Beranda blog Halaman 174

Satlantas Polres Aceh Barat Patroli Subuh Cegah Balap Liar di Jalan Iskandar Muda

0
Satlantas Polres Aceh Barat Patroli Subuh Cegah Balap Liar di Jalan Iskandar Muda. (FOTO: Polres Aceh Barat)

NUKILAN.ID | MEULABOH – Personel Satuan Lalu Lintas (Satlantas) Polres Aceh Barat menggelar patroli subuh untuk mencegah aksi balap liar di wilayah hukumnya pada Senin (9/3/2026).

Kegiatan tersebut berlangsung sekitar pukul 05.45 WIB hingga selesai di Jalan Iskandar Muda, Gampong Kuta Padang, Kecamatan Johan Pahlawan, Kabupaten Aceh Barat.

Lokasi itu diketahui menjadi salah satu titik yang kerap dimanfaatkan oleh sejumlah pengendara untuk melakukan balap liar, terutama pada waktu subuh hingga pagi hari.

Kapolres Aceh Barat, AKBP Yhogi Hadisetiawan, melalui Kasat Lantas Polres Aceh Barat, AKP Yusrizal, mengatakan kegiatan tersebut merupakan langkah preventif kepolisian untuk menekan aksi balap liar serta penggunaan knalpot brong yang mengganggu ketertiban masyarakat dan berpotensi memicu kecelakaan lalu lintas.

“Kegiatan ini merupakan langkah preventif kepolisian dalam mencegah aksi balap liar serta penggunaan knalpot brong yang dapat mengganggu ketertiban masyarakat dan berpotensi menimbulkan kecelakaan lalu lintas,” ujar Yusrizal.

Dalam pelaksanaannya, personel Satlantas melakukan patroli dan pemantauan terhadap pengendara roda dua yang melintas di kawasan tersebut, terutama yang terindikasi melakukan balap liar atau menggunakan knalpot yang tidak sesuai standar.

Selain pengawasan, petugas juga memberikan imbauan kepada para pengendara agar mematuhi aturan lalu lintas dan tidak melakukan aksi balap liar yang dapat membahayakan diri sendiri maupun pengguna jalan lainnya.

Melalui kegiatan ini, kepolisian berharap situasi keamanan, keselamatan, ketertiban, dan kelancaran lalu lintas (Kamseltibcarlantas) di wilayah hukum Polres Aceh Barat tetap terjaga serta mampu menekan angka kecelakaan lalu lintas.

Secara umum, patroli pencegahan balap liar yang dilakukan personel Satlantas Polres Aceh Barat tersebut berlangsung aman, tertib, dan lancar.

Akademisi FISIP USK: Kembalinya Mirwan MS Harus Jadi Momentum Refleksi Arah Pembangunan Aceh Selatan

0
Akademisi FISIP USK, Mukhrijal, S.IP., M.IP. (Foto: Dok. Pribadi)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Bupati Aceh Selatan nonaktif, Mirwan MS, dikabarkan akan kembali aktif memimpin kabupaten yang dikenal sebagai Negeri Pala. Berdasarkan informasi A1 yang diterima Nukilan.id, Mirwan dijadwalkan kembali menjalankan tugasnya pada hari ini, Senin (9/3/2026) setelah menjalani masa penonaktifan selama tiga bulan oleh Kementerian Dalam Negeri.

Kembalinya Mirwan dinilai menjadi momentum penting dalam dinamika pemerintahan di Aceh Selatan. Selama masa penonaktifan, roda pemerintahan tetap berjalan di bawah kepemimpinan pelaksana tugas (Plt). Namun, keberadaan kepala daerah definitif dinilai tetap memiliki peran strategis dalam menentukan arah kebijakan pembangunan daerah.

Akademisi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Syiah Kuala (USK), Mukhrijal, mengatakan kepemimpinan kepala daerah memegang peran sentral dalam menjaga arah pembangunan sekaligus stabilitas pemerintahan.

“Kalau kita berbicara tentang kepimpinan pemerintahan, sebagai leader di dalam sebuah pemerintah ya itu tentu penting sekali apalagi dalam era demokrasi. Nah, selama 3 bulan ini kekosongan itu kan terjadi. Namun ya, secara administratif tidak kosong karena ada Plt yang menjalankan roda pemerintahan,” kata Mukhrijal saat diwawancarai Nukilan.id, Sabtu (7/3/2026) lalu.

Menurut Mukhrijal, selama tiga bulan masa penonaktifan tersebut, kondisi politik dan pemerintahan di Aceh Selatan relatif stabil. Ia menilai tidak ada gejolak berarti dalam dinamika politik lokal.

“Nah, selama 3 bulan Plt ini menjalankan roda pemerintahan, saya melihat tidak ada sesuatu yang kemudian menjadi geolak besar dalam dinamika politik di Aceh Selatan, enggak ada,” ujarnya.

Meski demikian, ia menilai kembalinya Mirwan seharusnya tidak hanya dipandang sebagai berakhirnya masa penonaktifan secara administratif. Lebih dari itu, momentum tersebut perlu dimanfaatkan sebagai titik refleksi sekaligus awal memperkuat kembali arah kepemimpinan daerah.

Mukhrijal yang juga menjabat sebagai Kepala Laboratorium Ilmu Pemerintahan FISIP USK menekankan pentingnya pembenahan dari sisi personal seorang pemimpin, terutama dalam menggerakkan kembali visi dan program kerja yang telah direncanakan.

“Pertama sebagai personal ya, sebagai pribadi yang kemudian bagaimana ke depan bisa membawa perubahan besar dalam menjalankan visi-misi program kerja yang selama ini direncanakan. Haji Mirwan harus mengambil momentum ini untuk menunjukkan kepada publik bahwasanya sebuah kesalahan administratif kemarin itu bukanlah akhir,” jelasnya.

Ia juga menyoroti tantangan yang akan dihadapi Mirwan setelah kembali aktif memimpin, yakni memulihkan kepercayaan publik. Menurutnya, hal tersebut berkaitan dengan apa yang ia sebut sebagai The Trust of Politic from Civil Society in Aceh Selatan.

Kepercayaan masyarakat, kata Mukhrijal, merupakan modal sosial penting bagi seorang kepala daerah dalam menjalankan pemerintahan secara efektif.

“Bagaimana Haji Mirwan ini kembali bukan hanya menjadi sosok yang menjalankan roda pemerintahan, tetapi juga bagaimana beliau harus bisa mengembalikan kepercayaan masyarakat kepada beliau sebagai pemimpin Aceh Selatan,” katanya.

Lebih lanjut, ia menilai masyarakat tentu berharap kembalinya Mirwan dapat diikuti dengan percepatan kinerja pemerintahan, terutama setelah lebih dari satu tahun masa kepemimpinan berjalan.

“Nah, jadi momentum ini harus diambil oleh beliau dengan memberikan bukti nyata, kerja nyata. Karena kan ini sudah setahun lebih berjalan, jangan tidak ada suatu perubahan yang berarti,” pungkasnya.

Ia menambahkan, pemerintah daerah juga harus tetap memprioritaskan pelayanan publik serta mendorong pembangunan di berbagai sektor agar manfaatnya dapat dirasakan langsung oleh masyarakat.

“Yang terpenting lagi apa yang menjadi dasar pelayanan kepada masyarakat itu harus terpenuhi dengan baik. Kemudian dari segi pembangunan, baik pembangunan fisik maupun non-fisik,” tutup Mukhrijal.

Kembalinya Mirwan ke kursi Bupati Aceh Selatan dengan demikian tidak sekadar menjadi persoalan administratif pemerintahan. Momentum ini juga dipandang sebagai ujian sekaligus peluang bagi kepemimpinan daerah untuk membuktikan komitmen terhadap pelayanan publik, pembangunan, serta pemulihan kepercayaan masyarakat. (XRQ)

Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News.

Reporter: Akil

Mendagri Terbitkan SE, Kepala Daerah Dilarang Bepergian ke Luar Negeri 14–28 Maret 2026

0
Ketua Satgas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana Sumatera sekaligus Menteri Dalam Negeri (Mendagri), Tito Karnavian. (Foto: For Nukilan)

NUKILAN.ID | JAKARTA — Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia, Muhammad Tito Karnavian, kembali mengeluarkan Surat Edaran (SE) Nomor 000.2.3/1171/SJ tertanggal 8 Maret 2026. Surat edaran tersebut berisi larangan bagi seluruh kepala daerah dan wakil kepala daerah untuk melakukan perjalanan ke luar negeri.

Larangan itu berlaku bagi gubernur/wakil gubernur, bupati/wakil bupati, serta wali kota/wakil wali kota di seluruh Indonesia. Kebijakan tersebut berlaku mulai 14 Maret hingga 28 Maret 2026.

Amatan Nukilan.id, dalam SE tersebut dijelaskan bahwa pembatasan perjalanan ke luar negeri, termasuk Perjalanan Dinas Luar Negeri (PDLN), dilakukan dalam rangka menyambut libur Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah serta untuk menjaga kelancaran pelaksanaan tugas kedinasan di daerah.

Melalui kebijakan itu, kepala daerah diminta mengambil sejumlah langkah strategis. Di antaranya mengurangi potensi peningkatan risiko keamanan dan keselamatan selama libur Idul Fitri 1447 H, serta terus berkoordinasi dengan jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda).

Selain itu, pemerintah daerah juga diminta meningkatkan kesiapsiagaan dalam mendukung kelancaran arus mudik Lebaran, melakukan pemantauan dan pengendalian inflasi, serta memastikan kesiapan penyelenggaraan berbagai kegiatan terkait perayaan Idul Fitri.

Surat edaran tersebut juga menegaskan bahwa larangan bepergian ke luar negeri hanya dapat dikecualikan untuk kegiatan yang bersifat sangat esensial, terutama yang merupakan arahan Presiden atau untuk keperluan pengobatan.

Apabila sebelumnya telah keluar rekomendasi untuk perjalanan dinas luar negeri atau izin keluar negeri dengan alasan penting pada tanggal yang masuk dalam periode larangan tersebut, maka perjalanan tersebut harus dibatalkan atau dijadwal ulang. (XRQ)

Reporter: Akil

Prof Mirza Tabrani Resmi Menjadi Rektor USK Periode 2026–2031

0
Pelantikan Prof Mirza Tabrani Menjadi Rektor USK Periode 2026–2031. (Foto: For Nukilan)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Profesor Dr. Mirza Tabrani, S.E., M.B.A., D.B.A resmi dilantik sebagai Rektor Universitas Syiah Kuala (USK) untuk masa jabatan 2026–2031. Pelantikan dan pengambilan sumpah jabatan tersebut dipimpin langsung oleh Ketua Majelis Wali Amanat (MWA) USK, Dr. Safrizal ZA, M.Si, di Gedung AAC Dayan Dawood, Banda Aceh, Senin (9/3/2026).

Dalam sambutannya, Safrizal menyampaikan ucapan selamat kepada Prof. Mirza Tabrani atas amanah baru yang diembannya. Ia juga mengapresiasi kepemimpinan rektor sebelumnya, Prof. Dr. Ir. Marwan, yang dinilai berhasil meletakkan fondasi kuat bagi USK, terutama pada masa transisi menjadi Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum (PTN-BH).

Safrizal mengaku bersyukur karena proses pemilihan rektor berlangsung lancar, damai, dan penuh kesejukan. Menurutnya, hal tersebut menjadi catatan penting dalam sejarah perjalanan kampus terbesar di Aceh tersebut.

Pada kesempatan itu, Safrizal juga mengingatkan kembali sejarah berdirinya Universitas Syiah Kuala. Ia menuturkan bahwa nama kampus tersebut dipilih oleh para pendirinya untuk menegaskan bahwa USK merupakan kelanjutan dari tradisi keilmuan yang telah lama berkembang di Aceh.

Tradisi tersebut, katanya, mengintegrasikan iman dan ilmu, agama dan sains, serta kearifan lokal dengan semangat universal. Dari sinilah muncul predikat yang melekat pada USK sebagai Jantung Hatinya Rakyat Aceh.

“Bahwa denyut USK adalah denyut kehidupan rakyat Aceh. Kemajuan kampus ini harus dirasakan oleh setiap pelosok di Bumi Serambi Mekkah,” kata Safrizal.

Ia menambahkan, kepemimpinan USK ke depan menghadapi tantangan yang semakin kompleks. Kampus dituntut mampu memberikan dampak nyata bagi masyarakat sekaligus menjaga marwahnya sebagai institusi pendidikan tinggi.

“Rektor harus mampu menyeimbangkan kebebasan akademik yang sakral dengan efisiensi administrasi yang ketat, serta mengnavigasi lingkungan yang kompleks untuk perubahan yang cepat,” ujarnya.

Dalam acara tersebut turut hadir Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Kementerian Sains, Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Prof. Dr. Ir. Khairul Munadi, S.T. Ia membacakan sambutan Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Prof. Brian Yuliarto, S.T., M.Eng., Ph.D.

Dalam sambutan tersebut disampaikan bahwa USK bukan hanya perguruan tinggi terbesar di Aceh, tetapi juga menjadi harapan besar bagi kemajuan sains dan teknologi di wilayah barat Indonesia.

Menurutnya, kemajuan daerah sangat ditentukan oleh kualitas pendidikan tinggi. Universitas diharapkan mampu melahirkan lulusan yang unggul, berintegritas, serta inovatif.

“Jika Universitas mampu menghasilkan lulusan yang unggul, berintegritas, dan inovatif maka daerah akan maju. Namun, jika pendidikan tinggi stagnan, maka pembangunan juga akan berjalan lambat,” ucapnya.

Ia menilai USK memiliki posisi strategis untuk menjawab berbagai persoalan masyarakat, mulai dari pembangunan ekonomi daerah, penguatan sektor kelautan, pengembangan industri kreatif, hingga mitigasi bencana.

“Karena itu, kami berharap USK dapat terus mengambil peran penting dalam mengawal proses pemulihan pasca bencana secara berkelanjutan melalui pendekatan berbasis sains dan teknologi,” jelasnya.

Prof. Mirza Tabrani lahir di Banda Aceh dan menempuh pendidikan magister serta doktoralnya di Universiti Kebangsaan Malaysia. Guru Besar USK tersebut juga pernah menduduki sejumlah jabatan strategis.

Ia pernah menjabat sebagai Komisaris Independen PT Bank Aceh Syariah. Selain itu, pada periode 2013–2017 ia dipercaya menjadi Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Syiah Kuala.

Dalam visinya, Prof. Mirza berkomitmen membawa USK menjadi perguruan tinggi yang unggul, inovatif, berdampak global, serta berkelanjutan pada tahun 2031. Visi tersebut diarahkan untuk menjadikan USK sebagai kampus PTN-BH yang profesional, akuntabel, dan mandiri.

Ia juga menargetkan agar USK dapat memberikan dampak nyata di tingkat global, sekaligus memastikan kampus tersebut berkembang dengan prinsip pembangunan berkelanjutan.

Menjelang Idulfitri, Pembangunan Hunian Korban Banjir di Aceh Tamiang Dipercepat

0
Pembangunan huntap dan huntara warga terdampak bencana di Aceh Tamiang. (FOTO: Dok Bakom RI)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Menjelang Hari Raya Idulfitri 1447 Hijriah, pembangunan hunian sementara (huntara) dan hunian tetap (huntap) bagi korban banjir di Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh, terus dipacu. Berbagai pihak dilibatkan dalam proses percepatan pembangunan tersebut, termasuk personel TNI dan Polri yang turun langsung membantu pekerjaan di lapangan.

Dikutip dari Metrotvnews.com, Senin (9/3/2026), aparat Polsek Kejuruan Muda melakukan peninjauan sekaligus pengamanan di lokasi pembangunan huntara dan huntap bagi warga terdampak banjir di Kecamatan Kejuruan Muda.

Sementara itu, di Desa Rantau Pauh, Kecamatan Rantau Pauh, anggota TNI terlihat turut membantu proses pembangunan hunian. Sejumlah personel TNI mengangkut pasir menggunakan gerobak dorong untuk dipindahkan ke lantai huntara. Material tersebut akan digunakan untuk mencampur semen dan batu guna memperkuat struktur bangunan.

Di lokasi pembangunan tampak deretan bangunan semi permanen yang disiapkan sebagai hunian sementara bagi masyarakat yang terdampak banjir bandang di Aceh Tamiang.

Pemerintah menargetkan pembangunan hunian tersebut dapat segera memberikan tempat tinggal yang lebih layak dan aman bagi warga terdampak bencana, sekaligus mendukung percepatan pemulihan kondisi masyarakat menjelang Lebaran.

Data hingga Minggu (8/3/2026) menunjukkan pemerintah melalui Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) bersama sejumlah kementerian dan lembaga terkait telah membangun 1.771 unit hunian sementara yang tersebar di 25 lokasi.

Dari jumlah tersebut, sebanyak 1.339 kepala keluarga telah menempati hunian yang tersedia. Selain menyediakan tempat tinggal, pemerintah juga menyiapkan fasilitas dasar seperti akses air bersih dan listrik secara gratis guna membantu meringankan beban para penyintas banjir.

Kapolda Aceh Ikuti Tanam Raya Jagung Kuartal I 2026 di Aceh Besar, Dukung Program Swasembada Nasional

0
Kapolda Aceh Ikuti Tanam Raya Jagung Kuartal I 2026 di Aceh Besar. (Foto: Polda)

NUKILAN.ID | JANTHO – Kapolda Aceh Marzuki Ali Basyah mengikuti kegiatan tanam raya jagung serentak Kuartal I Tahun 2026 secara virtual pada Sabtu (7/3/2026). Kegiatan tersebut merupakan bagian dari upaya mendukung program swasembada jagung nasional dan terhubung langsung dengan Kapolri Listyo Sigit Prabowo.

Kegiatan tanam raya di wilayah Aceh Besar itu dipusatkan di Desa Data Gaseu, Kecamatan Seulimum. Selain Kapolda Aceh, kegiatan tersebut turut dihadiri Wakapolda Aceh Brigjen Pol. Ari Wahyu Widodo, Irwasda Polda Aceh, para pejabat utama Polda Aceh, unsur Forkopimda Aceh, sejumlah kepala SKPA, unsur TNI-Polri, jajaran Pemerintah Kabupaten Aceh Besar, serta masyarakat dan kelompok tani setempat.

Pada kegiatan tersebut, penanaman jagung dilakukan di lahan seluas sekitar lima hektare dengan estimasi produktivitas mencapai sekitar 12 ton per hektare. Program ini diharapkan mampu meningkatkan hasil pertanian sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat, khususnya para petani jagung di Aceh Besar.

Kapolda Aceh menyatakan bahwa keterlibatan Polri, khususnya Polda Aceh, merupakan bentuk dukungan terhadap program Asta Cita Presiden Republik Indonesia dalam memperkuat ketahanan pangan nasional.

“Melalui kegiatan tanam raya jagung serentak ini, diharapkan upaya bersama antara Polri, pemerintah, dan masyarakat dapat memperkuat ketahanan pangan serta mewujudkan swasembada jagung nasional,” ujar Kapolda Aceh.

Ia juga menyampaikan bahwa program tanam raya ini diharapkan dapat membantu para petani meningkatkan kualitas tanaman serta menjaga mutu hasil panen, sehingga harga jagung tetap stabil dan memberikan keuntungan bagi petani.

Selain itu, Polda Aceh juga berkomitmen untuk terus bersinergi dengan pemerintah daerah dan para pemangku kepentingan dalam memenuhi kebutuhan para petani, mulai dari penyediaan bibit, pupuk, hingga sarana pendukung lainnya agar kegiatan pertanian dapat berjalan optimal dan berkelanjutan.

Secara keseluruhan, program Tanam Raya Kuartal I Tahun 2026 oleh Polda Aceh dilaksanakan di lahan seluas 31,75 hektare yang tersebar di sembilan Polres jajaran.

Sementara itu, khusus di Desa Data Gaseu, Kecamatan Seulimum, Aceh Besar, lahan seluas lima hektare ditanami jagung menggunakan jenis bibit Maxi oleh Kelompok Tani Commando Indonesia Maju. Dalam kegiatan tersebut, Kapolda Aceh bersama Wakapolda, pejabat utama Polda Aceh, unsur Forkopimda, serta kelompok tani turut melakukan penanaman bibit jagung secara simbolis.

Panas Terik di Aceh Dipicu Perubahan Iklim Global

0
Ilustrasi Panas Terik. (Foto: For Nukilan)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH — Suhu panas yang dirasakan masyarakat di sejumlah wilayah Aceh dalam beberapa waktu terakhir berkaitan erat dengan krisis iklim global serta perubahan pola cuaca musiman.

Hal tersebut disampaikan oleh Dr. Yopi Ilhamsyah, Ketua Divisi Hydrometeorological Hazard & Climate Change pada Tsunami and Disaster Mitigation Research Center (TDMRC) Universitas Syiah Kuala, dalam siaran program Green Radio di Radio Republik Indonesia (RRI) Banda Aceh, Sabtu (7/3/2026).

Menurut Yopi, fenomena panas ekstrem yang terjadi saat ini tidak dapat dilepaskan dari perubahan iklim yang menyebabkan peningkatan suhu rata-rata global. Kondisi tersebut membuat sejumlah wilayah mengalami cuaca yang lebih panas dan kering dari biasanya.

“Panas ekstrem yang kita rasakan merupakan bagian dari dampak perubahan iklim. Suhu udara meningkat karena akumulasi gas rumah kaca di atmosfer yang menahan panas bumi,” kata Yopi dalam siaran tersebut.

Ia menjelaskan bahwa secara musiman wilayah utara Aceh memang sedang berada dalam periode yang relatif kering. Sementara itu, sejumlah wilayah lain di Indonesia, terutama bagian selatan, masih mengalami curah hujan. Perbedaan kondisi ini dipengaruhi oleh dinamika atmosfer serta karakteristik geografis masing-masing wilayah.

Di Aceh, faktor topografi turut memengaruhi distribusi curah hujan. Wilayah barat dan selatan Aceh disebut lebih sering menerima hujan karena menjadi daerah pertama yang dilalui massa udara lembap dari laut. Sebaliknya, wilayah utara dan timur cenderung lebih kering setelah awan kehilangan sebagian kandungan uap airnya ketika melintasi kawasan pegunungan.

Kondisi panas dan kering yang berlangsung dalam waktu lama berpotensi menimbulkan berbagai dampak bagi masyarakat. Dari sisi kesehatan, suhu tinggi dapat meningkatkan risiko dehidrasi, menurunkan kualitas kebersihan lingkungan, hingga memicu munculnya penyakit yang berkaitan dengan sanitasi dan vektor seperti nyamuk.

Selain itu, sektor pertanian juga menghadapi tantangan. Berkurangnya ketersediaan air dapat mengganggu sistem irigasi dan menyebabkan lahan pertanian—terutama sawah tadah hujan—mengalami kekeringan.

“Jika kondisi ini berlangsung lama, maka produksi pangan bisa terpengaruh karena tanaman membutuhkan air yang cukup untuk tumbuh,” ujarnya.

Meski demikian, Yopi menilai kondisi cuaca panas tidak selalu berdampak negatif bagi seluruh sektor. Bagi sebagian nelayan, cuaca yang relatif tenang justru dapat memudahkan aktivitas melaut karena gelombang dan angin cenderung lebih stabil.

Ia menegaskan bahwa upaya mitigasi perubahan iklim tetap penting dilakukan secara bersama-sama. Salah satu langkah sederhana yang dapat dilakukan masyarakat adalah menjaga kelestarian lingkungan serta meningkatkan ruang terbuka hijau.

Menurutnya, pepohonan memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan iklim lokal karena mampu menyerap karbon dioksida sekaligus membantu menurunkan suhu lingkungan.

“Penanaman dan pelestarian pohon menjadi langkah sederhana tetapi penting untuk mengurangi dampak pemanasan,” kata Yopi.

Ia juga mengingatkan bahwa alih fungsi lahan dan berkurangnya kawasan hijau dapat memperparah peningkatan suhu di berbagai wilayah. Karena itu, perencanaan pembangunan perlu mempertimbangkan keseimbangan antara kebutuhan infrastruktur dan keberlanjutan lingkungan.

Yopi berharap masyarakat semakin memahami bahwa fenomena panas ekstrem bukan sekadar kondisi cuaca biasa, melainkan bagian dari tantangan krisis iklim yang membutuhkan kesadaran serta tindakan bersama.

Kakanwil Kemenag Aceh Tutup Program Pesan Teraman di Aceh Timur, Setelah Bireuen dan Aceh Utara

0
Kakanwil Kemenag Aceh Tutup Program Pesan Teraman di Aceh Timur. (Foto: For Nukilan)

NUKILAN.ID | IDI RAYEUK – Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kanwil Kemenag) Aceh, Drs H Azhari MSi, menutup program Pesantren Terapi Ruhani Ramadhan (Pesan Teraman) di Kabupaten Aceh Timur, Ahad (8/3/2026) sore.

Program tersebut merupakan kegiatan pendidikan sekaligus pendekatan psikosial bernuansa nilai-nilai Islam pada bulan Ramadhan, yang ditujukan bagi anak-anak korban banjir di Aceh.

Kegiatan di Aceh Timur berlangsung di MIN 4 kawasan Lhok Dalam, Peureulak. Pada kesempatan itu, Azhari turut memberikan semangat kepada para siswa dan guru menjelang waktu berbuka puasa.

Dalam kegiatan penutupan tersebut, Kakanwil didampingi sejumlah pejabat Kanwil Kemenag Aceh, di antaranya Kabid Penaiszawa H Zulkifli SAg MAg, Kabid Penmad H Khairul Azhar SAg MSi, serta Kakankemenag Aceh Timur H Salamina MA bersama jajaran.

Selain menyampaikan tausiah pada penutupan program bagi para siswa, Azhari juga menyerahkan bantuan berupa tiga unit kipas angin untuk Masjid Assa’adah Buket Bata, Kecamatan Pante Bidari, Aceh Timur.

Kabid Penaiszawa Kanwil Kemenag Aceh, H Zulfikar SAg MAg, menjelaskan bahwa program Pesan Teraman di Aceh Timur diikuti oleh 50 peserta dan berlangsung sejak 3 hingga 8 Maret 2026.

Sebelumnya, Kakanwil Azhari juga menutup program serupa di Kabupaten Bireuen pada 7 Maret 2026.

Penutupan program di daerah tersebut dilaksanakan di MIN 42 Bireuen yang saat ini digunakan sebagai lokasi sementara pascabanjir.

Menurut Zulfikar, kegiatan pemulihan traumatik bernuansa syiar Ramadhan itu juga diikuti oleh 50 siswa.

“Siswa di lokasi sementara mengikuti kegiatan tersebut sejak 2 hingga 7 Maret 2026,” ujarnya didampingi Kabid Penmad H Khairul Azhar SAg MSi.

Selain di Aceh Timur dan Bireuen, penutupan Pesantren Terapi Ruhani Ramadhan (Pesan Teraman) juga dilaksanakan di Masjid Baituttaqwa, Kecamatan Lapang, Aceh Utara, pada Ahad (8/3/2026).

Kegiatan yang merupakan kerja sama Bidang Penaiszawa Kanwil Kemenag Aceh dengan IPARI Kabupaten Aceh Utara itu diikuti oleh 52 siswa dan berlangsung sejak 3 hingga 8 Maret 2026.

Kembalinya Bupati Mirwan Memimpin Aceh Selatan Disambut Sejumlah Harapan dari Generasi Muda

0
mirwan ms
Bupati Aceh Selatan, Mirwan MS. (Foto: For Nukilan)

NUKILAN.ID | TAPAKTUAN – Kabar mengenai kembalinya Bupati Aceh Selatan nonaktif, Mirwan MS, untuk kembali menjalankan tugasnya disambut dengan beragam harapan dari kalangan generasi muda di daerah tersebut.

Berdasarkan informasi yang diterima Nukilan.id, Mirwan dijadwalkan kembali aktif memimpin Kabupaten Aceh Selatan pada hari ini, Senin (9/3/2026) setelah menjalani masa penonaktifan selama tiga bulan yang dijatuhkan oleh Kementerian Dalam Negeri.

Kembalinya Mirwan dinilai menjadi momentum baru bagi pemerintahan daerah untuk kembali bergerak lebih fokus, termasuk dalam menjawab berbagai persoalan yang dirasakan oleh generasi muda.

Untuk menghimpun pandangan anak muda, Nukilan.id mewawancarai sejumlah mahasiswa di Aceh Selatan mengenai tantangan yang paling dirasakan generasi muda saat ini, sekaligus program yang mereka anggap penting untuk membuka ruang kemajuan bagi kaum muda.

Salah satu tanggapan datang dari Zikra, mahasiswa asal Kecamatan Samadua. Ia terlebih dahulu menyampaikan sikap optimistis terhadap kembalinya Mirwan memimpin Aceh Selatan.

Menurutnya, kepemimpinan yang kembali berjalan secara penuh diharapkan mampu menghadirkan energi baru bagi pembangunan daerah, terutama dalam memperhatikan aspirasi generasi muda.

Berbicara mengenai tantangan yang dihadapi anak muda, Zikra menilai persoalan mendasar yang paling dirasakan saat ini adalah terbatasnya lapangan pekerjaan serta kesempatan untuk mengembangkan potensi diri.

“Saat ini, program yang sangat dibutuhkan adalah pelatihan keterampilan, dukungan terhadap wirausaha muda, serta penyediaan ruang kreatif bagi anak muda agar mereka bisa berkarya dan berkontribusi bagi daerah,” ungkap Zikra saat diwawancarai Nukilan.id pada Sabtu (7/3/2025) lalu.

Ia menilai, tanpa dukungan program yang konkret dari pemerintah daerah, potensi besar yang dimiliki generasi muda Aceh Selatan akan sulit berkembang secara maksimal.

Karena itu, Zikra berharap pemerintah daerah dapat lebih terbuka dalam mendengar aspirasi anak muda serta menghadirkan kebijakan yang berpihak pada pengembangan kapasitas generasi muda.

“Kami berharap pemerintah daerah dapat menghadirkan program yang membuka peluang kerja, meningkatkan kualitas pendidikan, serta mendukung kreativitas anak muda agar mereka bisa ikut membangun Aceh Selatan ke arah yang lebih baik,” tuturnya.

Pandangan serupa juga disampaikan Naufal, mahasiswa asal Kecamatan Tapaktuan. Ia melihat persoalan yang dihadapi generasi muda Aceh Selatan tidak jauh berbeda, yakni keterbatasan lapangan kerja dan minimnya ruang pengembangan diri setelah menyelesaikan pendidikan.

Menurutnya, kondisi tersebut membuat banyak anak muda harus mencari peluang di luar daerah.

“Banyak lulusan SMA maupun perguruan tinggi yang akhirnya harus merantau keluar daerah karena peluang kerja di daerah masih terbatas,” kata Naufal.

Ia menilai pemerintah daerah perlu menghadirkan program yang mampu menjawab kebutuhan nyata generasi muda, bukan sekadar kebijakan yang bersifat administratif.

Menurut Naufal, sejumlah langkah strategis yang bisa dilakukan antara lain memperluas pelatihan keterampilan, memperkuat dukungan terhadap kewirausahaan pemuda, serta mendorong pengembangan UMKM yang melibatkan generasi muda secara aktif.

Selain itu, ia juga menilai pentingnya ruang dialog antara pemerintah daerah dan kalangan pemuda, agar ide serta gagasan yang lahir dari generasi muda dapat tersalurkan dalam proses pembangunan.

“Sebagai mahasiswa, saya pribadi melihat banyak ide-ide dari kalangan pemuda dan mahasiswa yang bisa diaplikasikan untuk pemajuan daerah. Maka dari itu, saya berharap Bupati Mirwan bisa membuka ruang dialog dan kolaborasi dengan kalangan pemuda dan mahasiswa,” ungkapnya.

Berbagai pandangan tersebut menunjukkan bahwa generasi muda Aceh Selatan menaruh harapan besar terhadap kepemimpinan yang kembali berjalan secara penuh.

Bagi mereka, kehadiran pemerintah daerah bukan hanya diharapkan mampu menjalankan roda pemerintahan, tetapi juga membuka jalan bagi tumbuhnya peluang dan ruang berkarya bagi generasi muda di daerah. (XRQ)

Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News.

Dilarang mengambil konten, melakukan crawling, atau pengindeksan otomatis di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita Nukilan.id. Konten Nukilan.id dapat dikutip atau disebarluaskan kembali untuk kepentingan informasi dengan syarat mencantumkan “Sumber: Nukilan.id”

Reporter: Akil

ITB–Paragon Kirim Teknologi Filter Air Bersih untuk Warga Pascabencana di Aceh Tamiang

0
ITB–Paragon Kirim Teknologi Filter Air Bersih untuk Warga Pascabencana di Aceh Tamiang. (Foto: ITB)

NUKILAN.ID | KUALA SIMPANG — Pascabencana yang melanda Aceh, Institut Teknologi Bandung (ITB) kembali menyalurkan bantuan berupa teknologi filter air bersih bagi masyarakat di Kabupaten Aceh Tamiang. Bantuan tersebut dikirim melalui kolaborasi ITB bersama Paragon Corp dan dipasang di Desa Sukajadi, Kecamatan Karang Baru, pada Sabtu (7/3/2026).

Program ini merupakan kerja sama ITB melalui Direktorat Pengabdian Masyarakat dan Layanan Kepakaran (DPMK) ITB dengan dukungan Paragon sebagai sponsor. Teknologi filter air tersebut dipasang di tepi Sungai Tamiang yang menjadi sumber air utama bagi sistem penyaringan.

Dalam kegiatan serah terima, pihak Paragon diwakili oleh Dwi Eliani, sementara dari ITB diwakili Direktur Komunikasi dan Hubungan Masyarakat ITB, N. Nurlaela Arief. Bantuan tersebut diterima langsung oleh Bupati Aceh Tamiang, Armia Fahmi.

Teknologi ini bekerja dengan menyedot air sungai yang sebelumnya dalam kondisi keruh, kemudian memprosesnya melalui dua tahap filtrasi hingga menghasilkan air yang jernih dan layak digunakan, bahkan dapat diminum. Air hasil penyaringan kemudian ditampung dalam tangki berkapasitas besar sebelum didistribusikan kepada masyarakat.

Dari tangki penampungan tersebut, air dialirkan ke sejumlah toren yang berada di sekitar permukiman warga di Kampung Sukajadi. Melalui sistem distribusi ini, sekitar 1.200 warga kini dapat memanfaatkan air bersih untuk berbagai kebutuhan sehari-hari, mulai dari mandi, mencuci, sanitasi, hingga sebagai sumber air minum.

Selain dialirkan ke rumah warga, sebagian masyarakat juga datang langsung ke lokasi filter untuk mengambil air bersih. Selama bulan Ramadan, terutama menjelang sore hari, warga terlihat antre sambil membawa galon kosong untuk mengisi air dari sistem filter ITB–Paragon tersebut.

Sistem filter air ini memiliki kapasitas maksimum hingga 7.200 liter per jam, sehingga mampu menyediakan pasokan air bersih dalam jumlah besar bagi masyarakat sekitar.

Perangkat filter tersebut dikirim dari Kota Bandung menuju Aceh Tamiang dengan waktu perjalanan sekitar satu pekan sebelum akhirnya tiba di lokasi dan siap digunakan oleh masyarakat. Pengiriman ini menjadi bagian dari upaya mendukung masa pemulihan wilayah Aceh pascabencana, khususnya dalam memenuhi kebutuhan dasar masyarakat terhadap air bersih.

Bupati Aceh Tamiang, Armia Fahmi, menyampaikan apresiasi atas dukungan yang diberikan oleh ITB dan Paragon. Ia berharap bantuan tersebut dapat membantu percepatan pemulihan kondisi masyarakat.

“Saya berharap dengan dukungan Pemerintah dan banyak pihak, kondisi di sini bisa lebih cepat pulih,” kata Armia Fahmi.

Sementara itu, Direktur Komunikasi dan Hubungan Masyarakat ITB, N. Nurlaela Arief, mengatakan keberadaan teknologi tersebut juga menghadirkan pengalaman menarik bagi warga setempat.

Salah satu kisah datang dari seorang bayi yang sebelumnya mengalami diare selama hampir satu bulan dan tidak kunjung sembuh meskipun telah mendapatkan pengobatan. Setelah keluarganya menggunakan air dari sistem filter tersebut, kondisi bayi tersebut dilaporkan berangsur membaik hingga akhirnya sembuh.

“Kolaborasi ini menunjukkan bagaimana sinergi antara perguruan tinggi dan sektor industri dapat menghadirkan solusi teknologi yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Ke depan, diharapkan semakin banyak perusahaan yang dapat berkolaborasi dengan ITB untuk menghadirkan inovasi serupa, mengingat teknologi filter air seperti ini terbukti sangat dibutuhkan oleh masyarakat di Aceh Tamiang,” ujar Nurlaela.

Teknologi Instalasi Pengolahan Air (IPA) Mobile atau filter air bersih ini merupakan kontribusi dari berbagai pihak di ITB, termasuk Rektor ITB Tatacipta Dirgantara, Ketua Tim IPA Mobile Bagus Budiwantoro dari Kelompok Keahlian Perancangan Teknik dan Produksi Fakultas Teknik Mesin dan Dirgantara (FTMD) ITB, Yayasan LAPI ITB, serta sejumlah pihak internal ITB lainnya.