Beranda blog Halaman 175

Bupati Aceh Utara Gandeng KPA untuk Cari Solusi Penyelesian Sengketa Lahan

0
Bupati Aceh Utara, H. Ismail A. Jalil, SE, MM, menggandeng KPA untuk mencari penyelesaian atas konflik lahan yang melibatkan warga Cot Girek dan PTPN IV Regional 6. (FOTO: ACEHSATU.COM)

NUKILAN.ID | LHOKSUKON – Bupati Aceh Utara, H. Ismail A. Jalil, SE, MM, kembali menegaskan komitmennya untuk mencari penyelesaian atas konflik lahan yang melibatkan warga Cot Girek dan PTPN IV Regional 6.

Pada Jumat, 14 November 2025, Ismail A. Jalil—yang akrab disapa Ayahwa—mengadakan pertemuan dengan Sekretaris Jenderal Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA), Dewi Kartika, di Jakarta. Dalam pertemuan tersebut, ia meminta KPA berperan aktif membantu merumuskan solusi yang adil dan berkelanjutan bagi para pihak yang terlibat.

Ayahwa menyampaikan harapan besar agar konflik agraria yang kembali memanas itu segera memiliki titik temu.

“Mudah-mudahan persoalan antara masyarakat dan PTPN bisa segera tuntas. Dalam waktu dekat, Sekjen KPA, Ibu Dewi Kartika, akan berkunjung ke Aceh Utara untuk membantu penyelesaian sengketa ini,” ujarnya pada Minggu, 16 November 2025.

Sebagai langkah meredakan ketegangan, Bupati juga meminta Panitia B Kanwil BPN Aceh menunda terlebih dahulu seluruh aktivitas lapangan hingga situasi lebih kondusif. Penundaan itu dimaksudkan agar proses penataan ulang lahan dapat dilakukan tanpa hambatan.

“Semua pihak, termasuk Panitia B, harap menahan diri. Jangan masuk ke lapangan dulu. Kita akan tata ulang prosesnya. Masyarakat juga saya imbau untuk tetap tenang dan pulang ke rumah masing-masing, supaya KPA bisa bekerja maksimal,” tambah Ayahwa.

Di sisi lain, Sekjen KPA Dewi Kartika menyambut positif langkah Bupati Aceh Utara yang dinilainya responsif dan mengedepankan partisipasi. Ia menegaskan pentingnya menjaga ketenangan agar proses reforma agraria berjalan objektif.

“Kami imbau semua pihak menahan diri agar proses di lapangan dapat berjalan baik. Analisa, verifikasi, pengukuran, dan pemetaan harus dilakukan secara cermat, agar jelas mana lahan masyarakat dan mana bagian klaim PTPN,” kata Dewi.

Ia menambahkan bahwa pemetaan yang akurat menjadi kunci menghadirkan kepastian hukum bagi masyarakat maupun perusahaan.

“Saya mengapresiasi langkah Bupati Ayahwa yang mengambil pendekatan arif dan terbuka. Ini langkah penting untuk memberi kepastian hukum yang adil bagi semua pihak,” ujarnya.

Konflik lahan di Cot Girek mencuat setelah PTPN IV mengajukan perpanjangan Hak Guna Usaha (HGU). Perpanjangan tersebut sebelumnya disetujui oleh Pj Bupati Aceh Utara, Mahyuzar, dan kini memasuki tahap Panitia B, yang melibatkan Kanwil BPN Aceh, BPN Aceh Utara, serta Pemerintah Kabupaten Aceh Utara untuk melakukan pengukuran ulang luas HGU.

Sementara itu, warga menyatakan sebagian lahan yang mereka garap turut masuk dalam klaim PTPN, sehingga memicu ketegangan yang masih berlangsung hingga kini.

Atlet Biliar Asal Simeulue Raih Juara Aceh Open 2025

0
Pebiliar asal Simeulue, Ghifary Akbar Saputra berhasil menjurai turnamen biliar POBSI Aceh yang bertajuk Aceh Open 2025 di final yang berlangsung 9 rice, Ghifary berhasil mengalahkan atlet biliar PON Aceh, Ronny Satria. (Foto: halaman7.com)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Pebiliar asal Simeulue, Ghifary Akbar Saputra, berhasil menjuarai turnamen biliar POBSI Aceh bertajuk Aceh Open 2025. Pada partai final yang berlangsung sistem race to 9, Ghifary mengalahkan atlet PON Aceh, Ronny Satria.

Laga final yang digelar di Rumah Biliar Favorit, kawasan Simpang Lima, Banda Aceh, pada Minggu, 16 November 2025 itu berlangsung ketat selama hampir tiga jam. Ghifary mengamankan kemenangan dengan skor 9–7.

Kemenangan ini sekaligus mengejutkan banyak pihak, mengingat Ronny Satria merupakan atlet PON Aceh yang pada PON Aceh–Sumut sebelumnya berhasil meraih satu medali perak dan satu medali perunggu.

Selain membawa pulang hadiah puluhan juta rupiah, kemenangan tersebut membuat Ghifary berhak mewakili Aceh pada Kejurnas Biliar yang akan digelar di Jakarta pada akhir November 2025.

Ketua Umum POBSI Aceh, Muhammad Raji Firdana, saat menutup turnamen mengatakan bahwa hasil ini menjadi kesempatan berharga bagi Ghifary untuk menembus level yang lebih tinggi pada Kejurnas.

“Sudah pernah ikut Kejurnas?” tanya Raji. Dengan nada lirih, Ghifary menjawab, “belum,” sambil tersenyum menunjukkan harapan besarnya untuk tampil baik di tingkat nasional.

Raji menambahkan, selama masa kepengurusannya, POBSI Aceh akan rutin menggelar berbagai turnamen guna mengasah kemampuan atlet serta menjaring bibit-bibit baru yang diharapkan mampu berbicara banyak pada PON NTB–NTT tahun 2028.

Ia juga menyebutkan bahwa dalam waktu dekat POBSI Aceh akan mengirim atlet ke Malaysia untuk menjalani try out sebagai upaya menambah jam terbang.

Dalam jangka panjang, POBSI Aceh menargetkan pencarian atlet usia dini yang akan dibina menjadi atlet profesional dan dipersiapkan untuk ajang PON mendatang.

Secara terpisah, Ketua POBSI Simeulue, Herman, menyampaikan kebanggaan atas capaian Ghifary. Ia berharap semakin banyak atlet dari Simeulue yang mampu tampil di level Aceh maupun nasional.

“Sejalan dengan misi ketua umum PB POBSI Aceh, kita juga akan berusaha terus mencetak dan melahirkan atlet-atlet biliar profesional nantinya, yang bisa bela nama daerah dan Aceh secara umum,” ujar Herman.

Operasi Zebra Seulawah 2025 Mulai Hari Ini, Polresta Ingatkan soal Helm SNI hingga Knalpot Brong

0
Operasi Zebra Seulawah 2025 Polresta Banda Aceh. (FOTO: Humas Polresta Banda Aceh)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Satuan Lalu Lintas Polresta Banda Aceh mulai melaksanakan Operasi Zebra Seulawah 2025 pada Senin (17/11/2025). Kegiatan yang digelar serentak secara nasional ini bertujuan meningkatkan keamanan, keselamatan, ketertiban, dan kelancaran lalu lintas menjelang libur akhir tahun.

Operasi berlangsung selama dua pekan, melibatkan seluruh fungsi kepolisian melalui penegakan hukum, tindakan pencegahan, serta edukasi kepada masyarakat.

Kasat Lantas Polresta Banda Aceh, Kompol Mawardi, menyampaikan bahwa fokus utama operasi adalah meningkatkan kepatuhan masyarakat dalam berlalu lintas untuk menekan angka kecelakaan dan pelanggaran yang membahayakan pengguna jalan.

“Operasi Zebra tahun ini menjadi momentum bagi kami untuk kembali mengingatkan masyarakat tentang pentingnya tertib berlalu lintas,” ujar Kompol Mawardi dalam keterangannya, Minggu (16/11/2025).

Adapun sasaran operasi meliputi pengendara yang tidak menggunakan helm SNI, pengemudi di bawah umur, pelanggar yang melawan arus, pengguna knalpot brong, hingga pengemudi yang menggunakan ponsel saat berkendara.

Dalam pelaksanaannya, jajaran Polresta Banda Aceh tetap mengedepankan pendekatan humanis. Petugas di lapangan diminta bersikap simpatik dan profesional saat memberikan pelayanan kepada masyarakat.

Polisi juga mengimbau masyarakat untuk membawa kelengkapan kendaraan, mematuhi aturan lalu lintas, dan melaporkan kejadian penting kepada kepolisian terdekat. Titik pelaksanaan operasi akan difokuskan pada lokasi strategis di wilayah hukum Polresta Banda Aceh.

Sekda Aceh Sambut Pimpinan LAN RI di Bandara SIM

0
Sekretaris Daerah Aceh, M. Nasir, di dampingi Ka. BKA & Ka. BPSDM menyambut kedatangan Kepala Lembaga Administrasi Negara (LAN) RI, Muhammad Taufiq, bersama Sekretaris Utama LAN, Andi Taufiq, di Bandara Internasional Sultan Iskandar Muda (SIM), Minggu, (16/11/2025). Foto: (Humas Aceh).

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Sekretaris Daerah (Sekda) Aceh, M. Nasir, menjemput kedatangan Kepala Lembaga Administrasi Negara (LAN) RI, Muhammad Taufiq, bersama Sekretaris Utama LAN, Andi Taufiq, di Bandara Internasional Sultan Iskandar Muda (SIM), Minggu, 16 November 2025.

Penyambutan tersebut turut dihadiri Kepala Badan Kepegawaian Aceh, Abdul Qohar, serta Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Aceh, Marthunis.

Kehadiran kedua pimpinan tinggi LAN RI ini menjadi bagian dari agenda Pemerintah Aceh, menjelang pembukaan Rapat Koordinasi (Rakor) LAN se-Indonesia yang akan berlangsung di Kantor LAN RI Aceh pada Senin pagi.

Usai penyambutan di bandara, Sekda Aceh membawa rombongan menikmati jamuan makan siang di sebuah rumah makan khas Aceh yang berlokasi tidak jauh dari Bandara SIM.

Suasana rumah makan yang berada di tepi persawahan dengan latar belakang aktivitas pesawat di landasan pacu menambah kehangatan pertemuan informal tersebut. Momen ini sekaligus menjadi ruang awal bagi para pimpinan LAN dan Pemerintah Aceh untuk bertukar pandangan sebelum memasuki rangkaian Rakor.

Rakor LAN se-Indonesia tahun ini akan membahas penguatan peran LAN dalam pengembangan kompetensi aparatur negara di berbagai daerah serta memperkuat koordinasi antarlembaga, khususnya perwakilan LAN di Aceh selaku tuan rumah kegiatan.

Pemerintah Aceh berharap, kehadiran pimpinan LAN RI dapat memberikan energi baru bagi upaya penguatan birokrasi dan peningkatan kualitas layanan publik di Aceh.

Gempa Magnitudo 3,1 Guncang Gayo Lues pada Senin Pagi

0
Ilustrasi gempa bumi. (Foto: Getty Images)

NUKILAN.ID | BLANGKEJEREN – Gempa bumi berkekuatan magnitudo 3,1 mengguncang Kabupaten Gayo Lues, Aceh, pada Senin (17/11/2025) sekitar pukul 07.27 WIB. Informasi dari Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyebutkan bahwa pusat gempa berada pada kedalaman 10 kilometer.

Dalam laporan analisis BMKG, episenter gempa berada sekitar 25 kilometer di timur laut wilayah Gayo Lues, tepatnya pada koordinat 4,16 Lintang Utara dan 97,50 Bujur Timur.

Melalui akun X resmi, BMKG menyampaikan informasi singkat mengenai kejadian tersebut. “Gempa Mag:3.1, 17-Nov-2025 07:27:19WIB, Lok:4.16LU, 97.50BT (25 km TimurLaut KAB-GAYOLUES-ACEH), Kedlmn:10 Km,” tulis akun X @infoBMKG dikutip Senin (17/11/2025).

Hingga saat ini belum ada laporan mengenai dampak kerusakan maupun korban akibat guncangan tersebut. BMKG mengimbau masyarakat tetap tenang dan mengikuti informasi resmi terkait aktivitas kegempaan di wilayah Aceh.

Ketua IKA IP USK Prihatin Penganugerahan Gelar Kehormatan di Aceh Kini Ditentukan Jabatan Bukan Kinerja

0
Penganugerahan gelar kehormatan “Petua Panglima Hukom Nanggroe” kepada Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian oleh Wali Nanggroe Aceh, Tgk Malik Mahmud Al Haythar, pada Rabu, 12 November 2025. (Foto: Humas Kemendagri)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Ketua Ikatan Keluarga Alumni Ilmu Pemerintahan USK, T. Auliya Rahman, menilai praktik pemberian penghargaan di Aceh kian jauh dari semangat penghormatan terhadap kapasitas dan pengetahuan.

Menurutnya, penghargaan di Aceh hari ini lebih ditentukan oleh jabatan, pangkat, relasi, dan pengaruh, ketimbang oleh rekam jejak dan kinerja seseorang.

Hal itu ia sampaikan kepada Nukilan.id pada Sabtu (15/11/2025), menanggapi penganugerahan gelar kehormatan “Petua Panglima Hukom Nanggroe” kepada Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian oleh Wali Nanggroe Aceh, Tgk Malik Mahmud Al Haythar, pada Rabu, 12 November 2025, yang belakangan memicu kritik publik.

Auliya, yang kini menempuh studi Magister Islam Pembangunan dan Kebijakan Publik di UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta, memandang pemberian gelar kepada Tito sebagai langkah yang kurang tepat dan tidak sejalan dengan kebutuhan Aceh hari ini.

Dalam analisisnya, penganugerahan gelar tersebut tidak dapat dilepaskan dari dinamika hubungan Aceh dengan pemerintah pusat, terutama dalam konteks politik yang sedang mengemuka.

“Ada kemungkinan bahwa penganugerahan gelar ini merupakan upaya merekonstruksi hubungan dengan pemerintah pusat. Mari kita kesampingkan sejenak bagaimana ‘jasa’ Tito yang sempat membuat gaduh publik Aceh beberapa waktu lalu terkait isu pemindahan status pulau,” ujar Auliya.

Menurutnya, isu yang semestinya lebih mendapat perhatian adalah berakhirnya Dana Otonomi Khusus (Otsus) Aceh pada 2028. Hingga saat ini, belum ada kepastian mengenai peluang perpanjangan dana tersebut, sementara kekhawatiran di tingkat elit justru meningkat.

“Fakta bahwa dana Otsus Aceh akan berakhir pada 2028. Hingga kini, belum ada sinyal positif apakah akan diperpanjang. Yang muncul justru narasi negatif soal dugaan salah kelola anggaran,” lanjutnya.

Dalam kondisi tersebut, kata Auliya, sebagian elit Aceh tampak berusaha mendekati pemerintah pusat melalui jalur-jalur simbolik, bukan melalui perbaikan tata kelola.

“Tidak heran bila para elit Aceh gelagapan dan mencoba mencari cara untuk melunakkan hati pemerintah pusat, meski melalui cara yang tidak substansial, seperti mengobral gelar kehormatan,” katanya.

Auliya menegaskan bahwa akar permasalahan Aceh bukan pada minimnya dana, melainkan lemahnya transparansi. Ia mencontohkan pengelolaan Dana Istimewa Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) yang dinilai lebih terbuka dan dapat dipantau publik.

“Padahal solusinya sederhana yaitu transparansi. Lihatlah bagaimana Dana Istimewa di Yogyakarta dikelola. Di sana, setiap infrastruktur, taman, halte, fasilitas publik, hingga event budaya yang menggunakan Dana Istimewa diberi tanda yang jelas. Masyarakat tahu uang itu digunakan untuk apa dan kemana,” ucapnya.

Sebaliknya, di Aceh, minimnya akses informasi publik membuat penggunaan anggaran Otsus sulit diikuti masyarakat, menciptakan ruang abu-abu yang rentan disalahgunakan.

Karena itu, Auliya menilai polemik penganugerahan gelar kepada Tito bukanlah isu tunggal, melainkan cerminan dari problem yang lebih dalam terkait tata kelola dan kultur pemberian penghargaan di Aceh.

“Pertama, gelar kehormatan di Aceh telah kehilangan maknanya. Tidak lagi identik dengan kapasitas atau kontribusi, melainkan menjadi ornamen protokoler semata. Jangan salahkan masyarakat jika suatu saat gelar Wali Nanggroe, Wali Agama, atau gelar-gelar lain justru menjadi bahan olok-olok di warung kopi,” ujarnya.

Hal lain yang menurutnya krusial adalah kecenderungan penghargaan yang diberikan berdasarkan posisi seseorang, bukan pada kinerja atau pengetahuan.

“Kedua, di Aceh, penghargaan kepada seseorang ditentukan oleh jabatan, pangkat, relasi, dan pengaruh, bukan oleh kinerja dan pengetahuannya,” lanjut Auliya.

Jika pola ini berlanjut, ia khawatir Aceh akan menghasilkan generasi yang lebih piawai mengolah dana daripada mengolah data, serta lebih pandai memuji daripada menguji.

Di akhir pandangannya, Auliya berharap kekhawatiran tersebut tidak menjadi kenyataan dan menekankan bahwa perbaikan Aceh harus dimulai dari mereka yang memegang otoritas. (xrq)

Reporter: Akil

Prodi Ilmu Pemerintahan USK Gelar Pengabdian Masyarakat di Gampong Biluy, Fokus Edukasi Identitas Kependudukan Digital

0
Program Studi Ilmu Pemerintahan FISIP Universitas Syiah Kuala (USK) melalui Laboratorium Ilmu Pemerintahan menggelar kegiatan Kolaborasi Pengabdian kepada Masyarakat bersama Dinas Registrasi Kependudukan Aceh. (Foto: For Nukilan)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH — Program Studi Ilmu Pemerintahan FISIP Universitas Syiah Kuala (USK) melalui Laboratorium Ilmu Pemerintahan menggelar kegiatan Kolaborasi Pengabdian kepada Masyarakat bersama Dinas Registrasi Kependudukan Aceh. Kegiatan berlangsung di Gampong Biluy, Kecamatan Darul Kamal, Kabupaten Aceh Besar, pada Sabtu–Minggu, 15–16 November 2025.

Acara ini dihadiri oleh Keuchik Gampong Biluy, Afifuddin, Ketua Prodi Ilmu Pemerintahan Wais Alqarni, serta Kepala Laboratorium Ilmu Pemerintahan Mukhrijal. Kegiatan berfokus pada pelayanan publik, khususnya edukasi dan pendampingan Identitas Kependudukan Digital (IKD) kepada masyarakat.

Ketua Prodi Ilmu Pemerintahan, Wais Alqarni, menyampaikan bahwa kegiatan tersebut merupakan bagian dari komitmen akademik untuk menghadirkan manfaat langsung bagi warga.

“Ini merupakan semangat dari Prodi Ilmu Pemerintahan untuk memberikan pelayanan bagi masyarakat,” ujarnya dalam sambutan.

Wais menambahkan bahwa transformasi layanan kependudukan menjadi tantangan yang perlu dijawab bersama.

“Mahasiswa dan dosen perlu turun langsung melihat kebutuhan lapangan, sekaligus memastikan ilmu yang dipelajari relevan dengan kebutuhan masyarakat,” katanya.

Sementara itu, Keuchik Gampong Biluy, Afifuddin, mengapresiasi langkah Prodi Ilmu Pemerintahan USK yang melibatkan perangkat desa dan warga dalam edukasi layanan kependudukan.

“Kami sangat mengapresiasi dan mengucapkan terima kasih kepada Prodi Ilmu Pemerintahan, kami berharap kegitan seperti ini bisa berkelanjutan,” ujarnya.

Afifuddin menyebut, masyarakat masih memerlukan pendampingan terkait pemanfaatan Identitas Kependudukan Digital (IKD), terutama bagi warga yang belum terbiasa menggunakan perangkat digital.

Kepala Laboratorium Ilmu Pemerintahan, Mukhrijal, kepada Nukilan.id menegaskan bahwa kegiatan tersebut sejalan dengan kewajiban akademisi dalam menjalankan Tri Dharma Perguruan Tinggi. Ia menyebut kebutuhan masyarakat terhadap layanan digital semakin mendesak.

“Kegiatan ini sangat penting sebagai wujud Tri Dharma Perguruan Tinggi dan kami melihat kebutuhan masyarakat terhadap pelayanan publik seperti Identitas Kependudukan Digital (IKD) ini sangat penting,” katanya.

Mukhrijal berharap kolaborasi ini terus diperluas untuk memperkuat kualitas pelayanan publik di tingkat gampong, sekaligus mengasah kompetensi mahasiswa dalam praktik pemerintahan. (XRQ)

Reporter: Akil

Pemerintah Aceh Tetapkan Pengendalian Banjir Pase–Peusangan sebagai Agenda Prioritas 2026

0
Plt Kepala Dinas Pengairan Aceh Erwin Ferdinansyah. (Foto: SerambiNews)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Memasuki musim hujan, sejumlah wilayah di Aceh kembali menghadapi ancaman banjir. Untuk menjawab persoalan yang terjadi hampir setiap tahun itu, Pemerintah Aceh melalui Dinas Pengairan menetapkan pengendalian banjir secara menyeluruh sebagai agenda prioritas mulai 2026.

Plt Kepala Dinas Pengairan Aceh, Erwin Ferdinansyah ST MT, mengatakan pengendalian banjir di Wilayah Sungai Pase-Peusangan masuk ke dalam rencana besar penanganan terpadu.

“Yang termasuk dalam agenda prioritas penanganan pencegahan banjir dalam rencana kerja kita adalah pengaturan tata kelola dan pengendalian banjir wilayah Sungai Pase-Peusangan,” ujarnya dikutip dari Serambi, Sabtu (15/11/2025).

Kawasan Rawan Banjir dan Erosi

Wilayah Sungai Pase-Peusangan mencakup lima kabupaten/kota: Bireuen, Aceh Utara, Aceh Tengah, Bener Meriah, dan Lhokseumawe. Kawasan ini kerap memicu banjir di sejumlah titik, terutama di Krueng Keureuto, Weh Gile, Krueng Peudada, dan Krueng Pase.

Daerah tersebut dikenal rawan banjir, erosi, dan sedimentasi. Pendangkalan sungai menjadi pemicu utama, diperparah oleh persoalan lain seperti pengelolaan sampah yang belum optimal, degradasi hutan, serta aktivitas penambangan liar.

Dinas Pengairan Aceh mencatat, sebagian wilayah sungai telah mendapat penanganan memadai, seperti Wilayah Sungai Teunom–Lambesoi. Namun, beberapa kawasan lain membutuhkan penanganan lanjutan dalam skala besar, terutama Sungai Pase–Peusangan dan Sungai Tamiang–Langsa.

Langkah Penanganan Sejauh Ini

Erwin menyebutkan, sejumlah upaya pengendalian banjir telah dilakukan, termasuk penyusunan rencana teknis untuk konstruksi pengendali banjir, pengaman pantai, lahar, serta drainase perkotaan untuk wilayah Krueng Keureuto. Pembangunan Waduk Keureuto juga masuk dalam strategi pengendalian banjir setempat.

Di Kabupaten Bener Meriah, penanganan banjir Weh Gile dilakukan melalui pembangunan perkuatan tebing. Hal serupa juga dikerjakan pada Krueng Peudada dan Krueng Pase.

Sementara itu, khusus Daerah Aliran Sungai (DAS) Tamiang, diperlukan pembangunan bantaran dan tanggul tambahan karena kapasitas sungai tidak lagi mampu menampung debit air saat intensitas hujan tinggi.

“Upaya ini akan terus kami optimalkan guna meminimalisir potensi banjir yang merugikan masyarakat,” papar Erwin.

Program Prioritas 2026

Untuk tahun 2026, Dinas Pengairan Aceh telah menyusun serangkaian rencana kerja yang fokus pada optimalisasi pengendalian banjir di seluruh wilayah. Beberapa kegiatan utama meliputi:

  • Pembangunan tanggul dan pengaman tebing Krueng Keureuto di Lhoksukon

  • Rehabilitasi tanggul Krueng Pase

  • Normalisasi Alue Semakan

  • Normalisasi Alue Gento

  • Normalisasi Krueng Geukueh

  • Rehabilitasi bendungan di Kecamatan Peudada

Selain itu, penanganan banjir di Wilayah Sungai Tamiang–Langsa juga tetap menjadi perhatian karena kawasan tersebut sering dilanda banjir musiman.

Dinas Pengairan Aceh turut melakukan rehabilitasi jaringan irigasi di Aceh Timur dan peningkatan jaringan irigasi di Kecamatan Peudada. Infrastruktur ini diharapkan dapat mendukung program ketahanan pangan Pemerintah Aceh dan sejalan dengan Asta Cita Presiden Prabowo Subianto.

Jaringan irigasi baru tersebut ditargetkan dapat meningkatkan suplai air untuk areal persawahan sehingga produktivitas padi masyarakat ikut terdongkrak.

Erwin menegaskan bahwa pengelolaan sumber daya air tidak dapat dilakukan pemerintah semata.

“Kita butuh keterlibatan seluruh elemen atau stakeholder untuk pengelolaan sumber daya air dan ketahanan pangan di Aceh. Pemerintah Aceh akan terus proaktif berkordinasi ke pemerintah pusat untuk mendorong percepatan pembangunan infrastruktur di Provinsi Aceh, yang didalamnya termasuk infrastruktur pengelolaan sumber daya air,” pungkasnya.

Jadwal Laga MAN Model vs SMAN 2 Banda Aceh Diubah Usai Pemadaman Listrik

0
Honda DBL with Kopi Good Day 2025 Aceh. (Foto: DBL)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – DBL Indonesia resmi menyesuaikan jadwal pertandingan Honda DBL with Kopi Good Day 2025 Aceh untuk laga tim putra MAN Model Banda Aceh melawan SMAN 2 Banda Aceh. Duel yang seharusnya digelar Sabtu, 15 November 2025, di GOR Unsyiah Banda Aceh terpaksa ditunda menyusul pemadaman listrik yang melanda sebagian besar wilayah Banda Aceh.

Situasi pemadaman dinilai berpotensi mengganggu kenyamanan dan keamanan pertandingan, terutama bila laga tetap berlangsung hingga malam. Demi mencegah risiko tersebut, penyelenggara memutuskan mengambil langkah antisipatif dengan menunda pelaksanaan pertandingan.

DBL Indonesia menegaskan keputusan ini diambil semata-mata untuk menjaga kualitas pertandingan sekaligus memastikan keselamatan seluruh pihak yang terlibat, mulai dari pemain, ofisial, perangkat pertandingan, hingga suporter. Koordinasi dengan berbagai pihak juga terus dilakukan untuk memastikan situasi tetap kondusif.

Laga MAN Model Banda Aceh vs SMAN 2 Banda Aceh kini dijadwalkan ulang pada Minggu, 16 November 2025, pukul 19.00 WIB di GOR Unsyiah Banda Aceh. Penyesuaian waktu ini diharapkan membuat kondisi teknis lebih optimal sehingga atmosfer pertandingan tetap terjaga maksimal seperti yang diharapkan penonton.

Honda DBL with Kopi Good Day 2025 Aceh berlangsung pada 15–20 November 2025 di GOR Unsyiah Banda Aceh. Musim ini menghadirkan total 28 tim, terdiri dari 11 tim putri dan 17 tim putra, yang bersaing memperebutkan gelar juara DBL Aceh.

Gelaran ini merupakan bagian dari rangkaian Honda DBL with Kopi Good Day 2025–2026 yang digelar di 31 kota dan 22 provinsi di seluruh Indonesia. Melalui DBL Camp, student athlete terbaik dari berbagai kota akan diseleksi untuk masuk jajaran DBL Indonesia All-Star.

Musim ini juga menghadirkan AZA 3X3 Competition 2025–2026 serta Azarine DBL Dance Competition 2025–2026. Seluruh pertandingan Honda DBL with Kopi Good Day 2025–2026 disiarkan langsung melalui channel YouTube DBL Play, dengan dukungan penuh dari Kopi Good Day sebagai produk kopi anak muda.

Kurir Asal Aceh Ditangkap di Karo, 255 Kg Ganja Gagal Beredar di Medan

0
Ilustrasi Ganja Siap Edar. (Foto: Dok. Pribadi)

NUKILAN.ID | MEDAN — Upaya penyelundupan 255 kilogram ganja dari Aceh ke Medan berhasil digagalkan Direktorat Reserse Narkoba Polda Sumatera Utara. Dua kurir yang membawa barang haram tersebut, masing-masing berinisial BZ (23) dan S (38), ditangkap saat melintas di jalur Aceh–Medan, Kabupaten Karo.

Direktur Reserse Narkoba Polda Sumut, Kombes Andy Arisandi, mengatakan penangkapan dilakukan setelah tim melakukan pemantauan ketat terhadap kendaraan yang dicurigai.

“Setelah dilakukan pemantauan intensif, tim menemukan kendaraan yang dicurigai dan langsung melakukan pembuntutan hingga akhirnya dihentikan di wilayah Kabupaten Karo. Dari hasil pemeriksaan, ditemukan 8 karung berisi 255 balpres ganja dengan total berat sekitar 255 kilogram,” ujarnya, Sabtu (15/11/2025).

Barang bukti itu ditemukan di dalam mobil Daihatsu Terios putih BL 1163 SA yang digunakan kedua tersangka untuk mengangkut ganja. Dari pemeriksaan awal, keduanya mengaku hanya berperan sebagai kurir dan dijanjikan bayaran sebesar Rp50 juta untuk mengantarkan paket tersebut ke Kota Medan.

Kombes Andy menyebutkan, pengiriman ganja itu diduga dikendalikan oleh seorang pria berinisial U, warga Nagan Raya.

“Para tersangka mengaku diperintah oleh seorang laki-laki berinisial U, warga Nagan Raya. Identitas tersebut masih kami dalami dan saat ini masuk dalam proses penyelidikan lebih lanjut. Penindakan ini tidak berhenti pada kurir saja, tetapi kami kejar hingga ke jaringan pengendalinya,” ujarnya.

Selain ganja, polisi juga menyita dua unit telepon genggam, satu tas sandang, serta mobil yang digunakan para pelaku.

Polda Sumut menegaskan akan terus memperketat operasi pengawasan untuk menutup pergerakan jaringan narkoba yang mencoba menjadikan Sumatera Utara sebagai jalur transit maupun pasar peredaran gelap.

“Kedua tersangka dan barang bukti telah dibawa ke Mako Ditresnarkoba Polda Sumut untuk proses hukum lebih lanjut,” kata Andy.