Beranda blog Halaman 2199

Bukan Darat, Angkutan Laut di Aceh Tetap Beroperasi, Ini Penjelasannya

0
KMP Aceh Hebat 1. (Foto: Dishub Aceh)

Nukilan.id – Berbeda dengan angkutan Darat di wilayah Aceh yang dilarang beroperasi mulai tanggal 6 hingga 17 Mei 2021 untuk lintasabupaten, Angkutan penyeberangan laut tetap beroperasi karena memenuhi Peraturan Menteri No. 13 tahun 2021.

PM tersebut berbunyi pengendalian angkutan laut dan penyeberangan dalam wilayah Aceh merupakan angkutan pelayaran di daerah perintis, daerah tertinggal, terpencil, terluar dan perbatasan negara.

“Hal tersebut menjadi dasar kapal laut diizinkan berlayar, di samping juga untuk mencegah kelangkaan logistik di kepulauan,” kata Kepala Bidang Pelayaran Dinas Perhubungan Aceh, Muhammad Al Qadri dalam keterangannya di Banda Aceh, Kamis (6/5/2021).

Selain tidak bertentangan dengan PM 13, kebijakan untuk tetap beroperasinya angkutan penyeberangan, Dishub Aceh telah melakukan rapat koordinasi dengan Dishub Kabupaten/kota yang dilayani oleh lintasan penyeberangan, Syahbandar dan Balai Pengelola Transportasi Darat Wilayah I Aceh Kementerian Perhubungan.

“Hasil Kesepakatan Bersama Rapat Koordinasi instansi terkait Tanggal 04 Mei 2021 Tentang Pengendalian Transportasi Selama Masa Idul Fitri 1442 Hijriah Khusus Angkutan Penyeberangan Lintasan Antar Kabupaten/kota dalam Provinsi Aceh tetap beroperasi untuk menghindari kelangkaan logistik di kepulauan,” demikian Al Qadri. []

AHY dan Anies Saling Apresiasi, Selanjutnya Ingin Terus Berkolaborasi

0
Ketum AHY dan Anies saat menyampaikan keterangan pers kepada media selepas bertemu. (Foto: DPP PD)

Nukilan.id – “Kami keluarga besar Partai Demokrat ingin terus juga bersinergi, berkolaborasi, dan mendukung langkah-langkah yang dilakukan oleh pemerintah DKI Jakarta dalam menangani dan menghadapi krisis pandemi, juga dalam rangka memulihkan ekonomi,” kata Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) kepada awak media setelah melakukan silaturahmi dengan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan di Balai Kota Jakarta, Kamis (6/5) sore.

Ketum AHY mengatakan, menjadi pemimpin di masa pandemi merupakan kondisi yang sangat berat. Untuk itu, kinerja Gubernur Anies saat ini patut diberikan apresiasi.

“Kami apresiasi segala kerja yang dikerjakan oleh Pak Anies Baswedan sebagai Gubernur Jakarta,” ucap Ketum AHY.

AHY juga menjelaskan, silaturahmi ini dilakukan untuk meyakinkan kehadiran semua pihak dalam situasi negeri seperti sekarang ini.

“Kami hanya ingin meyakinkan bahwa dalam situasi negeri yang membutuhkan kehadiran kita semua, negara hadir, pemerintah hadir, partai-partai politik hadir, dan semua elemen bangsa juga harus hadir, itulah diskusi kita tadi. Jadi mudah-mudahan dengan banyak pengalaman dan diskusi yang kita lakukan, bisa memperkuat upaya kita berkontribusi untuk negeri ini. mudah-mudahan silaturahmi semacam ini bisa terus kita jalin dan kita bawa ke tempat-tempat yang lain,” ujar Ketum AHY.

Membalas AHY, Anies juga mengapresiasi kepada AHY dan seluruh jajaran Partai Demorkat.

“Kita mendiskusikan tadi bersama Mas Agus berbagai tantangan yang ada di Jakarta dan saya sampaikan apresiasi kepada Mas Agus dan seluruh jajaran Partai Demokrat yang selama ini telah bekerja bersama. Partai Demokrat baru saja melewati masa ujian yang tidak sederhana, insya Allah ini akan membuat kepemimpinan makin solid, partai juga semakin solid, dan makin memberikan manfaat untuk semua. Kami terima kasih atas kesempatan untuk bisa menerima dan bersilaturahmi pada sore hari ini,” tutur Anies.

Pada pertemuan itu Gubernur Anies memberikan AHY cendera mata sebuah buku yang berisi potret Jakarta selama pandemi yang berjudul “Potret Jakarta 2020: Kolaborasi Melawan Pandemi. Sementara AHY memberikan Anies sebuah kaos bertuliskan “Muda adalah Kekuatan”. (dna/csa)

Ramos, Penyebab Madrid Gagal ke Final Liga Champions

0

Nukilan.id – Sergio Ramos jadi penyebab kegagalan Real Madrid ke final Liga Champions musim ini. Madrid gagal ke final Liga Champions usai kalah 0-2 dari Chelsea di leg kedua semifinal di Stamford Bridge, Kamis (6/5) dini hari WIB.

Dua gol kemenangan The Blues atas Los Blancos dicetak Timo Werner pada menit ke-28 setelah memanfaatkan rebound Kai Havertz yang membentur mistar gawang.

The Blues menggandakan kedudukan sekaligus mengunci kemenangan menjadi 2-0 berkat gol Mason Mount di menit ke-85 setelah menerima operan Christian Pulisic.

Sayangnya, dua gol tuan rumah itu tercipta berkat blunder bek sekaligus kapten Madrid, Sergio Ramos.

Pada gol pertama Chelsea, Ramos gagal menghentikan pergerakan Werner. Berniat mencuri bola yang akan dikontrol Werner, Ramos justru terjatuh.

Alhasil, pertahanan Madrid hanya menyisakan Eder Militao, dan Werner memainkan operan satu-dua dengan N’Golo Kante yang dilanjutkan dengan umpan terobosan kepada Kai Havertz.

Tanpa penjagaan ketat, Havertz pun tinggal berhadapan dengan kiper Thibaut Courtois dan langsung melepaskan tendangan lob. Upaya Havertz sempat membentur mistar gawang, namun bola liar langsung disambar Werner dengan sundulan guna menjadi gol.

Baca juga: Liga Italia, Milan Kembali ke Jalur Kemenangan dan Naik ke Posisi Kedua

Lagi-lagi Ramos ikut andil dalam kebobolannya gawang Courtois oleh Mount di pengujung pertandingan. Bola yang disundul Ramos saat ingin mematahkan serangan Chelsea justru lebih dekat kepada Kante. Nacho Fernandez yang tampaknya dituju Ramos juga kesulitan merebut bola yang lebih dulu disambar Kante.

Dengan cepat gelandang asal Prancis itu menggiring bola ke depan kotak penalti Madrid dan mengoper ke Christian Pulisic. Dalam momen yang tepat, bola itu dioper ke Mount yang langsung diselesaikan menjadi gol.

Kekalahan tersebut menjadi kekecewaan bagi Madrid. Pasalnya, dalam beberapa pertandingan terakhir tanpa Ramos, pertahanan Madrid tampil cukup baik.

Dalam tiga laga Liga Champions tanpa Ramos, Los Merengues menang sekali dan dua kali imbang dengan dua kali kebobolan. Sedangkan di Liga Spanyol, Madrid tidak terkalahkan dalam tujuh laga terakhir (5 kali menang) dengan dua kali kebobolan. [cnn]

Ditinggal Banyak Pemain, Persiraja Banda Aceh Mulai Bergerak Perlahan

0
Logo Persiraja Banda Aceh. (Foto: Persiraja)

Nukilan.id – Persiraja Banda Aceh tidak tinggal diam seusai sejumlah pemain berbondong-bondong hengkang dari skuad yang diasuh Hendri Susilo tersebut.

Hal itu diungkapkan oleh Sekretaris Umum Persiraja, Rahmat Djailani kepada BolaSport.com, Rabu (5/5/2021).

Dikatakan Rahmat Djailani, Persiraja Banda Aceh sudah mulai melakukan negosiasi dengan beberapa pemain.

Akan tetapi, identitas pemain yang tengah dijajaki tersebut masih dirahasiakan.

“Ya kami sudah nego-nego, sudah tanya-tanya pemain lain,” kata Rahmat Djailani.

“Sudah ada pergerakan, tapi ya masih pergerakan awal lah,” sambung Rahmat Djailani. [bolasport]

Do Da Idi: Sarana Perempuan Aceh Abad ke-19 Wariskan Semangat Jihad

0
Laksamana Keumalahayati. (Foto: Good News From Indonesia)

Nukilan.id – Perang antara rakyat Aceh melawan Belanda yang terjadi sepanjang 1873-1912 menyisakan banyak cerita sejarah. Salah satunya, perlawanan yang dilakukan perempuan. Era itu memunculkan para pejuang perempuan tangguh, seperti Cut Nyak Dhien, Cut Meutia, Pocut Meuligo, Pocut Baren Biheue, Tengku Fakinah, dan Inen Mayak Teri.

Menurut Rosnida Sari dalam Acehnese Women: A History of Acehnese Women Leaders (2016), mereka adalah simbol kekuatan perempuan yang tumbuh dari kearifan lokal berbasis Islam.

Kearifan itu juga menguat dalam pendidikan karakter yang tergambar pada lirik-lirik ddidi. Dalam kebudayaan masyarakat Aceh, do da idi adalah syair pengantar tidur bagi anak-anak—atau peuayon aneuk dalam bahasa Aceh.

Reni Nuryanti dan Bachtiar Akob dalam Perlawanan dari Ayunan (2020) menyebut, do da idi adalah alat pewarisan semangat jihad. Lain itu, Do didi juga menjadi terapi psikologis untuk menurunkan ketakutan dan ketegangan dalam situasi perang.

Lirik-lirik ddidi mengandung nilai jihad yang dimaksudkan sebagai perlawanan terhadap penjajah Belanda. Yusri Yusuf dan Nova Nurmayani dalam Syair Do Da Idi dan Pendidikan Karakter Keacehan (2013) menyebut, bagi masyarakat Aceh, ia merupakan senjata kultural dalam perlawanan terhadap orang kafir (kaphe).

Kemunculan ddidi tidak bisa dilepaskan dari sejarah Perang Aceh dan naskah Hikayat Prang Sabi yang menjadi inspirasinya. Anzib dalam Hikayat Prang Sabi Mendjiwai Perang Atjeh Melawan Belanda (1971) menegaskan bahwa sebagai karya sastra, Hikayat Prang Sabi punya posisi penting karena dua aspek. Ia memenuhi syarat keindahan bahasa sebagai karya sastra dan memiliki muatan pendidikan karakter.

Inspirasi Hikayat Prang Sabi

Semangat jihad fi sabilillah pertama kali menggema pascakekalahan laskar Aceh dari serdadu Belanda. Pada 24 Januari 1873, panglima militer Belanda Letnan Jenderal Jan van Swieten berhasil menduduki istana Kesultanan Aceh. Setahun kemudian pada 16 Maret 1874, Banda Aceh berubah nama menjadi Kutaradja.

Dalam kondisi Aceh yang terpuruk itulah kemudian muncul kesadaran untuk bersatu di antara kalangan ulama, ulee balang, dan rakyat. Di bawah pimpinan Imeum Lungbata selaku ulama dan Teuku Lamnga—suami pertama Cut Nyak Dhien—selaku ulee balang, tercetuslah sumpah “wajib perang sabil”.

Sumpah yang diucapkan di Aceh Besar itu lantas mendulang simpati para ulama dari wilayah lain. Lalu, muncullah Teungku Tjhik di Tiro yang didapuk masyarakat Aceh sebagai pemimpin perang sabil. Tak sendiri, Teungku Tjhik di Tiro juga disokong oleh adiknya, Teungku Tjhik Pante Kulu.

Menurut Guru Besar Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada Imran Teuku Abdullah, Teungku Tjhik di Tiro kemudian meminta adiknya itu menggubah naskah syair yang nantinya dinamai Hikayat Prang Sabi.

Jadi, Hikayat Prang Sabi sejatinya adalah karya sastra perlawanan. Para pakar sejarah dan budaya Aceh, seperti Anzib, Ali Hasjimy, dan Anthony Reid, kemudian mengakui Teungku Tjhik Pante Kulu sebagai pengarangnya yang sah.

Sebagai karya sastra perlawanan, syair-syair Hikayat Prang Sabi amat kental dimuati nilai-nilai patriotisme, cinta tanah air, dan secara khusus mengajarkan tentang jihad melawan orang kafir untuk membela Islam. Orang kafir dalam konteks ini ditujukan pada penjajah Belanda.

Sebagai misal, simaklah penggalan Hikayat Prang Sabi berikut ini.

Diteungku pih neumoe sangat

(Menangislah Teungku tambah sedu)

Sajangneuh that h’ana sakri

(Sayangkan anak akan pergi)

Djak hee aneuk beuseulamat

(Berangkatlah sayang buah hatiku)

Keuloon taingat djeub-djeub hari

(Jangan lupakan gurumu ini)

Samlakoe tjut that guransang

(Muda belia sangatlah garang)

Kafee neutjang dum meugulee

(Kafir dicincang tikam berganda)

Djipagap lee kafee suwang

(Akhirnya terkepung muda pahlawan)

Muda seudang h’ana lheueh lee

(Jalan lepas sudah tiada)

Sikureueng droe kafee neutjang

(Sembilan kafir mati ditikam)

Muda sedang tak lihee

(Muda pahlawan berjuang berani)

Siplooh droe kafee njawong hilang

(Setelah sepuluh musuh dicincang)

Muda seudangreubah meugulee

(Muda belia syahid menemui Ilahi)

Hikayat Prang Sabi bukan hanya membentuk mental perlawanan terhadap Belanda, tapi juga mewujud menjadi strategi politik. Menurut Imran Teuku Abdullah, banyak pejuang Aceh yang maju ke medan perang dengan membawa potongan lirik Hikayat Prang Sabi. Potongan-potongan lirik itu kerap ditemukan pada jenazah mereka yang gugur.

Menurut Ibrahim Alfian dalam Perang di Jalan Allah: Perang Aceh 1873-1912 (1987), lirik-lirik Hikayat Prang Sabi memang dianggap punya kekuatan spiritual dan kerap dijadikan azimat. Pasalnya, hikayat itu juga memuat ayat-ayat Alquran dan hadis Rasulullah yang ditulis oleh ulama dan dipandang sebagai sumber karamah.

Kuatnya pengaruh Hikayat Prang Sabi mewujud pula dalam lirik ddidi yang biasa dilagukan para ibu pada saat menidurkan anaknya. Ada kemiripan di antara keduanya, terutama dalam aspek tema yang mencakup soal ketuhanan, jihad, juga harapan agar anak muda menjadi pejuang dan pembela Aceh (nanggro).

Menyanyikan ddidi dengan demikian sekaligus menjadi bentuk resiliensi dan “resistensi dari dalam” yang dilakukan perempuan Aceh.

Perlawanan dari Buaian

Do didi adalah bentuk “resistensi sejak bayi” dan berfungsi sebagai penyampai pesan “wajib sabil” yang diperintahkan ulama. Perempuan Aceh ikut ambil bagian dalam proses pewarisan perlawanan rakyat Aceh kepada generasi penerus.

Ruth Finnegan dalam Oral Traditions and the Verbal Arts: A Guide to Research Practices (2005) menegaskan bahwa secara historis, perempuan Aceh amat mahir menyenandungkan sastra lisan. Mereka mampu memanfaatkan irama, rima, ragam bunyi, ungkapan, bahasa, simbol, dan tema yang terdapat dalam karya sastra lisan.

Pada masa Perang Aceh di paruh akhir abad ke-19, ayunan bagi masyarakat Aceh bukan sekedar sarana menidurkan bayi. Di situlah para perempuan menyenandungkan do da idi. Jadi, sambil mengayun anak, para ibu sekaligus juga mengajarkan anak-anaknya tentang keberanian melawan Belanda.

Merekayang tidak ikut maju ke medan perang, pada akhirnya mewariskan harapan kepada anak-anaknya. Dari sinilah, benih perlawanan terhadap Belanda bersemi.

Contoh dari narasi perlawanan itu seperti tergambar dalam lirik do da idi berikut ini.

Allah hai do doda idang

Seulayang blang ka putoh taloe

(Layang-layang di sawah putus tali)

Beurijang rayeuk hai muda seudang

(Cepatlah besar hai anak muda)

Tajak bantu prang bila nanggroe

(Ikut bantu berperang membela negeri)

Wahee aneuk bek taduek le

(Wahai anakku janganlah duduk kembali)

Beudoh sare bela bangsa

(Bangun berdiri bersama membela bangsa)

Bek tatakot keu darah ile

(Jangan takut meski darah harus mengalir)

Adak pih mate poma ka rela

(Sekira engkau mati, ibu merelakan)

Allah hai Po ilahonhaq

(Allah sang pencipta punya kehendak)

Gampong jarak han troh tawoe

(Kampung jauh, kita tak bisa pulang)

Adakan bulee ulon teureubang

(Seandainya punya sayap, aku akan terbang)

Mangat reujang troh u nanggro

(Supaya lekas sampai ke negeri Aceh)

Terapi Psikologis

Selain sebagai sarana pewarisan semangat jihad, ddidi juga menjadi pereduksi ketegangan, kekhawatiran, ketakutan, atau bahkan kemarahan yang dirasakan oleh seorang perempuan. Pasalnya, syair ddidi juga memuat pujian, doa, dan selawat. Itu semua adalah “cara tradisional” masyarakat Aceh untuk memunculkan ketenangan.

Sebagai misal, simaklah lirik do da idi berikut yang dikutip dari Syair Dodaidi dan Pendidikan Karakter Keacehan (2013) susunan Yusri Yusuf dan Nova Nurmayani.

Laailaahaillallaah

Kalimah thaibah keupayong page

(Kalimah thaibah payung akhirat)

Uroe tutong batee beukah

(Panasnya matahari sampai batu terbelah)

Hanco darah lam jantong hate

(Hancur darah dalam jantung hati)

Laailaahaillallaah

Kalimah thaibah beukai tamate

(Kalimah thaibah bekal kita mati)

Taduk tadong zikir keu Allah

(Duduk dan berdiri zikir kepada Allah)

Han ek ngon babah ingat lam hate

(Tak sanggup dengan mulut, ingat dalam hati)

Lirik tersebut menggambarkan situasi psikologis, sosial, dan kultural masyarakat Aceh di masa perang. Ia lazim disenandungkan oleh mereka yang kebetulan tidak ikut berperang karena harus membesarkan anak.

Meski jauh dari pertumpahan darah, kondisi lingkungan tidak serta-merta memberikan ketenangan batin. Karena itulah, perempuan Aceh melagukan lirik-lirik ddidi yang menggambarkan kegelisahan, ketegangan, ketakutan, bahkan kemarahan terhadap situasi. Mereka akhirnya mewakilkan perasaan dan pikirannya pada ddidi.

Dengan demikian, do da idi tak hanya berisi kepasrahan perempuan, tapi juga harapan kepada pertolongan Allah. Itulah alasan lirik ddidi tersebut diawali dengan kalimat Laailaahaillallaah—kesaksian bahwa tidak ada tempat berlindung, kecuali Allah.

Sebagaimana tersebut dalam Hikayat Prang Sabi, lirik do da idi juga menyuratkan bahwa keyakinan pada akhirat menjadi akhir perlawanan terhadap BelandaEnergi jihad menginspirasi untuk tetap mengangkat senjata. Ia menjadi simbol perjuangan mulia di mata Islam. Sebab dalam pandangan masyarakat Aceh, perang melawan Belanda adalah perang menegakkan agama Islam.

Heroisme jihad seperti itulah yang dilantunkan para ibu kepada anaknya dalam buaian. Meski sedang meniti maut, perempuan Aceh yakin bahwa jihad akan berakhir syahid.

Sebab itulah, H.C. Zentgraaf dalam Aceh (1983) menulis, “Tidak ada satu bangsa yang begitu bersemangat dan fanatik dalam menghadapi musuh selain bangsa Aceh dengan wanita-wanitanya yang jauh lebih unggul daripada semua bangsa lain dalam keberanian menghadapi maut.” [tirto.id]

Kejagung Periksa 7 Saksi Terkait Kasus Korupsi PT ASABRI

0
PT. ASABRI (Persero).

Nukilan.id – Tim Jaksa Penyidik pada Direktorat Penyidikan Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus (JAM PIDSUS) Kejaksaan Agung memeriksa 7 (tujuh) orang sebagai saksi yang terkait dengan Perkara Dugaan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) pada PT. Asuransi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ASABRI).

Kepala Pusat Penerangan Hukum, Leonard Eben Ezer Simajuntak, SH, MH menyebutkan bahwa, Saksi yang diperiksa antara lain:

  1. HK selaku Istri Tersangka ARD. Saksi diperiksa terkait aset milik Tersangka ARD.
  2. ET selaku Nominee Tersangka BTS. Saksi diperiksa terkait namanya digunakan dalam transaksi jual beli saham.
  3. ES selaku Nominee Tersangka BTS. Saksi diperiksa terkait namanya digunakan dalam transaksi jual beli saham.
  4. I selaku pengelola aset Tersangka BTS. Saksi diperiksa terkait aset tanah Tersangka BTS di Maja, Lebak.
  5. TJ selaku Karyawan Swasta / Direktur PT. Panin Sekuritas. Saksi diperiksa terkait permintaan data soal pendalaman broker PT. Asabri.
  6. DH selaku Staf Keuangan Tersangka BTS. Saksi diperiksa terkait pengelolaan keuangan dari Tersangka BTS.
  7. JIH selaku Direktur of Equity Sales di PT. Korea Investmen Sekuritas Indonesia. Saksi diperiksa terkait permintaan data soal pendalaman counterparty broker PT. Asabri.

Leonard mengatakan, pemeriksaan saksi dilakukan untuk memberikan keterangan guna kepentingan penyidikan tentang suatu perkara pidana yang ia dengar sendiri, ia lihat sendiri dan ia alami sendiri guna menemukan fakta hukum tentang tindak pidana korupsi yang terjadi pada PT. ASABRI.

Selain itu, Leonard menyampaikan bahwa, pemeriksaan saksi dilaksanakan dengan memperhatikan protokol kesehatan tentang pencegahan penularan Covid-19, antara lain dengan memperhatikan jarak aman antara saksi diperiksa dengan Penyidik yang telah menggunakan Alat Pelindung Diri (APD) lengkap.

“Serta bagi saksi wajib mengenakan masker dan selalu mencuci tangan menggunakan hand sanitizer sebelum dan sesudah pemeriksaan,” pungkasnya.[]

Sukses Lewati Ujian Kudeta Moeldoko, Hasil Survei Terbaru Elektabilitas Demokrat dan AHY Meningkat

0
Ketua Umum Partai Demokrat, Agus Harimurti Yudhoyono

Nukilan.id – Kesuksesan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) melewati ujian kudeta yang digalang Moeldoko, ditambah rajinnya AHY melakukan konsolidasi, akhirnya membuahkan hasil menggembirakan. Di survei yang dilansir Lembaga Penelitian, Pendidikan dan Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES) kemarin, Partai Demokrat sudah bertengger di posisi 2.

Elektabilitas Partai Demokrat belakangan menunjukkan tren naik berdasarkan hasil riset Lembaga Pendidikan, Penelitian, Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES) pada periode 8-15 April di 34 provinsi.

Peneliti LP3ES Erwan Halil, didampingi Direktur LP3ES Fajar Nursahid, dalam keterangan persnya Rabu (5/5/2021) di Jakarta menyatakan, elektabilitas Partai Demokrat bertengger pada angka 11,2%, berada di posisi kedua setelah PDIP dengan elektabilitas 24%.

Partai Gerindra berada di posisi ketiga dengan elektablitas 9% dan Partai Golkar dengan elektabilitas 7,4%.

Fajar menjelaskan, survei ini melibatkan 1.200 responden dan margin of error 2,8 persen. Prof. Firman Noor dari LIPI hadir sebagai penanggap survei ini.

Selain elektabilitas partai, elektabilitas sosok Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) juga terkerek.

Menurut survei ini, elektabilitas AHY mencapai 8,8%, menjadikan AHY satu-satunya tokoh non pejabat publik yang masuk dalam lima besar tokoh nasional dengan elektabilitas tertinggi.

Diatas AHY, elektabilitas tertinggi adalah rabowo Subianto, Ketua Umum Partaoi Gerindra dan Menteri Pertahanan, dengan 16,4%, disusul oleh Gubernur DKI Anies Baswedan dengan 12,8%, lalu Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo dengan 9,6%.

Di bawah AHY adalah Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil dengan 7,5% serta Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Salahuddin Uno, yang juga Waketum Gerindra, dengan 6,2%.

Saat popularitas Ketua-ketua Umum partai politik di Senayan dibandingkan, Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto berada di urutan pertama dengan 27,6%, diikuti Ketua Umum PDI-P Megawati Soekarno Putri (23,3%).

Popularitas Ketua Umum PD AHY secara mengejutkan berada di posisi ketiga dengan 21,5%, diikuti Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar (6,8%), dan Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartarto (6,1%).

Survei mengungkapkan alasan responden memilih parpol tertentu didorong oleh kebiasaan memilih partai tersebut (19,8%), visi-misi dan program partai (9,2%), peduli pada rakyat kecil (8,3%).

Sedangkan untuk alasan memilih tokoh sebagai calon Presiden, survei mengungkapkan faktor berani berada pada urutan pertama (9,7%), diikuti oleh pengalaman (9,3%), merakyat (7,9%), cerdas dan memberi solusi (7,5%) serta berwibawa (6,1%).

Saat ditanya karakteristik politisi yang dianggap merakyat di mata pemilih, yang paling dominan adalah membela hak-hak rakyat di parlemen (34,9%), sering melakukan dialog dengan masyarakat (26,6%) dan sering berkumpul bersama masyarakat (21,7%).

Alasan ini pula yang tampaknya membuat Partai Demokrat melejit elektabilitasnya, mengingat AHY giat menyambangi konstituennya di daerah-daerah.[]

Digitalisasi Pemerintahan Sebagai Upaya Percepatan Menuju Smart City

0

Nukilan.id – Prodi Ilmu Pemerintahan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Syiah Kuala (USK) kembali menyelenggarakan Webinar Series, yang kedua dengan mengusung tema “Digitalisasi Pemerintahan Sebagai Upaya Percepatan Menuju Smart City”, yang diselenggarakan pada Rabu, 05 Mei 2021 melalui Zoom Meeting.

Webinar dihadiri oleh dua pemateri yaitu Pemateri pertama Emila Sofayana sebagai Kadisdukcapil Kota Banda Aceh dengan judul “Digitalisasi Layanan Adminduk sebagai Upaya Peningkatan Kualitas Pelayanan Publik Menuju Smart City”, sedangkan Pemateri kedua Dewi Kurniasih sebagai Dosen Ilmu Pemerintahan FISIP UNIKOM membawakan judul “Percepatan Transformasi Digital Pemerintahan Menuju Smart City: Tantangan Penerapannya”, webinar diikuti 482 peserta dari seluruh Indonesia dan dibuka oleh Ketua Prodi Ilmu Pemerintahan FISIP USK Zahratul Idami.

Emila Sofayana sebagai pemateri pertama menjelaskan dalam salah satu pembahasannya mengenai penerapan dari digitalisasi ini memiliki langkah-langkah yang harus ditempuh.

“Dalam penerapan implementasi digitalisasi ini ada step by step yang harus kita tempuh tidak serta merta dan mempunyai proses yang panjang seluruh daerah melakukan pembersihan data banyak data yang sudah nonaktif, dalam menyiapkan sarana prasarana seperti infrastruktur lebih kompleks yang pertama yang harus dikembangkan ialah SDM. Harus mempunya spirit, semangat dan fashion harus memiliki kekuatan dan cinta pada IT tanpa takut tekanan. Dan bagaimana kondisi internet dan jaringan sangat menentukan, dan kita juga merancang sesuatu seperti akte kelahiran agar bisa masuk ke Rumah Sakit dengan bekerja sama dan sosialisasi kepada masyarakat dan itu membuat masyarakat senang dan Disdukcapil sudah didukung oleh pusat sehingga sudah terbangun. Dan ada pengelolaan pengasuan yang kami buat sosial media untuk memberikan harapan kepada masyaraka,” Jelasnya.
Sedangkan pemateri kedua Dewi Kurniasih juga menjelaskan dari pertanyaan peserta terkait penerapan smart city.

“Terkait bagaimana smart city bisa dilaksanakan dan case study yang diambil, jika 6 indikator di jalankan secara bersamaan dikategorikan kurang baik, tetapi dalam prosesnya dilakukan evolusi. Kira-kira kebutuhan yang dibutuhkan itu seperti apa, jadi lebih baik Pemerintah Daerah memberikan prioritas yang dibutuhkan oleh pemerintah dan yang dibutuhkan dalam membangun smart city ialah budaya dan security dari setiap macam informasi yang dibangun,” Jelasnya.

Webinar ditutup oleh Afrijal selaku moderator, dengan menyimpulkan hasil diskusi dan memberikan harapannya kedepan terkait terwujudnya Kota Smart City di Kota Banda Aceh.

“Harapan nya ke depan, Digitalisasi Pemerintahan bisa di terapkan dengan baik oleh Pemerintah Daerah. Kita berharap para Aparatur Pemerintahan ke depan memiliki kompetensi di bidang IT sehingga percepatan transformasi pemerintahan berbasis digital bisa segera terwujud dengan baik. Terakhir, Kota Banda Aceh sebagai salah Kota yang terpilih dan menjadi Role Model dari 100 Kota Smart City yang di pilih Pemerintah dapat terlaksana dengan optimal.” Pungkasnya[]

Larangan Mudik Lebaran, Pos Perbatasan Aceh-Sumut Sepi

0

Nukilan.id – Pos perbatasan Aceh-Sumatera Utara di Jembatan Timbangan Jontor, Kecamatan Penanggalan, Kota Subulussalam, terpantau sepi menyusul adanya larangan mudik lebaran idul fitri 1442 H.

Kapolres Subulussalam, AKBP Qori Wicaksono mengatakan, pengguna jalan yang melintas di pos perbatasan tersebut berkurang hingga 90 persen.

“Sepi sekali. Biasanya tidak begitu. Kendaraan yang lewat diperkirakan hanya sekitar 10 persen saja menyusul pemberlakuan larangan mudik 6-17 Mei mendatang,” kata AKBP Qori Wicaksono di Subulussalam, Kamis (6/5/2021).

Menurut Kapolres, hal ini menunjukkan sosialiasi dilakukan personel gabungan, TNI-Polri dan Pemerintah Kota Subulussalam secara masif selama ini berjalan efektif. 

“Informasi terkait penyekatan di perbatasan tersampaikan dengan baik kepada masyarakat. Penyekatan dan larangan mudik ini untuk mencegah penyebaran COVID-19,” kata AKBP Qori Wicaksono.

Kapolres mengatakan pengguna jalan yang melintas sekarang ini umumnya masyarakat berdomisili di sekitar pos perbatasan. Bagi warga setempat yang melintas pos perbatasan cukup memperlihatkan kartu tanda penduduk (KTP). 

AKBP Qori Wicaksono mengatakan ada juga warga Kabupaten Pakpak Barat, Sumatera Utara bermohon melintas. Tujuannya menghadiri pemakaman keluarga di Kota Subulussalam. 

Izin diberikan karena warga tersebut mengantongi surat keterangan dari kepala desa dan dibubuhi stempel basah, kata AKBP Qori Wicaksono menyebutkan.

Kemudian, kata Kapolres ada juga warga Kabupaten Aceh Barat Daya memohon melintas dengan alasan sakit dan ingin berobat ke Medan, Sumatera Utara. Namun, yang bersangkutan tidak dapat menunjukkan surat keterangan. 

Petugas, kata Kapolres, sudah memberikan pemahaman kepada warga tersebut untuk tidak melintas dan berbalik arah. Apabila dibiarkan tetap tidak diperkenankan di pos perbatasan Pakpak Barat. Namun, karena alasan sakit dan kemanusiaan, petugas mengizinkan untuk lewat.

“Ternyata, sampai di Pakpak Barat, yang bersangkutan disuruh kembali karena tidak bisa menunjukkan surat. Akhirnya dia balik arah dan pulang. Kalau memang sakit harusnya ada surat dari rumah sakit,” pungkas AKBP Qori Wicaksono.[Antara]

Larangan Mudik di Aceh, Nasrul Zaman: Dapat Digolongkan Lockdown

0
Akademisi USK, Dr. Nasrul Zaman. (Foto: Dok. Pribadi)

Nukilan.id – Pengamat Kebijakan Publik Aceh Dr Nasrul Zaman mengatakan, pembatasan perjalanan antar kota di Aceh dapat digolongkan “karantina” atau lockdown, sehingga pemerintah diminta Bertanggungjawab memastikan kebutuhan bahan pokok warganya.

“Untuk itu atas kebijakan larangan mudik 06-17 Mei 2021 ini, pemerintah harus memberikan bantuan hidup atau jadup bagi warganya yang terdampak,” kata Nasrul Zaman kepada Nukilan.id, Kamis (6/5/2021).

Menurut Nasrul, untuk Aceh akibat tingginga angka angka kemiskinan tentulah menjadi gambaran besarnya kebutuhan akan bantuan pemerintah untuk kehidupan warganya.

Kepada petugas dilapangan, Nasrul juga berharap diberikan kewenangan untuk mengambil beberapa kebijakan khusus, sehingga ada kriteria yang memang diberikan melintas, mengingat keputusan pembatasan yang ada tidak menyebutkan hal tersebut.

“Seperti kebijakan misalnya seseorang pulang kampung karena sudah tidak bekerja lagi, orang yang pindah domisili, membawa keluarga sakit, dan sebagainya,” ujar Nasrul.

Kata Nasrul, kita berharap pembatasan ini dapat memberi efek signifikan dalam penularan virus covid-19 dan warga yang miskin mendapat bantuan langsung dari pemerintah untuk kehidupannya.

Nasrul menyebut, keadaan sebaran covid-19 yang meluas dan telah terjadinya mutasi gen virus telah mengakibatkan lahirnya varian baru covid-19 yang membutuhkan pembatasan interaksi langsung antar warga, baik individu maupun komunal.[red]