Beranda blog Halaman 1779

Sumur Minyak di Aceh Timur Meledak, 3 Pekerja Alami Luka Bakar

0
Sumur Minyak di Aceh Timur Meledak, (Foto: Dok.Ist)

Nukilan.id – Diduga karena volume semburan gas bercampur minyak yang sangat tinggi, sumur minyak tradisional milik Yusri (37) meledak di Desa Mata’i, Kecamatan Ranto Peureulak, Kabupaten Aceh Timur, Jumat malam, 11 Maret 2022.

Kabid Humas Polda Aceh Kombes Winardy yang didampingi Kapolres Aceh Timur AKBP Mahmun Hari Sandy Sinurat membenarkan peristiwa kebakaran lokasi sumur minyak tradisional di Aceh Timur.

Winardy menjelaskan, sumur minyak tradisional tersebut dikelola oleh masyarakat. Namun, karena volume semburannya tinggi, minyak tidak tertampung dan melimpah ke tanah. Sehingga pekerja sumur panik dan tidak sempat melakukan safety.

Tidak lama kemudian, terdengar suara ledakan dari sumur tersebut dan mengeluarkan api setinggi 25 meter yang mengakibatkan kebakaran di lokasi.

“Warga setempat langsung menghubungi damkar untuk memadaman api dan mngevakuasi pekerja. Ada delapan damkar di lokasi. Alhamdulillah pukul 02.45 WIB api berhasil dipadamkan,” kata Winardy, Sabtu, 12 Maret 2022.

Dalam peristiwa tersebut, kata Winardy, tiga pekerja sumur mengalami luka bakar, yaitu Safrizal (35), Junaidi (34), dan Baihaqi (35). Mereka sempat dilakukan penanganan medis di UGD UPTD Puskesmas Ranto Peureulak, sebelum di rujuk ke RSUD Sultan Abdul Azissyah Peureulak.

Saat ini, polisi sudah memasang pembatas di lokasi kejadian dan melakukan identifikasi untuk kepentingan penyelidikan. []

Pulau Sapudi, Kisah Dewa dan Dewi Sapi Menjadi Simbol Kehormatan

0
Karapan Sapi © Commons Wikimedia

Nukilan.id – Sapudi, begitulah warga Madura menyebutnya. Ini diambil dari nama Adipoday, putra tertua Panembangan Balinge, penguasa pulau itu. Namun masyarakat Jawa menyebut Sapudi sebagai akronim dari sapi ten pundi-pundi atau sapi di mana-mana.

Memang pulau yang terletak di timur Madura itu menjadi sentral pemasok sapi ras Madura terbesar di Nusantara. Meneguhkan kisah dewa dan dewi sapi yang akhirnya memunculkan para juragan baru dari Sapudi.

Pada catatan sejarah, warga Sapudi punya keterkaitan erat dengan Kerajaan Sumenep. Berasal dari putra sulung dari Penambahan Balinge, yakni Adipoday, ayah Joko Tole, penguasa Sumenep.

“Kedua-duanya adalah hewan kesayangan Panembangan Balinge, bangsawan yang pertama kali menempati Pulau Sapudi pada abad ke 10. Legenda itu masih dipercaya warga,” kata Taha (76), sesepuh warga Sapudi yang disadur dari buku Legenda dan Mitos Tempat Wisata di Pulau Jawa terbitan Kompas.

Sapi-sapi milik adipati itu istimewa, badannya kokoh dan elok. Karena itulah, Balinge menjadikannya sebagai hewan kesayangan. Dari sepasang ternak itu, sapi-sapi Sapudi berkembang biak. Keturunannya mewarisi kekokohan dan keelokan induknya.

“Mereka terus beranak-pinak hingga akhirnya populasinya membesar dan menyebar ke Pulau Sapudi,” tulis Siwi Yunita C dan Adi Sucipto.

Adipoday dipercaya menanamkan cara beternak sapi kepada masyarakat yang dipelajarinya dari orang tuanya. Sejak saat itu, hingga kini, masyarakat Pulau Sapudi dikenal mahir beternak sapi.

Ketika itu, Adipoday menerapkan sejumlah aturan dalam urusan memelihara sapi dan bercocok tanam. Aturan-aturan tersebut hingga kini diduga masih dipegang erat oleh masyarakat setempat.

Hubungan Adipoday dengan Madura juga sangat erat karena anaknya, Joko Tole menjadi raja di Sumenep. Bahkan tradisi karapan sapi yang sangat terkenal itu berawal di Sapudi untuk kemudian tersebar di seluruh daratan Madura.

Namun, di balik kisah dewa dan dewi sapi, ternak di Sapudi berkembang karena kearifan masyarakat sekitar. Di pulau ini, warga hampir tidak pernah melepas sapi induk untuk diperdagangkan

Panjito, peternak sapi misalnya tetap memelihara Putre Koneng, sapi betina besar yang dia rawat sejak kecil. Dirinya yang juga penjaga situs Dewi Sapi di Sapudi seolah mengulang perilaku sang bangsawan Balinge yang sayang kepada ternaknya.

Sapi yang kuasai Sapudi

Di pulau yang hanya seluas 35 kilometer persegi itu, sapi memang ada di mana-mana. Kadang melintas di jalan-jalan desa, memenuhi lapangan karapan, hingga ikut antre tuannya menyebrang di pelabuhan.

Populasi ternak di Sapudi hampir tak pernah menyusut meski terus diperdagangkan ke sejumlah pulau. Jumlahnya berdasarkan data sensus ternak tahun 2011 sekitar 39.977 sapi atau mendekati jumlah warganya yang sebanyak 50.996 orang.

Di Sapudi juga warga sangat jarang menyembelih sapi. Menurut Dede Iswahyudi, Ketua Paguyuban Peternak Sapi Dharma Maesa di Sapudi menyebut bahwa profesi tukang jaga nyaris tidak ada.

“Bagi peternak sapi, membawa sapi ke tukang jagal adalah pilihan terakhir. Warga Sapudi lebih memilih membeli rumput dengan harga Rp50 ribu dan puasa asal sapinya bisa makan,” tulis Dede.

Karena tradisi ini tidak heran, Sapudi disebut merupakan kawasan sapi terpadat di dunia. Ini terbukti dengan tiap kilometernya terdapat 175 ekor sapi. Tentunya ini menjadi salah satu langkah Pemprov Jatim untuk menjadikan Madura sebagai Pulau Sapi.

“Keistimewaan Pulau Sapudi sebagai sentral sapi terbesar di dunia banyak diulas di buku Peduli Peternakan Rakyat,” jelas Ir Heni Muhardini, Sekretaris Dinas Peternakan Jatim pada 2010 lalu yang dimuatKominfo Jatim.

Menurutnya dalam buku karya Sofyan Sudrajat dijelaskan Pulau Sapudi telah terkenal sebagai Pulau Sapi sejak masa penjajahan Belanda. Di pulau itu pada tahun 1918 populasi sapi asal Madura dilaporkan sebanyak 713.126 ekor.

Tiga tahun kemudian atau tepatnya tahun 1921, jumlahnya meningkat. Tiap kilometer rata-rata terdapat 112 ekor. Angka ini setara dengan salah satu provinsi di Belanda pada waktu itu dengan jumlah sapi tiap kilometernya mencapai 115 ekor.

Hal yang menarik adalah Warga Sapudi juga melarang sapi dari ras lain masuk ke wilayah ini. M. Hasan yang juga juragan sapi, mengatakan, sapi dari ras lain bisa mengubah keturunan asli dewi sapi.

“Kearifan lokal inilah yang turut menjaga kemurnian genetik sapi ras Madura, selain dari aturan pelarangan masuknya sapi dari ras lain yang tertera di staatsblad tahun 1934,” tulis Gunawan MS dalam buku Sapi Madura sebagai Ternak Kerja, Potong, Karapan dan Sonok.

Sapi sebagai roda ekonomi

Melimpahnya sapi di Pulau Sapudi seperti tidak ada habisnya. Padahal, setiap minggu setidaknya ada 500 ekor sapi yang dijual ke luar pulau, baik yang ada di wilayah Sumenep dan sekitarnya maupun di luar Madura.

Eratnya hubungan warga Madura dengan sapi, menurut budayawan dari Sumenep, Edhi Setyawan tidak lepas dari budaya agraris di masyarakat Madura. Sapi menjadi terlalu berharga untuk disembelih karena memudahkan kerja petani.

“Bernilai investasi tinggi, dan bisa menaikan status pemilik,” ucapnya dalam buku Garam, Kekerasan, dan Aduan Sapi.

Dari sapi, roda ekonomi warga Sapudi turut berputar. Meski hanya pulau kecil, Sapudi menjadi pusat perdagangan sapi teramai di Madura. Sekitar 4.000 sapi bibit dikapalkan ke pulau lain per tahun.

Pulau ini selalu disinggahi saudagar dari berbagai penjuru tempat untuk memburu sapi pilihan. Para saudagar akan datang berduyun-duyun menyebrangi Selat Madura untuk membeli sapi di Pasar Ternak Garam.

Dari perputaran ekonomi itulah muncul para juragan sapi. Mereka menjadi juragan setelah berhasil menernakkan sapi. Mereka juga mendapatan untung besar dari hasil mencetak sapi karapan yang berharga tinggi.

Bahkan warga Pulau Sapudi ada yang berhaji dari hasil penjualan sepasang sapi yang laku lebih dari Rp100 juta. Ada pula yang membiayai kuliah anaknya hingga ratusan juta rupiah dari sapi-sapi yang berpotensi dikembangkan untuk sapi karapan dan sapi untuk kontes kecantikan.

Bagi masyarakat, sapi merupakan tabungan. Hewan ternak ini juga menjadi mitra kerja warga dalam membajak ladang mereka. Selain diambil dagingnya, atau dijual saat membutuhkan, sapi juga menjadi bagian dari tradisi, kesenangan, status sosial.

Pamor dan status sosial warga bisa meroket karena sapi yang mereka miliki. Di Sapudi, orang kaya dilihat dari rumahnya yang bagus dan jumlah ternak sapi. Mobil, baju bermerek, ataupun gadget canggih hanya nomor kesekian.

Juragan sapi yang punya ternak banyak pun akan dihormati warga karena mereka turut mengangkat perekonomian warga yang tak mampu dengan memberikan pekerjaan sebagai pemeliihara sapi.

“Dewa dan dewi sapi di Sapudi mungkin hanya mitos, tetapi legendanya telah memberi warna kehidupan yang kaya kepada warga Sapudi, Madura, bahkan Nusantara,” tulis Siwi. [GNFI]

Persiapan Akomodasi dan Transportasi Wisatawan di Mandalika Jelang MotoGP

0
Mandalika © Hariadi Mahsyar Shutterstock

Nukilan.id – Menjelang penyelenggaraan MotoGP Mandalika 2022 yang akan berlangsung pada 18-20 Maret 2022, persiapan demi persiapan terus dilakukan. Selain penyempurnaan area sirkuit, pemerintah juga tengah menyiapkan fasilitas pendukung untuk wisatawan termasuk akomodasi dan transportasi.

Menurut Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Sandiaga Salahuddin Uno, saat ini jumlah ketersediaan kamar di Nusa Tenggara Barat (NTB) berjumlah 24 ribu.

Jumlah tersebut juga akan terus ditambah guna mengantisipasi antusiasme wisatawan di ajang Pertamina Grand Prix of Indonesia yang kapasitasnya telah ditetapkan sebesar 100 ribu penonton.

Sandiaga mengatakan bahwa saat ini tingkat keterisian hotel di NTB selama penyelenggaraan MotoGP sudah mencapai 52 persen. Untuk memasarkan akomodasi, nantinya akan diintegrasikan dengan sistem pemesanan tiket terpadu.

“Kita ingin MotoGP memberikan dampak yang luas kepada seluruh mata rantai perekonomian, bukan hanya di Lombok tapi juga sektor pariwisata dan ekonomi kreatif di Indonesia,” ujar Sandiaga.

Transportasi gratis untuk penonton MotoGP

Sebagai sarana transportasi menuju Lombok, Direktorat Jenderal Perhubungan Laut Kementerian Perhubungan menyiapkan empat rute pelayaran yang bisa dipilih oleh penonton MotoGP, yaitu Surabaya-Lembar, Surabaya-Lembar-Waingapu, Benoa-Lembar-Bima, dan rute Tanjung Wangi-Lembar.

Pelaksana tugas Direktur Jenderal Perhubungan Laut Arif Toha juga menjelaskan bahwa pihaknya telah menyiapkan Terminal Gilimas di Pelabuhan Lembar Lombok Barat sebagai antisipasi peningkatan jumlah penumpang menuju Mandalika lewat jalur laut.

Untuk Terminal Gilimas sendiri berjarak sekitar 50 kilometer menuju Mandalika dan dibangun untuk melayani kapal pesiar dari luar negeri dengan kapasitas lebih besar hingga 1.500 orang.

Untuk transportasi di sekitaran sirkuit, Kementerian Perhubungan (Kemenhub) juga akan mengucurkan dana sebesar Rp21,2 milar.

Menurut Dirjen Perhubungan Darat Budi Setiyadi, dana tersebut akan digunakan untuk membangun 188 shuttle bus ukuran sedang, 278 bus antarmoda dengan enam trayek berbeda, pembangunan halte tambahan, dan penyediaan penerangan jalan umum.

Nantinya akan ada dua jenis transportasi gratis untuk penonton MotoGP Mandalika yaitu shuttle bus dan bus antarmoda di enam rute ke pusat kota (eks Bandara Selaparang) dan simpul transportasi di luar kawasan sirkuit seperti Pelabuhan Gilimas, Pelabuhan Lembar, Pelabuhan Bangsal, Pelabuhan Kayangan, dan Bandara Bizam.

Pilihan penginapan di sekitar Sirkuit Mandalika

Salah satu tipe akomodasi yang telah disipakan sebagai penunjang perhelatan MotoGP 2022 adalah Glamping Kelana di Desa Kuta, Lombok Tengah.

Glamping atau glamorous camping ini menjadi salah satu pilihan akomodasi yang diharapkan dapat memberikan layanan maksimal bagi wisatawan sekaligus membuka lapangan kerja bagi masyarakat juga mendorong kebangkitan ekonomi.

Saat ini, sudah ada 20 unit tenda di Glamping Kelana dan jumlahnya akan ditambah dengan target 1.000 unit dengan kapasitas 2.000 orang. Karena minat yang sangat tinggi terhadap MotoGP, jadi akhirnya karena kreativitas bangsa kita dibuatlah tenda-tenda ini sebagai alternatif hunian,” kata Sandiaga.

Di Glamping Kelana, ada dua paket yang ditawarkan. Pertama, paket camping dengan harga Rp250 ribu untuk menginap di tenda dan menikmati fasilitas yang tersedia. Kedua, ada paket glamping dengan harga Rp600 ribu yang sudah termasuk penginapan, fasilitas tersedia, serta transportasi dari Bandara ke Glamping Kelana.

Untuk fasilitas di Glamping Kelana antara lain toilet portabel, musala, dan panggung mini yang akan menampilkan produk ekonomi kreatif masyarakat setempat.

Selain Glamping Kelana, Kemenparekraf juga bekerja sama dengan Kementerian PUPR untuk menghadirkan 98 Sarana Hunian Pariwisata (sarhunta) di Gili Trameno sebagai alternatif pilihan penginapan penonton MotoGP.

Saat ini, sarhunta terdiri dari 19 unit di Gili Trawangan, 42 unit di Gili Meno, dan 38 unit di Gili Air dengan kisaran harga sekitar Rp200-350 ribu per malam termasuk sarapan.

Kemenparekraf juga bekerja sama dengan pemerintah daerah NTB untuk merancang paket perjalanan dengan biaya sebesar Rp1,5 juta sudah termasuk penginapan, konsumsi, tiket menonton MotoGP, dan transportasi shuttle kapal dan bus dari Gili Tramena ke Mandalika. [GNFI]

Sensasi Piknik Gelar Tikar Sambil Nonton MotoGP Mandalika

0
Bukit di Sirkuit Mandalika © instagram @travelsingle__

Nukilan.id – Setelah lebih dulu menggelar tes pramusim pada tanggal 11-13 Februari lalu, salah satu ajang balap paling bergengsi dunia yakni MotoGP akhirnya akan secara resmi bergulir di Sirkuit Mandalika pada tanggal 18-20 Maret mendatang.

Tinggal menghitung hari, pengelola sekaligus penyelenggara sendiri diketahui memang menggandeng beberapa pihak yang dipercaya untuk melakukan proses distribusi atau penjualan tiket sejak lama.

Tingginya antusias masyarakat Indonesia sekaligus dunia yang ingin menyaksikan ajang balap di sirkuit baru, yang menawarkan pemandangan alam menakjubkan ini nyatanya membuat penjualan tiket MotoGP Mandalika habis dengan cepat.

Beberapa hari lalu, salah satu situs penjualan tiket yang digandeng oleh Mandalika Grand Prix Association (MGPA) bahkan melaporkan jika semua kuota tiket yang tersedia sudah habis terjual. Sementara itu di situs lainnya juga terlihat jika beberapa tiket untuk kategori tertentu sudah habis dipesan, dan menyisakan tiket di kelas lebih rendah dengan kisaran harga di bawah Rp1 juta.

Terlepas dari situasi tersebut, ada satu hal menarik yang belakangan ramai diperbincangkan mengenai kebijakan menonton secara langsung gelaran MotoGP Mandalika, yang akan berlangsung pada pekan depan.

ITDC dan MGPA, secara resmi mengumumkan bahwa mereka memperbolehkan penonton untuk membawa tikar dan kursi sendiri, yang nantinya bisa dipergunakan selama balapan berlangsung.

Khusus penonton dengan tiket tertentu

Samsul Purba, selaku Direktur Teknik dan Operasi MGPA mengonfirmasi kalau kabar mengenai izin penggunaan kursi dan tikar yang dibawa secara pribadi oleh penonton, untuk menyaksikan ajang balap MotoGP memang benar adanya.

Namun ia juga menyatakan jika ketentuan tersebut berlaku dengan beberapa syarat tertentu. Pertama, ketentuan tersebut hanya berlaku untuk penonton yang memiliki tiket di kelas festival (general admission). Sekadar informasi, kategori tiket general admission sendiri merupakan tiket non-seating area, yang artinya tidak disediakan tempat duduk dan tidak memiliki atap.

Harga untuk tiket di kelas ini berkisar antara Rp115 ribu sampai dengan Rp575 ribu, di mana harga termahal merupakan harga untuk tiket di gelaran hari terakhir yang berlangsung pada tanggal 20 Maret.

Menurut penuturan Samsul, pemegang tiket general admission akan ditempatkan pada area khusus di atas bukit yang langsung menghadap ke arah lintasan balap, dan memang sudah disiapkan dengan permukaan yang datar sehingga bisa digunakan untuk menggelar tikar dan kursi pribadi secara leluasa.

Area untuk tiket kelas general admission sendiri diketahui tersebar di tiga titik lokasi baik di dalam maupun luar area sirkuit, dan secara total bisa menampung hingga sebanyak 10 ribu penonton.

“Lokasi tribunnya sudah disediakan di sebelah Bukit Jokowi tepat di depan tikungan lima. Kita sudah bikin datar di sana untuk penonton lebih santai,” ujar Purba, mengutip Kumparan.

Lain itu, dua titik lainnya yang juga sudah dipersiapkan berada di depan tribun VVIP tepatnya di atas bukit 360 atau Serenting, dan di sebelah tribun standar granstand yang terletak di depan tikungan 4-6 di bagian dalam Sirkuit Mandalika.

Imbauan yang harus diperhatikan

Meski pihak MGPA menyebut jika izin membawa kursi dan tikar diperbolehkan demi membuat para penonton nyaman, namun mereka juga menegaskan jika ada beberapa hal yang wajib diperhatikan demi kelancaran acara, khususnya selama ajang balap berlangsung.

Penonton disebut tidak disarankan untuk membawa payung karena dikhawatirkan terbang ke arah lintasan sirkuit saat terkena terpaan angin, begitu juga dengan sampah-sampah terutama plastik yang mudah tertiup angin dan dikhawatirkan dapat mengganggu berjalannya acara.

Lain itu, para penonton juga diharapkan agar memerhatikan semua barang bawaan, terutama bagi yang mengenakan topi atau penutup kepala agar diikat untuk menghindari hal yang tidak diinginkan, dan dapat menimbulkan masalah bagi para pebalap.

“Kalau bawa topi usahakan diikat agar tidak terbang ke tengah lintasan,” tambah Purba.

Bukan hal baru, sebenarnya kebijakan mengenai penonton yang diperkenankan membawa perlengkapan sendiri, untuk menonton ajang balap juga banyak diterapkan di beberapa negara lainnya.

Misalnya saja pada Sirkuit Silverstone di Inggris, di mana banyak penonton tribun tanpa kursi yang membawa tenda bahkan mobil pribadi yang memang sudah disediakan area khusus, dan akhirnya menggelar kursinya masing-masing saat kompetisi balap berlangsung.

Hanya saja di Indonesia, kebijakan ini kian terasa mewakili kearifan lokal karena MGPA mengizinkan penggunaan tikar, sehingga para penonton akan merasakan kesan ‘piknik’ sambil menonton Marc Marquez dkk saat beradu kecepatan di lintasan Sirkuit Mandalika.

Sejumlah masyarakat di jagat maya nyatanya juga terlihat menyambut kebijakan ini secara positif, beberapa dari mereka bahkan menyarankan agar pihak ITDC atau MGPA memfasilitasi penonton untuk membeli tikar dan kursi yang dijual langsung oleh para pedagang atau masyarakat lokal. [GNFI]

Songgolangit, Tanaman Pereda Asam Urat

0
Songgolangit © Commons Wikimedia

Nukilan.id – Songgolangit (Tridax procumbens) merupakan sejenis tumbuhan, kebanyakan ditemukan sebagai gulma, anggota suku Asteraceae. Berasal dari Amerika tropis, Songgolangit bisa dijumpai di tempat kering, cerah matahari.

Tanaman ini banyak dijumpai juga di Afrika Barat dan daerah tropis lainnya seperti di Indonesia. Kemudian songgolangit tersebar luas ke wilayah India, dan beberapa negara Asia Tenggara.

Di daerah Hawai, tanaman ini biasanya tumbuh di daratan rendah dan yang memiliki iklim kering. Sedangkan di Fiji, Jepang, tanaman songgolangit bisa ditemukan pada ketinggian 600 mdpl, kebun ataupun perkarangan rumah warga.

Di Papua Nunggini, pohon songgolangit juga dapat ditemukan pada ketinggian 0-700 meter dari permukaan laut, terutama di daerah yang memiiki intensitas matahari penuh. Kalau di Indonesia, lebih mudah ditemukan pada pematang sawah, ladang, hingga pinggir jalan.

Awalnya dia dikenal sebagai tanaman pengganggu alias gulma. barulah pada tahun 1906, pekebun kopi di Tasmania, Amerika, menggunakan songgolangit sebagai penutup tanah. Saking banyaknya, penduduk sekitar perkebunan menggunakanya sebagai pakan ternak.

Sejak 1,5 abad silam katumpang – sebutan songgolangit di masyarakat Sunda – banyak ditemukan di Pulau Jawa. Tetapi tidak ada yang tahu pasti siapa yang pertama kali membawanya ke Indonesia.

Namun hal yang jelas di Jawa, terutama di Jawa bagian timur, para tabib kerap menggunakan songgolangit sebagai campuran herbal. Tanaman ini pun cepat menyebar di Pulau Jawa karena mudah tumbuh, terutama daerah yang cukup terkena matahari.

Walau sudah menyebar, songgolangit belum banyak dikenal orang, tetapi jasa tanaman ini tidak bisa disepelekan. Tinggi batangnya cuma 50 cm, itu pun kalau diluruskan, tubuhnya memang meliuk-liuk ke sana kemari.

Meski tubuhnya relatif superpendek, tanaman ini diproklamasikan bernama songgolangit. Songgo artinya menyangga, langit ya langit. Karena itu tanaman ini memiliki arti harfiah yakni menyangga langit.

Belum jelas mengapa tanaman berkhasiat ini dinamakan seperti itu, namun di Inggris tanaman ini disebut sebagai coat button atau kancing jas. Sebutan ini dianggap lebih pas. Sebab, kalau sedang berbunga, bunganya memang mirip dengan kancing jas.

Kelopaknya berwarna putih, melingkar dengan jambul mencuat di tengah warna kuning. Di beberapa daerah tanaman ini memiliki nama lain. Di Jawa misalnya, ada yang menyebutnya glentang, gobesan, katumpang,londotan, orang-aring, prepes, sidawalah, srunen, dan comendelan.

Daya Tahan Hidup

Daya tahan hidup tanaman ini sangat luar biasa. Meski muncul hanya sekitar dua bulan pada saat musim hujan, dia tidak benar-benar mati. Hanya mati suri. Pangkal akarnya masih tersimpan di dalam tanah, menunggu turunnya hujan untuk bisa tumbuh lagi.

Tamanan ini memiliki ciri khas dengan adanya bulu-bulu halus pada seluruh permukaan daunnya. Ketika berbunga, bulu-bulu halus itu juga menempel pada batang bunganya. Sekilas bentuk bunganya mengingatkan pada opium walau ini berwarna kuning.

“Bila bunga mengalami penyerbukaan sempurna, maka akan menghasilkan bunga sebelum akhirnya tumbuh menjadi tanaman baru,” tulsi Moh Habib Asyhad dalam artikel berjudul Songgolangit, Si Kancing Jas Pereda Asam Urat yang dimuat di Intisari.

Songgolangit memiliki bentuk buah yang sangat khas, berupa butiran kecil-kecil, panjang tidak kurang dari 0,5 cm dan ringan. Karena sifat itulah songgolangit lebih mudah berkembang biak.

Hanya dengan bantuan angin, bibit songgolangit bisa cepat menyebar ke berbagai penjuru tempat. Biji-biji tersebut akan berhenti dan tumbuh di habitat baru. Lalu melalui biji, songolangit bisa beranak pinak dengan cara yang disebut geragih.

Menurut Habib, tumbuhan ini biasanya akan merebahkan batangnya ke tanah, kemudian dalam waktu tertentu pada batang yang menyentuh tanah ini akan tumbuh akar. Selanjutnya dia akan menjadi tanaman baru.

Karena itulah, tanaman perdu ini hidup secara menggerombol. Namun, tidak jarang dia tumbuh di sela-sela tanaman bunga di kebun atau tanaman jagung, kedelai, ataupun lombok di tegalan.

Di pedesaan, songgolangit biasa terlihat hidup di tanah-tanah lapang dan pinggir-pinggir jalan. Beberapa kali mudah dijumpai hidup merana di pinggir-pinggir jalan bersama rerumputuan.

Namun, pada tempat yang salah ini, songgolangit malah dicap sebagai tanaman penggangu. Kadang nasibnya begitu merana, karena tanaman ini mudah dicabut. Akarnya memang serabut, tetapi tidak menggigit tanah.

Songgolangit termasuk dalam tanaman yang “tahan banting”. Baik di tanah berhumus ataupun tanah gersang. Biasanya dia akan tumbuh subur. Namun ketika tanaman ini dicabut, songgolangit akan cepat layu.

Mengusir Asam Urat

Namun, setelah layu ternyata tanaman ini baru tidak dianggap sebagai tanaman penganggu. Di beberapa tempat daun tumbuhan ini digunakan sebagai obat bermacam penyakit macam konjungtivis, diare, disentri, luka dan yang berkaitan dengan peradangan.

Seorang ibu rumah tangga bahkan memperoleh berkah dari tanaman ini untuk menyembuhkan suaminya yang sakit rematik. Suaminya ini sudah beberapa kali berobat ke berbagai tempat, bahkan sampai ke luar negeri, tetapi rematiknya tidak juga hilang.

Bahkan, karena menggunakan obat-obatan pabrik terlalu sering, lambung si suami menjadi korban. Namun ketika seorang teman memberi tanaman songgolangit untuk direbus dan diminum airnya, dia pun segera melaksanakannya.

“Sebelumnya, berbagai tempat dijelajahi buat berburu songgolangit. Beruntunglah, sebulan kemudian kadar asam urat sang suami turun drastis,” jelas Habib.

Para ilmuan di Universitas Airlangga dan Universitas Katolik Widya Kencana ternyata tergelitik dengan songgolangit sebagai campuran herbal. Tanaman ini terbukti berkhasiat analgesik dan antinflamasi.

Analgesik ialah penghilang rasa sakit dan antiflamasi disebut juga antiradang. Hal yang istimewa, penelitian itu menyebutkan songgolangit tak beracun. Dia disebut aman bagi liver dan ginjal.

“Tanaman anggota keluarga suku Asteraceae itu juga kalium, magnesium, dan kalsium yang baik untuk tubuh,” paparnya.

Saat ini diketahui terdapat 3 zat aktif pada songgolangit: flavanoid tanin, saponin tanin, dan flavonoid saponin. Flavonid tanin bersifat menyejukan dan menghilangkan rasa nyeri rematik pada tulang dan pinggang.

Saponin tanin berguna sebagai antiradang, antibiotik, peluruh kencing, pereda sakit, dan penurun asam urat. Hal yang terakhir adalah flavonoid saponin, juga bersifat analgesik.

Sebagai analgesik dan antiflimasi songgolangit terasa khasiatnya pada konsentrasi 40 persen atau 2,2 gram berat kering daun. Itu setara dengan jumlah seduhan berbentuk teh sebanyak 1 kantong berukuran 8 cm x 8 cm.

Begitu juga pada ginjal, peminum teh songgolangit mengalami penurunan kreatinin. Tanaman ini juga cocok untuk penderita artritis gout atau asam urat. Selama satu bulan pemakaian dapat menurunkan sebanyak 50 persen kadar asam urat.

Agar bisa mengolah songgolangit menjadi minuman berkhasiat sangat mudah. Daun yang sudah dipetik dicuci bersih. Rebus dalam air sebanyak 250 ml hingga tersisa 200 ml, lalu saring.

Dia dapat diminum dalam kondisi hangat maupun dingin karena sama-sama berkhasiat. Bagi penderita rematik dan asam urat di minum sehari 2 kali masing-masing 1 gelas minum. Dia juga aman bagi yang sehat untuk penambah stamina. [GNFI]

Nasrul Zaman: Warga Aceh Mulai April 2022 Dilarang Sakit

0
Akademisi USK, Dr. Nasrul Zaman. (Foto: Dok. Pribadi)

Nukilan.id – Pemerintah Aceh bakal menghentikan pembayaran premi kesehatan 2,1 juta masyarakat mulai bulan depan. Premi warga tersebut selama ini ditanggung dalam program Jaminan Kesehatan Aceh (JKA).

Hal itu disampaikan Pengamat Kebijakan Publik, Dr. Nasrul Zaman dalam keterangannya kepada Nukilan, Jum’at (11/3/2022).

Ia melihat ada 2 persoalan dalam kerjasama pemerintah Aceh dengan BPJS, pertama soal sinkronisasi data yang tidak pernah selaras dan kedua soal disamakannya model pelayanan BPJS bagi warga Aceh dengan warga provinsi lainnya termasuk sistem rujukan padahal Aceh memberi anggaran BPJS sangat besar.

Meski masyarakat Aceh saat ini sebagian besar bergantung terhadap kesehatan gratis terutama masyarakat miskin namun pemerintah Aceh juga tidak bisa semena mena membayar Rp1,2 trilliun hanya untuk asuransi, karena sektor kemiskinan dan pendidikan yang buruk juga membutuhkan perhatian dan keberpihakan anggaran.

“Sebenarnya sejak awal saya sudah pernah menyampaikan agar JKA perlahan lahan dicari solusi untuk tidak gabung dengan BPJS, JKA untuk masyarakat Aceh perlu dibuat secara mandiri dan Aceh pernah punya pengalaman mengelola JKA dengan provider lain,” ujar Nasrul Zaman.

Selain itu, kata dia, Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh (UUPA) jelas memberi kewenangan bagi Aceh untuk mengelola sektor kesehatan secara mandiri dan diperkuat oleh Qanun No. 4 tahun 2010 tentang kesehatan pasal 75 yang memerintahkan Pemerintah Aceh membuat BPJKA.

“Untuk sementara kita menyesalkan pemerintah Aceh karena setelah anggaran JKA kerjasama dengan BPJS hanya sampai Maret 2022, maka harusnya ada pengumuman kalau masyarakat tetap bisa berobat gratis di seluruh rumah sakit pemerintah yang ada di kabupaten/kota termasuk yang di Banda Aceh,” terang Nasrul Zaman.

Menurut Nasrul, kalau itu tidak dilakukan maka sama saja pemerintah Aceh telah melarang warganya sakit terhitung 01 April 2022 mendatang.

“Dan kalau itu terjadi maka Aceh akan sulit bergerak dari status termiskin se-Sumatera,” pungkasnya. []

TKSK Tuai Masalah, Ini Upaya Dinsos Aceh

0

Nukilan.id – Hasil keputusan Dinas Sosial Aceh terhadap rekrutmen Tenaga Kesejahteraan Sosial Kecamatan (TKSK) Provinsi Aceh tahun 2022 menuai protes dari peserta.

Soalnya, peserta menuding jika hasil keputusan peserta yang lulus itu ada yang diluluskan tapi tidak sesuai dengan prosedur dari persyaratan wajib dan umum.

Saat dikonfirmasi, Jumat (11/3/2022), Kasi Pemberdayaan, Perorangan dan Keluarga Dinsos Aceh, Safwan mengatakan, data peserta seleksi yang sampai ke Dinsos Aceh memang ada yang keliru pengetikan saat penginputan data.

Ia mencontohkan semisal seperti kasus di Aceh Utara. Dimana, ada peserta yang salah penulisan di nama kecamatan. Sedangkan nama desa tempat yang bersangkutan tinggal sudah benar.

Safwan bercerita, sebelumnya sudah masuk laporan mengapa salah satu peserta dari Aceh Utara itu nggak tercantum tempat domisilinya. Buntut dari penelusuran, ternyata ada yang keliru pengetikan di kecamatan. Pasca mendengar laporan tersebut, pihak dinas terkait langsung berusaha memperbaiki kekeliruan.

Pun demikian, perkara TKSK juga terjadi di Aceh Besar. Berbeda dengan kasus di Aceh Utara, di Aceh Besar ada 3 nama peserta yang dituding tidak berhak mengikuti seleksi karena tidak mencukupi syarat yang ditentukan.

Saat dikonfirmasi pada Safwan selaku yang membidangi rekrutmen TKSK ini, ada butir-butir penegasan yang perlu diluruskan.

Berdasarkan persyaratan, bagi peserta baru yang mendaftar wajib mengikuti standar kewajiban umum dan khusus sebagaimana disebut dalam surat edaran Dinsos Aceh. Akan tetapi, bagi tenaga TKSK yang lama, syarat yang dibebankan agak diringankan dan mereka yang lama itu masih diberi kesempatan untuk bekerja lagi.

“Bagi yang lama itu di surat kami sudah kami sebutkan untuk diikutsertakan. Karena mereka sudah bekerja lebih 15 tahun, ada yang 16 tahun, dan ada yang 12 tahun dengan kita. Mereka sudah banyak memberi sumbangsih kepada negeri ini. Jadi, tidak mungkin mereka itu tidak kami ikutsertakan. Karena selama ini, mereka juga tidak ada kendala saat melaksanakan tugas. Sehingga banyak masyarakat yang terbantu,” ujar Safwan.

Di sisi lain, di Aceh Besar ada juga kasus peserta yang secara administrasi tidak sesuai dengan alamat penempatan waktu pendaftaran.

khususan untuk kasus ini, Safwan meminta semuanya untuk bersabar. Karena saat ini, pihak Dinsos Aceh sedang berusaha meminta konfirmasi dari Dinsos kabupaten tersebut.

“Hari ini, saya sudah hubungi Aceh Besar. Namun, yang pegang bahan (data) itu belum bisa ketemu (halangan). Sehingga, sampai hari ini saya belum bisa memberi jawaban tentang itu. Karena belum ada jawaban yang akurat,” ucapnya.

Pihak Dinsos Aceh menyikapi perkara TKSK ini dengan tidak hanya bergeming. Mereka menegaskan akan berusaha semaksimal mungkin untuk memperbaharui segalanya. Bilapun ada yang keliru, sebisa mungkin akan diperbaiki. Bila ada keputusan peserta yang dinyatakan lulus padahal tidak memenuhi syarat, maka keputusan tersebut akan dirubah.

“Namanya juga kerja manusia. Kita ini nggak sempurna semuanya. Itu pasti. Tapi kita tetap berusaha untuk menjadi bahagian daripada mendekati kesempurnaan. Kita tetap berusaha untuk memperbaiki. Kita akan mencari dimana nantinya yang bersangkutan, apakah dia punya bukti-bukti yang kuat bahwa dia bisa menjadi TKSK dan bisa bekerja di lokasi tersebut,” pungkasnya. []

Marak Tambang Ilegal, Fajran: Kembalikan Kewenangan Izin Kepada Pemerintah Aceh

0
Direktur Eksekutif The Aceh Institute Fajran Zain. (Foto: Ist.)

Nukilan.id – Direktur Eksekutif The Aceh Institute, Fajran Zain mengatakan maraknya tambang ilegal di Aceh itu disebabkan sulitnya pengurusan izin tambang yang semula menjadi kewenangan pemerintah provinsi, kini beralih ke pemerintah pusat. Hal itu berdasarkan Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2020 tentang Mineral dan Batu Bara (Minerba).

“Kalau perizinan tambang ini dipermudah, maka saya yakin tidak ada tambang ilegal di Aceh,” kata fajran dalam keterangannya kepada nukilan, Jum’at (11/3/2022).

Menurutnya, ketika melihat pertambangan di Aceh ini harus konprehensif, dan yang perlu diperjuangkan itu adalah mengembalikan kewenangan pengurusan izin tambang kepada pemerintah Aceh.

“Sebagai daerah kekhususan, seharusnya semua kekayaan di darat yang dimiliki Aceh itu dikelola pemerintah baik di Provinsi maupun Kabupaten/Kota, mulai dari explorasi, exploitasi dan pengolahannya. Namun, dalam undang-undang Minerba itu sudah dicabut terkait kekhususan ini,” ungkap Fajran.

Sehingga, kata dia, lahirlah mafia-mafia tambang baik dari perusahaan  besar yang telah mengantongi izin ataupun individu yang bekerja dibawah tangan.

“Kalau berbiacara aturan yang berlaku hari ini, mestinya tidak ada lagi tambang ilegal kecuali yang dilakukan oleh perusahaan yang sudah memiliki izin. Tapi ini juga menjadi persolan keadilan bagi rakyat,” ujarnya.

Karena itu, kata Fajran, harus ada peninjauan ulang yang diberlakukan untuk aturan Minerba di Aceh. Karena pada satu sisi ketika Aceh berpatokan pada Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2006 Tentang Pemerintah Aceh (UUPA) dan MoU Helsingky itu jelas Aceh memiliki kewenangan penuh dalam pengelolaan semua aset-aset sumberdaya alamnya.

“Namun, kemudian pemerintah pusat mendegrasikan kewenangan Aceh itu melalui undang-undang Minerba,” tuturnya.

Fajran berharap, Eksekutif dan Legislatif harus memperkuat Qanun Aceh tentang Minerba untuk mengatur hak-hak Aceh. Selain itu Pemerintah Aceh juga harus memperjuangkan lahirnya Peraturan Presiden (Perpres) tentang Minerba yang ada di Aceh.

“Jadi Pemerintahan Aceh baik Eksekutif dan Legislatif harus sadar bahwa ada persoalan ketika berbicara tentang kekhususan Aceh yaitu yang salah satunya tentang pengelolaan sumber daya alam. Karena selama ini pembagiaan hasil itu hanya 10% untuk pemerintah pusat dan 90% untuk pemilik modal. Sedangkan Aceh tidak dapat apa-apa, karena perizinan dan pajaknya sudah ke pemerintah pusat semua,” pungkas Fajran.

Reporter: Hadiansyah

Nova Bahas Peluang Investasi dengan Perusahaan Minyak Uni Emirat Arab

0
Gubernur Aceh Nova Iriansyah melakukan pertemuan dengan para petinggi Perusahaan Muhammed Bin Faisal (MBF) Group dari Uni Emirat Arab, membahas peluang investasi minyak, gas bumi, dan mineral di Meuligoe Gubernur Aceh, Banda Aceh, Kamis (10/3/2022). Foto: Humpro

Nukilan.id – Gubernur Aceh Nova Iriansyah menerima kunjungan petinggi Perusahaan Muhammed Bin Faisal (MBF) Group yang berbasis di Sharjah, Uni Emirat Arab, terkait peluang investasi minyak, gas bumi, dan mineral di Aceh. Pertemuan berlangsung di Meuligoe Gubernur Aceh, Kamis (10/3/2022).

Dalam pertemuan itu MBF dipimpin CEO MBF Group Arif Firdaus, utusan Duta Besar Indonesia untuk Uni Emirat Arab Eka Sulistiawati, serta dua petinggi MBF Group lainnya. Sementara Gubernur Aceh didampingi Staf Ahli Iskandar Syukri, Kepala Badan Pengelola Migas Aceh Muhammad Faisal, Kepala Dinas Penanaman Modal Dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Aceh Marthunis, Kepala Dinas Energi dan Sumberdaya Mineral Aceh Mahdinur, Direktur Utama PT Pembangunan Aceh Zubir Sahim, hingga Ketua KADIN Aceh Muhammad Mada.

CEO MBF Group Arif Firdaus dalam pertemuan itu menyebutkan, Perusahaan MBF Group yang berbasis di Sharjah Uni Emirat Arab itu tertarik untuk menjajaki bisnis di Aceh, khususnya terkait investasi minyak, gas bumi, dan mineral.

Arif menyebutkan, dalam amatan mereka, Aceh merupakan daerah dengan potensi sumberdaya minyak dan gas bumi yang sangat potensial untuk dikelola secara profesional. “Niatan kami ke Aceh untuk berinvestasi di sini sampai kita mampu mengembalikan kemasyhuran Aceh dengan Arun yang pernah mampu mengekspor gas yang besar di dunia,” ujar Arif.

Arif berharap, penjajakan kerjasama pihaknya dengan pemerintah Aceh akan membuahkan hasil sehingga akan memberikan banyak manfaat bagi perekonomian Aceh. Selain itu, Arif juga mengatakan akan mengutamakan memperkerjakan warga Aceh jika kerja sama itu terwujud.

Berdasarkan pengetahuan pihaknya, kata Arif, saat ini cukup banyak warga Aceh yang bekerja secara profesional di sejumlah perusahaan minyak di Timur Tengah. Di antara mereka adalah mantan pekerja PT. Arun.

Sementara Gubernur Aceh Nova Iriansyah dalam kesempatan itu mengatakan, kondisi Aceh sudah sangat aman dan pihaknya akan mendukung niatan MBF Group untuk berinvestasi di Aceh.

Nova menjelaskan bahwa Aceh merupakan daerah yang cukup strategis untuk investasi dengan posisinya yang terletak di bagian paling barat Indonesia. Secara geografis Aceh juga disebut dekat dengan sebagian besar negara anggota ASEAN. “Berbagai kemudahan sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku akan diberikan kepada para investor yang berinvestasi di Aceh,” kata Nova.

Setelah melakukan pertemuan dengan Gubernur Aceh, MBF Group juga menyatakan akan bertolak ke kawasan Lhokseumawe dan Aceh Utara untuk melihat kondisi kawasan Arun dan sekitarnya.

Sebagai informasi, kedatangan MBF Group juga bagian dari pelaksanaan kegiatan Amazing March 2022 yang digelar pemerintah Indonesia dengan mengajak berbagai perusahaan dari Persatuan Emirat Arab berkunjung ke Indonesia tanggal 7-14 Maret 2022.

Kegiatan itu membawa misi perdagangan, investasi, keuangan dan ketenagakerjaan dari Uni Emirat Arab ke Indonesia sebagai tindaklanjut berbagai hasil kunjungan Presiden RI ke Abu Dhabi dan Dubai pada tahun 2021 lalu.

Dalam kegiatan tersebut, perusahaan-perusahaan dari Uni Emirat Arab diharapkan dapat bertemu dengan mitra-mitra potensial mereka untuk menjajaki sekaligus mendalami minat-minat kerjasama ekonomi yang telah dibahas sebelumnya. []

Zakat Baitul Mal Aceh Tingkatkan Kesejahteraan Masyarakat

0
Sekda Aceh, dr. Taqwallah, M.Kes, didampingi Kepala Sekretariat Baitulmal Aceh, Rahmad Raden, S.Sos mengikuti zikir dan doa bersama memohon dijauhkan dari wabah dan bencana Covid-19, yang diikuti secara virtual oleh seluruh ASN Pemerintah Aceh, di Kantor Sekretariat Baitul Mal Aceh, Banda Aceh, Jumat (11/3/2022). Foto: Humpro

Nukilan.id – Penyaluran zakat dan infaq yang dilakukan Badan Baitul Mal Aceh memberikan dampak positif dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat kurang mampu di Bumi Serambi Mekkah.

Hal tersebut disampaikan langsung oleh Mustahik Baitul Mal saat mengikuti zikir dan doa rutin Pemerintah Aceh bersama Sekretaris Daerah (Sekda) Aceh Taqwallah, di Kantor Baitul Mal, Jumat, (11/3/2022).

Siti Rahmah Nduru, penerima beasiswa penuh muallaf mengaku pendidikan yang ia jalani sejak di bangku sekolah sampai di perkuliahan saat ini, dibiayai semuanya oleh Baitul Mal Aceh. Kata Siti, berkat beasiswa tersebut ia memiliki kesempatan untuk merantau, melanjutkan pendidikan tinggi dan fokus mengembangkan bakatnya di cabang Muaythai.

“Alhamdulillah saya berhasil memenangkan sejumlah penghargaan, prestasi terbaru saya adalah medali emas di Kejurnas Liganas Muaythai 2022,” kata Siti.

Siti berterimakasih atas beasiswa yang diterimanya itu. Ia berharap semakin banyak orang yang membayar zakat, sehingga akan lebih banyak lagi mahasiswa yang terbantu melalui beasiswa.

Hal senada juga disampaikan pelaku usaha fashion, Dahlia Nora. Ia masuk sebagai mustahik penerima modal usaha.
Ia mengatakan, kelompok usahanya mendapatkan bantuan modal Rp50 juta dari Baitul Mal Aceh. Dengan modal tersebut mereka dapat meningkatkan jumlah alat produksi.

“Sebelum mendapatkan bantuan, kami cuman punya satu mesin jahit, modal juga dari pinjaman. Alhamdulillah, berkat modal usaha ini kami dapat meningkatkan kondisi ekonomi anggota kelompok yang berjumlah enam orang, ” kata Dahlia.

Ia begitu bersyukur mendapatkan bantuan tersebut. Ia berharap orang yang membayar zakat di Aceh dapat terus meningkat, sehingga lebih banyak lagi kelompok usaha yang mendapatkan bantuan.

Kepala Sekretariat Baitul Mal Aceh, Rahmad, mengajak semua kalangan yang telah mencukupi nisabnya untuk menyalurkan zakat dan infaq ke Baitul Mal. Penyaluran tersebut dapat dilakukan dengan mendatangi langsung Kantor Baitul Mal. Masyarakat juga dapat menyalurkan zakat melalui mobile banking, Qris code dan ATM Bank Aceh.

Sementara itu, Sekda Aceh Taqwallah, juga mengajak seluruh ASN yang mengikuti zikir untuk berinfaq dan membayar zakat lewat Baitul Mal.
Dana tersebut nantinya akan disalurkan Baitul Mal kepada mustahik yang layak menerimanya.

Pada kesempatan tersebut Sekda juga berterimakasih kepada Anggota Badan Baitul Mal, Dewan Pengawas dan seluruh ASN yang telah bekerja keras dalam mengawasi dan mengurus zakat masyarakat. Ia mengatakan, kerja keras mereka bermanfaat bagi kehidupan orang banyak.

Seperti biasa, acara rutin tersebut juga diikuti secara virtual oleh ASN Pemerintah di seluruh SKPA beserta UPTD di kabupaten/kota, seluruh guru SMA di Aceh, dan seluruh pegawai BUMD seperti Bank Aceh dan PT PEMA. Sekitar 900 partisipan virtual yang ikut hari ini. Tiap partisipan diisi 5 sampai 10 peserta, bahkan lebih. []