Beranda blog Halaman 205

Atlet Pencak Silat UTU Raih Lima Medali di POMDA Aceh XIX

0
Atlet Pencak Silat UTU Raih Lima Medali di POMDA Aceh XIX. (Foto: Humas UTU)

NUKILAN.ID | Meulaboh – Kontingen pencak silat Universitas Teuku Umar (UTU) berhasil meraih lima medali dalam ajang Pekan Olahraga Mahasiswa Daerah (POMDA) Aceh ke-XIX yang digelar di Gedung Olahraga dan Seni, Meulaboh, Aceh Barat. Pertandingan cabang pencak silat ditutup pada Minggu (15/6/2025).

Dari ajang tersebut, UTU mengamankan tiga medali perak dan dua medali perunggu. Medali perak diraih oleh Ridho Fachrian di kelas G putra. Dua medali perak lainnya berasal dari kategori eksibisi melalui Ega di kelas C putri dan Arif di kelas H putra. Sementara itu, medali perunggu diperoleh Susan Yulianti di kelas E putri dan Khairi di kelas F putra.

Pelatih tim pencak silat UTU, Agus Junaidi, S.Sos, menyampaikan, “Alhamdulillah, atlet-atlet kami telah berjuang maksimal dan menunjukkan semangat tanding yang luar biasa. Prestasi ini adalah buah dari kerja keras dan disiplin mereka selama pemusatan latihan.”

Senada dengan itu, pelatih lainnya, Zulfikar, S.Sos, juga menyampaikan apresiasinya.

“Terima kasih kepada seluruh civitas akademika UTU dan semua pihak yang telah mendukung kami. Medali ini kami persembahkan untuk almamater. Ini akan menjadi evaluasi bagi kami untuk terus berbenah dan mempersiapkan diri menghadapi kejuaraan-kejuaraan berikutnya yang lebih besar,” ujarnya.

Kontingen pencak silat UTU pada ajang ini dipimpin oleh Deffan sebagai ketua tim. Capaian ini turut memperkuat prestasi UTU sebagai tuan rumah penyelenggaraan POMDA Aceh XIX tahun 2025.

Editor: Akil

Bupati Nagan Raya Dorong Ekspor Produk UMKM ke Amerika Serikat

0
Bupati Nagan Raya Dorong Ekspor Produk UMKM ke Amerika Serikat. (Foto: For Nukilan)

NUKILAN.ID | Silver Spring – Pemerintah Kabupaten Nagan Raya terus mendorong pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) agar mampu menembus pasar global. Upaya tersebut ditunjukkan dengan partisipasi pada bazar di Gedung IMAAM Center (Indonesian Muslim Association in America), Silver Spring, Maryland, Amerika Serikat, Minggu (15/6/2025).

Dipimpin langsung oleh Bupati Nagan Raya, Dr. Teuku Raja Keumangan (TRK), S.H., M.H., kegiatan ini menampilkan produk unggulan daerah seperti kopi robusta dan arabika dari pegunungan Beutong Ateuh, emping, dendeng sapi dan ikan, hingga giok khas Nagan Raya.

Bupati TRK menyebut, partisipasi dalam bazar ini merupakan langkah nyata pemerintah dalam mendorong kemajuan UMKM. Menurutnya, ini adalah bagian dari strategi untuk membuka akses ekspor berkelanjutan ke pasar internasional, khususnya Amerika Serikat.

“Ini langkah kecil yang kami ambil untuk berdampak besar pada pendapatan asli daerah. Kami tak hanya ingin produk UMKM Nagan Raya dikenal, tapi juga menembus pasar global,” ujarnya.

TRK menambahkan, target jangka panjang pemerintah adalah membangun jaringan langsung dengan pembeli internasional. Amerika Serikat dinilai sebagai pintu masuk strategis karena memiliki potensi pasar yang besar.

Sebagai bentuk keseriusan, Pemkab Nagan Raya merencanakan pembukaan kantor perwakilan di Grove Road West Deptford, New Jersey. Kantor tersebut akan difungsikan sebagai pusat pemasaran dan komunikasi dengan mitra dagang di Amerika.

“Kantor ini akan menjadi hub pemasaran dan komunikasi dengan mitra AS. Dengan demikian, jejaring dengan pembeli Amerika bisa dimaksimalkan untuk mendongkrak skala produksi dan kesejahteraan pelaku UMKM di Nagan Raya,” jelas TRK.

Ia juga menegaskan bahwa pemerintah akan terus memberikan dukungan berupa pelatihan, peningkatan kualitas produk, serta pendampingan hukum bagi para pelaku UMKM.

Keikutsertaan dalam bazar IMAAM Center ini diharapkan mampu membuka jalan bagi pertumbuhan ekonomi lokal. TRK menyatakan optimistis bahwa langkah ini akan menarik investor dan memacu inovasi di sektor UMKM.

“Setiap kopi, emping, atau giok yang laku di sini, adalah bukti bahwa produk desa bisa go-internasional. Ini baru awal dari perjalanan panjang kami membangun Nagan Raya yang mandiri secara ekonomi,” pungkasnya.

Editor: Akil

Nagan Raya dan IMAAM Teken MoU, Dorong Kolaborasi Keagamaan dan Pendidikan

0
Nagan Raya dan IMAAM Teken MoU, Dorong Kolaborasi Keagamaan dan Pendidikan. (Foto: For Nukilan)

NUKILAN.ID | Maryland – Pemerintah Kabupaten Nagan Raya dan The Indonesian Muslim Association in America (IMAAM) menjalin kerja sama dalam bidang keagamaan dan pendidikan. Kesepakatan ini dituangkan dalam penandatanganan nota kesepahaman (MoU) yang berlangsung di Maryland, Amerika Serikat.

Penandatanganan dilakukan oleh Bupati Nagan Raya, Dr. Teuku Raja Keumangan (TRK), dan Presiden IMAAM, Arif Mustofa. MoU tersebut mencakup revitalisasi Masjid Giok agar tidak hanya menjadi pusat ibadah, tetapi juga menjadi living monument yang merepresentasikan budaya Nagan Raya di panggung internasional.

Selain itu, kerja sama ini menyasar pengembangan pendidikan inklusif, seperti perluasan akses pendidikan bagi anak-anak marjinal dan program tahfiz Al-Qur’an. Tak hanya itu, fokus juga diberikan pada pemberdayaan pemuda melalui pelatihan kepemimpinan dan pertukaran virtual yang memberikan perspektif global tanpa melupakan akar lokal.

Di tengah penandatanganan, Bupati TRK mengatakan, “Ini adalah diplomasi saling bersinergi saling membesarkan dan membantu mewujudkan perubahan masyarakat Nagan Raya.”

Ia menambahkan, kerja sama ini dirancang sebagai bentuk simbiosis. Nagan Raya menjadi ruang aktualisasi ide, sementara diaspora IMAAM menghadirkan kekuatan lunak (soft power) melalui transfer pengetahuan, jejaring internasional, dan pendampingan keilmuan.

Presiden IMAAM, Arif Mustofa, menyatakan, “Diaspora adalah agen perubahan,” terutama dalam membangun soft infrastructure lewat program mentorship dan pertukaran virtual yang melampaui batas geografis.

Meski demikian, kedua pihak sepakat bahwa MoU ini baru langkah awal. Bupati TRK mengingatkan, “Roadmap konkret harus segera dirancang.” Sementara itu, Arif Mustofa menegaskan, “Isi MoU harus menjelma jadi kerja nyata bukan sekadar tinta di kertas. Untuk itu komitmen serius dilanjutkan dengan aksi nyata ke depannya sehingga implementasinya memberikan dampak nyata.”

Jika berjalan konsisten, menurut Bupati TRK, dampaknya akan berlapis: Masjid Giok menjadi etalase budaya Aceh, pendidikan inklusif mencegah kemiskinan intelektual, dan generasi muda Nagan Raya mampu bersaing tanpa kehilangan jati diri.

“Sinergi Nagan Raya-IMAAM ini menguji satu tesis sejauh mana diaspora bisa menjadi jembatan emas yang menghubungkan desa dengan dunia, tanpa mengorbankan identitas,” pungkasnya.

Editor: Akil

Marlina Harap Dukungan Kemendikdasmen Tingkatkan Kualitas PAUD di Aceh

0
Marlina Harap Dukungan Kemendikdasmen Tingkatkan Kualitas PAUD di Aceh. (Foto: Humas Aceh)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Bunda PAUD Aceh, Marlina Muzakir, menyampaikan harapannya kepada Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah untuk membantu meningkatkan kualitas layanan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) di Aceh.

Hal itu disampaikannya dalam pertemuan bersama Sekretaris Direktorat Jenderal PAUD, Pendidikan Dasar, dan Menengah, Eko Susanto, di Pendopo Gubernur Aceh, Jumat (13/6/2025).

“Kami berharap juga kesejahteraan guru PAUD dapat diperhatikan, selama ini gaji guru PAUD masih sangat minim tentu hal ini mempengaruhi kualitas pendidikan,” ujar Marlina.

Pertemuan tersebut turut diisi dengan penandatanganan komitmen bersama untuk mendukung program prioritas Direktorat Jenderal PAUD dalam rangka membangun generasi emas Indonesia.

Dalam kesempatan yang sama, Eko Susanto memaparkan sejumlah program prioritas, salah satunya adalah mewujudkan satu PAUD di setiap desa. Menurutnya, langkah ini penting agar semua anak usia di bawah enam tahun dapat mengakses layanan PAUD.

“Kita akan perbaiki kualitas PAUD, dimulai dari guru PAUD yang akan kita pastikan minimal menempuh pendidikan sarjana,” kata Eko.

Selain peningkatan kualitas tenaga pendidik, Eko menyebutkan pihaknya juga akan membenahi sarana dan prasarana PAUD. Tahun ini, sebanyak 40 lembaga PAUD di Aceh dijadwalkan menerima peningkatan fasilitas, dan data usulan revitalisasi dari PAUD lainnya pun masih terus diterima.

Ia menambahkan, anggaran juga telah dialokasikan untuk pengadaan perangkat belajar digital terbaru demi menunjang pembelajaran yang lebih modern di PAUD.

Sebagai informasi, Aceh memiliki sekitar 6.500 desa, namun 40 persen di antaranya belum memiliki lembaga PAUD.

Pertemuan itu turut dihadiri oleh istri Wakil Gubernur Aceh, Mukarramah, dan Kepala Dinas Pendidikan Aceh, Marthunis.

Editor: AKil

Forbes Aceh Siap Tempuh Langkah Politik Lanjutan Jika Keputusan Presiden Soal Empat Pulau Tak Sesuai Harapan

0
Anggota DPD RI asal Aceh, Azhari Cage, S.IP. (Foto: Wikipedia)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH — Forum Bersama Anggota DPR dan DPD RI asal Aceh (Forbes Aceh) menyatakan akan menempuh langkah-langkah politik lanjutan apabila keputusan Presiden terkait polemik empat pulau yang disengketakan antara Provinsi Aceh dan Sumatera Utara tidak berpihak pada kepentingan masyarakat Aceh.

Pernyataan tersebut disampaikan oleh Sekretaris Forbes Aceh, Azhari Cage, saat diwawancarai oleh Nukilan.id pada Minggu (15/6/2025). Ia menegaskan bahwa perjuangan mempertahankan wilayah Aceh adalah komitmen yang tidak bisa ditawar.

“Jika hasilnya tidak sesuai dengan harapan yang kita inginkan, tentunya Forbes Aceh dan seluruh elemen masyarakat Aceh akan melakukan langkah-langkah politik besar lainnya. Karena kita komitmen mempertahankan hak atas wilayah kita,” ujar Azhari dengan tegas.

Menurut anggota DPD RI tersebut, persoalan ini bukan lagi semata-mata soal batas wilayah biasa, melainkan menyangkut identitas, sejarah, dan keadilan bagi rakyat Aceh. Ia menegaskan bahwa konteks perbatasan saat ini harus dipahami secara proporsional.

“Kita hari ini tidak lagi sedang berbicara ruang lingkup (perbatasan) antara Aceh dengan RI. Namun, yang kita bicarakan adalah ruang lingkup perbatasan antara Provinsi Aceh dengan Provinsi Sumut,” lanjutnya.

Azhari juga mengkritik langkah Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) yang dinilai gegabah dalam memasukkan empat pulau tersebut ke dalam wilayah administratif Sumatera Utara hanya karena alasan geografis semata. Menurutnya, keputusan itu seharusnya dilandasi oleh kajian yang menyeluruh.

“Makanya tidak boleh juga Kemendagri dengan serta merta memasukkan empat pulau itu ke dalam Provinsi Sumut karena alasan lebih dekat dengan Sumut. Seharusnya ada pertimbangan dari bukti sejarah, bukti historis, dan bukti peta,” tegas Azhari.

Forbes Aceh, kata Azhari, hingga kini terus melakukan koordinasi dengan berbagai pihak, termasuk tokoh masyarakat, akademisi, dan unsur pemerintah daerah, guna memperkuat argumentasi historis dan yuridis atas klaim Aceh terhadap keempat pulau tersebut.

Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto dikabarkan mengambil alih penanganan polemik batas wilayah antara Provinsi Aceh dan Sumatera Utara yang melibatkan empat pulau. Langkah ini diungkapkan Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad setelah adanya komunikasi antara DPR dan Presiden.

“Hasil komunikasi DPR RI dengan Presiden RI bahwa Presiden mengambil alih persoalan batas pulau yang menjadi dinamika antara Provinsi Aceh dan Provinsi Sumatera Utara,” kata Dasco kepada wartawan, Sabtu (14/6/2025) lalu. (XRQ)

Reporter: AKil

Polemik Empat Pulau Diambil Alih Presiden, Forbes Aceh Siapkan Langkah Konkret Kawal Keputusannya

0
Senator Aceh, Azhari Cage. (Foto: Dok. Pribadi)

NUKILAN.ID | NUKILAN.ID — Polemik batas wilayah antara Provinsi Aceh dan Sumatera Utara yang melibatkan empat pulau kembali memanas. Setelah Presiden Prabowo Subianto dikabarkan akan turun tangan langsung dalam menyelesaikan persoalan ini, sejumlah langkah strategis mulai dilakukan oleh Forbes DPR RI-DPD RI asal Aceh untuk mengawal keputusan tersebut.

Salah satu upaya konkret itu diungkapkan Anggota DPD RI asal Aceh, Azhari Cage, dalam wawancara eksklusif bersama Nukilan.id, Minggu (15/6/2025), usai dirinya menjadi narasumber dalam diskusi publik yang digelar oleh Ruang Diskusi Publik (RDP) di Warkop Kupi Aceh, Darussalam, Banda Aceh.

Sebagai Sekretaris Forbes Aceh, Azhari Cage menjelaskan bahwa pihaknya telah menjalin komunikasi intensif dengan berbagai pemangku kebijakan di Aceh guna merumuskan sikap bersama terhadap status empat pulau yang kini diklaim masuk wilayah Sumatera Utara melalui Surat Keputusan Menteri Dalam Negeri (SK Mendagri).

“Langkah yang telah diambil oleh Forbes Aceh yaitu kita sudah menggelar diskusi dengan Gubernur Aceh, DPRA, Bupati Aceh Singkil, dan seluruh pemangku kepentingan yang ada di Aceh pada Jumat malam tanggal 13 Juni lalu,” ungkap Azhari.

Pertemuan tersebut, kata Azhari, tidak hanya menjadi wadah konsolidasi, tetapi juga menghasilkan satu sikap tegas dari seluruh unsur pemerintahan dan perwakilan masyarakat Aceh.

“Dalam pertemuan itu, kita sudah menyepakati bersama bahwa kita menolak SK Mendagri yang menetapkan 4 pulau itu masuk ke Sumut,” lanjutnya.

Sikap penolakan itu bukan tanpa dasar. Forbes Aceh, menurut Azhari, telah menyiapkan berbagai langkah administratif dan politis untuk memastikan keempat pulau tersebut tetap menjadi bagian dari wilayah Aceh.

“Kemudian, kita juga sudah meminta kepada Mendagri, Tito Karnavian agar keempat pulau tersebut dikembalikan ke Aceh dengan cara merevisi SK Mendagri,” tegasnya.

Tak hanya mengandalkan lobi politik, Forbes Aceh juga menyusun dokumen pendukung sebagai bahan pertimbangan dalam penyelesaian sengketa.

“Kita sudah menyiapkan bukti-bukti yang konkret, seperti bukti administrasi, bukti undang-undang, bukti hukum dan peta. Kita juga sudah sepakat tidak akan menggugat ke PTUN,” jelas Azhari Cage.

Pernyataan ini menegaskan bahwa perjuangan mempertahankan wilayah Aceh tidak dilakukan dengan jalan konfrontatif, melainkan melalui pendekatan konstitusional dan politik yang terukur. Forbes Aceh kini menaruh harapan besar pada langkah Presiden Prabowo untuk menyelesaikan polemik ini hingga menghasilkan keputusan final yang berpihak pada Aceh. (XRQ)

Reporter: AKil

Azhari Cage Ajak Mahasiswa Bersatu Bela Empat Pulau Sengketa di Aceh Singkil

0
azhari cage
Anggota DPD RI asal Aceh, Azhari Cage, saat menjadi narasumber dalam diskusi publik yang digelar oleh Ruang Diskusi Publik. (Foto: Nukilan)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH — Anggota DPD RI asal Aceh, Azhari Cage, mengajak mahasiswa dan seluruh elemen masyarakat Aceh untuk bersatu dalam membela empat pulau yang tengah disengketakan di wilayah Aceh Singkil. Ajakan itu ia sampaikan saat menjadi narasumber dalam diskusi publik yang digelar oleh Ruang Diskusi Publik (RDP), Minggu (15/6/2025), di Warkop Kupi Aceh, kawasan Darussalam, Banda Aceh.

Diskusi ini dihadiri oleh mahasiswa dari berbagai kampus, seperti Universitas Syiah Kuala (USK), UIN Ar-Raniry (UINAR), Universitas Bina Bangsa Getsempena (UBBG), dan perguruan tinggi lainnya.

Dalam forum tersebut, Azhari Cage menyampaikan pandangannya tentang pentingnya menjaga marwah dan kehormatan Aceh, khususnya dalam menghadapi persoalan batas wilayah dan klaim kepemilikan terhadap empat pulau yang saat ini menjadi sengketa antarprovinsi.

Di hadapan para mahasiswa, mantan anggota DPRA periode 2014–2019 ini mengawali paparannya dengan mengingatkan kembali jati diri masyarakat Aceh yang memiliki sejarah panjang perjuangan.

“Anda semua adalah orang-orang yang luar biasa. Dalam tubuh kita ini mengalir darah para syuhada, darah para aulia, para ulama, dan darah para pahlawan,” ungkapnya penuh semangat.

Lebih jauh, Azhari Cage juga menyoroti pentingnya menjaga solidaritas di tengah perbedaan politik yang kerap muncul dalam kehidupan demokrasi. Menurutnya, perbedaan bukanlah penghalang selama kepentingan bersama tetap menjadi prioritas.

“Kita boleh saja berbeda pendapat, bahkan berselisih saat pemilu atau pilkada, karena itu bagian dari kepentingan politik. Namun, ketika menyangkut marwah dan harga diri Aceh, kita wajib bersatu. Itu yang paling utama, agar apa yang telah diwariskan oleh para pendahulu kita dapat kita jaga dengan baik,” tegas Azhari.

Ia menilai bahwa perjuangan untuk mempertahankan empat pulau yang disengketakan itu bukan sekadar perkara administratif atau legalitas semata, melainkan juga menyangkut identitas Aceh sebagai entitas yang memiliki sejarah, budaya, dan hak atas wilayahnya.

“Kita wajib berdiri di atas kaki sendiri, mempertahankan pulau tersebut, agar SK Kemendagri bisa dikaji ulang dan dikembalikan menjadi hak milik Aceh,” ujarnya.

Lebih dari itu, Azhari menilai konflik yang terjadi justru membawa hikmah tersendiri. Menurutnya, polemik ini mampu mempersatukan kembali elemen-elemen masyarakat Aceh yang selama ini terpolarisasi akibat kepentingan politik praktis.

“Semua elemen di Aceh muali dari mahasiswa, akademisi, ulama, birokrat, legislatif, hingga eksekutif yang sebelumnya terkotak-kotak karena politik, kini bisa bersatu,” katanya.

Ia pun menitipkan harapan kepada para mahasiswa sebagai generasi penerus bangsa untuk tidak diam dalam menyikapi persoalan ini. Azhari mendorong agar suara mahasiswa menjadi bagian dari perjuangan kolektif Aceh, namun tetap dalam bingkai konstitusional.

“Saya juga berharap mahasiswa bisa bersuara untuk membela hak Aceh, tentunya dalam koridor hukum yang berlaku. Intinya, kita masih menempuh jalur diplomasi,” jelasnya.

Diskusi yang berlangsung hampir dua jam ini ditutup dengan seruan agar semangat kebersamaan dalam memperjuangkan hak-hak Aceh tidak berhenti pada wacana, melainkan diwujudkan dalam gerakan kolektif yang kuat dan terorganisir. (XRQ)

Reporter: Akil

RDP Gelar Diskusi Sengketa Empat Pulau Aceh, Azhari Cage dan Yulfan Jadi Narasumber

0
Azhari Cage dan Yulfan Jadi Narasumber Dalam Diskusi Sengketa Empat Pulau Aceh yang Digelar Ruang Diskusi Publik. (Foto: Nukilan)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH — Ruang Diskusi Publik (RDP) kembali menggelar forum diskusi kelompok terarah (focus group discussion/FGD) pada Minggu (15/6/2025), mengangkat tema yang sarat makna dan penuh semangat kebangsaan: “4 Pulau Bukan Sekadar Wilayah, tapi Ini Marwah Bangsa Aceh.”

Diskusi tersebut berlangsung di Warkop Kupi Aceh, kawasan Darussalam, Banda Aceh, dan menghadirkan sejumlah tokoh penting seperti anggota DPD RI asal Aceh, Azhari Cage, serta pengacara muda Aceh, Yulfan.

Kegiatan ini turut diramaikan oleh kehadiran mahasiswa dari berbagai kampus di Banda Aceh, seperti Universitas Syiah Kuala (USK), UIN Ar-Raniry (UINAR), Universitas Bina Bangsa Getsempena (UBBG), dan perguruan tinggi lainnya.

Amatan Nukilan.id, Azhari Cage dalam paparannya menekankan pentingnya membangun kesadaran kolektif masyarakat Aceh mengenai urgensi memperjuangkan kedaulatan atas empat pulau tersebut. Ia mengajak seluruh elemen masyarakat untuk tidak terpecah belah ketika menyangkut marwah daerah.

“Kita boleh saja ribut sesama kita, baik itu dalam pemilu dan pilkada, itu kan tergantung kepada kepentingan politik. Tetapi kalau sudah menyangkut dengan marwah dan harga diri (Aceh) kita ini wajib bersatu,” ujar Azhari dengan nada tegas.

Menurutnya, semangat persatuan dalam memperjuangkan wilayah ini harus melampaui sekat politik dan kepentingan jangka pendek. Azhari menilai bahwa empat pulau tersebut bukan hanya soal batas teritorial, tetapi merupakan simbol kedaulatan dan identitas Aceh sebagai bangsa yang bermartabat.

Sementara itu, dari perspektif hukum, Yulfan menyoroti bagaimana akar permasalahan ini tidak semata-mata soal legalitas administratif atau dokumen hukum. Ia mengajak publik untuk melihat lebih dalam terkait niat dan motivasi di balik keputusan-keputusan pemerintah pusat.

“Masalah pulau ini bukan persoalan bagaimana kita memperdebatkan pasal administrasi dan bukti hukum. Tapi ini soal motivasi ataupun mens rea dari Mendagri,” terang Yulfan dalam diskusinya.

Pernyataan ini mengindikasikan bahwa aspek psikologis dan niat kebijakan pemerintah pusat menjadi kunci untuk memahami dinamika sengketa wilayah ini secara utuh. Ia pun menekankan perlunya pengawalan publik yang kritis dan terorganisir terhadap kebijakan-kebijakan yang berpotensi merugikan Aceh.

Ketua Panitia kegiatan, M. Ikram Alghifari, kepada Nukilan.id menyampaikan bahwa forum ini diinisiasi sebagai bentuk respons terhadap minimnya pemahaman generasi muda Aceh terhadap isu-isu strategis daerah, khususnya yang menyangkut wilayah perbatasan.

“Karena banyak mahasiswa sekarang yang hanya sekedar ikut-ikutan tanpa tau apa yang menjadi permasalahan sekarang,” ujarnya.

Pria yang akrab disapa Ubit ini berharap agar RDP tidak hanya menjadi forum diskusi semata, tetapi mampu berkembang menjadi ruang strategis untuk membangun gerakan kolektif yang konstruktif bagi masyarakat Aceh.

“Kami ingin membuat RDP ini menjadi salah satu wadah yang bisa menjadi satu langkah ke depan untuk masyarakat Aceh,” tambahnya.

Menutup pernyataannya, Ubit juga menyampaikan apresiasi kepada para narasumber dan peserta yang telah berkontribusi aktif dalam menyukseskan kegiatan ini.

“Kami mengucapkan terima kasih kepada Bapak Azhari Cage dan Kanda Yulfan dan tentu juga kawan-kawan yang berhadir dan berpartisipasi dalam kegiatan ini.”

Dengan berlangsungnya diskusi ini, RDP berharap isu empat pulau sengketa tidak hanya menjadi wacana elit, melainkan mampu membuka kesadaran publik Aceh akan pentingnya menjaga marwah dan harga diri daerah dari ancaman pengikisan wilayah dan identitas. (XRQ)

Reporter: Akil

Bunda Salma Kritik Pernyataan Ketua DPRD Sumut Soal Empat Pulau di Aceh Singkil

0
Bunda Salma Kritik Pernyataan Ketua DPRD Sumut Soal Empat Pulau di Aceh Singkil. (Foto: For Nukilan)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH Anggota DPR Aceh (DPRA), Hj Salmawati SE MM atau yang akrab disapa Bunda Salma, menyampaikan kritik tegas terhadap pernyataan Ketua DPRD Sumatera Utara, Erni Ariyanti Sitorus, terkait polemik penetapan empat pulau di Kabupaten Aceh Singkil sebagai wilayah Sumut.

Menurut Bunda Salma, keputusan Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) yang menetapkan Pulau Mangkir Besar, Mangkir Kecil, Lipan, dan Pulau Panjang sebagai bagian dari Sumut tidak mencerminkan semangat rekonsiliasi antara Aceh dan pemerintah pusat.

“Saya bicara bukan hanya sebagai anggota DPRA, tapi sebagai warga Aceh. Ini bukan semata urusan teknis-administratif seperti yang coba dibingkai ketua DPRD Sumut. Ini adalah soal keadilan konstitusional, soal bagaimana negara memperlakukan Aceh pascaperdamaian,” ujar Bunda Salma, Sabtu (14/6/2025).

Ia menilai bahwa keputusan tersebut seharusnya tidak diambil tanpa konsultasi resmi dengan DPRA dan Pemerintah Aceh, mengingat Aceh memiliki status kekhususan yang diatur dalam Undang-Undang Pemerintahan Aceh (UUPA), sebagai tindak lanjut dari perjanjian damai Helsinki.

“Kalau Pemerintah Pusat bisa seenaknya menyeret wilayah Aceh tanpa dialog, tanpa musyawarah, lalu di mana lagi ruang kami sebagai daerah bersatus khusus? Ini bukan sekadar penghapusan empat pulau, ini pengingkaran terhadap kehormatan Aceh sebagai pihak dalam kesepakatan damai,” katanya.

Menanggapi sikap Ketua DPRD Sumut yang meminta semua pihak menghormati keputusan Mendagri, Bunda Salma menyebut hal itu sebagai sikap yang tidak mencerminkan semangat kebangsaan.

“Saya mohon DPRD Sumut tidak bertindak seperti penjajah yang berlindung di balik kertas Pusat. Jangan seolah-olah karena Mendagri sudah memutuskan, maka itu jadi kebenaran mutlak. Ini bukan zaman Hindia Belanda. Negara ini dibangun dengan kesepakatan, bukan dengan pemaksaan administratif,” tegasnya.

Ia juga menyoroti tawaran Gubernur Sumut Bobby Nasution yang sempat mengusulkan skema pengelolaan bersama atas pulau-pulau tersebut. Menurutnya, pendekatan itu tidak tepat.

“Apa artinya ‘kelola bersama’ kalau wilayahnya sendiri diambil tanpa diskusi? Itu seperti mencuri sawah orang lalu mengajak bertani bersama. Bukan kompromi, itu pelecehan terhadap logika keadilan,” ucapnya.

Bunda Salma menekankan bahwa proses hukum melalui PTUN memang dapat ditempuh, namun penyelesaian semestinya tidak berhenti di situ. Ia mendorong agar negara mengevaluasi secara menyeluruh dasar keputusan tersebut.

“Jangan berlindung di balik frasa ‘kajian ilmiah’. Jika memang ada dasar ilmiah, publikasikan! Undang tim ahli netral, buka diskusi publik, biarkan rakyat Aceh melihat apakah ini keputusan objektif atau keputusan politis yang dibungkus birokrasi,” imbuhnya.

Ia menegaskan bahwa Aceh tetap berada dalam kerangka hukum nasional, namun meminta agar pusat memperlakukan Aceh secara adil dan setara.

“Aceh bukan provinsi manja, tapi juga bukan provinsi yang bisa dikebiri haknya. Kalau pusat ingin damai ini langgeng, maka perlakukan Aceh sebagai partner dalam rekonsiliasi, bukan sebagai objek peta-peta yang digeser sesuka hati,” ujarnya.

Mengakhiri pernyataannya, Bunda Salma mengingatkan bahwa ketidakadilan pernah menjadi pemicu konflik Aceh di masa lalu. Ia meminta pemerintah untuk tidak mengulang kesalahan sejarah yang sama.

“Kami rakyat Aceh tidak sedang mencari musuh. Tapi jangan anggap kesabaran kami rakyat Aceh sebagai kelemahan. Negara harus segera memperbaiki proses ini. Jangan ulangi dosa historis terhadap Aceh dalam bentuk baru. Bukan Aceh yang terlalu sensitif, tetapi negara yang terlalu cepat lupa,” tutupnya.

Dipimpin Abang Samalanga, Anggota DPRA Takziah ke Rumah Almarhum Waled Nura

0
Anggota DPRA Takziah ke Rumah Almarhum Waled Nura. (Foto: DPRA)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH Sejumlah anggota Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA) melakukan takziah ke rumah almarhum Tgk Rasyidin Ahmad atau yang akrab disapa Waled Nura, Sabtu (14/6/2025). Kunjungan itu dipimpin langsung Ketua DPRA, Zulfadhli, yang lebih dikenal dengan sapaan Abang Samalanga.

Waled Nura yang juga merupakan anggota DPRA dari Partai Adil Sejahtera (PAS) Aceh, wafat pada Rabu (11/6/2025) pukul 18.38 WIB di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Soebroto, Jakarta. Ia meninggal dunia setelah berjuang melawan penyakit Guillain-Barre Syndrome (GBS).

Jenazah almarhum dimakamkan keesokan harinya, Kamis (12/6/2025), di kompleks Yayasan Pendidikan Islam (YPI) Nurur Rasyad Al-Aziziyah, Gampong Mesjid Runtoh, Kecamatan Pidie, Kabupaten Pidie.

Ketua DPRA, Zulfadhli, menyampaikan duka mendalam atas kepergian Waled Nura yang disebutnya sebagai kolega dan sahabat di lembaga legislatif.

“Kita doakan kiranya Allah menerima segala amal kebaikannya. Semoga Allah SWT menempatkan almarhum tempat terbaik dan dikumpulkan bersama orang-orang yang saleh yang telah mendahului kita,” ujar Zulfadhli.