Beranda blog Halaman 1759

Banleg DPRA Usul Pembentukan Komite Aceh Hak Asasi Manusia

0
Sekretaris Fraksi Partai Aceh DPRA, Ir. H. Azhar Abdurrahman

Nukilan.id – Badan Legislasi (Banleg) Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA) mengelar Rapat Dengar Pendapat Umum (RDP) bersama Pemerintah Aceh dan Civitas Akademika tentang Rancangan Qanun (Raqan) Hak-Hak Sipil dan Politik yang berlangsung di Ruang Serbaguna DPRA, Senin (28/3/2022).

Ketua Banleg DPRA, Azhar Abdurrahman menjelaskan, terkait hak-hak sipil dan politik ini sudah diatur dalam Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh atau dikenal dengan UUPA. Hal itu merupakan tindaklanjut dari poin-poin nota kesepakatan damai (MoU Helsinki, 15 Agustus 2005) antara Pemerintah Republik Indonesia dan Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Jadi dalam poin-poin MoU Helsinki ini ada 2 Kovenan internasional penting yang terkait dengan HAM, yakni Kovenan Internasional tentang Hak-Hak Ekonomi, Sosial dan Budaya. Kemudian Kovenan Internasional tentang Hak-Hak Sipil dan Politik.

“Makanya pada tahun 2022 ini kita ingin mencoba untuk memaksimalkan kembali yang sudah pernah kita lakukan pada tahun lalu, tentang apa saja yang masih kurang dan harus diperbaiki,” kata Azhar yang juga Sekretaris Fraksi Partai Aceh (PA) itu di sela RPDU di Gedung DPRA.

Selain itu, kata dia, rapat ini juga membahas tentang pengusulan pembentukan Komite Aceh Hak Asasi Manusia (HAM). Menurutnya, Komite ini perlu dibentuk untuk mengontrol dan mengadvokasi hak asasi masyarakat Aceh.

Salah satunya, tegas Azhar, dana Otonomi Khusus (Otsus) harus diprioritaskan kepada lembaga kekhususan Aceh, seperti Dinas Dayah, Badan Reintegrasi Aceh (BRA), Baitul Mal, Dinas Syariat Islam, Majelis Pendidikan Aceh (MPD), Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU), dan Majelis Adat Aceh (MAA).

“Karena lembaga itu merupakan lembaga yang lahir dari perintah kekhususan Aceh. Jadi kedepan dana Otsus harus mengatur tentang lembaga kekhususan saja yang lahir dari perjanjian MoU Helsinki, bukan untuk Instansi lain yang bukan haknya,” sambungnya.

Karena itu, Azhar berharap, kedepan apabila terbentuk Komite Aceh Hak Asasi Manusia, maka hal itu akan menjadi perhatian utama. Dan nantinya Komite Aceh ini akan dibiayai dengan Anggaran Pendapatan dan Belanja Aceh (APBA) yang bersumber dari dana Otsus.

Reporter: Hadiansyah

Nasir Djamil Dorong PKS Aceh Terapkan 4 Pilar Mulai Dari Desa

0

Nukilan.id – Anggota MPR-RI M.Nasir Djamil bersama pengurus Dewan Pimpinan Daerah Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Aceh menggelar sosialisasi Empat Pilar Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Inndonensia (MPR-RI) di Aula Hotel Mekkah, Banda Aceh, Senin (28/3/2022).

Dalam materinya, Nasir Djamil menjelaskan apabila Empat Pilar menjadi nilai yang punya potensi terdegradasi oleh arus globalisasi. Untuk itu ia mengingatkan pengurus DPD PKS Aceh untuk memperdalam dan mengaplikasikan nilai Empat Pilar tersebut kepada masyarskat.

“Nilai ini (Empat Pilar) hendaknya kita aplikasikan dan perdalam di lingkungan masyatakat, sebab globalisasi turut serta memudarkan nilai Empat Pilar tersebut”. Kata Nasir

Nasir juga menghimbau kepada DPD PKS Aceh agar memulainya dari Desa, karena Desa merupakan garda terdepan dalam memperkuat nila-nilai Empat Pilar.

“Kita punya basis dan konsituen yang jelas di Desa, untuk itu penanaman nilai-nilai Empat Pilar hendaknya dimulaindari Desa” Ucap Nasir

Dalam sesi tanya jawab, para konsituen memberi atensi yang cukup besar terkait peran mereka di Desa. Mereka berharap kegiatan tersebut juga dilakukan hingga level yang lebih rendah.

Kegiatan 4 Pilar yang digelar bertujuan untuk memperdalam dan mengaplikasikan Empat Pilar (Pancasila, Undang-undang Dasar 1945, NKRI dan Bhineka Tunggal Ika) di masing-masing wilayah Aceh. [red]

Muktamar IDI Sumbang Rezeki bagi Pedagang dan Pengelola Wisata

0
Para Delegasi Muktamar XXXI Ikatan Dokter Indonesia (IDI) membawa oleh-oleh souvenir produk kerajinan khas Aceh saat hendak pulang ke daerah masing-masing di VVIP Bandara Internasional Sultan Iskandar Muda (SIM), Blang Bintang, Aceh Besar, Minggu, (27/3/2022). Foto: Humpro

Nukilan.id – Pelaksanaan Muktamar ke-31 Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Tahun 2022 yang berlangsung di Banda Aceh sejak 22 sampai 25 Maret 2022 telah menambah geliat dunia usaha dan pariwisata Tanah Rencong.

Hal itu lantaran para peserta Muktamar yang berasal dari seluruh provinsi dan kabupaten kota di Indonesia itu juga menyempatkan waktu mereka untuk menikmati suasana Aceh.

Mereka mengunjungi berbagai lokasi yang menjual kuliner dan souvenir khas Aceh. Mereka juga mengunjungi sejumlah lokasi wisata yang tersebar di kawasan Banda Aceh, Aceh Besar hingga Kota Sabang.

Kepala Biro Administrasi Pimpinan Setda Aceh Muhammad Iswanto pada Minggu 27 Maret 2022, menyebutkan, efek positif bagi dunia pariwisata dan bisnis memang diharapkan muncul dari perhelatan Muktamar IDI di Kota Banda Aceh.

“Berkaca pada pengalaman, setiap even-event besar yang berlangsung di Aceh tentu selalu memberi kontribusi positif bagi perekonomian masyarakat, terutama pedagang dan pengelola lokasi wisata,” kata Iswanto.

Iswanto menyebut contoh, kedatangan para peserta Muktamar IDI telah membuat hotel-hotel di Banda Aceh penuh. Padahal sebelumnya kondisi perhotelan disebut relatif sepi lantaran belum berakhirnya pandemi Covid-19.

Hal yang sama juga terlihat di sejumlah pusat penjualan makanan khas Aceh di Banda Aceh yang banyak dipenuhi para dokter peserta muktamar IDI.

“Ini tentunya merupakan hal positif yang patut kita syukuri. Semoga kedepan akan selalu ada event-event nasional yang digelar di Aceh sehingga memberikan hasil positif bagi Aceh,” kata Iswanto.

Sementara itu, dampak positif dari pelaksanaan Mukmatar IDI di Aceh juga dirasakan pelaku wisata di Kota Sabang. Hal itu terlihat dari jumlah penumpang kapal cepat maupun kapal lambat dari Pelabuhan Ulee Lheu Banda Aceh menuju Sabang diakui mengalami peningkatan yang cukup signifikan.

T. Rahmat Iqbal, pelaku wisata di Sabang menyebutkan para tamu Muktamar IDI juga mengunjungi Sabang yang secara otomatis sabang menguntungkan pelaku wisata seperti dirinya.

“Alhamdulillah Naik 100% penumpang Kapal Cepat Maupun Kapal Lambat Menuju Pulau Sabang Sejak dilaksanakan Muktamar IDI XXXI di Banda Aceh Semoga event Nasional bisa ditarik ke Aceh dan Para Pelaku Wisata menangkap Peluang ini dengan menghadirkan stand wisata di lokasi berlangsungnya Even Besar dengan pilihan paket paket wisata dan kemudahan lainnya. Mantap dan Berkah,” kata Iqbal. []

Sekda Aceh Minta Jajaran Dukcapil Sempurnakan Pencatatan Adminduk

0
Sekda Aceh, dr. Taqwallah, M.Kes memberikan sambutan dan arahan saat membuka Rapat Koordinasi Daerah Dukcapil Aceh tahun 2022 dengan tema Konsolidasi dan Penerapan SIAK terpusat dalam rangka Peningkatan Kualitas Layanan Adminduk, di Hotel Grand Nanggroe, Banda Aceh, Senin (28/3/2022). Foto: Humpro.

Nukilan.id – Sekretaris Daerah (Sekda) Aceh, Taqwallah meminta agar para Kepala Dinas Registrasi Kependudukan, baik yang berkedudukan di provinsi maupun di kabupaten/kota untuk menyempurnakan pencatatan Adminduk, serta merealisasikan kepemilikan kelengkapan administrasi kependudukan (Adminduk) bagi seluruh rakyat Aceh, mulai anak-anak hingga dewasa.

“NIK adalah andalan. Saat ini kebutuhannya adalah hal yang utama, terutama terkait dengan pemanfaatan layanan publik,” kata Sekda saat membuka Rapat Koordinasi Daerah Dukcapil Aceh tahun 2022. Rakorda bertema Konsolidasi dan Penerapan SIAK Terpusat dalam Rangka Peningkatan Kualitas Layanan Adminduk itu, dilangsungkan di Banda Aceh, Senin (28/03/2022).

Materi kegiatan tersebut akan disampaikan oleh Dirjen Dukcapil Kemendagri, Prof. Zudan Arif Fakhrullah yang akan memberikan presentasi secara zoom meeting. Menggantikan Prof. Zudan untuk memberikan materi secara langsung adalah Direktur Pendaftaran Penduduk Kemendagri, dan pihak Dinas Kominsa. Juga hadir dalam kegiatan itu Kepala Biro Administrasi Pimpinan Setda Aceh.

Sekda berpesan agar para para pimpinan Dinas Registrasi Kependudukan dan para pegawai di sana untuk terus menyempurnakan teknologi dan jaringan, sehingga semua pencatatan dan pemilikan administrasi kependudukan dapat direalisasikan.

“Bapak dan ibu semua adalah orang hebat, tolong kerja lebih. Pastikan semua masyarakat Aceh terinput, baik yang lahir dan yang meninggal, semuanya harus tercatat,” ujar Sekda.

Sementara itu, Kepala DRKA, Syarbaini, mengatakan, pada tahun lalu, capaian target kinerja Dukcapil terutama pencatatan KTP, KIA, untuk Aceh mendapatkan nilai 89,00.

“Target 2022 terus ditingkatkan, kita perlu melakukan langkah, meningkatkan inovasi berbagai hal dalam mengejar target cakupan pencatatan dokumen,” kata dia.

Selain itu, kata Syarbaini, Rakorda itu dilakukan untuk menyamakan persepsi sehingga semua masalah bisa diidentifikasi secara cepat dan perlu dikoordinasikan dengan berbagai pihak sebagai cara percepatan pencatatan dokumen adminduk.

Pada 18 April 2022 ini, ditargetkan semua daerah sudah menerapkan Sistem Informasi Administrasi Kependudukan (SIAK) secara terpusat, sebuah sistem informasi yang disusun berdasarkan prosedur dan memakai standarisasi khusus untuk menata sistem administrasi kependudukan sehingga tercapai tertib administrasi di bidang kependudukan dan pencatatan sipil.

Kelebihan SIAK terpusat ialah semua aktivitas data provinsi maupun kabupaten/kota dapat terpantau oleh pusat. Penerbitan NIK pun langsung terintegrasi real-time sehingga meminimalkan kemungkinan terjadinya biodata ganda.

Selain itu, semua perubahan data dan pencetakan dokumen kependudukan langsung terintegrasi dengan semua kantor layanan seperti BPJS, perbankan dan kantor lainnya tanpa konsolidasi manual atau harus menunggu sampai 24 jam.

Tanda tangan elektronik Kepala Dinas juga bisa langsung terintegrasi ke pusat, tidak lagi melalui server di kabupaten/kota sehingga proses data akan lebih cepat. []

Jelang Ramadhan, Polres Aceh Timur Gelar Pasar Murah

0
(Foto: Dok. Ist)

Nukilan.id – Memasuki bulan suci Ramadhan, Polres Aceh Timur gelar bazar atau pasar murah berupa minyak goreng di Halaman Polsek Idi Rayeuk, Aceh Timur, Senin, 28 Maret 2022.

“Bazar ni untuk membantu masyarakat mendapatkan minyak goreng dengan harga murah,” kata Kapolres Aceh Timur AKBP Mahmun Hari Sandy Sinurat, saat meninjau kegiatan tersebut.

Mahmun menjelaskan, dalam bazar tersebut pihaknya menyediakan minyak goreng merek Sunco dengan harga Rp15.000 perliter.

Namun, kata Mahmun, satu orang hanya boleh membeli maksimal dua liter. Hal ini dilakukan agar semua masyarakat mendapatkan minyak goreng murah dalam bazar tersebut.

Dalam bazar tersebut ikut hadir Kabag Log Polres Aceh Timur AKP Kawit, Kaposek Idi Rayeuk AKP Soeharto, dan peserta bazar. []

Melihat Kekayaan Alam di Taman Nasional Bukit Barisan Selatan

0
Taman Nasional Bukit Barisan Selatan © Rhett Ayers Butler Shutterstock

Nukilan.id – Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS) telah ditetapkan sebagai Tropical Rainforest Heritage of Sumatra atau Situs Warisan Dunia Hutan Hujan Tropis Sumatra oleh UNESCO pada tahun 2004. Taman nasional ini juga masuk dalam Global 200 Ecoregions oleh WWF untuk habitat darat, air tawar, dan laut di bumi yang paling mencolok dari sudut pandang biologi.

Keberadaan taman nasional ini sangat penting sebagai tempat konservasi dan perlindungan badak, gajah, dan harimau Sumatra yang populasinya terus berkurang dan terancam punah. Juga untuk melindungi ekosistem hutan hujan tropis dan segala kekayaan alam yang ada di dalamnya.

TNBBS berdiri di atas lahan seluas 350 ribu hektare dan lokasinya meliputi wilayah Lampung Barat dan Tanggamus di Provinsi Lampung dan Kabupaten Bengkulu Selatan di Provinsi Bengkulu.

Berdasarkan catatan sejarahnya, taman nasional ini berawal dari Kawasan Suaka Margasatwa yang ditetapkan Besluit Van der Gouvernour-Generat Van Nederlandseh Indie pada tahun 1935. Baru pada tahun 1982 statusnya berubah menjadi taman nasional. Selain kawasan darat, ditetapkan pula Cagar Alam Laut (CAL) Bukit Barisan Selatan dengan luas 21.600 hektare di dalam pengelolaan taman nasional.

Mengingat lahannya sangat luas, ada banyak hal yang bisa dijelajahi di TNBBS, dari mengamati flora dan fauna, hingga mengeksplor kawasan ini untuk menemukan potensi lain yang ada di dalamnya.

Ekosistem dan kehidupan di TNBBS

TNBBS dianugerahi dengan ekosistem alami yang beragam dan mewakili tipe vegetasi hutan bakau, hutan pantai, hutan hujan dataran rendah, hutan hujan bukit, rawa, estuaria, hingga hutan pegunungan. Bentang alamnya juga terbilang lengkap dari ketinggian 0 mdpl hingga 1.964 meter di atas permukaan laut (mdpl). Taman nasional ini juga merupakan kawasan hutan hujan dataran rendah terluas yang tersisa di Sumatra.

Dengan keragaman ekosistem di TNBBS menjadikan tempat ini menjadi rumah bagi berbagai flora dan fauna, termasuk di antaranya merupakan endemik.

Untuk flora yang hidup di taman nasional ini antara lain tumbuhan pidada, nipah, cemara laut, pandan, cempaka, meranti, mersawa, ramin, keruing, damar, dan rotan. Ada pula tumbuhan yang menjadi ciri khas TNBBS yaitu bunga bangkai jangkung, bunga bangkai raksasa, dan anggrek raksasa.

Berdasarkan hasil inventarisasi, taman nasional ini memiliki 157 jenis tumbuhan yang dapat dimanfaatkan sebagai tanaman obat, seperti pulai dan pasak bumi.

Ketika mengunjungi TNBBS, hampir semua fauna khas Sumatra ada di kawasan ini kecuali orangutan Sumatra. Di sana terdapat 12 jenis mamalia, 450 jenis burung, 123 jenis reptil dan amfibi, 221 jenis insekta atau serangga, 7 jenis moluska, 2 jenis krustasea, dan 53 jenis ikan.

Adapun satwa-satwa penghuni taman nasional ini antara lain badak Sumatra, gajah Sumatra, harimau Sumatra, tapir, rusa, kancil, kerbau liar, kijang, kambing hutan, ajak, ungko, ular sanca, siamang, owa, kera, beruk, lutung, beruang madu, berbagai jenis rangkong, dan di area pantai terdapat beberapa jenis penyu.

Di taman nasional ini juga terdapat enam mamalia yang statusnya terancam menurut IUCN, yaitu gajah Sumatra, badak Sumatra, harimau Sumatra, tapir, ajak, dan beruang madu.

Potensi wisata TNBBS

Selain mengamati flora dan fauna, pengunjung juga bisa mengunjungi objek wisata alam yang berada di dalam TNBBS seperti Tumpang, Blubuk, Danau Menjukut, Blimbing, dan Way Sleman. Adapun aktivitas yang bisa dilakukan di sana antara lain menjelajahi hutan, wisata bahari, berenang, bermain sampan, menyusuri sungai, hingga berkemah.

Salah satu objek wisata yang dapat dikunjungi adalah Sukaraja Atas, di sana pengunjung bisa mengamati bunga bangkai jangkung, kantong semar, berbagai jenis burung, owa, kelinci Sumatra, tarsius, dan berbagai satwa liar.

Kemudian ada Lembah Suoh yang berada di ketinggian 1.200 mdpl dan daya tariknya adalah keberadaan sumber mata air panas yang berasal dari gunung purba dengan letusan lumpur yang terus berpindah-pindah. Di sana terdapat empat danau yang saling berdekatan seperti Danau Minyak, Danau Belibis, Danau Lebar, dan Danau Asam.

Ada pula kawasan Way Pemerihan, di mana pengunjung dapat menyusuri sungai dan melihat aktivitas gajah yang sedang diberi makan, mandi, hingga melakukan patroli. Selanjutnya ada Kubu Perahu, kawasan perbukitan yang dikelilingi sungai dan hutan dengan pepohonan berusia ratusan tahun. Di area ini juga terdapat tiga air terjun yang dapat dikunjungi, yaitu Way Asah, Sepapahan Kanan, dan Sepapahan Kiri. [GNFI]

73,68 Persen Anak di Aceh telah Vaksin Dosis Pertama

0
Anak di Aceh melakukan vaksinasi dosis pertama (Foto: Dok.Ist)

Nukilan.id – Capaian vaksinasi di wilayah hukum Polda Aceh mulai menunjukkan trend positif, di mana beberapa katagori vaksin sudah sesuai target standar nasional, yaitu 70 persen.

“Beberapa katagori vaksinasi kita saat ini sudah capai target standar nasional. Salah satunya adalah katagori vaksinasi anak dosis I yang sudah capai 73,68 persen,” kata Kabid Humas Polda Aceh Kombes Winardy, Senin 28 Maret 2022.

Selain itu, Winardy juga menyampaikan capaian vaksinasi lansia. Di mana dosis I sudah 288.943 orang atau 85,20 persen, dosis II 185.103 atau 54,58 persen, dan dosis III sebanyak 10.395 atau 3,07 persen.

Secara menyeluruh ia merinci, per 27 Maret 2022, capaian vaksinasi dosis I mencapai 3.875.671 orang atau 96,20 persen. Kemudian dosis II 2.604.152 orang atau 64,64 persen, dan dosis III 267.170 atau 6,63 persen.

Sedangkan vaksinasi harian, tambahnya, dari 304 titik gerai yang digelar, Minggu, 27 Maret 2022 mencapai 49.880 orang.

Winardy mengimbau agar masyarakat yang belum vaksin untuk segera melaksanakannya agar target capaian keseluruhan dosis dan katagori bisa segera terpenuhi.

Tips Jaga Kesehatan Lambung selama Puasa di Bulan Ramadhan

0
Ilustrasi berbuka puasa. (Foto: Freepik)

Nukilan.id – Kurang dari satu minggu lagi umat Islam akan menyambut bulan suci Ramadhan. Di bulan Ramadhan setiap umat muslim diwajibkan untuk berpuasa, kecuali bagi mereka yang sedang sakit parah.

Karena selama puasa jam makan berubah, tak jarang beberapa di antara kita mengalami berbagai masalah kesehatan, misalnya saja kesehatan lambung.

Nah, penting untuk menjaga kesehatan lambung selama berpuasa di bulan Ramadhan. Dilansir Emirates Woman, berikut ini tips jaga kesehatan lambung saat berpuasa.

1. Jangan lewatkan makan sahur

Hindari melewatkan waktu makan, terutama saat sahur. Konsumsi makanan karbohidrat karena dapat membantu memberi kamu energi yang tahan lama sepanjang hari.

Jika tidak nafsu makan di pagi hari, minum segelas susu dan beberapa kacang dan kurma sangat direkomendasikan.

2. Makan dengan perlahan

Makan terburu-buru hanya akan mengganggu pencernaan kamu, jadi untuk menjaga kesehatan lambung selama berpuasa saat makan sahur dan berbuka, makanlah dengan perlahan.

Jadi, kamu harus usahakan bangun lebih cepat, agar bisa lebih santai saat menyantap makanan.

3. Makan secukupnya

Makan berlebihan tidak baik untuk kesehatan, karena dapat menyebabkan obesitas dan penyakit lainnya. Ini juga membahayakan lambung, jadi sangat disarankan makan secukupnya untuk menjaga kesehatan lambung.

4. Pilih menu yang tepat

Memilih menu makanan yang tepat adalah tips menjaga kesehatan lambung selama berpuasa. Pilihlah makanan tinggi karbohidrat untuk mengurangi risiko munculnya maag.

Tak hanya itu saja, kamu juga disarankan untuk tidak mengolah makanan dengan cara digoreng, karena kadar minyak dapat memicu asam lambung naik. [Indozone]

Perlon Unggahan, Tradisi Menyambut Ramadhan Masyarakat Adat Bonokeling

0
Perlon Unggahan © Giri Wijayanto/Wikimedia Commons

Nukilan.id – Kurang dari seminggu lagi Ramadan tiba. Jika melihat ketetapan yang tertera di kalender masehi tahun 2022, momen istimewa tersebut akan dimulai pada hari Sabtu (2/4/2022).

Sebenarnya tanggal pasti mengenai awal dari bulan ke-9 kalender Hijriah itu masih akan menunggu keputusan resmi dari pemerintah, lewat sidang isbat yang rencananya akan dilaksanakan pada hari Jumat (1/4).

Meski begitu, rasa antusias yang hadir dalam menyambut bulan Ramadan setiap tahun sejatinya selalu sama besar, dan tak pernah berubah. Apalagi jika bicara mengenai tradisi yang tak pernah absen dilakukan masyarakat dalam menyambut momen istimewa satu ini.

Sebagai negara yang kaya akan budaya, Ramadan juga menjadi salah satu momen yang rupanya kerap disambut dengan sebuah tradisi khusus dari setiap masyarakat di masing-masing wilayah. Sebut saja tradisi munggahan bagi masyarakat Jawa Barat, meugang dari Aceh, padusan dari Boyolali, dan masih banyak lagi.

Selain itu, tradisi menyambut Ramadan juga masih dilakukan oleh beberapa masyarakat adat yang memegang teguh nilai leluhur, salah satunya masyarakat adat Bonokeling yang berada di Banyumas, Jawa Tengah.

Tradisi antara masyarakat Desa Pekuncen dan Desa Adiraja

Tradisi menyambut Ramadan yang dimiliki masyarakat adat Bonokeling adalah perlon unggahan. Mengutip keterangan Budaya Indonesia, tradisi tersebut dipercaya sudah hidup dan dilakukan sejak beberapa abad silam, dan praktiknya selalu digelar setiap sepekan sebelum bulan suci tiba.

Adapun pihak yang menggelar tradisi ini melibatkan warga dari dua desa berbeda di Provinsi Jawa Tengah, yakni Desa Pekuncen, Kecamatan Jatilawang, Banyumas, dan saudara masyarakat adat mereka di Desa Adiraja, Kecamatan Adipala, Cilacap.

Sedikit informasi, dua masyarakat adat ini adalah keturunan dari Kyai Bonokeling, tokoh pemuka agama di Banyumas yang asal-usul sekaligus sosoknya masih misterius hingga saat ini, dan hanya menjadi rahasia dari anak cucu keturunannya langsung, yakni masyarakat adat Bonokeling itu sendiri.

Menukil penjelasan di laman Indonesia.go.id, Kyai Bonokeling mengajarkan lima ajaran tentang kehidupan bagi keturunannya yang masih dijalani hingga saat ini. Yang pertama, adalah ajaran monembah, yang berarti keturunannya sebagai manusia dianjurkan beribadah dan menyembah kepada Tuhan sesuai keyakinan masing-masing.

Kedua ada moguru, yaitu patuh terhadap perintah orangtua. Mongabdi, yang berarti saling menghargai dan menjalin hubungan antar sesama manusia. Kemudian makaryo yang berarti bekerja, karena tanpa bekerja manusia tak bisa mendapatkan penghasilan yang dapat menunjang kehidupannya di dunia.

Terakhir ada manages manunggaling kawula Gusti, yang artinya hubungan manusia dengan Tuhan tidak melalui perantara apa pun. Menurut keyakinan Bonokeling, setiap orang yang lahir di muka bumi adalah titipan Tuhan. Karena itu, interaksi manusia dengan Tuhannya bersifat langsung tanpa perantara.

Dalam ajaran mereka, perilaku sehari-hari seperti berinteraksi dengan sesama manusia dan bercocok tanam sudah menjadi wujud interaksi pada Tuhan, karena hal tersebut dianggap sebagai proses mengisi kehidupan dengan kehidupan.

Proses berjalan kaki puluhan kilometer

Bukan hanya biasa dilakukan tiap sepekan sebelum Ramadan, perlon unggahan secara spesifik biasanya dilaksanakan setiap hari Jumat. Dalam praktiknya, tradisi ini akan melibatkan ribuan orang dari kedua desa asal masyarakat adat Bonokeling.

Perlon unggahan biasanya dimulai sejak pagi hari saat matahari mulai muncul, dengan melakukan caos bekti, yaitu memberi salam penghormatan kepada para tokoh pemangku atau tetua yang paling dihormati.

Kemudian, proses tersebut dilanjut dengan masyarakat adat yang berasal dari Desa Adiraja di Cilacap, yang akan berjalan kaki sejauh puluhan kilometer menuju Desa Pekuncen, di Banyumas. Hal ini dilakukan sebagai ritual napak tilas perjalanan Ki Banokeling saat menyebarkan ajarannya.

Semua kalangan pria mulai dari usia muda hingga tua melakukan proses perjalanan tersebut sambil memanggul wadah berisi uba rampe, yaitu sesaji berupa hasil panen dari ladang dan hewan ternak sebagai persembahan dan rasa syukur.

Saat sudah tiba dan sampai di waktu pertengahan malam, suasana Desa Pekuncen akan dipenuhi nyanyian tembang-tembang Jawa, yang berisi pujian-pujian atau perkataan baik yang dipanjatkan kepada Kyai Bonokeling.

Lalu keesokan siang harinya, para pria akan berbondong-bondong menyembelih hewan ternak hasil mereka sebagai wujud persembahan yang dibawa dari Desa Adiraja. Hasil bumi itu dimasak bersama-sama secara masal untuk dimakan bersama di sekitar area makam Kyai Bonokeling.

Di saat bersamaa, saat para pria sibuk menyembelih hewan ternak, ratusan perempuan dengan berbalut kemban putih akan memasuki makam Kyai Bonokeling satu per satu dengan khitmad. Mereka membasuh anggota badannya satu per satu, mulai dari kaki, tangan, wajah sambil mengucap doa atau mantra yang dipercaya akan membawa keberkahan.

Masih menurut kepercayan Bonokeling, perempuan memiliki kedudukan yang lebih dihormati daripada pria. Hal itu lantaran perempuan dianggap perwujudan ibu bumi yang menghasilkan keturunan anak cucu pengikut Bonokeling hingga saat ini.

Setelah rampung melakukan prosesi ziarah, seluruh anggota masyarakat adat Bonokeling akan makan bersama di sekitar wilayah makam Kyai Bonokeling. Baru pada keesokan harinya, warga adat yang berasal dari Cilacap kembali lagi ke tempat asalnya dengan tetap berjalan kaki.

Perlon Unggahan di masa kini

Saat pertama kali pandemi terjadi tepatnya di tahun 2020 lalu, perlon unggahan disebut mengalami partisipasi masyarakat adat yang berbeda drastis, yaitu hanya sekitar 13 orang dari yang tadinya bisa mencapai 5.000-an orang.

Baru di tahun 2021, jumlahnya mulai sedikit meningkat menjadi 560 anak cucu dan pengikut Bonokeling, yang ritualnya berlangsung pada hari Jumat (9/4/2021). Yang membedakan, saat itu salah satu proses ritual berupa jalan kaki sepanjang puluhan kilometer ditiadakan.

Kali ini di tahun 2022, tradisi perlon unggahan juga sudah dilakukan pada hari Jumat (25/3) kemarin. Menukil Radar Banyumas, rangkaian kegiatan tersebut sudah dimulai sejak sehari sebelumnya, meski masih dilakukan secara sederhana.

Menurut keterangan Karso selaku Kepala Desa Pekuncen, disebutkan bahwa total masyarakat adat Bonokeling yang datang dan berpartisipasi dari Cilacap berada di kisaran 600 orang.

“Tamu yang dari luar Pekuncen itu kamis sore sampai dengan malam Jumat sudah di sini, dan tengah malam ada kegiatan doa atau dzikir kemudian dilanjutkan pagi harinya persiapan sembelih sapi dan kambing,” jelas Karso. [GNFI]

Atlit PRSI Abdya Raih 11 Mendali di Gubsu Cup 2022 

0

Nukilan.id – Atlet renang asal Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya) menyumbang 11 mendali dalam ajang kejuaraan renang Nasional Gubernur Sumut (Gubsu) Cup 2022 di kolam renang selayang, Kota Medan, sabtu (19/03/2022).

Ketua Persatuan Renang Seluruh Indonesia (PRSI) Abdya, Romi Syah Putra melalui pelatih Budi Sandoro dan Naufal Fadhil mengatakan cabor renang Abdya telah menyumbang 11 medali pada ajang di kejuaraan Renang Nasional Cup 2022.

“Jadi, 11 medali yang kita kumpulkan itu, kita peroleh dari  Fasya Ananda Arfa meraih 3 mendali emas, 1 mendali perunggu. Chika Miranda memperoleh 2 mendali emas dan Wahyu Tri Utomo memperoleh 1 mendali perak , 1 mendali perunggu, sedangkan Heilie Jade berhasil mendapatkan 3 mendali perak,” Ungkapnya.

Ketua KONI Abdya Romi Syah Putra terus memberikan support atas pencapaian Atlit yang tergabung dalam Aceh Swiming Academy yang mulai berkiprah baik di tingkat provinsi maupun tingkat nasional.

Ia berharap ketika di Pekan Olahraga Aceh (PORA) nantinya, atlit PRSI yang mengikuti lomba, mampu memberikan yang terbaik untuk Kabupaten Aceh Barat DayaDaya,” kata Romi dalam keterangannya kepada Nukilan.id Minggu (27/3/2022).