Beranda blog Halaman 185

Krisis Air Bersih Masih Menghantui Warga Aceh Tamiang Usai Banjir Bandang

0
Warga Desa Banai, Kecamatan Karang Baru, Kabupaten Aceh Tamiang saat mengantre penyaluran air bersih dari Lazisnu Jatim, Jumat (27/2/2026). (Foto: Wildan suarasurabaya.net)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Belum pulihnya infrastruktur pascabanjir bandang di Kabupaten Aceh Tamiang masih menyisakan berbagai persoalan bagi masyarakat terdampak. Salah satu yang kini paling dirasakan warga adalah sulitnya memperoleh air bersih di sejumlah desa.

Dikutip dari suarasurabaya.net, krisis air bersih terjadi akibat rusaknya instalasi air dan sumur warga yang masih tercampur lumpur sisa banjir. Selain itu, peralihan menuju musim kemarau turut memperparah kondisi kekeringan di wilayah tersebut.

Di Desa Banai, Kecamatan Karang Baru, warga masih berjuang memenuhi kebutuhan air sehari-hari. Sunarti, salah seorang warga yang kini tinggal di tenda darurat, mengaku kesulitan mendapatkan air bersih sejak banjir bandang melanda.

Ia mengatakan, keluarganya hanya mengandalkan air dari sumur bor bantuan pihak swasta. Namun, sumber air tersebut kini mulai mengering.

“Air bersih susah setelah banjir bandang kemarin, sekarang kami ada air sumur bor dari bantuan. Tapi sekarang banyak yang mulai kering,” ucap Sunarti, Jumat (27/2/2026).

Untuk menyiasati keterbatasan tersebut, Sunarti harus menghemat penggunaan air yang ditampung dalam bak berkapasitas sekitar 250 liter.

“Airnya udah payah, keluarnya,” jelasnya.

Kondisi serupa juga dialami warga di Desa Lubuk Sidup, Kecamatan Sekerak. Zainudin, warga setempat, mengatakan banjir bandang yang meluluhlantakkan desanya turut menyebabkan krisis air bersih.

Sumber air dari sumur yang sebelumnya menjadi andalan warga kini mulai mengering. Masyarakat berharap pemerintah segera memberikan perhatian agar kebutuhan air bersih dapat terpenuhi.

“Kami dah habis air ini, krisis air,” katanya.

Di tengah kondisi tersebut, Tim Lembaga Amil Zakat, Infak, dan Sedekah Nahdlatul Ulama (Lazisnu) Provinsi Jawa Timur menyalurkan bantuan air bersih bagi warga terdampak. Bantuan dilakukan menggunakan mobil tangki air untuk memenuhi kebutuhan masyarakat di beberapa titik.

Koordinator Tim Lazisnu Jatim, Ahmad Syaiful, mengatakan satu unit mobil tangki berkapasitas 21.000 liter dioperasikan hingga tiga kali pengiriman setiap hari.

Distribusi air bersih diprioritaskan ke lokasi-lokasi sentral seperti tandon air masjid, dapur umum, dan mushala yang tersebar di sejumlah wilayah Aceh Tamiang.

“Masih banyak warga Aceh Tamiang yang kesulitan mendapat air bersih, untuk itu kami memprioritaskan pengiriman ke titik-titik sentral,” jelasnya.

Illiza Resmikan Tiga Unit Rumah Layak Huni untuk Mustahik di Syiah Kuala dalam Sehari

0
Illiza Resmikan Tiga Unit Rumah Layak Huni untuk Mustahik di Syiah Kuala. (Foto: for Nukilan)

NUKILANID | BANDA ACEH – Wali Kota Banda Aceh, Illiza Sa’aduddin Djamal, menyerahkan bantuan tiga unit rumah layak huni kepada mustahik zakat di Kecamatan Syiah Kuala dalam satu hari, Kamis (26/02/2026).

Ketua Baitul Mal Kota Banda Aceh, Yusuf Al Qardhawy, menyampaikan bahwa pembangunan rumah layak huni tersebut berlokasi di Gampong Alue Naga dan Gampong Deah Raya. Program ini merupakan bagian dari upaya penyaluran zakat untuk membantu masyarakat yang membutuhkan tempat tinggal yang layak.

Menurut Yusuf, Baitul Mal Kota Banda Aceh menargetkan pembangunan sebanyak 30 unit rumah layak huni. Hingga saat ini, empat unit di antaranya telah diresmikan selama bulan Ramadan.

“Sementara untuk program rumah rehab, sebanyak 27 unit juga akan dikerjakan dalam tahun ini,” kata Yusuf.

Ia juga meminta para mustahik penerima bantuan yang rumahnya belum rampung agar tetap bersabar menunggu proses pembangunan yang sedang berjalan.

“Mohon bersabar bagi yang belum selesai dibangun insyaallah dalam bulan ramadan ini tuntas semuanya, sekali lagi mohon sabar ya,” tambah Yusuf.

Dalam kesempatan tersebut, Wali Kota Banda Aceh Illiza Sa’aduddin Djamal berharap rumah yang diberikan dapat menjadi tempat tinggal yang membawa ketenangan dan keharmonisan bagi para penerima manfaat.

Ia juga menyampaikan apresiasi kepada para muzakki yang telah menyalurkan zakat melalui Baitul Mal Kota Banda Aceh sehingga program bantuan sosial tersebut dapat terus berjalan.

“Terima kasih banyak kepada semua muzakki yang telah bayar zakat di Baitul Mal Banda Aceh,” tutupnya.

25 Pejabat Eselon II Resmi Dilantik, Mualem Lakukan Penyegaran Struktur Pemerintah Aceh

0
Mualem Lakukan Penyegaran Struktur Pemerintah Aceh. (Foto: For Nukilan)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH — Gubernur Aceh, Muzakir Manaf atau yang akrab disapa Mualem, melantik dan mengambil sumpah jabatan sejumlah Pejabat Eselon II Pemerintah Aceh dalam prosesi yang berlangsung di Anjong Mon Mata, Meuligoe Gubernur, Banda Aceh, Jumat malam (27/2/2026).

Dilansir dari Nukilan.id, pelantikan tersebut dilakukan untuk mengisi sejumlah jabatan yang kosong sekaligus menjadi bagian dari penyegaran organisasi di lingkungan Pemerintah Aceh.

Dalam sambutannya, Mualem menegaskan bahwa seluruh pejabat yang dilantik telah melalui proses seleksi terbuka sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan serta mekanisme manajemen talenta aparatur sipil negara.

Ia menyampaikan bahwa pelantikan tersebut bukan sekadar rotasi jabatan, melainkan langkah strategis untuk memperkuat kinerja pemerintahan agar lebih responsif, profesional, dan berorientasi pada pelayanan publik.

Mualem juga meminta seluruh Satuan Kerja Perangkat Aceh (SKPA) menjadikan visi dan misi Pemerintah Aceh sebagai arah kebijakan dan dasar kerja di setiap lini pemerintahan.

Selain itu, pemerintah menargetkan pembangunan infrastruktur dasar yang inklusif dan berkelanjutan, peningkatan kualitas serta daya saing sumber daya manusia, penguatan tata kelola pemerintahan dan supremasi hukum, hingga pelestarian lingkungan hidup beserta ekosistemnya.

Ia turut menekankan pentingnya percepatan pemulihan pascabencana melalui penanganan yang cepat, tepat sasaran, dan akuntabel. Seluruh aparatur sipil negara diingatkan untuk menjaga soliditas dan disiplin kerja, termasuk ketepatan waktu, kepatuhan terhadap regulasi, serta pencapaian target kinerja. Kepala SKPA juga diminta menjadi teladan dalam integritas dan komitmen kerja.

Daftar Pejabat Eselon II yang Dilantik

Adapun pejabat yang dilantik meliputi:

  • Ir. T. Robby Irza, S.SiT, M.T sebagai Asisten Perekonomian dan Pembangunan Sekretaris Daerah Aceh

  • Dr. A. Murtala, M.Si sebagai Asisten Administrasi Umum Sekretaris Daerah Aceh

  • Ir. Abdullah, ST, CFrA, CITA sebagai Inspektur Aceh

  • Drs. Muhammad Diwarsyah, M.Si sebagai Kepala Badan Pengelolaan Keuangan Aceh

  • Dr. Ir. Zulkifli, M.Si sebagai Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Aceh

  • Murthalamuddin, S.Pd, MSP sebagai Kepala Dinas Pendidikan Aceh

  • Erwin Ferdinansyah, ST, MT sebagai Kepala Dinas Pengairan Aceh

  • Dr. Muhazar H, SKM, M.Kes sebagai Direktur Rumah Sakit Umum Daerah dr. Zainoel Abidin

  • drh. Safridhal sebagai Kepala Dinas Peternakan Aceh

  • Reza Ferdian, S.STP, M.Si sebagai Kepala Dinas Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah Aceh

  • Reza Saputra, SSTP, M.Si sebagai Kepala Satuan Polisi Pamong Praja dan Wilayatul Hisbah Aceh

  • Dr. T. Aznal Zahri, S.STP, M.Si sebagai Kepala Dinas Pertanahan Aceh

  • Taufik, ST, M.Si sebagai Kepala Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman Aceh

  • Dr. Munawar, MA sebagai Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Aceh

  • Asnawi, ST, M.S.M sebagai Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral Aceh

  • Safrizal, S.STP, M.Ec.Dev sebagai Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Aceh

  • Budi Afrizal, SKM, MKM sebagai Kepala Dinas Sosial Aceh

  • Bahrón Bakti, ST, MT sebagai Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Aceh

  • Dr. Husnan, ST, MP sebagai Staf Ahli Gubernur Bidang Keistimewaan Aceh, SDM dan Hubungan Kerja Sama

  • Bob Mizwar, S.STP, M.Si sebagai Kepala Biro Pemerintahan dan Otonomi Daerah Setda Aceh

  • Teuku Hendra Faisal, SE, M.Si sebagai Wakil Direktur Administrasi dan Umum RSUD dr. Zainoel Abidin

  • dr. Novita, Sp.JP(K) sebagai Wakil Direktur Pelayanan RSUD dr. Zainoel Abidin

  • Zahrol Fajri, S.Ag, M.H sebagai Kepala Sekretariat Majelis Permusyawaratan Ulama Aceh

  • Daniel Arca, A.Ks, M.Si sebagai Kepala Sekretariat Majelis Pendidikan Aceh

  • M. Ikhsan Ahyat, S.STP, M.A.P sebagai Kepala Sekretariat Baitul Mal Aceh

Pelantikan digelar usai shalat tarawih dan turut dihadiri Sekretaris Daerah Aceh M. Nasir, para asisten Sekda, staf ahli gubernur, kepala SKPA, kepala biro di lingkungan Setda Aceh, serta Ketua TP PKK Aceh dan Ketua Dharma Wanita Persatuan Aceh.

Rumah Zakat Salurkan Bantuan Perlengkapan Tidur bagi Korban Banjir Bandang di Bireuen

0
Rumah Zakat Salurkan Bantuan Perlengkapan Tidur bagi Korban Banjir Bandang di Bireuen. (Foto: Rumah Zakat)

NUKILAN.ID | BIREUEN — Rumah Zakat kembali menyalurkan bantuan kemanusiaan bagi masyarakat terdampak banjir bandang di Aceh. Kali ini, bantuan berupa perlengkapan tidur diberikan kepada warga yang masih tinggal di hunian sementara di Desa Kubu, Kecamatan Siblah Krueng, Kabupaten Bireuen, pada 26 Februari 2026.

Bantuan tersebut ditujukan untuk membantu para korban memenuhi kebutuhan dasar selama masa pemulihan pascabencana. Sebanyak dua paket perlengkapan tidur disalurkan kepada penerima manfaat. Setiap paket berisi kasur, bantal, serta karpet yang diharapkan dapat meningkatkan kenyamanan warga di tempat pengungsian sementara.

Kehadiran perlengkapan tidur menjadi kebutuhan mendesak, terutama bagi keluarga yang kehilangan banyak barang akibat banjir bandang yang melanda sejumlah wilayah di Aceh beberapa waktu lalu. Kondisi hunian sementara dengan fasilitas terbatas membuat bantuan ini dinilai sangat membantu aktivitas sehari-hari para penyintas.

Salah satu penerima manfaat, Aira Sari, mengungkapkan rasa syukur atas bantuan yang diterima keluarganya.

“Terima kasih kepada Rumah Zakat yang sudah membantu kami. Bantuan ini sangat berarti untuk keluarga kami,” ujarnya.

Dukungan kemanusiaan tersebut diharapkan dapat menjadi penyemangat bagi para korban untuk tetap tegar dan bangkit menghadapi situasi pascabencana.

Melalui program kemanusiaan yang dijalankan, Rumah Zakat menegaskan komitmennya untuk terus hadir membantu masyarakat yang membutuhkan, tidak hanya melalui bantuan darurat, tetapi juga dalam mendukung proses pemulihan agar warga terdampak dapat kembali menjalani kehidupan secara normal.

Rumah Zakat juga mengajak berbagai pihak untuk bersama-sama mendukung upaya pemulihan pascabencana, sehingga masyarakat terdampak dapat segera bangkit dan kembali mandiri.

Pemerintah Tegaskan Diskresi Presiden soal Status Bencana Tetap Dibatasi Hukum di Sidang MK

0
Bahtiar, saksi dari pemerintah, dalam sidang di Mahkamah Konstitusi, pada Kamis (26/2/2026). (Foto: MKRI)

NUKILAN.ID | JAKARTA — Pemerintah menolak anggapan bahwa Presiden memiliki kewenangan tanpa batas dalam menggunakan diskresi untuk menetapkan status bencana nasional terkait bencana yang melanda Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat.

Penegasan tersebut disampaikan dalam sidang uji materi Perkara Nomor 261/PUU-XXIII/2025 di Mahkamah Konstitusi (MK), Kamis (26/2/2026). Dalam persidangan itu, Bahtiar yang hadir sebagai saksi pemerintah menegaskan bahwa keputusan penetapan status bencana tidak diambil secara subjektif ataupun tanpa landasan hukum.

“Tidak benar apabila dikatakan bahwa penetapan status bencana sepenuhnya berada dalam ruang subjektivitas tanpa parameter hukum,” ujarnya.

Menurut Bahtiar, diskresi pemerintah muncul sebagai mekanisme untuk menghadapi situasi luar biasa yang belum diatur secara rinci dalam regulasi. Namun demikian, kewenangan tersebut tetap berada dalam koridor hukum dan harus mengacu pada indikator objektif sebagaimana diatur dalam Pasal 7 ayat (2) Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana.

Ia menjelaskan bahwa undang-undang tersebut telah menetapkan indikator jelas dalam menentukan status dan tingkat bencana. Parameter itu mencakup adanya peristiwa bencana alam maupun nonalam yang mengancam masyarakat, menimbulkan korban jiwa, menyebabkan kerugian harta benda, merusak sarana dan prasarana, serta menimbulkan dampak sosial dan ekonomi.

Selain itu, tingkat bencana juga dinilai dari luas wilayah terdampak, keterbatasan sumber daya yang tersedia, lumpuhnya kapasitas pemerintah daerah dalam merespons bencana, potensi bencana susulan, serta perkiraan waktu pemulihan yang panjang.

“Untuk tingkatan, luas cakupan terdampak, kapasitas sumber daya yang tersedia dan dimiliki tidak cukup memadai dalam melakukan respon penanggulangan bencana, lembaga pemerintah dan lain-lain kapasitas setempat lumpuh dan tidak bisa melakukan tindakan penanggulangan bencana, serta masih berpotensi terjadi bencana susulan dan prediksi serta asumsi waktu untuk pemulihan sangat panjang atau lama,” katanya.

Bahtiar juga menekankan bahwa penggunaan diskresi tetap harus mematuhi Asas-Asas Umum Pemerintahan yang Baik (AUPB). Artinya, setiap keputusan harus memiliki alasan yang jelas, dilakukan dengan itikad baik, serta terbuka terhadap pengawasan hukum.

“Dalam penanggulangan bencana, respons untuk menyelamatkan nyawa manusia jauh lebih utama daripada sekadar urusan administratif,” katanya.

Pemerintah turut membantah dalil pemohon yang menyebut penetapan status bencana berpotensi dipolitisasi karena tidak diatur melalui Peraturan Presiden. Menurut Bahtiar, argumen tersebut tidak memiliki dasar hukum yang kuat.

“Sebab, penanggulangan bencana tidak hanya mempertimbangkan faktor politis. Namun dipengaruhi juga oleh faktor ekonomi (dampak fiskal dan stabilitas investasi), administratif, pertimbangan stabilitas pemerintahan, dan dinamika hubungan pusat-daerah,” jelasnya.

Dalam sidang sebelumnya, pemohon menilai istilah prioritas nasional tidak dikenal dalam UU Nomor 24 Tahun 2007 yang hanya mengatur status bencana nasional dan daerah. Pemohon berpendapat istilah tersebut lebih sering digunakan dalam konteks proyek pembangunan, bukan dalam penanganan korban bencana, meskipun korban jiwa terus bertambah.

“Dalam bencana alam tersebut, Pemohon I telah mengalami kerugian yang sangat serius dan mendalam karena bencana tersebut telah merenggut nyawa ayah, ibu, dan salah satu adik kandung Pemohon I, sehingga Pemohon I kehilangan anggota keluarga inti sekaligus kehilangan penopang kehidupan keluarga,” ujar Christian Adrianus Sihite dalam sidang perbaikan permohonan pada Rabu (21/1/2026).

DPMG Aceh Gelar Buka Puasa Bersama, Perkuat Kebersamaan dan Semangat Pengabdian

0
DPMG Aceh Gelar Buka Puasa Bersama, Perkuat Kebersamaan dan Semangat Pengabdian. (Foto: DPMG Aceh)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH — Dalam rangka mempererat tali silaturahmi sekaligus memperkuat kebersamaan di bulan suci Ramadan, Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Gampong (DPMG) Aceh menggelar kegiatan buka puasa bersama yang berlangsung dalam suasana hangat dan khidmat.

Kegiatan yang dilaksanakan di lingkungan Sekretariat DPMG Aceh tersebut menjadi momentum untuk membangun hubungan kekeluargaan antarpegawai sekaligus mempertegas komitmen bersama dalam upaya pemberdayaan serta pembangunan gampong di seluruh Aceh.

Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Gampong Aceh, Dr. H. Iskandara, AP, S.Sos, M.Si, dalam sambutannya menyampaikan bahwa kebersamaan yang terjalin melalui kegiatan seperti ini memiliki peran penting dalam memperkuat sinergi dan meningkatkan kinerja lembaga.

“Ramadan mengajarkan kita nilai keikhlasan dan kebersamaan. Semoga melalui momen ini, seluruh jajaran DPMG semakin solid dalam menjalankan tugas pemberdayaan masyarakat dan pembangunan gampong,” ujar Iskandar.

Ia menambahkan, bulan Ramadan tidak hanya menjadi momentum peningkatan ibadah secara spiritual, tetapi juga menjadi kesempatan untuk melakukan perbaikan diri dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk dalam pelaksanaan tugas dan pengabdian.

“Nilai-nilai ramadhan seperti keikhlasan, kedisiplinan, kesabaran, kejujuran, dan tanggung jawab merupakan nilai yang sangat relevan dalam meningkatkan semangat dan kualitas kinerja kita,” tambah Iskandar.

Selain sambutan, kegiatan juga diisi dengan tausiah yang disampaikan oleh Tgk Adnan Ali. Dalam ceramahnya, ia mengajak seluruh peserta untuk memanfaatkan bulan Ramadan dengan memperbanyak amal ibadah.

“Zikir yang kita ucapkan di bulan Ramadhan sangat jauh berbeda besar pahalanya dengan zikir di bulan bulan lain,oleh karena itu mari kita manfaatkan waktu ramadhan ini untuk meningkatkan amal kebaikan,” ujarnya.

Acara turut dirangkai dengan penyerahan santunan kepada anak yatim piatu di lingkungan Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Gampong Aceh sebagai bentuk kepedulian sosial di bulan penuh berkah.

Kegiatan silaturahmi dan buka puasa bersama tersebut dihadiri para mantan Kepala DPMG Aceh, mantan pejabat eselon III, pejabat struktural, karyawan dan karyawati DPMG Aceh, serta sejumlah tamu undangan lainnya.

Melalui kegiatan ini, DPMG Aceh berharap semangat persatuan dan pelayanan kepada masyarakat semakin kuat sehingga berbagai program pemberdayaan gampong dapat berjalan optimal demi mewujudkan pembangunan Aceh yang berkelanjutan.

Harga TBS Sawit di Aceh Turun, Distanbun Tetapkan Tarif Baru Pekan Akhir Februari 2026

0
Ilustrasi sawit. (Foto: indonesianpalmoilnews.com)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH Dinas Pertanian dan Perkebunan Aceh menetapkan harga pembelian Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit produksi pekebun mitra untuk periode minggu keempat Februari 2026. Keputusan tersebut diambil melalui rapat tim penetapan harga pada Jumat, 27 Februari 2026, dengan hasil menunjukkan adanya penurunan harga dibandingkan pekan sebelumnya di seluruh wilayah Aceh.

Dalam penetapan itu, rata-rata harga Crude Palm Oil (CPO) ditetapkan sebesar Rp14.196,40 per kilogram, sedangkan rata-rata harga inti sawit (kernel) berada pada Rp12.955,11 per kilogram. Harga tersebut berlaku sejak tanggal penetapan hingga minggu kedua Maret 2026.

Untuk Wilayah Timur, Indeks “K” ditetapkan sebesar 87,83 persen. Pada kategori Mitra Plasma, harga TBS tanaman usia 3 tahun berada di angka Rp2.486 per kilogram, usia 5 tahun Rp2.888 per kilogram, dan usia 10–20 tahun atau masa puncak produksi sebesar Rp3.314 per kilogram. Angka ini turun dari Rp3.384 per kilogram pada pekan sebelumnya. Sementara itu, tanaman usia 25 tahun dihargai Rp3.018 per kilogram.

Pada kelompok Mitra Swadaya Wilayah Timur, harga TBS kualitas rendemen Tenera 100 persen ditetapkan Rp3.041 per kilogram. Adapun kualitas campuran Dura 60 persen berada di angka Rp2.929 per kilogram.

Sementara itu, Wilayah Barat mencatat Indeks “K” sebesar 86,60 persen, sedikit lebih rendah dibandingkan Wilayah Timur, sehingga turut memengaruhi besaran harga di tingkat pekebun.

Untuk Mitra Plasma di Wilayah Barat, harga TBS usia 3 tahun ditetapkan Rp2.452 per kilogram, usia 5 tahun Rp2.848 per kilogram, dan usia 10–20 tahun Rp3.268 per kilogram, turun dari Rp3.330 per kilogram pada pekan sebelumnya. Sedangkan tanaman usia 25 tahun dihargai Rp2.976 per kilogram.

Bagi Mitra Swadaya di Wilayah Barat, harga tertinggi TBS kualitas Tenera 100 persen ditetapkan sebesar Rp2.998 per kilogram.

Laporan penetapan harga tersebut ditandatangani oleh Pelaksana Harian Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Aceh, Azanuddin, bersama Ketua Tim Penetapan dan Pemantauan Harga Pembelian TBS, Maizatul Akmal, tertanggal 25 Februari 2026. Penetapan ini menjadi acuan bagi perusahaan dan pekebun mitra dalam transaksi pembelian TBS di Aceh, termasuk wilayah Banda Aceh, Lhokseumawe, serta sentra perkebunan seperti Aceh Utara.

Peukan Raya Ramadan 1447 H Resmi Dibuka, Pemko Banda Aceh Targetkan Perputaran Ekonomi Rp 2 Miliar

0
Peukan Raya Ramadan 1447 H Resmi Dibuka, Pemko Banda Aceh Targetkan Perputaran Ekonomi Rp 2 Miliar. (Foto: Humas BNA)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH — Wali Kota Banda Aceh Illiza Sa’aduddin Djamal secara resmi membuka kegiatan Peukan Raya Ramadan (PRR) 1447 Hijriah yang digelar di eks lahan Pasar Aceh Shopping Center, Jumat (27/2/2026).

Peresmian kegiatan ditandai dengan tradisi “Teumok Beulangong” Kanji Rumbi yang dilakukan langsung oleh Wali Kota Illiza bersama Wakil Wali Kota Afdhal Khalilullah dan Ketua DPRK Banda Aceh Irwansyah. Takjil khas Aceh tersebut kemudian dibagikan secara gratis kepada para pengunjung yang hadir.

Dalam sambutannya, Illiza menegaskan bahwa Peukan Raya Ramadan bukan sekadar agenda tahunan, melainkan upaya nyata pemerintah kota dalam mendorong kebangkitan ekonomi masyarakat selama bulan suci Ramadan.

Melalui penyelenggaraan PRR yang berlangsung hingga 13 Maret 2026, Pemerintah Kota Banda Aceh menghadirkan ruang ekonomi berbasis kolaborasi. Sebanyak 150 brand UMKM turut berpartisipasi dalam 120 stand pameran yang disediakan.

“Kita menargetkan 10 ribu pengunjung per hari dengan proyeksi perputaran ekonomi di atas Rp 2 miliar. Target kita jelas: Peukan Raya Ramadan ini bukan sekadar ramai, tetapi menjadi pusat transaksi. Bukan sekadar acara, tetapi ada penguatan usaha dan peningkatan pendapatan masyarakat,” ujarnya.

Amatan Nukilan.id, PRR 2026 menghadirkan tiga zona utama kegiatan. Pertama, Peukan Raseuki yang menjadi pusat kuliner berbuka puasa. Kedua, Peukan Khanduri sebagai ruang berbagi takjil gratis melalui tradisi teumok untuk mempererat kebersamaan. Ketiga, Peukan Silaturahmi yang difungsikan sebagai panggung interaksi sosial, pertunjukan, serta berbagai aktivitas masyarakat sepanjang Ramadan.

Illiza juga menyebut Peukan Raya Ramadan sebagai bagian dari strategi pengentasan kemiskinan melalui pemberdayaan ekonomi masyarakat. “Kita ingin pertumbuhan ekonomi Banda Aceh bukan hanya tinggi secara angka, tetapi berkualitas dan inklusif -dirasakan oleh pedagang kecil, pelaku usaha rumahan, hingga generasi muda kreatif.”

Di kawasan yang sama, tepatnya di Gedung Pasar Aceh Baru, turut digelar Peukan QRIS Ramadan yang berlangsung sejak 20 Februari hingga 15 Maret 2026. Kegiatan ini merupakan kolaborasi Pemerintah Kota Banda Aceh bersama Bank Indonesia dan perbankan syariah guna memperkuat ekosistem pembayaran digital di pasar tradisional.

“Program ini merupakan kolaborasi Pemko Banda Aceh bersama Bank Indonesia dan perbankan syariah untuk memperkuat ekosistem pembayaran digital di pasar tradisional,” ujar Illiza.

Peukan QRIS Ramadan dimeriahkan dengan berbagai kegiatan, mulai dari pembagian kupon doorprize transaksi QRIS, bazaar Ramadan dan night market, bazaar kue lebaran, kegiatan sosial berbagi bersama anak yatim, lomba islami bagi anak dan remaja, hingga workshop literasi keuangan.

Menurut Illiza, pasar tradisional harus tetap menjadi ruang silaturahmi masyarakat sekaligus mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi.

“Oleh karenanya, mari kita jadikan momentum ini sebagai energi kebangkitan ekonomi kota. Belanja di UMKM lokal. Gunakan QRIS dalam setiap transaksi,” ujarnya. (xrq)

Reporter: Akil

Bupati Aceh Timur Terima Kunjungan Kerja Kepala BNPB, Bahas Penanganan Dampak Banjir dan Huntara

0
Bupati Aceh Timur Terima Kunjungan Kerja Kepala BNPB. (Foto: Humas Aceh Timur)

NUKILAN.ID | IDI RAYEUK — Bupati Aceh Timur, Iskandar Usman Al-Farlaky, S.H.I., M.Si menyambut kunjungan kerja Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Letjen TNI Dr. Suharyanto, S.Sos., M.M, di Gampong Beusa Seberang, Kecamatan Peureulak Barat, Kabupaten Aceh Timur, Kamis, 26 Februari 2026.

Kunjungan tersebut berlangsung dalam rangka penyerahan bantuan hunian sementara (huntara) sekaligus kegiatan buka puasa bersama masyarakat terdampak bencana. Agenda itu juga dirangkaikan dengan penyaluran santunan kepada anak yatim serta pembagian paket sembako bagi warga yang saat ini menempati huntara.

Dalam sambutannya, Bupati Al-Farlaky menyampaikan apresiasi dan ucapan terima kasih kepada Kepala BNPB beserta jajaran yang sejak awal bencana telah aktif berkoordinasi dan turun langsung mendampingi Pemerintah Kabupaten Aceh Timur.

Ia menegaskan keterlibatan BNPB mencakup berbagai tahapan, mulai dari penanganan darurat, proses verifikasi kerusakan rumah warga, hingga percepatan pembangunan hunian sementara.

Di hadapan Kepala BNPB, Bupati turut melaporkan sejumlah kendala yang dihadapi di lapangan. Pada tahap awal, pemerintah daerah mengusulkan lebih dari 8.000 unit rumah terdampak untuk diverifikasi. Namun sekitar 3.500 unit di antaranya dinyatakan tidak memenuhi syarat (TMS).

Menurutnya, pemerintah daerah tetap berharap data awal tersebut dapat menjadi dasar pembangunan karena proses verifikasi sebelumnya menggunakan formulir berbasis bencana gempa yang dinilai kurang sesuai dengan kondisi banjir.

“Karakter bencana gempa dan banjir berbeda. Pada banjir, struktur rumah bisa saja tetap berdiri, tetapi lumpur dan dampak rendaman menyebabkan rumah tidak layak huni,” ujarnya.

Bupati juga menjelaskan bahwa sejak awal bencana, pemerintah kabupaten bekerja dengan keterbatasan sarana, termasuk jaringan internet dan perangkat komputer. Meski demikian, bersama camat, keuchik, BPBD, serta unsur Forkopimda, pemerintah berhasil menghimpun hampir 25 ribu data warga terdampak.

Ia menambahkan, Permendagri terbaru telah mengatur pedoman teknis penilaian kerusakan akibat banjir berdasarkan ketinggian lumpur. Lumpur setinggi 20–50 sentimeter dikategorikan rusak ringan dengan stimulus Rp15 juta, sedangkan ketinggian 50–70 sentimeter masuk kategori rusak sedang dengan stimulus Rp30 juta.

Terkait penyaluran bantuan, Bupati menyebut dana sekitar Rp298 miliar telah tersedia di rekening penyalur melalui Bank Syariah Indonesia (BSI). Namun demikian, ia mengusulkan agar proses penyaluran turut melibatkan Bank Aceh Syariah guna menghindari penumpukan antrean masyarakat serta mempercepat pencairan secara tertib.

Selain itu, ia meminta agar mekanisme pencairan tahap lanjutan tidak lagi mewajibkan bon pembelian material bangunan, melainkan cukup menggunakan surat pernyataan bermaterai dari penerima manfaat. Hal ini mengingat sebagian warga telah lebih dulu membersihkan maupun memperbaiki rumah secara mandiri.

“Jika dana sudah masuk ke rekening masyarakat, maka penerima manfaatlah yang bertanggung jawab secara moral dan hukum,” tegasnya.

Bupati juga membuka ruang pengaduan bagi masyarakat yang belum terdata atau merasa keberatan terhadap hasil verifikasi. Ia menginstruksikan para camat dan keuchik untuk melakukan pendataan ulang, menempelkan daftar calon penerima bantuan di desa dan meunasah sebagai uji publik, serta menyediakan formulir pengaduan. Ia menegaskan tidak boleh ada aparatur yang menunda proses tersebut.

“Perhatian khusus juga diminta bagi warga berstatus “Kartu Keluarga gantung”, yakni pasangan yang masih tercatat dalam KK orang tua namun telah berkeluarga sendiri, agar dipertimbangkan menerima bantuan huntara maupun hunian tetap” harap Bupati Al-Farlaky.

Menanggapi hal tersebut, Kepala BNPB Letjen Suharyanto menyampaikan bahwa pembangunan huntara di Aceh Timur menunjukkan perkembangan yang signifikan. Dari lebih dari 3.000 unit yang direncanakan, lebih dari separuh telah selesai 100 persen.

Ia menjelaskan bahwa Aceh Timur memiliki karakteristik khusus karena mayoritas huntara dibangun secara insitu di atas tanah milik warga. Model pembangunan ini dinilai lebih kompleks dibandingkan pembangunan secara komunal, namun tetap dapat berjalan cepat berkat dukungan vendor lokal.

Menurutnya, BNPB telah hadir sejak hari pertama bencana pada 26 November 2025 dan terus melakukan pendampingan hingga masa transisi darurat. Meskipun pada awal 2026 berbagai bencana juga terjadi di sejumlah daerah lain, pendampingan terhadap Aceh Timur tetap menjadi prioritas.

Untuk melengkapi fasilitas huntara, bantuan perabotan dari Kementerian Sosial Republik Indonesia akan disalurkan dalam bentuk uang sebesar Rp3 juta per keluarga.

” Sambil menunggu, BNPB telah menyalurkan bantuan darurat berupa kasur, kompor, kipas angin, karpet, dan matras. Selain itu, bersama Kemensos, BNPB juga menyalurkan bantuan jatah hidup (jadup) sebesar Rp15.000 per orang per hari selama tiga bulan,” kata Letjen Suharyanto.

Katibul Wali Nanggroe Dukung Instruksi Mualem, Pejabat Eselon II Diminta Percepat Realisasi Anggaran

0
Katibul Wali Nanggroe, Abdullah Hasbullah. (Foto: LWN)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH — Katibul Wali Nanggroe Aceh, Abdullah Hasbullah, menyatakan dukungan penuh terhadap arahan Gubernur Aceh, Muzakir Manaf, yang akrab disapa Mualem, kepada 25 pejabat pimpinan tinggi pratama (Eselon II) yang baru dilantik di lingkungan Pemerintah Aceh.

Pernyataan itu disampaikan Abdullah Hasbullah usai menghadiri pelantikan pejabat Eselon II yang digelar di Anjong Mon Mata, Banda Aceh, Jumat malam (27/2/2026).

Menurut Abdullah, pelantikan tersebut tidak sekadar agenda seremonial, melainkan momentum penting untuk memperkuat konsolidasi birokrasi di bawah kepemimpinan pasangan Mualem–Dek Fadh. Ia menilai, percepatan realisasi anggaran dan penguatan kinerja aparatur menjadi langkah strategis untuk mendorong pembangunan serta meningkatkan kualitas pelayanan publik di Aceh.

“Pejabat yang baru dilantik harus segera bergerak cepat menerjemahkan visi dan arahan gubernur ke dalam program kerja yang nyata, terukur, dan berdampak langsung bagi masyarakat,” ujar Abdullah Hasbullah.

Ia menegaskan, percepatan penyerapan anggaran merupakan salah satu indikator utama keberhasilan pemerintah daerah. Efektivitas pelaksanaan program, kata dia, akan menentukan seberapa cepat manfaat kebijakan dirasakan masyarakat.

Sejalan dengan arahan Gubernur Muzakir Manaf dalam prosesi pelantikan, Abdullah juga mengingatkan agar para pejabat tidak terjebak dalam rutinitas administratif semata. Ia mendorong lahirnya inovasi serta kerja nyata yang responsif terhadap kebutuhan rakyat.

Selain itu, Abdullah menyampaikan apresiasi kepada para pejabat yang baru dilantik. Ia menekankan pentingnya loyalitas, integritas, dan dedikasi tinggi sebagai fondasi membangun birokrasi yang profesional serta berorientasi pada pelayanan publik.

Abdullah Hasbullah turut menegaskan bahwa lembaga Wali Nanggroe siap bersinergi dan memberikan dukungan moral maupun kelembagaan terhadap kepemimpinan Mualem dalam mendorong reformasi birokrasi yang produktif, adaptif, dan berpihak pada kepentingan masyarakat Aceh.

“Semoga momentum ini menjadi awal lahirnya birokrasi Aceh yang lebih kuat, responsif, dan mampu menjawab harapan masyarakat menuju Aceh yang maju dan sejahtera,” pungkasnya.