Beranda blog Halaman 169

Kejari Aceh Singkil Dalami Dugaan Penyimpangan Bantuan Paket Seragam Sekolah

0
Awal Januari 2026, Pemkab Aceh Singkil dipimpin Bupati Safriadi Oyon secara seremonial mulai menyalurkan bantuan seragam sekolah bagi siswa terdampak banjir (Foto : RRI/Salihin Barus)

NUKILAN.ID | SINGKIL – Kejaksaan Negeri (Kejari) Aceh Singkil mulai mendalami dugaan penyimpangan penggunaan dana bantuan presiden sebesar Rp1,7 miliar di daerah tersebut.

Dana bantuan itu sebelumnya dialokasikan untuk pembelian paket seragam sekolah gratis bagi siswa terdampak banjir dan dikelola Pemerintah Kabupaten Aceh Singkil melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud).

Kepala Kejaksaan Negeri Aceh Singkil melalui Kepala Sub Seksi Intelijen, Iqbal Risha Ahmadi, membenarkan bahwa pihaknya saat ini sedang meminta klarifikasi dan mengumpulkan data serta keterangan dari sejumlah pejabat di lingkungan Disdikbud.

“Guna untuk klarifikasi dalam pengumpulan data dan keterangan,” sebut Iqbal, kepada wartawan, Rabu, 11 Maret 2026.

Iqbal menjelaskan, pemanggilan sejumlah pejabat Disdikbud itu masih sebatas klarifikasi awal terkait realisasi penggunaan dana bantuan tersebut.

Selain memanggil pejabat Disdikbud, pihak kejaksaan juga telah mengambil sampel keterangan dari beberapa kepala sekolah dan siswa yang menjadi penerima manfaat bantuan.

“Hingga kini kita belum bisa simpulkan dikarenakan masih pengumpulan data dan keterangan,” tambahnya.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, terdapat 27 Sekolah Dasar (SD) di sejumlah kecamatan yang sebelumnya terdampak banjir pada akhir November 2025. Selain itu, terdapat masing-masing enam sekolah jenjang TK/PAUD dan SMP yang juga masuk dalam cakupan bantuan.

Dari total Rp4 miliar bantuan pemerintah pusat untuk penanganan pascabanjir di Kabupaten Aceh Singkil, sebesar Rp1,7 miliar dikelola oleh Disdikbud.

Sementara sisa anggaran lainnya dikelola oleh sejumlah satuan kerja perangkat kabupaten (SKPK). Di antaranya Dinas Syariat Islam dan Pendidikan Dayah untuk pengadaan mukena, kain sarung bagi santri dan santriwati, serta sajadah atau ambal masjid yang terdampak banjir.

Selain itu, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) juga mengelola sebagian anggaran untuk pengadaan tong sampah, sedangkan Dinas Kesehatan (Dinkes) memanfaatkannya untuk biaya fogging guna mencegah Demam Berdarah Dengue (DBD) serta penyediaan obat-obatan di puskesmas.

Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News.

Wagub Aceh Dampingi Menko Polkam Resmikan 104 Hunian Tetap Korban Bencana di Aceh Utara

0
Wagub Aceh Dampingi Menko Polkam Resmikan 104 Hunian Tetap Korban Bencana di Aceh Utara. (Foto: HUMAS ACEH)

NUKILAN.ID | ACEH UTARA — Wakil Gubernur Aceh, Fadhlullah, mendampingi Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan Republik Indonesia, Djamari Chaniago, meresmikan hunian tetap bagi masyarakat terdampak bencana hidrometeorologi di Desa Kuala Cangkoy, Kecamatan Lapang, Kabupaten Aceh Utara, Sabtu (14/3/2026).

Sebanyak 104 unit rumah yang dibangun tersebut merupakan bantuan dari Kementerian Koordinator Bidang Politik dan Keamanan RI sebagai bagian dari upaya pemulihan dan rehabilitasi pascabencana yang sempat melanda wilayah itu.

Peresmian turut dihadiri unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), di antaranya Pangdam Iskandar Muda, Kapolda Aceh, Bupati Aceh Utara, Danrem 011/Lilawangsa, Dandim 0103/Aceh Utara, Kapolres Aceh Utara, serta Kepala Badan Penanggulangan Bencana Kabupaten Aceh Utara. Sejumlah tokoh masyarakat dan tokoh agama juga hadir menyaksikan penyerahan hunian kepada warga.

Rangkaian kegiatan diawali dengan peninjauan langsung ke lokasi hunian tetap yang telah selesai dibangun. Deretan rumah tampak tertata rapi dan siap ditempati oleh para penerima manfaat. Di kawasan tersebut juga tersedia satu unit mushalla untuk mendukung aktivitas ibadah dan kegiatan keagamaan warga.

Selanjutnya, Menteri secara simbolis menyerahkan kunci rumah kepada perwakilan warga. Prosesi dilanjutkan dengan penandatanganan prasasti peresmian yang disaksikan oleh Wakil Gubernur Aceh, jajaran Forkopimda, dan masyarakat setempat.

Dalam sambutannya, Menteri mengajak masyarakat untuk bersyukur atas bantuan yang diberikan pemerintah serta mengingatkan pentingnya menjaga dan merawat hunian tersebut.

“Alhamdulillah pembangunan sudah selesai dan sudah bisa sodara tempati,” kata Menteri.

Selain itu, sebagai bentuk perhatian terhadap kearifan lokal, Menteri juga menyerahkan lima ekor sapi untuk mendukung tradisi meugang, yang menjadi bagian penting dalam menyambut hari raya di Aceh.

Dengan diresmikannya hunian tetap tersebut, para korban bencana yang sebelumnya tinggal di penampungan sementara diharapkan dapat segera menempati rumah yang lebih layak, sehingga kehidupan mereka dapat kembali pulih secara bertahap.

Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News

Wagub Aceh Buka Puasa Bersama Warga Matang Drien, Pererat Silaturahmi di Bulan Ramadan

0
Wagub Aceh Buka Puasa Bersama Warga Matang Drien, Pererat Silaturahmi di Bulan Ramadan. (FOTO: HUMAS ACEH)

NUKILAN.ID | Aceh Utara – Wakil Gubernur Aceh, Fadhlullah, menghadiri undangan Bupati Aceh Utara H. Ismail A. Jalil untuk berbuka puasa bersama masyarakat Gampong Matang Drien, Kecamatan Tanah Jambo Aye, Kabupaten Aceh Utara. Kegiatan tersebut berlangsung di Masjid Baitul Ghafur, Sabtu sore (14/3).

Kegiatan buka puasa bersama ini diperkirakan dihadiri lebih dari seribu warga. Sejak sore, masyarakat Gampong Matang Drien dan sekitarnya mulai berdatangan ke masjid untuk mengikuti rangkaian silaturahmi dan buka puasa bersama.

Momentum ini menjadi ajang kebersamaan antara pemerintah daerah dan masyarakat di bulan suci Ramadan, sekaligus mempererat hubungan antara pimpinan daerah dengan warga.

Sebelumnya, Bupati Aceh Utara H. Ismail A. Jalil mengundang Wakil Gubernur Aceh untuk hadir sebagai bagian dari rangkaian kunjungan kerja di wilayah Aceh Utara.

Kunjungan tersebut juga merupakan lanjutan agenda Wakil Gubernur di Kabupaten Aceh Utara setelah sebelumnya mendampingi Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan Republik Indonesia dalam peresmian hunian tetap bagi korban bencana di daerah tersebut.

Usai berbuka puasa bersama, kegiatan dilanjutkan dengan salat Magrib berjamaah di Masjid Baitul Ghafur bersama masyarakat yang hadir.

Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News

Gubernur Aceh Gelar Buka Puasa Bersama, Santuni Anak Yatim dan Penyandang Disabilitas

0
Gubernur Aceh Gelar Buka Puasa Bersama, Santuni Anak Yatim dan Penyandang Disabilitas. (Foto: For Nukilan)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH — Gubernur Aceh, Muzakir Manaf, menggelar acara buka puasa bersama yang dirangkai dengan penyerahan santunan kepada anak yatim dan penyandang disabilitas di Hotel Hermes Palace, Banda Aceh, Sabtu (14/3/2026).

Kegiatan yang berlangsung dalam suasana hangat dan penuh kebersamaan itu dihadiri berbagai elemen masyarakat. Sejumlah tokoh yang pernah terlibat dalam Gerakan Aceh Merdeka (GAM), tokoh masyarakat, serta undangan lainnya turut hadir.

Dalam kesempatan tersebut, Gubernur menyerahkan santunan sebagai bentuk kepedulian pemerintah terhadap kelompok yang membutuhkan perhatian khusus, terutama di bulan suci Ramadan.

Ia menegaskan bahwa Ramadan merupakan momentum penting untuk memperkuat kepedulian sosial sekaligus mempererat silaturahmi di tengah masyarakat Aceh.

Menurutnya, kehadiran berbagai elemen masyarakat dalam kegiatan tersebut mencerminkan semangat persatuan serta komitmen bersama dalam membangun Aceh ke arah yang lebih baik.

Acara buka puasa bersama berlangsung khidmat dan penuh kehangatan. Kegiatan itu ditandai dengan doa bersama serta interaksi langsung antara Gubernur dengan anak-anak yatim, penyandang disabilitas, dan para tamu undangan.

Melalui kegiatan yang digelar oleh Partai Aceh, diharapkan semangat kebersamaan dan kepedulian sosial terus tumbuh di tengah masyarakat, khususnya dalam momentum Ramadan.

Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News

Gubernur Aceh Gelar Buka Puasa Bersama dan Santuni Anak Yatim serta Penyandang Disabilitas

0
Gubernur Aceh Gelar Buka Puasa Bersama dan Santuni Anak Yatim serta Penyandang Disabilitas. (Foto: For Nukilan)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Gubernur Aceh Muzakir Manaf menggelar kegiatan buka puasa bersama sekaligus memberikan santunan kepada anak yatim dan penyandang disabilitas di Hotel Hermes Palace, Banda Aceh, Sabtu (14/3/2026).

Kegiatan yang berlangsung dalam suasana kebersamaan tersebut dihadiri berbagai elemen masyarakat. Sejumlah tokoh yang pernah terlibat dalam Gerakan Aceh Merdeka (GAM), tokoh masyarakat, serta para undangan lainnya turut hadir dalam acara tersebut.

Dalam kesempatan itu, Gubernur Aceh menyerahkan santunan kepada anak yatim dan penyandang disabilitas sebagai bentuk kepedulian terhadap kelompok yang membutuhkan perhatian, khususnya di bulan suci Ramadan.

Muzakir Manaf menegaskan bahwa Ramadan menjadi momentum penting untuk memperkuat kepedulian sosial sekaligus mempererat silaturahmi di tengah masyarakat Aceh.

Menurutnya, kehadiran berbagai unsur masyarakat dalam kegiatan tersebut mencerminkan semangat persatuan serta komitmen bersama dalam membangun Aceh ke arah yang lebih baik.

Acara buka puasa bersama tersebut berlangsung khidmat dan penuh kehangatan. Kegiatan itu juga diisi dengan doa bersama serta interaksi langsung antara Gubernur Aceh dengan anak-anak yatim, penyandang disabilitas, dan para tamu undangan.

Kegiatan yang digelar oleh Partai Aceh itu diharapkan dapat menumbuhkan semangat kebersamaan serta meningkatkan kepedulian sosial di tengah masyarakat, khususnya selama bulan Ramadan.

Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News.

LPDP di Persimpangan: Antara Investasi SDM dan Krisis Kepercayaan Publik

0
Laman resmi Beasiswa LPDP 2026. (https://lpdp.kemenkeu.go.id/)

NUKILAN.ID | INDEPTH — Pendidikan kerap disebut mahal, dan itu bukan sekadar ungkapan. Bagi banyak keluarga miskin, biaya menjadi tembok tebal yang membatasi akses hingga jenjang tinggi. Dalam kondisi seperti ini, negara dituntut hadir untuk membuka jalan.

Pemikiran Ki Hajar Dewantara terasa relevan hingga kini. Ia pernah menegaskan bahwa pendidikan adalah investasi jangka panjang paling menentukan bagi masa depan bangsa. Namun realitas menunjukkan, tidak semua anak bangsa memiliki kesempatan yang sama, apalagi untuk menempuh pendidikan hingga ke luar negeri.

Kondisi tersebut melahirkan ironi. Kemiskinan dan keterbatasan akses pendidikan kerap berjalan beriringan. Dalam sejarah panjang peradaban, kebodohan bahkan pernah “dipelihara” untuk mempertahankan kekuasaan. Negara modern seharusnya memutus rantai itu.

Pemerintah Indonesia mencoba menjawab tantangan tersebut dengan memperluas akses pendidikan tinggi. Harapannya jelas: meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) sebagai fondasi menuju cita-cita besar Indonesia Emas 2045.

Targetnya tidak main-main. Pada 2045, Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia diproyeksikan mencapai sekitar 9,8 triliun dolar AS, dengan pertumbuhan ekonomi 6–7 persen. Pendapatan per kapita pun ditargetkan menembus 30.300 dolar AS per tahun—angka yang mencerminkan lonjakan kesejahteraan signifikan.

Namun pertanyaannya: mungkinkah itu tercapai? Jawabannya bergantung pada kualitas SDM. Di sinilah persoalan klasik muncul—mahalnya pendidikan bagi sebagian besar masyarakat, terutama lebih dari 23 juta penduduk miskin.

Sebagai solusi, pemerintah menghadirkan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan. Lembaga yang berdiri pada 2010 di bawah Kementerian Keuangan Republik Indonesia ini mengelola dana abadi pendidikan, sebagai implementasi amanat konstitusi yang mewajibkan alokasi minimal 20 persen APBN untuk sektor pendidikan.

Konsep dana abadi (endowment fund) menjadi kunci. Dengan skema ini, pembiayaan pendidikan tidak bergantung pada siklus anggaran tahunan. Sebagai Badan Layanan Umum (BLU), LPDP juga memiliki fleksibilitas dalam mengelola investasi untuk mendukung program pendidikan jangka panjang.

Sejak 2012, LPDP mulai mengirim penerima beasiswa—dikenal sebagai awardee—untuk menempuh studi magister (S2) dan doktor (S3), baik di dalam maupun luar negeri. Selain itu, pemerintah juga mengembangkan Dana Abadi Penelitian, Dana Abadi Perguruan Tinggi, dan Dana Abadi Kebudayaan dengan nilai yang terus meningkat.

Namun di balik optimisme tersebut, muncul pula kritik. Pengelolaan dana besar dan ekspektasi tinggi terhadap para awardee menuntut akuntabilitas yang tidak main-main. Di titik inilah, LPDP berada di persimpangan: antara menjadi instrumen strategis kemajuan bangsa atau justru menuai sorotan jika tidak dikelola secara optimal.

Dana Abadi LPDP Tembus Rp180,8 Triliun

Dana abadi yang dikelola Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) terus mengalami peningkatan signifikan dalam kurun waktu lebih dari satu dekade. Hingga kini, total dana yang dikelola telah mencapai Rp180,8 triliun.

Mengutip JawaPos, Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Utama LPDP, Sudarto, merinci bahwa jumlah tersebut terdiri atas Dana Abadi Pendidikan sebesar Rp149,8 triliun, Dana Alokasi Penelitian Rp14,0 triliun, Dana Alokasi Perguruan Tinggi Rp11 triliun, serta Dana Alokasi Kebudayaan Rp6 triliun.

Dalam lima tahun terakhir, yakni periode 2020 hingga 2025, realisasi belanja dari hasil pengembangan dana abadi dinilai tetap terkendali. Pada 2025, misalnya, realisasi belanja tercatat sebesar Rp11,19 triliun dari pagu Rp11,15 triliun.

“Jadi, kita ada surplus yang diakumulasi dan bisa digunakan untuk penambahan program beasiswa, penelitian, penguatan perguruan tinggi, maupun kebudayaan,” jelas Sudarto.

Sejak program beasiswa LPDP diluncurkan pada 2013, jumlah penerima (awardee) reguler yang dikelola langsung mencapai 58.444 orang. Dari jumlah tersebut, sebanyak 42.249 orang merupakan penerima beasiswa jenjang S2.

Sementara itu, penerima beasiswa jenjang S3 tercatat sebanyak 12.471 orang. Selain itu, terdapat 395 peserta program nondegree dan 3.329 peserta pendidikan dokter spesialis.

Dari total awardee tersebut, sebanyak 32.632 orang telah menyelesaikan studi, 18.981 orang masih menempuh pendidikan, dan 6.831 orang berada dalam tahap persiapan studi.

Tidak hanya berfokus pada jenjang pascasarjana, LPDP juga mulai mengembangkan program beasiswa jenjang sarjana (S1). Program ini dijalankan melalui kerja sama dengan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi dalam skema Beasiswa Garuda.

Viral Alumni ‘Durhaka’

Citra Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) tengah menjadi sorotan setelah muncul peristiwa yang dinilai mencoreng lembaga pengelola dana abadi tersebut.

Sorotan itu mengarah pada Dwi Sasetyaningtyas (DS), seorang alumni LPDP yang menuai kontroversi usai mengunggah pernyataan di akun Instagram pribadinya. Unggahan tersebut berbunyi “cukup saya WNI, anak jangan” dan langsung memicu reaksi luas di media sosial.

Amatan Nukilan.id dari video yang beredar, DS tampak membuka paket berisi surat dari Home Office Inggris. Surat itu menyatakan bahwa anak keduanya telah resmi menjadi warga negara Inggris. Ia juga memperlihatkan paspor Inggris yang diterima bersamaan dengan dokumen tersebut.

“Ini adalah surat dari Home Office Inggris yang menyatakan kalau anak aku yang kedua sudah diterima jadi WN Inggris,” ujar DS dalam video tersebut.

Diketahui, DS merupakan penerima beasiswa LPDP dan lulusan Institut Teknologi Bandung (ITB). Ia melanjutkan studi S2 di bidang sustainable energy technology di Delft University of Technology, Belanda, pada 2015 dan menyelesaikannya dua tahun kemudian.

Sebagai alumni LPDP, ia terikat kewajiban pengabdian di Indonesia sesuai ketentuan yang berlaku. Aturan tersebut menetapkan masa kontribusi selama dua kali masa studi ditambah satu tahun (2N+1), yang kemudian disederhanakan menjadi 2N.

Dengan masa studi dua tahun, DS seharusnya mengabdi selama lima tahun, namun ketentuan tersebut dipangkas. Ia tercatat telah menjalankan masa pengabdian pada periode 2017 hingga 2023.

Selama periode tersebut, DS disebut terlibat dalam berbagai kegiatan, mulai dari penanaman 10.000 pohon bakau di wilayah pesisir hingga kontribusi dalam pembangunan sekolah di Nusa Tenggara Timur (NTT).

Namun, polemik tidak berhenti pada dirinya. Suami DS yang berinisial AP juga diduga merupakan alumni LPDP, tetapi belum menjalankan kewajiban pengabdian sebagaimana diatur.

Kasus ini turut membuka catatan lain terkait kepatuhan alumni LPDP. Berdasarkan data per 31 Januari 2026, dari total 32.876 alumni yang diperiksa, sebanyak 307 orang mendapatkan izin untuk magang atau melanjutkan studi, sementara 172 orang bekerja sesuai ketentuan.

Selain itu, LPDP juga tengah memeriksa 36 orang yang diduga melanggar aturan. Dari jumlah tersebut, 8 orang telah dikenai sanksi karena terbukti tidak memenuhi kewajiban pengabdian di Indonesia.

Sudarto menyebutkan, dari delapan orang tersebut, empat di antaranya dikenai sanksi pengembalian dana kepada negara dengan nilai yang bervariasi.

Untuk jenjang doktoral (S3), besaran pengembalian mencapai sekitar Rp2 miliar, sementara untuk program magister (S2) sekitar Rp1 miliar.

“Ada yang langsung bayar, ada yang (cicil). kalau tiba-tiba (tidak) kerja, kan enggak bisa tiba-tiba punya uang segitu. Akan tetapi, kita kan harus selamatka uang negara,” tegasnya.

Sorotan untuk Anak Pejabat dan Pesohor

Kasus awardee berinisial DS menjadi pintu masuk sorotan publik terhadap tata kelola dana pendidikan oleh Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP). Isu seleksi penerima beasiswa kini menuai kritik, terutama terkait dugaan ketimpangan akses.

Sejumlah nama dari kalangan anak pejabat hingga publik figur diketahui menjadi penerima beasiswa LPDP. Di antaranya Mutiara Baswedan, anak dari Anies Baswedan, serta figur publik seperti Tasya Kamila, Maudy Ayunda, dan Gita Gutawa.

Kondisi ini memicu pertanyaan di tengah masyarakat. Pasalnya, mereka dinilai berasal dari latar belakang ekonomi yang mapan dan memiliki kemampuan untuk membiayai pendidikan tinggi secara mandiri, termasuk di universitas luar negeri.

Sorotan publik semakin menguat setelah Tasya Kamila mengunggah konten terkait “laporan kontribusi sebagai alumni awardee LPDP”. Sejumlah warganet menilai kontribusi yang ditampilkan belum sebanding dengan besarnya dana pendidikan yang telah diterima.

Situasi ini memunculkan pertanyaan mendasar: bagaimana sebenarnya mekanisme seleksi LPDP? Apakah terdapat prioritas tertentu bagi kelompok tertentu? Mengingat, nilai beasiswa yang diberikan dapat mencapai ratusan juta hingga miliaran rupiah per orang.

Di sisi lain, realitas di lapangan menunjukkan masih banyak putra-putri berprestasi dari keluarga kurang mampu atau daerah terpencil yang kesulitan mengakses pendidikan tinggi. Kondisi ini dinilai berpotensi menciptakan ketimpangan, terutama jika distribusi beasiswa tidak tepat sasaran.

Padahal, dana LPDP bersumber dari pajak yang dihimpun dari seluruh rakyat Indonesia. Karena itu, prinsip keadilan dan pemerataan menjadi aspek penting dalam penyalurannya.

Menanggapi hal tersebut, Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Utama LPDP, Sudarto, menjelaskan bahwa LPDP menyediakan skema beasiswa parsial bagi kelompok masyarakat mampu, termasuk anak pejabat dan publik figur. Skema ini memungkinkan pembiayaan dilakukan secara bersama.

“Khusus untuk bapak-bapak, ibu-ibu, dan keluarga mampu, kami membuka kesempatan partial funding. Artinya, ini imbauan kalau bapak ibu mampu, pilihlah yang bukan full funding, tetapi yang partial funding. Sebesar 50 persen dari LPDP,” jelas Sudarto.

Dengan skema tersebut, diharapkan penerima dari kalangan mampu dapat tetap mengakses beasiswa tanpa mengurangi kesempatan bagi mereka yang lebih membutuhkan.

Ekonom Desak Perbaikan Tata Kelola

Kepala Pusat Ekonomi Makro dan Keuangan Indef, M. Rizal Taufikurahman, menyayangkan kontroversi yang mencuat dan menilai hal tersebut berpotensi menggerus kepercayaan publik.

Menurut Rizal, selama ini masyarakat memandang beasiswa LPDP bukan sekadar bantuan pendidikan, melainkan sebagai instrumen kebijakan ekonomi jangka panjang.

“LPDP pada dasarnya adalah investasi negara pada modal manusia, sehingga standar akuntabilitasnya harus tinggi,” katanya dikutip dari inilah.com.

Ia menegaskan, karena bersumber dari dana publik, transparansi dalam proses seleksi, pengawasan selama studi, hingga kontribusi pasca-kelulusan menjadi aspek yang sangat krusial.

“Ketika tata kelola tidak jelas terbaca, kepercayaan publik langsung melemah,” ungkapnya.

Rizal juga menyebut konsep LPDP sebagai ‘manajer investasi SDM’ sudah tepat. Namun, persoalan utama terletak pada desain insentif serta lemahnya sistem pengawasan dan monitoring.

Menurutnya, tanpa penyesuaian dengan kebutuhan nasional dan skema kontribusi yang kuat, negara berisiko hanya membiayai mobilitas individu, bukan membangun kapasitas ekonomi secara luas.

Ia menilai, solusi yang dibutuhkan bukanlah membubarkan program, melainkan memperkuat tata kelola, mulai dari pemetaan kebutuhan keahlian, kontrak kontribusi, pelacakan alumni, hingga keterkaitan dengan industri dan riset dalam negeri.

“Tanpa itu, LPDP berisiko menjadi sekadar pembiayaan studi luar negeri,” pungkasnya.

Pandangan serupa disampaikan ekonom dari Pergerakan Kedaulatan Rakyat (PKR), Gede Sandra. Ia menekankan pentingnya keadilan dalam distribusi beasiswa LPDP, terutama bagi kelompok menengah dan kurang mampu.

Menurutnya, beasiswa seharusnya difokuskan untuk membantu mereka yang memiliki keterbatasan akses terhadap pendidikan tinggi.

“Kasihan anak-anak dari keluarga menengah dan miskin yang pinter-pinter. Mereka perlu pendidikan tinggi-tinggi agar bisa naik kelas. Sesuai keinginan Pak Prabowo,” imbuhnya.

Gede juga mendorong agar proses rekrutmen penerima beasiswa dilakukan secara lebih terbuka dan adil, tanpa mempertimbangkan latar belakang keluarga atau status sosial.

“Saat ini, banyak anak pejabat atau mantan pejabat nikmati beasiswa LPDP. Padahal mereka mampu secara mandiri,” pungkasnya.

Pada akhirnya, masa depan LPDP akan ditentukan oleh sejauh mana ia mampu menjaga kepercayaan publik. Di tengah besarnya dana yang dikelola dan tingginya harapan terhadap lahirnya generasi unggul, transparansi, keadilan, dan akuntabilitas bukan lagi pilihan, melainkan keharusan.

Jika tata kelola terus diperbaiki dan tepat sasaran, LPDP bisa menjadi mesin penggerak lahirnya SDM berkualitas menuju Indonesia Emas 2045. Namun jika sebaliknya, program ini berisiko kehilangan legitimasi sebagai instrumen pemerataan pendidikan dan investasi masa depan bangsa. (XRQ)

Pertamina Pastikan Stok BBM di Aceh Singkil Aman, Warga Diminta Tidak Berlebihan Membeli

0
Terminal mobil pasokan BBM. (Foto: Ist)

NUKILAN.ID | SINGKIL – Pertamina Patra Niaga Regional Sumatra Bagian Utara (Sumbagut) memastikan distribusi dan ketersediaan bahan bakar minyak (BBM) di Kabupaten Aceh Singkil dalam kondisi aman. Penyaluran BBM kepada masyarakat disebut tetap berjalan lancar.

Area Manager Communication, Relations & CSR Regional Sumbagut, Fahrougi Andriani Sumampouw, mengatakan antrean kendaraan yang terjadi di sejumlah SPBU dipicu kedatangan mobil tangki pembawa pasokan BBM untuk proses pembongkaran.

“Berdasarkan pemantauan di SPBU 14.237.421, SPBU 14.237.447, dan SPBU 14.237.449, antrean kendaraan terjadi saat mobil tangki yang membawa pasokan BBM tiba di SPBU untuk melakukan proses pembongkaran,” kata Fahrougi, Jumat (13/3/2026).

Ia menjelaskan, saat pasokan BBM tiba, masyarakat yang telah menunggu langsung mengantre untuk mengisi BBM jenis Pertalite dan Biosolar. Meski begitu, pelayanan untuk jenis BBM lain tetap berjalan selama proses pembongkaran berlangsung.

“Selama proses pembongkaran BBM berlangsung, pelayanan untuk produk BBM lainnya seperti Pertamax dan Dexlite tetap tersedia dan dapat dilayani oleh SPBU,” ujar Fahrougi.

Setelah proses pembongkaran dari mobil tangki selesai, penyaluran BBM di SPBU kembali berjalan normal dan masyarakat dapat melakukan pengisian seperti biasa.

“Setelah proses pembongkaran dari mobil tangki selesai dilakukan, penyaluran BBM di SPBU kembali berjalan normal dan masyarakat dapat melakukan pengisian BBM seperti biasa,” ungkapnya.

Menurut Fahrougi, Pertamina terus berkoordinasi dengan lembaga penyalur dan Fuel Terminal agar distribusi BBM ke SPBU tetap lancar. Ia juga mengimbau masyarakat membeli BBM sesuai kebutuhan agar distribusi tetap tertib dan kebutuhan energi warga dapat terpenuhi dengan baik.

“Kami juga mengimbau masyarakat untuk melakukan pembelian BBM sesuai kebutuhan agar proses distribusi dapat berlangsung tertib serta kebutuhan energi masyarakat dapat terpenuhi dengan baik,” jelas Fahrougi.

Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News.

Pemerintah Aceh Mulai Cairkan THR ASN, Nilainya Capai Rp205,7 Miliar

0
Ilustrasi THR (Foto: iStockphoto)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Pemerintah Aceh mulai mencairkan Tunjangan Hari Raya (THR) bagi Aparatur Sipil Negara (ASN) di lingkungan pemerintah setempat sejak Jumat (13/3/2026).

Pencairan THR tersebut mencakup Pegawai Negeri Sipil (PNS), Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK), serta PPPK paruh waktu.

Mengutip Kompas.com, Gubernur Aceh Muzakir Manaf mengatakan, pencairan THR dilakukan berdasarkan Peraturan Gubernur Aceh Nomor 9 Tahun 2026 tertanggal 12 Maret 2026 tentang Pemberian Tunjangan Hari Raya (THR) dan Gaji Ketiga Belas.

“Sejak 13 Maret 2026, Pemerintah Aceh mulai melakukan proses pencairan atau pembayaran THR kepada ASN di lingkungan Pemerintah Aceh,” kata Mualem dalam keterangan tertulisnya.

Jumlah penerima THR tersebut mencapai 41.410 ASN yang terdiri atas PNS, PPPK, dan PPPK paruh waktu.

Secara keseluruhan, dana THR yang disalurkan diperkirakan mencapai Rp205.755.392.114. Anggaran itu bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Aceh (APBA) Tahun Anggaran 2026.

Menurut Mualem, pencairan THR ini merupakan bentuk perhatian pemerintah terhadap kesejahteraan ASN, terutama dalam menyambut bulan suci Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri.

Ia berharap THR tersebut dapat membantu ASN memenuhi kebutuhan selama Ramadhan hingga menjelang Idul Fitri bersama keluarga.

Selain itu, Mualem juga menilai pencairan dana THR berpotensi memberi dampak positif terhadap perekonomian daerah karena meningkatnya aktivitas belanja masyarakat.

“Dengan mulai cairnya THR ini kita berharap tidak hanya membantu kebutuhan ASN dalam menyambut Ramadhan dan Idul Fitri, tetapi juga dapat mendorong perputaran ekonomi masyarakat,” tuturnya.

“Aktivitas belanja tentu akan meningkat sehingga memberikan dampak positif bagi pelaku usaha dan perekonomian daerah,” ujarnya.

Mualem juga mengimbau seluruh ASN di lingkungan Pemerintah Aceh agar memanfaatkan THR secara bijak, terutama untuk memenuhi kebutuhan pokok, sekaligus memperbanyak berbagi kepada sesama selama bulan suci Ramadhan.

“Pemerintah Aceh berharap penyaluran THR tersebut dapat membawa berkah bagi masyarakat serta memperkuat daya beli masyarakat menjelang Hari Raya Idul Fitri,” tuturnya.

Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News.

Belum Miliki SLHS, Lima Dapur SPPG di Aceh Singkil Dihentikan Sementara oleh BGN

0
Ilustrasi dapur sppg (Foto: RRI)

NUKILAN.ID | SINGKIL – Sebanyak lima dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Kabupaten Aceh Singkil, Aceh, dihentikan sementara operasionalnya.

Penghentian itu disebut berdasarkan perintah dari Badan Gizi Nasional (BGN) karena dapur-dapur tersebut diduga belum memiliki Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS). Selain itu, dapur tersebut juga disebut belum mendaftarkan Inspeksi Kesehatan Lingkungan (IKL) sebagai syarat penerbitan SLHS melalui Dinas Kesehatan Kabupaten Aceh Singkil.

Mengutip RRI, Pelaksana tugas (Plt) Kepala Dinas Kesehatan Aceh Singkil, Mursal, membenarkan masih ada sejumlah dapur SPPG di daerah itu yang belum mengajukan proses IKL untuk pengurusan SLHS.

Kondisi itu, kata dia, berujung pada penghentian sementara operasional oleh BGN karena dapur SPPG tersebut dinilai belum memenuhi persyaratan administrasi dan teknis.

“Dari 17 dapur SPPG yang tersebar di Kabupaten Aceh Singkil, ada 5 dapur yang masih belum mengajukan IKL untuk pengurusan SLHS,” sebut Mursal, Jum’at, 13 Maret 2026.

Mursal menjelaskan, dari total 17 dapur SPPG di Aceh Singkil, sebanyak 12 dapur lainnya memiliki kondisi berbeda. Dua dapur disebut belum beroperasi, delapan dapur masih dalam tahap pengurusan IKL, dan baru dua dapur yang telah mengantongi SLHS.

Menurut dia, kepemilikan Sertifikat Laik Higiene Sanitasi menjadi syarat penting yang wajib dipenuhi oleh setiap dapur SPPG sesuai aturan Kementerian Kesehatan.

Karena itu, ia mengimbau seluruh pengelola dapur SPPG agar segera melengkapi berbagai persyaratan yang dibutuhkan dalam proses pengurusan SLHS beserta dokumen pendukung lainnya.

” Diantaranya kelengkapan sarana pendukung seperti Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL),”tambah Mursal.

Berdasarkan surat dari Badan Gizi Nasional tentang penertiban tata kelola penyelenggaraan program makan bergizi gratis tahun 2026, lima dapur SPPG yang dihentikan sementara itu berada di beberapa wilayah di Aceh Singkil.

Kelima dapur tersebut masing-masing berada di Desa Bukit Harapan, Lae Butar, dan Gunung Lagan di Kecamatan Gunung Meriah, kemudian di Pulo Sarok, Kecamatan Singkil, serta di Pulau Balai, Kecamatan Pulau Banyak.

Sementara itu, hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari pihak terkait mengenai alasan dapur-dapur tersebut belum mendaftarkan IKL untuk proses penerbitan SLHS.

Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News.

DPRK Desak Pemko Banda Aceh Segera Cairkan THR ASN Jelang Idul Fitri

0
Anggota DPRK Banda Aceh, Ismawardi (Foto: Humas DPRK)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Anggota DPRK Banda Aceh, Ismawardi, meminta Pemerintah Kota (Pemko) Banda Aceh segera mencairkan Tunjangan Hari Raya (THR) bagi aparatur sipil negara (ASN), baik Pegawai Negeri Sipil (PNS) maupun Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK), menjelang Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah.

Menurut Ismawardi, pencairan THR tepat waktu sangat penting agar para pegawai dapat memenuhi kebutuhan keluarga sekaligus mendorong perputaran ekonomi masyarakat.

“THR ini sangat dinantikan para ASN baik PNS maupun PPPK. Kami berharap Pemko Banda Aceh dapat segera mencairkannya semunya agar para pegawai bisa mempersiapkan kebutuhan Lebaran bersama keluarga,” kata Ismawardi.

Ia menyebutkan, jumlah PNS di lingkungan Pemerintah Kota Banda Aceh mencapai 3.577 orang, sementara PPPK sebanyak 2.223 orang. Dengan demikian, total penerima THR di lingkungan Pemko Banda Aceh mencapai 5.832 aparatur.

Ismawardi berharap proses pencairan THR dapat dilakukan secepatnya agar hak para pegawai dapat diterima tepat waktu.

“Selain membantu kebutuhan ASN, perputaran uang dari THR ini juga akan berdampak positif bagi ekonomi masyarakat, khususnya pelaku usaha kecil menjelang Lebaran,” ujarnya.

Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News