Beranda blog Halaman 208

Aceh Siap Jadi Tuan Rumah MTQ Nasional 2028, Siap Ulang Sejarah Empat Dekade Lalu

0
Pemandangan Kota Banda Aceh saat sore hari dilihat dari menara Masjid Raya Baiturrahman. (Foto: Nukilan)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Setelah lebih dari empat dekade sejak terakhir kali menjadi tuan rumah, Provinsi Aceh kembali mengajukan diri untuk menjadi tuan rumah Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) Nasional 2028. Proposal resmi pengajuan tersebut telah diserahkan kepada Lembaga Pengembangan Tilawatil Quran (LPTQ) Nasional.

“Kita sudah mengajukan untuk menjadi tuan rumah MTQ Nasional 2028 dalam rapat kerja LPTQ pada kegiatan seleksi tilawatil quran dan hadis (STQH) Nasional di Kendari,” kata Kepala Dinas Syariat Islam Aceh Zahrol Fajri, dikutip dari Antara, Selasa (14/10/2025).

Proposal itu diserahkan langsung oleh Kepala Kanwil Kementerian Agama Aceh Azhari, didampingi Kadis Syariat Islam Aceh Zahrol Fajri dan Ketua LPTQ Aceh Armiadi Musa, serta diterima oleh Ketua Umum LPTQ Nasional, yang juga Dirjen Bimas Islam Kemenag, Abu Rokhmad.

Selain menyerahkan proposal, rombongan dari Aceh juga mengajukan surat permohonan audiensi dengan Menteri Agama Nasaruddin Umar. Audiensi tersebut diharapkan dapat membahas langsung kesiapan dan dukungan Aceh sebagai calon tuan rumah MTQ Nasional.

Menurut Zahrol, Aceh saat ini berada dalam posisi yang sangat siap untuk menjadi tuan rumah dibandingkan dengan provinsi lain di Indonesia. Dukungan penuh juga datang dari Gubernur Aceh Muzakir Manaf, yang telah menyiapkan surat permohonan dan proposal resmi kepada Menteri Agama, disertai kesiapan infrastruktur yang dinilai sudah memadai.

Zahrol menyebutkan, sejumlah lokasi telah dipersiapkan jika Aceh ditunjuk menjadi tuan rumah MTQ Nasional 2028. Untuk arena utama, beberapa lokasi yang diusulkan antara lain Lapangan Blang Padang, halaman Masjid Raya Baiturrahman, dan Stadion Harapan Bangsa Lhong Raya, Banda Aceh.

Sementara itu, untuk cabang-cabang perlombaan, telah disiapkan berbagai tempat representatif seperti Balai Meuseuraya Aceh (BMA), Asrama Haji, AAC Dayan Dawood Universitas Syiah Kuala (USK), Auditorium Ali Hasyimi UIN Ar-Raniry, Taman Ratu Safiatuddin, hingga halaman Masjid Oman Lampriet.

Tempat lain yang juga disiapkan antara lain Masjid Baitul Musyahadah Setui, Taman Bustanussalatin, Aula Kantor Gubernur Aceh, Mahkamah Syariah Aceh, Kantor Dinas Syariat Islam, Kanwil Kemenag Aceh, serta kompleks Meuligoe Wali Nanggroe.

“Aceh memiliki pengalaman, dukungan masyarakat, dan infrastruktur yang memadai untuk menjadi tuan rumah MTQ Nasional. Bila dipercaya, kami siap menyambut seluruh kafilah dengan pelayanan terbaik,” ujar Zahrol.

Ia menambahkan, sudah lebih dari empat dekade sejak Aceh terakhir menjadi tuan rumah MTQ Nasional ke-12 di Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh pada 1981. Kini, semangat itu kembali tumbuh di Tanah Rencong.

“Jika disetujui menjadi tuan rumah MTQ ke-32 pada 2028, maka Aceh kembali mencatat sejarah sebagai tuan rumah MTQ Nasional untuk kedua kalinya,” katanya.

Zahrol menegaskan, Aceh patut menjadi panggung nasional bagi syiar Al-Qur’an. Ia menilai, keberhasilan Aceh dalam menyelenggarakan Pekan Olahraga Nasional (PON) 2024 menjadi bukti nyata kesiapan daerah ini dalam menggelar ajang berskala besar.

“Dengan kekuatan sejarah, potensi sumber daya, dan kesiapan infrastruktur, Aceh siap menjadi tuan rumah MTQ Nasional 2028, dan insyaallah nanti gubernur segera membentuk panitia persiapan,” pungkasnya.

PKS Aceh Perkuat Soliditas Kader, Siap Bersinergi Majukan Aceh

0
Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Aceh menggelar konsolidasi dan pelatihan peningkatan kapasitas kader di Ilona Boutique Hotel, Aceh Besar, Selasa (14/10/2025) sore. (Foto: For Nukilan)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Aceh menggelar konsolidasi dan pelatihan peningkatan kapasitas kader di Ilona Boutique Hotel, Aceh Besar, Selasa (14/10/2025) sore.

Kegiatan tersebut dirangkai dengan sosialisasi hasil Musyawarah Nasional (Munas) DPP PKS, dihadiri oleh Ketua DPW PKS Aceh Ismunandar, Sekretaris DPW PKS Aceh Kasibun Daulay, Bendahara PKS Aceh Saifunsyah, serta jajaran pengurus DPW PKS Aceh lainnya.

Dengan mengusung tema “Berkolaborasi & Bersinergi untuk Majukan Aceh”, PKS Aceh menegaskan langkah strategisnya dalam memperkuat internal partai menjelang dinamika politik di daerah. Pelatihan, rapat pleno bidang-bidang, serta sosialisasi hasil Munas menjadi rangkaian penting dalam kegiatan tersebut.

Ketua DPW PKS Aceh, Ismunandar, kepada Nukilan.id menyebutkan bahwa tema ini merupakan wujud komitmen partainya untuk terus berperan aktif dalam pembangunan di Aceh.

“Kegiatan Pelatihan dan Peningkatan Kapasitas ini dilakukan juga untuk memastikan seluruh kader PKS Aceh memiliki visi dan misi yang sama dalam bekerja untuk berkhidmat melayani masyarakat Aceh,” ujarnya.

Ismunandar menegaskan, PKS Aceh siap berkolaborasi dan bersinergi dengan berbagai pihak untuk kemajuan daerah, serta mendukung program-program pro-rakyat yang diusung pemerintahan Muzakir Manaf dan Fadhlullah.

Sementara itu, Sekretaris DPW PKS Aceh, Kasibun Daulay, menyampaikan bahwa pelatihan kader menjadi bagian penting dari upaya konsolidasi internal partai dalam mengevaluasi serta memetakan strategi program kerja di tiap bidang.

“Kader PKS diminta untuk bekerja dengan prinsip Bersih, Peduli, dan Profesional sebagaimana yang selalu disampaikan oleh Presiden PKS, Almuzamil Yusuf,” tutur Kasibun.

Ia menambahkan, amanat Munas juga menekankan agar seluruh jajaran PKS, baik di legislatif maupun eksekutif, menjadikan kepentingan rakyat sebagai prioritas utama.

“Sesuai dengan amanah Munas bahwa diinstruksikan kepada seluruh jajaran PKS, baik itu yang duduk di kursi legislatif maupun eksekutif untuk menempatkan kepentingan rakyat sebagai prioritas utama,” tegas Kasibun Daulay yang juga seorang advokat.

Melalui kegiatan ini, PKS Aceh berharap seluruh kader semakin solid dan terbekali dalam menjalankan peran strategis partai, baik di tingkat pemerintahan maupun di tengah masyarakat. Dengan penguatan kapasitas kader, PKS Aceh optimistis dapat menghadirkan kebijakan yang lebih akurat, responsif, dan berdampak nyata bagi pembangunan Aceh. (XRQ)

Reporter: Akil

Dua Warisan Budaya Aceh Timur Masuk Nominasi WBTb 2025, Bukti Kuatnya Akar Tradisi Peureulak

0
Budaya Khanduri Jrat.(Foto: Dok. Disparbud Aceh)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH — Dua kebudayaan khas dari Kabupaten Aceh Timur, yaitu Rapa’i Bandar Khalifah dan Khanduri Jrat, direkomendasikan untuk ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) Indonesia tahun 2025. Keduanya mewakili kekayaan tradisi masyarakat yang berakar kuat di wilayah timur Aceh.

Bupati Aceh Timur, Iskandar Usman Al-Farlaky, menyampaikan bahwa kedua karya budaya itu masuk dalam dua domain berbeda. Rapa’i Bandar Khalifah berada pada domain seni pertunjukan, sementara Khanduri Jrat masuk dalam domain adat istiadat, ritus, perayaan, serta sistem ekonomi tradisional.

“Sebelumnya Aceh Timur telah memiliki beberapa warisan budaya yang ditetapkan sebagai WBTb, yakni Pisang Sale (2022), Muniren Reje (2023), dan Kenduri Uten (2023). Tahun ini kita menambah dua lagi, sehingga total sudah lima karya budaya asal Aceh Timur yang tercatat sebagai WBTb Indonesia,” ujar Bupati Al-Farlaky melalui sambungan telepon, Sabtu (11/10/2025).

Iskandar mengapresiasi keberhasilan tersebut. Ia menyebut, proses menuju rekomendasi WBTb bukanlah hal mudah karena harus melewati seleksi ketat dari tingkat kabupaten hingga provinsi, disertai penyusunan data dan dokumentasi budaya yang lengkap.

“Meski terkendala anggaran, tim kita bekerja maksimal dengan semangat menjaga marwah budaya daerah. Alhamdulillah, hasilnya membanggakan bagi Aceh Timur,” tambahnya.

Ia pun mengajak seluruh masyarakat untuk turut menjaga dan melestarikan budaya lokal. Pengakuan dari tingkat nasional ini, katanya, menjadi bukti bahwa tradisi masyarakat Aceh Timur tetap hidup dan relevan di tengah arus modernisasi.

“Saya berharap capaian ini menjadi motivasi bagi kita semua untuk terus mengangkat nilai-nilai luhur warisan nenek moyang,” pungkasnya.

Dikutip dari laman budayaaceh.com, Rapa’i Bandar Khalifah terdiri dari dua kata: Rapa’i yang berarti alat musik tradisional Aceh yang terbuat dari kayu pilihan, rotan, logam, dan kulit kambing; serta Bandar Khalifah, yang merujuk pada kawasan perdagangan antarbangsa pada masa silam, di mana para ulama dari Persia menyebarkan Islam hingga ke Asia Tenggara.

Seni pertunjukan Rapa’i Bandar Khalifah biasanya dimainkan oleh 13 hingga 15 orang, terdiri dari satu hingga tiga orang Syahi (penyanyi atau pembaca syair) dan sepuluh hingga dua belas penabuh rapai. Pertunjukan ini diiringi syair-syair bernuansa religius seperti saleum, zikir, selawat, dan nasihat moral yang berfungsi menyebarkan syariat Islam dan memperkuat semangat gotong royong masyarakat Peureulak.

Sementara itu, Khanduri Jrat berasal dari dua kata, yakni Khanduri yang berarti kenduri atau ritual, dan Jrat yang berarti makam. Tradisi ini merupakan bentuk penghormatan dan doa bersama di area pemakaman leluhur, mencerminkan nilai spiritual dan kebersamaan masyarakat Aceh Timur dalam mengenang jasa orang-orang terdahulu.

Dengan masuknya dua budaya ini dalam daftar rekomendasi, total terdapat 17 karya budaya dari seluruh Aceh yang diajukan ke Kementerian Kebudayaan untuk ditetapkan sebagai WBTb tahun 2025. Langkah ini diharapkan semakin memperkuat posisi Aceh sebagai salah satu daerah dengan kekayaan budaya takbenda yang menonjol di Indonesia.

Cingkhui dari Aceh Jaya Ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia 2025

0
Kuliner khas Aceh Jaya Cingkhui. (FOTO: ANTARA/HO/Warga)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH — Makanan tradisional khas Aceh Jaya, Cingkhui, resmi ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) Indonesia tahun 2025 oleh Direktorat Jenderal Perlindungan Kebudayaan dan Tradisi, Kementerian Kebudayaan (Kemenbud) RI.

Penetapan tersebut diumumkan dalam Sidang WBTb Indonesia yang berlangsung pada 5–11 Oktober 2025 di Jakarta. Kabupaten Aceh Jaya menjadi salah satu daerah yang berhasil mengangkat karya budaya unggulannya ke tingkat nasional melalui kategori kemahiran kerajinan tradisional.

“Dengan rasa syukur yang mendalam, kita bangga atas keberhasilan penetapan kerajinan Cingkhui sebagai WBTb,” kata Bupati Aceh Jaya, Safwandi, di Aceh Jaya, Senin (13/10).

Cingkhui merupakan kuliner khas dari Kecamatan Jaya (Lamno), Kabupaten Aceh Jaya, yang dibuat dari campuran puluhan dedaunan dan rempah pilihan. Selain dikenal karena cita rasanya yang unik, makanan ini juga mencerminkan pengetahuan lokal masyarakat dalam meracik bahan alami yang diwariskan secara turun-temurun.

Karya budaya ini berhasil melaju hingga tahapan sidang penetapan nasional setelah melalui proses seleksi ketat di tingkat provinsi dan nasional oleh para ahli warisan budaya.

Dengan penetapan Cingkhui ini, Aceh Jaya kini memiliki tiga tradisi yang telah diakui sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia, setelah sebelumnya Dike PAM Panga dan Seumeuleung Raja Daya juga memperoleh pengakuan serupa.

‎“Kami apresiasi kepada seluruh jajaran yang sudah susah payah mengurus agar Cingkhui ini tembus tingkat nasional. Keberhasilan ini untuk kita semua,” ucap Safwandi.

Ia menambahkan, Aceh Jaya memiliki kekayaan budaya dan tradisi yang layak mendapat perhatian dan pengakuan lebih luas agar nilai-nilai luhur tersebut tidak hilang ditelan masa.

Aceh Barat Perkuat Kolaborasi dengan Malaysia Kembangkan Wisata Syariah

0
Bupati Aceh Barat, Tarmizi, S.P., M.M., secara resmi membuka kegiatan Seminar Internasional bertajuk “West Aceh Sharia Tourism 2025 and Visit Malaysia 2026”, bertempat di hotel Parkside Meuligoe Meulaboh [Foto : Arif Rizalul / Repoter RRI Meulaboh ]

NUKILAN.ID | MEULABOH – Pemerintah Kabupaten Aceh Barat terus mendorong penguatan sektor pariwisata berbasis syariah. Upaya itu ditandai dengan pembukaan Seminar Internasional bertajuk “West Aceh Sharia Tourism 2025 and Visit Malaysia 2026” yang digelar di Hotel Parkside Meuligoe, Meulaboh, Senin (13/10/2025). Kegiatan tersebut menjadi bagian dari rangkaian peringatan HUT ke-437 Kota Meulaboh.

Seminar yang mengusung tema “Wisata Syariah dan Tantangannya” ini menghadirkan sejumlah tokoh penting dari dalam dan luar negeri. Hadir antara lain perwakilan Tourism Malaysia Medan, delegasi Provinsi Terengganu – Malaysia, serta unsur pemerintah daerah, akademisi, dan pelaku industri wisata syariah.

Bupati Aceh Barat, Tarmizi, S.P., M.M., yang membuka secara resmi kegiatan itu menyampaikan apresiasi kepada seluruh tamu kehormatan. Ia menilai kehadiran para delegasi menjadi bukti eratnya hubungan dua negara serumpun.

“Kehadiran Tuan-tuan dan Puan-puan sekalian adalah simbol persahabatan dan kolaborasi antara dua negeri yang menjunjung tinggi nilai-nilai syariat Islam,” ujar Bupati Tarmizi.

Ia menegaskan, pengembangan sektor wisata di Aceh Barat harus sejalan dengan prinsip syariah tanpa mengorbankan potensi ekonomi daerah.

“Kemajuan ekonomi dan wisata harus berjalan seiring dengan tegaknya syariat Islam. Dari wisata yang tertata, UMKM bisa tumbuh, lapangan kerja tercipta, dan kesejahteraan masyarakat meningkat,” tegasnya.

Ketua panitia, Aduwina Pakeh, S.Sos., M.Sc., dalam laporannya menjelaskan bahwa seminar ini menjadi langkah strategis untuk memperkenalkan potensi wisata syariah Aceh Barat ke tingkat internasional.

“Kabupaten Aceh Barat memiliki kekayaan wisata yang luar biasa, mulai dari alam, sejarah, hingga budaya Islam. Wisata syariah dapat menjadi pintu baru untuk menarik minat wisatawan domestik maupun mancanegara,” kata Aduwina.

Ia menambahkan pentingnya sinergi antara pemerintah daerah, Kementerian Agama, serta organisasi masyarakat untuk memperkuat regulasi, promosi, dan peningkatan kapasitas sumber daya manusia di sektor pariwisata.

Sementara itu, Rosalina Abdul Rahim, Pengarah Tourism Malaysia Medan – Indonesia, menyambut baik kerja sama antara Aceh dan Malaysia menjelang pelaksanaan Visit Malaysia Year 2026.

“Malaysia dan Indonesia, terutama Aceh, memiliki kedekatan budaya dan sejarah. Kolaborasi dalam sektor pariwisata akan memberi manfaat besar bagi masyarakat kedua negara,” ujarnya.

Menurut Rosalina, pariwisata bukan sekadar hiburan, melainkan juga pilar ekonomi, diplomasi, dan pelestarian budaya.

Dalam forum tersebut, Provinsi Terengganu turut menjadi sorotan sebagai contoh sukses penerapan wisata syariah yang modern dan berkelanjutan.

“Terengganu membuktikan bahwa penerapan syariat bukan penghambat, tapi justru menjadi nilai tambah dan daya tarik wisatawan,” ujar Aduwina menambahkan.

Kegiatan ditutup dengan penyerahan cendera mata serta sesi foto bersama seluruh peserta dan delegasi. Seminar internasional ini menjadi bagian penting dari rangkaian Pekan Kebudayaan Aceh Barat 2025 yang diharapkan mampu melahirkan peta jalan pengembangan wisata syariah yang berkarakter dan berdaya saing.

Melalui semangat kolaborasi Aceh–Malaysia, Pemerintah Kabupaten Aceh Barat menegaskan komitmennya untuk membangun ekonomi daerah yang maju tanpa meninggalkan marwah syariat Islam. Bumi Teuku Umar pun siap melangkah menjadi daerah percontohan wisata syariah yang berdaya saing, berkarakter, dan bermarwah Islami.

Sekda Aceh Ajak Media Perkuat Kepercayaan Publik dan Dukung Pembangunan Daerah

0
ekretaris Daerah (Sekda) Aceh, M. Nasir, S.IP., MPA., saat menerima audiensi pengurus Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Aceh di Ruang Rapat Sekda Aceh, Selasa (14/10/2025). (Foto: For Nukilan)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH — Sekretaris Daerah (Sekda) Aceh, M. Nasir, S.IP., MPA., menegaskan pentingnya peran media dalam menjaga kepercayaan publik serta memperkuat pembangunan di Aceh. Hal itu disampaikan saat menerima audiensi pengurus Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Aceh di Ruang Rapat Sekda Aceh, Selasa (14/10/2025).

Dalam pertemuan tersebut, Ketua PWI Aceh, Nasir Nurdin, bersama jajaran pengurus melaporkan rencana pelaksanaan Konferensi Provinsi (Konferprov) PWI Aceh yang dijadwalkan berlangsung pada awal November 2026. Kegiatan itu akan dikemas dalam bentuk seminar nasional yang melibatkan berbagai pihak.

Selain itu, PWI Aceh kepada Nukilan.id juga menyampaikan rencana kedatangan Ketua Umum dan Sekretaris Jenderal PWI Pusat yang baru terpilih ke Aceh dalam waktu dekat. Keduanya dijadwalkan hadir pada acara peusijuek (tepung tawar) dan peringatan Maulid Nabi.

“Kita berharap Ketum PWI Pusat bersama rombongan nantinya dapat menjadi tamu dari Pemerintah Aceh,” ujar Nasir Nurdin.

Menanggapi hal tersebut, Sekda Aceh menyatakan bahwa Pemerintah Aceh siap mendukung penuh pelaksanaan Konferprov PWI Aceh agar berjalan sukses dan memberikan dampak positif bagi daerah.

“Pemerintah Aceh tentunya akan membantu dan mendukung terlaksananya Konferensi PWI Aceh. Kami berharap kegiatan ini juga menjadi momentum bagi media untuk ikut mendukung kinerja pemerintah dalam membangun Aceh,” ujar M. Nasir.

Ia menambahkan, media memiliki peran strategis dalam menyampaikan capaian pembangunan dan berbagai kebijakan pemerintah kepada masyarakat. Menurutnya, kolaborasi antara pemerintah dan media sangat dibutuhkan untuk menjaga kepercayaan publik terhadap kinerja Pemerintah Aceh.

“Pemerintah Aceh punya kebutuhan besar untuk menjaga kepercayaan masyarakat yang telah diberikan kepada Gubernur dan Wakil Gubernur Aceh. Kerja-kerja pembangunan yang telah dilakukan butuh peran media untuk menyebarluaskan, sehingga kepercayaan ini benar-benar terjaga dan bertahan,” kata M. Nasir.

Sekda juga menyerahkan sepenuhnya proses pelaksanaan kegiatan kepada PWI Aceh. “Bagaimana prosesnya itu sepenuhnya kami kembalikan kepada PWI,” tegasnya.

Audiensi tersebut turut dihadiri oleh Kepala Biro Administrasi Pimpinan Setda Aceh, Akkar Arafat; Kepala Dinas Komunikasi, Informatika dan Persandian Aceh, Edy Yandra; serta perwakilan dari Bappeda dan Inspektorat Aceh. (XRQ)

Reporter: Akil

Tengkorak Manusia Ditemukan di Area Pembangunan Puskesmas Buket Gadeng, Polisi Lakukan Olah TKP

0
Bupati Aceh Barat, Tarmizi, S.P., M.M., secara resmi membuka kegiatan Seminar Internasional bertajuk “West Aceh Sharia Tourism 2025 and Visit Malaysia 2026”, bertempat di hotel Parkside Meuligoe Meulaboh [Sumber Foto : Arif Rizalul / Repoter RRI Meulaboh ]

NUKILAN.ID | TAPAKTUAN — Suasana di area pembangunan gedung Tata Usaha dan Gudang Obat Puskesmas Buket Gadeng, Kecamatan Kota Bahagia, mendadak geger pada Sabtu (11/10/2025). Para pekerja bangunan yang sedang beraktivitas di lokasi tersebut menemukan benda yang diduga tengkorak manusia di antara tumpukan material pasir.

Menindaklanjuti laporan itu, Tim Inafis Satreskrim Polres Aceh Selatan Polda Aceh langsung turun ke lokasi untuk melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) pada Minggu (12/10/2025). Proses olah TKP dipimpin oleh Brigadir Fajri, didampingi Bripda Riski Anggara, serta Bhabinkamtibmas Polsek Bakongan.

Dari hasil identifikasi awal, tengkorak manusia tersebut diduga berasal dari tumpukan pasir proyek yang dikirim dari lokasi penggalian di Desa Geulumbuk, Kecamatan Kluet Selatan.

Kasat Reskrim Polres Aceh Selatan, Iptu Narsyah Agustian, mengatakan pihaknya telah mengambil langkah-langkah sesuai prosedur untuk menelusuri asal usul temuan itu.

“Kami telah melakukan langkah-langkah awal sesuai SOP, termasuk olah TKP, pengumpulan keterangan saksi, dan tindakan pengamanan barang bukti. Saat ini kami juga sedang mendalami asal usul tengkorak tersebut melalui penyelidikan di lokasi pengambilan material pasir,” ujarnya.

Usai dilakukan pemeriksaan awal dan berkoordinasi dengan pihak Puskesmas serta saksi di lokasi, Tim Inafis bersama perangkat Puskesmas dan masyarakat setempat kemudian melakukan penguburan tengkorak manusia tersebut di halaman belakang Puskesmas Buket Gadeng. Proses penguburan berlangsung secara tertib, disaksikan oleh aparat kepolisian dan Kepala Puskesmas Buket Gadeng.

Polres Aceh Selatan memastikan penyelidikan akan terus berlanjut, termasuk dengan menelusuri sumber material pasir dari Desa Geulumbuk. Polisi juga berkoordinasi dengan perangkat desa setempat dan pihak terkait untuk mengungkap asal-usul tengkorak tersebut.

Pihak kepolisian mengimbau masyarakat agar tetap tenang dan menyerahkan sepenuhnya proses penyelidikan kepada aparat penegak hukum.

Agustiar Terpilih Jadi Keuchik Meunasah Papeun 

0

NUKILAN.id | Aceh Besar – Pemilihan Keuchik Langsung (Pilchiksung) di Gampong Meunasah Papeun, Kecamatan Krueng Barona Jaya, Kabupaten Aceh Besar, berlangsung lancar dan penuh semangat kebersamaan.

Proses demokrasi tingkat gampong yang digelar di halaman meunasah setempat pada Senin (13/10/2025) diikuti dua calon, yakni Agustiar dengan nomor urut 1 dan Muhammad Jabar dengan nomor urut 2.

Hasil penghitungan suara yang dilakukan panitia menunjukkan kemenangan telak bagi Agustiar yang meraih 995 suara. Sementara itu, pesaingnya, Muhammad Jabar, memperoleh 525 suara. Adapun suara tidak sah tercatat sebanyak 23 lembar.

Dengan hasil tersebut, Agustiar resmi terpilih sebagai Keuchik Gampong Meunasah Papeun untuk masa jabatan 2025–2031.

Pemungutan suara yang dipantau media ini berlangsung kondusif. Sejak pagi, warga tampak antusias mendatangi tempat pemungutan suara dan mengikuti seluruh tahapan hingga proses penghitungan selesai. Tingginya partisipasi masyarakat menjadi cerminan kuatnya kesadaran berdemokrasi di tingkat gampong.

Usai pengumuman hasil suara, Agustiar menyampaikan rasa terima kasih kepada warga yang telah memberikan dukungan.

“Terima kasih atas bantuan, dukungan, dan doa seluruh warga Gampong Meunasah Papeun atas amanah dan kepercayaannya,” ujar Agustiar.

Ia juga menegaskan komitmennya untuk menjalankan amanah dengan transparan dan mengutamakan kepentingan masyarakat.

“Saya berharap seluruh warga tetap bersatu membangun gampong ini tanpa perbedaan. Insya Allah, bersama kita bisa mewujudkan Meunasah Papeun yang lebih mandiri, sejahtera, dan Islami,” pungkas Agustiar. [*]

UNESCO dan USK Dorong Peran Mahasiswa dalam Riset Sosial Lewat Program Youth as Researchers 2025

0

NUKILAN.ID | Banda Aceh – Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Syiah Kuala (USK) menjadi tuan rumah penyelenggaraan UNESCO Youth as Researchers (YAR) 2025 Workshop, sebuah program internasional yang bertujuan memperkuat kapasitas riset generasi muda untuk menjawab tantangan sosial masa kini. Kegiatan ini terselenggara berkat kolaborasi antara UNESCO Jakarta Office, Universitas Gadjah Mada (UGM), dan Universitas Syiah Kuala (USK).

Workshop yang digelar pada Senin (13/10/2025) itu dihadiri oleh sejumlah tokoh akademik, di antaranya Prof. Dr. Mustanir, M.Sc., Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Kewirausahaan USK; Prof. Dr. Rr. Siti Murtiningsih, S.S., M.Hum., Dekan Fakultas Filsafat UGM; serta Prof. Dr. Mahdi Syahbandir, S.H., M.Hum., Dekan FISIP USK. Turut hadir pula perwakilan UNESCO Jakarta Office, Meyda Nento, yang memberikan sambutan pembuka.

Dalam sambutannya, Prof. Mustanir menekankan pentingnya peran perguruan tinggi dalam melahirkan mahasiswa yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga peka terhadap isu sosial di sekitarnya.

“Perguruan tinggi tidak hanya berperan sebagai pusat ilmu pengetahuan, tetapi juga wadah untuk menumbuhkan kepedulian sosial dan keberanian berinovasi,” ujar Prof. Mustanir.

Ia menambahkan, program Youth as Researchers menjadi ruang strategis bagi mahasiswa untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis sekaligus menghasilkan penelitian yang bermanfaat bagi masyarakat. “Melalui program Youth as Researchers ini, kami berharap mahasiswa dapat mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan menghasilkan penelitian yang berdampak bagi masyarakat,” lanjutnya.

Sementara itu, Prof. Siti Murtiningsih dari UGM menyoroti dimensi moral yang terkandung dalam setiap kegiatan riset. Menurutnya, penelitian tidak semata-mata soal data, tetapi juga tentang empati dan tanggung jawab sosial.

“Riset yang dilakukan oleh generasi muda seharusnya memuat kepedulian terhadap sesama. Melalui riset, mahasiswa belajar memahami realitas sosial, mendengarkan suara masyarakat, dan mencari solusi yang berkeadilan,” ujarnya.
Ia menambahkan, “Program Youth as Researchers ini menanamkan nilai empati, refleksi, dan tanggung jawab moral di kalangan peneliti muda.”

Dari pihak UNESCO, Meyda Nento menyampaikan komitmen lembaganya dalam memperkuat peran pemuda sebagai agen perubahan.

“Pemuda bukan sekadar penerus bangsa, tetapi juga penggerak utama perubahan sosial,” ungkapnya. “Melalui program Youth as Researchers, UNESCO ingin membangun kepercayaan diri dan kapasitas riset anak muda agar mereka dapat menjadi mitra sejajar dalam proses pembangunan.”

Meyda menambahkan, YAR 2025 akan menjadi wadah bagi mahasiswa dari berbagai daerah di Indonesia untuk berkolaborasi, memetakan isu sosial, dan merancang proyek riset yang berdampak nyata di tingkat komunitas.

Dekan FISIP USK, Prof. Mahdi Syahbandir, menilai bahwa kegiatan ini menjadi momentum penting dalam memperkuat jejaring akademik antara mahasiswa, dosen, dan lembaga internasional. Ia menyebut workshop tersebut sebagai langkah awal kolaborasi riset lintas universitas yang menempatkan pemuda sebagai motor penggerak perubahan sosial.

Selain sesi paparan dan diskusi, kegiatan ini juga menghadirkan pelatihan metodologi riset sosial yang difasilitasi oleh Rona Utami dan Rodinal Khair dari Fakultas Filsafat UGM.

Yang menarik, peserta workshop merupakan mahasiswa terpilih yang telah memenangkan kompetisi riset yang diselenggarakan oleh UNESCO. Tahun ini, lima kelompok riset dari Universitas Syiah Kuala berhasil mendapatkan pendanaan dari UNESCO untuk penelitian di bidang ketahanan komunitas, pemberdayaan perempuan, literasi digital, dan keberlanjutan lingkungan.

Keberhasilan tersebut menjadi bukti meningkatnya kapasitas riset mahasiswa USK di kancah internasional.

Program Youth as Researchers 2025 di FISIP USK bukan sekadar agenda akademik, melainkan juga tonggak dalam membangun tradisi riset berbasis partisipasi pemuda di Indonesia.

“Workshop ini adalah awal dari gerakan yang lebih besar—gerakan riset yang berpihak pada kemanusiaan,” tutup Prof. Mustanir.

Cuaca Banda Aceh Didominasi Berawan dan Hujan Ringan Hingga Awal Pekan Depan

0
Ilustrasi cuaca cerah berawan. (Foto: Pixabay)

NUKILAN.ID | Banda Aceh — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Sultan Iskandar Muda memprakirakan cuaca di wilayah Kota Banda Aceh selama sepekan ke depan akan didominasi oleh kondisi berawan dan hujan ringan.

Prakirawan BMKG yang bertugas, Dedy mengatakan, cuaca di Banda Aceh pada Selasa (14/10) hingga Senin (20/10) cenderung stabil dengan kelembaban tinggi, namun tetap berpotensi hujan ringan dan petir di beberapa waktu.

“Sejak pertengahan pekan, udara di Banda Aceh cenderung lembap dengan dominasi awan tebal. Potensi hujan ringan hingga sedang bisa terjadi terutama pada sore hingga malam hari,” ujar Dedy kepada Nukilan, Senin (13/10/2025).

Berdasarkan data prakiraan BMKG, pada Selasa (14/10) cuaca di Banda Aceh akan berawan tebal sejak dini hari hingga malam hari, dengan potensi hujan ringan pada pagi dan sore hari. Suhu udara berkisar antara 25 hingga 29 derajat Celsius, kelembaban mencapai 73–93 persen, dan kecepatan angin sekitar 2–10 kilometer per jam.

Pada Rabu (15/10), kondisi serupa masih berlanjut. Cuaca berawan tebal hampir sepanjang hari dengan peluang hujan ringan menjelang malam. Suhu udara berkisar 25–29 derajat Celsius dan kelembaban relatif tinggi antara 73–93 persen. Angin diperkirakan bertiup dari arah barat laut dengan kecepatan hingga 12 kilometer per jam.

Sementara pada Kamis (16/10), BMKG memprakirakan kondisi udara kabur pada pagi hingga siang hari, kemudian berawan tebal menjelang sore dan cerah berawan pada malam hari. Suhu udara berkisar 24–29 derajat Celsius dengan kelembaban mencapai 74–96 persen.

Memasuki akhir pekan, mulai Jumat hingga Senin (17–20 Oktober 2025), potensi cuaca ekstrem ringan seperti petir mulai meningkat. Pada Jumat (17/10), udara kabur masih mendominasi dengan suhu 23–29 derajat Celsius. Sedangkan pada Sabtu hingga Senin, cuaca disertai petir berpotensi terjadi pada siang dan malam hari, dengan suhu 24–29 derajat Celsius dan kecepatan angin mencapai 5–11 kilometer per jam.

Dedy menambahkan, masyarakat diimbau untuk tetap waspada terhadap perubahan cuaca, terutama bagi nelayan dan warga yang beraktivitas di luar ruangan.

“Meski hujan yang turun umumnya bersifat lokal dan berdurasi singkat, potensi kilat dan angin kencang sesaat tetap perlu diantisipasi,” ujar Dedy. []

Reporter: Sammy