Beranda blog Halaman 185

Siswi Madrasah Aceh Besar Tembus Grand Final OMI Riset 2025 Nasional

0
Siswi Madrasah Aceh Besar Tembus Grand Final OMI Riset 2025 Nasional. (Foto: Humas Kankemenag Aceh Besar)

NUKILANID | JANTHO – Dua tim riset dari madrasah di Kabupaten Aceh Besar berhasil menorehkan prestasi membanggakan di kancah nasional. Mereka lolos ke babak grand final Olimpiade Madrasah Indonesia (OMI) Riset 2025 setelah menyingkirkan lebih dari 9.000 proposal riset dari seluruh Indonesia.

Kedua karya ilmiah itu berasal dari MAN 3 Aceh Besar dan Dayah Insan Qurani Aceh Besar, yang akan mewakili Provinsi Aceh pada grand final di Hotel Grand El Hajj, Banten, pada 11 November 2025 mendatang.

Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Aceh Besar, H. Saifuddin, S.E., menyampaikan rasa syukur dan bangga atas capaian tersebut.

“Ini adalah bukti bahwa madrasah mampu bersaing di tingkat nasional dengan ide-ide riset yang kreatif, kontekstual, dan berakar pada nilai-nilai keislaman,” ujar Saifuddin di Aceh Besar, Kamis (6/11/2025).

Riset pertama disusun oleh Andis Febrina dari MAN 3 Aceh Besar dengan judul “Ekoteologi dan Maqashid al-Syari’ah: Studi Kasus Gerakan Mpu Uteun dalam Konservasi Hutan di Aceh.”
Sementara itu, riset kedua merupakan hasil kolaborasi tiga siswi Dayah Insan Qurani Aceh Besar — Afra Althafunnaja, Syahira Aleta Rasha, dan Maryam Thahara Meutuah — berjudul “Akulturasi Kuliner Halal Etnis Tionghoa di Banda Aceh.”

Kedua penelitian ini masuk dalam kelompok tema Integrasi Keislaman dan Keilmuan (Ekotekologi), bidang yang memadukan nilai-nilai Islam dengan sains modern, terutama dalam pelestarian lingkungan dan kearifan budaya.

Menurut Saifuddin, yang akrab disapa Yahwa, keberhasilan tersebut tidak terlepas dari kerja keras siswa, bimbingan para guru, serta dukungan seluruh keluarga besar madrasah.

“Prestasi ini lahir dari semangat belajar, kerja keras, dan dedikasi. Semoga capaian ini menjadi inspirasi bagi seluruh siswa madrasah di Aceh Besar untuk terus berinovasi dan mengukir prestasi,” katanya.

Yahwa juga memberikan dorongan kepada para pelajar madrasah agar tidak ragu untuk menekuni dunia riset. Ia menegaskan bahwa penelitian bukan hanya milik ilmuwan besar, melainkan juga bisa lahir dari ruang-ruang madrasah.

“Jadikan keberhasilan ini sebagai pemicu semangat untuk terus meneliti, berkarya, dan membawa nama baik Aceh Besar di kancah nasional,” ujarnya.

Sebagai informasi, OMI Riset merupakan ajang kompetisi resmi yang digelar Kementerian Agama RI, dengan tujuan menumbuhkan budaya riset di kalangan siswa madrasah.

Capaian dua tim dari MAN 3 dan Dayah Insan Qurani ini tidak hanya mengharumkan nama Aceh Besar, tetapi juga menjadi inspirasi bagi madrasah lain di Tanah Rencong untuk terus melahirkan generasi peneliti muda yang berdaya saing.

Bobby Nasution Bagikan Foto Momen Ngobrol dengan Mualem di Acara Gerindra

0
Bobby Nasution unggah foto mengobrol dengan Mualem (FOTO: Dok. Instagram Bobby Nasution)

NUKILAN.ID | JAKARTA – Gubernur Sumatera Utara, Bobby Nasution, membagikan sejumlah foto di media sosial yang memperlihatkan dirinya berbincang dengan Gubernur Aceh, Muzakir Manaf atau Mualem, saat menghadiri acara Partai Gerindra bersama Presiden Prabowo Subianto.

Amatan Nukilan.id dalam unggahan yang terlihat pada Sabtu (8/11/2025), Bobby menampilkan beberapa momen, mulai dari berjabat tangan dengan Prabowo hingga duduk berbincang dengan Mualem.

Keduanya tampak berada di Padepokan Garudayaksa, Hambalang, Kabupaten Bogor, tempat kegiatan tersebut berlangsung. Di antara mereka, hadir pula Wakil Gubernur Aceh, Fadhlullah alias Dek Fad, yang duduk di kursi tengah.

Bobby menuliskan pesan panjang mengenai pentingnya konsolidasi kader Gerindra melalui kegiatan yang dipimpin langsung oleh Prabowo.

“Konsolidasi dan kebersamaan antar kader menjadi kunci penting dalam menjaga semangat perjuangan Partai Gerindra. Melalui kegiatan Taklimat Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra yang dipimpin langsung oleh Bapak Prabowo Subianto di Padepokan Garudayaksa, Hambalang, Kabupaten Bogor, seluruh kader kembali diingatkan akan nilai-nilai dasar perjuangan melalui kerja nyata, disiplin, dan pengabdian untuk bangsa,” tulis Bobby.

Ia melanjutkan bahwa acara tersebut tidak hanya menjadi ajang silaturahmi, tetapi juga penguatan arah perjuangan partai.

“Pertemuan ini bukan sekadar ajang silaturahmi, tetapi juga menjadi momentum untuk memperkuat arah perjuangan agar tetap sejalan dengan cita-cita besar @gerindra untuk mewujudkan Indonesia yang adil, makmur, dan berdaulat,” imbuhnya.

Pertemuan ini menjadi yang kedua antara Bobby dan Mualem setelah polemik pelat kendaraan beberapa waktu lalu. Keduanya sebelumnya juga sempat bertemu pada Selasa (7/10) di sebuah restoran di Jakarta. (XRQ)

Reporter: Akil

Menakar Program Makan Siang Gratis dalam Perspektif Ontologis, Epitemologis dan Aksiologis

0
Rahmat Raji, S.Pd, Mahasiswa Magister Pendidikan Bahasa Arab, Universitas Islam Negeri Ar-Raniry. (Foto: Dok. Pribadi)

NUKILAN.ID | OPINI – Program Makan Siang Gratis (MBG) menjadi salah satu kebijakan publik yang paling ramai dibicarakan dalam beberapa waktu terakhir. Program ini dirancang untuk memastikan anak-anak sekolah mendapatkan asupan gizi yang cukup agar dapat tumbuh sehat dan belajar dengan optimal.

Di satu sisi, MBG dipandang sebagai langkah nyata negara dalam memperkuat kesejahteraan masyarakat, terutama di sektor pendidikan dan kesehatan anak. Namun di sisi lain, muncul perdebatan soal kesiapan negara dari aspek anggaran dan pelaksanaannya di lapangan.

Tulisan ini mencoba melihat program MBG melalui tiga sudut pandang filsafat ilmu — ontologis, epistemologis, dan aksiologis — guna memahami hakikat, dasar pengetahuan, serta nilai di balik kebijakan tersebut.

Analisis Ontologis (Hakikat Program)

Secara ontologis, MBG adalah sebuah kebijakan pemerintah yang berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan dasar manusia, yaitu makanan. Program ini berhubungan dengan usaha negara untuk membantu kesehatan dan perkembangan anak sejak dini. Jadi, hakikat MBG bukan hanya memberi makan, tetapi menunjukkan bahwa negara hadir untuk membantu warganya agar dapat tumbuh dengan baik dan berkualitas.

Analisis Epistemologis (Dasar Pengetahuan dan Perencanaan)

Secara epistemologis, kebijakan MBG harus disusun berdasarkan pengetahuan dan data yang jelas. Pemerintah perlu mengetahui Seberapa besar masalah gizi anak saat ini, apakah anggaran negara cukup untuk menjalankan program secara terus-menerus? Bagaimana cara mendistribusikan makanan dengan baik dan merata? Apa saja tantangan pelaksanaan di sekolah-sekolah?

Jika program dibuat hanya berdasarkan keinginan politik tanpa mempertimbangkan data dan kemampuan, maka program ini bisa sulit dijalankan atau justru membebani anggaran. Karena itu, MBG memerlukan kajian ilmiah dan perencanaan yang matang.

Analisis Aksiologis (Nilai dan Manfaat)

Secara aksiologis, MBG mengandung nilai kemanusiaan dan keadilan sosial. Program ini membantu anak-anak untuk mendapatkan gizi yang cukup, meningkatkan konsentrasi belajar, dan mengurangi beban ekonomi keluarga.

Manfaat yang mungkin muncul anak lebih sehat dan aktif belajar, ketimpangan sosial antar siswa dapat berkurang, keluarga kurang mampu merasa lebih terbantu. Namun, nilai baik ini hanya bisa tercapai jika pelaksanaannya jujur dan teratur.

Jika tidak dikelola dengan baik, dapat muncul pemborosan anggaran, penyalahgunaan dana, ketidakseimbangan pembagian makanan antar daerah. Karena itu, pengawasan dan keterbukaan sangat penting.

Kesimpulan

Secara filosofis, Program Makan Siang Gratis memiliki pondasi yang kuat: secara ontologis berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan dasar manusia, secara epistemologis memerlukan dasar data dan perencanaan yang jelas, dan secara aksiologis membawa nilai kemanusiaan, keadilan, serta kepedulian sosial.

Agar program ini tidak sekadar menjadi janji politik, pemerintah perlu memastikan perencanaan yang matang, penggunaan anggaran yang tepat sasaran, serta pengawasan ketat di setiap tahap pelaksanaannya.

Jika dikelola dengan baik, MBG bukan hanya sekadar program makan siang, melainkan investasi sosial jangka panjang bagi masa depan generasi bangsa.

Penulis: Rahmat Raji, S.Pd  (Mahasiswa Magister Pendidikan Bahasa Arab, Universitas Islam Negeri Ar-Raniry)

Calon Pengantin di Kluet Utara Antusias Ikuti Bimbingan Perkawinan, Siap Wujudkan Keluarga Sakinah

0
Calon Pengantin di Kluet Utara Antusias Ikuti Bimbingan Perkawinan. (Foto: For Nukilan)

NUKILAN.ID | TAPAKTUAN — Sebanyak 13 pasangan calon pengantin (catin) dari berbagai gampong di Kecamatan Kluet Utara mengikuti kegiatan Bimbingan Perkawinan (Bimwin) yang digelar oleh Kantor Urusan Agama (KUA) setempat pada Kamis (6/11/2025).

Kegiatan yang berlangsung di Aula KUA Kluet Utara itu menjadi wadah pembekalan penting bagi pasangan calon suami istri sebelum melangkah ke jenjang pernikahan. Mereka dibekali pengetahuan seputar komunikasi dalam rumah tangga, pengelolaan ekonomi keluarga, hingga kesiapan mental dan spiritual agar mampu mewujudkan keluarga yang harmonis.

Kepala KUA Kluet Utara, Donni, S.Ag, kepada NUKILAN.ID mengatakan bahwa Bimwin merupakan program unggulan Kementerian Agama yang bertujuan menyiapkan pasangan calon pengantin agar mampu membangun rumah tangga yang sakinah, mawaddah, dan warahmah.

“Kami berharap, melalui kegiatan ini para calon pengantin dapat memahami hak dan kewajiban masing-masing serta mampu menyikapi perbedaan dengan bijak dalam rumah tangga,” ujar Donni.

Selama kegiatan berlangsung, para peserta mendapat pembekalan dari sejumlah narasumber berkompeten di bidangnya. Donni, S.Ag, menyampaikan materi bertema “Memenuhi Kebutuhan Rumah Tangga” dengan menekankan pentingnya kerja sama dan komunikasi yang baik antara suami dan istri sebagai pondasi keharmonisan.

Sementara itu, Nova Jayanti, S.Tr.Kep, seorang praktisi kesehatan, membawakan materi “Menjaga Kesehatan Reproduksi” yang menyoroti pentingnya menjaga kesehatan fisik dan mental sebelum maupun setelah menikah.

Tak kalah menarik, Hj. Rosmanidar, S.H, dari Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), menyampaikan materi “Mempersiapkan Generasi Berkualitas”. Ia menekankan pentingnya perencanaan keluarga serta pola asuh yang tepat demi melahirkan generasi penerus yang sehat dan berkarakter.

Kegiatan yang dikemas secara interaktif itu berlangsung hangat. Para peserta terlihat antusias berdiskusi dan aktif bertanya sepanjang sesi berlangsung hingga acara ditutup dengan doa bersama.

Sebagai penutup, seluruh peserta menerima sertifikat sebagai tanda telah mengikuti program Bimwin.

“Semoga setelah mengikuti Bimwin ini, para calon pengantin lebih siap lahir batin dalam membangun keluarga yang harmonis dan berdaya tahan,” pungkas Donni. (XRQ)

Reporter: AKIL

Kepala BPKA Sambut Kedatangan Perwakilan KPK RI untuk Penyerahan Aset Rampasan Negara

0
Kepala Badan Pengelolaan Keuangan Aceh (BPKA), Reza Saputra, S.STP., M.Si., mendamping Gubernur Aceh, Muzakkir Manaf., menyambut kedatangan Perwakilan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) RI dalam rangka Penyerahan Barang Rampasan Negara dari KPK RI kepada Pemerintah Aceh. (FOTO: BPKA)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Kepala Badan Pengelolaan Keuangan Aceh (BPKA), Reza Saputra, S.STP., M.Si., mendampingi Gubernur Aceh, Muzakkir Manaf, dalam penyambutan Perwakilan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) RI pada kegiatan penyerahan barang rampasan negara serta sosialisasi terkait tindak pidana korupsi dan pemulihan aset.

Acara tersebut berlangsung di Gedung Serbaguna Kantor Gubernur Aceh dan dihadiri sejumlah kepala SKPA, perwakilan instansi vertikal, unsur pimpinan DPR Aceh, serta tamu undangan lainnya.

Dalam kegiatan ini, KPK melalui Direktorat Pelacakan Aset, Pengelolaan Barang Bukti, dan Eksekusi (Labuksi) menyerahkan dua aset hasil rampasan tindak pidana korupsi senilai sekitar Rp3,8 miliar kepada Pemerintah Aceh dan Pemerintah Kabupaten Pasuruan.

Penyerahan dilakukan melalui mekanisme Penetapan Status Penggunaan (PSP) sesuai Perkom Nomor 7 Tahun 2020, sebagai bagian dari upaya berkelanjutan KPK untuk mengembalikan aset hasil kejahatan kepada negara.

Direktur Labuksi KPK, Mungki Hadipratikto, dalam kesempatan tersebut menegaskan pentingnya proses pemulihan aset sebagai bagian integral dari pemberantasan korupsi.

“Pemulihan aset negara tidak berhenti pada penindakan. Prosesnya dimulai dari pelacakan harta kekayaan hasil tindak pidana korupsi hingga pemanfaatannya kembali untuk kepentingan masyarakat,” ujarnya saat penyerahan simbolis di Gedung Kantor Gubernur Aceh, Kamis (6/11).

Adapun rincian aset yang diserahkan, Pemerintah Aceh menerima tanah seluas 8.199 meter persegi di Kabupaten Aceh Barat dengan nilai sebesar Rp2,43 miliar. Sementara itu, Pemerintah Kabupaten Pasuruan memperoleh tanah seluas 299 meter persegi di Kecamatan Prigen senilai Rp1,37 miliar.

Penyerahan aset ini diharapkan memperkuat upaya transparansi dan akuntabilitas dalam pengelolaan kekayaan negara serta mendorong pemanfaatan aset untuk kepentingan publik.

KPK Serahkan Barang Rampasan Negara kepada Pemerintah Aceh

0
KPK Serahkan Barang Rampasan Negara kepada Pemerintah Aceh. (Foto: BKPA)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH — Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Republik Indonesia menyerahkan sejumlah barang rampasan negara kepada Pemerintah Aceh. Penyerahan tersebut berlangsung dalam acara resmi yang dipimpin langsung oleh Gubernur Aceh, Muzakkir Manaf, di Gedung Serbaguna Kantor Gubernur Aceh, Banda Aceh.

Kegiatan ini turut dirangkaikan dengan sosialisasi tentang tindak pidana korupsi dan pemulihan aset, yang diikuti oleh seluruh Kepala Satuan Kerja Perangkat Aceh (SKPA).

Kepala Badan Pengelolaan Keuangan Aceh (BPKA), Reza Saputra, S.STP., M.Si., hadir dalam kegiatan tersebut mewakili Pemerintah Aceh. Ia menyampaikan bahwa kegiatan ini menjadi momentum penting dalam memperkuat sinergi antara Pemerintah Aceh dan KPK dalam upaya pencegahan serta penegakan hukum terhadap tindak pidana korupsi.

Acara penyerahan barang rampasan negara ini menandai komitmen bersama dalam mendukung tata kelola pemerintahan yang bersih, transparan, dan akuntabel. Selain itu, sosialisasi yang dilakukan oleh KPK diharapkan dapat meningkatkan pemahaman pejabat daerah terhadap mekanisme pemulihan aset serta langkah-langkah pencegahan korupsi di lingkungan pemerintahan.

Kegiatan berlangsung dengan khidmat dan diakhiri dengan sesi foto bersama antara Gubernur Aceh, perwakilan KPK RI, dan seluruh kepala SKPA yang hadir.

Bireuen Sabet 7 Penghargaan di Ajang Apresiasi GTK Aceh 2025, Dua Guru Melaju ke Tingkat Nasional

0
Bireuen Dominasi Ajang Apresiasi GTK Aceh 2025. (Foto: Disdikbud Bireuen)

NUKILAN.ID | BIREUEN – Kabupaten Bireuen kembali menunjukkan kiprahnya di dunia pendidikan Aceh. Dalam ajang Apresiasi Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Aceh Tahun 2025, para pendidik asal “Kota Juang” tampil gemilang dengan menyabet tujuh penghargaan dari delapan kategori yang diikuti. Bahkan, dua di antaranya berhasil melangkah ke tingkat nasional.

Kompetisi bergengsi yang digelar Balai Guru dan Tenaga Kependidikan (BGTK) Aceh ini berlangsung pada 2–5 November 2025 di Hotel Permata Hati, Banda Aceh, dan diikuti perwakilan guru serta tenaga kependidikan dari seluruh kabupaten/kota di Aceh. Malam puncak penganugerahan dilaksanakan di Hotel The Pade, Selasa malam (4/11/2025).

Dalam ajang yang bertujuan memberikan apresiasi atas dedikasi dan inovasi para pendidik tersebut, kontingen Bireuen tampil luar biasa. Berikut para penerima penghargaan dari Bireuen:

  • Lidiana, Juara I kategori Dedikatif Kepala SD

  • Nailil Husna, Juara I kategori Pelopor Komunitas Belajar (Kombel) Guru SD/SMP

  • Sella Sandirlila, Juara II kategori Transformatif Guru SD

  • Putri Mizanna, Juara II kategori Dedikatif Kepala PAUD

  • Yuli Dama Yanti, Juara II kategori Transformatif Guru SMP

  • Azwani, Juara III kategori Pelopor Komunitas Belajar (Kombel) Kepala SD/SMP

  • Darmuni, Juara III kategori Dedikatif Kepala SMP

Dua peserta terbaik, Lidiana dan Nailil Husna, akan mewakili Provinsi Aceh di ajang Apresiasi GTK Nasional 2025 yang diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi pada 25 November 2025 mendatang.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Bireuen, Dr. Muslim, M.Si, melalui Widyaprada GTK Dr. Yusmadi, M.Pd, menyampaikan apresiasi dan rasa bangganya atas capaian tersebut.

“Kami sangat bangga dengan prestasi para guru dan kepala sekolah dari Bireuen. Mereka telah menunjukkan dedikasi luar biasa dalam meningkatkan mutu pendidikan, sekaligus menjadi teladan bagi GTK lainnya di Aceh,” ujar Yusmadi.

Ia menegaskan, ajang Apresiasi GTK bukan sekadar kompetisi, melainkan wadah kolaborasi, inovasi, dan inspirasi bagi seluruh tenaga pendidik di Aceh.

Salah satu penerima penghargaan, Azwani, Kepala UPTD SDN 18 Peusangan sekaligus Ketua Komunitas Belajar KKKS Peusangan, turut mengungkapkan rasa syukurnya.

“Saya sangat bersyukur bisa membawa nama Bireuen di ajang ini. Komunitas belajar adalah wadah penting bagi guru untuk saling menguatkan, berbagi praktik baik, dan tumbuh bersama,” tuturnya.

Sementara itu, Darmuni, Juara III kategori Dedikatif Kepala SMP, mempersembahkan penghargaan yang diraihnya untuk seluruh rekan kepala sekolah dan guru di Bireuen.

“Semoga semangat dedikatif ini terus menginspirasi kita semua untuk menjadikan pendidikan lebih berkualitas dan bermakna,” ujarnya.

Dengan torehan tujuh gelar juara, Kabupaten Bireuen menegaskan posisinya sebagai salah satu daerah dengan guru dan tenaga kependidikan paling inspiratif di Aceh — berdedikasi, transformatif, dan berkomitmen tinggi dalam memajukan dunia pendidikan.

Tertekan Akibat Dibully, Santri di Aceh Besar Nekat Bakar Asrama Pesantren

0
Ilustrasi Bullying (Foto: .daaruttauhiid.org)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH — Seorang santri Dayah (Pesantren) Babul Maghfirah di Kabupaten Aceh Besar, Provinsi Aceh, nekat membakar asrama tempat ia belajar. Aksi itu dilakukan pada Jumat (31/10/2025), karena pelaku mengaku tak tahan terus-menerus menjadi korban perundungan dari teman-temannya.

Api yang disulut oleh santri berinisial M (17) itu membakar gedung asrama putra hingga menjalar ke bangunan kantin dan rumah salah satu pembina yayasan pesantren tersebut.

Kapolresta Banda Aceh, Kombes Pol Joko Heri Purwono, mengatakan pihaknya telah memeriksa 10 saksi dalam kasus ini. Mereka terdiri atas tiga pengasuh dayah, lima santri, seorang penjaga, serta orangtua pelaku.

“Berdasarkan olah tempat kejadian perkara, ditemukan beberapa bukti petunjuk seperti rekaman kamera CCTV serta pakaian milik terduga pelaku yang akhirnya hasil penyelidikan mengarah kepada satu orang santri kelas 12,” ujar Joko dalam konferensi pers di Mapolresta Banda Aceh, Kamis (6/11/2025).

Dari hasil pemeriksaan, lanjut Joko, pelaku mengaku sengaja membakar gedung asrama putra dengan menggunakan korek mancis. Ia membakar kabel di lantai dua asrama hingga api dengan cepat menjalar ke seluruh bangunan.

“Hasil pemeriksaan sang anak, ia mengaku telah dengan sengaja membakar gedung asrama putra dengan menggunakan korek mancis yang dipakai untuk membakar kabel yang terdapat di lantai dua gedung asrama putra tersebut,” kata Joko.

Pelaku mengaku melakukan aksi nekat itu karena tak kuat menghadapi ejekan dan hinaan dari teman-temannya di dayah.

“Tindakan bullying yang dialami anak pelaku di antaranya sering dikatakan idiot ataupun tolol, hal tersebut menyebabkan ia merasa tertekan secara mental sehingga timbul niat untuk membakar gedung asrama, dengan tujuan agar semua barang-barang milik teman-temannya yang selama ini sering melakukan bullying terhadap dirinya agar habis terbakar,” tutur Joko.

Beruntung, peristiwa itu tidak menimbulkan korban jiwa. Namun, sejumlah bangunan di kompleks pesantren mengalami kerusakan cukup parah.

Polisi memastikan, karena pelaku masih di bawah umur, penanganan kasusnya dilakukan sesuai dengan ketentuan Sistem Peradilan Pidana Anak (SPPA).

“Selama proses penyidikan, pelaku akan ditahan dan ditempatkan di Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA) Banda Aceh,” kata Joko.

Kasus ini menjadi perhatian publik, terutama soal fenomena perundungan di lingkungan pendidikan, termasuk pesantren. Aparat kepolisian mengimbau pihak pesantren dan masyarakat untuk lebih aktif mencegah terjadinya tindakan serupa dengan memperkuat pengawasan dan pembinaan terhadap para santri.

Atlet Taekwondo Muda Sabang, Zahara Sumaya Persembahkan Perunggu untuk Aceh di Popnas 2025

0
Taekwondoin Muda Sabang, Zahara Sumaya Persembahkan Perunggu untuk Aceh di Popnas 2025. (Foto: RRI)

NUKILAN.ID | SABANG – Prestasi membanggakan kembali datang dari Kota Sabang. Zahara Sumaya, atlet taekwondo muda asal kota paling barat Indonesia itu, berhasil mempersembahkan medali perunggu untuk Aceh pada ajang Pekan Olahraga Pelajar Nasional (Popnas) 2025.

Zahara yang turun di kelas under 42 kilogram tampil konsisten sepanjang pertandingan hingga berhasil menembus podium nasional. Raihan ini menjadi catatan manis bagi kontingen Aceh sekaligus bukti kerja keras pembinaan olahraga di daerah kepulauan tersebut.

Pelatih Taekwondo Kota Sabang, Fachrizal Ambia, mengaku bangga atas pencapaian anak asuhnya itu. Ia menilai medali perunggu yang diraih Zahara bukanlah hasil instan, melainkan buah dari proses panjang yang ditempa dengan disiplin dan ketekunan.

“Bagi sebagian orang mungkin terlihat biasa, tapi bagi kami yang mendampingi dari awal, medali ini adalah simbol dari perjalanan yang tidak sederhana. Perjalanan menuju podium bukan hanya soal kemampuan teknik dan kesiapan fisik, melainkan juga tentang daya tahan mental, sosial, dan emosional,” ungkap Fachrizal, Rabu (5/11/2025).

Ia menuturkan, selama proses latihan, Zahara kerap menghadapi berbagai tantangan dan keraguan dari sekitar. Namun hal itu justru menjadi sumber motivasi bagi sang atlet muda untuk terus membuktikan kemampuan terbaiknya.

“Ia menilai, setiap keraguan dan pandangan yang meremehkan justru menjadi bahan bakar bagi semangat Zahara untuk terus berlatih dan membuktikan diri. Tegasnya, setiap tantangan yang datang membuatnya semakin tangguh. Resiliensi itu yang kini mulai berbuah.”

Lebih lanjut, Fachrizal mengungkapkan bahwa dukungan dari keluarga dan lingkungan terdekat menjadi faktor penting yang menjaga semangat Zahara tetap menyala di tengah berbagai keterbatasan.

“Support sistem dari sekitar membuatnya tetap percaya diri dan fokus pada target. Itu hal yang kadang luput dari perhatian, padahal sangat menentukan. Benar, ini belum emas. Tapi bagi kami, capaian ini adalah validasi dari proses pembinaan yang berjalan sesuai arah,” tegasnya.

Bagi dunia olahraga Sabang, capaian Zahara bukan hanya tentang medali perunggu, melainkan tentang semangat dan dedikasi seorang pelajar yang mampu menembus batas dirinya. Keberhasilannya kini menjadi inspirasi bagi generasi muda Sabang untuk berani bermimpi dan berjuang di level nasional.

Dengan langkah yang masih panjang di depan, Zahara Sumaya telah menunjukkan bahwa tekad kuat dan latihan yang konsisten mampu mengantar siapa pun menuju prestasi — bahkan dari ujung paling barat negeri.

Sekda Minta KPI Aceh Tegas Awasi Konten Digital: Banyak yang Tak Cerminkan Nilai Masyarakat Kita

0
Sekda Minta KPI Aceh Tegas Awasi Konten Digital. (Foto: Humas Aceh)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Sekretaris Daerah (Sekda) Aceh, M. Nasir, mendorong Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Aceh untuk segera menyiapkan regulasi pengawasan terhadap penyiaran dan konten media sosial di Aceh. Langkah ini menindaklanjuti amanat Qanun Aceh Nomor 2 Tahun 2024 tentang Penyiaran yang memperluas peran KPI hingga ranah media digital.

Menurut Nasir, maraknya konten negatif di media sosial menjadi tantangan serius bagi Aceh, sebab dinilai tidak sejalan dengan nilai keislaman dan budaya masyarakat setempat.

“Kawan-kawan KPI harus lebih berani dan tanggap. Tugas KPI sudah jelas, yaitu mengawasi penyiaran di internet sesuai Qanun Nomor 2 Tahun 2024. Saat ini banyak konten yang tidak mencerminkan etika dan moral masyarakat Aceh, serta syariat Islam yang berlaku di Aceh, sehingga perlu langkah nyata untuk menertibkannya,” ujar Nasir dalam rapat bersama KPI Aceh di Kantor Gubernur Aceh, Rabu (5/11/2025).

Ia menegaskan, Pasal 25 qanun tersebut mengamanatkan KPI Aceh untuk menyusun peraturan pelaksana yang berisi pedoman etika bermedia sosial serta sanksi bagi pelanggar norma.

“Qanun ini hadir untuk menjawab fenomena konten yang tidak sesuai nilai kita, seperti penggunaan bahasa kasar atau peran yang menyalahi etika. Saya harap dalam dua bulan ke depan, peraturan ini sudah bisa dirampungkan agar dapat kita bahas bersama lagi,” tambahnya.

Nasir memastikan Pemerintah Aceh akan memberi dukungan penuh terhadap langkah KPI Aceh, termasuk dalam bentuk kebijakan anggaran.

“Ketika KPI sudah menunjukkan kerja nyata, tentu pemerintah akan mendukung melalui kebijakan yang produktif,” tegasnya.

Ia berharap sinergi antara Pemerintah Aceh dan KPI dapat memperkuat upaya perlindungan generasi muda dari dampak negatif konten digital.

Sementara itu, Ketua KPI Aceh, Muhammad Reza Falevi, menyambut baik arahan tersebut. Ia menjelaskan, kewenangan KPI Aceh kini tidak hanya berlandaskan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2002 tentang Penyiaran, tetapi juga diperkuat dengan Qanun Aceh Nomor 2 Tahun 2024 yang memberikan mandat tambahan untuk mengawasi media baru, termasuk internet.

“Khusus di Aceh, kita memiliki dasar hukum yang lebih kuat. Karena itu, kami juga berharap Pemerintah Aceh dapat segera menetapkan Peraturan Gubernur tentang Penyiaran Internet sebagai turunan dari qanun ini,” ujar Reza.

Selain memperkuat pengawasan konten digital, KPI Aceh juga menyiapkan sejumlah program strategis untuk tahun 2025. Di antaranya, penyelenggaraan KPI Aceh Award bagi lembaga penyiaran dan influencer edukatif, penambahan tujuh tenaga ahli bidang penyiaran, pembentukan tim pemantau di 23 kabupaten/kota, penetapan Hari Radio Aceh setiap 20 Desember melalui Keputusan Gubernur, serta penyusunan Peraturan Gubernur tentang Penyiaran Internet.

Melalui langkah-langkah ini, KPI Aceh menargetkan terciptanya ruang digital yang sehat, edukatif, dan selaras dengan karakter serta nilai-nilai masyarakat Aceh.