Beranda blog Halaman 184

Longsor Tutup Akses Utama Birem Bayeun, BPBD Aceh Timur Gerak Cepat Bersihkan Material

0
Hujan deras disertai angin kencang mengakibatkan longsor dan menutup badan jalan di Desa Alue Sentang, Kecamatan Birem Bayeun, Kabupaten Aceh Timur, Provinsi Aceh, Jumat (7/11/2025). (FOTO: BPBD ACEH TIMUR)

NUKILAN.ID | IDI RAYEUK – Hujan deras disertai angin kencang yang melanda wilayah Aceh Timur pada Jumat (7/11/2025) menyebabkan tebing di kawasan Desa Alue Sentang, Kecamatan Birem Bayeun, longsor. Material tanah dan pohon menutup badan jalan utama yang menjadi akses warga antar kecamatan di Aceh Timur menuju Kota Langsa.

Akibat peristiwa itu, jalur transportasi sempat lumpuh. Warga tak bisa melintas karena tumpukan tanah dan batang pohon menutupi seluruh badan jalan.

Pelaksana Harian Camat Birem Bayeun, Furqan Febriansyah, menyebutkan curah hujan yang tinggi menjadi penyebab utama longsor di kawasan tersebut. Ia juga mengingatkan adanya potensi longsor susulan yang masih mengkhawatirkan warga.

“Curah hujan yang tinggi membuat jalanan di kawasan ini rawan longsor,” terangnya lewat telepon.

Peristiwa itu telah dilaporkan kepada Bupati Aceh Timur, Iskandar Al-Farlaky, yang langsung menginstruksikan tim penanganan bencana untuk turun ke lapangan.

Sejak pukul 10.00 WIB, alat berat berupa ekskavator dan buldoser dikerahkan untuk memindahkan tumpukan material dari badan jalan. Tim Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) bersama masyarakat bergotong royong membersihkan material longsor agar jalur transportasi bisa segera dibuka kembali.

“BPBD sudah kami turunkan ke lapangan. Laporan yang saya terima, akses jalan sudah bisa dilalui kembali,” tutur Iskandar saat dihubungi terpisah.

Ia juga menyampaikan apresiasi kepada masyarakat yang turut membantu petugas di lapangan. Berkat kerja sama itu, jalan penghubung utama kini sudah bisa dilalui kendaraan roda dua dan empat.

“Penanganan cepat ini kami lakukan untuk mengurangi risiko dan mencegah terjadinya longsor susulan yang dapat membahayakan masyarakat. Pemerintah daerah akan terus memantau perkembangan situasi di lapangan,” tegas Bupati Al-Farlaky.

BPBD Aceh Timur mengimbau warga agar tetap waspada terhadap kemungkinan terjadinya longsor susulan, terutama di kawasan perbukitan dengan kondisi tanah yang labil setelah hujan deras. Pemerintah daerah juga memastikan akan menyiagakan alat berat dan petugas di lokasi rawan bencana untuk mengantisipasi keadaan darurat.

KPK Serahkan Tanah Rampasan Korupsi ke Pemerintah Aceh, Mualem: Ini untuk Rakyat

0
Gubernur Aceh, Muzakir Manaf bersama Direktur Labuksi KPK RI, Mungkin Hadi Pratikto saat melakukan penyerahan barang rampasan negara dari KPK RI kepada Pemerintah Aceh, di Kantor Gubernur Aceh, Kamis (6/11/2025). (FOTO: Humas Pemerintah Aceh)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Pemerintah Aceh resmi menerima hibah sebidang tanah hasil tindak pidana korupsi dari Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) RI. Aset seluas 8.199 meter persegi yang berlokasi di Desa Peunaga Rayeuk, Kecamatan Meureubo, Kabupaten Aceh Barat itu kini menjadi milik Pemerintah Aceh untuk dikelola bagi kepentingan masyarakat.

Penyerahan hibah dilakukan langsung oleh Direktur Labuksi KPK RI, Mungki Hadipratikno, kepada Gubernur Aceh, Muzakir Manaf, di Gedung Serbaguna Setda Aceh, Kamis (6/11/2025).

“Atas nama Pemerintah Aceh, kami menyampaikan terima kasih dan penghargaan setinggi-tingginya kepada KPK RI dan Kementerian Keuangan RI atas hibah aset ini,” kata Muzakir Manaf dalam sambutannya.

Mualem, sapaan akrab Muzakir, menegaskan bahwa hibah tanah tersebut bukan sekadar perpindahan aset negara, tetapi juga mengandung pesan moral kuat bahwa hasil tindak pidana korupsi harus dikembalikan kepada rakyat.

“Aset ini akan kami manfaatkan sebagai fasilitas penunjang gedung kantor Pemerintah Aceh di Aceh Barat, sehingga pelayanan pemerintahan di wilayah barat Aceh dapat berjalan lebih efektif, dekat, dan responsif terhadap kebutuhan masyarakat,” ujarnya.

Ia menambahkan, Pemerintah Aceh berkomitmen untuk mengelola aset itu secara transparan dan akuntabel, dengan orientasi pada kemaslahatan jangka panjang bagi masyarakat Aceh.

Sementara itu, Direktur Labuksi KPK RI, Mungki Hadipratikno, menjelaskan bahwa hibah tersebut merupakan bagian dari proses eksekusi barang rampasan negara.

“Eksekusi barang rampasan negara diawali dengan proses lelang. Apabila tidak laku, sesuai ketentuan Kementerian Keuangan, aset tersebut dapat dikelola melalui pemindahtanganan atau hibah. Inilah yang kami lakukan hari ini,” jelasnya.

Menurut Mungki, hibah aset rampasan korupsi kepada pemerintah daerah menjadi bentuk nyata penerapan asas hukum, yang mencakup kepastian hukum, keadilan, dan kemanfaatan.

“Tindak pidana korupsi bukan hanya merugikan negara, tetapi masyarakat juga menjadi korban. Karena itu, selain menghukum pelaku dan berupaya mengembalikan kerugian negara, hasil dari rampasan juga harus memberikan manfaat bagi rakyat,” tegasnya.

Ia pun meminta agar Pemerintah Aceh segera menindaklanjuti proses administrasi kepemilikan aset tersebut dan memastikan penggunaannya benar-benar untuk kepentingan masyarakat.

“Pasang plang di lokasi aset sebagai tanda bahwa ini merupakan barang rampasan negara hasil tindak pidana korupsi. Ini penting untuk edukasi publik dan efek jera bagi pelaku korupsi,” tutup Mungki Hadipratikno.

Aceh Besar Sabet Juara Umum MTQ Aceh XXXVII, Tuan Rumah Pidie Jaya di Posisi Ketiga

0
Wakil Gubernur Aceh, Fadhlullah, menyerahkan piala bergilir yang diterima Bupati Aceh Besar yang tampil juara umum pada MTQ Aceh XXXVII di mimbar utama komplek Bupati Pidie Jaya, Jumat (7/11/2025) malam. (Foto: SerambiNews)

NUKILAN.IDSIGLI – Kafilah Kabupaten Aceh Besar kembali menegaskan dominasinya pada ajang Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) Aceh XXXVII tahun 2025. Dengan total nilai 379 poin, Aceh Besar sukses keluar sebagai juara umum setelah memborong 14 gelar juara pertama.

Penutupan MTQ Aceh berlangsung meriah di mimbar utama Kompleks Kantor Bupati Pidie Jaya, Jumat (7/11/2025) malam. Wakil Gubernur Aceh, Fadhlullah SE, atau yang akrab disapa Dek Fadh, hadir menyerahkan piala bergilir kepada Bupati Aceh Besar sebagai simbol kemenangan.

Berdasarkan hasil resmi yang dibacakan dewan hakim, Aceh Besar tampil perkasa di hampir semua cabang perlombaan. Dari total perolehan nilainya, kafilah ini meraih 14 juara 1, tiga juara 2, dua juara 3, delapan juara harapan 1, dua juara harapan 2, dan enam juara harapan 3.

Sementara itu, posisi kedua ditempati kafilah Kota Banda Aceh dengan total nilai 344 poin. Mereka meraih tujuh juara 1, enam juara 2, sepuluh juara 3, dua juara harapan 1, dua harapan 2, dan empat harapan 3.

Tuan rumah, Kabupaten Pidie Jaya, berhasil menutup kompetisi di peringkat ketiga dengan nilai 262 poin. Rinciannya, lima peserta meraih juara 1, tujuh juara 2, empat juara 3, dua juara harapan 1, empat juara harapan 2, dan tiga juara harapan 3.

Adapun posisi keempat ditempati Kabupaten Pidie dengan nilai 252, disusul Aceh Utara di peringkat kelima dengan total nilai 181 poin.

Ajang MTQ Aceh XXXVII tahun ini juga meninggalkan kesan mendalam bagi masyarakat Pidie Jaya. Malam penutupan berubah menjadi lautan manusia. Ribuan warga tumpah ruah memenuhi area sekitar mimbar utama hingga ke badan jalan.

Masyarakat tampak antusias menyaksikan acara hingga larut malam. Deretan pedagang kuliner dan cendera mata pun kebanjiran pembeli. Suasana semarak dan penuh kebersamaan menjadi penutup yang indah bagi helatan religius dua tahunan ini.

Inayah Alya, Mahasiswi yang Menyalakan Semangat Kepemimpinan Remaja Aceh dari Hati

0
Inayah Alya. (Foto: kemdiktisaintek.go.id)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Dari Desa Lubok Batee, Aceh Besar, langkah seorang mahasiswi bernama Inayah Alya, atau akrab disapa Naya, menjadi bukti bahwa kepemimpinan tidak selalu harus lahir dari jabatan tinggi. Ia meyakini bahwa menjadi pemimpin berarti mampu menyalakan semangat, mendengarkan, dan memberdayakan sesama.

“Kepemimpinan bukan tentang posisi tertinggi, melainkan kemampuan untuk menyalakan semangat, mendengarkan, dan memberdayakan tim,” tulis Naya dalam esai kepemimpinannya untuk Future Leaders Camp (FLC) 2025.

Sebagai mahasiswa Administrasi Rumah Sakit di STIKes Muhammadiyah Aceh, Naya menafsirkan kepemimpinan sebagai cara untuk menumbuhkan harapan dan menggerakkan perubahan, baik di kampus maupun di tengah masyarakat. Langkah awalnya dimulai dari peran kecil saat ia dipercaya menjadi Komandan Tingkat (Komting) di awal masa kuliah.

“Dari peran kecil itu, aku belajar makna pertama kepemimpinan bahwa memimpin bukan tentang jabatan, melainkan tentang mendengar, memahami, dan memastikan semua orang merasa dilibatkan,” ungkapnya.

Membangkitkan Semangat Organisasi di Kampus

Perjalanan Naya berlanjut ketika ia dipercaya menjadi Wakil Presiden Mahasiswa BEM STIKes Muhammadiyah Aceh. Saat roda organisasi kampus sempat berhenti berputar, Naya bersama 27 anggota BEM berupaya menghidupkan kembali semangat organisasi.

“Bersama tim, saya membangun budaya kerja kolaboratif, komunikasi terbuka, dan rasa kekeluargaan di antara anggota,” ujarnya.

Langkah itu membuat BEM kembali aktif menjalankan berbagai program kemahasiswaan, menjalin sinergi antarorganisasi, dan menjadi wadah pembelajaran bagi mahasiswa.

Menyapa Remaja Lewat Edukasi Kesehatan

Kiprah Naya tak berhenti di kampus. Ia turut berperan sebagai Koordinator II Remaja Centra Muda Putroe Phang (CMPP) di bawah Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Provinsi Aceh. Bersama rekan-rekannya, ia membantu menghidupkan kembali program remaja yang sempat vakum.

Dalam kolaborasi antara Dinas Kesehatan, UNICEF, dan PKBI Aceh, Naya memimpin para fasilitator muda untuk memberikan edukasi tentang kesehatan reproduksi, pencegahan napza, dan partisipasi remaja di sekolah serta posyandu. Program tersebut kini telah menjangkau lebih dari 200 remaja di 10 puskesmas di Aceh.

“Kami hidupkan lagi. Karena remaja lebih mudah bicara dengan remaja, kami turun langsung ke lapangan untuk edukasi,” ujarnya.

Bagi Naya, kepemimpinan dalam konteks ini bukan sekadar mengarahkan, tetapi menciptakan ruang aman agar remaja bisa berkembang dan percaya diri.

“Saya belajar untuk memimpin dengan empati, agar mereka dapat berkontribusi dengan cara terbaiknya,” katanya.

Dari Ide ke Aksi Nyata

Sebagai ketua tim Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) Video Gagasan Konstruktif (VGK), Naya mengangkat gagasan tentang edukasi stunting berbasis budaya lokal Gayo Lues.

“Pengembangan gagasan edukasi stunting berbasis pembelajaran inovatif dengan kearifan lokal Gayo Lues,” tulisnya.

Melalui proyek itu, ia berusaha menjembatani pesan kesehatan dengan pendekatan budaya, agar lebih mudah dipahami oleh masyarakat pedesaan.

Inovasi lain muncul ketika Naya membina tim LUNGY (Lung Healthy), penerima Hibah Program Youth for Health Impact UNICEF Aceh 2025.

“Saya membimbing BEM remaja untuk menciptakan inovasi edukasi tentang bahaya asap rokok bagi anak melalui metode eksperimen sains dan maskot edukatif ‘Lungy’,” tulisnya.

Proyek ini tidak hanya meningkatkan kesadaran publik tentang kesehatan anak, tetapi juga menumbuhkan kreativitas remaja untuk berinovasi secara ilmiah dan menyenangkan.

Menemukan Makna di Future Leaders Camp 2025

Kesempatan mengikuti Future Leaders Camp (FLC) 2025 menjadi pengalaman berharga bagi Naya.

“Kesannya senang banget, bahkan nggak bisa diungkapkan, biasanya aku ketemu di forum yang lingkupnya kecil aja, tapi di sini ketemu teman-teman dari seluruh Sumatera, orang-orang keren,” ungkapnya.

Lewat pertemuan lintas daerah itu, Naya melihat kepemimpinan dari sudut pandang yang lebih luas.

“Dulu aku pikir memimpin di kampus aja sudah cukup besar, tapi ternyata kita bisa berdampak lebih luas bahkan sampai membuka lapangan pekerjaan dan membantu masyarakat,” katanya dengan mata berbinar.

Sepulang dari FLC, Naya bertekad membagikan pengalaman tersebut di kampusnya.

“Aku satu-satunya yang lolos dari kampus, jadi rasanya kayak punya tanggung jawab untuk berbagi pengalaman ini,” tuturnya.

FLC juga menjadi momen refleksi baginya tentang arti ketahanan seorang pemimpin.

“Kadang aku merasa capek, kayak cukup sampai sini aja. Tapi setelah FLC, aku sadar bahwa dampak yang panjang itu justru berarti. Jadi semangatnya kebakar lagi,” ujarnya sambil tertawa kecil.

Pemimpin Muda yang Menginspirasi

Kisah Naya menunjukkan bahwa kepemimpinan sejati tumbuh dari empati dan aksi nyata. Ia menjadikan ilmu yang dipelajari sebagai alat pelayanan, bukan sekadar pengetahuan di atas kertas.

Melalui semangat yang ia bawa dari Future Leaders Camp 2025, Inayah Alya menjadi cerminan pemimpin muda Aceh yang kolaboratif, peduli, dan berorientasi pada kemaslahatan masyarakat. Suaranya memang lembut, namun dampaknya nyata—menyalakan harapan bagi generasi yang lebih sehat dan inklusif di Aceh.

Ustaz Masrul Aidi Nilai Kesimpulan Polisi Soal Motif Pembakaran Dayah Babul Maghfirah Terlalu Prematur

0
Pimpinan Dayah Babul Maghfirah, Ustaz Masrul Aidi Lc. (Foto: Net)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Pimpinan Dayah Babul Maghfirah, Ustaz Masrul Aidi Lc, menyesalkan kesimpulan penyidik Polresta Banda Aceh yang dinilai terlalu tergesa-gesa dalam menetapkan motif pembakaran asrama santri di dayah tersebut. Peristiwa kebakaran itu terjadi pada Jumat dini hari (31/10/2025).

Ia membantah keras narasi yang menyebut bahwa motif utama pelaku pembakaran adalah korban bullying.

“Kesimpulan yang disampaikan oleh penyidik Polresta Banda Aceh itu terlalu prematur, dan dijadikan serangan oleh pihak-pihak yang tidak senang kepada dayah, seolah-olah dayah ini tempat pembulian,” ujar Ustaz Masrul Aidi dalam keterangannya yang dikirim kepada wartawan, Jumat malam (7/11/2025).

Menurutnya, tuduhan bahwa pembakaran dipicu oleh tindakan bullying tidak masuk akal dan justru berpotensi merusak nama baik lembaga pendidikan Islam. Ia menilai aparat seharusnya lebih berhati-hati sebelum mempublikasikan hasil penyelidikan yang belum matang.

Ustaz Masrul juga menguraikan sejumlah alasan yang membuat pihaknya meragukan motif tersebut. Pertama, pelaku merupakan santri kelas tiga SMA atau tingkat paling senior di dayah.

“Tidak ada lagi senior di atas dia, karena dia yang senior,” jelasnya.

Kedua, pelaku diketahui memiliki saudara kembar yang satu kelas dengannya. “Kalau benar dibully, masa abangnya tidak tahu? Dan mengapa selama tiga tahun tidak melapor?” katanya.

Selain itu, pelaku dikenal berprestasi dan pernah mewakili dayah dalam lomba cerdas cermat.

“Biasanya anak yang dibully tidak percaya diri dan sulit berprestasi. Jadi alasan bullying ini sangat lemah,” tambahnya.

Lebih lanjut, Ustaz Masrul juga menilai motif yang disebut hanya karena ejekan seperti “bodoh” atau “tolol” tidak logis. Ia menilai tindakan ekstrem seperti membakar asrama tidak mungkin dilakukan oleh seseorang yang dianggap lemah hanya akibat ejekan semacam itu.

Pihak dayah justru menduga ada faktor lain di balik tindakan pelaku. Berdasarkan informasi keluarga, pelaku berasal dari rumah tangga yang tidak harmonis dan pernah mengalami depresi berat hingga mencoba meminum kapur barus.

Selain itu, pelaku disebut aktif bermain game online Roblox, yang diduga memicu perilaku berisiko akibat tantangan di dalam permainan.

“Bahkan ada keterangan dari teman sekamarnya bahwa pelaku sempat bilang ingin membakar asrama supaya bisa libur lebih lama,” ungkapnya.

Ustaz Masrul menegaskan bahwa Dayah Babul Maghfirah selalu menanamkan nilai akhlak mulia, kesantunan, serta penghormatan antar santri. Ia berharap pihak kepolisian dapat melakukan klarifikasi lebih mendalam sebelum menyimpulkan hasil penyelidikan kepada publik.

“Kesimpulan dari penyidik kepolisian yang disampaikan oleh Kapolresta Kombes Pol Joko Heri Purwono itu sangat prematur. Kami berharap agar penyidik kepolisian menyajikan informasi yang berimbang dan tidak merugikan citra pendidikan Islam di Aceh,” pungkas Ustaz Masrul Aidi.

Ibu Korban Pengeroyokan Siswa SMK 1 Bireuen Ungkap Kejanggalan Jumlah Pelaku di TikTok

0
Ibu Korban Pengeroyokan Siswa SMK 1 Bireuen Ungkap Kejanggalan Jumlah Pelaku di TikTok. (Foto: Tangkapan Layar)

NUKILAN.ID | BIREUEN – Seorang ibu di Bireuen, Rosna, menyuarakan kekecewaannya melalui sebuah video yang viral di TikTok terkait kasus pengeroyokan yang menimpa anaknya, siswa kelas 10 SMK Negeri 1 Bireuen.

Dilansir Nukilan.id dari akun TikTok-nya, @dinamarianaa43221, Rosna mempertanyakan ketidaksesuaian jumlah pelaku yang disebut pihak sekolah dengan informasi yang ia peroleh. Peristiwa tersebut terjadi pada Agustus 2025 lalu. Melalui video itu, ia menuliskan, “Pelaku pengeroyokan abang kelas mulanya 25 orang menjadi 6 orang, 14 orang lagi kemana ya? #smknegeri1Bireuen.”

Rosna mengaku heran karena pihak sekolah melaporkan kepada kepolisian bahwa hanya enam siswa yang terlibat sebagai pelaku, sedangkan lainnya dianggap hanya menonton. Padahal, menurutnya, tak lama setelah kejadian, pihak sekolah sempat menghubunginya dan menyampaikan bahwa sekitar 22 pelaku telah teridentifikasi. Saat itu, sekolah juga menawarkan penyelesaian kasus secara kekeluargaan.

“Tapi saya sudah melaporkannya ke polres,” ujar Rosna.

Ia menambahkan bahwa pihak sekolah kemudian memintanya menandatangani surat pernyataan bahwa ia menolak berdamai dan memilih melanjutkan proses hukum.

Rosna juga mengatakan bahwa sekolah menyarankannya mencari informasi sendiri berdasarkan keterangan anaknya. Ia menilai perubahan informasi terkait jumlah pelaku menimbulkan tanda tanya besar. Ia menyebut banyak saksi yang melihat langsung anaknya dipukuli di dua lokasi berbeda, yakni di lapangan dan di kelas.

“Saksinya cukup banyak,” ujarnya.

Ia berharap pihak sekolah dapat bekerja sama dengan kepolisian untuk mengungkap kasus ini secara terang-benderang demi mencegah peristiwa serupa terjadi kembali.

Rosna juga mengajak masyarakat Indonesia, serta memohon perhatian Gubernur dan Bupati Bireuen, untuk membantu mengawal kasus ini. Ia menegaskan bahwa dirinya menolak berdamai agar ada efek jera bagi para pelaku.

“Saya berharap semoga yang terjadi kepada anak saya ini adalah yang terakhir… makanya saya tidak mau damai supaya ada efek jera untuk anak anak ini,” tegasnya. (XRQ)

Reporter: AKIL

266 Desa di Aceh Timur Ditetapkan Rawan Banjir, Warga Diminta Waspada

0
Personel Polsek Simpang Jernih memantau daerah aliran sungai di Simpang Jernih, Kabupaten Aceh Timur, Jumat (7/11/2025) (FOTO: ANTARA/HO-Polsek Simpang Jernih)

NUKILAN.ID | IDI RAYEUK – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Aceh Timur menetapkan sebanyak 266 desa atau gampong di wilayah tersebut masuk dalam kategori rawan banjir, terutama saat hujan deras dengan intensitas tinggi melanda kawasan itu.

Kepala Pelaksana BPBD Aceh Timur, Ashadi, mengatakan pihaknya telah memetakan daerah-daerah yang berpotensi terendam air jika hujan terjadi dalam waktu lama.

“Ada sebanyak 266 gampong di Kabupaten Aceh Timur rawan banjir saat hujan lebat atau intensitas tinggi dan dalam waktu lama,” ujar Ashadi di Aceh Timur, Jumat (7/11/2025).

Ia mengingatkan masyarakat, khususnya yang tinggal di wilayah pedalaman dan di sekitar aliran sungai, agar tetap waspada. Musim penghujan yang mulai melanda sejumlah kawasan di Aceh disebut dapat meningkatkan risiko luapan air sungai secara tiba-tiba.

“Kami ingatkan masyarakat, terutama di daerah aliran sungai lebih berhati-hati karena luapan sungai dapat terjadi sewaktu-waktu. Jika banjir terjadi, segera informasikan,” kata Ashadi.

Sebagai langkah antisipatif, BPBD Aceh Timur telah menyiagakan personel dan menyiapkan sejumlah perlengkapan darurat seperti tenda pengungsian dan perahu karet untuk membantu evakuasi warga jika bencana terjadi.

Sementara itu, jajaran kepolisian juga turut melakukan pemantauan di sejumlah titik rawan. Personel Polsek Simpang Jernih misalnya, melakukan patroli rutin di sepanjang Daerah Aliran Sungai (DAS) Simpang Jernih yang kerap meluap saat hujan deras.

Kapolsek Simpang Jernih, Ipda Safwadinur, mengatakan kegiatan patroli tersebut merupakan langkah preventif dalam mendeteksi potensi bencana alam di wilayah pedalaman Aceh Timur.

“Patroli merupakan langkah preventif kepolisian dalam memantau wilayah rawan bencana alam, khususnya di sekitar aliran sungai yang berpotensi meluap saat intensitas hujan tinggi,” katanya.

Ia menuturkan, sejumlah desa di Kecamatan Simpang Jernih seperti Desa Batu Sumbang, Desa Pante Kera, dan Desa Simpang Jernih, kerap mengalami genangan air hingga banjir setiap kali curah hujan tinggi.

“Kami juga memerintahkan personel, termasuk Bhabinkamtibmas agar selalu monitor daerah-daerah tersebut dan berkoordinasi dengan para perangkat desa yang daerahnya tergolong daerah rawan bencana atau banjir,” ujar Safwadinur.

Pemerintah daerah dan aparat keamanan pun mengimbau warga agar tetap waspada terhadap perubahan cuaca ekstrem serta aktif melaporkan setiap potensi bencana yang muncul.

Oknum Polisi Syariah di Banda Aceh Ditangkap Warga karena Diduga Berbuat Mesum

0
Ilustrasi, (Foto: Antara)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH — Seorang anggota Satuan Polisi Pamong Praja dan Wilayatul Hisbah (Satpol PP-WH) Banda Aceh berinisial TRA (28) ditangkap warga setelah diduga berbuat mesum dengan seorang perempuan berinisial AM (23) di kawasan Desa Lamteumen Timur, Kota Banda Aceh, pada Jumat (7/11/2025) dini hari.

Peristiwa itu terjadi sekitar pukul 02.00 WIB, saat warga mencurigai keberadaan keduanya di lokasi tersebut. Setelah diamankan, pasangan itu kemudian diserahkan kepada Satpol PP/WH Kota Banda Aceh untuk pemeriksaan lebih lanjut.

“Iya benar (anggota Polisi Syariah). Status mereka pacaran,” kata Kasatpol PP/WH Banda Aceh, Muhammad Rizal, saat dikonfirmasi Kompas.com, Jumat (7/11/2025).

Rizal menjelaskan, dari hasil pemeriksaan awal, keduanya terbukti melanggar ketentuan syariat Islam yang berlaku di Aceh. “Keduanya terbukti melanggar syariat dan akan diproses sesuai ketentuan hukum yang berlaku,” ujarnya.

Rizal menegaskan, pihaknya tidak akan mentoleransi pelanggaran hukum syariat, termasuk yang dilakukan oleh aparat penegak syariat sendiri.
“Siapapun yang terlibat kita tindak tegas,” ucapnya.

Lebih lanjut, Rizal menyebutkan bahwa selain dikenai sanksi berdasarkan Qanun Jinayah, oknum anggota Polisi Syariah tersebut juga akan menjalani proses kepegawaian di lingkungan pemerintah Kota Banda Aceh.
“Selain proses hukum, kami juga akan lapor ke wali kota,” pungkasnya.

Menurut Rizal, Badan Kepegawaian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BKPSDM) Kota Banda Aceh akan menindaklanjuti pelanggaran disiplin pegawai tersebut sesuai ketentuan yang berlaku.

Kasus ini menambah daftar pelanggaran etik dan syariat yang melibatkan aparat penegak hukum di Aceh, sekaligus menjadi ujian bagi komitmen pemerintah daerah dalam menegakkan aturan tanpa pandang bulu.

Polisi Tangkap Trio Spesialis Pembobol Toko Grosir Aceh di Gerbang Tol Kisaran

0
Polisi Tangkap Trio Spesialis Pembobol Toko Grosir Aceh di Gerbang Tol Kisaran. (Foto: Polda Aceh)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Pelarian tiga pria yang diduga sebagai spesialis pembobol toko grosir di Aceh berakhir sudah. Tim Jatanras Polda Aceh bersama Satreskrim Polres Lhokseumawe berhasil menangkap mereka di gerbang Tol Kisaran, Sumatera Utara, pada Kamis (6/11/2025) dini hari.

Ketiga pelaku yang ditangkap masing-masing berinisial MY dan AU, warga Sumatera Utara, serta MN, warga Aceh Timur. Penangkapan tersebut dilakukan setelah polisi menindaklanjuti laporan pembobolan Toko Grosir Sinar Arun 2 di Kecamatan Dewantara, Kabupaten Aceh Utara.

“Tim Jatanras Polda Aceh dan Satreskrim Polres Lhokseumawe telah menangkap tiga pelaku curat yang beroperasi di sejumlah wilayah di Aceh,” ujar Kabid Humas Polda Aceh Kombes Joko Krisdiyanto kepada wartawan.

Berdasarkan hasil penyelidikan, polisi mengetahui keberadaan para pelaku yang tengah melintas di Sumatera Utara. Petugas kemudian menghadang kendaraan yang ditumpangi ketiganya di gerbang Tol Kisaran. Ketiganya tak berkutik saat diamankan tanpa perlawanan.

Dari hasil pemeriksaan, para pelaku diketahui telah beraksi tujuh kali di empat kabupaten di Aceh, yakni tiga kali di Lhokseumawe, satu kali di Pidie Jaya, dua kali di Aceh Tamiang, dan satu kali di Bener Meriah.
“Para pelaku ini tergolong kelompok spesialis pencurian toko grosir,” jelas Joko.

Kini, ketiga pelaku telah ditahan di Polda Aceh. Penyidik Ditreskrimum juga berkoordinasi dengan satuan reserse kriminal di berbagai polres untuk mengumpulkan seluruh laporan yang berkaitan dengan aksi kejahatan mereka.

Mantan Kapolresta Banda Aceh itu menegaskan bahwa penangkapan ini merupakan bukti keseriusan Polda Aceh dalam menindak tegas setiap pelaku kejahatan yang meresahkan masyarakat dan pelaku usaha.

“Kami tidak akan memberi ruang bagi pelaku kriminalitas yang meresahkan dan dapat mengganggu kamtibmas, apalagi berdampak pada aktivitas ekonomi warga. Hal ini selaras dengan poin keempat Commander Wish Kapolda Aceh Irjen Pol. Marzuki Ali Basyah, yaitu Peningkatan Harkamtibmas,” tegasnya.

Dengan tertangkapnya tiga pelaku tersebut, polisi berharap kasus pencurian toko grosir di sejumlah wilayah Aceh dapat terungkap secara menyeluruh, serta menjadi peringatan bagi kelompok kriminal lain yang mencoba beraksi di Tanah Rencong.

BNN Musnahkan 69 Ton Ganja di Aceh Utara, Tegaskan Komitmen Wujudkan Indonesia Bersinar

0
BNN Musnahkan 69 Ton Ganja di Aceh Utara. (Foto: BNN)

NUKILAN.ID | LHOKSUKON – Sebanyak 69 ton ganja atau sekitar 97.000 batang tanaman ganja dimusnahkan oleh Badan Narkotika Nasional (BNN) di kawasan Desa Teupin Reusep, Kecamatan Sawang, Kabupaten Aceh Utara, Kamis (6/11/2025).

Pemusnahan ini dilakukan langsung di lokasi ladang ganja yang tersebar di enam titik dengan ketinggian antara 194 hingga 301 meter di atas permukaan laut. Total luas lahan mencapai sekitar 6,5 hektare.

Kegiatan ini melibatkan 151 personel gabungan dari unsur BNN, TNI, Polri, Satpol PP, Kejaksaan Negeri Aceh, Bea dan Cukai, Dinas Pertanian, serta Dinas Kehutanan. Sebelum menuju lokasi, seluruh personel mengikuti apel di halaman Masjid Desa Alue Ie Mudek, Kecamatan Sawang, sekitar pukul 07.00 WIB.

Perjalanan ke lokasi ladang ganja tidak mudah. Setelah menempuh jalur kendaraan, tim harus melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki sejauh satu kilometer melewati medan berbatu dan perbukitan.

Koordinator Lapangan, Kombes Pol Heru Yulianto, menjelaskan bahwa operasi ini merupakan bagian dari komitmen BNN dalam mendukung program Indonesia Bersinar (Bersih Narkoba) yang sejalan dengan Asta Cita Presiden Prabowo Subianto dalam upaya pemberantasan narkotika.

“Seluruh kegiatan penindakan ini merupakan implementasi dari Pasal 92 ayat (1) dan (2) Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika, yang mewajibkan pemusnahan tanaman narkotika yang ditemukan di wilayah Indonesia,” ujar Heru.

Ia menambahkan, temuan ladang ganja di wilayah tersebut merupakan hasil penyelidikan dan pemetaan wilayah rawan narkotika di Provinsi Aceh. Namun hingga kini, pemilik lahan belum berhasil diidentifikasi.

Heru menyebut, Desa Teupin Reusep merupakan salah satu wilayah yang menjadi pilot project Program Grand Design Alternative Development (GDAD) yang diinisiasi oleh BNN, selain Aceh Besar, Bireuen, dan Gayo Lues.

“Temuan ladang ganja di wilayah ini menjadi perhatian khusus BNN untuk memperkuat program Alternative Development melalui pelatihan keterampilan dan pendampingan masyarakat agar beralih dari menanam ganja ke komoditas pertanian yang legal dan bernilai ekonomi,” jelasnya.

Pemusnahan ganja tersebut menjadi salah satu langkah nyata dalam mencegah Aceh kembali menjadi basis produksi narkotika di Indonesia.

Lebih lanjut, Kombes Heru yang juga Kasatgas Ladang Ganja BNN Pusat, menegaskan bahwa semangat pemberantasan narkoba kini dilakukan dengan pendekatan “War on Drugs for Humanity” – perang melawan narkoba demi kemanusiaan.

“Kami mengimbau masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan serta berani melaporkan setiap indikasi penyalahgunaan dan peredaran narkotika. Satu laporan adalah bentuk nyata kepedulian dalam menyelamatkan generasi bangsa,” pungkasnya.

Langkah BNN ini sekaligus menegaskan bahwa pemberantasan narkoba tidak hanya soal penindakan, tetapi juga transformasi sosial dan ekonomi masyarakat agar terbebas dari ketergantungan pada tanaman terlarang.