Beranda blog Halaman 18

Kapolda Aceh Salurkan Bantuan untuk Bayi yang Ditemukan di Masjid Leupe Lamno

0
Kapolda Aceh Salurkan Bantuan untuk Bayi yang Ditemukan di Masjid Leupe Lamno. (Foto: For Nukilan)

NUKILAN.ID | CALANG – Bantuan kemanusiaan dari Kapolda Aceh menjadi perhatian publik setelah ditemukannya seorang bayi di Masjid Leupe, kawasan Lamno, Kabupaten Aceh Jaya, Jumat (27/3/2026).

Bantuan tersebut diberikan langsung oleh Kapolda Aceh, Irjen Pol. Drs. Marzuki Ali Basyah, M.M., sebagai bentuk kepedulian terhadap sesama, khususnya anak yang membutuhkan perlindungan dan perhatian.

Penyaluran bantuan dilakukan melalui Kapolres Aceh Jaya, AKBP Zulfa Renaldo, yang diwakili oleh Wakapolres Kompol Ricky Andrika, S.H., S.E., M.H. Kegiatan ini turut didampingi Kabag Ops serta jajaran Satreskrim Polres Aceh Jaya sebagai bagian dari respons cepat kepolisian terhadap peristiwa yang menyita perhatian masyarakat.

Kabid Humas Polda Aceh, Kombes Pol. Joko Krisdiyanto, S.I.K., menjelaskan bahwa langkah tersebut mencerminkan kehadiran Polri tidak hanya dalam menjaga keamanan, tetapi juga dalam memberikan dukungan sosial kepada masyarakat.

“Langkah ini mencerminkan kehadiran Polri tidak hanya dalam menjaga keamanan, tetapi juga dalam memberikan dukungan sosial kepada masyarakat,” ujar Joko.

Aksi kemanusiaan ini dinilai sebagai wujud nyata kepedulian institusi kepolisian terhadap kondisi sosial di tengah masyarakat, terutama bagi anak-anak yang membutuhkan perlindungan khusus.

Masyarakat Aceh Jaya pun memberikan apresiasi atas langkah tersebut. Mereka menilai bantuan dari Kapolda Aceh menjadi simbol kuat solidaritas sosial sekaligus menunjukkan bahwa Polri hadir dengan empati dalam membantu masyarakat.

Peristiwa ini diharapkan menjadi pengingat akan pentingnya kepedulian bersama terhadap sesama, sekaligus memperkuat kepercayaan publik terhadap peran kepolisian dalam aspek sosial kemasyarakatan.

Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News

Kadishub Aceh Apresiasi Polda Aceh atas Kelancaran Arus Mudik Lebaran

0
Kepala Dinas Perhubungan Aceh, Teuku Faisal. (Foto: For Nukilan)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Kepala Dinas Perhubungan Aceh, Teuku Faisal, menyampaikan apresiasi kepada jajaran Polda Aceh atas keberhasilan menjaga kelancaran arus lalu lintas serta keamanan selama perayaan Idulfitri 1447 Hijriah dan masa libur panjang Lebaran di seluruh wilayah Aceh.

Menurutnya, pengamanan yang dilakukan oleh aparat kepolisian bersama instansi terkait berjalan optimal, sehingga memberikan rasa aman dan nyaman bagi masyarakat yang melakukan perjalanan mudik maupun arus balik.

Kadishub Aceh menilai, pengaturan dan pengamanan lalu lintas selama periode Lebaran berlangsung tertib dan terkendali, meskipun terjadi peningkatan mobilitas masyarakat secara signifikan.

“Hal tersebut menunjukkan kesiapan yang matang dari jajaran kepolisian serta koordinasi yang efektif dengan seluruh pemangku kepentingan di sektor transportasi,” ujarnya Jum’at, (27/3/2026).

Ia menegaskan, kelancaran aktivitas masyarakat selama Idulfitri tidak terlepas dari sinergi kuat antara Dinas Perhubungan Aceh dan Polda Aceh, terutama melalui koordinasi intensif sebelum hingga selama pelaksanaan pengamanan berlangsung. Kolaborasi ini dinilai menjadi faktor penting dalam memastikan arus kendaraan tetap lancar dan aman di sejumlah jalur strategis di Aceh.

Lebih lanjut, ia juga menyoroti peran Direktorat Lalu Lintas Polda Aceh dalam mendukung pengaturan arus mudik dan arus balik tahun ini. Menurutnya, koordinasi antara Dishub Aceh, Polda Aceh, serta para pemangku kepentingan transportasi berjalan sangat baik dan memberikan dampak positif terhadap stabilitas lalu lintas selama momentum Lebaran.

Ia menambahkan, keberhasilan pengamanan Idulfitri tahun ini menjadi bukti bahwa sinergi antarlembaga mampu menghadirkan layanan transportasi yang aman, tertib, dan nyaman bagi masyarakat.

Ke depan, kolaborasi tersebut diharapkan terus diperkuat guna menjaga kualitas pelayanan transportasi publik di Aceh, terutama pada momentum dengan mobilitas tinggi seperti arus mudik Lebaran.

Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News

TKD Rp 824,8 Miliar untuk Aceh Disalurkan ke 15 SKPA, Bupati Aceh Tengah Minta Prioritaskan Kebutuhan Daerah Terdampak

0
Bupati Aceh Tengah, Haili Yoga. (Foto: For Nukilan)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Pemerintah pusat melalui Kementerian Keuangan Republik Indonesia menetapkan tambahan Transfer ke Daerah (TKD) Tahun Anggaran 2026 bagi wilayah terdampak bencana di Aceh dan sejumlah daerah di Sumatera.

Kebijakan tersebut tertuang dalam Keputusan Menteri Keuangan Nomor 56 Tahun 2026 yang mengatur penyesuaian alokasi TKD, meliputi Dana Bagi Hasil (DBH), Dana Alokasi Umum (DAU), serta Dana Otonomi Khusus.

Dalam skema itu, pengembalian TKD untuk Provinsi Aceh sebesar Rp 824,8 miliar akan disalurkan melalui berbagai program penanganan kebencanaan yang tersebar pada 15 Satuan Kerja Perangkat Aceh (SKPA).

Hal tersebut mengemuka dalam kegiatan Monitoring dan Evaluasi (Monev) penggunaan tambahan TKD pascabencana yang digelar di Gedung Serbaguna Kantor Gubernur Aceh, Kamis (26/3/2026).

Pada kesempatan itu, Bupati Aceh Tengah, Haili Yoga, menyampaikan sejumlah persoalan prioritas di daerahnya yang membutuhkan perhatian serius, khususnya terkait dampak bencana terhadap infrastruktur dan kondisi perekonomian.

Ia menjelaskan, kerusakan jalan dan jembatan pada jalur strategis, termasuk lintas KKA dan Bireuen menuju Aceh Tengah, menjadi salah satu faktor meningkatnya biaya distribusi barang dan jasa yang berdampak pada inflasi daerah.

Selain itu, kondisi jalan di kawasan seputaran Danau Laut Tawar hingga jalur penghubung ke Kabupaten Gayo Lues masih dalam kondisi darurat dan rawan longsor, terutama saat musim hujan, sehingga mengganggu mobilitas masyarakat.

“Kami berharap dukungan program dari provinsi maupun pusat dapat disesuaikan dengan kebutuhan riil skala prioritas daerah terdampak, terutama untuk infrastruktur jalan, jembatan, dan akses produksi masyarakat,” ujar Haili Yoga.

Tak hanya sektor infrastruktur, pemerintah daerah juga menyoroti kebutuhan pembangunan hunian tetap (huntap) bagi masyarakat terdampak bencana. Program tersebut masih terkendala persoalan pembebasan lahan dan administrasi, termasuk status kepemilikan lahan yang sebagian berada di bawah kewenangan Pemerintah Provinsi Aceh.

Di sektor ekonomi, Pemkab Aceh Tengah mendorong dukungan terhadap sektor pertanian, khususnya bagi petani cabai yang membutuhkan bantuan bibit dan sarana produksi seperti mulsa guna meningkatkan produktivitas pascabencana hidrometeorologi.

Sementara itu, sektor pariwisata di kawasan Danau Laut Tawar dinilai belum mendapatkan perhatian optimal, padahal memiliki potensi besar sebagai sumber pendapatan daerah serta daya tarik wisatawan, termasuk dari luar Aceh seperti Sumatera Utara.

Persoalan kebersihan juga menjadi sorotan, terutama terkait keterbatasan armada pengangkut sampah untuk menunjang pelayanan publik yang lebih maksimal.

Melalui penyaluran tambahan TKD tersebut, Bupati Haili Yoga berharap program penanganan pascabencana dapat berjalan lebih efektif dan tepat sasaran, serta mampu mendorong percepatan pemulihan ekonomi dan peningkatan kesejahteraan masyarakat di daerah terdampak.

Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News

BMKG Perkirakan Banda Aceh Diguyur Hujan Ringan Tiga Hari ke Depan

0
Ilustrasi hujan. (Foto: Ist)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melalui Stasiun Meteorologi Kelas I Sultan Iskandar Muda memprediksi cuaca di Banda Aceh akan didominasi hujan ringan selama tiga hari ke depan, mulai Minggu hingga Selasa, 29–31 Maret 2026.

Pada Minggu (29/3), hujan ringan diperkirakan terjadi dengan suhu udara berkisar antara 25 hingga 26 derajat Celsius dan tingkat kelembaban mencapai 87 hingga 91 persen.

Kondisi serupa diprediksi berlanjut pada Senin (30/3). Hujan ringan diperkirakan merata di seluruh kecamatan, dengan suhu udara berada pada rentang 24 hingga 30 derajat Celsius dan kelembaban antara 69 hingga 95 persen.

Memasuki Selasa (31/3), hujan ringan masih berpotensi terjadi dengan suhu udara relatif stabil di kisaran 24 hingga 30 derajat Celsius serta tingkat kelembaban 68 hingga 95 persen.

Selama periode tersebut, seluruh kecamatan di Banda Aceh seperti Meuraxa, Ulee Kareng, Syiah Kuala, Baiturrahman, Banda Raya, Lueng Bata, Kuta Raja, Kuta Alam, dan Jaya Baru diperkirakan mengalami kondisi hujan ringan dengan suhu yang cenderung stabil.

Sementara itu, Stasiun Meteorologi Malikussaleh Aceh Utara juga merilis prakiraan cuaca untuk wilayah Aceh bagian utara dan timur dalam tiga hari ke depan, mulai Senin (30/3) hingga Rabu (1/4).

Berdasarkan informasi yang dihimpun Nukilan.id dari unggahan resmi BMKG Malikussaleh, enam daerah diperkirakan mengalami variasi cuaca, yakni Bener Meriah, Bireuen, Lhokseumawe, Aceh Utara, Aceh Timur, dan Langsa.

Pada Senin (30/3), wilayah Bener Meriah, Lhokseumawe, dan Aceh Timur diperkirakan berawan, sementara Bireuen, Aceh Utara, dan Langsa berpotensi diguyur hujan ringan. Kondisi ini relatif tidak berubah pada Selasa (31/3), dengan tiga wilayah tetap berawan dan tiga lainnya masih mengalami hujan ringan.

Memasuki Rabu (1/4), cuaca berawan diprediksi terjadi di Bener Meriah, Lhokseumawe, Aceh Timur, dan Langsa. Sementara hujan ringan masih berpotensi terjadi di Bireuen dan Aceh Utara.

Untuk suhu udara, wilayah dataran tinggi seperti Bener Meriah diperkirakan berada pada kisaran 16 hingga 28 derajat Celsius. Sedangkan wilayah pesisir dan dataran rendah seperti Langsa, Aceh Timur, Aceh Utara, Lhokseumawe, dan Bireuen memiliki suhu lebih tinggi, yakni berkisar antara 24 hingga 34 derajat Celsius. (XRQ)

Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News

Arus Balik Lebaran di Aceh Terpantau Lancar, Lalu Lintas Tetap Terkendali

0
Tol Sibanceh Seksi Padang Tiji–Seulimeum. (Foto: Dok PT Hutama Karya)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Kondisi lalu lintas pada puncak arus balik Lebaran 1447 Hijriah di Aceh terpantau normal dan terkendali. Meski demikian, sejumlah titik rawan kemacetan tetap menjadi perhatian petugas di lapangan.

Kasi Manajemen dan Rekayasa Lalu Lintas Dinas Perhubungan Aceh, Muhammad Daniel Sarumaha, mengatakan kelancaran arus balik ini tidak lepas dari koordinasi lintas instansi dalam pengaturan lalu lintas.

“Secara umum kondisi lalu lintas saat puncak arus balik terlihat normal dan terkendali,” ujarnya dalam Dialog Banda Aceh Menyapa, Kamis (26/3/2026).

Daniel menjelaskan, beberapa titik rawan kemacetan berada di kawasan jembatan yang mengalami kerusakan, salah satunya di wilayah Krungkem. Lokasi tersebut menjadi fokus pengawasan petugas guna mengantisipasi antrean kendaraan.

Untuk menjaga kelancaran, pihak Dinas Perhubungan bersama kepolisian telah menyiapkan rekayasa lalu lintas. Upaya ini dilakukan demi memastikan keamanan, keselamatan, dan kenyamanan pengguna jalan selama arus balik.

Selain itu, koordinasi juga dilakukan dengan pemerintah kabupaten dan kota di seluruh Aceh guna mengantisipasi potensi kepadatan di jalur-jalur utama.

Daniel mengungkapkan, pada arus balik tahun ini tidak terjadi peningkatan volume kendaraan yang signifikan. Kondisi ini berbeda dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya.

“Berdasarkan hasil survei, tidak terjadi lonjakan volume kendaraan pada tahun ini,” katanya.

Ia menilai, sejumlah faktor memengaruhi kondisi tersebut, di antaranya dampak bencana sebelumnya serta perubahan minat masyarakat untuk melakukan perjalanan.

Menurutnya, jika pada tahun-tahun sebelumnya arus kendaraan didominasi oleh wisatawan dari luar Aceh, maka tahun ini jumlahnya tidak sebanyak periode sebelumnya.

Meski kondisi lalu lintas relatif terkendali, petugas tetap disiagakan di sejumlah titik strategis selama arus balik berlangsung guna memastikan situasi tetap aman dan kondusif.

Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News

Wabup Aceh Tengah Tinjau Dua Titik Perbaikan Jalan di Celala, Pastikan Akses Aman bagi Warga

0
Wabup Aceh Tengah Tinjau Dua Titik Perbaikan Jalan di Celala, Pastikan Akses Aman bagi Warga. (Foto: Humas AT)

NUKILAN.ID | TAKENGON – Wakil Bupati Aceh Tengah, Muchsin Hasan, melakukan monitoring terhadap dua titik perbaikan jalan di Kecamatan Celala, Kamis (26/3/2026). Kegiatan ini dilakukan untuk memastikan proses pengerjaan berjalan sesuai kebutuhan serta menjamin keselamatan masyarakat yang melintas.

Pada peninjauan tersebut, Muchsin menegaskan pentingnya pelaksanaan pekerjaan yang tepat sasaran agar tidak merugikan warga sekitar, terutama di lokasi-lokasi yang terdampak kerusakan jalan.

Titik pertama yang dikunjungi berada di Kampung Blang Kekumur, tepatnya di ruas Jalan Genting Gerbang–Celala. Jalan ini merupakan jalan nasional yang dikerjakan oleh mitra Kementerian Pekerjaan Umum, yakni Adhi Karya.

Di lokasi tersebut, jalan mengalami amblas sehingga kontraktor harus membuka jalur baru yang melintasi lahan milik warga. Tercatat, terdapat sekitar 13 pemilik lahan yang terdampak dalam proses pembangunan jalan alternatif tersebut.

Reje Kampung Blang Kekumur, Adam Malik, mengungkapkan adanya kendala di lapangan terkait permintaan warga yang menginginkan pembayaran lahan dilakukan lebih dulu sebelum pekerjaan dilanjutkan.

“Masyarakat yang lahannya terpakai meminta untuk penggantian uang terlebih dahulu baru pekerjaan dapat dilaksanakan di lahan mereka,” ungkap Adam.

Menanggapi hal itu, Muchsin meminta pengertian dan kerja sama dari masyarakat agar proses perbaikan jalan dapat segera dilanjutkan, mengingat kondisi jalan yang berisiko bagi pengguna.

“Kami atas nama Pemerintah Kabupaten Aceh Tengah memohon kerja sama masyarakat pemilik lahan untuk pengerjaan perbaikan jalan didahulukan sembari menunggu Senin pihak Balai dan KJPP datang menilai tanah. Ini juga untuk keselamatan masyarakat yang melalui jalan ini,” ujar Muchsin.

Ia menambahkan, pemerintah daerah akan berupaya mendorong Balai Pelaksana Jalan Nasional (BPJN) agar dapat membebaskan lahan yang digunakan sebagai jalur alternatif melalui mekanisme yang berlaku.

Selain itu, perwakilan masyarakat juga mengusulkan normalisasi aliran sungai yang terdampak pekerjaan jalan agar kembali ke kondisi semula.

Sebelum melanjutkan ke lokasi kedua, Muchsin bersama rombongan menyerahkan bantuan berupa 23 unit rice cooker kepada warga terdampak berat di Kampung Kuyun Uken. Bantuan tersebut bersumber dari Baitul Mal dan diterima oleh Petue Kampung, Jalal.

Warga Kuyun Uken juga mengusulkan perbaikan jembatan lama yang sebelumnya digunakan sebagai akses alternatif, mengingat jembatan darurat berada di atas lahan milik warga.

Menanggapi hal tersebut, Muchsin langsung menginstruksikan Dinas PUPR untuk melakukan perbaikan jembatan menggunakan armco yang sebelumnya dimanfaatkan di lokasi pertama.

Sementara itu, pada titik kedua yang berada di jalan penghubung Kecamatan Pegasing dan Celala—yang merupakan jalan kabupaten—juga ditemukan kondisi jalan amblas akibat longsor. Meski telah dilakukan perbaikan darurat, kondisi jalan dinilai masih sulit dilalui masyarakat.

Kepala Dinas PUPR Aceh Tengah, Pijas Visara, menjelaskan bahwa pihaknya akan melakukan normalisasi jalan dengan memanfaatkan lapisan aspal dasar, serta membangun jalur baru pada bagian yang amblas.

“Nantinya jalan akan mengikuti aspal dasar sehingga masyarakat tidak terlalu sulit melintasi jalan. Untuk jalan amblas kita akan buat lajur baru sehingga tidak membahayakan masyarakat yang melintas,” ungkap Pijas.

Turut hadir dalam kegiatan tersebut sejumlah pejabat daerah, di antaranya Asisten Pembangunan dan Perekonomian, Staf Ahli Bidang Keistimewaan Aceh, Masyarakat dan SDM, perwakilan BPBD, serta kepala dinas terkait seperti Pendidikan, Dukcapil, dan Sosial.

Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News

Bupati Aceh Timur Murka, Desak Kontrak Vendor Huntara Diputus

0
Bupati Aceh Timur, Provinsi Aceh, Iskandar Usman Al-Farlaky, meledak marah saat meninjau pembangunan hunian sementara (Huntara) di Desa Blang Seunong, Kecamatan Pante Bidari pada Sabtu, (28/3/ 2026).(FOTO: KOMINFO ACEH TIMUR)

NUKILAN.ID | IDI RAYEUK – Bupati Aceh Timur, Iskandar Usman Al-Farlaky, meluapkan kemarahannya saat meninjau langsung kondisi penyintas banjir di Desa Peulalu, Kecamatan Pante Bidari, Sabtu (28/3/2026).

Kemarahan itu dipicu lambannya pembangunan hunian sementara (Huntara) yang hingga kini belum rampung, sehingga warga masih bertahan di tenda pengungsian selama berbulan-bulan.

Dalam kunjungan tersebut, seorang penyintas bernama Ubama (45) mengungkapkan bahwa pembangunan Huntara di desanya belum selesai sepenuhnya.

“Hanya empat unit Huntara yang sudah siap ditempati, sisanya 13 unit belum siap. Padahal ini diusulkan oleh Bupati, dibangun BNPB, dan dikerjakan vendor. Tapi yang dimaki-maki dan disalahkan masyarakat itu Bupati,” tegas Al-Farlaky di hadapan perwakilan BNPB.

Merespons kondisi tersebut, Al-Farlaky secara tegas meminta Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) untuk segera mengevaluasi kinerja pelaksana proyek.

“Vendor tidak becus, putuskan kontraknya. Ganti dengan yang lain. Tidak ada satu pun video warga memaki-maki BNPB, saya yang dimaki-maki kalau Huntara ini tidak siap,” ujarnya.

Selain itu, Bupati juga mengkritik laporan BNPB yang menyebutkan tidak ada lagi pengungsi di Aceh Timur. Ia menilai kondisi di lapangan justru menunjukkan sebaliknya, di mana masih banyak warga yang belum bisa kembali ke rumah.

Menanggapi hal tersebut, perwakilan BNPB untuk Aceh Timur, Isroil Samihardjo, menyatakan pihaknya akan segera melakukan evaluasi terhadap seluruh vendor yang terlibat dalam pembangunan hunian sementara.

Ia juga berjanji akan mempercepat proses pengerjaan agar warga terdampak banjir dapat segera menempati hunian yang lebih layak.

Berdasarkan data hingga Jumat (27/3/2026), sebanyak 373 kepala keluarga (KK) atau sekitar 1.259 jiwa penyintas banjir di Aceh Timur masih berada di pengungsian. Mereka tersebar di 13 titik pengungsian di sembilan desa yang berada di Kecamatan Pante Bidari dan Kecamatan Serbajadi.

Pemerintah daerah berharap percepatan pembangunan Huntara dapat segera mengakhiri masa pengungsian warga dan memberikan tempat tinggal yang lebih layak bagi para penyintas.

Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News

Persiraja Tundukkan Sriwijaya FC 2-1, Jarak dengan PSMS Kian Melebar

0
Persiraja menumbangkan Sriwijaya FC di Stadion H Dimurthala, Banda Aceh, Sabtu (28/3/2026) (Foto: Instagrram persiraja_official)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Persiraja Banda Aceh meraih kemenangan dramatis 2-1 atas Sriwijaya FC dalam lanjutan Championship musim 2025/2026 di Stadion H. Dimurthala, Sabtu (28/3/2026) malam.

Amatan Nukilan.id, Laskar Rencong tampil efektif di hadapan pendukung sendiri meski mendapat tekanan dari tim tamu. Gol pembuka baru tercipta pada menit ke-63 melalui aksi Muh. Ariel Kurung yang berhasil memecah kebuntuan sekaligus membakar semangat tuan rumah.

Sepanjang pertandingan, Sriwijaya FC sebenarnya mampu memberikan perlawanan sengit. Tim tamu beberapa kali menciptakan peluang berbahaya, namun gagal mengubah kedudukan hingga babak pertama berakhir tanpa gol.

Memasuki paruh kedua, intensitas pertandingan meningkat. Kedua tim saling melancarkan serangan, dengan Sriwijaya FC berupaya mencuri poin di Banda Aceh. Namun hingga mendekati akhir laga, skor masih belum berubah.

Drama terjadi di menit-menit akhir pertandingan. Persiraja mendapat hadiah penalti pada menit ke-90 usai terjadi pelanggaran di dalam kotak terlarang. Omid Popalzay yang dipercaya sebagai algojo sukses menuntaskan tugasnya dan membawa Persiraja unggul 2-0.

Sriwijaya FC sempat memperkecil ketertinggalan melalui gol Sehbudin Ahmad pada menit ke-90. Namun waktu yang tersisa tidak cukup untuk menghindarkan mereka dari kekalahan.

Pertandingan ini juga diwarnai sejumlah pelanggaran keras. Wasit mengeluarkan beberapa kartu kepada pemain kedua tim, di antaranya untuk Rangga Pratama (88’), Rizky Dwi Nugraha Asyari (53’), Sehbudin Ahmad (55’), serta Fiwi Dwipan (25’).

Dari sisi atmosfer, laga ini disaksikan 2.698 penonton atau sekitar 34 persen dari kapasitas stadion. Dukungan suporter tuan rumah tetap mengalir hingga peluit panjang dibunyikan.

Kemenangan ini membuat Persiraja mengoleksi 34 poin dari 22 pertandingan dan menempati posisi kelima klasemen Wilayah 1 Championship 2025/2026. Hasil tersebut sekaligus membuat Persiraja unggul empat poin dari PSMS yang pada laga lain bermain imbang 1-1 melawan PSPS. (XRQ)

Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News

Satgas Rehab-Rekon Aceh Genjot Pembersihan Lingkungan lewat Skema Padat Karya Tunai

0
Masyarakat ikut dilibatkan dalam aksi bersih lingkungan terdampak bencana di Aceh. (Foto: Istimewa)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Satuan Tugas Rehabilitasi dan Rekonstruksi (Satgas Rehab-Rekon) Aceh terus mempercepat pemulihan wilayah terdampak bencana, salah satunya melalui program pembersihan lingkungan berbasis Padat Karya Tunai atau Cash for Work.

Kepala Posko Wilayah Aceh, Safrizal ZA, menyampaikan bahwa skema ini dirancang agar masyarakat tidak hanya merasakan dampak pembangunan secara fisik, tetapi juga memperoleh manfaat ekonomi secara langsung.

“Melalui Cash for Work, warga terlibat langsung dalam pemulihan wilayahnya sekaligus mendapatkan penghasilan instan untuk membantu kebutuhan mereka pasca lebaran,” ujar Safrizal dalam keterangan tertulis, Sabtu (28/3/2026).

Menurutnya, program rehabilitasi dan rekonstruksi tidak semata berfokus pada perbaikan infrastruktur, melainkan juga menyentuh pemulihan ekonomi rumah tangga masyarakat yang terdampak.

Safrizal yang juga menjabat sebagai Direktur Jenderal Bina Administrasi Kewilayahan Kementerian Dalam Negeri menekankan pentingnya transparansi serta ketepatan dalam penyaluran hak para pekerja. Setiap warga yang terlibat dalam program ini menerima upah harian berupa uang lelah sebesar Rp120.000 dan uang makan Rp45.000.

“Prinsip kita adalah transparansi dan efektivitas. Dana ini disalurkan langsung secara tunai kepada masing-masing pekerja di lapangan. Kita ingin semangat gotong-royong ini tetap terjaga, namun hak ekonomi masyarakat tetap menjadi prioritas utama untuk segera dicairkan,” ungkapnya.

Program ini menjadi bagian dari komitmen pemerintah dalam memastikan pemulihan wilayah terdampak berjalan optimal dengan prinsip build back better, yakni membangun kembali dengan kualitas yang lebih baik.

Pada tahap awal yang berlangsung akhir Maret 2026, kegiatan difokuskan di dua daerah terdampak, yakni Kabupaten Pidie Jaya dan Kabupaten Aceh Tamiang, dengan melibatkan ratusan personel gabungan serta masyarakat setempat.

Di Kabupaten Pidie Jaya, sebanyak 375 orang dikerahkan, terdiri dari personel Satpol PP, Linmas, Relawan Pemadam Kebakaran (Redkar), dan masyarakat. Kegiatan pembersihan dipusatkan di Gampong Meunasah Lhok, Kecamatan Meureudu, serta Gampong Meunasah Raya, Kecamatan Meurah Dua, yang berlangsung mulai 28 Maret hingga 4 April 2026.

Sementara di Kabupaten Aceh Tamiang, sekitar 400 warga telah lebih dulu menjalankan kegiatan serupa sejak 27 Maret hingga 2 April 2026. Selain memulihkan kondisi lingkungan, program ini juga diharapkan mampu memperkuat daya beli masyarakat melalui tambahan pendapatan harian.

Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News

Mualem, Kekuasaan, dan Batas yang Mulai Kabur

0
Ketua Ikatan Alumni Ilmu Pemerintahan Universitas Syiah Kuala (USK), T. Auliya Rahman. (Foto: For Nukilan)

NUKILAN.ID | OPINI – Publik Aceh saat ini mulai melihat jabatan yaang diemban oleh Mualem tidak lagi sebagai amanah, dan mulai mencurigainya sebagai milik keluarga. Kecurigaan itu bisa muncul bukan karena satu keputusan besar, tapi karena pola yang berulang perlahan, tapi terasa.

Nama Muzakir Manaf atau yang akrab disapa Mualem, hari ini sedang berada di persimpangan itu. Sebelumnya, ketika muncul keputusan PAW (Pergantian Antar Waktu) yang mengangkat istrinya Salamawati (Bunda Salma) menggantikan Ismail A. Jalil untuk duduk di kursi Dewan Perwakilan Rakyat Aceh, sebagian orang mungkin masih mencoba memahami dan mencari rasionalisasi, mungkin ada kapasitas, mungkin ada kebutuhan. Tapi ketika baru-baru ini anaknya diangkat menjadi Komisaris Utama PT. PEMA Global Energi (PGE), ruang toleransi publik mulai menyempit.

Masalahnya bukan sekadar soal “boleh atau tidak”. Secara hukum, bisa jadi semua terlihat sah. Tapi politik tidak hanya berdiri di atas legalitas, ia hidup dari legitimasi. Dan legitimasi itu dibangun dari rasa adil.

Publik Aceh, yang punya sejarah panjang soal perjuangan dan harga diri, tentu tidak mudah menerima kesan bahwa kekuasaan sedang diputar dalam lingkaran keluarga. Ini bukan sekadar isu administratif, ini soal persepsi, apakah jabatan masih terbuka untuk yang layak, atau sudah mulai diwariskan seperti aset pribadi.

Di sinilah letak bahayanya, nepotisme tidak selalu hadir dalam bentuk yang vulgar. Kadang ia datang dengan wajah yang rapi, dengan prosedur yang terlihat benar, tapi substansinya menggerus kepercayaan. Dan ketika kepercayaan publik runtuh, yang tersisa hanya formalitas kekuasaan tanpa wibawa.

Mualem, sebagai figur besar, seharusnya paham betul bahwa simbol lebih kuat daripada keputusan itu sendiri. Mengangkat keluarga di tengah sorotan publik bukan hanya soal strategi politik, tapi soal pesan yang dikirimkan ke masyarakat. Pesan itu hari ini terasa sederhana, tapi tajam, bahwa akses terhadap kekuasaan tidak lagi sepenuhnya meritokratis.

Padahal, justru di titik inilah seorang pemimpin diuji. Bukan saat ia berkuasa, tapi saat ia menahan diri untuk tidak menggunakan seluruh kuasa itu. Karena pada akhirnya, sejarah tidak mencatat seberapa banyak jabatan yang berhasil dibagi, ia mencatat seberapa besar integritas yang mampu dijaga.

Penulis: T. Auliya Rahman (Ketua Ikatan Alumni Ilmu Pemerintahan Universitas Syiah Kuala dan Mahasiswa Magister Islam Pembangunan dan Kebijakan Publik di UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta)