Beranda blog Halaman 209

Cuaca Banda Aceh Didominasi Berawan dan Hujan Ringan Hingga Awal Pekan Depan

0
Ilustrasi cuaca cerah berawan. (Foto: Pixabay)

NUKILAN.ID | Banda Aceh — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Sultan Iskandar Muda memprakirakan cuaca di wilayah Kota Banda Aceh selama sepekan ke depan akan didominasi oleh kondisi berawan dan hujan ringan.

Prakirawan BMKG yang bertugas, Dedy mengatakan, cuaca di Banda Aceh pada Selasa (14/10) hingga Senin (20/10) cenderung stabil dengan kelembaban tinggi, namun tetap berpotensi hujan ringan dan petir di beberapa waktu.

“Sejak pertengahan pekan, udara di Banda Aceh cenderung lembap dengan dominasi awan tebal. Potensi hujan ringan hingga sedang bisa terjadi terutama pada sore hingga malam hari,” ujar Dedy kepada Nukilan, Senin (13/10/2025).

Berdasarkan data prakiraan BMKG, pada Selasa (14/10) cuaca di Banda Aceh akan berawan tebal sejak dini hari hingga malam hari, dengan potensi hujan ringan pada pagi dan sore hari. Suhu udara berkisar antara 25 hingga 29 derajat Celsius, kelembaban mencapai 73–93 persen, dan kecepatan angin sekitar 2–10 kilometer per jam.

Pada Rabu (15/10), kondisi serupa masih berlanjut. Cuaca berawan tebal hampir sepanjang hari dengan peluang hujan ringan menjelang malam. Suhu udara berkisar 25–29 derajat Celsius dan kelembaban relatif tinggi antara 73–93 persen. Angin diperkirakan bertiup dari arah barat laut dengan kecepatan hingga 12 kilometer per jam.

Sementara pada Kamis (16/10), BMKG memprakirakan kondisi udara kabur pada pagi hingga siang hari, kemudian berawan tebal menjelang sore dan cerah berawan pada malam hari. Suhu udara berkisar 24–29 derajat Celsius dengan kelembaban mencapai 74–96 persen.

Memasuki akhir pekan, mulai Jumat hingga Senin (17–20 Oktober 2025), potensi cuaca ekstrem ringan seperti petir mulai meningkat. Pada Jumat (17/10), udara kabur masih mendominasi dengan suhu 23–29 derajat Celsius. Sedangkan pada Sabtu hingga Senin, cuaca disertai petir berpotensi terjadi pada siang dan malam hari, dengan suhu 24–29 derajat Celsius dan kecepatan angin mencapai 5–11 kilometer per jam.

Dedy menambahkan, masyarakat diimbau untuk tetap waspada terhadap perubahan cuaca, terutama bagi nelayan dan warga yang beraktivitas di luar ruangan.

“Meski hujan yang turun umumnya bersifat lokal dan berdurasi singkat, potensi kilat dan angin kencang sesaat tetap perlu diantisipasi,” ujar Dedy. []

Reporter: Sammy

Jadwal Pelayanan SIM Keliling Aceh Timur Pekan Ini

0
Jadwal SIM Keliling Satuan Lalu Lintas (Satlantas) Polres Aceh Timur. (Foto: Instagram @humasacehtimurpoldaaceh

NUKILAN.ID | Idi – Satuan Lalu Lintas (Satlantas) Polres Aceh Timur kembali menghadirkan layanan SIM Keliling untuk memudahkan masyarakat memperpanjang Surat Izin Mengemudi (SIM) tanpa harus datang ke kantor polisi. Pelayanan ini berlangsung selama sepekan, mulai 13 hingga 18 Oktober 2025, di enam titik berbeda di wilayah Aceh Timur.

Dikutip Nukilan dari akun Instagram @humasacehtimurpoldaaceh, kegiatan dimulai pada Senin, 13 Oktober, di SP Lueng Angen, Kecamatan Pante Bidari, dengan jam pelayanan dari pukul 09.00 hingga 14.30 WIB. Keesokan harinya, Selasa, 14 Oktober, mobil layanan akan beroperasi di Masjid Baitul Muttaqin, Kecamatan Darul Aman, pada jam yang sama.

Pada Rabu, 15 Oktober, layanan berpindah ke depan Kantor PLN Julok, masih dengan waktu pelayanan pukul 09.00 sampai 14.30 WIB. Sementara itu, Kamis, 16 Oktober, masyarakat dapat mengurus perpanjangan SIM di SP 4 Peureulak Kota, juga mulai pukul 09.00 hingga 14.30 WIB.

Memasuki akhir pekan, jadwal pelayanan sedikit lebih singkat. Pada Jumat, 17 Oktober, mobil SIM Keliling hadir di Terminal Idi Rayeuk mulai pukul 09.00 hingga 12.00 WIB. Kemudian pada Sabtu, 18 Oktober, pelayanan terakhir pekan ini akan dilaksanakan di SP Kuala Idi Rayeuk dengan jam operasional yang sama, yakni pukul 09.00 sampai 12.00 WIB.

Satlantas Polres Aceh Timur mengingatkan masyarakat untuk menyiapkan dokumen persyaratan sebelum datang ke lokasi layanan. Persyaratan yang harus dibawa meliputi dua lembar fotokopi KTP, dua lembar fotokopi kartu BPJS, surat keterangan kesehatan, dan surat keterangan psikologi.

Program SIM Keliling ini merupakan bagian dari upaya Transformasi Menuju Polri yang Presisi, yang menekankan kemudahan akses dan peningkatan pelayanan publik di bidang lalu lintas. Dengan adanya layanan bergerak ini, masyarakat diharapkan dapat lebih mudah dan cepat memperpanjang masa berlaku SIM tanpa antre panjang di kantor Satlantas. []

Reporter: Sammy

Harga Emas di Banda Aceh Naik Lagi, Tembus Rp 2,17 Juta per Gram

0
Ilustrasi emas yang diberikan sebagai jeulamee (Foto: Cut Zahri)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Harga emas di Banda Aceh kembali mengalami kenaikan pada Senin (13/10/2025). Berdasarkan pantauan Nukilan.id dari toko perhiasan Bina Nusa, harga logam mulia (LM) kini berada di kisaran Rp 2.172.000 hingga Rp 2.152.000 per gram.

Sementara itu, harga emas lokal juga naik menjadi Rp 2.147.000 hingga Rp 2.130.000 per gram. Adapun harga emas per mayam tercatat Rp 6.960.000, belum termasuk ongkos pembuatan.

Kenaikan harga ini melanjutkan tren penguatan yang sudah berlangsung sejak awal Oktober. Dalam sepekan terakhir, harga emas di Banda Aceh meningkat lebih dari Rp 20.000 per gram, mengikuti pergerakan harga emas dunia yang dipicu ketidakstabilan ekonomi global dan penguatan dolar Amerika Serikat.

Untuk memudahkan pelanggan memantau harga harian, Bina Nusa secara rutin membagikan informasi terkini melalui akun media sosial @bina.nusa di Instagram, Bina Nusa di Facebook, serta layanan WhatsApp di 0811-6810-030. (XRQ)

Reporter: Akil

BPKA Terima Kunjungan Tim Monev Komisi Informasi Aceh, Bahas Evaluasi Keterbukaan Informasi Publik 2025

0
BPKA Terima Kunjungan Tim Monev Komisi Informasi Aceh. (Foto: BPKA)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Sekretaris Badan Pengelolaan Keuangan Aceh (BPKA), Ramzi, M.Si, menerima kunjungan Tim Monitoring dan Evaluasi (Monev) Komisi Informasi Aceh (KIA) di Aula BPKA, Senin (13/10/2025). Kunjungan ini merupakan bagian dari tahapan Evaluasi Keterbukaan Informasi Badan Publik Tahun 2025.

Tim Monev dipimpin oleh Komisioner Komisi Informasi Aceh Bidang Kelembagaan sekaligus Koordinator Monev 2025, Dian Rahmat Syahputra. Kehadiran mereka disambut langsung oleh jajaran pejabat struktural BPKA.

Dalam pertemuan tersebut, tim Komisi Informasi Aceh melakukan visitasi dan presentasi terkait implementasi keterbukaan informasi publik di lingkungan BPKA. Agenda ini menjadi bagian penting dari upaya KIA memastikan pelaksanaan prinsip transparansi di setiap badan publik di Aceh berjalan sesuai amanat Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik.

Kepala BPKA, Reza Saputra, S.STP., M.Si, yang berhalangan hadir, diwakili oleh Sekretaris BPKA, Ramzi, M.Si. Ia menyambut baik kegiatan ini dan menyatakan komitmen BPKA untuk terus memperkuat keterbukaan informasi sebagai bentuk akuntabilitas publik.

Kegiatan Monev oleh Komisi Informasi Aceh ini diharapkan dapat menjadi sarana evaluasi dan pembelajaran bagi seluruh badan publik di Aceh untuk meningkatkan kualitas pelayanan informasi kepada masyarakat.

Bupati Bireuen Hidupkan Kembali Sejarah Kota Juang di Panggung HUT ke-26

0
Bupati Bireuen H. Mukhis ST saat menutup rangkaian kegiatan HUT dan Pekan Kebudayaan Bireuen (PKB) I di Ruang Terbuka Hijau (RTH) Cot Gapu, Sabtu (11/12/2025) malam. (Foto: HO for Komparatif.ID)

NUKILAN.ID | BIREUEN – Malam puncak peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-26 Kabupaten Bireuen dan Pekan Kebudayaan Bireuen (PKB) I di Ruang Terbuka Hijau (RTH) Cot Gapu, Sabtu (11/10/2025), menjadi momen bersejarah tersendiri. Di hadapan belasan ribu warga yang memadati arena, Bupati Bireuen H. Mukhlis ST mengangkat kembali batang terendam sejarah Bireuen—sebuah langkah yang jarang dilakukan dalam perayaan serupa sebelumnya.

Meski hujan deras sempat mengguyur sore hari, antusiasme masyarakat tidak surut. Jalan menuju RTH Cot Gapu bahkan macet total hingga lebih dari satu jam. Polisi lalu lintas, petugas Dishub, dan Satpol PP harus bekerja ekstra mengatur arus kendaraan, sementara tukang parkir tampak kewalahan menghadapi membludaknya pengunjung.

Pidato Bupati Mukhlis berdurasi sekitar 23 menit itu menjadi sorotan utama malam penutupan. Disampaikan dengan dukungan visualisasi video, ia menelusuri jejak sejarah Bireuen sejak masa kerajaan hingga pascakemerdekaan.

Mulai dari asal-usul nama “Bireuen”, peran tokoh dan rakyatnya dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan, hingga kiprah dunia usaha yang menjadikan Bireuen dikenal sebagai Segitiga Emas Aceh, seluruhnya dirangkai dalam narasi reflektif yang memantik perhatian penonton.

Ketika Bupati menyebut nama Yuhan Min—tokoh yang makamnya berada di Meunasah Capa dengan inskripsi “Biruan” dan tarikh kematian yang tua—sejumlah penonton tampak tertegun.

“Ooo itu ya asal nama Bireuen. Rupanya Biruan,” celetuk seorang pemuda di dekat panggung.

“Itulah, aku baru tahu juga,” timpal temannya.

Bagian lain yang tak kalah menarik adalah ketika Bupati mengutip motto daerah, “Bireuen Gemilang Datang Padamu Bila Tekad Kukuh Berpadu”, yang ternyata diucapkan pertama kali oleh Bustanil Arifin dalam sebuah pidato di Kota Juang. Sejumlah penonton mengaku baru mengetahui asal-usul semboyan penuh semangat itu.

Terpisah, Ketua DPD I Golkar Aceh, Teuku Nurlif, yang turut hadir dalam rangkaian acara HUT tersebut, memuji capaian Kabupaten Bireuen. Ia menilai daerah yang baru berusia 26 tahun ini menunjukkan kemajuan pesat di berbagai bidang.

“Pak Bupati harus mampu membangun lebih bagus lagi. Saya percaya beliau mampu dan memiliki semangat besar untuk itu,” kata Nurlif sesaat sebelum menghadiri gala dinner di Pendopo Bupati.

Menurut Nurlif, masyarakat dan pemimpin Bireuen memiliki etos kerja tinggi serta tradisi ekonomi, politik, dan budaya yang telah mengakar sejak lama.

Puncak perayaan HUT ke-26 Bireuen malam itu bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan juga ruang bagi masyarakat untuk menengok kembali perjalanan panjang daerahnya—dari “Biruan” yang tertulis di batu nisan kuno hingga “Bireuen Gemilang” yang terus dibangun hari ini.

Aceh Barat Tambah Delapan Cagar Budaya Baru, Bukti Komitmen Lestarikan Warisan Daerah

0
Aceh Barat Tambah Delapan Cagar Budaya Baru, Bukti Komitmen Lestarikan Warisan Daerah. (Foto: Humas Aceh Barat)

NUKILAN.ID | MEULABOH — Pemerintah Kabupaten Aceh Barat terus menunjukkan komitmennya dalam menjaga dan melestarikan warisan sejarah daerah. Sepanjang tahun 2025, sebanyak delapan objek baru resmi ditetapkan sebagai cagar budaya, disertai pengakuan terhadap lima unsur budaya sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb).

Langkah tersebut mendapat apresiasi dari Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Kabupaten Aceh Barat, yang menilai Aceh Barat sebagai salah satu daerah paling progresif di Aceh dalam upaya pelestarian budaya dan warisan takbenda.

Apresiasi itu disampaikan di sela peringatan HUT Kota Meulaboh ke-437 dan Pekan Kebudayaan Aceh Barat (PKAB) 2025, Minggu (12/10/2025).

Ketua TACB Aceh Barat, Dr. Rahmad Syah Putra, MPd, MAg, menyebut bahwa pemerintah daerah telah menunjukkan keseriusan dalam melestarikan budaya melalui berbagai langkah strategis—mulai dari inventarisasi situs bersejarah, edukasi publik, hingga pelibatan generasi muda dalam kegiatan budaya.

“Pelestarian budaya di Aceh Barat kini bukan hanya menjaga masa lalu, tetapi memberi manfaat pendidikan dan ekonomi bagi masyarakat,” ujar Rahmad.

Rahmad menambahkan, delapan objek yang ditetapkan sebagai cagar budaya baru antara lain Makam Teuku Umar Johan Pahlawan, Masjid Tuha Mugo, dan Meriam Arongan Lambalek.

Sementara itu, lima unsur budaya yang kini berstatus Warisan Budaya Takbenda adalah Malam Boh Gaca, Si Dalupa, Motif Sulu Bayung Aceh Barat, Bloh Apui, dan Tari Pho.

Menurut Rahmad, capaian ini menunjukkan kemajuan nyata pelestarian budaya di tingkat daerah, termasuk melalui kegiatan Festival Warisan Budaya Aceh Barat 2025 yang melibatkan pelajar, seniman, dan komunitas lokal.

Dari sisi pemerintah daerah, Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Aceh Barat, Kartika Eka Sari, SSTP, MSi, menyebut pihaknya tengah menyiapkan dua program besar: Ensiklopedia Kebudayaan Aceh Barat dan rencana pendirian Museum Daerah.

“Kami ingin warisan budaya tidak hanya dipertunjukkan, tapi juga dipelajari dan dimanfaatkan untuk kesejahteraan masyarakat,” ujarnya.

Kartika menegaskan bahwa penguatan pelestarian budaya akan dilakukan melalui digitalisasi arsip sejarah, pemberdayaan komunitas budaya, serta promosi wisata berbasis warisan lokal.

“Cagar budaya bukan sekadar peninggalan masa lalu, melainkan fondasi masa depan. Dengan pelestarian yang terencana, kita memperkuat jati diri dan daya saing daerah,” kata Kartika.

Sebagai informasi, TACB Aceh Barat merupakan tim independen yang dibentuk berdasarkan rekomendasi Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi. Tim ini bertugas memberikan pertimbangan ilmiah dalam penetapan dan perlindungan cagar budaya di tingkat kabupaten.

Dengan langkah-langkah tersebut, Aceh Barat perlahan meneguhkan diri sebagai salah satu daerah yang serius menjaga warisan budaya untuk generasi mendatang.

Gubernur Aceh Dorong Legalisasi 2.101 Sumur Minyak Rakyat

0
Ilustrasi Sumur Minyak. (Foto: law-justice.co)

NUKILAN.ID | Banda Aceh — Pemerintah Aceh mengusulkan legalisasi terhadap 2.101 sumur minyak rakyat kepada Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM). Langkah ini menjadi upaya pemerintah daerah untuk memberikan kepastian hukum bagi aktivitas penambangan minyak tradisional yang selama ini dilakukan masyarakat.

Kepala Dinas ESDM Aceh, Taufik, mengatakan bahwa usulan tersebut merupakan hasil finalisasi data pada September 2025.

“Saat ini kita menunggu hasil verifikasi dari Dirjen Migas,” ujarnya, Sabtu (11/10/2025).

Menurut Taufik, ribuan sumur minyak tersebut tersebar di Aceh Timur, Aceh Utara, Bireuen, dan Aceh Tamiang. Usulan itu disampaikan melalui surat Gubernur Aceh, Muzakir Manaf, tertanggal 29 September 2025, sebagai tindak lanjut dari Peraturan Menteri ESDM Nomor 14 Tahun 2025.

Pemerintah Aceh berharap, dengan adanya legalisasi ini, kegiatan penambangan minyak rakyat dapat berjalan lebih tertib, aman, dan memberikan manfaat ekonomi yang lebih besar bagi masyarakat. Selain itu, legalisasi juga diharapkan berkontribusi terhadap peningkatan produksi migas nasional.

Langkah ini menjadi salah satu prioritas Pemerintah Aceh dalam menata kembali sektor energi berbasis kearifan lokal, sekaligus membuka ruang bagi pengelolaan sumber daya alam yang lebih berkeadilan bagi rakyat.

Rateeb Meuseukat, Tari Dakwah Aceh yang Kini Diakui sebagai Warisan Budaya Takbenda 2025

0
Kementerian Kebudayaan menetapkan Rateeb Meuseukat Aceh, tari tradisional Nagan Raya yang sarat dakwah, sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia 2025. Apa keunikan tari ini? (FOTO: AntaraNews)

NUKILAN.ID | SUKAMAKMUE — Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia menetapkan Rateeb Meuseukat, tari tradisional khas Kabupaten Nagan Raya, Aceh, sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) Indonesia tahun 2025. Bersama Rateeb Minsa, keduanya diakui karena memiliki nilai historis, religius, dan budaya yang tinggi.

Kabar menggembirakan ini disampaikan oleh Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga (Disbudparpora) Kabupaten Nagan Raya, Musiddiq. Ia menyebut penetapan tersebut sebagai bentuk apresiasi pemerintah pusat terhadap kekayaan budaya daerah yang sarat nilai-nilai Islam.

“Berisi ajakan untuk menegakkan nilai-nilai amar makruf nahi mungkar. Rateeb ini biasa ditampilkan pada upacara keagamaan, hari-hari besar Islam, maupun upacara pernikahan,” ujar Musiddiq.

Penetapan ini menjadi tonggak penting bagi masyarakat Nagan Raya. Selain memperkuat identitas budaya lokal, pengakuan WBTb juga diharapkan mampu menumbuhkan kesadaran kolektif untuk terus melestarikan tradisi yang telah diwariskan secara turun-temurun.

Tari Dakwah Tanpa Alat Musik

Rateeb Meuseukat merupakan tarian yang unik karena tidak menggunakan alat musik sebagai pengiring utama. Penampilan tarian ini mengandalkan kekuatan vokal (syahi) dan ketukan tubuh para penari untuk menciptakan ritme yang khas. Meski begitu, dalam beberapa pertunjukan, alat musik tradisional seperti rapa’i dan gendrang dapat digunakan untuk memperkuat suasana.

Tarian ini dibawakan oleh perempuan, dengan gerak yang ritmis, kompak, dan penuh ekspresi keagamaan. Nama Rateeb Meuseukat sendiri berasal dari bahasa Arab: rateeb berarti ibadah, sedangkan meuseukat bermakna diam — menggambarkan ketenangan dalam penghambaan kepada Allah SWT.

Lirik syair yang dilantunkan dalam tarian ini berisi pujian kepada Allah dan Rasulullah, menjadikan Rateeb Meuseukat bukan sekadar seni pertunjukan, melainkan media dakwah yang sarat nilai spiritual.

Rateeb Minsa, Tradisi Ramadan Masyarakat Nagan Raya

Selain Rateeb Meuseukat, Kementerian Kebudayaan juga menetapkan Rateeb Minsa sebagai Warisan Budaya Takbenda tahun ini. Tradisi keagamaan ini biasanya dilaksanakan khusus pada bulan Ramadan, dimulai dari tanggal 25 hingga akhir bulan suci.

Kegiatan Rateeb Minsa dilakukan setelah salat tarawih hingga menjelang sahur, dan hanya diikuti oleh kaum pria. Tradisi ini menjadi bagian penting dari kehidupan religius masyarakat Nagan Raya dalam mengisi malam-malam Ramadan dengan zikir dan doa.

Apresiasi Pemerintah Daerah

Bupati Nagan Raya, Teuku Raja Keumangan, menyampaikan rasa bangga dan apresiasinya atas penetapan dua warisan budaya tersebut. Ia menilai, pengakuan ini merupakan hasil kerja keras dan kolaborasi semua pihak, khususnya masyarakat yang tetap menjaga nilai-nilai tradisi.

“Terima kasih kepada semua pihak, terutama masyarakat Nagan Raya, yang telah memberikan dukungan terhadap proses pengusulan ini kepada Kementerian Kebudayaan,” ujar Teuku Raja Keumangan.

Ia menambahkan, pengakuan dari pemerintah pusat ini menjadi bukti bahwa Nagan Raya memiliki warisan budaya yang layak dibanggakan dan terus dijaga keberlanjutannya.

“Penetapan ini merupakan bentuk pengakuan nasional atas kekayaan budaya Nagan Raya. Ini juga menjadi wujud nyata komitmen Pemerintah Kabupaten Nagan Raya dalam melestarikan, memajukan, dan menguatkan nilai-nilai budaya daerah untuk generasi mendatang,” tambahnya.

Dengan pengakuan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia 2025, Rateeb Meuseukat dan Rateeb Minsa kini berdiri sejajar dengan sejumlah tradisi besar Nusantara lainnya—sebagai simbol kuatnya perpaduan antara seni, dakwah, dan kearifan lokal masyarakat Aceh.

Bupati Abdya Cabut Rekomendasi Tambang, Ketua IKA IP USK: Tak Perlu Dipuji, Memang Sudah Tugasnya

0
T Auliya Rahman
Ketua Ikatan Alumni Ilmu Pemerintahan USK, T. Auliya Rahman. (Foto: Dok. Pribadi)

NUKILAN.ID | Banda Aceh — Ketua Ikatan Alumni Ilmu Pemerintahan (IKA IP) Universitas Syiah Kuala, T. Auliya Rahman, menilai keputusan Bupati Aceh Barat Daya (Abdya), Safaruddin, yang mencabut rekomendasi terhadap aktivitas tambang Laguna Jaya Tambang merupakan langkah yang memang seharusnya dilakukan pemerintah dalam menjaga kelestarian lingkungan.

Auliya, yang saat ini tengah menempuh studi Magister Islam Pembangunan dan Kebijakan Publik di UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta, mengingatkan agar keputusan tersebut tidak disikapi secara berlebihan.

“Terkait keputusan Bupati Abdya mencabut rekomendasi Laguna Jaya Tambang, saya merasa tidak perlu dipuji, karena itu memang sudah tugasnya untuk menjaga kelestarian alam dan ketenteraman masyarakat,” ungkapnya kepada Nuklan.id pada Minggu (12/10/2025).

Ia menilai, munculnya berbagai pernyataan yang memuji berlebihan langkah Pemkab Abdya tersebut menunjukkan masih rendahnya kesadaran publik terhadap fungsi dasar negara dalam melindungi warga dan lingkungan.

“Saya merasa heran dengan pernyataan beberapa tokoh dan perwakilan kelompok tertentu yang sering kali memuji berlebihan tindakan yang sejatinya sudah menjadi tanggung jawab dari pemerintah,” lanjutnya.

Lebih jauh, Auliya menegaskan bahwa persoalan tambang di Abdya belum selesai. Ia mengingatkan bahwa rencana pengalihan bentuk menjadi tambang rakyat justru berpotensi menimbulkan kerusakan lingkungan baru, meski dalam skala yang lebih kecil.

“Sekarang tugas kita adalah untuk terus memantau perkembangan isu ini, karena wacana pengalihan bentuk menjadi tambang rakyat tidak menutup kemungkinan akan adanya kerusakan lingkungan yang ditimbulkan di kemudian hari, hanya saja skalanya lebih kecil,” tegasnya.

Menurutnya, jika wacana tambang rakyat benar-benar dijalankan, maka pemerintah perlu memperketat pengawasan terhadap Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) serta menjamin keselamatan para pekerja.

“Dengan hadirnya wacana tambang rakyat ini, pemantauan AMDAL dan tingkat keamanan para pekerja juga perlu diperketat, diperketat ya bukan dipersulit. Karena tanpa kontrol yang ketat ditakutkan tambang rakyat malah menjadi musibah baru,” katanya.

Selain pengawasan, Auliya juga menekankan pentingnya edukasi publik mengenai kesadaran lingkungan serta upaya mitigasi sejak dini terhadap potensi kerusakan alam.

“Selain itu edukasi tentang kesadaran lingkungan juga perlu diberikan kepada masyarakat agar dari awal kita sudah memitigasi ancaman kerusakan lingkungan dan memberi alternatif-alternatif bentuk pengelolaan hasil alam yang lain, tidak hanya sekadar tambang,” ujarnya.

Ia berharap, setiap kebijakan pemerintah di sektor sumber daya alam harus selalu melibatkan masyarakat secara aktif agar keputusan yang diambil benar-benar berpihak pada keberlanjutan lingkungan dan kesejahteraan rakyat.

“Dan tentunya pemerintah senantiasa harus melibatkan masyarakat dalam setiap keputusan yang diambil,” tutupnya. (xrq)

Reporter: Akil

Melihat Kemeriahan Banda Aceh Fishing Tournament, Hidupkan Wisata Bahari dan Ekonomi

0
Potret Peserta Banda Aceh Fishing Tournament. (Foto: Nukilan)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Ribuan peserta dari berbagai daerah di Aceh memadati kawasan pesisir Banda Aceh untuk mengikuti ajang Banda Aceh Fishing Tournament. Kegiatan ini menjadi bukti antusiasme masyarakat sekaligus potensi besar ibu kota provinsi Aceh dalam mengembangkan sektor wisata bahari.

Turnamen yang digelar Pemerintah Kota Banda Aceh melalui Dinas Pariwisata bekerja sama dengan Komunitas Pemancing TRB Fishing itu berlangsung meriah di sepanjang garis pantai, mulai dari Nol Kilometer Gampong Pande hingga Ulee Lheu, baru-baru ini.

Sebanyak 1.000 peserta dari 15 kabupaten/kota di Aceh ikut ambil bagian. Mereka datang dari berbagai daerah, dari usia muda hingga dewasa, laki-laki maupun perempuan, semuanya menjajal kail mereka untuk memperebutkan gelar juara.

Amatan Nukilan.id. tak hanya para pemancing, kawasan pesisir juga dipadati oleh pedagang dan penonton yang turut meramaikan suasana. Sejak pagi, deretan kendaraan penjual makanan dan minuman tampak berjajar di jalan tepi pantai.

“Alhamdulillah, ramai sekali hari ini. Dagangan saya cepat habis, terutama minuman dingin,” ujar Nurhayati, pedagang minuman, sambil melayani pembeli. Ia mengaku pendapatannya meningkat dua kali lipat dibanding hari biasa.

Sementara itu, Hendra, salah satu penonton asal Gampong Peunayong, mengatakan ia datang bersama teman-temannya untuk menyaksikan keseruan para pemancing dari berbagai daerah.

“Seru lihatnya, apalagi kalau ada yang dapat ikan besar. Semoga acara seperti ini sering diadakan lagi,” ujarnya.

Ajang ini tak hanya menjadi wadah bagi para penghobi memancing, tetapi juga menggerakkan ekonomi masyarakat pesisir dan memperkuat citra Banda Aceh sebagai destinasi wisata bahari yang potensial di ujung barat Indonesia. (XRQ)

Reporter: Akil