Beranda blog Halaman 189

Kasus Influenza A Meningkat di Banda Aceh, Dinkes Siagakan Layanan 24 Jam

0
Ilustrasi Influenza. (Foto: almaata.ac.id)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Banda Aceh mencatat adanya peningkatan signifikan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) sejak Agustus hingga September 2025. Lonjakan kasus ini juga diikuti dengan ditemukannya sejumlah warga yang terkonfirmasi positif Influenza A.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Banda Aceh, Wahyudi, saat dihubungi Nukilan.id, pada Jumat (31/10/2025), menyebutkan bahwa kasus ISPA naik dari 1.612 kasus pada Agustus menjadi 1.860 kasus pada September 2025.

“Sampai dengan 29 Oktober 2025, dari pemeriksaan 41 spesimen pasien dengan gejala Influenza Like Illness (ILI) di site sentinel ILI UPTD Puskesmas Banda Raya, ditemukan 14 kasus positif Influenza A dan 2 kasus positif Influenza B, sementara 25 kasus lainnya negatif,” ujar Wahyudi.

Meski demikian, Wahyudi menegaskan agar masyarakat tetap tenang namun waspada. Ia mengimbau warga untuk terus menerapkan protokol kesehatan dan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) dalam kehidupan sehari-hari.

“Beberapa langkah pencegahan yang disarankan antara lain mencuci tangan menggunakan sabun atau hand sanitizer, memakai masker terutama saat sakit atau di kerumunan, serta menerapkan etika batuk dan bersin,” tegasnya.

Warga yang mengalami gejala seperti demam, batuk, pilek, nyeri tenggorokan, atau nyeri otot diminta segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan terdekat, terutama jika memiliki riwayat kontak dengan faktor risiko.

“Kita juga sudah mengintruksikan Rumah Sakit, Puskesmas atau Pustu untuk memberikan pelayanan 24 jam kepada masyarakat apabila ada yang ingin berobat. Jadi, masyarakat diharapkan tenang dan apabila ada gejala segera ke fasilitas pelayanan kesehatan terdekat karena sudah kami siagakan tenaga medis,” imbaunya.

Wahyudi menambahkan, Dinkes Kota Banda Aceh terus melakukan pemantauan terhadap perkembangan kasus Influenza A serta menyiapkan langkah penanggulangan sesuai prosedur kesehatan.

“Kita juga sudah melakukan kolaborasi dengan BPBD Kota Banda Aceh untuk melakukan penyemprotan disinfektan di tempat-tempat yang berisiko. Kita memastikan tenaga medis dan petugas lainnya mendapatkan perlindungan optimal dengan menggunakan Alat Pelindung Diri (APD) sesuai standar, serta memperkuat kewaspadaan dan pengendalian infeksi di lingkungan kerja,” tutup Wahyudi. (XRQ)

EO Pelaksana MTQ Aceh ke-37 Diduga Tinggalkan Tanggung Jawab, Panitia Turun Tangan di Detik Pembukaan

0
Venue panggung yang akan di gunakan pada acara MTQ Aceh Detik Pembukaan MTQ Aceh ke-37 . |(Foto: KBA.ONE)

NUKILAN.ID | Meureudu – Menjelang detik-detik pembukaan Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) Aceh ke-37 di Kabupaten Pidie Jaya, suasana persiapan di lokasi utama sempat diwarnai kepanikan. Pasalnya, pihak Event Organizer (EO) pelaksana kegiatan, PT Qpro Creasindo, dikabarkan menghilang dari tanggung jawabnya menjelang acara dimulai.

Dilansir dari KBA.ONE, sejak Sabtu (1/11/2025) siang, tidak terlihat lagi aktivitas maupun perwakilan EO di lapangan. Sejumlah panitia menyatakan, seluruh pekerjaan yang seharusnya menjadi kewenangan EO kini diambil alih oleh panitia lokal dan relawan daerah.

Juru Bicara MTQ Aceh ke-37, Saiful Rasyid, mengatakan bahwa panitia terpaksa turun tangan langsung untuk memastikan persiapan tidak terhenti.

“Karena ketidaksiapan EO, sehingga kami yang menyelesaikannya. Termasuk venue utama, tadi panitia yang menyelesaikan,” ujar Saiful yang juga Asisten III Sekdakab Pidie Jaya, Sabtu malam.

Menurut Saiful, keputusan tersebut diambil karena EO tidak lagi dapat dihubungi, sementara waktu pelaksanaan semakin sempit.

“Tadi kami pukul 14.00 WIB mengambil sikap, bahwa semua ini akan kami selesaikan sendiri. Dari pagi kami hubungi EO, sampai sekarang belum terkoneksi,” ungkapnya.

Pantauan di lapangan menunjukkan, hingga malam hari panitia bersama sejumlah relawan masih bekerja keras menyelesaikan berbagai detail teknis di sejumlah venue lomba. Mereka memastikan seluruh lokasi siap digunakan agar pembukaan MTQ ke-37 dapat berlangsung sesuai jadwal.

Sementara itu, pihak PT Qpro Creasindo hingga berita ini diterbitkan oleh KBA.ONE belum dapat dikonfirmasi. Saat dihubungi melalui panggilan telepon maupun pesan WhatsApp, nomor perwakilan EO atas nama Nasrullah tidak merespons. Status pesan juga hanya menunjukkan satu centang, menandakan pesan belum terbaca.

Sebelumnya, Nasrullah sempat menyampaikan kepada media bahwa seluruh pekerjaan di venue utama telah selesai dan sudah diserahterimakan kepada panitia.

“Venue utama sudah siap semua, sudah serah terima tadi siang. Untuk WC portable memang kami yang kerjakan, tapi penempatannya itu pihak panitia,” katanya dalam pesan sebelumnya.

Namun, kondisi di lapangan memperlihatkan hal berbeda. Beberapa titik di lokasi utama tampak masih dalam proses penyelesaian hingga malam hari. Panitia berharap seluruh sarana dan prasarana dapat siap tepat waktu sebelum pembukaan resmi MTQ Aceh ke-37 yang dijadwalkan digelar malam ini.

Wagub Aceh Fadhlullah Tegaskan Evaluasi Ulang Pembayaran Tanam Tumbuh di Proyek Tol Padang Tiji–Seulimeum

0
Wagub Aceh Fadhlullah Tegaskan Evaluasi Ulang Pembayaran Tanam Tumbuh di Proyek Tol Padang Tiji–Seulimeum. (Foto: For Nukilan)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Wakil Gubernur Aceh, H. Fadhlullah, menegaskan komitmen pemerintah daerah untuk menyelesaikan persoalan pembayaran ganti rugi tanaman masyarakat yang terdampak pembangunan proyek tol Padang Tiji–Seulimeum secara adil dan transparan. Hal tersebut disampaikan dalam rapat percepatan pembangunan jalan tol seksi 1 yang digelar di Ruang Potensi Daerah Kantor Gubernur Aceh, Kamis (30/10/2025).

Rapat yang juga dihadiri Kapolda Aceh, Irjen Marzuki Alibasyah, membahas langkah-langkah strategis guna mempercepat penyelesaian kendala pembebasan lahan, terutama terkait penilaian dan pembayaran tanam tumbuh milik warga di sepanjang trase tol.

Dalam pertemuan itu, terungkap bahwa sebagian masyarakat belum menyetujui hasil penilaian terhadap nilai tanam tumbuh yang dilakukan Badan Pertanahan Nasional (BPN) Pidie. Warga menilai ada kekeliruan pada tahap awal pendataan, di mana sebelum BPN melakukan inventarisasi tanaman, pihak pelaksana proyek—PT Adi Karya—telah terlebih dahulu membersihkan sebagian lahan menggunakan alat berat.

Padahal, menurut warga, pihak pelaksana proyek telah mendokumentasikan jumlah tanaman yang dibersihkan. Namun, data tersebut tidak tercantum dalam hasil pendataan resmi yang diserahkan oleh BPN dan Satgas A kepada Kantor Jasa Penilai Publik (KJPP) sebagai dasar penentuan nilai ganti rugi.

“Akibat tidak adanya komunikasi antara pihak pelaksana dan BPN, data tanaman yang sudah lebih dulu dibabat tidak masuk dalam daftar penilaian. Ini yang menimbulkan keberatan di masyarakat karena dinilai merugikan mereka,” ungkap salah seorang perwakilan masyarakat dalam forum tersebut.

Menanggapi hal itu, Wagub Aceh meminta agar seluruh proses pendataan dan penilaian dikaji ulang. Ia menekankan pentingnya transparansi dalam setiap tahapan agar tidak menimbulkan kecurigaan atau ketidakadilan bagi masyarakat terdampak.

“Kami akan memanggil langsung pihak KJPP agar segera hadir ke Aceh untuk melakukan klarifikasi dan verifikasi ulang bersama tim Satgas B dan panitia pengadaan tanah. Kita ingin semua pihak duduk bersama dan memastikan data yang digunakan akurat dan tidak merugikan masyarakat. Dengan demikian, pembangunan jalan bisa segera dituntaskan dan bisa segera dinikmati masyarakat,” ujar Fadhlullah.

Wagub juga menegaskan bahwa penyelesaian masalah ini tidak boleh menunda target penyelesaian proyek tol.

“Proyek ini sangat penting untuk konektivitas dan pertumbuhan ekonomi Aceh. Namun, hak masyarakat juga harus dipenuhi dengan cara yang transparan dan sesuai aturan,” tambahnya.

Rapat tersebut turut dihadiri oleh unsur Forkopimda Aceh dan Pidie, perwakilan kementerian dan lembaga terkait, serta para keuchik dari desa-desa di Kecamatan Padang Tiji yang wilayahnya dilintasi oleh proyek strategis nasional tersebut.

Editor: Akil

MTQ Aceh ke-37 Resmi Dibuka, Gema Ayat Suci Menggetarkan Langit Pidie Jaya

0
Gubernur Aceh, H Muzakir Manaf saat memberikan sambutan dalam pembukaan MTQ Aceh ke-37 di Kabupaten Pidie Jaya, Sabtu (1/11/2025) malam. (Foto: Dok. YouTube Diskominfotik Pijay)

NUKILAN.ID | MEUREDU – Suasana religius menyelimuti malam pembukaan Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) Aceh ke-37 yang digelar di Arena Utama Komplek Perkantoran Bupati Pidie Jaya (Pijay), Cot Trieng, Meureudu, Sabtu (1/11/2025) malam. Gubernur Aceh, H. Muzakir Manaf atau akrab disapa Mualem, secara resmi membuka perhelatan akbar itu dengan penekanan tombol sirine yang menandai dimulainya ajang tilawah terbesar di Tanah Rencong tahun ini.

Rangkaian pembukaan berlangsung khidmat dan semarak, diawali dengan defile kafilah dari 23 kabupaten/kota se-Aceh. Bupati Pidie Jaya, H. Sibral Malasy, menyampaikan laporan pelaksanaan sekaligus mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah mendukung terselenggaranya MTQ ke-37.

Dalam sambutannya, Gubernur Muzakir Manaf menegaskan pentingnya kemampuan membaca dan memahami Al-Qur’an sebagai bekal spiritual dan pendidikan bagi seluruh generasi Aceh.

“Ia harapkan, MTQ satu ikhtiar kita agar Aceh bisa betul-betul berjalan dengan syariat Islam,” ujar Mualem di hadapan ribuan tamu dan peserta yang memadati arena utama.

Ia menambahkan, nilai-nilai Al-Qur’an akan menjadi pedoman hidup umat untuk meraih keselamatan di dunia dan akhirat.

“Katanya, Alquran akan mengantar kita selamat dunia dan akhirat,” ucapnya.

Gubernur juga menutup sambutannya dengan doa agar Aceh senantiasa diberkahi dan menjadi daerah yang makmur serta diridhai Allah SWT.

“Semoga Aceh bisa menggapai baldatun thayyibatun warabbun ghafur,” harapnya.

Sementara itu, Bupati Pidie Jaya, H. Sibral Malasy, berharap ajang MTQ tahun ini berjalan sukses dan meninggalkan kesan mendalam bagi seluruh peserta dan tamu.

“Semoga semua kontingen dan tamu aman, nyaman, dan menikmati keramahan Pidie Jaya,” ujarnya.

MTQ Aceh ke-37 diikuti oleh 1.932 peserta dari berbagai usia yang mewakili 23 kabupaten/kota di Aceh. Mereka akan bersaing dalam berbagai cabang lomba, mulai dari tilawah, tahfiz, hingga tafsir Al-Qur’an.

Acara pembukaan berlangsung meriah dengan balutan nuansa spiritual yang kuat. Salah satu momen yang paling menyentuh hati adalah penampilan dua qari internasional dalam acara Haflah Al-Qur’an, yang menghadirkan lantunan ayat suci menggema hingga ke pelosok Meureudu.

Dengan dibukanya MTQ Aceh ke-37, Pidie Jaya tak hanya menjadi tuan rumah, tetapi juga menjadi pusat gemanya kalam Ilahi yang menggetarkan hati seluruh umat di Tanah Rencong.

Menapak Warisan Syekh Abdurrauf: Dari Pusat Ilmu ke Pusara di Kuala

0
Makam Syiah Kuala. (Foto: Nukilan)

NUKILAN.ID | FEATURE – Aceh sejak lama dikenal sebagai pintu gerbang awal masuknya Islam di Nusantara. Tak mengherankan bila provinsi di ujung barat Indonesia ini memiliki banyak ulama besar yang menjadi panutan masyarakat. Di antara tokoh paling berpengaruh itu adalah Syekh Abdurrauf bin Ali Alfansuri, atau lebih dikenal sebagai Syiah Kuala.

Pada masanya, Syekh Abdurrauf menempati posisi penting sebagai satu dari empat ulama terkemuka Aceh bersama Hamzah Fansuri, Syamsuddin Sumatrani, dan Nuruddin Ar-Raniry. Informasi pada papan keterangan di kompleks makamnya menyebutkan bahwa beliau lahir pada 1591 M (1001 H), meskipun sejumlah ahli sejarah memperkirakan kelahirannya sekitar tahun 1615 M (1035 H) di Singkil, wilayah pesisir selatan Aceh.

Memiliki hubungan darah dengan Syekh Hamzah Fansuri membuatnya tumbuh dalam lingkungan keilmuan yang kuat. Saat itu, Aceh berada pada masa kejayaan di bawah Sultan Iskandar Muda, dan Syekh Abdurrauf pun tumbuh sebagai calon ulama besar. Sekitar tahun 1643 M (1064 H), di tengah situasi Aceh yang sedang mengalami kekacauan politik dan perdebatan pemikiran keagamaan pada masa Sultanah Safiatuddin, ia memutuskan berangkat ke tanah Arab untuk memperdalam ilmu agama.

Perjalanan Syekh Abdurrauf tidak berlangsung langsung menuju Mekkah. Ia terlebih dahulu singgah dan bermukim di sejumlah pusat pendidikan Islam di sepanjang jalur haji. Barulah setelah tiba di Mekkah dan Madinah ia menyempurnakan ilmu Al-Qur’an, tafsir, hadis, fikih, serta mendalami tasawuf dan thariqat. Setelah menimba ilmu selama 19 tahun, ia kembali ke Aceh dan mulai mengajarkan ilmunya kepada masyarakat.

Kepakarannya membuat Kerajaan Aceh Darussalam mengangkatnya sebagai Kadi Malikul Adil. Jabatan itu ia emban selama 59 tahun di bawah empat pemerintahan ratu: Ratu Safiatuddin Syah (1641–1675), Ratu Naqiatuddin Syah (1675–1678), Ratu Zakiatuddin Syah (1678–1688), dan Ratu Kamalat Syah (1688–1699). Menjelang akhir hayatnya, ia menetap di kawasan muara Krueng Aceh atau Kuala, mengajar para santri, hingga wafat dan dikebumikan di Gampong Deah Raya. Dari sinilah sebutan “Syiah Kuala” melekat hingga kini, bahkan diabadikan sebagai nama universitas terbesar di Aceh.

Pada Selasa, 22 November 2024, penulis berkesempatan mengunjungi makam ulama besar tersebut. Seorang pria renta dengan wajah berkeriput menyambut. Nada bicaranya pelan, namun kata-katanya tetap jelas terdengar. Ia adalah Tgk Wahid, juru kunci makam Syekh Abdurrauf.

Setelah penulis memperkenalkan diri, “Lon (saya) Baim Teungku. Lon aneuk Pak AD, guru SD 58 yang dilee tom mengajar di sikula nyan,” ekspresi Tgk Wahid berubah. Keramahan langsung terpancar saat ia mengenali nama ayah penulis. Dengan senyum mengembang, ia berkata, “Oh Pak AD, lon meuturi tat. Teuma gata soe? Aneuk gobnyan? Ka rayeuk tat lagoe. Jameun gata mantong ubeut tat.”

Sejak itu suasana wawancara berlangsung hangat. Tgk Wahid menjelaskan bahwa tugas menjaga makam ini merupakan warisan turun-temurun. “Saya sendiri merupakan keturunan ketujuh yang diberikan amanah untuk bertanggung jawab, menjaga, dan merawat makam Syiah Kuala,” ujarnya. Penjelasan itu sejalan dengan tulisan pada papan informasi: “Khadam Makam Syiah Kuala tidak boleh berpindah tangan dari keturunan Syech Abdul Wahid”.

Motif para pengunjung datang ke kompleks makam pun beragam. Ada yang ingin mempelajari sejarah, menelusuri jejak awal Islam di Nusantara, atau sekadar berziarah. “Yang banyak itu melepas nazar alias ‘peuleuh kaoy’ … dan itu umumnya dilakukan warga lokal,” jelas Tgk Wahid.

Sore itu suasana makam cukup sepi. Hanya beberapa pengunjung terlihat mendekat ke pusara ulama besar tersebut. “Biasanya ramai dalam momentum tertentu, misalnya dalam musim panen atau menjelang puasa,” tambahnya.

Kawasan makam tampak terawat. Dominasi warna putih dan hijau pada bangunan serta rindangnya pepohonan menciptakan kesan sejuk. Di beberapa bagian terpajang puluhan batu nisan dari murid-murid Syekh Abdurrauf. “Itu murid-muridnya Syech Abdurrauf,” sebutnya.

Kotak-kotak sumbangan tersedia di beberapa sudut sebagai bentuk dukungan sukarela bagi biaya operasional. Tgk Wahid kemudian menepis rumor yang beredar pascatsunami. Ia menegaskan kisah bahwa makam terangkat ke permukaan hanyalah cerita. “Kecuali makam Syech Abdurrauf yang tidak hancur. Posisi makam tidak berubah, hanya batu nisannya yang miring sedikit, yang lain berantakan semua,” jelasnya. Setelah bencana, pemerintah dan berbagai pihak membantu memugar kompleks tersebut.

Kepada para pengunjung, Tgk Wahid selalu mengingatkan tentang etika berziarah. “Jangan melakukan hal-hal yang menyimpang dari syariat. Gunakan pakaian yang sopan dan islami. Kalau mau buat kenduri, buatlah kenduri yang biasa saja, jangan berlebihan,” pesannya.

Ia juga berharap agar makam ini mendapatkan perhatian berkelanjutan dari semua pihak. “Mari kita rawat pusara beliau, termasuk perhatian pemerintah daerah agar tempat ini terus terpelihara dan terurus dengan baik,” pungkas Tgk Wahid. (XRQ)

Reporter: AKIL

Muhammad Nur Aidil Fitri dan Nailul Amalia Juara Duta Pelajar Sadar Hukum Aceh Besar

0

NUKILAN.id | Aceh Besar – Muhammad Nur Aidil Fitri dari SMA Negeri 1 Kota Jantho dan Nailul Amalia dari SMA Negeri 1 Kota Jantho berhasil meraih Juara I dalam Seleksi Duta Pelajar Sadar Hukum tingkat SMA/SMK se-Kabupaten Aceh Besar.

Kegiatan yang digelar Kejaksaan Negeri (Kejari) Aceh Besar bekerja sama dengan Cabang Dinas Pendidikan Wilayah Kabupaten Aceh Besar ini berlangsung di Aula Kantor Cabang Dinas Pendidikan, Rabu (30/10/2025).

Program ini merupakan upaya Kejaksaan untuk meningkatkan pengetahuan hukum di kalangan pelajar sekaligus menumbuhkan kesadaran hukum sejak dini. Kepala Kejaksaan Negeri Aceh Besar, Jemmy Novian Tirayudi, S.H., M.H. M.Si., hadir bersama jajaran pejabatnya, termasuk Kepala Seksi Intelijen Filman Ramadhan, S.H., M.H.

Sementara Kepala Cabang Dinas Pendidikan Kabupaten Aceh Besar, Ahmad Fazil, S.Pd., M.Pd., memberikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan ini.

Dewan juri seleksi terdiri dari para jaksa Kejari Aceh Besar, yakni Filman Ramadhan, S.H., M.H. (Kepala Seksi Intelijen), Muhammad Rizza, S.H., M.H. (Kepala Seksi Pemulihan Aset), Alfian Syahri, S.H., M.H. (Kepala Subseksi II Intelijen), Muhammad Riski Zhafran, S.H. (Kepala Subseksi II Intelijen), serta guru senior di Kabupaten Aceh Besar.

Keterlibatan langsung para jaksa memastikan proses seleksi berlangsung objektif tanpa perlakuan khusus kepada peserta tertentu.

Berdasarkan SK Kepala Cabang Dinas Pendidikan Wilayah Kabupaten Aceh Besar tentang Penetapan Juara 1, 2, dan 3 Duta Sadar Hukum tingkat SMA/SMK Kabupaten Aceh Besar 2025, pemenang kategori putra dan putri adalah sebagai berikut:

Kategori Putra:

1. Juara I: Muhammad Nur Aidil Fitri (SMA Negeri 1 Kota Jantho)

2. Juara II: Farid Zaidan Ilmy (SMA Negeri 1 Baitussalam)

3. Juara III: Bilal Al-Farishi (SMA Negeri 1 Indrapuri)

Kategori Putri:

1. Juara I: Nailul Amalia (SMA Negeri 1 Kota Jantho)

2. Juara II: Zahratun Nafis Ula (SMA Negeri 1 Modal Bangsa)

3. Juara III: Nindia Sara (SMA Negeri 1 Peukan Bada)

Muhammad Nur Aidil Fitri dan Nailul Amalia akan mewakili Kabupaten Aceh Besar pada ajang tingkat Provinsi Aceh. Kegiatan ini merupakan bagian dari kerja sama Dinas Pendidikan Aceh dan Kejaksaan Tinggi Aceh untuk menumbuhkan kesadaran hukum di kalangan pelajar.

Acara berlangsung meriah dengan dukungan penuh dari guru pendamping dan tamu undangan.

Diharapkan kegiatan ini dapat terus menjadi wadah untuk mencetak generasi muda yang cerdas, taat hukum, dan membanggakan Aceh Besar di tingkat provinsi maupun nasional. []

Ketika Jutaan Langkah Menuju Ka’bah Terganjal Kepentingan

0
Pelaksanaan ibadah haji di Tanah Suci. (Foto: Antara/Andika Wahyu)

NUKILAN.ID | INDEPTH — Ada yang rela menabung dari sisa sampah demi menginjakkan kaki di Tanah Suci, namun ada pula yang duduk di kursi empuk sambil “mengotori maknanya”. Kesabaran jemaah menunggu panggilan haji menuntut kejujuran para pengelola perjalanan ibadah—“transparansi jangan manis di bibir”.

Sampah mungkin dianggap tak bernilai oleh kebanyakan orang. Namun bagi Legiman (66), warga Dusun Glagahombo, Ngampin, Ambarawa, tumpukan sampah justru menjadi jembatan menuju Makkah. Hampir seluruh hidupnya ia habiskan dengan mendorong gerobak sampah.

Sejak 1976, dari hasil yang serba pas-pasan itu, ia mulai menyisihkan sedikit demi sedikit. Pada 1986 ia memutuskan menabung khusus untuk haji. Hanya seribu rupiah per hari, tetapi ia melakukannya dengan disiplin selama puluhan tahun.

Butiran kecil itu akhirnya terkumpul. Pada 2012 ia berhasil mengumpulkan Rp55 juta, cukup untuk mendaftar haji bersama sang istri. Masa tunggu 13 tahun tak membuatnya berhenti menabung dan bekerja. Dan pada 2025, mimpinya benar-benar terwujud.

Namun tidak semua cerita semanis itu. Zahrotun Ulin Nasroh, Lina (18), harus berangkat menggantikan ayahnya yang telah wafat sebelum jadwal keberangkatan. Ayah Lina menabung sejak 2012 demi memenuhi rukun Islam kelima bersama istrinya. Wasiat itulah yang akhirnya ia tunaikan, meski dengan hati berat.

Dari Legiman hingga Lina, terlihat betapa panjang dan berat perjuangan sebagian masyarakat untuk bisa berhaji. Karena itu, bayangkan kecewanya mereka ketika setibanya di Tanah Suci justru dihadapkan pada pelayanan yang semrawut.

Kekecewaan ini bukan hal baru. Tahun demi tahun, keluhan soal buruknya penyelenggaraan ibadah haji terus muncul. Penantian panjang jemaah kadang terbayar dengan perjalanan yang penuh ketidaknyamanan. Transportasi acak-acakan membuat sejumlah jemaah terpaksa berjalan kaki belasan kilometer saat wukuf dan mabit. Banyak pula petugas yang belum siap menjalankan tugasnya.

Kondisi makin rumit dengan sistem kloter yang dihapus, lalu diganti kelompok syarikah—mitra asal Arab Saudi—yang justru membuat banyak jemaah tersesat atau terpisah dari rombongan. Kekacauan berulang inilah yang mendorong pemerintah membentuk Badan Penyelenggara Haji (BP Haji), yang kemudian naik status menjadi Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj).

Tetapi lembaga baru belum otomatis menjamin perubahan. Isu dugaan kongkalikong tender haji 2026 justru menyeret Kemenhaj ke dalam sorotan publik. Dalam suasana ketidakpastian ini, cerita-cerita seperti Legiman dan Lina menjadi pengingat bahwa haji bukan sekadar administrasi atau tender proyek. Di balik setiap nama dalam daftar jemaah, ada puluhan tahun pengorbanan, harapan, dan doa.

Wajah Baru, Gaya Lama

Harapan besar sempat disematkan pada berdirinya lembaga baru urusan haji. Publik membayangkan perubahan signifikan dalam tata kelola, khususnya dari sisi keterbukaan informasi. Namun di lapangan, ekspektasi itu belum sepenuhnya terjawab. Pola kerja lembaga anyar tersebut dinilai tak berbeda jauh dari Direktorat Jenderal Penyelenggaraan Haji dan Umrah (PHU) Kementerian Agama—tertutup dan minim transparansi.

“Kami melihat cara menyajikan ini tidak ada perubahan, masih tetap dengan Dirjen PHU cara menyajikannya. Polanya masih sama,” ujar Ketua Komisi VIII DPR RI, Marwan Dasopang, saat rapat kerja bersama Kemenhaj di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (27/10/2025).

Pernyataan Marwan bukan tanpa alasan. Sejumlah sorotan kini tertuju pada proses tender pemilihan syarikah untuk penyelenggaraan haji 2026. Dua perusahaan—Rakeen Mashariq Al Mutamayizah Company For Pilgrim Service dan Al Bait Guests—ditetapkan sebagai pemenang tender, meski keduanya memiliki rekam jejak buruk pada pelaksanaan haji 2024 dan 2025. Keputusan tersebut memunculkan dugaan praktik kongkalikong serta mendorong desakan agar Kemenhaj membuka seluruh proses secara transparan.

Keresahan juga datang dari anggota Komisi VIII DPR lainnya. “Konstituen saya juga nanya, bagaimana syarikah ini kok dipilih lagi. Karena kita ketahui dua syarikah yang dipilih ini, dua syarikah yang bermasalah. Yang tidak mengeluarkan nusuk ini, di dua syarikah ini,” ujar Ansari dari Fraksi PDIP.

Wakil Ketua Komisi VIII DPR RI, Abidin Fikri, menilai evaluasi menyeluruh wajib dilakukan. DPR, kata dia, memang tak terlibat dalam proses kontrak dengan penyedia layanan, namun tetap berkepentingan memastikan pelayanan haji tidak menurun tahun depan.
“DPR tidak ikut serta dalam urusan kontrak dengan syarikah. Itu clear wewenang dan tupoksinya Kementerian Haji dan Umrah. Tapi kami akan bersama-sama untuk memastikan di Haji 2026 itu pelaksanaannya, layanannya itu tidak dikurangi. Apabila perlu harus ditingkatkan dan memang harus ditingkatkan,” kata Abidin.

Nada serupa disampaikan eks anggota Pansus Haji 2024, Luluk Nur Hamidah. Menurutnya, pemerintah semestinya tidak lagi memberi ruang bagi perusahaan yang memiliki catatan buruk.
“Pemerintah harusnya memberikan efek jera bagi para pihak yang menjadi mitra tapi tidak menjalankan layanan sesuai ketentuan. Transparansi dan akuntabilitas sangat penting dalam penyelenggaraan haji yang lebih baik,” ujarnya kepada Inilah.com.

Reaksi Parlemen

Parlemen kembali menunjukkan wajah yang tak sepenuhnya bersih. Transparansi yang selama ini mereka gembar-gemborkan justru tak tampak ketika menyangkut urusan sensitif: penetapan Biaya Perjalanan Ibadah Haji (BPIH). Pada Selasa malam (28/10/2025), rapat krusial itu digelar secara tertutup—tanpa akses publik maupun media.

Pengamat tata kelola haji, Ade Marfuddin, menyatakan keheranannya atas praktik tersebut. Baginya, pembahasan komponen pembiayaan yang variabelnya jelas seharusnya tidak berlangsung di ruang yang diselimuti kerahasiaan.

“Kalau bicara masalah komponen pembiayaan, yang variabelnya sudah jelas, itu tidak pantas kalau dibicarakan di ruang tertutup. Harusnya terbuka saja. Biar masyarakat tahu variabelnya apa saja, kecuali misalnya ada deal-deal lain,” ucapnya tegas kepada Inilah.com.

Hasil rapat yang digelar di balik pintu tertutup itu pun tidak membawa kejutan berarti. DPR dan pemerintah memutuskan penurunan biaya haji sebesar Rp2 juta, sehingga calon jemaah kini harus membayar Rp54.193.806. Namun publik tetap bertanya-tanya: pengurangan itu sebenarnya berasal dari pos mana? Salah satu isu yang mencuat adalah tingginya harga tiket pesawat dalam paket haji, padahal harga tiket reguler di luar musim hanya sekitar Rp7 juta.

Ade mengingatkan bahwa penyelenggaraan haji tahun 2026 akan menjadi ujian besar—bukan hanya bagi pemerintah, tetapi juga bagi reputasi Presiden Prabowo Subianto yang menjadikan perbaikan tata kelola haji sebagai salah satu komitmen awal pemerintahannya.

“Kalau ini dicacati, dikotori oleh praktik-praktik yang tidak terpuji, ya otomatis ini adalah membuat mencoreng nama Prabowo, nama lembaga baru dan juga personal,” imbuhnya.

Dugaan Kongkalikong dalam Tender Operator Layanan Haji

Sejumlah dugaan praktik tidak wajar kembali membayangi proses tender operator layanan jemaah haji Indonesia. Informasi yang dihimpun Inilah.com memperlihatkan bahwa dari 18 perusahaan yang mengikuti tender, hanya enam yang dinyatakan lolos seleksi. Dalam daftar awal, Almasia berada di urutan teratas, disusul Al Bait Guests, Rawaf Mina, Rifat Rifa’ah, dan Rakeen.

Namun dinamika berubah pada malam penentuan. Seorang staf Kementerian Haji di Mekah, berinisial SR, disebut menerima telepon dari Jakarta. Dari sumber internal, panggilan itu berasal dari seorang pejabat tinggi berinisial DN, yang dikabarkan mendapat arahan dari kolega di DPR, DS. Instruksinya jelas: memenangkan Rakeen dan Al Bait Guests.

Tak lama setelah itu, kedua perusahaan tersebut menurunkan harga penawaran menjadi 2.200 riyal, melampaui Almasia yang sebelumnya unggul. Ketika Almasia mencoba menyesuaikan harga, langkahnya ditolak dengan alasan kontrak telah disahkan.

Di balik penetapan pemenang, kabar lain berembus: berlangsung rapat internal yang dipimpin seorang politikus partai besar. Dalam pertemuan tersebut, DS dan DN disebut mendapat teguran keras karena manuver tender yang mencuat ke publik. Presiden Prabowo bahkan dikabarkan ikut mendengarkan jalannya rapat melalui sambungan telepon.

Kontrak bernilai besar untuk jangka tiga tahun itu juga memunculkan dugaan adanya jatah fee 125 riyal per jemaah. Jika dikalikan dengan 220.000 jemaah Indonesia, nilainya mencapai sekitar Rp121,8 miliar.

Wakil Menteri Haji dan Umrah, Dahnil Anzar Simanjuntak, menampik isu tersebut. Ia menyebut kritik yang beredar tidak lebih dari serangan pihak yang kalah bersaing.

“Rakeen dan Al Bait disebut jelek pelaksanaannya di 2024, 2025. Mereka itu enggak ikutan (di 2024) multisyarikah baru dilakukan di 2025, tapi disebutkan dua (syarikah) ini sudah melayani sejak 2024,” ujarnya memberikan pembelaan.

Dahnil melanjutkan bahwa isu yang berkembang hanya upaya menggiring opini. “(Ini) ingin melakukan framing, itu enggak sehat lho. Kalau ada temuan yang betul-betul faktual laporkan, jangan untuk clickbait atau diduga (isu ini) pesanan mereka yang gagal berkompetisi maka dibuatlah berita-berita yang merugikan jemaah kita nantinya. Yang jelas komitmen Pak Menteri, komitmen saya itu memastikan proses bersih dan transparan,” tutur dia.

Namun catatan lapangan menunjukkan rekam jejak yang tak seluruhnya mulus. Al Bait Guests diketahui telah menjadi mitra resmi platform Nusuk sejak 2023. Pada 2024, mereka menangani jemaah haji plus bersama Mashariq dan Rawaf Mina. Pada periode itu, muncul berbagai laporan terkait keterlambatan layanan, tenda yang sesak, hingga antrean panjang di toilet.

Keluhan serupa muncul kembali pada penyelenggaraan 2025, saat sistem multisyarikah mulai diterapkan. Al Bait Guests dan Rakeen menjadi bagian dari operator. Ribuan jemaah mengalami keterlambatan distribusi kartu Nusuk, makanan, serta transportasi menuju Arafah dan Mina. Ada yang kehilangan tenda, sementara sebagian lainnya harus tidur berdesakan tanpa ruang istirahat memadai.

Di tengah hiruk-pikuk penyelenggaraan rukun Islam kelima, persoalan ini menyingkap kembali pertanyaan mendasar: seberapa bersih tata kelola haji Indonesia? Ibadah haji bukan sekadar perjalanan spiritual, tetapi juga ujian atas kejujuran para pemegang amanah yang mengelolanya. Kisah Legiman yang bertahun-tahun menabung dari sisa-sisa sampah, hingga jutaan umat yang berharap mendapatkan layanan layak, menjadi pengingat bahwa kesucian bukan hanya perkara ihram putih, melainkan beningnya hati dan tata kelola.

Jika reformasi penyelenggaraan haji hanya berganti nama tanpa perubahan nurani, maka penantian panjang rakyat untuk pelayanan yang lebih adil dan manusiawi akan terus disisipi rasa getir. (XRQ)

Reporter: AKIL

Pengamat Desak Proses Hukum Kasus Pemukulan oleh Wabup Pidie Jaya: Jangan Bela yang Salah

0
aryos nivada
Pengamat politik dan keamanan Aceh, Aryos Nivada. (Foto: Youtube Jalan Ary Official)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Kasus dugaan pemukulan terhadap Kepala SPPG oleh Wakil Bupati Pidie Jaya, Hasan Basri, kembali mengguncang ruang publik. Peristiwa yang terjadi di tengah pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) itu kini menuai kritik keras dari berbagai kalangan, termasuk pengamat politik dan keamanan, Aryos Nivada.

Kepada Nukilan.id, Aryos menegaskan bahwa penegakan hukum harus berjalan tanpa intervensi politik, terlebih karena pelaku merupakan pejabat publik. Ia juga mendesak Bupati Pidie Jaya, Sibral Malasyi, agar bersikap netral dan tidak melindungi bawahannya yang diduga melakukan kekerasan.

“Bupati harus berpihak kepada rakyat, bukan melindungi kekuasaan. Hormati proses hukum dan biarkan kebenaran bekerja. Jangan membela yang salah, karena membela yang salah sama saja menodai rasa keadilan rakyat,” tegas Aryos, Sabtu (1/11/2025).

Kasus ini bermula saat Hasan Basri melakukan inspeksi mendadak ke dapur program MBG di Gampong Sagoe, Kecamatan Trienggadeng. Dalam rekaman CCTV yang beredar, tampak gestur kemarahan Hasan sebelum insiden pemukulan terjadi terhadap Muhammad Reza, Kepala SPPG. Usai kejadian, Reza melapor ke pihak kepolisian.

Menurut Aryos, tindakan kekerasan oleh pejabat publik tidak hanya melanggar etika pemerintahan, tetapi juga berpotensi merusak kepercayaan masyarakat terhadap program strategis nasional seperti MBG. Ia menilai pernyataan Bupati yang menyarankan penyelesaian secara kekeluargaan justru dapat memperlemah keadilan dan menciptakan preseden buruk.

“Kita tidak sedang bicara soal konflik pribadi, tapi soal tanggung jawab publik. Jangan ada kompromi terhadap kekerasan, apalagi jika itu dilakukan oleh pejabat yang seharusnya memberi teladan,” ujarnya.

Aryos juga menyoroti rekam jejak Hasan Basri yang disebutnya pernah terlibat dalam kasus serupa di masa lalu. Hal itu, katanya, seharusnya menjadi alarm bagi pemerintah daerah untuk memperkuat etika birokrasi dan keteladanan moral di kalangan pejabat.

“Rekam jejaknya sudah cukup menjadi alarm bagi etika birokrasi. Bupati harus menunjukkan keberpihakan pada kebenaran dan hukum, bukan pada loyalitas politik atau hubungan pribadi,” tambahnya.

Ia menegaskan, pemimpin sejati adalah mereka yang berdiri di sisi rakyat dan menegakkan keadilan, bukan yang berupaya menutupi kesalahan demi menjaga citra kekuasaan.

“Jika pejabat yang bersalah terus dilindungi, maka pesan moral pemerintahan akan runtuh. Rakyat tidak butuh pemimpin yang membela orang salah, mereka butuh pemimpin yang berani menegakkan keadilan untuk semua,” pungkas Aryos, yang juga pendiri Jaringan Survei Inisiatif (JSI).

Kasus ini kini masih dalam penyelidikan Polres Pidie Jaya. Publik menantikan langkah tegas pemerintah daerah untuk memastikan hukum benar-benar berpihak pada kebenaran—bukan tunduk di bawah bayang-bayang jabatan. (XRQ)

Reporter: AKIL

SK PPPK Dinas Pendidikan Aceh Mulai Dibagikan Secara Bertahap pada 3 November

0
Plt Kepala Dinas Pendidikan Aceh, Murthalamuddin, S.Pd., M.S.P. Tangkapan layar media dalam video Dinas Pendidikan Aceh.

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Pemerintah Aceh melalui Dinas Pendidikan memastikan proses pembagian Surat Keputusan (SK) Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) tahap pertama akan dimulai pada Senin, 3 November 2025.

Plt Kepala Dinas Pendidikan Aceh, Murthalamuddin, S.Pd., M.S.P., menyampaikan, penyerahan SK akan diawali dengan prosesi simbolis di Kantor Dinas Pendidikan Aceh, kemudian dilanjutkan pembagian di seluruh cabang dinas kabupaten/kota.

“Saudara-saudari para PPPK Dinas Pendidikan Aceh, mulai hari Senin, 3 November, SK PPPK tahap pertama akan segera dibagikan. Simboliknya dilakukan di Kantor Dinas Pendidikan Aceh. Selanjutnya, saudara-saudari dapat mengambilnya di cabang dinas masing-masing kabupaten/kota,” ujar Murthalamuddin dalam video yang dilansir media NUKILAN.ID, Sabtu (1/11/2025).

Menurut Murthalamuddin, pembagian SK ini menjadi hasil dari proses panjang yang dilakukan pemerintah untuk memberikan kepastian status kepegawaian bagi tenaga pendidik dan tenaga kependidikan yang telah lolos seleksi.

Ia berharap, penyerahan SK berjalan dengan tertib, transparan, serta sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

“Demikian informasi ini untuk diindahkan dan tidak lagi menimbulkan pertanyaan-pertanyaan lanjutan. Kami ingin memastikan semuanya berjalan sesuai mekanisme dan instruksi yang telah dikeluarkan oleh Bapak Gubernur dan Bapak Wakil Gubernur,” tambahnya.

Lebih lanjut, Murthalamuddin juga mengingatkan pentingnya keterlibatan publik dalam mengawasi jalannya proses pembagian SK PPPK tersebut. Menurutnya, pengawasan dari masyarakat dan pihak sekolah dapat mencegah terjadinya penyimpangan di lapangan.

“Kepada masyarakat, mohon mengawasi ini supaya tidak terjadi hal-hal yang menyimpang daripada apa yang diperintahkan oleh Bapak Gubernur dan Bapak Wakil Gubernur. Dan jika ada, laporkan ke sistem layanan pengaduan pendidikan Aceh yang kita tempel di seluruh sekolah,” tutupnya.

Pembagian SK PPPK ini diharapkan menjadi momentum penting bagi peningkatan profesionalitas dan kesejahteraan tenaga pendidik di Aceh, sekaligus memperkuat komitmen pemerintah dalam menghadirkan pelayanan pendidikan yang bersih, transparan, dan akuntabel. (XRQ)

Reporter: AKIL

Siapkan Pendidikan Berkarakter di Era AI, Pimpinan Cendekia Darussalam Ikuti Program UNESCO di Tiongkok

0
Pimpinan Perguruan Islam Cendekia Darussalam, Dr. Edwar M. Nur, menjadi salah satu peserta dalam The Belt and Road Teacher Development Exchange Project, sebuah program internasional yang diinisiasi oleh UNESCO bersama sejumlah institusi pendidikan di Tiongkok. (Foto: For Nukilan)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Pimpinan Perguruan Islam Cendekia Darussalam, Dr. Edwar M. Nur, menjadi salah satu peserta dalam The Belt and Road Teacher Development Exchange Project, sebuah program internasional yang diinisiasi oleh UNESCO bersama sejumlah institusi pendidikan di Tiongkok. Kegiatan ini berlangsung selama 15 hari, sejak 26 Oktober hingga 11 November 2025, dan diikuti oleh 50 peserta dari 23 negara.

Program tersebut berfokus pada penerapan Social Emotional Learning (SEL) bagi guru dan siswa di tengah pesatnya perkembangan Artificial Intelligence (AI) di dunia pendidikan. Selama program, peserta mengikuti seminar, dialog bersama pakar pendidikan global, lokakarya kolaboratif lintas negara, serta kunjungan lapangan ke sekolah dan universitas yang telah mengintegrasikan pembelajaran SEL dengan teknologi AI.

Beberapa lembaga pendidikan di Tiongkok diketahui telah mengembangkan sistem pemantauan berbasis AI untuk membantu guru mengidentifikasi kebutuhan akademik dan emosional siswa secara lebih cepat dan tepat. Sistem ini dinilai mampu meningkatkan efektivitas pendampingan guru terhadap perkembangan karakter dan kesejahteraan mental siswa.

Dalam keterangannya yang diterima NUKILAN.ID, Dr. Edwar M. Nur mengatakan bahwa integrasi antara SEL dan AI merupakan langkah penting untuk memperkuat karakter sekaligus menjaga kesehatan mental peserta didik di tengah arus transformasi digital.

“Kehadiran teknologi harus tetap menempatkan guru dan interaksi manusia sebagai inti pembelajaran. AI dapat menjadi alat bantu yang memperkuat kemampuan guru memahami dan mendampingi siswa secara lebih personal,” ujarnya.

Tiongkok dinilai telah memiliki peta jalan pengembangan pendidikan berbasis SEL dan AI yang komprehensif, mulai dari pembangunan infrastruktur teknologi pendidikan, pelatihan guru berkelanjutan, hingga pembentukan budaya sekolah yang menempatkan kebutuhan siswa sebagai prioritas utama.

Usai mengikuti program tersebut, Dr. Edwar berkomitmen membawa hasil pembelajaran dari Tiongkok untuk diterapkan di Indonesia. Ia menyebutkan, pengalaman itu akan menjadi masukan berharga dalam penyusunan program pengembangan pendidikan berkelanjutan di Perguruan Islam Cendekia Darussalam.

Beberapa langkah yang direncanakan meliputi:

  • Penyusunan kerangka pembelajaran Social Emotional Learning yang terintegrasi dalam kurikulum sekolah.

  • Pemanfaatan teknologi digital dan AI sebagai alat pendukung pemetaan perkembangan siswa.

  • Penguatan kapasitas guru melalui pelatihan berkelanjutan yang berorientasi pada pembentukan karakter dan kesejahteraan mental peserta didik.

“Pembelajaran sosial emosional bukan hanya tren internasional, tetapi kebutuhan mendesak bagi sekolah-sekolah di Indonesia. Perguruan Islam Cendekia Darussalam berkomitmen menjadikan hasil program ini sebagai dasar pengembangan ekosistem pendidikan yang humanis, adaptif, dan berkelanjutan,” tegasnya.

Program internasional ini diharapkan tidak hanya mempererat kerja sama antar lembaga pendidikan di kawasan Asia dan dunia, tetapi juga menjadi dorongan bagi Indonesia untuk menyusun kebijakan pendidikan yang mampu mengintegrasikan pembelajaran sosial emosional dan kecerdasan buatan secara strategis dalam menghadapi tantangan masa depan. (XRQ)

Reporter: AKIL