Beranda blog Halaman 207

Kisah Kebangkitan Gampong Nusa: Dari Puing Tsunami Menjadi Destinasi Wisata Hijau

0
Jembatan yang menjadi salah satu icon desa wisata Gampong Nusa di Kecamatan Lhoknga Kabupaten Aceh Besar, terlihat sedang dimanfaatkan oleh satu pasangan sebagai lokasi foto prewedding, Senin (23/10/2023). (FOTO: WAHYU DESMI)

NUKILAN.ID | FEATURE – Udara sejuk dan panorama yang menenangkan akan langsung menyapa begitu kaki menapaki desa ini. Terletak di antara barisan bukit yang menjulang dan hamparan sawah hijau, Gampong Nusa di Kecamatan Lhoknga, Kabupaten Aceh Besar, bagai lukisan alam yang hidup.

Kini, desa ini dikenal luas sebagai salah satu desa wisata berbasis masyarakat yang sukses menghidupkan potensi lokal dan semangat warganya.

Memasuki gerbang utama Gampong Nusa, mata akan dimanjakan dengan pemandangan yang tertata rapi dan bersih. Bukan hanya karena alamnya yang memesona, tetapi juga karena kesadaran warganya dalam menjaga lingkungan. Di sini, kebersihan bukan sekadar kebiasaan, melainkan nilai yang dipegang bersama.

Kesadaran itu juga ditularkan kepada setiap pengunjung yang datang. Warga berharap para wisatawan ikut menjaga kebersihan dan tidak meninggalkan sampah selama menikmati suasana desa.

Keindahan Gampong Nusa seolah begitu alami—perpaduan antara sawah dan perbukitan menciptakan panorama yang menenangkan, bak kepingan surga yang jatuh ke bumi. Tak mengherankan jika desa ini kerap menjadi lokasi favorit untuk berfoto, terutama bagi pasangan yang ingin mengabadikan momen prewedding berlatar alam.

Namun, kisah Gampong Nusa tak berhenti pada keindahan lanskapnya. Di balik pesona alam itu tersimpan cerita perjuangan panjang: bagaimana sebuah desa yang dulunya porak-poranda akibat tsunami, kini bangkit menjadi simbol harapan dan kemandirian.

Dua dekade silam, Gampong Nusa adalah salah satu kawasan yang hancur lebur saat gelombang tsunami menerjang Aceh pada Desember 2004. Banyak nyawa melayang, rumah dan fasilitas umum pun luluh lantak. Namun, seperti halnya masyarakat Aceh lainnya, warga Gampong Nusa memilih untuk bangkit dan menatap masa depan dengan optimisme.

Dalam wawancara yang dilakukan pada September lalu, Nurhayati, Ketua Lembaga Pariwisata Nusa (LPN), mengisahkan awal kebangkitan warganya yang bermula dari program daur ulang sampah yang difasilitasi oleh lembaga internasional ISP dan USAID.

“Saat itu ada 112 orang ibu PKK yang dilatih mendaur ulang sampah organik, seperti sachet kopi yang di anyam sedemikian rupa sehingga menjadi barang yang berguna. Ada juga yang membuat tas, dompet, bunga, kotak tisu, dan sebagainya,” ungkap Nurhayati.

Kreativitas itu ternyata menjadi titik balik. Antara tahun 2005 hingga 2013, Gampong Nusa sering didatangi pengunjung yang penasaran dengan hasil karya warga. Para ibu-ibu pun mulai menjual produk mereka.

“Pendapatan yang diperoleh dari kedatangan orang luar hanya tergantung dari adanya pembelian. Kalau tidak ada yang beli, ya tidak ada uang,” kenang Nurhayati.

Seiring waktu, nama Gampong Nusa semakin dikenal. Banyak wisatawan datang untuk menikmati suasana dan belajar dari aktivitas warga. Melihat potensi itu, sejak 2013 hingga 2015, LPN bersama masyarakat mulai melakukan pemetaan potensi wisata di empat dusun yang ada di desa tersebut.

“Disini kan ada 4 dusun. Jadi masing-masing dusun itu kita gali potensi apa yang dapat dimanfaatkan,” jelas Nurhayati.

Dari hasil pemetaan lahirlah ide untuk membuat berbagai paket wisata yang berakar dari kegiatan sehari-hari masyarakat.

“Misalnya paket wisata memasak. Kan banyak tuh para wisatawan yang penasaran bagaimana cara memasak kuah pliek, kuah beulangong, sie reuboh ataupun kuliner khas Aceh lainnya. Nah, dengan mengambil paket ini para pengunjung kita libatkan langsung saat pembuatannya dan bagaimana cara memasaknya. Kita bungkus kegiatan ini dengan paket wisata Cooking Class,” tutur Nurhayati.

Selain Cooking Class, Gampong Nusa juga menawarkan beragam paket menarik lainnya seperti Paket Tradisional Dance, Paket Menganyam, Paket Tron u Blang, Paket Drop Udeng, hingga Paket Let Tuloe—yakni aktivitas unik mengejar burung pipit di sawah saat musim tanam.

“Burung Pipit ini biasanya akan ramai ketika musim turun ke sawah. Jadi wisatawan yang mengambil paket ini juga akan turut merasakan sensasi bagaimana mengejar burung Pipit alias let tuloe,” terang Nurhayati.

Kini, Gampong Nusa telah memiliki puluhan homestay yang dikelola warga, menjadi tempat singgah nyaman bagi wisatawan yang ingin menikmati malam di desa wisata ini.

Pada tahun 2015, LPN resmi meluncurkan Gampong Nusa sebagai Desa Wisata Berbasis Masyarakat, dengan konsep utama bahwa seluruh kegiatan wisata bersumber dari aktivitas keseharian masyarakat.

“Seluruh paket wisata yang ditawarkan bersandar dari kegiatan-kegiatan keseharian yang dilakukan oleh masyarakat Nusa. Karena itulah kenapa konsep ini disebut wisata berbasis masyarakat,” jelas Nurhayati.

Kerja keras dan kreativitas itu akhirnya berbuah manis. Pada ajang Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2021 di Jakarta, Gampong Nusa meraih Juara I kategori Homestay—sebuah pengakuan nasional atas keberhasilan mereka mengelola pariwisata secara mandiri dan berkelanjutan.

Konsep wisata berbasis masyarakat yang diusung Gampong Nusa bukan hanya memperkuat ekonomi warga, tapi juga menjaga kelestarian budaya serta kearifan lokal.

“Yuk berkunjung ke Gampong Nusa. Bagi pengunjung yang ingin mendapat informasi lebih lanjut silahkan kunjungi Ig @gampongnusaku,” ajak Nurhayati menutup perbincangan.

Kini, Gampong Nusa bukan sekadar tempat wisata. Ia adalah simbol keteguhan hati—sebuah kisah tentang bagaimana luka masa lalu bisa disembuhkan oleh gotong royong, harapan, dan cinta terhadap tanah sendiri. (XRQ)

Reporter: Akil

PERHAPI Aceh Dorong Penyusunan Blue Print PPM untuk Wujudkan Desa Mandiri di Sekitar Tambang

0
PERHAPI Aceh Dorong Penyusunan Blue Print PPM untuk Wujudkan Desa Mandiri di Sekitar Tambang. (Foto: For Nukilan)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia (PERHAPI) Aceh menyatakan dukungan penuh terhadap langkah Pemerintah Aceh dalam memperkuat Program Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat (PPM) sektor pertambangan menuju pembangunan berkelanjutan.

Dukungan itu disampaikan dalam Forum Sosialisasi dan Penyusunan Rencana Kerja Tim Efektif Proyek Perubahan “Optimalisasi Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat (PPM) Kegiatan Pertambangan Menuju Desa Mandiri Berkelanjutan” yang digelar oleh Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Aceh, Rabu (15/10/2025) di Aula Dinas ESDM Aceh.

Forum tersebut mempertemukan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari perwakilan perusahaan pertambangan, akademisi, hingga organisasi profesi bidang pertambangan. Pertemuan ini menjadi langkah awal untuk menyusun arah kebijakan dan rencana kerja PPM Aceh yang terintegrasi menuju terwujudnya desa mandiri di sekitar wilayah tambang.

Apresiasi disampaikan kepada Kepala Dinas ESDM Aceh, Taufik, ST, M.Si, atas inisiatifnya membangun sinergi lintas sektor dalam perencanaan PPM. Upaya kolaboratif ini dinilai sebagai strategi tepat untuk memastikan manfaat keberadaan kegiatan pertambangan dapat dirasakan langsung oleh masyarakat sekitar.

Sementara itu Sekretaris Jenderal, Muhammad Hardi, kepada Nukilan.id menegaskan pentingnya PPM sebagai instrumen yang menghubungkan antara kegiatan industri tambang dengan kesejahteraan sosial masyarakat.

“Kami percaya, PPM bukan sekadar kewajiban administratif yang harus dipenuhi perusahaan, tetapi merupakan sarana strategis untuk membangun kesejahteraan berkelanjutan bagi masyarakat di wilayah tambang,” ujar Muhammad Hardi.

Ia menambahkan, pelaksanaan PPM di Aceh perlu memiliki arah kebijakan dan peta jalan yang jelas sebagaimana diamanatkan oleh Kepmen ESDM No. 1824 K/30/MEM/2018. Untuk itu, penyusunan Blue Print PPM Aceh menjadi langkah mendesak agar pelaksanaan program di setiap wilayah tambang lebih terukur dan tepat sasaran.

“Kami mendorong agar forum ini menjadi momentum awal penyusunan Blue Print PPM Aceh, yang selama ini belum terwujud. Dengan adanya dokumen tersebut, arah pembangunan masyarakat tambang akan lebih jelas dan memberikan manfaat langsung bagi masyarakat,” tambahnya.

PERHAPI Aceh menegaskan komitmennya untuk terlibat aktif mendukung Pemerintah Aceh dan seluruh pihak terkait dalam memastikan bahwa seluruh kegiatan pertambangan di Aceh berjalan sesuai prinsip good mining practice serta memberikan nilai tambah sosial dan ekonomi bagi masyarakat sekitar. (XRQ)

Reporter: Akil

Novi Rosmita: Pemda Harus Pastikan Pelaksana MBG Miliki Sertifikat Higiene dan Sanitasi

0
Sekretaris Komisi IV Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten (DPRK) Aceh Selatan, Novi Rosmita, S.E., M.Kes. (Foto: For Nukilan)

NUKILAN.ID | TAPAKTUAN — Sekretaris Komisi IV Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten (DPRK) Aceh Selatan, Novi Rosmita, S.E., M.Kes, menegaskan pentingnya tindak lanjut pemerintah daerah terhadap pelaksanaan Program Makanan Bergizi Gratis (MBG). Menurutnya, setiap pelaksana program wajib memiliki sertifikat laik higiene dan sanitasi agar MBG benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat.

“Pemerintah daerah harus menindaklanjuti hal ini, setiap pelaksana wajib memiliki sertifikat laik hygiene dan sanitasi, agar program MBG benar-benar memberi manfaat dan tidak sekadar menggugurkan kewajiban,” kata Novi kepada wartawan, Rabu (15/10/2025).

Ia menekankan bahwa program MBG merupakan langkah strategis pemerintah pusat dalam meningkatkan kualitas gizi anak-anak sekolah. Namun, pelaksanaannya di daerah tidak boleh berjalan secara seremonial tanpa pengawasan yang ketat.

“Kalau kita lihat secara umum, program ini sangat bagus dari pusat. Tapi tinggal bagaimana kita di daerah memastikan fungsi pengawasan itu benar-benar berjalan,” ujarnya.

Novi menjelaskan, DPRK Aceh Selatan telah menjalankan fungsi pengawasan dengan memanggil pihak-pihak terkait yang menjadi pelaksana program MBG di daerah. Langkah ini dilakukan agar masyarakat mengetahui pihak yang bertanggung jawab apabila terjadi kendala di lapangan.

“Kami sudah pernah memanggil pihak pelaksana MBG di daerah. Mereka harus memiliki pusat pengaduan atau hotline agar masyarakat bisa langsung melapor jika ada masalah terkait menu atau distribusi makanan bergizi,” jelasnya.

Selain itu, Komisi IV DPRK Aceh Selatan juga berencana memanggil seluruh mitra dan yayasan pelaksana program, termasuk tenaga ahli gizi yang terlibat. Pemanggilan ini dilakukan menyusul adanya laporan dan pemberitaan terkait menu makanan yang dinilai tidak layak atau tidak sesuai standar gizi.

“Kita sudah melayangkan surat pemanggilan kepada yayasan, mitra, dan tenaga ahli gizi. Kami ingin memastikan, apakah tenaga ahli yang terlibat benar-benar kompeten dan memiliki latar belakang pendidikan yang sesuai,” tegas Novi.

Ia juga mendorong pemerintah daerah untuk membentuk satuan tugas (Satgas) khusus guna melakukan pengawasan rutin terhadap pelaksanaan program MBG di seluruh sekolah di Aceh Selatan.

“Program ini harus benar-benar diawasi bersama, tidak hanya oleh DPRK tapi juga oleh pemerintah daerah. Bila perlu dibentuk Satgas khusus agar pelaksanaannya lebih terarah dan transparan,” sambungnya.

Terkait dugaan pelanggaran dalam pelaksanaan MBG, Novi menyebut belum ada laporan resmi. Meski demikian, DPRK Aceh Selatan telah menerima sejumlah keluhan masyarakat yang kemudian diteruskan kepada koordinator wilayah (Korwil).

“Jika ada keluhan dari masyarakat tetap kami tindaklanjuti. Kami sudah sampaikan ke Korwil dan ketua SPPG di tiap kecamatan untuk ditindaklanjuti,” ungkapnya.

Novi menegaskan, pemerintah daerah melalui Dinas Kesehatan memiliki tanggung jawab besar untuk memastikan seluruh pelaksana MBG memenuhi persyaratan, termasuk kepemilikan sertifikat laik higiene dan sanitasi, demi menjamin keamanan dan kualitas makanan yang diberikan kepada siswa.

Diduga Mortir, Benda Mencurigakan di Pidie Dievakuasi Tim Gegana Brimob Aceh

0
Benda Mencurigakan di Pidie Dievakuasi Tim Gegana Brimob Aceh. (Foto; For Nukilan)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Sebuah benda mencurigakan menyerupai proyektil mortir ditemukan di kebun warga Gampong Kampong Jeumpa, Kecamatan Sakti, Kabupaten Pidie. Penemuan tersebut membuat warga geger hingga akhirnya Tim Gegana Satbrimob Polda Aceh turun langsung ke lokasi untuk melakukan penanganan.

Komandan Satuan Brimob Polda Aceh, Kombes Pol Zuhdi Batubara, S.I.K., M.Han., melalui Komandan Detasemen Gegana Satbrimob Polda Aceh, Kompol Akmal, S.E., M.M., saat dihubungi Nukilan.id mengatakan, langkah cepat diambil setelah menerima laporan dari Polsek Sakti mengenai penemuan benda mencurigakan itu.

“Begitu menerima perintah dari Dansat Brimob Polda Aceh, kami segera menurunkan Unit Penjinakan Bom (Jibom) untuk memastikan keamanan masyarakat serta mengevakuasi benda yang ditemukan ke lokasi aman,” ujar Kompol Akmal.

Tim Jibom yang dipimpin oleh Kanit 1 Jibom Ipda Joko Harsono, bersama Operator 1 Bripka Zul Adevi dan Pembantu Operator Bripka Hidayat Ramadhan, langsung bergerak menuju lokasi untuk melakukan pemeriksaan. Dari hasil pengecekan awal, benda tersebut memang menyerupai proyektil mortir dengan panjang sekitar 20 sentimeter dan diameter 4 inci.

Kronologi bermula pada Senin (13/10/2025) sekitar pukul 10.00 WIB. Saat membersihkan kebun, Musliadi, warga setempat, menemukan benda logam yang mencurigakan. Menyadari potensi bahaya, ia segera melaporkan temuannya ke Polsek Sakti.

Petugas kemudian mengevakuasi benda itu ke area kosong di belakang kantor Polsek untuk diamankan sementara. Setelah memastikan situasi terkendali, tim Gegana melakukan disposal atau pemusnahan sesuai dengan Standar Operasional Prosedur (SOP) penanganan bahan peledak.

Kompol Akmal menegaskan bahwa seluruh proses dilakukan dengan pengamanan ketat dan koordinasi bersama aparat wilayah.

“Koordinasi kami dengan aparat kewilayahan sangat penting agar penanganan berjalan cepat, terukur, dan tidak menimbulkan kepanikan di tengah masyarakat,” ujarnya.

Sementara itu, Kombes Pol Zuhdi Batubara menyampaikan apresiasi atas sikap cepat warga yang melapor tanpa mencoba memindahkan atau membongkar benda tersebut secara mandiri.

“Terima kasih kepada masyarakat Kecamatan Sakti yang telah mematuhi himbauan kami. Kami juga berharap kepada seluruh masyarakat Aceh, apabila menemukan benda yang mencurigakan agar segera melaporkannya kepada aparat kepolisian terdekat. Langkah ini sangat penting untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan dan menjaga keselamatan bersama,” ujar Kombes Pol Zuhdi Batubara.

Hingga berita ini diturunkan, situasi di lokasi dilaporkan aman dan terkendali. Proyektil yang diduga mortir tersebut kini telah diamankan oleh Tim Gegana Satbrimob Polda Aceh untuk pemeriksaan lebih lanjut bersama Polres Pidie dan Polsek Sakti. (XRQ)

Reporter: Akil

PEMA dan Pemerintah Aceh Jajaki Industri Peternakan Modern di Tiongkok, Menuju Swasembada Pangan

0
Gubernur Aceh, Muzakir Manaf (Mualem), bersama Direktur Utama PT Pembangunan Aceh (PEMA), Mawardi Nur, meninjau langsung peternakan ayam petelur terbesar di Provinsi Henan, Tiongkok, Selasa (14/10/2025). (Foto: HUMAS PT PEMA)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Gubernur Aceh, Muzakir Manaf (Mualem), bersama Direktur Utama PT Pembangunan Aceh (PEMA), Mawardi Nur, meninjau langsung peternakan ayam petelur terbesar di Provinsi Henan, Tiongkok, Selasa (14/10/2025). Kunjungan ini merupakan tindak lanjut dari penandatanganan Nota Kesepahaman antara PEMA dengan perusahaan teknologi asal Henan, Zhongke Holdings Green Technology Co., Ltd.

Kemitraan tersebut difokuskan pada pengembangan kawasan industri unggas dan telur berteknologi tinggi serta ramah lingkungan di Aceh. Langkah ini diharapkan menjadi terobosan baru dalam memperkuat ketahanan pangan daerah dan membuka peluang ekspor hasil peternakan Aceh ke pasar global.

Rombongan Aceh yang terdiri dari perwakilan DPMPTSP, KADIN Aceh, dan manajemen PEMA meninjau fasilitas produksi milik Xinxiang Anlong Agricultural Technology Co., Ltd., perusahaan yang dikenal sebagai peternakan ayam petelur terbesar di Henan sekaligus salah satu yang paling modern di Tiongkok.

Fasilitas tersebut memiliki kapasitas produksi hingga 1 juta butir telur per hari, dengan sistem yang sepenuhnya otomatis dan terintegrasi. Mulai dari pembuatan pakan, pengelolaan kandang tertutup (closed house), hingga pengumpulan dan pengemasan telur dilakukan dengan teknologi canggih yang diawasi secara real-time.

Di lokasi, Mualem mengapresiasi efisiensi dan skala besar industri tersebut.

“Apa yang kita saksikan di sini adalah masa depan industri peternakan. Skala, efisiensi, dan penerapan teknologinya sangat menarik. Ini menguatkan visi kami bahwa Aceh, dengan dukungan mitra yang tepat, mampu membangun fasilitas berkelas dunia seperti ini untuk mencapai swasembada pangan dan menembus pasar ekspor dalam jangka panjang,” ujar Mualem.

Selain meninjau Anlong Agriculture, rombongan juga mengunjungi Zhuoyi Husbandry Machinery, perusahaan penyedia peralatan dan sistem peternakan ayam petelur modern yang menjadi pemasok teknologi utama bagi sejumlah peternakan besar di Tiongkok. Di sana, Gubernur dan Dirut PEMA melihat langsung berbagai inovasi, mulai dari desain kandang otomatis, sistem pakan dan minum, hingga teknologi pengumpul telur berbasis konveyor.

Dirut PEMA, Mawardi Nur, menyampaikan bahwa membangun kemitraan internasional bukan hal mudah bagi BUMD yang masih muda seperti PEMA.

“Namun berkat kerja keras, kebersamaan, dan tekad kuat seluruh tim, kita berhasil membangun kepercayaan. Ini bukan hanya pencapaian PEMA, tetapi hasil doa dan dukungan masyarakat Aceh,” ujarnya.

Mawardi berharap kerja sama ini dapat menjadi awal kebangkitan sektor peternakan dan pertanian Aceh agar lebih maju, berdaya saing, serta mampu menarik investasi nasional dan internasional.

“Kami berharap langkah ini menjadi awal kebangkitan ekonomi Aceh di bawah kepemimpinan Pak Gubernur Mualem dan Wakil Gubernur Dekfad. Kami berkomitmen bekerja profesional untuk memastikan semua berjalan sesuai rencana,” tutupnya.

Krueng Pirak Meluap, Tujuh Desa di Aceh Utara Terendam Banjir

0
Banjir merendam SMP Negeri 1 Alue Bungkoh, Kecamatan Pirak Timu, Aceh Utara. (FOTO: CAMAT PIRAK TIMU)

NUKILAN.ID | LHOKSUKON – Hujan deras yang mengguyur wilayah Aceh Utara membuat Krueng Pirak meluap dan merendam tujuh desa di Kecamatan Pirak Timu, Selasa (14/10/2025). Akibatnya, puluhan rumah warga serta lahan pertanian ikut terendam air dengan ketinggian mencapai 70 sentimeter.

Camat Pirak Timu, Julfar Abdar, mengatakan banjir melanda kawasan yang berada di sepanjang daerah aliran sungai (DAS) Krueng Pirak. Adapun desa-desa terdampak antara lain Tanjong Seureukui, Minje Tujoh, Alue Bungkoh, Teupin U, Leupe, Ceumeucet, dan Pange.

“Warga masih memilih bertahan di rumah masing-masing sambil memantau perkembangan kondisi air,” ujar Julfar, Selasa sore.

Ia menjelaskan, air mulai naik sejak malam hari hingga siang tadi. Meski belum ada laporan warga yang mengungsi, pemerintah kecamatan tetap menyiagakan petugas untuk mengantisipasi kemungkinan banjir susulan.

“Kami bersiaga jika air banjir naik lagi. Tim BPBD, Dinas Sosial, dan SAR sudah menyiapkan kondisi evakuasi warga. Namun, hingga sore ini, warga masih bertahan di rumahnya,” tuturnya.

Menurut Julfar, banjir di kawasan itu kerap terjadi setiap musim hujan akibat meluapnya sungai yang melintasi beberapa permukiman penduduk. Pemerintah daerah pun diimbau terus memantau debit air sungai agar dapat melakukan tindakan cepat jika kondisi kembali memburuk.

Editor: Akil

Menabung Cinta dengan Emas: Kisah Izza dan Pegadaian MengEMASkan Indonesia

0
Ilustrasi Tabungan Emas Pegadaian. Cara nabung emas di Pegadaian. Cara menabung emas di Pegadaian. (Foto: Dok. Pegadaian)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Di ruang tamu sederhana di kawasan Meuraxa, Banda Aceh Besar, sepasang pengantin muda tampak tersenyum dalam bingkai foto yang tergantung di dinding. Wajah mereka memancarkan kebahagiaan dan ketenangan. Sang pria, Izzaturridha, atau biasa disapa Izza, mengenakan jas hitam dengan kopiah khas Aceh. Di sampingnya, sang istri tampak anggun dengan kebaya putih dan suntiang keemasan di kepala.

Bagi Izza, foto itu bukan sekadar kenangan hari bahagia. Ia melihatnya sebagai simbol perjuangan, ketekunan, dan mimpi yang dirajut sedikit demi sedikit. Ia menikah bukan karena berlimpah harta, melainkan karena pandai merencanakan masa depan. Di balik kisah cintanya, ada perjalanan menabung emas di Pegadaian, lembaga keuangan yang kini tidak hanya identik dengan gadai barang, tetapi juga menjadi mitra masyarakat dalam berinvestasi.

Awal dari Sebuah Niat

Kepada Nukilan.id Izza mengisahkan bahwa kala itu ketika tahun 2024 baru saja dimulai, ia sedang duduk di warung kopi tempat ia biasa menghabiskan pagi. Di layar ponselnya, harga emas kembali naik. Dalam hati ia bergumam, “Kalau begini terus, kapan saya bisa beli emas untuk mahar?”

Sebagai pegawai swasta dengan gaji yang pas-pasan, Izza tidak punya banyak ruang untuk menabung besar sekaligus. Namun, ia sudah bertekad untuk menikah pada awal 2025. Dalam adat Aceh, mahar atau mas kawin bukan hal yang bisa dianggap ringan. Tradisi menuntut agar mahar diberikan dalam bentuk emas dengan satuan mayam, yang setara dengan 3,3 gram.

“Rata-rata kawan saya kasih lima sampai sepuluh mayam. Saya juga mau kasih sepuluh mayam, biar mantap. Tapi kalau dihitung-hitung, itu sama dengan 33 gram emas. Lumayan besar nilainya,” ujar Izza sambil tersenyum kecil saat diwawancarai pada Sabtu (11/10/2025)

Pada saat itu harga emas sudah mencapai sekitar 1,1 juta rupiah per gram atau Rp3.300.000 per mayam dan cenderung naik tiap bulan. Izza tahu, jika menunggu hingga mendekati hari pernikahan, harga emas bisa melonjak lebih tinggi. Ia mulai mencari cara untuk membeli emas secara bertahap. Di situlah ia mengenal produk Tabungan Emas Pegadaian.

Investasi dari Gram ke Gram

Pegadaian selama ini dikenal sebagai lembaga keuangan milik negara yang menyediakan layanan gadai, pembiayaan, dan investasi. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, Pegadaian melakukan transformasi besar dengan mengembangkan layanan Tabungan Emas, sebuah produk yang memungkinkan masyarakat menabung emas mulai dari pecahan 0,01 gram.

Bagi Izza, inilah solusi yang ia cari. Dengan tabungan emas, ia tidak perlu menunggu uang terkumpul banyak untuk membeli emas batangan. Ia bisa menyicil sedikit demi sedikit setiap bulan, sesuai kemampuan.

“Awalnya saya buka rekening tabungan emas di kantor Pegadaian dekat tempat kerja. Petugasnya menjelaskan dengan sabar. Saya cukup setor uang, nanti dikonversi ke gram emas sesuai harga hari itu. Jadi gampang sekali,” katanya.

Sejak Januari 2024, Izza mulai rutin menabung 3 gram emas per bulan. Ia menjadikannya komitmen bulanan, seperti membayar listrik atau langganan internet. Setiap akhir bulan, ia merasa lega karena tabungannya bertambah meski sedikit.

“Saya nggak merasa terbebani. Yang penting konsisten. Pegadaian memudahkan semuanya karena bisa dilakukan lewat aplikasi juga,” ujarnya.

Dalam waktu 12 bulan, tabungannya mencapai melebihi target yaitu 36 gram emas. Tepat sebulan sebelum hari pernikahan, ia menutup tabungan dan mencetak emas untuk dijadikan mahar. Ketika hari itu tiba, emas yang dulu hanya mimpi kini berada di tangannya, siap diserahkan kepada calon istrinya di depan penghulu.

Emas dalam Tradisi dan Kehidupan Orang Aceh

Di Aceh, emas memiliki kedudukan istimewa. Ia bukan sekadar logam mulia, tetapi bagian dari identitas budaya dan simbol penghormatan. Dalam upacara pernikahan, mahar emas menunjukkan kesungguhan hati seorang pria dan menjadi kebanggaan bagi keluarga mempelai perempuan.

Menurut Syahrul Amin, pegiat budaya dan pemerhati adat Aceh, emas telah menjadi bagian dari kehidupan sosial masyarakat sejak ratusan tahun lalu. Dalam sejarah kerajaan-kerajaan Aceh, emas digunakan sebagai alat tukar, simbol kekuasaan, dan penanda status sosial.

“Dalam adat Aceh, emas dianggap benda yang bernilai tinggi. Tidak heran mahar emas selalu menjadi syarat utama dalam perkawinan. Ini bukan soal kemewahan, tapi simbol tanggung jawab,” ungkap Syahrul saat ditemui di Banda Aceh, pada Minggu (12/10/2025).

Tradisi ini terus bertahan hingga kini, meski zaman sudah berubah. Bedanya, generasi muda kini memiliki akses yang lebih mudah untuk mempersiapkan mahar berkat layanan investasi seperti Tabungan Emas Pegadaian. Dengan menabung sejak dini, calon pengantin tidak perlu lagi terbebani harga emas yang naik setiap waktu.

Pegadaian dan Gerakan MengEMASkan Indonesia

Transformasi digital yang dilakukan Pegadaian telah memperluas akses investasi emas hingga ke berbagai lapisan masyarakat. Melalui program nasional bertajuk “Pegadaian mengEMASkan Indonesia”, perusahaan pelat merah ini berupaya mendorong literasi finansial dan kesadaran berinvestasi, terutama di kalangan generasi muda.

Menurut data kontan.co.id, jumlah nasabah Tabungan Emas terus meningkat setiap tahunnya. Hingga awal 2024 lalu, tercatat ada 9,6 juta rekening tabungan emas aktif di seluruh Indonesia. Pertumbuhan ini menunjukkan minat masyarakat terhadap investasi aman dan mudah semakin tinggi.

Investasi yang Menumbuhkan Harapan

Bagi Izza, tabungan emas bukan hanya sarana untuk memenuhi mahar. Ia menyadari bahwa kebiasaannya menabung setiap bulan telah membentuk kedisiplinan finansial. Kini, setelah menikah, ia tetap melanjutkan kebiasaan itu, tetapi dengan tujuan baru: masa depan anak.

“Setelah menikah, saya dan istri sepakat untuk lanjut menabung emas, walau sedikit. Kami ingin punya cadangan untuk pendidikan anak nanti. Kalau tabungan biasa, kadang terpakai. Tapi kalau emas, terasa sayang kalau dijual,” katanya.

Ia juga mengaku lebih tenang menghadapi fluktuasi ekonomi. Ketika harga bahan pokok naik atau inflasi meningkat, nilai emas yang ia tabung tetap terjaga. Dari pengalaman pribadinya, ia belajar bahwa emas bukan hanya benda berkilau, tetapi alat untuk menjaga stabilitas keuangan.

Kisah Izza kemudian menyebar di kalangan teman-temannya. Beberapa di antara mereka mulai mengikuti jejaknya. Ada yang menabung untuk mahar, ada pula yang menabung untuk membeli rumah. Semua terinspirasi dari satu hal: bahwa menabung emas di Pegadaian bisa dimulai dari langkah kecil.

Emas, Teknologi, dan Masa Depan

Pegadaian kini semakin mudah dijangkau. Lewat aplikasi Pegadaian Digital Service, nasabah bisa membeli, menabung, dan menjual emas secara daring tanpa harus datang ke kantor cabang. Fitur ini menjadi daya tarik utama bagi generasi muda yang akrab dengan teknologi.

Selain itu, Pegadaian juga memperkenalkan berbagai inovasi seperti Gadai Tabungan Emas dan Investasi Emas Kolektif, di mana beberapa orang bisa menabung bersama untuk mencapai target tertentu, misalnya dana pendidikan atau modal usaha.

Menurut Ekonom Aceh, Dr. Rustam Effendi, SE, M.Econ, langkah Pegadaian mengembangkan produk digital adalah wujud nyata transformasi lembaga keuangan tradisional menuju inklusi keuangan yang sesungguhnya.

“Pegadaian tidak hanya membantu masyarakat mengelola aset, tapi juga mengubah cara pandang terhadap investasi. Produk seperti tabungan emas memberi peluang bagi masyarakat kecil untuk ikut memiliki instrumen investasi yang dulu hanya bisa dijangkau kelas menengah atas,” ujarnya.

Ia menilai, gerakan mengEMASkan Indonesia sejalan dengan semangat pemberdayaan ekonomi rakyat yang dicanangkan pemerintah. Ketika masyarakat menabung emas, sesungguhnya mereka sedang menabung kemandirian bangsa.

Cermin dari Perubahan

Sore itu, Izza kembali menatap bingkai fotonya di dinding. Dalam pantulan kaca, ia melihat dirinya setahun lalu, seorang pemuda yang cemas tentang masa depan. Kini, ia melihat sosok yang lebih matang dan berani bermimpi.

Ia tersenyum kecil, lalu berkata, “Ternyata menabung emas bukan hanya soal uang. Ini tentang tekad. Tentang bagaimana kita menghargai waktu dan bersiap menghadapi masa depan.”

Bagi Izza, Pegadaian bukan sekadar tempat menabung, tetapi sahabat yang menuntunnya memahami arti investasi. Ia menyadari, di balik setiap gram emas yang ia simpan, ada nilai kesabaran, harapan, dan cinta.

Kisah Izza adalah potret kecil dari ribuan warga Indonesia yang merasakan manfaat layanan Pegadaian. Mereka datang dengan tujuan berbeda, tetapi dengan semangat yang sama: ingin hidup lebih baik melalui perencanaan yang bijak.

Dalam kilau emas yang terus naik nilainya, Pegadaian terus hadir sebagai jembatan antara impian dan kenyataan. Melalui produk Investasi Emas, lembaga ini membuktikan bahwa kemakmuran bisa dimulai dari tabungan sekecil 0,01 gram.

Dari Aceh hingga ujung timur Indonesia, ribuan cerita serupa terus tumbuh. Cerita tentang anak muda, ibu rumah tangga, petani, hingga pedagang kecil yang kini menabung masa depan bersama Pegadaian. Semua menjadi bagian dari gerakan besar yang disebut Pegadaian mengEMASkan Indonesia.

Dan bagi Izza, kilau emas di jari manis istrinya kini bukan hanya simbol cinta, tetapi juga bukti bahwa kerja keras dan perencanaan yang baik selalu berbuah manis. #mengEMASkanindonesia

Mahasiswa USK Ciptakan “Rubber Polish”, Semir Sepatu Nabati dari Biji Karet untuk Dorong Hilirisasi Hijau

0
Mahasiswa USK Ciptakan “Rubber Polish”, Semir Sepatu Nabati dari Biji Karet untuk Dorong Hilirisasi Hijau. (Foto: For Nukilan)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH — Dua mahasiswa Universitas Syiah Kuala (USK) berhasil mencuri perhatian lewat inovasi ramah lingkungan yang mereka ciptakan. Melalui karya bertajuk Rubber Polish, tim yang menamakan diri Idealis Muda itu menghadirkan semir sepatu berbahan dasar minyak biji karet — solusi kreatif untuk mengolah limbah perkebunan menjadi produk bernilai ekonomi.

Karya ini mengantarkan mereka, Sri Yulinda Sari Waruwu dan Dara Apriani, mahasiswa Program Studi Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) USK, ke babak semifinal Kompetisi Mahasiswa Nasional Bidang Ilmu Bisnis, Manajemen, dan Keuangan (KBMK) 2025.

Sebagai negara produsen karet terbesar kedua di dunia, Indonesia memiliki potensi besar dalam sektor perkebunan. Namun, selama ini pemanfaatan karet lebih terfokus pada lateks, sedangkan biji karet—hasil sampingan dari perkebunan—masih sering dibiarkan terbuang.

Menurut data Badan Pengkajian dan Pengembangan Perdagangan (2022), produksi biji karet nasional mencapai lebih dari 17,9 juta ton per tahun, namun hanya sekitar 25 persen yang dimanfaatkan sebagai benih. Padahal, hampir separuh bagian biji karet mengandung minyak nabati yang berpotensi besar diolah menjadi bahan dasar produk biokimia dan kosmetik alami.

Berangkat dari fakta tersebut, tim Idealis Muda mengembangkan Rubber Polish, semir sepatu alami yang dibuat dengan prinsip Green Chemistry — menggunakan bahan yang aman bagi manusia, minim limbah, dan mendukung pengembangan industri kimia berbasis sumber daya lokal.

“Rubber Polish kami rancang bukan hanya untuk mempercantik sepatu, tetapi juga untuk memberi nilai ekonomi pada limbah biji karet yang sebelumnya terabaikan,” ujar Sri Yulinda Sari Waruwu, Ketua Tim Idealis Muda kepada Nukilan.id Selasa (14/10/2025).

Dalam pengembangannya, tim menerapkan pendekatan Value Proposition Canvas (VPC) untuk memahami kebutuhan pasar. Mereka memetakan customer jobs, pains, dan gains, lalu menghadirkan solusi terhadap masalah seperti bau menyengat dan noda semir konvensional. Hasilnya, tercipta produk dengan efek kilap alami yang tahan lama serta kemasan ramah lingkungan.

Inovasi ini telah diuji kelayakannya bersama sejumlah dosen lintas bidang di USK, antara lain Prof. Dr. Binawati Ginting, S.Si., M.Si; Khairun Amala, S.Si., M.M; Dr. Ir. Cut Meurah Rosnelly, MT; Fakhri Ramadhan, M.Sc; dan Prof. Dr. Abrar Muslim, S.T., M.Eng. Hasil uji menunjukkan bahwa Rubber Polish memenuhi aspek inovasi, keamanan, ketahanan, serta layak digunakan sebagai alternatif semir sepatu ramah lingkungan.

Menurut Dara Apriani, anggota tim Idealis Muda, produk ini tidak hanya soal kecantikan sepatu, tetapi juga gerakan menuju industri hijau berbasis potensi lokal.
“Melalui Rubber Polish, kami ingin menunjukkan bahwa hilirisasi mampu mengubah limbah menjadi peluang bernilai — tidak hanya bagi lingkungan, tetapi juga bagi masyarakat dan pelaku UMKM,” katanya.

Lebih dari sekadar karya ilmiah, Rubber Polish menjadi simbol semangat mahasiswa muda dalam membangun masa depan industri nasional yang berkelanjutan. Tim Idealis Muda berharap, inovasi ini dapat menjadi inspirasi bagi generasi muda Indonesia untuk terus mencipta solusi nyata dari sumber daya yang ada di sekitar mereka. (XRQ)

Reporter: Akil

Distanbun Aceh Diminta Pacu Serapan Anggaran dan Tingkatkan Kinerja Lapangan

0
Sekretaris Daerah Aceh, M. Nasir, meminta jajaran Dinas Pertanian dan Perkebunan (Distanbun) Aceh untuk mempercepat realisasi anggaran dan meningkatkan kinerja di lapangan menjelang penutupan tahun anggaran. (Foto: For Nukilan)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Sekretaris Daerah Aceh, M. Nasir, meminta jajaran Dinas Pertanian dan Perkebunan (Distanbun) Aceh untuk mempercepat realisasi anggaran dan meningkatkan kinerja di lapangan menjelang penutupan tahun anggaran.

Instruksi tersebut ia sampaikan saat memimpin apel pagi di Kantor Distanbun Aceh pada Senin, 13 Oktober, serta dalam pertemuan internal yang digelar bersama pejabat dinas terkait.

Dalam arahannya, M. Nasir menekankan bahwa percepatan serapan anggaran merupakan indikator penting dalam penilaian kinerja Pemerintah Aceh tahun ini. Hingga 13 Oktober 2025, capaian serapan anggaran Distanbun dinilai masih rendah dan perlu segera ditingkatkan.

“Serapan anggaran ini harus dikejar dengan langkah cepat dan terukur. Jangan menunggu akhir tahun baru dikerjakan. Semua kegiatan yang sudah memiliki dokumen lengkap dan siap bayar segera diselesaikan,” tegas Sekda.

Meski demikian, ia mengingatkan bahwa percepatan kegiatan tidak boleh mengurangi mutu pelaksanaan program. Menurutnya, yang terpenting adalah hasil konkret yang dapat dirasakan masyarakat tani.

“Bukan sekadar angka di laporan, tapi hasil nyata di lapangan yang bisa dirasakan oleh rakyat,” ujarnya.

Sekda juga meminta penguatan koordinasi antarbidang di internal Distanbun serta dengan pihak rekanan agar tidak terjadi hambatan di lapangan akibat miskomunikasi. Monitoring rutin dinilai penting untuk memastikan progres fisik dan keuangan berjalan sesuai rencana.

Dalam kesempatan tersebut, M. Nasir menyoroti posisi strategis sektor pertanian dan perkebunan sebagai tulang punggung ekonomi Aceh. Ia menyatakan bahwa capaian kinerja Distanbun berhubungan langsung dengan pengurangan kemiskinan dan peningkatan ketahanan pangan, mengingat sebagian besar masyarakat perdesaan menggantungkan hidup pada sektor ini.

Ia turut mengingatkan target serapan anggaran Pemerintah Aceh tahun 2025 dan 2026 yang ditetapkan sebesar 97,6 persen, lebih tinggi dari tahun sebelumnya yang berada di angka 96,5 persen.

“Konsekuensinya, seluruh SKPA harus bekerja maksimal tanpa terkecuali. Jika target Distanbun di bawah itu, maka konsekuensi ada dinas lain yang harus mencapai 99 persen agar rata-rata kinerja kita tetap tinggi. Ini sangat berpengaruh terhadap kebijakan pemerintah pusat, termasuk upaya memperpanjang dana otonomi khusus Aceh,” ujar Sekda.

Selain itu, ia menekankan pentingnya memastikan perputaran uang daerah terjadi di masyarakat demi mendukung penurunan angka kemiskinan. Ia menilai masih ada persoalan dalam perencanaan dan penyusunan dokumen kegiatan yang perlu disesuaikan dengan kondisi riil di lapangan.

“Jangan bekerja dengan cara biasa-biasa saja. Kita harus bekerja lebih cepat, lebih mandiri, dan berorientasi hasil. Pemerintah pusat sudah punya kebijakan besar seperti MBG dan Koperasi Merah Putih. Pastikan Distanbun mendukung penuh agar kebutuhan dasar masyarakat bisa terpenuhi,” kata M. Nasir.

Sementara itu, Kepala Distanbun Aceh, Cut Huzaimah, menyampaikan bahwa pihaknya terus berupaya mempercepat pelaksanaan kegiatan dan optimistis dapat mencapai target serapan sesuai arahan Sekda Aceh.

“Insya Allah secara bertahap kita kejar. Ia memastikan pihaknya bekerja profesional, giat, dan gigih untuk mencapai hasil terbaik,” ujarnya.

Teuku Rahmatsyah Resmi Jabat Wakil Kepala Kejaksaan Tinggi Nusa Tenggara Timur

0
Teuku Rahmatsyah Resmi Jabat Wakil Kepala Kejaksaan Tinggi Nusa Tenggara Timur. (Foto: For Nukilan)

NUKILAN.ID | JAKARTA — Jaksa senior Teuku Rahmatsyah, SH, MH, MKn, mendapat kepercayaan baru dari Jaksa Agung Republik Indonesia. Pria kelahiran Banda Aceh itu resmi ditunjuk sebagai Wakil Kepala Kejaksaan Tinggi (Wakajati) Nusa Tenggara Timur (NTT) berdasarkan Surat Keputusan Jaksa Agung RI Nomor: 854 Tahun 2025 tanggal 13 Oktober 2025.

Penunjukan ini merupakan bagian dari rotasi dan promosi pejabat struktural di lingkungan Korps Adhyaksa. Saat dikonfirmasi dari Medan, Selasa (14/10), Teuku Rahmatsyah membenarkan kabar tersebut.

“Terima kasih atas kepercayaan yang diberikan. Insya Allah, saya akan menjalankan amanah ini dengan sebaik-baiknya,” ujar Teuku Rahmatsyah.

Sebelum promosi ini, Teuku Rahmatsyah menjabat Koordinator pada Jaksa Agung Muda Intelijen (Jamintel) Kejaksaan Agung di Jakarta. Ia akan menggantikan Prihatin, SH, yang kini dipercaya menjabat Wakajati Sulawesi Selatan. Adapun jabatan Koordinator Jamintel yang ditinggalkan Teuku Rahmatsyah akan diisi oleh Bayu Adhinugroho Arianto, SH, MH, sebelumnya Inspektur Keuangan II Muda pada Inspektorat Keuangan II Jamwas Kejagung.

Teuku Rahmatsyah menyebut amanah baru ini bukan sekadar promosi jabatan, melainkan tanggung jawab besar dalam menjaga marwah dan profesionalitas institusi kejaksaan.

“Jabatan Wakajati merupakan amanah besar dan tanggung jawab tinggi dalam menjaga integritas dan profesionalisme penegakan hukum,” ujarnya.

Rekam Jejak dan Prestasi

Lulusan Fakultas Hukum Universitas Syiah Kuala (FH USK) Banda Aceh ini dikenal memiliki pengalaman panjang di berbagai bidang penegakan hukum — mulai dari pidana, perdata, tata usaha negara, hingga intelijen.

Sebelum dipercaya memegang jabatan strategis di Kejagung, Teuku Rahmatsyah pernah menjabat Kepala Subdirektorat Tindak Pidana Kepabeanan, Cukai, dan Tindak Pidana Pencucian Uang pada Direktorat Penuntutan Jampidsus.

Kiprahnya mencuat saat memimpin Kejaksaan Negeri (Kejari) Medan. Di bawah kepemimpinannya, Kejari Medan mencatat sejarah dengan mengeksekusi denda perkara narkotika senilai Rp2 miliar, pertama di Sumatera Utara. Keberhasilan ini mendapat apresiasi dari Wali Kota Medan Bobby Nasution, yang memberikan penghargaan khusus pada Januari 2022 atas kontribusi Jaksa Pengacara Negara (JPN) dalam penagihan tunggakan pajak daerah.

Kejari Medan di masa kepemimpinannya juga mengoleksi sejumlah penghargaan nasional. Di antaranya, Juara Harapan I Penanganan Tindak Pidana Korupsi untuk Kejari Tipe A se-Indonesia (2021), serta penghargaan dari KPK pada peringatan Hari Anti Korupsi Sedunia (Hakordia) atas penanganan perkara dengan kerugian negara terbesar.

Selain itu, Kejari Medan meraih Kinerja Terbaik Satker Wilayah Kejati Sumut dalam penanganan kasus korupsi, serta predikat “Sangat Puas” dari Jaringan Survei Inisiatif (JSI) atas kualitas pelayanan publik.

Tak hanya itu, selama menjabat di Medan, ia juga mengeksekusi 13 terpidana korupsi, termasuk lima buronan, di antaranya Adelin Lis, terpidana kelas kakap yang sempat melarikan diri ke luar negeri.

Harapan Baru di NTT

Dengan pengalaman luas di berbagai bidang hukum, Teuku Rahmatsyah diharapkan mampu memperkuat fungsi koordinasi, pembinaan, dan pengawasan internal di wilayah hukum Kejati NTT.

Langkahnya menuju NTT menjadi babak baru dalam perjalanan panjang seorang jaksa Aceh yang meniti karier dari bawah dengan integritas dan dedikasi tinggi.