Beranda blog Halaman 17

Burni Telong Masih Level II Waspada, Aktivitas Gempa Vulkanik Alami Kenaikan

0
Gunung Burni Telong. (Foto: Instagram)

NUKILAN.ID | REDELONG – Gunung Api Burni Telong yang berada di Kabupaten Bener Meriah, Aceh, masih berstatus Level II (Waspada) hingga Selasa (10/2/2026). Dalam 24 jam terakhir, aktivitas kegempaan vulkanik tercatat mengalami peningkatan dibandingkan hari sebelumnya.

Sebelumnya, gempa vulkanik hanya terjadi tiga kali dengan amplitudo 6–14 mm. Namun pada Rabu, jumlahnya meningkat menjadi tujuh kali gempa vulkanik dengan amplitudo 8–14 mm.

Selain gempa vulkanik, tercatat pula dua kali gempa tektonik jauh dengan amplitudo 10–45 mm. Sementara itu, gempa tektonik lokal tidak terdeteksi.

“Untuk kegempaan vulkanik ada sedikit peningkatan, sementara gempa tektonik stagnan. Alhamdulillah untuk aktivitas kegempaan tektonik lokal menurun,” kata Petugas Pengamat Gunung Burni Telong, Suwardi Putra, Rabu (11/2/2026).

Suwardi mengimbau masyarakat tetap tenang namun waspada, sembari berharap aktivitas gunung terus menurun sehingga status dapat kembali normal.

Sebagai langkah antisipasi, pihak pengamatan merilis sejumlah rekomendasi bagi masyarakat dan pendaki. Warga dilarang mendekati kawah aktif dalam radius tiga kilometer guna menghindari potensi bahaya.

Masyarakat juga diminta menjauhi area lubang gas belerang (fumarola dan solfatara), terutama saat cuaca mendung atau hujan, untuk mencegah risiko keracunan akibat akumulasi gas berbahaya.

Selain itu, Suwardi meminta masyarakat tidak mudah terpengaruh informasi yang belum terverifikasi.

“Pihak kami berharap, masyarakat jangan termakan isu Hoax, tentang aktivitas gunung BurnibTelong, silahkan tanyakan langsung langsung atau akses langsung situs resmi kami,” tuturnya.

Sebelumnya, Gunung Burni Telong sempat naik ke Level III (Siaga) pada Selasa malam, 30 Desember 2025, tepatnya pukul 22.45 WIB. Badan Geologi, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, menaikkan status tersebut setelah gunung diguncang 16 kali gempa.

Saat itu, ribuan warga dari Kampung Lampahan, Rembune, dan Pantan Pediangan mengungsi ke Kampus Unsyiah II yang dinilai lebih aman dari potensi erupsi.

Namun, setelah aktivitas kegempaan menunjukkan tren penurunan, Badan Geologi kembali menurunkan status Burni Telong menjadi Level II (Waspada) sejak Sabtu (3/1/2026).

Kemenag Aceh Prediksi 1 Ramadan 1447 H Jatuh pada 19 Februari 2026

0
Kakanwil Kemenag Aceh, Azhari. (Foto: Humas Aceh)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kanwil Kemenag) Aceh memperkirakan 1 Ramadan 1447 Hijriah akan jatuh pada Kamis, 19 Februari 2026. Perkiraan tersebut didasarkan pada hasil perhitungan posisi hilal yang dinilai masih berada di bawah ufuk saat waktu pengamatan.

Ketua Tim Falakiyah Kanwil Kemenag Aceh, Alfirdaus Putra, menjelaskan bahwa ijtimak awal Ramadan 1447 H terjadi pada Selasa, 17 Februari 2026, bertepatan dengan 29 Sya’ban 1447 H pukul 19.01.07 WIB. Karena ijtimak berlangsung setelah matahari terbenam, posisi hilal dipastikan masih berada di bawah ufuk.

Pada 29 Sya’ban, matahari terbenam pukul 18.52 WIB dengan azimut 258 derajat. Sementara bulan lebih dulu terbenam pada pukul 18.48 WIB dengan azimut 257 derajat dari utara searah jarum jam.

“Ketika matahari terbenam pada posisi 258 derajat, posisi hilal di markaz rukyat Observatorium Tgk. Chiek Kuta Karang, Lhoknga, berada pada minus 0,97 derajat di bawah ufuk dengan elongasi 0,93 derajat. Untuk wilayah Indonesia lainnya, hilal juga masih berada di bawah ufuk, yakni antara minus 1 derajat di wilayah Sumatra hingga minus 2,4 derajat di wilayah Papua,” kata Alfirdaus dalam keterangannya, Rabu (11/2/2026).

Dengan posisi hilal yang masih minus, ia memastikan hilal tidak mungkin terlihat, baik di Aceh maupun di seluruh Indonesia. Karena itu, bulan Sya’ban 1447 H harus diistikmalkan atau digenapkan menjadi 30 hari, sehingga awal Ramadan diperkirakan jatuh pada 19 Februari 2026.

“1 Ramadan tahun ini diperkirakan jatuh pada Kamis 19 Februari. Kami menyampaikan selamat menyambut Ramadan 1447 H kepada seluruh umat Islam di Aceh. Mari kita persiapkan diri, baik fisik maupun mental, untuk menyambut rangkaian ibadah Ramadan tahun ini,” kata Kakanwil Kemenag Aceh Azhari.

Azhari menegaskan bahwa rukyatulhilal tetap menjadi acuan dalam penentuan awal bulan Hijriah, termasuk Ramadan, yang rutin dilaksanakan setiap tanggal 29 bulan berjalan. Namun berdasarkan perhitungan, hilal pada 29 Sya’ban 1447 H atau 17 Februari masih berada di bawah ufuk sehingga tidak mungkin diamati.

Karena itu, Kanwil Kemenag Aceh hanya akan menggelar kegiatan edukasi terkait kondisi hilal di Gedung Observatorium Tgk. Chiek Kuta Karang, Lhoknga, Aceh Besar.

“Kami mengajak umat Islam untuk menyiapkan fisik serta meningkatkan kualitas ibadah di akhir bulan Sya’ban sebagai persiapan menuju Ramadan. Penting untuk memahami amalan-amalan utama di bulan Ramadan agar pelaksanaan ibadah berjalan optimal dan mencapai derajat takwa di akhir Ramadan,” jelas Azhari.

Meski demikian, keputusan resmi mengenai awal Ramadan tetap menunggu pengumuman Menteri Agama yang dijadwalkan disiarkan secara langsung pada 17 Februari 2026 pukul 19.00 WIB.

Presiden Kucurkan Rp72,75 Miliar untuk Sapi Meugang bagi Korban Bencana di Aceh

0
Gubernur Aceh Dampingi Presiden Prabowo Tinjau Lokasi Banjir dan Longsor di Sejumlah Kabupaten. (Foto: For Nukilan)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH — Pemerintah Provinsi (Pemprov) Aceh menyampaikan bahwa Presiden Prabowo Subianto telah mentransfer bantuan sebesar Rp72,75 miliar untuk pembelian sapi meugang bagi masyarakat terdampak bencana hidrometeorologi di Aceh.

“Alhamdulillah, Bapak Presiden telah menyetujui permohonan Pemprov Aceh dan masyarakat Aceh untuk bantuan daging sapi meugang dan dananya telah ditransfer,” kata Wakil Gubernur (Wagub) Aceh Fadhlullah di Banda Aceh, Rabu.

Dana tersebut disalurkan melalui mekanisme transfer dari Presiden melalui Sekretariat Presiden dan langsung dikirim ke 19 pemerintah kabupaten/kota pada Selasa (10/2) dengan total nilai Rp72.750.000.000.

“Selanjutnya, penyaluran bantuan kepada masyarakat akan dilakukan oleh masing-masing pemerintah kabupaten/kota,” ujarnya.

Atas nama pemerintah dan masyarakat Aceh, Fadhlullah menyampaikan apresiasi serta terima kasih kepada Presiden Prabowo Subianto atas bantuan pembelian sapi meugang tersebut.

“Kami, pemerintah Aceh serta seluruh masyarakat Aceh mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Bapak Presiden Prabowo,” katanya.

Ia menjelaskan, bantuan itu diberikan untuk membantu meringankan beban masyarakat yang terdampak bencana, terutama menjelang bulan suci Ramadhan.

Karena itu, Wagub meminta para bupati dan wali kota segera menindaklanjuti bantuan tersebut dengan melakukan pembelian sapi sesuai alokasi dana yang telah ditransfer ke Rekening Kas Umum Daerah (RKUD) masing-masing.

Selain itu, para kepala daerah diminta bertanggung jawab penuh atas distribusi bantuan agar dilakukan secara merata, tertib, dan tepat sasaran, dengan memprioritaskan warga terdampak bencana serta masyarakat di lokasi pengungsian.

“Penyaluran bantuan ini harus ditargetkan rampung paling lambat satu hari sebelum Ramadhan 1447 Hijriah,” tegasnya.

Setelah proses penyaluran selesai, pemerintah kabupaten/kota diwajibkan mengirimkan dokumentasi kegiatan berupa foto atau video serta laporan singkat realisasi bantuan kepada Biro Isra Sekretariat Daerah Aceh paling lambat tiga hari setelah Ramadhan, untuk selanjutnya dilaporkan kepada Presiden.

Pasar Murah Serentak di 23 Daerah, Disperindag Aceh Sebut Instruksi Langsung Gubernur Jelang Ramadhan

0
Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Aceh, T. Adi Darma. (Foto: For Nukilan)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Pemerintah Aceh menggelar pasar murah secara serentak di 23 kabupaten/kota sebagai upaya menjaga stabilitas harga dan membantu masyarakat terdampak bencana hidrometeorologi menjelang Ramadhan 1447 Hijriah.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Aceh, T. Adi Darma, mengatakan kegiatan yang digelar di 69 titik tersebut merupakan instruksi langsung Gubernur Aceh. Menurut dia, pemerintah harus hadir memberikan solusi nyata agar daya beli masyarakat tetap terjaga di tengah proses pemulihan pascabencana.

“Pasar murah ini adalah perintah Bapak Gubernur agar pemerintah hadir langsung meringankan beban warga. Kita ingin memastikan bahwa meski pasca bencana, stok pangan aman dan harganya tetap stabil menyongsong bulan puasa,” ujar T. Adi Darma di Banda Aceh, Rabu (11/02).

Dalam pelaksanaannya, Pemerintah Aceh mengalokasikan subsidi untuk empat komoditas utama. Beras premium disubsidi Rp5.000 per kilogram dengan total kuota 414 ton. Gula pasir dan minyak goreng kemasan masing-masing mendapat subsidi Rp6.000 per kilogram dengan kuota masing-masing 69 ton. Sementara itu, telur ayam disubsidi Rp15.000 per papan dengan total kuota 34.500 papan.

T. Adi Darma menjelaskan, distribusi logistik dilakukan merata ke seluruh kabupaten/kota di Aceh. Setiap daerah memperoleh alokasi 18 ton beras premium, 3 ton gula pasir, 3 ton minyak goreng, serta 1.500 papan telur ayam. Proses distribusi dikawal agar tepat waktu dan sesuai dengan titik yang telah ditetapkan.

Pasar murah ini dijadwalkan berlangsung selama tiga hari di 69 lokasi yang tersebar di 23 kabupaten/kota. Pemerintah berharap program subsidi tersebut mampu menekan laju inflasi daerah sekaligus memberikan ketenangan bagi masyarakat dalam menyambut dan menjalankan ibadah Ramadhan.

Di akhir keterangannya, T. Adi Darma mengimbau masyarakat agar berbelanja secara bijak dan tidak melakukan pembelian berlebihan.

“Kami meminta masyarakat untuk membeli sesuai kebutuhan, bukan sesuai keinginan atau untuk ditimbun, agar manfaat pasar murah ini bisa dirasakan secara merata,” tutup T. Adi Darma. []

Ketua MPR Tekankan Peran Ulama Jaga Optimisme Warga Aceh Pascabencana

0
Silaturahmi Pimpinan MPR RI dengan Ulama Aceh yang digelar di Pondok Pesantren Dayah Mahyal Ulum Al Aziziyah, Sibreh, Aceh Besar, Rabu (11/2/2026). (Foto: Istimewa)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) RI Ahmad Muzani menegaskan peran strategis ulama dalam menjaga optimisme dan keteguhan masyarakat Aceh setelah bencana hidrometeorologi yang melanda sejumlah wilayah pada akhir November 2025.

Hal itu disampaikan Muzani saat menghadiri Silaturahmi Pimpinan MPR RI dengan Ulama Aceh di Pondok Pesantren Dayah Mahyal Ulum Al Aziziyah, Sibreh, Aceh Besar, Rabu (11/2/2026).

“Musibah besar ini bukan hanya menguji ketahanan fisik dan ekonomi, tetapi juga menguji mental dan spiritual umat. Di sinilah peran para ulama, para abu, para masyayikh, dan pimpinan dayah menjadi sangat menentukan dalam menenangkan umat dan menjaga optimisme rakyat Aceh,” ujar Muzani.

Ia menilai, selain bantuan material dan percepatan pemulihan infrastruktur, menjaga harapan masyarakat menjadi faktor yang tidak kalah penting agar Aceh tidak terpuruk dalam keputusasaan.

“Memberi bantuan material itu penting, tetapi menjaga optimisme rakyat jauh lebih penting. Selama ulama terus membimbing umat dengan keteduhan dan kebijaksanaan, Aceh akan tetap tegak dan masa depannya tetap cerah,” katanya.

Muzani menyebut kunjungan ini merupakan yang kedua kalinya dilakukan Pimpinan MPR RI ke Aceh sebagai bentuk empati dan dukungan moral. Pada kunjungan sebelumnya, MPR menyerap aspirasi kepala daerah terkait percepatan pembangunan hunian sementara, pemulihan jalan nasional dan provinsi, pemulihan listrik, serta kelancaran distribusi BBM dan LPG 3 kilogram.

“Seluruh aspirasi itu kami sampaikan langsung kepada Presiden sepulang dari Aceh. Alhamdulillah, satu per satu sudah mulai terpulihkan. Jalur Banda Aceh–Medan kembali membaik, akses antarwilayah tersambung, dan pasokan listrik telah pulih hingga 99 persen, meskipun masih ada sekitar 23 desa yang membutuhkan penanganan lanjutan karena kondisi geografis yang berat,” jelasnya.

Dalam kesempatan tersebut, Muzani juga menyoroti pentingnya menjaga tradisi meugang menjelang Ramadan sebagai bagian dari kearifan lokal masyarakat Aceh. Ia menyatakan aspirasi terkait kebutuhan tersebut akan kembali disampaikan kepada Presiden, mengingat keterbatasan populasi ternak akibat dampak bencana.

“Permintaan ini akan kami sampaikan kembali kepada Presiden. Kami memahami keterbatasan populasi ternak akibat bencana, tetapi dengan ikhtiar bersama, insyaallah dapat dicarikan solusinya,” ujarnya.

Muzani menyampaikan apresiasi kepada ulama Aceh yang dinilai menjadi pilar ketenangan masyarakat di tengah situasi sulit.

“Bekal spiritual saja tidak cukup tanpa harapan dan optimisme. Para ulama memiliki peran besar untuk menjaga agar masyarakat tidak terjebak dalam keputusasaan, kemarahan, atau saling menyalahkan. Keyakinan kita mengajarkan bahwa setiap ujian datang dari Allah SWT, dan siapa yang mampu melewatinya dengan sabar, Allah akan meninggikan derajatnya,” tuturnya.

Serahkan 15.000 Paket Bantuan

Amatan Nukilan.id, Pimpinan MPR RI turut menyerahkan bantuan simbolis berupa 15.000 paket sembako dan paket ibadah yang akan didistribusikan ke delapan kabupaten terdampak bencana. Bantuan tersebut mencakup kebutuhan pokok serta perlengkapan ibadah seperti sajadah, sarung, mukena, kerudung, dan Al-Qur’an.

“Oleh-oleh ini bukan untuk menggantikan beban yang berat, melainkan sebagai tanda cinta, simpati, dan kebersamaan dari Jakarta untuk rakyat Aceh, agar Ramadan dapat disambut dengan hati yang lebih tenang,” kata Muzani.

Ia juga menegaskan bahwa kebangkitan Aceh merupakan bagian dari kebangkitan nasional.

“Sakit Aceh adalah sakit kami yang berada di Jakarta. Selama kebersamaan antara pemerintah, ulama, dan masyarakat terus terjaga, Aceh akan mampu bangkit dan melewati ujian ini dengan lebih kuat,” pungkasnya.

Sementara itu, Ketua Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Aceh sekaligus Pimpinan Dayah Mahyal Ulum Al-Aziziyah, Tgk. H. Faisal Ali, mengingatkan bahwa penanganan bencana tidak boleh hanya terfokus pada aspek fisik dan material, tetapi juga perlu memperkuat nilai-nilai spiritual masyarakat, terutama menjelang Ramadan.

“Para ulama mengucapkan terima kasih atas ikhtiar yang telah dilakukan pemerintah. Kami memahami bahwa dalam penanganan bencana selalu ada keterbatasan, dan itu adalah hal yang wajar sebagai bagian dari ikhtiar manusia,” ujarnya. (XRQ)

Harga Bahan Pokok di Banda Aceh Masih Stabil Jelang Ramadhan

0
Cabai merah di Pasar Al-Mahirah Lamdingin, Banda Aceh. (Foto: Nukilan/Rezi)

NUKILAN.id | Banda Aceh – Harga sejumlah bahan pokok di Pasar Al-Mahirah, Banda Aceh, masih terpantau stabil menjelang bulan suci Ramadhan 1447 Hijriah. Meski demikian, para pedagang memprediksi harga akan mengalami kenaikan mendekati hari meugang.

Berdasarkan pantauan NukilN di sejumlah lapak pedagang, harga komoditas utama seperti cabai dan bawang relatif belum mengalami lonjakan signifikan.

Salah seorang pedagang, Rudi, menyebutkan harga cabai merah saat ini berada di kisaran Rp28 ribu hingga Rp32 ribu per kilogram, sementara untuk kualitas super mencapai Rp32 ribu per kilogram. Cabai rawit dijual Rp30 ribu per kilogram dan cabai hijau Rp22 ribu per kilogram.

“Untuk bawang merah Medan Rp30 ribu per kilogram, bawang putih Rp35 ribu per kilogram. Tomat Rp15 ribu dan kentang Rp12 ribu per kilogram,” ujar Rudi.

Ia mengatakan, harga diperkirakan akan naik mendekati hari meugang karena meningkatnya permintaan masyarakat. Selain itu, stok barang di tingkat pedagang saat ini juga masih terbatas.

“Harga nantinya akan naik dekat-dekat hari meugang. Untuk stok kita juga terbatas saat ini,” katanya.

Sementara itu, pedagang lainnya, Muliadi, menyebutkan harga cabai merah saat ini berkisar antara Rp35 ribu hingga Rp38 ribu per kilogram untuk kualitas super. Ia mengakui dalam sepekan terakhir harga cabai merah mengalami kenaikan dari Rp28 ribu menjadi Rp38 ribu per kilogram.

Untuk cabai hijau, Muliadi menjual di harga Rp25 ribu per kilogram. Sedangkan bawang merah asal Aceh dibanderol Rp40 ribu per kilogram, dan bisa turun menjadi Rp35 ribu per kilogram jika pembelian dalam jumlah banyak.

Mauliadi memprediksi harga cabai pada hari meugang bisa menembus Rp50 ribu hingga Rp80 ribu per kilogram. Kenaikan serupa juga diperkirakan terjadi pada sejumlah bahan pokok lainnya.

“Biasanya memang begitu setiap meugang, harga pasti naik karena permintaan tinggi,” ujarnya.

Meugang merupakan tradisi masyarakat Aceh menyambut Ramadhan maupun lebaran dengan memasak dan mengonsumsi daging bersama keluarga, sehingga permintaan bahan pangan cenderung meningkat signifikan menjelang hari tersebut.

Reporter: Rezi

Ramadan 1447 H Diperkirakan Jatuh 19 Februari 2026

0

NUKILAN.id | Banda Aceh – Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Aceh, Drs H Azhari MSi menyampaikan bahwa berdasarkan data Tim Falakiyah Kanwil Kementerian Agama Provinsi Aceh, 1 Ramadan 1447 H diprediksi bertepatan dengan Kamis, 19 Februari 2026.

“1 Ramadan tahun ini diperkirakan jatuh pada Kamis, 19 Februari 2026. Kami menyampaikan selamat menyambut Ramadan 1447 H kepada seluruh umat Islam di Aceh. Mari kita persiapkan diri, baik fisik maupun mental, untuk menyambut rangkaian ibadah Ramadan tahun ini,” ujar Azhari dalam keterangan tertulisnya kepada Nukilan, Rabu (11/2).

Menurutnya, rukyatulhilal tetap menjadi acuan dalam menentukan awal bulan Hijriah, termasuk bulan Ramadan. Kegiatan tersebut secara rutin dilaksanakan setiap tanggal 29 bulan berjalan. Namun, berdasarkan perhitungan, posisi hilal pada 29 Sya’ban 1447 H masih berada di bawah ufuk (horizon), sehingga dipastikan tidak mungkin dapat diamati.

Karena itu, Kanwil Kemenag Aceh hanya akan menggelar kegiatan edukasi mengenai kondisi hilal serta menyampaikan siaran pers terkait awal Ramadan. Kegiatan ini akan dipusatkan di Gedung Observatorium Tgk. Chiek Kuta Karang, Lhoknga, Aceh Besar.

Azhari juga mengajak umat Islam untuk menyiapkan fisik serta meningkatkan kualitas ibadah di akhir bulan Sya’ban sebagai persiapan menuju Ramadan. Menurutnya, penting untuk memahami amalan-amalan utama di bulan Ramadan agar pelaksanaan ibadah berjalan optimal dan mencapai derajat takwa di akhir Ramadan.

Sementara itu, Ketua Tim Falakiyah Kanwil Kemenag Aceh, Dr Alfirdaus Putra SHI MH., menjelaskan bahwa ijtimak awal bulan Ramadan 1447 H terjadi pada Selasa, 17 Februari 2026, bertepatan dengan 29 Sya’ban 1447 H, pukul 19.01.07 WIB. Ijtimak terjadi setelah matahari terbenam sehingga hilal dipastikan masih berada di bawah ufuk.

Secara rinci, ia menjelaskan bahwa matahari terbenam pada 29 Sya’ban pukul 18.52 WIB dengan azimut 258 derajat. Sementara itu, bulan telah lebih dahulu terbenam sebelum waktu magrib, yakni pukul 18.48 WIB dengan azimut 257 derajat dari utara searah jarum jam.

“Ketika matahari terbenam pada posisi 258 derajat, posisi hilal di markaz rukyat Observatorium Tgk. Chiek Kuta Karang, Lhoknga, berada pada minus 0,97 derajat di bawah ufuk dengan elongasi 0,93 derajat. Untuk wilayah Indonesia lainnya, hilal juga masih berada di bawah ufuk, yakni antara minus 1 derajat di wilayah Sumatra hingga minus 2,4 derajat di wilayah Papua,” jelas Alfirdaus.

“Dengan posisi minus seperti ini, dapat dipastikan hilal tidak mungkin terlihat di Aceh maupun di seluruh Indonesia. Oleh karena itu, bulan Sya’ban 1447 H harus diistikmalkan menjadi 30 hari, sehingga 1 Ramadan 1447 H jatuh pada 19 Februari 2026,” tambahnya.

Meski demikian, ia menegaskan bahwa keputusan resmi tetap menunggu pengumuman Menteri Agama yang dijadwalkan disiarkan secara langsung pada 17 Februari 2026 pukul 19.00 WIB.

Reporter: Rezi

KPK Gelar Edukasi Antikorupsi bagi Ratusan Pelajar Terdampak Banjir di Aceh Tamiang

0
KPK Gelar Edukasi Antikorupsi bagi Ratusan Pelajar Terdampak Banjir di Aceh Tamiang. (Foto: For Nukilan)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH — Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menggelar kegiatan “Benar Benar Aksi: Kolaborasi Edukasi Antikorupsi” di Kabupaten Aceh Tamiang, Provinsi Aceh, Senin (9/2/2025). Program ini menjadi bagian dari upaya KPK memperkuat edukasi publik sekaligus menanamkan nilai antikorupsi sejak usia dini, khususnya bagi anak-anak yang terdampak bencana alam.

Direktur Sosialisasi dan Kampanye Antikorupsi KPK, Amir Arief, mengatakan kegiatan tersebut dirancang melalui pendekatan edukatif dan kolaboratif. Selain mendukung pemulihan psikososial pascabencana, program ini juga memperkenalkan nilai kejujuran, empati, dan kepedulian sosial sebagai fondasi integritas generasi mendatang.

“Kami menjalankan dua misi penting sekaligus, yakni memberikan dukungan pemulihan psikosial pascabencana, sekaligus menanamkan nilai-nilai antikorupsi sejak dini, terutama nilai kepedulian kepada sesama dalam merespons dampak sosial pascabencana,” kata Amir.

Sebanyak lebih dari 600 pelajar terlibat dalam kegiatan yang dilaksanakan di dua sekolah terdampak banjir bandang akhir tahun lalu, yakni SDN 1 Kuala Simpang dan Madrasah Diniyyah Takmiliyah Awaliyah Al-Ihsan. Para siswa mengikuti beragam aktivitas pemulihan psikososial melalui pendekatan ramah anak, seperti permainan edukatif, dongeng inspiratif, kegiatan kreatif, serta pendampingan psikolog.

Amir menekankan bahwa anak-anak merupakan kelompok paling rentan dalam situasi pascabencana sehingga memerlukan perhatian khusus agar dapat kembali merasa aman dan percaya diri. Ia menyebut, rangkaian kegiatan tersebut tidak hanya berfokus pada pemulihan emosi, tetapi juga menjadi sarana penanaman nilai integritas.

“Setelah ini, anak-anak harus semangat untuk kembali bersekolah agar kelak menjadi generasi yang tangguh, cerdas, peduli pada lingkungan dan menjunjung tinggi integritas,” jelas Amir.

Dalam pelaksanaannya, KPK menggandeng sejumlah mitra, antara lain Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/BKKBN Perwakilan Provinsi Aceh, Human Initiative, Asosiasi Psikolog Sumut, Komunitas Penyuluh Antikorupsi (KOMPAK) Sumut, Saya Perempuan Antikorupsi (SPAK), Komunitas Medan Membaca, Masyarakat Transparansi (MaTa) Aceh, dan Gerakan Antikorupsi (Gerak) Aceh.

Kolaborasi lintas komunitas tersebut melibatkan relawan yang bergabung secara sukarela dalam misi kemanusiaan dan edukasi antikorupsi. KPK berharap kegiatan ini dapat menumbuhkan kesadaran generasi muda untuk peduli terhadap lingkungan dan menjauhi praktik korupsi demi masa depan yang lebih baik.

Aceh Usulkan 500 Ribu Peserta BPJS Korban Bencana Dibiayai APBN

0
BPJS Kesehatan. (Foto: Medcom)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH — Pemerintah Aceh mengajukan permohonan agar pembiayaan kepesertaan BPJS Kesehatan bagi sekitar 500 ribu warga terdampak bencana di Aceh dialihkan dan sepenuhnya ditanggung melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Permintaan tersebut disampaikan langsung oleh Wakil Gubernur Aceh, Fadhlullah, dalam rapat koordinasi bersama pimpinan MPR RI yang berlangsung di Kantor Gubernur Aceh, Banda Aceh, Selasa (10/2).

Dalam kesempatan itu, Fadhlullah menyerahkan surat usulan kepada Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian dan Ketua MPR Ahmad Muzani. Ia menjelaskan, selama ini pembiayaan kepesertaan BPJS Kesehatan bagi masyarakat terdampak bencana tersebut masih ditanggung oleh Pemerintah Aceh sesuai dengan aturan daerah yang berstatus rawan bencana.

“Ini surat permohonan BPJS yang masyarakatnya sekitar 500 ribu jiwa, korban terdampak bencana, yang selama ini ditanggung Pemerintah Aceh, sesuai aturan daerah bencana, agar ditanggungkan oleh Pemerintah Pusat,” ujar Fadhlullah.

Menurutnya, pengalihan pembiayaan ke pemerintah pusat diharapkan dapat meringankan beban anggaran daerah sekaligus memastikan keberlanjutan jaminan kesehatan bagi masyarakat terdampak bencana.

Ia berharap Kementerian Keuangan dapat memberikan persetujuan atas usulan tersebut, sehingga seluruh biaya kepesertaan BPJS Kesehatan bagi warga terdampak bencana di Aceh dapat dibiayai melalui APBN.

“Mudah-mudahan ada jawaban dari Menteri Keuangan untuk dibiayai keseluruhan lewat APBN,” katanya.

Padat Karya Tunai Dongkrak Pemulihan dan Ekonomi Warga Pascabencana di Aceh

0
Padat Karya Tunai Dongkrak Pemulihan dan Ekonomi Warga Pascabencana di Aceh. (Foto: For Nukilan)

NUKILAN.ID | JAKARTA – Kepala Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana Wilayah (Kasatgaswil) Aceh, Safrizal ZA, mendukung penuh pelaksanaan program Padat Karya Tunai di sejumlah wilayah terdampak banjir dan longsor di Aceh. Program ini melibatkan sekitar 20 ribu warga dalam kegiatan pembersihan dan pemulihan lingkungan.

“Melalui kegiatan Padat Karya Tunai ini yang dibayar per hari, warga terdampak bencana banjir dan longsor mendapat penghasilan dan lingkungannya menjadi bersih, jadi solusi ganda, percepatan pemulihan pascabencana sekaligus menggerakkan ekonomi masyarakat”, kata Safrizal dalam keterangan resmi, Selasa (10/2/2026).

Menurut Safrizal, program yang berada di bawah koordinasi Kementerian Pekerjaan Umum (PU) ini bukan hal baru di Aceh. Skema serupa pernah diterapkan saat tsunami 2004 melalui program cash for work untuk membersihkan dampak bencana. Ia mengajak masyarakat untuk bekerja maksimal agar hasilnya optimal.

“Alhamdulillah kegiatan Padat Karya Tunai ini diadakan di belasan wilayah terdampak banjir dan longsor. Bekerjalah secara serius sehingga ada dampak hasilnya” ajak Safrizal.

Satgaswil PRR Aceh juga mengapresiasi langkah Kementerian PU dalam mempercepat rehabilitasi dan rekonstruksi infrastruktur melalui program tersebut.

“Pogram itu dalam ikhtiar percepatan rehab rekon yang diarahkan untuk pembersihan dan fungsionalisasi jalan lingkungan, pembersihan drainase, penanganan persampahan dan limbah serta pekerjaan air bersih” kata Kasatgaswil Aceh.

Sementara itu, Sekretaris Jenderal Kementerian PU Wida Nurfaida menyebutkan bahwa pada tahun anggaran 2026 program Padat Karya Tunai di Aceh akan menyerap 20.394 tenaga kerja, terdiri atas 18.345 orang untuk Sumber Daya Air, 451 orang untuk Bina Marga, dan 1.598 orang untuk Cipta Karya.

“Saat ini, kegiatan Padat Karya Tunai yang sedang berjalan untuk kegiatan Pemeliharaan Rutin Jalan dan Jembatan di Aceh Tamiang,” jelas Wida, Senin (9/2/2026).

Pendaftaran program telah dibuka sejak 4 Februari 2026 untuk wilayah Aceh Tamiang, Kota Langsa, Aceh Timur, Aceh Utara, Bireuen, Pidie Jaya, Bener Meriah, Aceh Tengah, Gayo Lues, Aceh Tenggara, dan Aceh Selatan.

“Persyaratan pendaftaran antara lain mengutamakan warga setempat, pria, sehat jasmani dan rohani serta menyertakan KTP/KK atau Surat Keterangan Domisili dari Pak Keuchik/Reje/Datuk,” ungkap Wida.