. Penerima beasiswa diwajibkan melakukan pengabdian di lingkungan Dayah/Pesantren setelah menyelesaikan studinya,” ujar Marthunis.

Beasiswa ini diperuntukkan bagi bidang keilmuan Islam yang otoritatif, meliputi Tafsir, Hadist, Filsafat, dan Fiqh.

Pemerintah Aceh menyediakan pembiayaan secara menyeluruh, mencakup biaya pendidikan, biaya hidup, asuransi, buku, tugas akhir, biaya ketibaan, visa, hingga tiket pesawat pulang-pergi kelas ekonomi. Masa pembiayaan diberikan selama maksimal tiga tahun, dengan kemungkinan perpanjangan hingga satu tahun.

Adapun tahapan seleksi yang telah ditetapkan sebagai berikut:

  • Pendaftaran online: 13 Mei – 9 Juni 2026
  • Seleksi administrasi: 10 – 12 Juni 2026
  • Pengumuman administrasi: 17 Juni 2026
  • TPA dan wawancara: 22 – 26 Juni 2026
  • Pengumuman akhir: 3 Juli 2026

Seluruh proses seleksi disebut akan dilaksanakan secara transparan guna memastikan terpilihnya calon penerima beasiswa yang memiliki kapasitas akademik serta komitmen kuat terhadap pengembangan ilmu keislaman di Aceh.

Pendaftaran dilakukan melalui tautan: https://bit.ly/PendaftaranS3Timteng

Informasi lebih lanjut juga dapat diakses melalui pengumuman resmi Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Aceh atau melalui email pokja1bidkerjasama@gmail.com.

Sebagai bentuk komitmen dalam mewujudkan pembangunan zona integritas, jika terdapat penyimpangan atau pelanggaran kode etik oleh pegawai BPSDM Aceh saat menerima layanan mohon melaporkan ke saluran pengaduan* : http://bpsdmaceh.lapor.go.id/

Tautan unduhan :
Surat Pernyataan
Surat Rekomendasi
Surat Pakta Integritas
Penetapan Jurusan dan Negara Tujuan

Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News

Pulihkan Trauma Korban Banjir, KAGAMA Aceh Hadirkan Layanan Psikososial di Aceh Utara

0
KAGAMA Aceh bersama Psikodista Konsultan dan Perumda Tirta Pase Aceh Utara menggelar layanan Psikososial di Gampong Glee Dagang, Sawang, Aceh Utara, Sabtu (9/5/2026). (Foto: KAGAMA)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH — Keluarga Alumni Gadjah Mada (KAGAMA) Aceh bersama Psikodista Konsultan dan Perumda Tirta Pase Aceh Utara menggelar layanan psikososial bagi warga terdampak banjir di Gampong Glee Dagang, Kecamatan Sawang, Aceh Utara, Sabtu (9/5/2026).

Kegiatan bertajuk “Psikososial untuk Ibu dan Anak” tersebut diikuti sekitar 300 peserta, terdiri dari 200 ibu-ibu dan remaja putri serta sekitar 100 anak-anak yang menjadi penyintas banjir.

Dari unsur KAGAMA Aceh, kegiatan dihadiri Wakil Ketua KAGAMA Aceh Nur Janah Alsharafi, Wakil Koordinator Bidang Fasilitasi dan Pemberdayaan Alumni Cut Mita, Mirwatul Uli dari Bidang Sosial dan Keagamaan, serta Daru Tri Hidayat dari Bidang Penelitian dan Pengembangan.

Mereka berkolaborasi dengan tim Psikodista Konsultan yang terdiri dari Nur Janah, Bachtiar Nitura, Etriya, Farah, dan sejumlah anggota lainnya. Kegiatan ini juga didukung tim Perumda Tirta Pase Aceh Utara yang dipimpin Direktur Teknik Ferry Syahputra bersama Syahrul, Henny, dan tim.

Dalam kegiatan tersebut, para penyintas memperoleh layanan konseling psikologis sekaligus menerima ratusan paket bantuan berupa kebutuhan pokok, perlengkapan mandi, susu, makanan ringan, jilbab, perlengkapan sekolah, hingga air mineral merek IELOEN, produk Perumda Tirta Pase Aceh Utara.

Kegiatan dibuka oleh Keuchik Gampong Glee Dagang yang menyampaikan apresiasi atas kepedulian berbagai pihak terhadap warga terdampak banjir.

Sambutan juga disampaikan Direktur Teknik Perumda Tirta Pase Aceh Utara Ferry Syahputra serta Direktur Utama Psikodista Konsultan Bachtiar Nitura.

Dalam sambutannya, Ferry turut mengedukasi masyarakat mengenai pentingnya konsumsi air bagi kesehatan tubuh sekaligus memperkenalkan produk air mineral lokal IELOEN yang telah memenuhi standar halal dan kesehatan.

“Produk ini merupakan inovasi Perumda Tirta Pase Aceh Utara yang dalam waktu dekat akan diluncurkan untuk masyarakat luas,” ujarnya.

Sementara itu, Bachtiar Nitura menjelaskan bahwa program psikososial yang dijalankan Psikodista Konsultan merupakan bentuk komitmen dalam memberikan perhatian dan layanan kepada masyarakat Aceh yang terdampak bencana di berbagai daerah.

Selanjutnya, Nur Janah Alsharafi memberikan konseling psikologis dan terapi pengelolaan emosi kepada peserta. Dalam sesi tersebut, para peserta diajak mempraktikkan berbagai teknik terapi sederhana untuk membantu mengelola stres, rasa takut, kesedihan, kemarahan, serta emosi negatif lainnya, sekaligus membangun rasa bahagia demi menjaga kesehatan mental.

Kegiatan yang berlangsung sekitar dua jam itu berjalan interaktif. Para ibu, remaja putri, hingga anak-anak tampak aktif mengikuti setiap sesi terapi yang diberikan.

Disebutkan, hingga kini masih banyak penyintas banjir yang mengalami trauma dan ketakutan setiap kali hujan deras turun.

Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News

Kemenag Minta Maaf Terkait Busana Adat Aceh yang Dipakai Menag dalam Video Bulan Maria

0
Menteri Agama Rai Nasaruddin Umar menjadi sorotan publik setelah mengenakan pakaian adat Aceh saat menyampaikan ucapan terkait Bulan Maria 2026. (FOTO: TANGKAP LAYAR VEDIO BIRO HUMAS DAN KOMUNIKASI PUBLIK KEMENTERIAN AGAMA)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Kementerian Agama (Kemenag) menyampaikan permohonan maaf terkait polemik video ucapan menyambut Bulan Maria 2026 yang menampilkan Menteri Agama Nasaruddin Umar mengenakan busana adat Aceh.

Kepala Biro Humas dan Komunikasi Publik (HKP) Kemenag, Thobib Al Asyhar, menegaskan bahwa pihaknya menghargai berbagai kritik yang muncul dari masyarakat dan menjadikan persoalan tersebut sebagai bahan evaluasi untuk ke depan. Ia juga memastikan tidak ada niat sedikit pun dari Kemenag untuk merendahkan nilai kesakralan pakaian adat Aceh.

“Kami menghormati respons sebagian masyarakat Aceh terkait baju yang dikenakan Menag dalam rekaman video greetings Bulan Maria. Saran yang disampaikan menjadi masukan perbaikan di masa mendatang,” ujar Thobib.

Thobib menjelaskan, proses pengambilan video itu dilakukan bersamaan dengan agenda peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) pada 2 Mei 2026. Menurutnya, sebelum upacara berlangsung terdapat dua agenda perekaman, yakni ucapan Hardiknas 2026 dan tayangan menyambut Bulan Maria.

Ia mengatakan, Menteri Agama memang secara khusus mengenakan pakaian adat Aceh untuk momentum peringatan Hardiknas tersebut.

“Perlu kami sampaikan bahwa rekaman tersebut dilakukan bersamaan dengan persiapan upacara Hari Pendidikan Nasional. Saat itu, Menag didapuk menjadi Inspektur Upacara dan sesuai tema nasional, beliau mengenakan busana adat Nusantara, dalam hal ini baju adat Aceh,” jelas Thobib.

“Keputusan mengenakan baju Aceh dalam upacara Hardiknas adalah bentuk penghormatan Menag terhadap identitas budaya Serambi Mekkah pada momen nasional tersebut,” sambungnya.

Untuk meredam polemik yang berkembang di tengah masyarakat, Kemenag memastikan telah mengambil langkah cepat dengan melakukan perbaikan terhadap tayangan tersebut.

“Kami juga mohon maaf atas hal ini. Menag juga sudah melakukan rekaman ulang greetings Bulan Maria dengan tidak mengenakan baju adat daerah,” ujarnya.

Polemik ini bermula ketika Menag Nasaruddin Umar tampil mengenakan pakaian adat Aceh dalam video ucapan menyambut Bulan Maria yang ditujukan bagi umat Katolik. Dalam tradisi Gereja Katolik, Bulan Maria diperingati setiap Mei sebagai momen khusus untuk menghormati Bunda Maria melalui berbagai devosi, doa rosario, dan ziarah.

Sebelumnya, LSM Gadjah Puteh mengecam penggunaan pakaian adat Aceh beserta atributnya dalam konteks tersebut karena dinilai tidak menghormati nilai-nilai syariat Islam dan marwah masyarakat Aceh. Mereka menilai pakaian adat Aceh bukan sekadar busana budaya, melainkan simbol kehormatan, identitas, serta nilai religius masyarakat Aceh sebagai daerah bersyariat Islam dengan mayoritas penduduk muslim.

Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News