Beranda blog Halaman 206

Relawan MBG Menggamat Tak Sepenuhnya Orang Lokal, Warga Soroti Proses Seleksi

0
Alman, S.H. (Foto: Dok. Pribadi)

NUKILAN.ID | TAPAKTUAN — Warga Menggamat Kecamatan Kluet Tengah menyampaikan kekecewaan atas keputusan pihak Yayasan MBG Menggamat yang dinilai tidak sepenuhnya melibatkan masyarakat setempat dalam proses perekrutan relawan. Pasalnya, beberapa relawan yang lolos justru berasal dari Gampong Paya, bukan dari Menggamat sendiri.

Kondisi ini memunculkan dugaan adanya praktik pilih kasih dalam proses seleksi. Seorang warga Menggamat, Alman, mengaku menyayangkan keputusan tersebut karena dianggap menyingkirkan potensi anak-anak muda lokal.

“Saya menyayangkan keputusan yayasan MBG Menggamat yang meloloskan orang Gampung Paya sebagai relawan di sini. Seolah-olah orang Menggamat tidak punya potensi untuk menjadi relawan di negeri sendiri,” tulis Alman dalam keterangan tertulis pada Kamis (16/10/2025).

Menurutnya, pendaftaran relawan dari warga lokal sebenarnya sudah memenuhi kuota yang tersedia. Karena itu, keputusan untuk meloloskan peserta dari luar daerah dianggap tidak tepat dan menimbulkan tanda tanya.

“Padahal, jumlah pendaftaran orang lokal sudah memenuhi kuota yang tersedia. Kecuali memang tidak ada orang lokal yang mendaftarkan diri di sini, mungkin itu bisa dimaklumi,” tambahnya.

Lebih lanjut, Alman menduga adanya faktor kedekatan personal dalam proses seleksi. Ia menuturkan, dugaan itu muncul setelah mendengar penuturan dari pihak internal dan peserta yang berasal dari Gampong Paya.

“Saya menduga lolosnya orang Gampong Paya di sini bukan karena potensi, melainkan karena koneksi. Sebab, waktu interview HRD SPPG-nya pernah cerita kalau dia pernah tinggal di sana. Kemudian, waktu ngobrol sama peserta MBG yang dari Gampong Paya tersebut, ia mengaku disuruh untuk ikut serta untuk bergabung di MBG Menggamat. Ini yang menjadi landasan kuat atas dugaan tersebut. Tentu ini sangat mengecewakan,” jelasnya.

Alman mengaku telah melakukan tabayun atau klarifikasi langsung kepada pihak yayasan mengenai alasan perekrutan relawan yang berasal dari Gampong Paya tersebut. Namun, ia menyebutkan bahwa jawaban yang diberikan tidak memuaskan dan terkesan menghindar dari pokok persoalan.

Ketegasan Mualem terhadap Tambang Ilegal Dinilai Hanya Simbolik

0
Pengamat kebijakan publik, M. Ikram Al Ghifari. (Foto: For Nukian)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH — Gubernur Aceh, Muzakir Manaf atau akrab disapa Mualem, kembali menjadi sorotan publik setelah mengeluarkan ultimatum keras terhadap aktivitas tambang ilegal yang kian marak di sejumlah kabupaten.

Dalam pernyataannya, Mualem memberi waktu 2×24 jam bagi pelaku tambang untuk menarik seluruh alat berat dari kawasan hutan Aceh. Namun, setelah lebih dari sepekan berlalu, muncul pertanyaan dari masyarakat: apakah ketegasan itu sudah berwujud tindakan nyata, atau masih sebatas retorika politik?

Sejak ultimatum tersebut diumumkan, Pemerintah Aceh membentuk Satuan Tugas Khusus (Satgassus) untuk menertibkan tambang ilegal. Dinas terkait juga diminta melakukan pendataan izin usaha yang berpotensi bermasalah. Sejumlah operasi penertiban telah dilakukan — salah satunya di Kabupaten Pidie, di mana aparat kepolisian menyita satu unit ekskavator dan menahan tiga pelaku tambang emas ilegal.

Namun, di sisi lain, laporan masyarakat justru menunjukkan bahwa aktivitas tambang ilegal masih marak di beberapa wilayah seperti Aceh Barat, Nagan Raya, dan Aceh Tengah. Kondisi ini menimbulkan kesan bahwa perintah tegas Mualem belum sepenuhnya diikuti tindakan nyata di lapangan.

Pengamat kebijakan publik, M. Ikram Al Ghifari, menilai langkah Mualem sejauh ini masih bersifat simbolik dan belum menyentuh akar persoalan.

“Langkah Mualem patut diapresiasi, tapi publik butuh bukti, bukan sekadar kata. Ketegasan akan berarti jika diikuti keberanian menindak aktor besar di balik tambang ilegal,” ujar Ikram kepada Nukilan.id pada Kamis (16/10/2025).

Menurutnya, persoalan tambang ilegal di Aceh sudah meluas menjadi jaringan ekonomi gelap yang melibatkan banyak kepentingan, bukan sekadar persoalan perizinan.

“Kalau Mualem ingin mengendalikan situasi ini, ia harus memutus rantai dari atas — bukan hanya menindak pekerja lapangan. Masalah ini tidak akan selesai tanpa transparansi dan keberanian hukum,” tambahnya.

Ikram juga menyoroti pentingnya pendekatan sosial dan ekonomi bagi masyarakat yang selama ini menggantungkan hidup dari aktivitas tambang ilegal.

“Menertibkan tanpa memberi solusi ekonomi hanya akan memindahkan masalah. Pemerintah harus membuka ruang usaha legal bagi warga agar tidak terjebak kembali dalam aktivitas ilegal,” jelasnya.

Meski Mualem telah menginstruksikan penarikan alat berat serta mengancam sanksi bagi pihak yang melanggar, hingga kini belum ada laporan publik yang menjelaskan berapa banyak ekskavator yang benar-benar telah ditarik atau disita.

Sementara itu, Polda Aceh menyatakan masih menunggu data lengkap dari DPR Aceh terkait lokasi-lokasi tambang ilegal yang akan menjadi sasaran penertiban. Kondisi ini memperlihatkan masih lemahnya koordinasi antarinstansi, sementara aktivitas tambang disebut terus berjalan di lapangan.

Langkah Mualem memang memberi sinyal awal terhadap upaya penertiban tambang ilegal di Aceh. Namun, publik kini menunggu pembuktian lebih jauh — apakah kebijakan tersebut benar-benar mampu memutus rantai ekonomi gelap yang selama ini menjerat hutan Aceh, atau justru akan menjadi satu lagi “ketegasan di atas podium” yang menguap tanpa hasil.

Reporter: Akil

Praktisi Ungkap Alasan Barbershop Semakin Menjamur: Profesi Tukang Pangkas Nggak Bakalan Digantiin Robot

0
Ilustrasi barbershop. (Foto: ANTARA)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Dalam tiga tahun terakhir, usaha barbershop di Kota Banda Aceh mengalami pertumbuhan yang cukup pesat. Fenomena ini tak lepas dari meningkatnya kesadaran pria akan pentingnya penampilan, serta berkembangnya konsep barbershop yang kini tak sekadar tempat memangkas rambut, tetapi juga menjadi ruang nyaman untuk bersantai dan bercengkerama.

Hasil pengamatan Nukilan.id menunjukkan, tren ini turut dipengaruhi oleh budaya perawatan diri yang semakin kuat, pengaruh media sosial, serta pemulihan ekonomi pasca-pandemi yang mendorong munculnya berbagai usaha kreatif di sektor jasa, termasuk barbershop.

Untuk memahami lebih dalam fenomena tersebut, pada Rabu (15/10/2025) Nukilan.id mewawancarai Zikri Sabilillah, seorang praktisi barbershop di Banda Aceh yang telah menekuni profesinya sejak 2017. Dalam dua tahun terakhir, Zikri tak hanya menjadi tukang pangkas, tetapi juga merintis barbershop miliknya sendiri bersama beberapa rekan.

Ditemui di tempat usahanya, Zikri menceritakan alasan di balik keputusannya membuka barbershop.
“Kalau dari kami yang memang praktisi atau tukang pangkas, alasan kami membuka karena memang itu profesi. Kedua, untuk mencari pendapatan lebih,” ujarnya.

Menurut Zikri, profesi tukang pangkas memiliki daya tahan yang luar biasa terhadap perubahan zaman. Ia menilai, meskipun teknologi berkembang pesat, profesi ini memiliki nilai yang tak tergantikan oleh mesin.
“Kenapa ini semakin menjamur, karena menurut saya tukang pangkas ini nggak bakalan mati ditelan jaman. Semaju apapun teknologi, ada robot, ada AI, nggak bakalan bisa gantiin tukang pangkas,” katanya dengan nada yakin.

Zikri bahkan menambahkan, kehadiran teknologi di masa depan sekalipun tak akan mampu menggantikan interaksi manusia yang menjadi bagian penting dari pengalaman memangkas rambut.

“Walaupun ada nanti alat atau robot yang bisa mangkas, saya optimis itu nggak bakalan gantiin orangnya, karena nggak dapat valuenya,” ujarnya.

Ia mencontohkan, barbershop bukan sekadar tempat potong rambut, melainkan ruang sosial tempat pelanggan merasa dihargai dan didengar.

“Kan nggak mungkin orang duduk dipangkas tapi nggak ada ngobrol. Kemudian kalau salah pangkas, mau ngomel sama siapa? sama robot?” katanya sambil tertawa.

Bagi Zikri, pekerjaan tukang pangkas tak berhenti di gunting dan sisir. Ia menyadari bahwa banyak pelanggan datang bukan hanya untuk merapikan rambut, melainkan juga mencari suasana hangat dan kesempatan untuk berbagi cerita.

“Hampir 10 tahun saya mangkas, nggak cuma masalah rambut. Tapi pelanggan itu juga ada yang datang cuma karena pengen cerita, curhat, nah disitu nilai lebihnya,” tuturnya.

Fenomena barbershop yang semakin menjamur di Banda Aceh, dengan para praktisi seperti Zikri di baliknya, menunjukkan bahwa bisnis ini tak sekadar soal tren atau gaya hidup. Lebih dari itu, ia menjadi cermin perubahan budaya pria urban yang kini melihat perawatan diri sebagai bagian dari keseharian, tanpa kehilangan sentuhan manusia yang menjadi jiwa dari sebuah barbershop.

Bayi Gajah Sumatra “Panton” Tak Tertolong Setelah Setahun Dirawat Intensif

0
Bayi gajah Panton di Aceh Besar. (Foto: ANTARA/HO-BKSDA Aceh)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Duka menyelimuti para pawang dan tim medis di Pusat Latihan Gajah (PLG) Saree, Kabupaten Aceh Besar. Seekor bayi gajah sumatra bernama Panton yang dirawat intensif selama lebih dari setahun, akhirnya mati setelah kondisi kesehatannya terus menurun dalam sebulan terakhir.

Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh, Ujang Wisnu Barata, mengatakan bahwa bayi gajah jantan tersebut mengembuskan napas terakhir pada Sabtu, 11 Oktober 2025, sekitar pukul 10.05 WIB.

“Panton, bayi gajah berusia kurang dua tahun, mati setelah menjalani perawatan intensif di PLG Saree, Kabupaten Aceh Besar,” kata Ujang di Banda Aceh, melansir Antara, Rabu, 15 Oktober 2025.

Panton sebelumnya diselamatkan dari Desa Panton, Kabupaten Bener Meriah, dalam kondisi lemah setelah terseret arus sungai hingga terpisah dari induknya. Saat dievakuasi, usianya diperkirakan baru tiga bulan—masa kritis bagi anak gajah yang masih sangat bergantung pada perhatian induknya.

“Usianya saat dievakuasi diperkirakan tiga bulan, usia yang memang masih perlu mendapatkan perhatian khusus dari induknya. Selanjutnya, Panton dibawa ke PLG Saree guna menjalani perawatan,” jelas Ujang.

Selama di PLG Saree, tim medis dan pawang gajah bekerja tanpa lelah. Mereka memastikan kebutuhan makan, minum, dan suplemen gizi Panton terpenuhi setiap hari. Namun, sejak beberapa minggu terakhir, kondisi bayi gajah itu memburuk.

“Dalam sebulan terakhir kondisi kesehatan bayi gajah tersebut mulai menurun. Panton mengalami pembengkakan di area wajah dan mulut, sehingga menyulitkan dan menurunkan nafsu makan maupun minum,” tutur Ujang.

Segala upaya medis dilakukan agar Panton bisa kembali pulih. Namun, tubuh kecilnya tak mampu lagi melawan.

“Tim maupun pawang memberikan segala daya dan upaya agar bayi gajah Panton kembali pulih. Namun, tubuh kecil Panton akhirnya menyerah lunglai tidak berdaya lagi, dan akhirnya meninggal dunia,” ujar Ujang.

Kematian Panton menambah panjang daftar gajah sumatra (Elephas maximus sumatranus) yang mati di Aceh dalam beberapa tahun terakhir. Satwa endemik Pulau Sumatra ini berstatus terancam kritis menurut daftar The IUCN Red List of Threatened Species, dengan populasi yang terus menurun akibat rusaknya habitat dan konflik dengan manusia.

Ujang mengimbau masyarakat untuk ikut menjaga kelestarian satwa liar, terutama gajah sumatra, dengan tidak merusak hutan, tidak memasang jerat, serta tidak memperniagakan satwa dilindungi.

Ia menegaskan, langkah kecil masyarakat dalam menjaga hutan sama artinya dengan memberi harapan bagi kehidupan satwa langka seperti Panton di masa depan.

Editor: Akil

Komisi III DPR Pertimbangkan Integrasi Qanun Aceh ke dalam RKUHAP

0
Gedung DPR-MPR. (Foto: DPR RI)

NUKILAN.ID | JAKARTA — Komisi III DPR RI membuka peluang untuk menyelaraskan kekhususan hukum di Aceh dalam pembahasan Rancangan Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (RKUHAP). Usulan itu muncul dalam rapat dengar pendapat umum (RDPU) antara Komisi III DPR dan Aliansi Mahasiswa Nusantara (Aman) di Gedung DPR RI, Senayan, Jakarta Pusat, Rabu (15/10/2025).

Dalam forum tersebut, mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Malikussaleh, Muhammad Fadli, meminta agar rancangan KUHAP yang sedang dibahas turut mengakomodasi Qanun Aceh yang berlandaskan hukum Islam. Menurutnya, pengaturan tersebut penting agar pelaksanaan Qanun memiliki kepastian hukum di tengah berlakunya hukum nasional.

“Tolong dalam RUU KUHAP untuk mengakomodir kekhususan Aceh ini diakomodir bagaimana penyelesaian secara spesifik di dalam RUU KUHAP itu,” ujar Fadli.

Fadli menjelaskan bahwa selama ini penerapan Qanun di Aceh berjalan berdampingan dengan hukum nasional. Namun, tanpa adanya pengaturan yang jelas dalam KUHAP, berpotensi menimbulkan tumpang-tindih kewenangan penegakan hukum di daerah tersebut.

Menanggapi hal itu, Ketua Komisi III DPR RI, Habiburokhman, menyatakan pihaknya akan mempertimbangkan masukan tersebut. Ia menekankan pentingnya kepastian hukum agar tidak terjadi seseorang diadili dua kali atas perkara yang sama.

“Ternyata ini hal yang sangat baru terkait dengan Qanun Aceh. Prinsipnya, ada asas Ne Bis In Idem, bahwa satu masalah yang sama tidak bisa diadili dua kali. Apakah satunya berdasarkan Qanun dengan kekhususan Aceh dan satunya lagi dengan hukum nasional,” kata Habiburokhman.

Politikus Partai Gerindra itu juga menyoroti bahwa sejumlah ketentuan dalam Qanun Aceh telah menerapkan prinsip restorative justice jauh sebelum konsep tersebut diperkenalkan dalam sistem hukum nasional.

“Sebetulnya konsep penyelesaian 18 tindak pidana ringan yang dipraktikkan di Aceh sudah mendahului konsep restorative justice yang baru akan kita implementasikan dalam KUHAP ini. Jadi ini tinggal disinergikan,” ujarnya.

Ia menegaskan, semangat restorative justice bukanlah konsep asing bagi bangsa Indonesia, melainkan nilai yang telah lama hidup dalam masyarakat.

“Restorative justice ini bukan nilai dari luar. Kita bangsa Indonesia sebenarnya sudah mempraktikkannya sejak lama. Masalah yang tidak berakibat fatal biasanya diselesaikan secara kekeluargaan,” sambungnya.

Habiburokhman mencontohkan bagaimana perkara-perkara kecil, seperti tindakan guru terhadap murid di sekolah, seharusnya tidak selalu dibawa ke ranah hukum.

“Sekarang aja ada guru cubit murid, jadi pidana. Guru jewer murid, jadi masalah. Dulu kita dipukul pakai penggaris kayu besar kan, kita jadi tertib. Tadinya enggak hapal doa tertentu, jadi hapal,” katanya.

“Nah, nilai-nilai seperti ini yang mau kita eksplorasi lagi dan masukkan ke norma hukum kita, supaya tidak semua perkara harus berakhir di pengadilan,” imbuhnya.

Usulan integrasi Qanun Aceh ke dalam RKUHAP dinilai sejalan dengan semangat penghormatan terhadap kekhususan daerah sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Pemerintahan Aceh. Komisi III DPR berencana membahas lebih lanjut masukan tersebut pada masa sidang mendatang sebelum RKUHAP dibawa ke tahap pengesahan.

Editor: Akil

Wakajasdam IM Tinjau Tes Kesamaptaan Prajurit Korem 011/Lilawangsa

0
Wakajasdam IM Tinjau Tes Kesamaptaan Prajurit Korem 011/Lilawangsa. (Foto: For Nukilan)

NUKILAN.ID | LHOKSEUMAWE – Ratusan prajurit TNI dari jajaran Perwira, Bintara, hingga Tamtama Korem 011/Lilawangsa menjalani tes kesegaran jasmani (garjas) di Lapangan Jenderal Sudirman, Lhokseumawe. Kegiatan yang berlangsung selama empat hari, sejak Senin (13/9/2025) hingga Kamis (16/9/2025), itu turut ditinjau langsung oleh Wakil Kepala Jasmani Kodam Iskandar Muda (Wakajasdam IM), Letkol Inf Ade Munandar.

Tes kesamaptaan jasmani ini merupakan agenda rutin yang digelar dua kali dalam setahun untuk mengukur tingkat ketangkasan dan kebugaran fisik para prajurit.

“Bagi prajurit kesegaran jasmani adalah hal biasa, karena rutinitas dilaksanakan dan inilah salah satu ciri khas TNI, bertujuan untuk menjaga kebugaran dan stamina fisik selalu tetap prima,” ujar Letkol Ade Munandar di sela kegiatan.

Dalam pelaksanaan tes tersebut, para prajurit mengikuti sejumlah tahapan, mulai dari lari 12 menit, pull up, sit up, push up, shuttle run, hingga ketangkasan renang yang disesuaikan dengan kategori usia masing-masing peserta.

Menurut Letkol Ade, program pembinaan fisik yang diterapkan TNI sangat penting bagi kesehatan tubuh dan kesiapan prajurit dalam menjalankan tugas. Sebelum kegiatan inti, para peserta juga diwajibkan melakukan olahraga pemanasan sebagai bagian dari refleksi organ tubuh agar berfungsi dengan baik.

“Dalam ilmu kesehatan pun dianjurkan rutinitas berolahraga setiap pagi sebelum melakukan aktivitas, upaya menjaga kebugaran tubuh agar tetap sehat prima,” sebut mantan Dandim Bireuen itu.

Ia menambahkan, ketangguhan fisik merupakan fondasi utama dalam membentuk prajurit yang profesional dan siap menjalankan setiap misi dengan maksimal.

“Itulah pentingnya olahraga, karena di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat, apabila kesehatan fisik dan mental kuat, tugas apapun dapat selesai dengan baik,” pungkasnya.

Tes garjas periode II Tahun 2025 ini juga menjadi bagian dari pembinaan rutin Korem 011/Lilawangsa, yang sekaligus menjadi syarat bagi prajurit untuk kenaikan pangkat, pendidikan, dan seleksi sekolah TNI.

Dalam kegiatan tersebut, Wakajasdam IM turut didampingi Kepala Staf Korem (Kasrem) 011/Lilawangsa Letkol Inf Andi Ariyanto, Kasi Intel Korem 011/LW Letkol Inf Jahrul Fahmi, serta Kajasrem 011/LW Kapten Inf Sumadi Joko.

Danrem 011/Lilawangsa Hadiri Maulid Nabi di Masjid Agung Lhokseumawe

0
Danrem 011/Lilawangsa Hadiri Maulid Nabi di Masjid Agung Lhokseumawe. (Foto: For Nukilan)

NUKILAN.IDLhokseumawe — Komandan Korem (Danrem) 011/Lilawangsa, Kolonel Inf Ali Imran, bersama Ketua Persit Kartika Chandra Kirana Koorcab Rem 011 PD IM, Ny. Dini Imran, menghadiri peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW yang diselenggarakan Pemerintah Kota Lhokseumawe di Masjid Agung Islamic Center, Desa Simpang Empat, Kecamatan Banda Sakti, Kamis (16/10/2025).

Peringatan Maulid tahun ini mengusung tema “Meneladani Akhlak Mulia dan Kepemimpinan Rasulullah, Mewujudkan Kehidupan Masyarakat Kota Lhokseumawe yang Bersyariat, Rakyat Ceudah Lhokseumawe Meugah.”

Acara berlangsung khidmat dan dihadiri oleh sejumlah pejabat daerah, di antaranya Wali Kota Lhokseumawe Sayuti Abubakar, Wakil Wali Kota Husaini, Danlanal Lhokseumawe, serta Dandim 0103/Aut. Turut hadir pula tokoh agama, Ketua TP PKK Ny. Yulinda Sayuti, Ketua BKMT Ny. Sakinah Husaini, serta ratusan masyarakat yang memadati area masjid.

Rangkaian kegiatan dimulai dengan ceramah singkat oleh Tgk. H. Faisal Hadi yang mengingatkan jamaah tentang pentingnya kebijaksanaan umat Islam dalam menghadapi kemajuan zaman dan teknologi.

“Di era teknologi semakin canggih ini, kita dituntut cerdas menyikapi perubahan. Gunakan teknologi untuk kebaikan dalam dakwah, dan bukan sebaliknya malah menjerumuskan,” pesannya di hadapan jamaah.

Ia juga menambahkan nasihat yang menggugah hati, “Dan penting jangan membenarkan yang biasa, tapi biasakanlah yang benar.”

Sementara itu, Danrem 011/Lilawangsa, Kolonel Inf Ali Imran, menilai peringatan Maulid Nabi menjadi momen berharga bagi umat Islam untuk kembali meneladani sifat-sifat Rasulullah SAW.

“Peringatan ini sebagai refleksi, mengingatkan kita meneladani akhlak dan sifat Rasulullah, seperti kesabaran, kejujuran, kasih sayang, dan keadilan yang diterapkan dalam kehidupan sehari-hari,” ujarnya.

Selain ceramah, acara juga diisi dengan penyerahan hadiah lomba mobil hias Idul Adha 1446 H, santunan untuk anak yatim, serta lantunan shalawat yang menambah suasana religius.

Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Masjid Agung Lhokseumawe ini ditutup dengan pembacaan doa oleh Tgk. Asnawi Abdullah dan zikir bersama Tim Zikir Kota Lhokseumawe.

Aceh Gandeng Investor China Kembangkan Peternakan Ayam di Lahan 300 Hektare

0
Ilustrasi peternakan ayam. (Foto: RadarMadura)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH — Pemerintah Aceh menyiapkan lahan seluas 300 hektare di Kabupaten Aceh Besar untuk mendukung kerja sama investasi sektor peternakan dengan perusahaan asal China, Zhongke Holding Green Technology Co Ltd.

Kerja sama ini ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara BUMD PT Pembangunan Aceh (PEMA) dan pihak Zhongke Holding dalam ajang ASEAN-China Cooperation and Development Conference on Food and Agriculture, The 4th “Belt and Road” International Agricultural Cooperation Expo di Zhengzhou, China, pada Senin (13/10/2025) lalu.

Acara tersebut dihadiri perwakilan dari seluruh negara ASEAN, termasuk Vietnam, Thailand, Brunei Darussalam, Malaysia, Singapura, Kamboja, Myanmar, Filipina, Laos, dan Indonesia. Delegasi Indonesia diwakili oleh Gubernur Aceh Muzakir Manaf (Mualem) bersama Direktur Utama PT PEMA Mawardi Nur.

Salah satu poin penting dalam kesepakatan itu adalah pengembangan peternakan ayam di Aceh.

Direktur Utama PT PEMA, Mawardi Nur, kepada Nukilan.id mengatakan kerja sama ini diharapkan dapat mendorong kemajuan sektor pertanian dan peternakan Aceh agar lebih berdaya saing serta menarik investasi di tingkat nasional maupun internasional.

“Kami juga terus berupaya bekerja secara profesional dalam memastikan semuanya berjalan lancar sesuai apa yang kita harapkan,” ujar Mawardi, Selasa (14/10/2025).

Ia menambahkan, dukungan dan doa masyarakat sangat dibutuhkan agar PEMA dapat terus berinovasi dan berkontribusi terhadap pembangunan ekonomi daerah.

Sementara itu, Gubernur Aceh Muzakir Manaf menegaskan bahwa Aceh terbuka terhadap investasi asing, terlebih karena daerah ini memiliki potensi sumber daya alam yang besar dan hubungan baik dengan berbagai negara.

“Kemitraan ini menjadi langkah strategis menuju pasar ASEAN yang lebih luas bagi mitra dari Tiongkok serta negara lainnya yang saling menguntungkan,” kata Mualem.

Ia juga menilai konferensi tersebut bukan sekadar forum diskusi, tetapi langkah nyata untuk memperkuat kemitraan konkret di bidang pangan dan pertanian.

“Konferensi ini bukan hanya tempat berdiskusi, tetapi sebuah langkah nyata untuk bertindak menuju kemitraan konkret,” tambahnya.

Dengan kesepakatan ini, Aceh diharapkan mampu memperkuat posisinya sebagai salah satu daerah yang berperan penting dalam kerja sama ekonomi kawasan ASEAN–China, khususnya di sektor pangan dan peternakan. (XRQ)

Reporter: Akil

Aceh Jadi Teladan Perdamaian, Ketua MPR Tekankan Pentingnya Persatuan Nasional

0
Ketua MPR RI, H. Ahmad Muzani (kiri), saat memberikan Kuliah Umum Empat Pilar Kebangsaan di Gedung AAC Dayan Dawood, Rabu (15/10/2025) (Foto: Humas USK)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) RI, Ahmad Muzani, menegaskan bahwa Aceh merupakan contoh nyata bagaimana perdamaian dan persatuan dapat menjadi fondasi kemajuan bangsa.

Amatan Nukilan.id, pernyataan itu disampaikan Muzani dalam Kuliah Umum Empat Pilar Kebangsaan di Gedung AAC Dayan Dawood, Universitas Syiah Kuala (USK), Banda Aceh, Rabu (15/10/2025).

“Tidak ada pembangunan tanpa perdamaian. Tidak ada kesejahteraan tanpa perdamaian. Tidak ada ekonomi, bahkan aktivitas kuliah pun tidak akan berjalan tanpa persatuan,” ujar Muzani dalam paparannya.

Ia menyebut, kekuatan Indonesia lahir dari keberagaman dan kontribusi seluruh daerah. Aceh, menurutnya, telah menunjukkan teladan dalam menyelesaikan konflik melalui jalan damai.

“Konflik berkepanjangan di tanah Aceh selesai karena kearifan pemimpin-pemimpin di daerah ini. Sejarah membuktikan, kontribusi masyarakat Aceh terhadap republik ini tidak pernah kecil,” katanya.

Dalam kesempatan itu, Muzani juga mengingatkan kembali sumbangsih rakyat Aceh terhadap lahirnya maskapai nasional Indonesia melalui pesawat Seulawah—simbol semangat kebangsaan dari ujung barat Nusantara.

Tantangan Kebangsaan di Era Digital

Kuliah umum yang digelar MPR RI bersama Universitas Syiah Kuala itu menyoroti pentingnya pembentukan karakter generasi muda di tengah derasnya arus digitalisasi.

Rektor USK, Prof. Dr. Ir. Marwan, menyambut baik inisiatif tersebut. Ia menilai, generasi muda saat ini menghadapi tantangan baru dalam memahami nilai-nilai kebangsaan.

“Kami menyadari adanya tantangan ketika sebagian generasi muda cenderung membangun jati diri berdasarkan tren dunia maya, bukan lagi pada nilai moral dan budaya bangsa. Hal ini berisiko memicu polarisasi di ruang digital,” ujar Prof. Marwan.

Ia menambahkan, USK berkomitmen menjadikan perguruan tinggi bukan hanya sebagai pusat ilmu pengetahuan, tetapi juga penjaga moral dan ideologis kebangsaan. Melalui mata kuliah seperti Pembinaan Karakter dan Pancasila, kampus berupaya melahirkan lulusan yang unggul secara akademik sekaligus berakar pada nilai-nilai Bhinneka Tunggal Ika.

Pembelaan terhadap Palestina

Dalam kuliah umum tersebut, Muzani juga menegaskan posisi Indonesia yang konsisten membela kemerdekaan Palestina, sesuai amanat konstitusi yang tertuang dalam Pembukaan UUD 1945.

“Palestina merdeka adalah kewajiban sejarah kita. Negara itu merupakan satu-satunya peserta Konferensi Asia Afrika 1955 yang belum merdeka, dan juga salah satu yang pertama mengakui kemerdekaan Indonesia,” jelasnya.

Ia menambahkan, sikap Indonesia terhadap Palestina tidak hanya didorong oleh keimanan, tetapi juga oleh nilai kemanusiaan dan tanggung jawab konstitusional.

“Itu sebabnya Indonesia tidak akan mengakui Israel dan tidak akan menjalin hubungan diplomatik, selama bangsa Palestina belum merdeka sebagai negara berdaulat. Ini adalah sikap tegas yang telah berulang kali disampaikan oleh Presiden,” tegasnya.

Kuliah umum tersebut diakhiri dengan sesi tanya jawab antara peserta dan narasumber. MPR RI dan USK menyatakan komitmen bersama untuk terus memperkuat implementasi Empat Pilar Kebangsaan di tengah dinamika zaman yang semakin kompleks. (xrq)

Reporter: Akil

Kak Na Temui Yatim dan Kaum Ibu di Pedalaman Aceh Utara, Serap Aspirasi dan Tebar Kasih

0
Kak Na Temui Yatim dan Kaum Ibu di Pedalaman Aceh Utara. (Foto: Humas Aceh)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH — Dengan langkah tenang dan senyum hangat, Ketua TP PKK Aceh, Marlina Muzakir—akrab disapa Kak Na—menyusuri pedalaman Aceh Utara, tepatnya di kawasan wisata Pante Bahagia, Gampong Pante Bahagia, Kecamatan Paya Bakong, Selasa (14/10/2025).

Kehadirannya di lokasi tersebut membawa suasana haru sekaligus bahagia. Puluhan anak yatim yang telah menanti tampak gembira saat Kak Na datang menghampiri. Ia menyapa satu per satu, mengusap bahu mereka, dan memberikan “salam tempel” dengan penuh kasih.

Momen keakraban itu berlanjut hingga ke meja makan. Kak Na mengajak para anak yatim duduk semeja, menikmati santap siang bersama. Dalam suasana sederhana, tawa kecil dan percakapan ringan mengalir di antara mereka.

“Selalu hormat dan sayangi ibu kalian, belajar yang rajin dan jangan pernah tinggalkan Shalat. Usaha-usaha kita akan sia-sia tanpa restu orangtua, tanpa untaian do’a yang kita panjatkan pada Allah,” pesan Kak Na lembut kepada para anak yatim.

Usai bercengkerama dengan anak-anak, perhatian Kak Na beralih kepada kaum ibu yang sedari tadi menunggu. Mereka menyambutnya dengan antusias, sebagian bahkan menyampaikan langsung harapan agar kaum perempuan di kampung mereka mendapat kesempatan untuk diberdayakan.

“Kamoe peurle ciet diberdayakan bu, Ngat jeut membantu perekonomian keluarga. Jadi, neupeuget pelatihan keu kamoe, peu peuget kue atawa kerajinan laen,” ujar salah seorang ibu yang dengan tulus menyampaikan aspirasinya.

Menanggapi hal itu, Kak Na berjanji akan menindaklanjuti aspirasi tersebut dengan berkoordinasi bersama dinas terkait.

“Nanti akan kita lihat lagi program-program di TP PKK, di Dekranasda untuk bisa mengakomodir keinginan kaum ibu di Gampong ini dan di seluruh Aceh tentunya,” ujar Kak Na.

Ia menambahkan, program-program PKK selama ini memang bersinggungan dengan upaya pemberdayaan masyarakat, terutama perempuan.

“Nanti saya akan berkoordinasi dengan dinas terkait untuk melihat apa saja program yang bisa disinergikan dengan PKK yang tentu saja bersinggungan dengan upaya pemberdayaan masyarakat,” sambungnya.

Kunjungan Kak Na ke pedalaman Aceh Utara itu bukan sekadar seremonial, melainkan wujud nyata kepedulian dan upaya mendengar langsung suara masyarakat, dari anak yatim hingga kaum ibu, agar pembangunan dan pemberdayaan di Aceh benar-benar menyentuh akar rumput.