Beranda blog Halaman 1794

Nazar feat. Lusia Juara Lomba Cover Lagu “Rafly Kande”

0
Pemenang lomba cover lagu Rafly Kande. (Foto: Nukilan/Reji)

Nukilan.id – Nazar featuring Lusia berhasil meraih juara I lomba cover lagu lagu Rafly Kande. Nazar berhasil meninggal 20 nominasi lainnya yang dimumkan Sabtu 26 Februari 2022 malam di Indor Taman Budaya Aceh, Banda Aceh.

Pelaksana acara dari Persatuan Musisi Aceh (PMA) itu, berhasil mengumpulkan pemenang dari nominasi 20 peserta berdasar jumlah penonton terbanyak di kanal YouTube Rafly KanDe Official, lomba dimulai tanggal 11 sampai 24 Februari 2022, dengan persyaratan upload video cover lagu Rafly Kande di YouTube.

lagu Palong Meuasoe Nazar ft. Lusia berhasil meraih penonton 14.021 view, sedangkan Juara 2 Siska Mauliza dengan perolehan  view, Untuk Juara 3 Pungoe Band 11.022 view.

Berselisih tipis dari Pugoe Band, Agam Phopeuna raih musisi Favorit 1, dan Favorit 2 diraih oleh New Laras Cita.

Berikut 20 nominasi lomba cover lagu Rafly Kande berdasar view:

1. Nazar ft. Lusia “Palong Meuasoes” (14.021 penonton)
2. Siska Mauliza “Seulanga” (11.519 penonton)
3. Pugoe Band “Ranup” (11.180 penonton)
4. Agam Phopeuna “Sepasang Lembu Tua” (11.022 penonton)
5. New Laras Cita “Metalo Wareh” (8.025 penonton)
6. Nabila Ananda Rizqia (7.732 penonton)
7. Aprilia & Friends (7.299 penonton)
8. Nasriati (4.204 penonton)
9. Karya Bangsa (3.802 penonton)
10. Ria & Reihan Maulina (3.457 penonton)
11. Abdul Hakim & Saweuna Project (3.239 penonton)
12. Yenni Susanti (2.742 penonton)
13. Firdaus ft Eky BW (2.326 penonton)
14. Fira Hasan (2.171 penonton)
15. Putri Julia (2.061 penonton)
16. Munira & Hafiz Studio (1.866 penonton)
17. Teuki Riski (1.562 penonton)
18. Desy Ariyanty (1.499 penonton)
19. Fauzi ft Rizal (1.191 penonton)
20. Gusti Umam (981 penonton)

Reporter: Reji

Malam ini, PMA Umumkan 20 Pemenang Lomba Cover Lagu Rafly Kande di Taman Budaya

0
acara pengumuman dan penyerahan hadiah kepada 20 pemenang lomba cover lagu lagu Rafly Kande. Sabtu (26/2/2022). Foto: Nukilan/Reji

Nukilan.id – Persatuan Musisi Aceh (PMA) menggelar acara pengumuman dan penyerahan hadiah kepada 20 pemenang lomba cover lagu lagu Rafly Kande.

Kegiatan tersebut berlangsung di gedung utama Taman Budaya Banda Aceh, Sabtu (26/2/2022) malam.

Pantauan Nukilan di lokasi ratusan peserta menghadiri acara pengumuman dan penyerahan hadiah lomba itu.

Acara ini turut dihadiri artis artis handal Aceh, yakni Rafly Kande, yang juga anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPRRI), Kaka Aulia, Said Azmi, Cut Adek Zia, Dewi Safitri, dan Ismu Kamalaka.

Sampai berita ini ditayangkan serangkaian kegiatan pengumuman dan penyerahan hadiah kepada 20 pemenang lomba cover lagu lagu Rafly Kande masih berlangsung.

Reporter: Reji

Kapolres Aceh Jaya ikut Pantau Vaksinasi Massal Serentak se-Indonesia

0
(Foto: Dok. Ist)

Nukilan.id – Kapolres Aceh Jaya AKBP Yudi Wiyono, S.I.K. ikut memantau vaksinasi massal yang dilaksanakan serentak di seluruh Indonesia melalui virtual bersama Kapolri Listyo Sigit Prabowo di Halaman Masjid Kedeu Teunom, Kecamatan Teunom, Aceh Jaya, Sabtu, 26 Februari 2022.

Yudi Wiyono mengatakan, kegiatan zoom meeting ini berkaitan dengan dilaksanakannya vaksinasi serentak di seluruh Indonesia yang dilakukan secara nasional dan dipantau langsung oleh Kapolri di Gedung Pidie Convention Center (PCC), Kabupaten Pidie, Provinsi Aceh.

Sebelumnya, Yudi Wiyono, didampingi Forkopimdakab Aceh Jaya serta pejabat utama polres meninjau vaksinasi yang digelar di lokasi zoom meeting.

Dalam arahannya secara virtual, Kapolri meminta stakeholder, baik di tingkat provinsi maupun kabupaten agar membantu mensosialisasikan vaksinasi booster bagi masyarakat yang sudah vaksin dosis II dengan interval waktu tiga bulan sebagai upaya mencegah varian baru Covid-19 Omicron.

Percepatan vaksinasi sangat penting untuk mengurangi angka fatalitas atau tingkat kematian. Berdasarkan survei, vaksinasi dosis II bisa meningkatkan imunitas sampai dengan 67 persen dan dosis III 91 persen.

Jenderal Polisi Drs. Listyo Sigit Prabowo, M.Si., mengatakan, pelaksanaan vaksinasi untuk memastikan masyarakat mendapatkan imunitas. Ia juga menyampaikan, berdasarkan Surat Edaran Kemenkes, vaksinasi booster sudah bisa dilakukan 3 bulan setelah mendapatkan dosis II.

Kapolri berharap, agar seluruh stakeholder membantu sosialisasi agar masyarakat yang sudah vaksin dosis II dengan interval tiga bulan untuk segera melakukan vaksinasi dosis III atau booster.

“Seluruh stakeholder harus bersinergi dalam mensosialisasikan agar masyarakat yang sudah vaksin dosis II dengan jeda waktu tiga bulan untuk segera booster,” kata Kapolri saat meninjau akselerasi vaksinasi di Gedung Pidie Convention Center (PCC) Kabupaten Pidie, Provinsi Aceh.

Kapolri juga mengapresiasi kerja keras seluruh stakeholder dalam menghenjot vaksinasi di Aceh. Namun, optimisme untuk meningkatkan capaian vaksinasi harus ada untuk mempercepat terbentuknya kekebalan komunal.

Nantinya, sebut Kapolri, setelah kekebalan komunal terbentuk diharapkan berdampak pada pertumbuhan ekonomi masyarakat di tengah lonjakan Covid-19, khususnya varian baru Omicron.

“Akselerasi vaksinasi di Aceh harus ditingkatkan untuk menghadapi varian baru Omicron. Dengan semangat yang ada, kita yakini pandemi akan segera kita lewati dan pertumbuhan ekonomi Aceh akan meningkat,” ujar Mantan Kabareskrim itu.

Kapolri yang didampingi Kapolda Aceh Irjen Drs. Ahmad Haydar, S.H., M.M. beserta unsur Forkopimda tingkat I juga melakukan dialog interaktif secara virtual untuk memberikan pengarahan pengendalian Pandemi Covid-19 di seluruh Indonesia. []

Kapolri Minta Stakeholder di Aceh Sosialisasikan Vaksinasi Booster

0
(Foto: Dok. Ist)

Nukilan.id – Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo meminta seluruh stakeholder, baik di tingkat provinsi maupun kabupaten agar membantu mensosialisasikan vaksinasi booster bagi masyarakat yang sudah vaksin dosis II dengan interval waktu tiga bulan sebagai upaya mencegah varian baru Covid-19 Omicron.

Percepatan vaksinasi sangat penting untuk mengurangi angka fatalitas atau tingkat kematian. Berdasarkan survei, vaksinasi dosis II bisa meningkatkan imunitas sampai dengan 67 persen dan dosis III 91 persen.

Mantan Kapolda Banten itu mengatakan, pelaksanaan vaksinasi untuk memastikan masyarakat mendapatkan imunitas. Ia juga menyampaikan, berdasarkan Surat Edaran Kemenkes, vaksinasi booster sudah bisa dilakukan 3 bulan setelah mendapatkan dosis II.

Kapolri berharap, agar seluruh stakeholder membantu sosialisasi agar masyarakat yang sudah vaksin dosis II dengan interval tiga bulan untuk segera melakukan vaksinasi dosis III atau booster.

“Seluruh stakeholder harus bersinergi dalam mensosialisasikan agar masyarakat yang sudah vaksin dosis II dengan jeda waktu tiga bulan untuk segera booster,” kata Kapolri saat meninjau akselerasi vaksinasi di Gedung Pidie Convention Center (PCC) Kabupaten Pidie, Provinsi Aceh, Sabtu, 26 Februari 2022.

Dalam kesempatan itu, Kapolri juga mengapresiasi kerja keras seluruh stakeholder dalam menghenjot vaksinasi dia Aceh. Namun, optimisme untuk meningkatkan capaian vaksinasi harua ada untuk mempercepat terbentuknya kekebalan komunal.

Nantinya, sebut Kapolri, setelah kekebalan komunal terbentuk diharapkan berdampak pada pertumbuhan ekonomi masyarakat di tengah lonjakan Covid-19, khususnya varian baru Omicron.

“Akselerasi vaksinasi di Aceh harus ditingkatkan untuk menghadapi varian baru Omicron. Dengan semangat yang ada, kita yakini pandemi akan segera kita lewati dan pertumbuhan ekonomi Aceh akan meningkat,” ujar Mantan Kabareskrim itu.

Kapolri yang didampingi Kapolda Aceh Irjen Drs. Ahmad Haydar, S.H., M.M. beserta unsur Forkopimda tingkat I juga melakukan dialog interaktif secara virtual untuk memberikan pengarahan pengendalian Pandemi Covid-19 di seluruh Indonesia. []

Distanbun: Rokok Lokal Aceh Harus Mampu Bersaing

0
Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan (Distanbun) Aceh, Ir. Cut Huzaimah, MP. (foto: Nukilan/Irfan)

Nukilan.id – Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan (Distanbun) Aceh Cut Huzaimah mengungkap, produk rokok lokal kini telah tumbuh dan berkembang di kalangan masyarakat Aceh.

“Di Aceh, khususnya Aceh Tengah saat ini sudah ada 5 pabrik produksi rokok, di antaranya 3 pabrik produksi rokok kretek dan 2 pabrik lagi produksi cerutu yang sudah dipasarkan dan ini mulai digemari oleh masyarakat,” kata Cut Huzaimah di sela acara pertemuan bersama Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) Aceh di Arabia Hotel, Jum’at (25/2/2022).

Namun, kata dia, harga jual rokok lokal di Aceh itu masih sangat murah dan terjangkau oleh semua kalangan, berbeda dengan rokok lain yang harganya itu semakin hari semakin meningkat.

“Selain itu, proses pengolahan rokok lokal di Aceh juga masih menggunakan cara tradisional,” terang Cut Huzaimah.

Kendati demikian, pihak Distanbun Aceh sudah berusaha membantu petani untuk mengalihkan dari pabrik tradisional ke pabrik industri menggunakan mesin pembuatan rokok.

Tetapi, kata dia, pihak Bea dan Cukai Aceh menyarankan agar tidak dulu mengalihkan ke pabrik industri, karena jika petani mengolah rokok dengan satu unit mesin saja, maka akan dikenai cukai dengan harga lebih tinggi.

“Sebab itu kita belum bisa membantu memberikan mesin pembuatan rokok untuk petani tembakau di Aceh. Apabila cukai tinggi, maka harga rokok lokal menjadi lebih mahal, dan kita belum mampu bersaing di tingkat pasar. Akibatnya industri rokok Aceh akan drop,” ujar Cut Humzaimah.

Sementara itu, kata dia, apabila nantinya hasil produksi rokok lokal di Aceh sudah mampu bersaing di tingka pasar, maka Distanbun Aceh akan membantu mesin pembuatan rokok bagi petani.

Oleh karena itu, Cut Huzaimah meminta kepada APTI untuk membantu Distanbun Aceh dalam meningkatkan mutu dan kualitas rokok lokal  di Aceh sesuai permintaan pasar.

“Termasuk cita rasanya harus diperbaiki, dan kita harap semoga semakin lama semakin baik kualitas rokok lokal di Aceh, sehingga kita mampu bersaing di tingkat pasar,” pungkasnya.

Reporter: Hadiansyah

Mukhtaruddin Terpilih Secara Aklamasi Sebagai Ketua SPS Aceh

0
Ketua SPS Aceh periode 2022-2026, Mukhtaruddin. (Foto: Dok. Ist)

Nukilan.id – Mukhtaruddin, Pimpinan Perusahaan Pers PT. Atjeh Media Group, terpilih secara aklamasi sebagai Ketua Serikat Perusahaan Pers (SPS) Aceh Periode 2022-2026.

Ia terpilih dalam Musyawarah Cabang (Muscab) II yang berlangsung di Hotel Kyriad Muraya Banda Aceh, Sabtu (26/02/2022), menggantikan Ketua SPS Aceh sebelumnya Imran Joni yang tak lain adalah Pimpinan Umum Rakyat Aceh.

Muscab SPS Aceh di pimpin Barlian Erliadi sebagai Saring Comite (SC), dengan perolehan suara sebanyak lima suara. Terpilihnya Mukhtaruddin, secara aklamasi setelah sebelumnya tidak satupun yang bersedia maju.

Sarat pengalaman di beberapa Perusahaan Pers lokal dengan dorongan anggota membuat dirinya merasa terpanggil mencalonkan diri sebagai calon Ketua SPS Aceh.

Hasilnya, lima suara bulat diraih Mukhtaruddin untuk periode lima tahun kedepan. Satu prinsip yang dibangun pria Aceh Timur ini yaitu menjadikan organisasi Perusahaan Pers itu dapat besar bersama-sama.

“Saya tidak mungkin mampu bekerja sendiri. Mari kita bahu-membahu membesarkan organisasi yang telah hadir sejak 1946 itu menjadi profesional dan lebih besar lagi,” ujar Mukhtaruddin.

Menurutnya agenda selanjutnya, kepengurusan yang baru ditangan dirinya fokus menyusun struktur kepengurusan SPS Aceh untuk lima tahun mendatang.

“Saya berkomitmen merangkul semua anggota untuk bersatu membesarkan organisasi tua ini bersama sahabat-sahabat yang ada di SPS Aceh ini. Tentu perlu dukungan kita semua untuk mewujudkan cita-cita mulia ini,” katanya menambahkan. []

Melancong ke Museum Benteng Vredeburg, Wisata Bersejarah di Yogyakarta

0
Benteng Vredeburg © HariPrasetyo Shutterstock

Nukilan.id – Kawasan Malioboro telah menjadi ikon destinasi wisata di Yogyakarta. Banyak wisatawan mengunjungi Jalan Malioboro untuk berjalan-jalan, berbelanja, atau wisata kuliner karena memang banyak penjual makanan di sepanjang jalan.

Di sana juga terdapat bangunan-bangunan ikonik khas Yogyakarta seperti Tugu Yogyakarta, Titik Nol Kilometer, dan Pasar Beringharjo. Tak heran bila jalanan ini selalu ramai dikunjungi wisatawan.

Bila Anda berjalan sampai ujung ke kawasan Titik Nol Kilometer, maka akan terlihat sebuah bangunan kuno yang begitu menarik perhatian. Bangunan itu adalah Museum Benteng Vredeburg yang lokasinya berada di Jalan Jenderal A. Yani (Margo Mulyo).

Museum Benteng Vredeburg merupakan saksi bisu dari berbagai peristiwa bersejarah yang terjadi di Yogyakarta sejak zaman kolonial. Di sekitar benteng pun dikelilingi oleh bangunan kuno peninggalan Belanda lain seperti Gedung Agung, Gereja Ngejaman, Kantor BNI 1946, Kantor Pos, Bank Indonesia, dan Societeit Militaire.

Bagi yang sering melancong ke Yogyakarta mungkin sudah tidak asing dengan bangunan Museum Benteng Vredeburg, tapi kira-kira ada apa ya di dalam museum tersebut?

Menjelajah bagian dalam Museum Benteng Vredeburg

Museum Benteng Vredeburg | @Ryan Zulqudsie Shutterstock

Ketika memasuki kawasan Museum Benteng Vredeburg, pengunjung akan melihat bangunan bergaya arsitektur Indische yang dibangun dengan bata dan kayu. Pada masing-masing sudut terdapat bastion sebagai sudut pemantauan.

Di dalam struktur benteng terdapat beberapa ruangan untuk penjara, gudang mesiu, dan gudang penyimpanan. Pada halaman tengah juga ada 14 bangunan benteng yang didirikan dari beberapa masa berbeda.

Di dalam kawasan benteng ini tentunya terdiri dari berbagai koleksi yang menarik. Salah satunya adalah koleksi realia atau benda mati yang benar-benar nyata dan bukan tiruan.

Koleksi ini memiliki peran langsung dalam terjadinya peristiwa sejarah dan benda-bendanya berupa senjata, naskah, pakaian, dan berbagai peralatan rumah tangga.

Kemudian, ada koleksi foto, miniatur, replika, lukisan, dan benda-benda visual lainnya. Selain itu ada pula koleksi diorama sebagai koleksi adegan peristiwa bersejarah. Di dalam museum, terdapat empat ruang diorama yang menampilkan perisitiwa berbeda.

Pada Ruang Diorama I, ada 11 diorama yang menggambarkan peristiwa sejarah periode Perang Diponegoro sampai masa pendudukan Jepang di Yogyakarta (1825-1942).

Sedangkan di Ruang Diorama II terdapat 19 diorama yang menampilkan peristiwa sejarah sejak awal kemerdekaan sampai dengan Agresi Militer Belanda I (1945-1947).

Beralih ke Ruang Diorama III, pengunjung bisa melihat 18 diorama yang menggambarkan sejarah mulai dari Perjanjian Renville sampai dengan pengakuan kedaulatan RIS (1948-1949).

Pada ruangan diorama terakhir yaitu IV ada 7 diorama yang memperlihatkan bagaimana terjadinya peristiwa sejarah pada periode Negara Kesatuan Republik Indonesia sampai Masa Orde Baru (1950-1974).

Sejak tahun 2021, di Diorama I dan II sudah dilengkapi dengan sarana media interaktif berupa layar sentuh untuk mendapatkan pengalaman baru dalam mempelajari sejarah.

Dari koleksi museum dan diorama, di Museum Benteng Vredeburg juga ada ruangan lain yang bisa dikunjungi. Salah satunya adalah Ruang Pengenalan yang berfungsi sebagai studio mini.

Dengan kapasitas mencapai 50 orang, di ruangan ini pengunjung bisa menonton film-film dokumenter tentang perjuangan berdurasi 10-15 menit.

Peristiwa bersejarah di Museum Benteng Vredeburg

Keberadaan Benteng Vredeburg tak terlepas dari lahirnya Kesultanan Yogyakarta. Pada tahun 1755, Keraton Kesultanan Yogyakarta dibangun dan setelah ditempati, mulai dibangun beberapa bangunan pendukung termasuk Pasar Gedhe, masjid, dan alun-alun.

Kemudian pada tahun 1760, pihak Belanda mendirikan Benteng Rustenburgh di dekat keraton atas izin Sultan Yogyakarta.

Pembangunan benteng tersebut bertujuan untuk mengontrol segala perkembangan yang terjadi di dalam keraton, juga sebagai benteng strategi, intimidasi, dan blokade, bila sewaktu-waktu Sultan berbalik menyerang dan memusuhi Belanda.

Benteng selesai dibangun pada tahun 1787 tetapi sempat mengalami kerusakan karena gempa bumi. Setelah dipugar, Daendels mengganti namanya menjadi Vredeburg yang artinya perdamaian.

Masih berdiri kokoh hingga saat ini, Benteng Vredeburg telah merekam berbagai peristiwa penting yang terjadi di Yogyakarta.

Misalnya, pada masa penguasaan Inggris tahun 1811-1816, Benteng Vredeburg dikuasai oleh pemerintah Inggris di bawah penguasaan John Crawfurd atas perintah Gubernur Jendral Thomas Stamford Raffles.

Saat itu, terjadi penyerangan serdadu Inggris dan kekuatan-kekuatan pribumi ke Keraton Yogayakarta pada 18-20 Juni 1812 yang dikenal dengan peristiwa Geger Sepoy.

Kemudian pada 5 Maret 1942, Jepang menguasai Yogyakarta dan mengambil alih benteng ini. Beberapa bangunan di benteng menjadi tempat tawanan orang Belanda dan Indonesia yang melawan Jepang, serta menjadi markas dan gudang senjata tentara Jepang.

Setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia tahun 1945, benteng diambil alih oleh instansi militer Republik Indonesia. Namun, benteng ini sempat kembali dikuasai pasukan Belanda pada tahun 1948 sampai 1949 pada peristiwa Agresi Militer Belanda II.

Baru kemudian pada Juni 1949 ketika pasukan Belanda mundur dari Yogyakarta, benteng dikelola oleh APRI (Angkatan Perang Republik Indonesia).

Pada periode 1977-1992, pengelolaan benteng diserahkan pada pemerintahan Yogyakarta dan tanggal 5 November 1984, Mendikbud saat itu yaitu Prof. Dr. Nugroho Notosusanto menyatakan bahwa bekas benteng ini akan difungsikan menjadi museum.

Kemudian tahun 1987, Museum Benteng Vredeburg seluas 46.574 meter persegi pun sudah dibuka untuk umum. [GNFI]

Menjadi Kota Paling Sepi di Indonesia, Ternyata Banyak Wisata di Subulussalam

0
Air Terjun SKPC (Foto: Instagram/@miefcobain)

Nukilan.id – Nama Kota Subulussalam mungkin masih terdengar asing bagi masyarakat di luar Pulau Sumatra. Namun, tahukah Anda kalau Kota Subulussalam di Provinsi Aceh yang berbatasan dengan Kabupaten Aceh dan Provinsi Sumatra Utara ini merupakan kota paling sepi di Indonesia?

Kota Subulussalam memiliki luas wilayah yang besar yaitu 1.391 kilometer persegi atau hampir dua kali lipat dari luas DKI Jakarta (661 kilometer persegi). Namun, jumlah penduduk di kota ini sangat sedikit yaitu 93.457 jiwa.

Berdasarkan rata-rata kepadatan penduduk dan luas wilayahnya inilah yang membuat Subulussalam dinobatkan sebagai kota paling sepi di Indonesia.

Kota ini terdiri dari lima kecamatan yaitu Kecamatan Longkib, Penanggalan, Rundeng, Simpang Kiri, dan Kecamatan Sultan Daulat.

Selain wilayahnya yang amat luas, kota ini juga memiliki bentangan hutan mencapai 34.630 hektare yang terdiri dari kawasan hutan lindung, hutan suaka margasatwa, hutan produksi, dan taman hutan raja.

Meski kotanya sepi, Subulussalam juga memiliki banyak pilihan objek wisata alam dan dapat menjadi alternatif destinasi liburan di Aceh. Berikut daftarnya:

Air Terjun SiLangit-Langit

Keindahan dan keasrian panorama air terjun Lae Sampuren Silangit-langit di Desa Singgersing, Kecamatan Sultan Daulat, Kota Subulussalam, Aceh, (Foto: Tagar/Nukman)

Air Terjun Silangit-Langit atau juga biasa disebut Silelangit merupakan salah satu objek wisata alam di Kampong Singgersing, Kecamatan Sultan Daulat, Kota Subulussalam.

Panorama air terjun ini sunggun indah dan asri dengan air terjun bertingkat-tingkat dan di sekelilingnya adalah hutan tropis yang sejuk. Di sekitar air terjun terdapat pepohonan tinggi menjulang dan begitu rimbun.

Untuk menuju lokasi, wisatawan harus menempuh jarak sekitar 23 km dari pusat kota sampai ke dermaga di Desa Singgersing.

Perjalanan dapat dilanjutkan dengan naik perahu motor tradisional yang disebut robin dan mengarungi Sungai Lae Raso selama dua jam sampai di lokasi air terjun.

Sungai Lae Kombih

Sungai Lae Kombih (Foto: Instagram/@rio_ardie)

Sungai Lae Kombih berada di kawasan Taman Hutan Rakyat Lae Kombih Subulussalam dan dikenal dengan aliran sungainya yang deras dan menantang.

Di sungai ini, debit airnya memang sangat deras dan memiliki air terjun bernama Kedabuhan. Saking derasnya, bahkan memberikan efek serupa gelombang di sungai yang sering dimanfaatkan untuk arung jeram.

Sambil menjelajah sungai dengan arung jeram, pengunjung juga bisa menikmati pemandangan di sekitarnya yang berupa deretan pohon kapur langka yang merupakan endemik Subulussalam. Rute arung jeramnya pun cenderung unik karena awalnya akan melewati gelombang-gelombang tinggi dari Air Terjun Kedabuhan.

Selain itu, wisatawan juga bisa menikmati pemandangan Air Terjun Kedabuhan Kecil, dan Air terjun Bidadari dari sungai ini.

Air Terjun SKPC

Air Terjun SKPC (Foto: Instagram/@miefcobain)

Tak heran bila Subulussalam dijuluki sebagai kota 1001 air terjun karena memang ada begitu banyak air terjun yang bisa dikunjungi di kota sepi ini.

Untuk Air Terjun SKPC sendiri berada di Desa Penuntungan, Kecamatan Penanggalan. Jaraknya sekitar 8 kilometer dari pusat kota dan bisa ditempuh dengan jalur darat selama 20 menit.

Nama SKPC mungkin terdengar unik untuk sebuah air terjun. Nama tersebut merupakan singkatan dari Satuan Kelompok Pemukiman Blog C, pemukiman yang terletak di Kota Subulussalam dan merupakan kawasan pemukiman para pendatang dari luar pulau.

Untuk menikmati keindahan air terjun tersebut, pengunjung harus menuruni sekitar 100 anak tangga dan perlu ekstra hati-hati karena permukaannya lembap dan penuh lumut sehingga tergolong licin.

Semua usaha akan terbayar tuntas ketika sudah sampai di bawah dan menyaksikan air terjun setinggi 20 meter tersebut langsung dari jarak dekat.

Keunikan dari air terjun ini adalah lokasinya yang berada di antara perkebunan sawit dan salak pondoh. Di sana juga terdapat sebuah sungai dengan air yang jernih dari air terjun dengan bebatuan besar berwarna hitam yang mempercantik pemandangan.

Sambil bermain air dan menikmati suasana, pengunjung juga bisa minta izin kepada pemilik untuk memetik salak dan memakannya langsung di sana.

Ekowisata Lae Soraya

Ekowisata Lae Soraya (Foto: Instagram/@ekowisatalaesoraya)

Di Kota Subulussalam, Anda juga bisa merasakan sensasi ekowisata di Lae Soraya yang berada di sepanjang aliran sungai terbesar di kota yaitu Lae Soraya. Sungai ini juga sering disebut Lae Alas atau Sungai Singkil dan lokasinya ada di Kampong Pasir Belo, Kecamatan Sultan Daulat.

Anda dapat mengarungi sungai selebar 100 meter dengan robin dan melihat sembilan air terjun yang masih sangat asri, seperti Air Terjun Soraya, Soraya-2, Ruam, Ranto Panjang, Ranto Panjang-2, Batu Biti, Penuban, Simanuk-manuk Betina, dan Air terjun Simanuk-manuk Jantan.

Bila ingin lebih lama menikmati perjalanan di sana, Anda bahkan bisa berkembah di sekitaran Lae Soraya. Kemudian jika beruntung, di sepanjang perjalanan pengunjung bisa melihat langsung orangutan yang memang hidup di sekitar air terjun.

Namo Buaya

Irigasi Namobuaya Kec. Sultan Daulat Kota Subulussalam. (Foto: Instagram/@joel.jacko)

Namo Buaya merupakan desa di Kecamatan Sultan Daulat yang dikenal sebagai penghasil padi, jagung, kelapa, dan kakao. Di desa ini terdapat objek wisata berupa irigasi sungai yang biasa disebut Irigasi Bahorok.

Sebelum sering dikunjungi wisatawan, kawasan ini berperan sebagai sarana irigasi yang dimanfaatkan masyarakat untuk mengalirkan air ke sumber pertanian.

Daya tarik dari sungai irigasi ini adalah lokasinya yang strategis, memiliki air sungai yang sangat jernih, dan pemandangannya yang memesona.

Selain bersantai, melepas penat, dan menikmati pemandangan di sekitar sungai, pengunjung juga bisa bertemu dengan berbagai satwa liar seperti monyet dan burung. [GNFI]

Intip Tempoyak, Kuliner Khas Masyarakat Melayu Hasil Fermentasi Durian

0
Masakan asam durian yang berbahan dari buah durian ini, di Aceh dinamakan jruk drien atau asam drien. Foto: Junaidi Hanafiah/Mongabay Indonesia

Nukilan.id – Buah durian paling enak dimakan saat sudah matang, setelah tercium harum wanginya. Namun, buah berduri ini rasanya akan menjadi asam bila terlalu lama dibiarkan, setelah dibuka.

Untuk memperpanjang masa simpan dan penganekaragaman produk, durian dapat diolah melalui serangkaian pengolahan. Proses yang melibatkan mikroba atau diproses secara mikrobiologi (fermentasi).

Proses pengolahan yang melibatkan bakteri asam laktat atau fermentasi ini, dikenal dengan nama tempoyak.

Santo Repi, petani durian dari Kepahiang, Bengkulu, mengatakan tempoyak dibuat dengan daging buah durian sebagai bahan utamanya.

“Daging buah yang kami gunakan biasanya yang terlalu matang atau kualitasnya kurang baik,” terangnya kepada Mongabay Indonesia, Selasa (22/02/2022).

Proses pembuatan tempoyak, diawali dengan pemeraman daging buah durian di toples tertutup rapat yang ditambahkan garam (fermentasi tradisional).

“Banyak sedikitnya garam mempengaruhi jenis tempoyak yang akan dihasilkan. Tempoyak asam bila penambahan garam kurang 5 persen dan tempoyak asin bila penambahan garam lebih dari 5 persen.”

Menurut Repi, tempoyak asam dan tempoyak asin memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Tempoyak asin memiliki umur simpan lebih baik bila dibandingkan tempoyak asam. “Proses pembuatan ini memerlukan waktu 3-7 hari,” ujarnya.

Penelitian Rapeka Reli, Endang Warsiki, dan Mulyorini Rahayuningsih dari Institut Pertanian Bogor (IPB) menunjukkan, bakteri asam laktat dari proses fermentasi tradisional akan mengalami fermentasi cepat melalui mitosis (proses membelah diri).

Kondisi ini akan menurunkan mutu produk, lalu menghasilkan alkohol serta CO2 sebagai hasil samping.

“Hal itu dapat mengakibatkan kerusakan pada tempoyak sehingga umur simpan pendek. Modifikasi pengolahan dan perbaikan kemasan diharapkan dapat mempertahankan mutu dan memperpanjang umur simpan tempoyak,” jelas peneliti.

Berasal dari Suku Melayu

Berdasarkan riset Neti Yuliana dalam Jurnal Teknologi dan Industri Hasil Pertanian diketahui durian fermentasi atau tempoyak digunakan sebagai bumbu masakan di beberapa daerah Indonesia, terutama masyarakat Melayu. Sebut saja di Sumatera Selatan, Bengkulu, Lampung, Jambi, Sumatera Barat [juga dikenal sebagai durian asam], Aceh, dan Kalimantan Barat.

“Tempoyak memiliki cita rasa dan aroma kuat. Terbentuk karena keseimbangan antara komponen gula dari buah dan asam laktat selama fermentasi,” tulisnya.

Secara fisik, tempoyak merupakan massa yang bersifat semi padat, berwarna putih sampai kekuning-kuningan. Warna ditentukan oleh warna asli daging durian sebagai bahan utama, yang umumnya bergantung dari varietas durian.

“Teksturnya lunak, berserat halus, lembut agak kental, seperti bubur durian sampai penampakan sedikit berair,” jelas laporan tersebut.

Dengan karakteristik itu, tempoyak tidak dikonsumsi begitu saja. Melainkan, digunakan sebagai sambal, bumbu penyedap pada gulai ikan dan pepes ikan air tawar.

Neli Dekriyanti, ibu rumah tangga di Kepahiang, Bengkulu, mengatakan tempoyak dapat diolah menjadi bahan pelengkap masakan. Sebut saja sambal tempoyak mentah, sambal tempoyak tumis, iwak masak tempoyak, pindang patin tempoyak, hingga brengkes tempoyak.

“Dimasak apapun, tempoyak akan membuat masakan enak.”

Neli juga menjelaskan, selain dibuat tempoyak, buah durian bisa dijadikan produk olahan lain. “Umumnya selai, dodol, maupun lempok,” ujarnya.

Jangan dimakan Langsung

Dalam Jurnal Agritech, Vol. 30, No. 4, November 2010, berjudul Mikroflora pada Tempoyak, karya Hasanuddin dari Program Studi Teknologi Industri Pertanian, Fakultas Pertanian, Universitas Bengkulu, diketahui isolat bakteri yang teridentifikasi pada tempoyak sebanyak enam spesies. Ada P. acidilactici, L. plantarum, L. curvatus, Leu. mesentroides, S. saprophyticus dan M. varians.

Dari enam spesies tersebut, empat spesies berperanan positif pada fermentasi tempoyak, yaitu P. acidilactici, L. Plantarum, L. curvatus, dan Leu. mesentroides.

Ada tiga spesies jamur yang terlibat dalam proses fermentasi tempoyak guna memproduksi asam laktat, yaitu Rhizopus oryzae, Monilia sitophila, dan Mucor roxii.

Jamur lain yang terisolasi dari tempoyak adalah Penicillium, sebagai spesies yang belum bisa diketahui keterlibataannya dalam proses fermentasi. Terdapatnya Penicillium perlu diwaspadai karena jamur ini ada yang menghasilkan mycotoxin.

“Masyarakat disarankan untuk tidak mengkonsumsi langsung tempoyak, tanpa dimasak, dikarenakan ada dua spesies bakteri yang tidak menguntungkan,” jelasnya.

Mengutip dari Buku Yuk, Mengenal Makanan Hasil Fermentasi Khas Indonesia karya Esti Asmalia, terbitan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, diketahui tempoyak memiliki sejumlah kandungan gizi.

Dalam setiap 100 gram, tempoyak mengandung 67 gram air; 28,3 gram karbohidrat; 2,5 gram lemak; 2,5 gram protein; dan 1,4 gram serat.

“Durian juga mengandung vitamin B1, vitamin B2, vitamin C, kalium, kalsium, dan fosfor,” jelasnya. [mongabay]

Raih Indonesia Best BUMD, Bank Aceh Apresiasi Gubernur dan Pemegang Saham

0
Bank Aceh raih penghargaan Indonesia Best BUMD Awards 2022. (Foto: Dok.Ist)

Nukilan.id – Mengawali tahun 2022, Bank Aceh berhasil meraih penghargaan Indonesia Best BUMD Awards 2022 bertajuk Building a Sustainable Regional Economy kategori BPD dengan menyandang predikat Indonesia Best BUMD Awards 2022 on Developing Ecosystems Banking Sharia to Improving The Regional Economy. Penghargaan tersebut diserahkan langsung Edy Nurmansyah, Business Director Warta Ekonomi kepada Direktur Utama Bank Aceh, Haizir Sulaiman didampingi oleh Ziad Farhad, Humas Bank Aceh, Kamis (24/02) melalui aplikasi zoom.

Bank Aceh dianggap mampu menjaga pertumbuhan kinerja dengan baik dan terpilih sebagai salah satu bank yang memiliki kinerja terbaik meningkatkan pertumbuhan ekonomi daerah setelah bertransformasi menjadi Bank Syariah sejak tahun 2016.

Bank Aceh raih penghargaan Indonesia Best BUMD Awards 2022. (Foto: Dok.Ist)

“Ini merupakan sebuah prestasi dan kebanggaan bagi rakyat Aceh bahwa Bank daerah Aceh bisa mendapat apresiasi nasional dan mampu mempertahankan kinerja sejak menjadi Bank Umum Syariah,” ujar Haizir. Hal ini menurutnya tidak lepas dari dukungan masyarakat Aceh. Ia memberikan apresiasi tertinggi kepada Gubernur Aceh Nova Iriansyah selaku pemegang saham pengendali beserta seluruh kepala daerah selaku pemegang saham yang ikut berkontibusi bagi pertumbuhan kinerja Bank Aceh.

Dikatakan, dukungan dalam bentuk modal dan sinergitas oleh pemegang saham dalam menjalankan aktivitas bisnis merupakan salah satu kekuatan yang dimiliki Bank Aceh dalam menghadapi persaingan bisnis.

Ia menambahkan, transformasi dan perubahan atsmosfer bisnis juga menjadi salah satu faktor pendukung Bank Aceh meraih penghargaan tersebut.

“Kami menerapkan tiga transformasi dalam menyongsong perubahan bisnis. Ketiga transformasi tersebut yaitu transformasi bisnis, budaya dan tampilan,” ujarnya.

Menurutnya, hasil kolaborasi dalam menerapkan ketiga transformasi tersebut meningkatkan kinerja Bank Aceh, salah satunya dalam bentuk pembiayaan yang menjadi stimulus dalam menggerakkan ekonomi bagi. Selain itu, di 2021 lalu Bank Aceh juga telah meluncurkan berbagai produk dan layanan digital diantaranya layanan Action Mobile Banking, QRIS, Kartu Debit, ATM CRM dan EDC serta uang elektronik Pengcard.

Sementara itu, dalam rangka melakukan ekspansi bisnis Bank Aceh telah membuka Cabang di Jakarta “Kita sangat mengharapkan dukungan penuh dari masyarakat untuk terus bersama dan mendukung Bank Aceh mengembangkan perekonomian syariah. Sehingga Bank Aceh terus tumbuh berkembang dan dapat memberikan kontribusi positif bagi daerah,” katanya.

Haizir juga menjelaskan kinerja keuangan Bank Aceh terus menunjukkan tren pertumbuhan yang positif. Pencapaian kinerja keuangan secara umum pada Desember 2021 sangat menggembirakan. Dari beberapa indikator utama mampu tumbuh hingga dua digit, bahkan di atas pertumbuhan rata-rata perbankan nasional.

Pencapaian total aset Bank Aceh telah menembus angka Rp 28.2 triliun, Dana Simpanan Pihak Ketiga (DPK) mencapai Rp 24 triliun, dan pada saat bersamaan, pertumbuhan pembiayaan yang disalurkan mencapai sebesar Rp 16.3 triliun. Sementara itu pencapaian laba sebelum pajak sebesar Rp 502 miliar.

Edy Nurmansyah selaku pihak penyelenggara menyampaikan penilaian dan penentuan pemenang untuk penghargaan ini berbasis data kuantitatif berupa catatan kinerja BUMD selama 2021. Selain kuantitatif, penilaian juga berdasarkan indikator kualitatif seperti publikasi peran BUMD yang dilakukan untuk mengembangkan potensi daerah, inovasi terkini yang dilakukan BUMD untuk meningkatkan kinerja bisnis perusahaan serta pelayanan dan pandangan publik atau konsumen. []