Beranda blog Halaman 1883

Muslahuddin Daud, Mengenang 17 Tahun Tsunami Aceh, Sebuah Memori untuk Peringatan Dini

0

Oleh Muslahuddin Daud*

Hari itu 17 tahun yang lalu, di pagi buta dengan roda dua besi tua, aku meluncur menuju Alue Naga, salah satu muara sungai di Kota Banda Aceh, menyalurkan hobi memancing dan menikmati indahnya pemandangan laut.

Inilah caraku mengembalikan energi, mendapatkan inspirasi sekaligus memenuhi hajat tubuh yang berstamina tinggi.

Matahari baru saja menampakkan diri dua depa di ufuk timur. Aku persis sudah berdiri di atas batu besar paling ujung kuala Alue Naga, entah kenapa ada dorongan batiniah yang membawaku ke tempat ini, biasanya pilihan utamanya adalah kuala Gampong Jawa, lokasi di mana sejawat memancing sudah sangat mengenal diriku sangat lihai dalam mengangkat satu persatu ikan segar dari berbagai jenis.

Setelah 45 menit berlalu, tetapi belum ada satu pun sentuhan pancingku, umpan udang hidup masih segar menari menggoda sang pemangsa. Tiba-tiba, batu besar tempatku berdiri bergoyang sangat kencang, mula-mula aku menjaga kestabilan posisi sambil berdiri, tapi kemudian aku tak kuasa, terpaksa duduk melepaskan gagang pancing, dan memegang erat batu yang masih kokoh berdiri. Beberapa kali tanganku hampir telepas dari pegangan akibat kuatnya goyangan. Andai saja tanganku terlepas, boleh jadi aku korban gempa 8,9 SR pertama.

Di saat berjuang dari kejatuhan, mataku masih sempat memandang jauh suasana pinggir pantai, pohon kelapa saling bertabrakan, para nelayan yang masih di pinggir pantai tidak ada yang sanggup berdiri, semuanya terduduk dengan tangan di atas pasir menjaga keseimbangan tubuh. Setelah 7-8 menit goyangan yang menakutkan itupun berhenti.

Aku masih di atas batu sambil menoleh ke ke kanan dan kiri, sejenak aku tertegun ternyata batu tempatku duduk merupakan satu-satunya batu yang tak bergeser dari posisinya. Dua menit aku bingung mau melakukan apa, mataku kemudian tertuju pada pancing yang mata ujungnya masih ada udang dan masih menari dengan mata yang bercahaya, aku tergoda untuk kemudian melempar lagi pancingku.

Tetapi, tiba-tiba ombak normal setinggi 3 meter menerjang batu tempatku berdiri, ini tidak biasa, rasa takut menghampiri. Perlahan aku meninggalkan lokasi melewati bongkahan batu yang sudah dipenuhi air laut.

Tujuh menit lamanya aku membutuhkan waktu hingga tiba di bibir kuala Alue Naga. Setiba di sana aku disambut lelaki tua yang berusia 74 tahun, tanpa sungkan kami langsung terlibat diskusi gempa yang menurutnya pernah terjadi tahun 1964 dengan kekuatan yang hampir sama.

Tiba-tiba pemandangan aneh di depan mata terjadi, air laut di bibir sungai bergerak sangat cepat menuju laut, sebuah tarikan yang sangat dahsyat, aku kehilangan kata, hingga mata tertuju pada ikan yang menggelepar di dasar sungai, melihat nelayan yang berlabuh di lautan kering. Aku gelisah, tidak tahu apa yang sedang kusaksikan. Pak Tua menyuruhku memanggil nelayan pulang, aku gunakan suara terbesar memanggil mereka.

Saat itulah dari kejauhan aku melihat semacam gelombang berdinding meluncur dengan cepat menuju pantai. Naluri nelayanku berkata, kenapa gelombang ini tidak pecah? Ini pasti ada sesuatu yang salah, tanpa pikir panjang kuhidupkan sepeda motor melaju kencang menuju arah Simpang Mesra, persimpangan menuju kampus USK.

Tapi perjalananku tidak mulus, jalan yang kulalui sudah ambruk akibat longsor karena gemba, tidak ada pilihan lain, motorku harus kumasukkan dalam lubang, aku tidak mengerti mengapa aku terlalu kuat mengangkat motorku dari dalam lubang. Setelah lubang pertama, aku kembali meluncur hingga masuk lubang kedua dengan melakukan hal yang sama.

Namun sesampai di lubang ketiga, aku merasa ajalku tiba karena lubangnya menganga cukup besar, aku tidak ada pilihan motor kembali kumasukkan dalam lobang dan dengan sekuat tenaga kuangkat kembali. Tanpa kusadari, gelombang tsunami (waktu itu belum tahu namanya) siap menerjangku dari belakang.

Benar saja, air kencang bak air bah itu menghantamku saat tenaga terakhirku mengangkat motor dalam lubang jalan, akupun tak mengerti mengapa tenagaku blm habis padahal dua lubang sebelumnya telah menguras tenaga cukup banyak. Tsunami membasahi tubuh dan motorku, tapi ajaib lagi motor yang basah tapi masih bisa menyala. Aku beruntung lubang ketiga itu hampir mendekati jembatan Krueng Cut. Sebenarnya air mencapai ketinggian 10 meter, tapi karen dua sisi jalan sungai mengering akibat air surut ke laut hingga tidak sepenuhnya tumpah.

Dalam kondisi yang sekarat dan basah kuyup, aku sempat menoleh ke belakang, gelombang kedua datang. Saat itulah jembatan Alue Naga dengan panjang 100 meter patah dihantam gelombang dengan suara yang bergemuruh. Dalam kondisi ketakutan, aku terus melaju dengan kencang menghindari kejajaran air hingga sampailah ke Simpang Mesra.

Di persimpangan itu, aku berhenti lima detik untuk berpikir ke mana aku akan berlari, arah motorku berputar menuju Jeulingke. Aku terbayang wajah putriku yang berumur 8 bulan, Aisya. Hanya butuh tiga menit aku tiba di rumah, aku memandang sekeliling melihat wajah-wajah yang pucat sedang duduk bersimpuh menanti datangnya gempa susulan.

Saat itulah aku berteriak, “Air laut naik, air laut naik, kita harus lari!” dan benar saja, tiba-tiba aku mendengar suara gemuruh yang sangat besar. Sulit dilukiskan dengan kata-kata, aku hanya punya kesempatan menarik tangan istriku, Tia, yang datang menghampiriku ke motor yang kuparkir. Ketika kuajak lari dia malah masuk kamar, rupanya dia mengambil uang cash kami Rp26 juta yang sengaja aku ambil untuk membeli tanah yang jatuh tempo pembayaran hari itu. Setelah dia keluar, gelombang besar dengan warna hitam pekat bercampur lumpur tambak Desa Tibang siap menghantam kami, lari adalah solusi.

Namun hanya mampu 30 meter, gelombang tsunami sudah membalut kami dalam lumpur dan berbagai jenis material bangunan seperti besi, seng, potongan kayu, dan lain-lain. Air terus menyeret, hingga posisi kami berada di antara arus besar dan pintu pagar sebuah rumah.

Beruntung kami tidak terseret dalam arus besar karena jalur sudah penuh sesak dengan mobil-mobil yang hanyut dan bangunan lain. Air mematahkan pagar dan membawa kami persis di depan pintu rumah itu. Tiba-tiba mobil Kijang hanyut pas di depan kami dan siap menghimpit kami ke dinding rumah, kalau itu terjadi, kami sudah tiada, tetapi ketika kami menutup mata menanti himpitan mobil, tiba-tiba suara besar menggelegar, pintu rumah patah dan menyeret kami masuk ke dalam rumah.

Tia tiba-tiba pingsan, tubuhnya nyaris tak berbenang, ketika air memutar-mutar kami dalam ruang tamu itu, aku masih mampu mengontrol agar benda tajam tidak menusuk kami. Aku berupaya menggunakan apa pun untuk bisa terapung, akhirnya aku menemukan lemari piring yang sedang berputar mengitari ruangan. Aku berusaha menaiki lemari itu sambil mengangkat istriku, akhirnya kami berhasil naik dan air menyeretnya ke sudut ruangan dan tidak berputar lagi.

Ketika berada dalam posisi di pojok, aku berpikir sudah aman dan air tidak naik lagi, tiba-tiba mataku menoleh ke dinding sebelah kanan, aku terkejut bahwa posisi air dua meter lebih tinggi dari posisi di atas lemari. Tiba-tiba, suara seperti halilintar terdengar, ternyata dinding rumah patah, dan tak ayal lagi air kembali naik dan mengangkat posisi lemari di mana kami naiki, beruntung air tidak membawa lemari keluar rumah, lemari itu dihimpit pojokan dinding beton, air terus naik hingga menghampiri plafon lantai dua. Aku berharap plafon itu triplek agar dapat kutinju untuk bisa tembus ke atas, tapi apa daya, plafon itu cor beton padat.

Saat itulah aku pasrah, ketika ruang bernapas tinggal 5 cm lagi, aku sudah berucap, “Ya Allah, aku ini hamba-Mu dan milik-Mu, dari-Mu aku berasal dan sekarang saatnya aku siap kembali pada-Mu”.

Aku semakin tak mengerti, akhir kalimatku itu sekaligus mengakhiri masuknya air gelombang tsunami. Allah memberi sisa ruang bernapas di atas lemari dan plafon rumah, tentu aku belum lega karena bisa saja semenit kemudian air naik lagi.

Dalam pikiran yang tidak menentu tangisan anak kecil masuk ke telingaku. Aku menoleh sekeliling ternyata anak itu berada di atas kayu tidak jauh dari ujung kakiku, dengan sekuat tenaga kakiku meraih kayu dan berhasil menarik anak itu ke atas lemari. Dengan sisa tenaga tangan kananku menopang istriku dan tangan kiri menopang anak laki berusia 2,5 tahun. Dua jam lamanya aku bertahan dengan tangan telentang membopong dua manusia hingga terdengar suara desiran air turun dengan sangat pelan.

Tepat pukul dua siang, aku bisa melepaskan mereka, menyandarkannya di sudut dinding seraya mengambil kayu, mengukur kedalaman air dalam rumah. Ketika air tersisa 1,5 meter, kemudian aku mencari tahu di mana tangga lantai dua rumah, mengangkat istri dan anak itu ke lantai dua rumah, sesampai di sana aku teringat sesuatu, ternyata uang Rp26 juta yang mengitari pingganggku telah hanyut dibawa air.

Aku belum menangis, tapi hatiku sangat sesak, ketika melihat pemandangan yang tidak pernah kubayangkan sebelumnya, gedung, rumah, toko, sekolah, semua sudah rata, hamparan lautan sepanjang mata memandang. Lima jam berlalu, air tsunami surut hingga tinggal 1,5 meter.

Secara perlahan kesunyian menyeruak, suara tangisan mulai terdengar, rintihan meminta pertolongan terus bertambah. Setiap detik ada pemandangan baru, paling tidak di depanku ada mobil L300 dgn empat mayat terjejer rapi. Sedikit berpaling ke kanan di sana ada seorang nenek yang selamat dari sebatang pohon mangga kecil dan puluhan keanehan lainnya terhidang di depan mata.

Tepat pukul lima sore, di tengah dada yang sesak dan air mata yang kering, tiba-tiba terdengar suara yang menjurus padaku sambil memanggil, “Ada si Mus di situ? Anaknya selamat di atas lantai dua toko.”

Suara Bang Acin, yang juga tetanggaku membuatku gemetar, bulu kudukku berdiri, saat yang sama aku seakan kembali bertenaga. Aku menoleh ke kiri, minta permisi pada istri yang masih dalam posisi setengah sadar. Aku turun dalam lumpur tebal yang dipenuhi benda-benda yang hanyt oleh tsunami, atap seng seperti kerupuk yang diremas, kayu-kayu dengan paku tajam siap menghujam, patahan besi akan berakibat fatal bila tertusuk atau terinjak.

Aku terus berjalan di tengah sampah berlumpur menuju arah toko tempat di mana anakku berada, darah bercucuran di mana-mana akibat sulitnya menghindar dari benda tajam. Meski hanya berjarak 200 meter, aku membutuhkan waktu 40 menit. Ketika tiba di toko itu dan memandang putriku Aisya (Icha) yang tidak berbusana, badannya penuh lumpur, dari kepala, mulut, hingga telinga, serta mulut. Sungguh aku ingin berteriak, tapi suaraku mendadak hilang, hanya suara sesak ketika aku mampu menyentuhnya dari tangan Kak Ruhama, kakak iparku, yang menggendongnya sebelum gempa hingga tsunami terjadi.

Aku ingin membasuh Icha, tapi apa daya, tidak ada apa pun yang tersedia, tidak ada air, hanya lumpur di kanan kiri. Aku memutuskan membanya ke mamanya, aku menggendongnya sembari memandang bibirnya yang bergetar kedinginan yang berwarna kecokelatan. Aku berhasil membawa Icha ke mamanya, saat itu aku tidak sanggup melihat mereka berpelukan, pelukan seorang ibu dan bayinya yang berusia delapan bulan yang masih telanjang dan berlumpur. Aku putuskan kembali turun ke lumpur dengan hajat mencari air dalam botol, meski sadar ini pekerjaan gila yang tidak ada hasilnya.

Setelah setengah jam pencarian, aku menginjak seperti botol Aqua dan memungutnya dalam lumpur. Itulah harta karunku hari itu, air yang bisa membasuh muka istri dan anakku.

Tak lama berselang, abang iparku, Bang Din, mengajak menurunkan Mamak yang selamat di atas atap rumah, dia terbantu dengan bantal tidurnya yang tiga kali tenggelam hingga selamat. Kami harus memapahnya turun, karena kakinya terkilir dan tubuhnya yang banyak luka kena atap seng. Kami juga menjemput Kak Ruhama dari atas toko untuk kami satukan satu tempat sebelum memutuskan harus ke mana.

Hari mulai gelap, keadaan mencekam tidak terlihat satu pun cahaya meski hanya korek api. Setiap beberapa kaki melangkah kami bertemu mayat bergelimpangan. Aku dan Bang Din, harus memapah Mamak yang tidak bisa berjalan.

Kami tiba di lokasi terdekat yang tidak ada air pukul 12 malam di Ie Masen Kayee Adang. Kami berkumpul di masjid, kemudian kami diajak ke rumah saudara pukul dua malam. Kami melalui malam dengan keadaan tidak menentu sambil gempa senantiasa menghentak dalam jangka waktu yang pendek.

Besok pagi (27/12/2004) PR kami menanti, mencari mayat Bapak mertua, yang pada saat tsunami berada di atas kursi roda karena baru saja kena musibah tabrakan. Pukul tujuh pagi, dengan baju berlumpur tsunami kami mencari mayat Bapak, tetapi hingga siang hari belum juga ditemukan, kemudian kami mengangkat mayat-mayat lain ke masjid Gampong Peurada, hanya dalam waktu sehari masjid sudah penuh dengan mayat yang kami jejerkan, dengan harapan ada keluarga yang mengenalnya.

Hari kembali gelap, kami kembali ke Ie Masen untuk kemudian kembali besok mencari mayat bapak dan berhasil kami temukan pukul empat sore. Mayat beliau sudah diangkat oleh orang lain dan ditaruh di trotoar jalan. Kami membawanya dan disemayamkan di Ie Masen.

Hari berikutnya kami pulang ke Pidie dengan truk. Namun musibah kembali menimpa kami, Kak Ruhama yang menggendong anak saya terkena tetanus di mana seng membelah punggungnya, akhirnya nyawanya tidak bisa diselamatkan.

Mamak juga mengalami hal yang sama sehingga kami harus kembali membawanya ke Rumah Sakit Fakinah untuk dirawat tetanus. Mamak berhasil selamat atas pertolongam dokter dari Spayol. Di Rumah Sakit Fakinah, setiap pagi buta aku menjadi penerjemah dokter Spayol dalam merawat banyak pasien.[]

Penulis adalah Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Demokrasi Indonesia (PDI) Perjuangan Provinsi Aceh

Tuan Guru Bajang: Kalau Mau Tahu Aceh Datanglah ke Aceh

0
Wakil Komisaris Utama PT. Bank Syariah Indonesia (BSI) Dr. TGB Muhammad Zainul Majdi, Lc., (Foto: Dok. Ist)

Nukilan.id – Wakil Komisaris Utama PT. Bank Syariah Indonesia (BSI) Dr. TGB Muhammad Zainul Majdi, Lc., MA menjadi penceramah pada Maulid Nabi Muhammad SAW dan Peringatan 17 Tahun Tsunami Aceh yang dilaksanakan Dinas Pendidikan Aceh di Aula SMKN 2 Kota Banda Aceh, Senin 27 Desember 2021.

TGB yang juga Gubernur Nusa Tenggara Barat Periode 2013 – 2018 tersebut hadir bersama Komisaris Independen PT. BSI, M. Arief Rosyid Hasan, Anggota Dewan Pengawas Syariah PT. BSI, Dr. Mohammad Hidayat dan Regional CEO PT. BSI Aceh, Wisnu Sunandar memenuhi undangan Kepala Dinas Pendidikan Aceh, Drs. Alhudri MM.

Tiba di acara maulid, TGB bersama rombongan disambut dengan Seumapa oleh Medya Hus serta pengalungan syal khas Aceh oleh Kadisdik Alhudri. Seumapa merupakan seni tutur bahasa tradisi Aceh yang lazim digelar saat menyambut orang-orang istimewa dengan kiasan syair dan pantun yang disampaikan secara kocak dan jenaka.

Dalam ceramahnya, TGB mengaku tersanjung dengan penyambutan yang dilakukan terhadap dirinya bersama rombongan BSI. Menurut TGB, Seumapa adalah tradisi yang cukup indah dan mencirikan identitas orang Aceh yang ramah, rendah hati, dan selalu bersyukur kepada Allah.

Hal itu lah yang dilihat saat pertama sekali menginjakkan kaki ke Bumo Serambi Mekkah. TGK menuturkan, saat hendak ke Aceh dirinya sempat berfikir bahwa ia bersama rombongan akan bertemu dengan masyarakat Aceh yang bermuram durja, wajah-wajah yang penuh dengan kesedihan dan kebingungan, hal itu mengingat agendanya ke Aceh dalam rangka memperingati 17 tahun tsunami Aceh.

“Tapi masyaAllah, tabarakallah. Saat begitu saya turun dari pesawat, yang saya saksikan adalah wajah-wajah ceria penuh dengan kesyukuran kepada Allah,” kata TGB.

Oleh karena itu, menurut TGB untuk mengetahui orang Aceh, kondisi Aceh dan sebagainya tentang Acehm maka datanglah ke Aceh.

“Kalau mau mencintai Aceh datanglah ke Aceh. Kalau mau tahu orang Aceh seperti apa datanglah ke Aceh, ajaklah bicara bersama,” kata TGB.

Aceh memiliki keunikan, kata TGB. Jumlah tempat ngopi paling banyak mungkin hanya di Aceh dan itu tidak pernah sepi, akan tetapi bukan bererti orang Aceh tidak bekerja karena selalu di warung kopi, karena ternyata di tempat kopi juga bagian dari membangun kebersamaan. “Masya Allah, mau tahu Aceh datanglah ke Aceh,” katanya lagi.

Alumni doktor tafsir dan ilmu Alquran Universitas Al-Azhar Kairo ini mengungkapkan, banyak orang di luar terkadang sering menilai sesuatu hanya dari berita, seperti halnya terhadap Aceh. Selain berita keindahan alam, budaya dan adat istiadat Aceh, mungkin juga ada kesan di luar bahwa karena lama dilanda konflik bersenjata suasana masyarakat Aceh menjadi tegang, orang-orangnya sulit senyum, suasana sosialnya juga berubah tidak seperti tempat lain.

“Padahal begitu datang ke Aceh, Alhamdulillah ternyata berita tidak sama dengan pandangan mata,” kata TGB.

Oleh karena itu, kepada para siswa yang hadir dalam kegiatan tersebut TGB berpesan, jika punya media sosial seperti Facebook, Instagram, Twitter dan lain sebagainya satu hal yang perlu diingat, jika ada informasi yang dapat mengundang rasa benci dan berkurang cinta kepada Aceh, berkurang cinta kepada Indonesia dan suudzon kepada orang lain, maka tabayyunlah, sebagaimana prinsip islam.

“Nggak usah gampang-gampang dipercaya, boleh saja ada 1001 berita sampai kepada kita tapi jangan begitu mudah kita percaya, kecuali sudah kita lihat dengan kasat mata, kecuali sudah kita tabayun kan. Kenapa? Karena kehancuran dan konflik datang dari kabar bohong. Kita patut bersyukur terhadap kondisi Aceh yang damai seperti saat ini,” ujar TGB.

TGB berpesan, “bangunlah hubungan sosial antar sesama secara baik, selalulah berfikiran positif, dan optimis, karena untuk Aceh kedepan tidak ada jalan lain selain membangun optimisme di dalam hati kita, Insya Allah,” tutup TGB.

Sementara itu Kadisdik Alhudri mengatakan, bahwa Aceh dan Lombok NTB memiliki hubungan emosional yang erat, bahkan saat gempa dan tsunami menimpa lombok beberapa tahun lalu, Aceh hadir sebagai salah satu provinsi yang ikut merasakan kepiluan masyarakat Lombok saat itu.

“Masyarakat Aceh saat itu ikut membantu masyarakat lombok dengan membangun masjid bernama An-Nur Aceh yang dibuat dari material bambu, dan saat ini sudah dipakai untuk beribadah,” kata Alhudri.[]

Hasil Premier League Newcastle United vs Manchester United

0
Penyerang Manchester United, Edinson Cavani (kiri) melakukan selebrasi khasnya usai menjebol gawang Newcastle United di laga lanjutan Premier League hari Selasa (28/12/2021). © AP Photo

Nukilan.id – Di luar dugaan, Manchester United gagal meraih kemenangan dari markas Newcastle United dalam partai lanjutan Premier League hari Selasa (28/12/2021). Pertandingan berlangsung cukup sengit dan berakhir dengan skor imbang 1-1.

Sebelum pertandingan dimulai, Newcastle masih terjebak di zona degradasi dan Manchester United berada di peringkat ketujuh. Sehingga tidak heran kalau publik menganggap the Red Devils akan meraih kemenangan mudah.

Namun tak disangka, the Magpies tidak gentar dengan nama besar Manchester United. Mereka berhasil mendapatkan gol pada menit ke-7 melalui Allan Saint-Maximin, memanfaatkan asis dari Sean Longstaff. Newcastle unggul 1-0.

Newcastle bahkan berhasil mendapatkan gol keduanya pada menit ke-38! Callum Wilson berhasil menjebol gawang David de Gea usai menerima umpan dari Saint-Maximin. Sayangnya, gol tersebut dianulir karena offside.

Manchester United bukannya tanpa perlawanan. Mereka malah menguasai jalannya pertandingan dan juga membuat sejumlah ancaman ke gawang Newcastle. Namun mereka tak mampu mengubah skor hingga babak pertama berakhir.

Babak Kedua

Newcastle langsung memberikan kejutan tiga menit setelah kick-off babak kedua dilakukan. Saint-Maximin tidak dijaga ketat dan langsung mengarahkan bola ke gawang. Sayangnya, gol gagal tercipta karena penyelamatan gemilang De Gea.

Manchester United mendapatkan peluang di menit ke-55. Berawal dari umpan Bruno Fernandes, Jadon Sancho masuk ke kotak penalti dan memberikan bola kepada Edinson Cavani. Bola disepak, namun tidak menemui sasaran.

Lagi-lagi peluang Newcastle dihentikan De Gea! Joelinton masih belum menyerah untuk membubuhkan namanya di papan skor, namun De Gea terlalu sulit ditaklukkan. Entah berapa gol yang bisa bersarang di gawang MU tanpa De Gea.

Gol! Akhirnya Manchester United menyamakan kedudukan! Keputusan Ralf Rangnick memasukkan Edinson Cavani di awal babak kedua terbukti tepat, sebab penyerang asal Uruguay itu mencetak gol di menit ke-71 dan membuat skor berubah jadi 1-1.

Hampir gol kedua! Cavani nyaris membubuhkan namanya di papan skor lagi setelah tembakan kaki kirinya membuat bola melewati Martin Dubravka. Sayang, bola berhasil disapu oleh Jamaal Lascelles sebelum melewati garis gawang!

Beberapa percobaan mencetak gol kembali dibuat oleh kedua tim di sisa-sisa menit pertandingan. Tetapi kedudukan imbang tak kunjung berubah sampai wasit meniupkan peluit panjang. Hasil akhir 1-1 bertahan.

Susunan Pemain

Newcastle United (4-4-2): Martin Dubravka; Javier Manquillo, Fabian Schar, Jamaal Lascelles, Emil Krafth; Ryan Fraser (Miguel Almiron 75′), Jonjo Shelvey, Sean Longstaff, Allan Saint-Maximin (Dwight Gayle 83′); Joelinton, Callum Wilson (Jacob Murphy 45′).

Manchester United (4-2-2-2): David de Gea; Diogo Dalot, Raphael Varane, Harry Maguire, Alex Telles; Scott McTominay (Nemanja Matic 78′), Fred (Jadon Sancho 46′); Mason Greenwood (Edinson Cavani 46′), Bruno Fernandes; Marcus Rashford, Cristiano Ronaldo.

[Bolanet]

Tiyong: Qanun Bendera Untuk Kekhususan Aceh, Bukan Kemerdekaan

0
Samsul Bahri/Tiyong (Foto: Dok.Ist)

Nukilan.id – Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA) Samsul Bahri Alias Tiyong mengatakan, Bendera Bulan Bintang Bukan untuk Lambang Kemerdekaan Aceh Tapi untjk lambang Kekhususan Aceh.

Hal ini interupsi Tiyong pada Ketua DPR Aceh Dahlan Jamludin saat pembahasan Paripurna Qanun Aceh Pogram Legislasi Aceh Tahun 2021 di Aula gedung Paripurna DPRA Banda Aceh, Senin (27/12/2021).

“Bukan berarti Bulan Bintang Lambang Kemerdekaan Aceh tapi itu adalah lambang Kekhususan Aceh dalam Bingkai NKRI,” kata Tiyong.

Ketika berbicara NKRI disitu lah kita tidak lahir Makar, dan produk hukum ini sudah di lembarkan dalam lembaran daerah dan menjadi Hukum Qanun di Aceh,” sebutnya.

Tiyong menjelaskan, di Tahun 2006 Lahir Undang- undang Nomor 11 tahun 2006 disitu mengatur tentang hak-hak  istimewa Aceh, salah satu pasal yang mengatur adalah pasal 246 ayat 2 selain Bendera Merah Putih Pemerintah Aceh dapat menentukan dan menetapkan Bendera Daerah Aceh sebagai lambang yang mencerminkan keistimewaan dan Kekhususan Aceh.

Pada Ayat 3 Bendera Aceh sebagaimana lambang yang di maksut pada ayat 2 bukan simbol Kedaulatan Aceh tetapi simbol Kekhususan Aceh.

“Kita semua sudah sepakat dengan lahirnya MoU Helsinky bahwa Aceh dalam bingkai NKRI. Dulu kita sudah sepakat disitu, tidak ada lagi kilafiah dan tidak ada lagi pemberontakan yang ada ialah baikan yang sudah masuk dalam masyarakat,” ucapnya.

Lanjutnya, Gerakan Aceh Merdeka (GAM) yang membangun perdamaian dalam bingkai NKRI menciptakan kedamaian, menciptakan kenyamanan dan masyarakat tetap dalam bingkai NKRI.

Qanun Aceh adalah turunan dari pada Undang-undang atau peraturan daerah yang punya kekhususan di Aceh yaitu qanun. Ketika persoalan Qanun di batalkan pasti ada mekanismenya.

Jadi, Qanun Aceh yang sudah di sepakati bersama, disahkan bersama dan di Undangkan menjadi Lembaran Daerah dan rakyat menjalankan qanun tesebut seperti menaikan bendera, itu adalah menjalan kan perintah Undang-undang. Jadi tidak Lahir kata Makar disitu,” Jelasnya.

Ketika undang-undang ini belum sah, masih dianggap ilegal. Maka undang-undang ini harus ada kepastian Hukum, apakah ini di batalkan dan bagaimana mekanisme pembatalannya.

“Ini harus ada kepastian hukum jangan sampai ada kebimbangan serta timbul konfllik di kemudian hari yang sama-sama tidak kita inginkan dan tidak mau,” kata Tiyong.

Kita berharap dengan 17 Tahun sudah perdamaian, biarlah Aceh ini damai kekal abadi. Dan kita sudah nyaman dalam bingkai NKRI tetapi  jangan sampai ada warga  yang menjalankan perintah qanun yang disepakati bersama dan di undangkan di lembaran daerah mereka adalah menjadi korban daripada Makar yang di tuduh hari ini.

Mohon maaf kepada pihak kepolisisan, kalau bisa jangan tergesa-gesa dalam hal ini. Kenapa, kami dari GAM sudah sepakat menjaga keutuhan NKRI inidan bahkan sudah sepakat suatu saat bila Negara Darurat akan menjadi sipil cadangan untuk membela negara.

Oleh karena itu, jangan kami di anggap Makar ketika kami sudah setia kepada NKRI hal-hal yang bisa didiskusi akan diskusi untuk mencari solusi yang baik agar tidak ada  kekecewaan Rakyat Aceh.

Lembaga DPRA, Pemerintah Aceh dan Pemerintah Pusat belum komit dan kosisten dengan apa yang telah kita lakukan dan kita sepakati.

“Jangan sampai hari ini kita melakukan sesuatu untuk mengorbankan Rakyat biarlah kita bekorban untuk Rakyat. Dimana ada Rakyat disitu ada kita, kita harus  mengambil peran dan tanggung jawab agar tidak ada korban dan tidak ada yang tersakiti,” ucap Tiyong.

Berharap  kepada pimpinan DPR Aceh untuk segera duduk kembali baik dari GubernurAceh, pihak Kepolisian Kapolda Aceh dan Pangdam Iskandar Muda untuk menyelesaikan sesegara mungkin agar tidak timbul kerugian aceh di kemudia hari baik dari segi sosial, ekonomi dan politik untuk kekhususan aceh.

Harapan sayan kepada kawan-kawan agar untuk sama menyelesaikan permasalahan dan kasus ini, atau perlu kita  surati melalui pimpinan DPRA ke menkopolhukam dan menyurati Presiden RI agar persoalan Bendera Aceh tuntas segera mungkin dan secepat mungkin jangan sampai Qanun ini mmenjadi bumerang bagi masa depan Aceh.[Irfan]

Ketua Fraksi PA: Jika Dianggap Makar, Kita Kibarkan Bendera Bulan Bintang di Paripurna DPRA

0
Ketua Fraksi PA DPRA Tarmizi. (foto: Irfan/Nukilan.id)

Nukilan.id – Ketua Fraksi Partai Aceh Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA) Tarmizi Panyang mengatakan, jika pengibaran Bendera Bulan Bintang dianggap Makar, maka pada malam ini dalam sidang paripurna pengesahan Qanun kita Kibarkan bendera Bulan Bintang sebanyak 81 lembar, dan masing-masing anggota DPRA memegangnya.

Itu disampaikan Ketua Fraksi Tarmizi Panyang saat mengintruksi didalam sidang peripurna pembahasan Rancangan Qanun Aceh Pogram Legislasi Aceh Tahun 2021 di Aula utama Gedung DPR Aceh senin Malam (27/12/2021).

“Malam ini kita kibarkan Bendera Bulan Bintang di sidang Paripurna, jika itu di anggap Makar, dan Meminta semua Anggota DPR Aceh memegang bendera Bulan Bintang, kalau mau ditangkap ya ditangkap semua Anggota DPR Aceh,” kata Tarmizi.

Tarmizi juga Meminta ketua DPR Aceh Dahlan Jamaluddin agar segera mungkin menyelesaikan Permasalahan Qanun Tentang Bendera Bulan Bintang ini.

“Tentang pemanggilan beberapa Anggota Masyarakat yang mengibarkan bendera bulan bintang di anggap makar, sebenarnya ini sudah mejadi bendera Aceh bukan bendera sepihak atau bendera GAM, jadi qanun yang sudah di rencanakan sejak dulu harus diselesaikan dan disahkan malam ini,” katanya.

Untuk itu–Tarmizi menyampaikan harus dituntaskan dengan pemerintah Aceh tentang qanun bendera Bulan Bintang, apakah masih dianggap sah atau tidak qanun bendera ini,” ujarnya.

Menurut Tarmizi Soal Qanun bendera Ini menyangkut tentang Aceh, dan Bendera Aceh bukan hanya bendera GAM saja.

“Cari solusi pak ketua untuk menyelesaikan qanun Bendera Bulan Bintang, dan Qanun bendera ini harus selesai serta harus tuntas dan jangan sampai jadi bumerang bagi orang Aceh semua,” ujar Tarmizi. []

Reporter: Irfan

Soal Qanun Bendera, Nek Tu: Jangan Sampai DPRA yang Menipu Rakyat

0
Anggota Fraksi PKB PDA Ridwan Abubakar, MM alias Nek Tu. (Nukilan.id)

 

Nukilan.id – Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA), Ridwan Abubakar meminta Ketua DPRA, Dahlan Jamaluddin untuk segera menyelesaikan perkara Qanun Aceh nomor 3 tahun 2013 tentang bendera dan lambang Aceh.

“Tentang permasalahan bendera Aceh yang sudah disahkan DPRA menjadi qanun ini harus selesai, jangan sampai DPRA sendiri yang menipu rakyat,” kata Ridwan Abubakar yang akrab disapa Nek Tu ini dalam rapat paripurna pengesahan Qanun Prolega tahun 2021 di Aula Utama DPRA, Banda Aceh, Senin (27/12/2021).

Menurut Politisi Partai Darul Aceh (PDA) ini, apabila masyarakat ditangkap dengan dalih menaikkan bendera bulan bintang, maka yang salah adalah DPRA, dan 81 anggota DPRA harus bertanggungjawab.

“Jadi, kalau satu Qanun aja tidak selesai, bagaimana kita mengambil kesimpulan untuk masyarakat,” tegas Nek Tu.

Selain itu, dia juga menyebutkan, bahwa dalam MoU Helsingki aturannya sudah jelas, bahwa bendera dan Hymne Aceh adalah suatu hal yang bisa dibuat sendiri.

“Tapi, masalahnya hari ini bendera yang sudah disahkan itu sekarang tidak sah,” ungkap Nek Tu.

Oleh karena itu, Nek Tu berharap masalah bendera harus segera diselesaikan, karena sudah menimbulkan keresahan di masyarakat tentang status bendera ini.
“DPRA, Pemerintah Aceh dan Pemerintah Pusat harus menyelesaikan perkara ini. Kalau ini tidak selesai ini akan terjadi keributan kedepan,” tutupnya.

Reporter: Hadiansyah

Dorongan Qanun Bendera Mencuat di DPRA, Rizal Falevi: Harus Selesai Malam Ini

0
Anggota DPRA Fraksi PNA dan juga Ketua Komisi V DPRA, M Rizal Fahlevi Kirani. (Foto: Ist).

Nukilan.id – Politisi Partai Nasional Aceh (PNA) M. Rizal Falevi Kirani mengatakan, soal bendera sudah sangat mencuat ke publik, dan kalau berbicara regulasi kita, karena qanun itu lahirnya dari DPRA maka DPRA harus menyelesaikannya di saat rakyat menjerit dengan berbagai makar yang dituduhkan.

Hal itu disampaikan Rizal Falevi pada rapat paripurna pengesahan qanun prolega 2021 di Aulau Utama DPRA, Banda Aceh, Senin (27/12/2021)senin (27/12/2021).

“Begitu kita dengar kata makar maka banyangan kita itu seperti darurat militer, flas back ke belakang langsung tergambar,” kata Rizal Falevi.

Untuk itu, menurut Reza–soal Qanun bendera harus dituntaskan, paling tidak apa sudah di sampaikan oleh teman-teman DPRA agar segera membahas bagaimana formulasinya untuk menyikapi Qanun bendera.

Reza Falevi menyampaikan itu setelah Ketua Komisi I Tengku Yunus memberi instruksi kepada Ketua DPRA selaku pemimpin sidang, usai penyampaian pandangan Komisi 1 DPRA dan meminta Agar Qanun Bulan Bintang harus diselesaikan.

Pernyataan Teungku Yunus kemudian gayung bersambut, pendapat soal qanun bendera harus tuntas datang dari armizi Panyan, Samsul Bahri dan Reza fahlevi. Mereka meminta Qanun masalah bendera bulan Bintang harus diselesaikan malam ini, sehingga nantinya masyarakat yang menaikan bendera bulan bintang tidak di bilang makar.

“Kalau masalah Qanun Bendera bulan Bintang tidak selesai, maka kita tunda dulu persoalan pembahasan Qanun yang lain,” demikian kata Rizal Falevi.

Hingga berita ini di tayang seluruh komisi sedang melakukan rapat dengan ketua DPRA.[]

Reporter: Hadiansyah

PAKAR: Target Indra Iskandar Jadi Pj Gubernur Aceh Tidak Etis

0
Kandidat Pj Gubernur Aceh, Dr. Drs. Indra Iskandar, M.Si. (Foto: dok. ist)

Nukilan.id – Beberapa hari lalu, Sekretaris Jenderal Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR-RI), Indra Iskandar melakukan kunjungan kerja ke Provinsi Aceh.

Diketahui, kunjungan ke Aceh dinilai publik Aceh dalam rangka melakukan konsolidasi dan pertemuan dengan tokoh masyarakat mulai dari Kota Banda Aceh, Kabupaten Pidie hingga ke Takengon, Kabupaten Aceh Tengah, serta menghadiri acara peringatan 17 tahun tsunami Aceh dan sejumlah agenda lainya.

Menanggapi hal itu, Pusat Kajian Advokasi Rakyat (PAKAR) Aceh, Muhammad Khaidir, SH mengatakan, melakukan konsolidasi dan pertemuan dengan tokoh masyarakat itu bukanlah kewenangan Sekretariat DPR-RI melainkan kewenangan anggota DPR-RI.

“Pejabat pemerintah tidak boleh melakukan konsolidasi. Seharusnya peran Sekretariat Jenderal DPR-RI mempersiapkan agenda kunjungan kerja anggota DPR, mengelola anggaran DPR-RI yang tepat guna dan pro rakyat, mengatur jadwal reses dan kunjungan anggota DPR-RI, itu yang selayaknya peran Sekretariat,” ungkap Mantan Aktivis Aceh itu dalam keterangan tertulisnya yang diterima HARIANACEH.co.id pada Senin (27/12/2021).

Selain itu, Muhammad Khaidir mintakan pejabat yang mengelola anggaran seluruh anggota DPR-RI ataupun setingkat Sekjen DPR-RI tidak melakukan pertemuan ke daerah. Itu merupakan peran anggota DPR-RI dalam menampung aspirasi masyarakat.

“Sehingga kita menilai, bahwa kunjungan Sekretaris DPR-RI itu terkesan melakukan konsoslidasi di luar kewenangannya dengan maksud tertentu, karena kita tahu tidak lama lagi akan berkakhir masa pemerintahan Gubernur definitif, dan ada penunjukkan Pj Gubernur Aceh kedepan,” ujarnya.

Menurut Khaidir, peran sekretaris jenderal mendukung kelancaran pelaksanan wewenang dan tugas DPR RI baik di bidang administrasi, persidangan, dan keahlian.

“Bukan melakukan kunjungan ke daerah untuk melakukan konsolidasi, jadi kunjungan tersebut terkesan untuk persiapan Pj Gubernur Aceh,” tuturnya.

Seperti diketahui, kata Khaidir, bahwa kewenangan Penetapan PJ Gubernur adalah kewenangan Menteri Dalam Negeri (Mendagri), dan kemudian Mendagri mengusulkan kepada Presiden.

“Jadi, pejabat setingkat Sekjen DPR-RI melakukan konsolidasi, mengunjugi daerah-daerah itukan kesannya menggurui Mendagri atau bahasa lainnya mengatur dan mengarahkan penempatan PJ nantinya,” tegasnya.

Untuk itu, Khaidri mintakan kepada Presiden untuk tidak memberikan kewenangan Pejabat Administrasi setingkat Sekretariat DPR-RI untuk tidak melakukan konsolidasi atau pertemuan baik dengan tokoh masyarakat atau pejabat di daerah.

“Karena tugas Sekjen DPR-RI itu merupakan pelayanan Administrasi anggota DPR-RI, karena untuk berkunjug ke daerah daerah dan menampung aspirasi masyarakat itu sudah ada tugas angora DPR,” pungkasnya. [HRA]

Kisah Reza Fahlevi, Anak Korban Tsunami yang Kini Jadi Guru Dayah Darul Ihsan Aceh Besar

0
Reza Fahlevi, S.Pd.I. (Foto: Dok. Ist)

Nukilan.id – Gelombang Tsunami yang meluluhlantakkan sebagian wilayah pesisir Aceh pada 26 Desember 2004 (17 tahun silam), menyisakan luka mendalam bagi masyarakat Aceh.

Gempa berkekuatan 9,1 Magnitudo terjadi hanya dalam waktu 30 menit, kemudian disusul dengan gelombang Tsunami dengan ketinggian hingga 30 meter dan kecepatan mencapai 100 meter per detik atau 360 kilometer per jam. Akibatnya, lebih dari 120 ribu orang meninggal dunia dalam bencana dahsyat tersebut.

Saat itu, masyarakat Aceh merasakan kepedihan yang mendalam akibat kehilangan keluarga, kerabat, tetangga dan orang-orang terdekat.

Seperti halnya, Reza Fahlevi, S.Pd.I, warga Gampong Lambada Lhok, Kecamatan Baitussalam, Kabupaten Aceh Besar. Di umur 9 tahun dirinya sudah kehilangan kedua orang tua, adik-adik dan kakak kandungnya.

“Saat kejadian saya sedang berada di Lambada Lhok,  waktu itu saya masih berumur 9 tahun. Saat mengetahui air laut naik, saya langsung dibawa lari oleh Paman dengan menggunakan sepeda, saya berdiri di belakang sepeda Paman. Ketika saya menoleh ke belakang terlihat ombak laut begitu besar dan hitam dengan suara gemuruh ombak yang menggelegar. Kemudian Paman saya mengayuh sepeda dengan cepat terburu-buru dan panik, sehingga betis kaki saya sampai terluka akibat gesekan ban sepeda. Paman terus mengayuh sepednya dengan cepat dari Lambada Lhok ke arah Gampong Cot Paya menuju ke Gampong Gle Inim,” ungkap Reza mecnceritakan kisahnya.

“Dalam kejadian itu, kedua orang tua saya, kakak, dan dua adik saya mereka meninggal semua dibawa gelombang tsunami. Akhirnya, tinggal saya sendiri,” sambungnya.

Oleh sebab itu, kata Reza, sampai sekarang saya masih sangat trauma dan sedih ketika mengingat kejadian tersebut, meskipun sudah 17 tahun berlalu, namun kesedihan dan trauma masih terasa.

“Bahkan ketika goyangan tempat tidur pun terasa seolah-olah seperti gempa,” katanya.

Kendati demikian, Reza Fahlevi tidak patah semangat, pada tahun 2018 dirinya sukses menyelesaikan kuliah dan meraih gelar sarjana dari Fakultas Tarbiyah Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry. Dan saat ini dia menjadi Tenaga Pendidik/Guru di Dayah Darul Ihsan Tgk. H. Hasan Krueng Kalee, Desa SIM, Kecamatan Darussalam, Aceh Besar.

Menurutnya, menjadi anak korban tsunami itu tidak mudah, apalagi yang tidak ada lagi keluarga ataupun kedua orang tua yang membimbing mereka, pasti akan terjerumus kepada hal-hal yang negatif.

“Kalau saya dulu tidak mendapatkan bimbingan dari keluarga pasti saya akan terjerumus kepada hal-hal yang negatif. Karena hari ini saya lihat ada sebagian anak korban tsunami yang tidak bekerja, dan juga yang memakai narkoba,  hal ini terjadi karena mereka tidak ada perhatian khusus dari keluarga, dan juga akibat tidak ada yang mengontrol kehidupan mereka setelah kehilangan kedua orang tuanya saat tsunami,” tutur Reza.

“Dan saya sendiri juga pernah didatangi Ibu di dalam mimpi saya, Ibu bilang bahwa dirinya masih hidup sampai sekarang. Namun hal itu saya kembalikan semua kepada Allah SWT, karena hanya Allah yang tahu, pasti suatu saat Allah akan mempertemukan saya dengan orangtua, dan saya kan terus berusaha mencarinya,” ucap Reza.

Oleh karena itu, Reza berharap kepada seluruh anak tsunami Aceh jangan pernah putus asa, teruslah berjuang dan semangat dalam meraih cita-cita untuk masa depan yang lebih baik.

“Walaupun kita hidup tanpa keluarga dan saudara yang telah duluan meninggalkan kita, namun saya yakin kita mampu bangkit untuk menunjukkan kepada dunia kalau kita tidak pernah putus asa,” tutup Reza.

Sementara itu, Reza menyampaikan, dalam memperingati hari Tsunami Aceh yang jatuh pada 26 Desember setiap tahunnya itu, dirinya bersama masyarakat Gampong Lambada Lhok rutin melaksanakan ziarah ke kuburan masal di Gampong Labuy.

“Kegiatan ziarah kubur ini kita mulai dari jam 9.00 WIB pagi dengan doa bersama, baca yasin dan mendengar ceramah. Dan itu rutin kami lakukan setiap tahunnya,” pungkas Reza. []

Reporter: Hadiansyah

Tiga Rancangan Qanun Pemerintah Aceh Tersangkut di Kemendagri

0
Asisten I Pemerintahan Aceh, M jakfar (Foto: Irfan/Nukilan)

Nukilan.id – Pemerintah Aceh menyampaikan tiga Rancangan Qanun Aceh yang saat ini masih dalam proses Fasilitasi Kementerian Dalam Negeri, sehingga tidak dapat dibahas.

Hal itu disampaikan Asisten I M jakfar pada masa persidangan Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA) Tahun 2021, di Aula utama Gedung DPR Aceh Banda Aceh Senin, (27/12/2021).

“Tiga Rancangan Qanun Aceh Prakarsa Pemerintah Aceh tersebut yang akan dibahas pada masa persidangan ini, masih dalam proses fasilitasi di Kementerian Dalam Negeri,” kata Jakfar.

Jakfar menjelaskan, ke tiga Rancangan Qanun Aceh ini merupakan Rancangan Qanun katagori Fasilitasi, sehingga wajib mendapat hasil Fasilitasi oleh Kementerian Dalam Negeri sebagai bentuk pembinaan oleh Pemerintah Pusat.

Adapun ke 3 rancangan qanun tersebut ialah, 1) Rancangan Qanun Aceh tentang Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan. 2) Rancangan Qanun Aceh tentang Rencana Induk Pembangunan Kepariwisataan Aceh Tahun  2022-2037. 3) Rancangan Qanun Aceh tentang Pertanahan.

Menurutnya, Fasilitasi merupakan pembinaan secara tertulis Produk Hukum Daerah berbentuk peraturan terhadap materi muatan dan teknik penyusunan rancangan sebelum ditetapkan agar Produk Hukum Daerah tidak bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi, kepentingan umum dan kesusilaan.

Berdasarkan ketentuan Pasal 88 Permendagri 80 Tahun 2015 juntco Permendagri 120 Tahun 2018 tentang Pembentukan Produk Hukum Daerah, terhadap produk hukum daerah berbentuk peraturan wajib dilakukan fasilitasi oleh Menteri Dalam Negeri.

Oleh karena itu, terhadap ke 3 (tiga) Rancangan Qanun Aceh ini telah disampaikan permohonan fasilitasi ke Kementerian Dalam Negeri masing-masing melalui surat Sekretaris Daerah atas nama Gubernur Aceh.

Berkenaan dengan Rancangan Qanun Aceh tentang Pertanahan, berdasarkan hasil rapat koordinasi di Kementerian Dalam Negeri pada hari Jumat tanggal 24 Desember 2021, yang dihadiri unsur Kementerian Dalam Negeri, Kementerian ATR/BPN, Ketua DPRA, Ketua dan anggota Komisi I DPR Aceh, Kepala Dinas Pertanahan Aceh dan jajarannya,

Perwakilan Biro Hukum Setda Aceh, serta Tenaga Ahli, disepakati bahwa masih terdapat beberapa substansi Rancangan Qanun Aceh yang perlu dikoordinasikan dan dibahas kembali antara Kementerian Dalam Negeri, Kementerian ATR/BPN, dan Pemerintahan Aceh, yang Insya Allah akan dimulai pembahasannya pada minggu kedua bulan Januari tahun 2022, dan akan dikoordinir oleh Direktorat Penataan Daerah, Otsus dan DPOD Direktorat Jenderal Otonomi Daerah Kemendari.

Berdasarkan kesepakatan tersebut, terhadap Rancangan Qanun Aceh tentang Pertanahan belum dapat kita lakukan pembahasan selanjutnya untuk persetujuan bersama antara DPR Aceh dan Gubernur Aceh,” tuturnya.[Irfan]