Beranda blog Halaman 172

Perkuat Kompetensi Mahasiswa, Prodi Ilmu Pemerintahan USK Gelar Pelatihan MICE

0
Prodi Ilmu Pemerintahan USK Menggelar Pelatihan MICE. (Foto: For Nukilan)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Program Studi Ilmu Pemerintahan kembali menggelar pelatihan untuk meningkatkan keterampilan mahasiswa melalui kegiatan Pelatihan MICE yang berlangsung pada Rabu, 19 November 2025 pukul 09.00 WIB.

Kegiatan ini dipimpin oleh Koordinator Prodi Ilmu Pemerintahan, Wais Alqarni, S.IP., M.A, Kepala Laboratorium Prodi Ilmu Pemerintahan Mukhrijal, M.I.P., serta menghadirkan narasumber Muhammad Rezqi, S.IP., Direktur Utama Arsa Rijaya Entertainment sekaligus alumni Prodi Ilmu Pemerintahan FISIP USK.

Pelatihan dibuka secara resmi oleh Maimun, S.Pd., M.A, Wakil Dekan III Bidang Kemahasiswaan, Alumni dan Kemitraan. Dalam sambutannya, ia mengapresiasi langkah prodi dan laboratorium yang terus menghadirkan program edukatif sesuai kebutuhan dunia kerja. Ia menegaskan pentingnya mahasiswa memiliki keahlian tambahan di luar akademik, terutama di bidang manajemen acara yang semakin diminati.

Pada sesi utama, narasumber Muhammad Rezqi memaparkan materi tentang MICE—akronim dari Meetings, Incentives, Conferences, and Exhibitions. Ia menjelaskan bahwa sektor ini merupakan bagian strategis dalam industri pariwisata yang berfokus pada penyelenggaraan kegiatan bisnis, profesional, dan korporasi, mulai dari pertemuan formal hingga pameran berskala nasional dan internasional.

“MICE tidak hanya berdampak pada penyelenggaraan acara, tetapi juga membuka peluang besar bagi mahasiswa untuk memahami bagaimana sebuah kegiatan dapat memberi dampak ekonomi dan sosial yang luas. Melalui perencanaan yang baik, mahasiswa dapat melihat bagaimana industri acara mampu menciptakan lapangan kerja, memperkuat citra daerah, serta memberikan nilai tambah bagi berbagai sektor,” ujar Rezqi.

Ia turut menekankan pentingnya kemampuan manajemen acara, koordinasi tim, dan kreativitas dalam merancang konsep kegiatan. Menurutnya, keterampilan tersebut sangat dibutuhkan di dunia profesional, baik di sektor kreatif, pemerintahan, maupun swasta.

Pelatihan ini mendapat sambutan positif dari mahasiswa yang tampak antusias berdiskusi mengenai peluang karier di industri MICE, strategi merancang acara, hingga tantangan dalam dunia event management. Narasumber juga membagikan pengalamannya di industri hiburan dan event organizer, sehingga peserta memperoleh gambaran praktik yang lebih konkret.

Kepala Laboratorium, Mukhrijal, M.I.P., menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan komitmen laboratorium dalam menyediakan ruang pembelajaran yang aplikatif bagi mahasiswa.

“Kami ingin mahasiswa tidak hanya memahami teori pemerintahan, tetapi juga memiliki keterampilan yang dapat menunjang karier mereka di berbagai sektor,” ujarnya.

Sementara itu, Koordinator Prodi Ilmu Pemerintahan, Wais Alqarni, S.IP., M.A., menambahkan bahwa pelatihan soft skill ini merupakan salah satu implementasi pengembangan sosiopreneur. Prodi Ilmu Pemerintahan juga membuka berbagai bidang minat bagi lulusan agar mereka tidak hanya berfokus menjadi PNS, tetapi mampu berkembang di berbagai sektor lainnya.

Melalui pelatihan ini, Laboratorium Prodi Ilmu Pemerintahan berharap mahasiswa semakin memahami peran industri acara dalam dinamika pemerintahan modern serta dapat memanfaatkannya sebagai peluang untuk pengembangan diri. (xrq)

Belajar Sambil Bermain, Anak TK Kartika Sambangi Markas Damkar Lhokseumawe

0
Edukasi Profesi Pemadam Kebakaran untuk Murid TK Kartika IV-3 Lhokseumawe. (F

NUKILAN.ID | LHOKSEUMAWE – Ratusan murid TK Kartika IV-3 Lhokseumawe melaksanakan kegiatan belajar sambil bermain di Markas Pemadam Kebakaran (Damkar) dan Keselamatan Kota Lhokseumawe, yang berlokasi di Jalan Elak, Lorong Tgk. Ie Bungong Alue Awe, Kecamatan Muara Dua, Kamis (19/11/2025) pagi.

Menggunakan bus dan empat unit kendaraan Reo TNI, rombongan kecil itu tiba dan langsung disambut hangat oleh petugas damkar berseragam lengkap yang telah bersiap menunggu kedatangan mereka.

Selama hampir tiga jam, suasana kunjungan berlangsung ceria. Anak-anak terlihat antusias mempelajari berbagai perlengkapan pemadam kebakaran, seperti selang, nozzle, pakaian tahan panas, hingga Alat Pemadam Api Ringan (APAR).

Mereka juga diajak berkeliling menggunakan kendaraan pemadam serta melihat langsung deretan armada damkar yang selalu siaga di halaman markas.

Dalam kegiatan ini, setiap kelompok murid diberi kesempatan mempraktikkan cara memadamkan api bersama tim damkar. Sorak antusias terdengar ketika mereka bergiliran menyemprotkan air ke arah kobaran api yang disimulasikan pada tumpukan ban.

Pimpinan Pemadam Kebakaran Kota Lhokseumawe, Ibrahim Zakaria, menjelaskan bahwa kegiatan tersebut dirancang untuk memperkenalkan profesi pemadam kebakaran sekaligus memberikan pemahaman dasar mengenai proses pemadaman api kepada anak usia dini.

“Apresiasi dari Anak-anak TK Kartika mengikuti belajar pengenalan sambil bermain, tadi mereka terlihat antusias mengikuti demonstrasi memadamkan api, dan tentang cara penanggulangan terjadinya bencana kebakaran,” ujarnya.

Ibrahim juga menyampaikan terima kasih kepada pihak sekolah atas kunjungan tersebut. Menurutnya, kegiatan semacam ini penting sebagai bekal pengetahuan bagi generasi muda.

“Terima kasih kepada Danrem 011/Lilawangsa, Kolonel Inf Ali Imran, memberikan kepercayaan kepada Tim Damkar untuk memberikan pengetahuan atau pembekalan kepada anak-anak sekolah TK Kartika IV-3 Lhokseumawe, yang sudah mengunjungi tempat kami,” imbuhnya.

“Semoga apa yang kami sampaikan kepada adik-adik dan para guru turut menyaksikan, kita harapkan bersama dapat berguna, jika sewaktu-waktu terjadi kebakaran,” tutupnya.

19 November dalam Sejarah: Titik Balik Pertempuran Stalingrad yang Mengguncang Dunia

0
Berakhirnya Pertempuran Stalingrad. (Foto: rbth.com)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Sejumlah peristiwa penting dan menentukan jalannya sejarah dunia terjadi pada 19 November. Salah satunya adalah momentum besar dalam Perang Dunia II ketika Uni Soviet melancarkan serangan balasan yang menjadi titik balik menuju kekalahan Nazi Jerman di Stalingrad. Berikut rangkuman Nukilan.id mengenai peristiwa bersejarah tersebut, Selasa (19/11/2025).

Pertempuran Stalingrad—yang kini dikenal sebagai Volgograd—menjadi salah satu pertempuran paling brutal dan menentukan sepanjang sejarah peperangan modern. Kota industri yang terletak di Rusia Selatan itu menjadi ajang perebutan sengit antara pasukan Nazi Jerman dan sekutunya melawan Uni Soviet. Serangan udara jarak dekat yang menghantam permukiman warga sipil menjadi pembuka dari rangkaian pertempuran panjang yang berlangsung dari akhir musim panas 1942 hingga awal 1943.

Pada fase awal, Jerman mengerahkan kekuatan besar, termasuk Tentara Keenam dan unsur Panzer Tentara Keempat, untuk menaklukkan Stalingrad. Menjelang pertengahan November 1942, pasukan Jerman berhasil mendesak pertahanan Soviet hingga menyisakan wilayah kecil di sepanjang tepi barat Sungai Volga. Namun, keberhasilan itu dibayar dengan korban besar serta melemahnya moral dan logistik pasukan Poros.

Situasi berubah drastis pada 19 November 1942. Tentara Merah Uni Soviet meluncurkan serangan balasan besar-besaran yang diberi nama Operasi Uranus. Serangan dua arah ini dirancang untuk mengepung pasukan Jerman dengan menargetkan pertahanan lemah sekutu Jerman, terutama pasukan Rumania dan Hungaria yang menjaga sayap Angkatan Darat Keenam.

Strategi ini terbukti mematikan. Dalam waktu singkat, pasukan Soviet berhasil mengepung lebih dari 250.000 tentara Jerman dan sekutunya di dalam kota. Pertempuran sengit terus berlanjut selama dua bulan, dengan kondisi ekstrem musim dingin, kelaparan, dan minimnya pasokan memperparah keadaan pasukan Poros.

Pada awal Februari 1943, setelah kehabisan amunisi dan bahan makanan, sisa-sisa Tentara Keenam Jerman akhirnya menyerah. Kekalahan itu menjadi pukulan telak bagi ambisi Adolf Hitler di front timur dan menandai titik balik penting dalam Perang Dunia II.

Hingga hari ini, Pertempuran Stalingrad dikenang sebagai salah satu pertempuran paling mematikan, sekaligus simbol keteguhan dan pengorbanan rakyat Soviet dalam menghadapi agresi Nazi. (XRQ)

Reporter: AKIL

Digelar 3 Hari, Muzakarah Saudagar Aceh Siap Dorong Produk Lokal Tembus Pasar Dunia

0
Ketua ISMI Aceh, Nurchalis (tengah) saat konferensi pers Muzakarah Saudagar Aceh di Sekretariat MPW ISMI Aceh, Banda Aceh, Rabu 19 November 2025. (Foto: Nukilan/Rezi)

NUKILAN.id | Banda Aceh – Majelis Permusyawaratan Wilayah (MPW) Ikatan Saudagar Muslim Indonesia (ISMI) Aceh bersama Pemerintah Aceh dan Diaspora Aceh Global (DAG) akan menggelar Muzakarah Saudagar Aceh dan Expo UMKM selama tiga hari, 21–23 November, di Balai Meuseuraya Aceh, Banda Aceh.

Kegiatan yang mengusung tema ‘Saweu Pakat Saudagar Aceh, Aceh Makmue Meuseuraya’ ini dihadiri oleh sejumlah tokoh nasional dan internasional, di antaranya Dr. Ing. Ilham Akbar Habibie MBA selaku Ketua Umum MPP ISMI dan Presiden ICC, Datuk Mansyur Usman dari Malaysia, dan Dr. Marco Tieman dari Inggris.

Ketua ISMI Aceh, Nurchalis menjelaskan dua tujuan utama kegiatan ini. Pertama, menyatukan komitmen bersama membangun Aceh. Kedua, membuka akses produk UMKM Aceh ke pasar global.

“Kami ingin UMKM Aceh naik kelas. Kalau UMKM naik kelas, akan menjadi peningkatan modal, penguatan bahan baku lokal, menambah lapangan kerja, dan meningkatkan pendapatan daerah,” kata Nurchalis saat konferensi pers di Banda Aceh, Rabu (19/11/2025).

Nurchalis mengatakan, acara dimulai dengan upacara pembukaan pada hari pertama, kemudian dilanjutkan pada hari berikutnya dengan seminar nasional yang menghadirkan pembicara dari kalangan tokoh internasional.

“Kami menghadirkan dua sesi diskusi tentang kebijakan dan kondisi Aceh saat ini, serta pembahasan mengenai ekspor-impor dan pemahaman UMKM dalam melakukan ekspor,” ujar Nurchalis.

Menurutnya, hasil seminar nantinya akan dirumuskan dalam bentuk rekomendasi konstruktif untuk membangun Aceh, yang kemudian akan diserahkan kepada Pemerintah Aceh sebagai referensi pengambilan kebijakan ke depan.

Dalam expo ini, kata Nurchalis, sebanyak 60 booth UMKM yang layak ekspor ikut berpartisipasi. Kegiatan juga akan menghadirkan business matching dengan pengusaha dari luar negeri.

“Sekecil apapun, hal positif dari kegiatan ini adalah semangat ISMI dalam mendukung dan memberikan kontribusi kepada Pemerintah Aceh yang dipimpin Mualem-Dekfadh,” kata Nurchalis.

Diaspora Aceh Global yang dipimpin Dr. Ir. Mustafa Abubakar juga akan mempromosikan produk UMKM Aceh ke 21 negara yang telah disepakati kerja samanya dengan ISMI.

Nurchalis menambahkan, secara geografis, geostrategis, dan geopolitik, Aceh memiliki keunggulan kompetitif. Yang diperlukan adalah mengelaborasikan kekuatan yang ada menjadi satu kesatuan untuk bangkit bersama membangun Aceh yang makmur.

“Mimpi kita hanya satu, bagaimana memperkenalkan produk kita, kemudian dicintai, memiliki persyaratan ekspor, dan akhirnya terjadi transaksi yang menggerakkan ekonomi seluruh Aceh,” pungkasnya.

Reporter: Rezi

Gubernur Aceh Lepas Bantuan Logistik untuk 10 Kabupaten Rawan Bencan

0
Gubernur Aceh Muzakir Manaf terlihat didampingi Plt. Kadinsos Aceh, Chaidir, dalam prosesi pelepasan bantuan tersebut. Pengiriman bantuan tahap ini mencakup logistik untuk Kabupaten Aceh Tengah, Bireuen, dan Bener Meriah. Foto: (Humas Aceh).

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Gubernur Aceh, Muzakir Manaf (Mualem), melepas secara simbolis pengiriman sepuluh truk bantuan logistik bagi sepuluh kabupaten yang terdampak dan berpotensi bencana. Prosesi pelepasan berlangsung di halaman Meuligoe Gubernur Aceh, Banda Aceh, pada Selasa (18/11/2025), didampingi Plt. Kepala Dinas Sosial Aceh, Chaidir.

Bantuan berupa kebutuhan sandang dan pangan tersebut disiapkan oleh Dinas Sosial Aceh sebagai bagian dari langkah antisipatif pemerintah daerah terhadap berbagai potensi bencana yang kerap muncul di sejumlah wilayah Aceh. Dengan mengibarkan bendera start, Mualem menandai keberangkatan truk-truk logistik menuju kabupaten tujuan.

“Ada berbagai macam, ada beras, minyak goreng, mi instan, dan lain-lain,” ujar Mualem.

Chaidir menjelaskan bahwa sepuluh daerah yang menerima bantuan merupakan kabupaten yang sebelumnya telah mengajukan permohonan dukungan logistik kepada Pemerintah Aceh.

“Pak Gubernur memerintahkan kami menyiapkan barang-barang kebutuhan dasar bagi kesiapsiagaan bencana. Ada 10 truk kami kirim hari ini. Nantinya, di beberapa lokasi akan diserahkan langsung oleh Bapak Wakil Gubernur,” jelasnya.

Adapun kabupaten penerima bantuan meliputi Pidie, Bireuen, Bener Meriah, Aceh Tengah, Aceh Singkil, Aceh Tenggara, Aceh Selatan, Aceh Utara, Aceh Timur, dan Aceh Tamiang.

Lebih lanjut, Chaidir menyampaikan bahwa bantuan tersebut diharapkan dapat mendukung kesiapan pemerintah daerah dalam menghadapi bencana seperti banjir, tanah longsor, kebakaran, hingga bencana sosial lainnya. Dengan tersalurnya logistik dasar, pemerintah berharap masyarakat tetap terbantu apabila situasi darurat terjadi.

Pemkab Aceh Selatan Mulai Bangun Jembatan Rp1,3 Miliar di Samadua

0
Pemkab Aceh Selatan Mulai Bangun Jembatan Rp1,3 Miliar di Samadua. (Foto: ANTARA)

NUKILAN.ID | TAPAKTUAN – Pemerintah Kabupaten Aceh Selatan resmi memulai pembangunan sebuah jembatan baru di Kecamatan Samadua. Infrastruktur senilai Rp1,3 miliar ini akan menjadi penghubung utama bagi enam desa serta membuka kembali akses yang selama lima tahun terakhir terputus. Proyek tersebut menghadirkan harapan baru bagi warga, khususnya petani yang selama ini harus menempuh jalur memutar untuk mengangkut hasil panen.

Pelaksana tugas (Plt) Sekda Aceh Selatan, Diva Samudra Putra, mengatakan bahwa pembangunan jembatan di Gampong Alur Simerah itu dibiayai melalui Dana Alokasi Umum (DAU) Tahun Anggaran 2025. Jembatan berukuran 15 meter dengan lebar empat meter tersebut kini sedang dalam tahap pengerjaan intensif dan ditargetkan dapat digunakan sebelum akhir 2025.

Keberadaan jembatan ini sangat penting bagi warga desa yang bergantung pada akses transportasi tersebut untuk menunjang aktivitas ekonomi. Selama bertahun-tahun, warga harus berputar melewati lima desa dengan jarak yang lebih jauh karena akses lama sudah rusak total. Pembangunan ini menjadi langkah konkret Pemkab Aceh Selatan dalam memperbaiki layanan dasar masyarakat dan memperlancar mobilitas petani.

Prioritas Pemkab di Tengah Keterbatasan Anggaran

Meski kondisi keuangan daerah sedang dalam masa efisiensi, Bupati Aceh Selatan Mirwan tetap menempatkan pembangunan jembatan ini sebagai prioritas. Pentingnya akses bagi masyarakat, terutama petani yang menjadi penopang ekonomi lokal, membuat proyek ini dianggap mendesak untuk segera direalisasikan. Jembatan tersebut tidak hanya menjadi jalur penghubung, tetapi juga diharapkan menjadi pendorong aktivitas ekonomi di Samadua.

Plt Sekda Diva Samudra Putra menjelaskan bahwa Bupati Mirwan sangat memahami kebutuhan warga.

“Ini harapan masyarakat, sudah lima tahun akses jembatan di Gampong Alur Simerah itu terputus,” ujar Diva Samudra.

Ia menegaskan bahwa kondisi yang memaksa warga memutar jauh menjadi alasan utama jembatan ini masuk dalam daftar prioritas. Dengan dukungan anggaran DAU 2025, proyek senilai Rp1,3 miliar ini diharapkan dapat memperbaiki konektivitas yang selama ini terhambat.

Harapan Baru bagi Warga Alur Simerah

Pembangunan jembatan ini disambut antusias oleh masyarakat Gampong Alur Simerah. Infrastruktur tersebut akan kembali menjadi jalur utama yang menghubungkan enam desa dan mempermudah pengangkutan hasil bumi. Selama ini, jalur alternatif yang tersedia memakan waktu lebih lama serta menambah biaya operasional warga.

Dengan beroperasinya jembatan baru nantinya, mobilitas warga diperkirakan akan semakin efisien. Para petani akan lebih mudah membawa hasil panen ke pusat pengolahan dan pasar, sehingga dapat meningkatkan produktivitas serta menekan biaya transportasi.

Suryanis, salah satu warga setempat, menyampaikan apresiasinya kepada pemerintah daerah.

“Alhamdulillah, akhirnya dari sekian lama putus, jembatan penghubung tersebut dibangun kembali,” katanya. Ia juga mengungkapkan rasa terima kasih kepada pemerintah kabupaten. “Kami berterima kasih kepada Bupati Aceh Selatan dan jajaran yang merealisasikan pembangunan jembatan tersebut, ini sangat membantu kami.”

Menurut Plt Sekda Diva Samudra, proyek jembatan ini sudah lama menjadi kebutuhan mendesak warga, tetapi sering terkendala faktor teknis dan anggaran.

“Setelah melewati proses panjang dan berkat dorongan serta dukungan kuat dari Bupati Aceh Selatan Mirwan, proyek ini akhirnya mulai menunjukkan titik terang,” ujarnya. Jembatan tersebut ditargetkan selesai pada akhir 2025 dan diharapkan membawa perubahan positif bagi masyarakat Samadua.

Bareskrim Polri Bongkar dan Musnahkan 51,75 Hektare Ladang Ganja di Gayo Lues

0
Bareskrim Polri Bongkar dan Musnahkan 51,75 Hektare Ladang Ganja di Gayo Lues. (FOTO: DETIK.COM)

NUKILAN.ID | BLANGKEJEREN – Direktorat Tindak Pidana Narkoba (Dirtipidnarkoba) Bareskrim Polri memusnahkan ladang ganja seluas 51,75 hektare yang ditemukan di Kabupaten Gayo Lues, Aceh. Pemusnahan dilakukan bersama sejumlah pihak terkait, termasuk TNI, Bea Cukai, BNNK, Forkopimda Gayo Lues, serta mitra lainnya.

“Akan dilakukan proses pemusnahan bersama rekan-rekan dari TNI, Bea Cukai, BNNK, Forkopimda dari Gayo Lues dan mitra lainnya,” ujar Dirtipidnarkoba Bareskrim Polri Brigjen Eko Hadi Santoso kepada wartawan, Rabu (19/11/2025).

Menurut Eko, total lahan yang ditemukan sebelumnya mencapai 57,75 hektare dan tersebar pada 26 titik. Lokasi tersebut berada di tiga kecamatan di Kabupaten Gayo Lues.

“Yang kita temukan di 26 titik di daerah Gayo Lues di tiga kecamatan,” kata Eko.

Penemuan ladang ganja tersebut berawal dari penangkapan dua pengedar narkoba di Deli Serdang, Sumatera Utara, yakni Suriansyah (35) dan Hardiansyah (38). Dari penangkapan tersebut, polisi menemukan ganja siap edar.

“Awalnya kita melakukan penangkapan terhadap dua orang tersangka di daerah Deli Serdang, kita temukan barang bukti ganja siap edar,” tutur Eko.

Eko menjelaskan, dari pengembangan kasus itu ditemukan total 47 kilogram ganja di Sumatera Utara. Pengembangan penyelidikan kemudian mengarah ke Gayo Lues hingga tim menemukan 26 titik ladang ganja dengan luas 51,75 hektare.

“Untuk Sumatera Utara sekitar 47 kilogram, selanjutnya kita kembangkan ke atas, kita temukan 26 titik kita hitung luas totalnya adalah 51,75 hektare,” imbuhnya.

Sebelum dilakukan pemusnahan, petugas terlebih dahulu memangkas pohon ganja yang telah tumbuh tinggi, kemudian menumpuknya. Pemangkasan berlangsung pada Selasa (18/11) mulai pukul 15.00 WIB, sementara proses pembakaran dimulai pukul 17.00 WIB. Ganja yang dibakar mencakup tanaman yang masih berdiri, yang sudah dipanen, maupun yang telah dikeringkan.

Penemuan ladang ganja ini merupakan hasil interogasi terhadap dua tersangka yang ditangkap pada Kamis (13/11/2025). Mereka mengaku memperoleh barang tersebut dari seorang pemasok yang kini masuk daftar pencarian orang (DPO) di Kecamatan Blang Kejeren, Gayo Lues.

“Informasi terkait keberadaan ladang ganja berdasarkan keterangan dari 2 tersangka yang ditangkap pada Hari Kamis, 13 November 2025. Berdasarkan hasil interogasi terhadap 2 tersangka, bahwa barang tersebut didapat dari seseorang (DPO) di daerah Kecamatan Blang Kejeren, Gayo Lues, Aceh,” jelas Eko Hadi.

Setelah menerima keterangan tersebut, tim Dittipidnarkoba berkoordinasi dengan Polres Gayo Lues dan petugas Taman Nasional Gunung Leuser untuk melakukan penelusuran. Pada Jumat (14/11) sekitar pukul 15.00 WIB, tim gabungan berhasil menemukan ladang ganja tersebut. Penelusuran selama dua hari kemudian mengungkap adanya 26 titik ladang ganja di kawasan itu.

Sebelumnya, Dittipidnarkoba Bareskrim Polri juga menggagalkan upaya penyelundupan ganja dari jaringan Sumatera Utara dengan menyita barang bukti seberat 47 kilogram.

“Barang bukti sebagai berikut 47 bal atau 47 kg diduga narkotika jenis ganja yang disimpan di dalam kamar tersangka,” kata Brigjen Eko Hadi Santoso, Minggu (16/11).

Dua pelaku—Suryansyah (35) dan Hardiansyah (38)—ditangkap di sebuah rumah di Dusun IV Naga Timbul, Kecamatan Tanjung Morawa, Deli Serdang. Polisi menemukan ganja yang disimpan dalam kamar serta mengungkap peran masing-masing tersangka.

“Suryansyah sebagai penjaga gudang penyimpanan narkotika jenis ganja. Hardiansyah sebagai penjemput dan pengantar narkotika jenis ganja. Terhadap kedua tersangka telah dilakukan pengecekan tes urine dengan hasil positif amphetamine dan THC,” ujar Eko.

Kemenkum Aceh Genjot Pembentukan Pos Bantuan Hukum di Tingkat Desa

0
Kepala Kantor Wilayah Kemenkum Aceh Meurah Budiman. (Foto: Humas Kemenkum Aceh)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Kantor Wilayah Kementerian Hukum (Kemenkum) Aceh mempercepat pembentukan pos bantuan hukum desa di provinsi tersebut. Langkah ini diambil untuk mengejar ketertinggalan progres program yang masih berada di kategori zona merah.

Kepala Kanwil Kemenkum Aceh, Meurah Budiman, menyampaikan bahwa hingga saat ini realisasi pembentukan pos bantuan hukum desa baru mencapai 9,8 persen.

“Progres pembentuk pos bantuan hukum desa di Aceh masih kategori zona merah. Kami terus mendorong Aceh minimal masuk zona kuning dengan capaian 50 persen,” katanya di Banda Aceh, Selasa.

Ia meminta dukungan penuh para camat serta mendorong seluruh pemangku kepentingan untuk mempercepat pencapaian target program tersebut.

“Ini harus dikejar bersama, tidak hanya Kemenkum Aceh, tetapi juga melibatkan Dinas Pemberdayaan Masyarakat Gampong Provinsi Aceh dan kabupaten kota di Aceh, sehingga capaian pembentukan pos bantuan hukum desa dapat sesuai target,” ujarnya.

Meurah menegaskan bahwa keberadaan pos bantuan hukum desa berperan penting sebagai garda terdepan penyelesaian perkara di tingkat gampong serta mendekatkan akses masyarakat terhadap keadilan.

“Pos bantuan hukum desa hadir sebagai wadah resmi layanan keadilan bagi masyarakat. Jika semua terbentuk, saya yakin pemerintah pusat juga sudah mempertimbangkan alokasi anggaran khusus untuk itu,” kata Meurah Budiman.

Sementara itu, Kepala Divisi Peraturan Perundang-undangan dan Pembinaan Hukum Kemenkum Aceh, M Ardiningrat Hidayat, menjelaskan bahwa pos bantuan hukum desa tidak dimaksudkan menggantikan peran peradilan adat.

“Pos bantuan hukum desa bukan untuk menggantikan peradilan adat, melainkan memperkuatnya. Pos bantuan hukum desa ini memperkuat implementasi penyelesaian sengketa adat di gampong,” katanya.

Ia juga menyebutkan sejumlah daerah yang masih tertinggal dalam pembentukan pos bantuan hukum desa, seperti Aceh Singkil, Aceh Timur, Pidie Jaya, dan Gayo Lues. Adapun Aceh Jaya menjadi satu-satunya kabupaten yang telah mencapai 100 persen.

“Sedangkan progres pembentukan pos bantuan hukum desa yang sudah 100 persen yakni Kabupaten Aceh Jaya. Kami terus mendorong kabupaten kota lainnya di Aceh meningkatkan mempercepat pembentukan pos bantuan hukum desa,” ujar Ardiningrat.

Milad ke-113 Muhammadiyah: Menapak Jejak Sejarah Gerakan Pencerahan Umat

0
Logo Milad ke-113 Muhammadiyah. (FOTO: PP Muhammadiyah)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Menyambut peringatan Milad ke-113 tahun pada 18 November 2025, Muhammadiyah kembali menegaskan posisi historisnya sebagai salah satu organisasi keagamaan terbesar yang membawa gerakan pencerahan di Indonesia. Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah merilis tema serta logo resmi peringatan tahun ini, sembari mengajak publik melihat kembali perjalanan panjang organisasi yang lahir lebih dari satu abad lalu.

Dilansir Nukilan.id, tema milad tahun ini adalah “Memajukan Kesejahteraan Bangsa”, sebuah pesan yang menurut Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir, merefleksikan komitmen organisasi untuk terus memperluas praktik kesejahteraan sosial-ekonomi yang bertumpu pada nilai-nilai rohaniah.

“Gerakan Muhammadiyah harus mampu melahirkan kesejahteraan lahir dan batin. Di saat yang sama, kami mendorong kebijakan pemerintah agar mewujudkan keadilan sosial yang nyata, khususnya bagi rakyat kecil,” ujar Haedar.

Jejak Sejarah yang Panjang Sejak 1912

Muhammadiyah lahir pada 8 Zulhijah 1330 H atau 18 November 1912 M di Yogyakarta. Organisasi ini didirikan oleh K.H. Ahmad Dahlan, seorang pembaru yang gelisah melihat kondisi umat Muslim pada awal abad ke-20 yang kala itu dinilai mengalami kemunduran dalam pendidikan, sosial, dan keagamaan.

Gerakan yang digagas K.H. Ahmad Dahlan berangkat dari semangat tajdid (pembaharuan), dengan fokus pada pemurnian ajaran Islam dan peningkatan kualitas hidup umat melalui pendidikan, pelayanan sosial, dan kesehatan. Dalam kurun satu abad lebih, Muhammadiyah berkembang pesat, membangun ribuan sekolah, rumah sakit, universitas, hingga panti asuhan di seluruh Indonesia.

Pakar sejarah kerap menyebut Muhammadiyah sebagai salah satu organisasi yang memainkan peran penting dalam modernisasi Islam Indonesia, sekaligus menjadi motor sosial yang konsisten menyuarakan kemajuan dan keadilan.

Logo Milad 113: Semangat Berkelanjutan

Bersamaan dengan tema, PP Muhammadiyah juga merilis logo Milad ke-113. Logo tersebut menampilkan angka 113 berbentuk pita yang menyambung tanpa putus, menggambarkan kesinambungan perjuangan sejak masa pendirian hingga kini.

Beberapa makna visual dalam logo tersebut antara lain:

  • Pita tak terputus: melambangkan perjuangan Muhammadiyah yang terus berlanjut dari generasi ke generasi.

  • Angka 113: identitas usia Muhammadiyah.

  • Bentuk dinamis dan lentur: menandakan kemampuan adaptasi terhadap perubahan zaman.

  • Siluet atap Gedung Sate: simbol kota Bandung sebagai tuan rumah Milad ke-113.

  • Simbol matahari: ikon khas Muhammadiyah yang menggambarkan pencerahan dan harapan.

PP Muhammadiyah turut menyediakan tautan resmi untuk mengunduh logo dan panduan penggunaannya, agar dapat dipakai seragam oleh seluruh warga Muhammadiyah di daerah.

Menghidupkan Semangat Keadilan Sosial

Perayaan milad bukan hanya mengingat perjalanan panjang Muhammadiyah, tetapi juga menjadi momentum untuk memperkuat kontribusi terhadap bangsa. Dalam usianya yang ke-113, Muhammadiyah diharapkan terus hadir sebagai gerakan keagamaan yang membawa pencerahan, memperkuat nilai kemanusiaan, dan mendorong terwujudnya kesejahteraan umum sesuai amanat UUD 1945 dan Pancasila.

Dengan warisan pemikiran K.H. Ahmad Dahlan, Muhammadiyah telah membuktikan diri sebagai organisasi modern yang tidak hanya berfokus pada dakwah, tetapi juga menjadi penggerak sosial bagi jutaan masyarakat Indonesia.

Reporter: AKIL

Uji Nyali Menghilangkan Tiga Nol di Rupiah

0
Ilustrasi uang baru. (Foto: Detik

NUKILAN.ID | INDEPTH – Isu penghapusan tiga nol dari rupiah kembali mengemuka. Wacana yang sudah berulang kali muncul sejak lebih dari satu dekade itu lagi-lagi diuji nyalinya: apakah akhirnya dieksekusi, atau sekadar menjadi cerita lama yang kembali diputar dalam siklus kebijakan ekonomi nasional.

Menjelang akhir 2025, pembahasan mengenai penyederhanaan rupiah muncul bersamaan dengan persiapan agenda besar tata kelola ekonomi pemerintah. Rencana redenominasi—yang bertujuan menanggalkan tiga nol dari nominal rupiah tanpa memengaruhi daya beli masyarakat—resmi kembali masuk dalam Rencana Strategis Kementerian Keuangan 2025–2029.

Bagi Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, redenominasi bukan lagi sekadar kajian teknis. Pemerintah menilai sudah tiba waktunya merapikan sistem transaksi nasional sekaligus memperkuat citra rupiah di mata internasional. Penyederhanaan denominasi dianggap dapat meningkatkan efisiensi, memperjelas struktur harga, serta menempatkan rupiah sejajar dengan mata uang negara-negara dengan tata kelola ekonomi lebih mapan.

Namun tidak semua lembaga sepakat mengenai urgensi dan waktu pelaksanaannya. Bank Indonesia memilih menahan langkah. Dalam rapat bersama Komisi XI DPR pada 12 November 2025, Gubernur Perry Warjiyo menegaskan bahwa bank sentral memiliki prioritas lain.

“Yang berkaitan dengan redenominasi tentu saja kami pada saat ini lebih fokus menjaga stabilitas dan mendorong pertumbuhan ekonomi. Redenominasi memerlukan timing dan persiapan yang lebih lama,” ujarnya.

Nada hati-hati Perry menjadi pengingat bahwa upaya menghilangkan tiga nol dari rupiah bukanlah langkah kosmetik belaka. Ia merupakan operasi struktural yang menyentuh sisi psikologis masyarakat, kesiapan infrastruktur keuangan, hingga perhitungan politik yang selalu menyertai kebijakan besar.

Di Senayan, Komisi XI DPR menyatakan bahwa RUU Redenominasi telah lama masuk dalam long list Prolegnas. Ketua Komisi XI, Mukhamad Misbhakun, menegaskan bahwa proses redenominasi harus dilihat sebagai kebijakan jangka panjang yang membutuhkan fondasi kokoh: stabilitas ekonomi, konsistensi politik, serta keamanan dan ketertiban sosial.

“Kalau diterapkan harus ada persiapan yang komprehensif. Sosialisasinya minimal tiga tahun, transisinya tiga tahun,” kata Misbhakun.

Ia juga menambahkan bahwa, kendati indikator makroekonomi Indonesia tampak lebih solid, keputusan final mengenai kapan redenominasi dijalankan tetap berada di tangan Presiden.

Dengan latar tersebut, menjadi relevan untuk menengok kembali sejarah panjang upaya redenominasi di Indonesia—sebuah perjalanan yang tak lepas dari kegagalan masa lalu, trauma kolektif, dan dinamika politik yang berubah-ubah.

Menghapus Kekayaan

Dalam ingatan kolektif masyarakat Indonesia, perubahan nilai uang hampir selalu menghadirkan kecemasan. Pengalaman masa lalu menanamkan persepsi bahwa setiap kebijakan moneter yang mengubah nilai uang berarti hilangnya harta. Trauma itu tidak muncul begitu saja. Ia tumbuh dari rangkaian kebijakan sanering pada masa Orde Lama—masa ketika stabilitas ekonomi masih jauh dari harapan.

Gunting Syafruddin 1950

Pada 19 Maret 1950, Menteri Keuangan Syafruddin Prawiranegara mengambil langkah darurat yang kemudian tercatat sebagai salah satu kebijakan paling drastis dalam sejarah ekonomi Indonesia. Uang kertas De Javasche Bank pecahan Rp5 ke atas dipotong secara fisik. Bagian kiri masih bisa digunakan sebagai alat pembayaran, tetapi nilainya menyusut menjadi setengah. Sementara bagian kanan wajib ditukarkan dengan obligasi pemerintah.

Syafruddin mengambil kebijakan ini dalam situasi ekonomi yang kacau-balau: utang luar negeri mencapai Rp1,5 triliun, defisit anggaran menembus Rp5,1 miliar, dan inflasi merangkak tanpa jeda. Pemerintah saat itu tidak memiliki banyak pilihan selain mengurangi uang beredar secara cepat.

Dampaknya langsung terasa di tengah masyarakat. Jumlah uang beredar memang menurun, tetapi inflasi tetap tidak dapat dikendalikan. Pada 1953, harga 19 komoditas pokok melesat hingga 250 persen. Dunia usaha goyah, para pedagang kecil semakin terhimpit. Kebijakan itu meninggalkan luka dalam ingatan publik: negara bisa memangkas kekayaan rakyat hanya dalam satu malam.

Sanering 1959 dan 1965: Puncak Bencana

Kebijakan pemotongan nilai uang bukan hal baru dalam sejarah Indonesia. Pada 25 Agustus 1959, pemerintah kembali menempuh langkah drastis dengan memangkas nilai rupiah. Pecahan Rp500 dipangkas menjadi Rp50, sementara Rp1.000 menjadi Rp100. Bank-bank bahkan diwajibkan membekukan 90 persen simpanan di atas Rp25 ribu.

Kebijakan yang semula dimaksudkan untuk meredam inflasi—yang ketika itu sudah mencapai 119 persen—justru membawa konsekuensi sebaliknya. Harga kebutuhan melonjak lebih cepat, memicu ketidakstabilan ekonomi dan keresahan di tengah masyarakat.

Situasi kembali memuncak pada 13 Desember 1965, ketika pemerintah, di tengah hiperinflasi yang melumpuhkan, memaksakan kebijakan redenominasi: “Rp1.000 lama menjadi Rp1 baru.” Alih-alih memulihkan kepercayaan publik, nilai tukar rupiah terhadap dolar merosot tajam.

Inflasi pun tak terbendung, meledak hingga 635,5 persen pada 1966. Para ekonom menyebut periode ini sebagai salah satu episode paling gelap dalam sejarah moneter Indonesia. Hingga kini, pengalaman pahit tersebut meninggalkan jejak panjang dalam memori kolektif. Tak heran jika “menghilangkan nol” masih menjadi istilah yang memancing kecemasan publik setiap kali wacana redenominasi kembali mencuat.

Mengapa Redenominasi Modern Bukan Sanering

Kebijakan redenominasi yang kembali mencuat dalam diskursus publik kerap disalahpahami sebagai bentuk sanering baru. Padahal, keduanya berbeda secara fundamental. Sanering pada era 1950–1960-an memotong nilai riil uang dan merampas daya beli masyarakat. Sebaliknya, redenominasi modern hanya menyederhanakan digit tanpa mengubah nilai aset, gaji, maupun tabungan.

Meski demikian, perbedaan konsep itu tidak serta-merta dimengerti masyarakat luas. DPR dan Bank Indonesia mengakui adanya tantangan besar dalam sosialisasi. Minimnya edukasi berpotensi menimbulkan “inflasi psikologis”—kondisi ketika pedagang menaikkan harga hanya karena khawatir “uang baru lebih sedikit”.

Tersandung Politik

Indonesia sebenarnya pernah berada di ambang pelaksanaan redenominasi pada masa Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Pada 2010, Gubernur BI Darmin Nasution mengajukan rencana pengurangan nol rupiah dengan masa transisi sepuluh tahun. Alasannya kuat: akuntansi lebih sederhana, transaksi lebih efisien, dan citra rupiah tampak lebih berwibawa di tingkat global.

Pada 2013, Rancangan Undang-Undang Redenominasi bahkan masuk ke dalam Prolegnas. Namun memburuknya kondisi ekonomi global dan tahun politik 2014 membuat pembahasan tertunda. Ketua APINDO saat itu, Sofjan Wanandi, mengingatkan bahwa stabilitas politik merupakan syarat utama keberhasilan kebijakan semacam ini. Ketika situasi politik melemah, gagasan redenominasi pun menghilang dari agenda nasional.

Upaya serupa muncul kembali pada era Presiden Joko Widodo, terutama pada periode 2017 dan 2020–2024. RUU Redenominasi sempat tercantum dalam Renstra Kementerian Keuangan, tetapi pandemi COVID-19 membuat isu tersebut kembali tersisih.

Bagi banyak ekonom, redenominasi menjadi isu yang terus berputar. Ia selalu datang dan pergi, terutama ketika rupiah berada dalam tekanan. Seperti disampaikan ekonom Bright Institute, Yanuar Rizky: “Ide redenominasi selalu muncul saat rupiah dalam tekanan luar biasa.”

Tantangan Teknis yang Sering Diremehkan dalam Rencana Redenominasi Rupiah

Rencana pemerintah untuk melakukan redenominasi rupiah kembali mencuat. Bank Indonesia menegaskan bahwa kebijakan ini hanya bisa dijalankan jika sejumlah prasyarat ekonomi benar-benar terpenuhi, mulai dari inflasi inti yang rendah, pertumbuhan stabil, nilai tukar terjaga, hingga kepercayaan konsumen yang kuat. Namun para ekonom menilai bahwa keberhasilan redenominasi tidak hanya terkait kondisi makroekonomi, melainkan juga kesiapan teknis yang kerap diremehkan.

Industri Keuangan Harus Siap Direstrukturisasi

Implementasi redenominasi membutuhkan renovasi besar pada infrastruktur keuangan nasional. Tak kurang dari 90 ribu mesin ATM harus diprogram ulang, setengah juta mesin EDC diperbarui, hingga core banking bank-bank besar yang harus menyesuaikan sistem. Selain itu, perangkat kasir ritel, e-commerce, dan sistem pembayaran di tingkat daerah juga wajib diselaraskan. Perubahan ini bahkan harus terkoordinasi hingga level internasional, seperti pembaruan standar ISO 4217 dan sistem SWIFT.

Proses semacam ini diperkirakan memakan waktu dua hingga tiga tahun hanya untuk penyesuaian teknis di industri perbankan. Tanpa koordinasi yang solid, masa transisi akan berjalan timpang.

Ancaman Pembulatan Harga

Pengalaman negara-negara yang telah menjalankan redenominasi menunjukkan bahwa masa transisi rentan dimanfaatkan pedagang untuk membulatkan harga ke atas. Turki dan Rusia, misalnya, mencatat lonjakan inflasi 3–8 persen hanya karena perilaku pembulatan tersebut. Tanpa pengawasan harga yang ketat, Indonesia juga berisiko menghadapi masalah serupa.

UMKM Jadi Titik Rawan

Sektor UMKM, yang sebagian besar belum memiliki pembukuan formal, menjadi kelompok paling rentan. Sekitar 70 persen pelaku UMKM berpotensi kesulitan menyesuaikan harga lama dan baru jika sosialisasi kurang masif. Kebingungan di level ini dapat menimbulkan kekacauan pada fase transisi.

Belajar dari Turki dan Rusia

Turki kerap disebut sebagai contoh sukses redenominasi pada 2005 setelah memangkas enam nol dari mata uangnya. Kuncinya terletak pada stabilitas makro yang dicapai terlebih dahulu, sosialisasi yang masif, masa transisi yang jelas, serta pengawasan harga yang ketat. Hasilnya, inflasi tetap terkendali dan kepercayaan terhadap lira meningkat.

Rusia memilih melakukan redenominasi pada 1998 setelah restrukturisasi perbankan dan perbaikan fondasi fiskal. Stabilitas politik menjadi syarat utama keberhasilan kebijakan tersebut.

Dari kedua negara ini, pelajaran besarnya jelas: redenominasi bukan awal dari reformasi ekonomi, melainkan puncaknya—dilakukan ketika struktur ekonomi dan politik benar-benar siap.

Apakah Target 2029 Realistis?

Pemerintah menyusun skenario optimistis: RUU disahkan pada 2026, sosialisasi dilakukan pada 2027, masa transisi pada 2028, dan redenominasi penuh berlangsung pada 2029. Namun proyeksi ini dinilai terlalu cepat.

Analisis internal BI maupun Komisi XI DPR menyarankan masa sosialisasi minimal tiga tahun, disusul masa transisi tiga tahun. Sementara itu, industri keuangan membutuhkan dua hingga tiga tahun untuk penyesuaian teknis. Jika dijumlahkan, waktu realistis setelah UU disahkan mencapai lima hingga tujuh tahun.

Dengan demikian, memadatkan seluruh proses hanya menjadi tiga tahun berpotensi mengabaikan kompleksitas adaptasi sosial, teknis, dan kelembagaan.

Faktor politik juga menjadi pertimbangan. Seperti pengalaman 2013, pembahasan redenominasi mudah terseret arus kepentingan elektoral. Dengan padatnya agenda politik nasional pada 2026–2029, risiko ini semakin besar.

Menghapus Nol Bukan Sekadar Soal Angka

Redenominasi menyentuh dimensi yang jauh lebih luas dari sekadar memotong tiga nol. Ia berhubungan dengan memori traumatik inflasi masa lalu, kesiapan infrastruktur finansial, psikologi masyarakat, serta relasi kekuasaan antara pemerintah dan bank sentral.

Jika semua prasyarat ekonomi dan teknis yang ditetapkan Bank Indonesia terpenuhi, redenominasi dapat memperkuat kredibilitas rupiah. Namun jika dipaksakan demi efisiensi atau motif simbolik, Indonesia berisiko mengulang kegagalan sebelumnya—persis seperti yang ingin dihindari oleh kebijakan ini. (XRQ)

Reporter: AKIL