Beranda blog Halaman 166

Duduk Perkara Polemik Impor 250 Ton Beras di Sabang

0
Proses bongkar muat di Sabang. (Foto: Beacukai)

NUKILAN.ID | INDEPTH – Masuknya 250 ton beras ke Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas (KPBPB) Sabang, Aceh, memantik polemik nasional. Perbedaan pandangan antara Kementerian Pertanian dan Pemerintah Aceh membuat persoalan ini mengemuka, bahkan berujung pada penyegelan beras oleh aparat kepolisian.

Menteri Pertanian Amran Sulaiman secara tegas menilai impor tersebut ilegal. Ia menyebut Aceh memiliki neraca produksi beras surplus hingga 871.400 ton, sementara Sabang sendiri surplus sekitar 970 ton. Dengan demikian, ia menilai tidak ada alasan mendesak untuk impor.

“Stok kita aman. Aceh surplus, Sabang surplus, nasional juga surplus. Jadi kalau ada pihak yang tetap nekat memasukkan beras ilegal, itu jelas bukan urusan kebutuhan. itu pelanggaran. Dan negara akan bertindak tegas,” kata Amran, Selasa (25/11).

Amran menambahkan, cadangan beras pemerintah berada dalam kondisi terbaik sepanjang sejarah, dan pemerintah berkomitmen tidak melakukan impor beras tahun ini. Ia menegaskan bahwa kegiatan impor di Sabang dilakukan tanpa izin pemerintah pusat. Beras tersebut kini disegel kepolisian. Ia juga mengaku langsung menghubungi Gubernur Aceh setelah menerima laporan. “Begitu laporan masuk, saya langsung menelepon Gubernur Aceh untuk memastikan semuanya bergerak cepat. Tidak boleh ada toleransi untuk tindakan ilegal seperti ini. Kalau tidak ada izin impor, negara harus hadir tegas,” ujarnya.

Dari sisi pemerintah pusat, Kementerian Koordinator Bidang Pangan menegaskan hal serupa. Deputi Tatan Yuliono memastikan pihaknya tidak pernah memberi lampu hijau untuk impor. Ia menilai cadangan beras Aceh, yang mencapai 94.888 ton pada 14 November 2025, sudah mencukupi kebutuhan.

“Tidak ada urgensi untuk melakukan importasi beras. Pada rapat koordinasi teknis tanggal 14 November 2025, Kementerian Koordinator Bidang Pangan tidak menyetujui impor beras tersebut,” kata Tatan.

Pemerintah Aceh Membantah: Impor Sah dan Sesuai Regulasi

Berbeda dengan pemerintah pusat, Pemerintah Aceh kukuh menyatakan bahwa impor tersebut tidak melanggar aturan apa pun. Juru Bicara Gubernur Aceh, Muhammad MTA, menegaskan bahwa Badan Pengusahaan Kawasan Sabang (BPKS) memiliki kewenangan khusus mengeluarkan izin impor berdasarkan Undang-Undang No. 37 Tahun 2000.

BPKS tercatat telah memberikan izin pemasukan 250 ton beras asal Thailand. Bea Cukai Sabang bahkan menerbitkan surat resmi S-106/KBC.0101/2025 pada 7 November 2025 untuk mengizinkan masuknya beras tersebut, dengan syarat hanya boleh didistribusikan di wilayah KPBPB Sabang yang meliputi lima pulau: Weh, Klah, Rubiah, Seulako, dan Rondo.

Muhammad menyebut pernyataan Menteri Pertanian sebagai bentuk pengabaian terhadap kewenangan Aceh.

“Pernyataan ilegal yang disampaikan Menteri Amran jelas tidak berdasar dan mereduksi kewenangan Aceh, khususnya Badan Pengusahaan Kawasan Sabang,” kata dia.

Ia menjelaskan, kebijakan impor dilakukan sebagai jalan keluar atas mahalnya harga beras di Sabang jika dipasok dari daratan Sumatra. Data Polda Aceh menunjukkan harga beras medium di Sabang mencapai Rp 15.300 per kilogram pada 23 Oktober 2025, sedikit di atas harga eceran tertinggi Rp 15.000 per kg. Satgas Pengendalian Harga Beras Aceh menyebut tingginya harga dipicu oleh biaya distribusi yang besar ke Pulau Weh.

Karena itu, impor 250 ton beras dinilai sebagai langkah transisi strategis demi menjaga stabilitas harga.

Menunggu Uji Laboratorium dan Keputusan Final

Pemerintah Aceh berharap Menteri Pertanian segera menginstruksikan uji laboratorium terhadap beras impor tersebut, sesuai prosedur Badan Karantina Pertanian sebelum dilepas untuk konsumsi. Muhammad menegaskan permintaan tersebut.

“Gubernur Aceh berharap Menteri Pertanian segera melepas 250 ton beras impor kepada masyarakat yang ada di kawasan Sabang,” ujarnya.

Polemik ini memperlihatkan adanya irisan kewenangan antara pusat dan daerah, khususnya di kawasan dengan status perdagangan bebas seperti Sabang. Sementara beras masih berada dalam penyegelan, kepastian distribusinya kini bergantung pada hasil uji serta sinkronisasi kebijakan antara pemerintah pusat dan Provinsi Aceh. (XRQ)

Reporter: AKIL

Revitalisasi Lhoknga Golf: Aceh Tawarkan Proyek “Brownfield” Strategis di Hadapan Investor Dubai

0

Nukilan.id – Peluang investasi sektor pariwisata Indonesia kembali mendapat panggung di Timur Tengah. Pemerintah Aceh, melalui Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP Aceh), secara resmi menawarkan proyek pengembangan Lhoknga Golf & Marine Sport Resort dalam ajang Indonesia Dubai Business Forum 2025. Forum promosi investasi ini digelar di Palazzo Versace, Dubai, 25 November 2025 atas inisiasi Bank Indonesia Kantor Perwakilan (KPw) Tokyo.

Dalam forum bertajuk “Bridging Indonesia and the UAE for a Resilient Future” tersebut, Aceh berupaya memikat modal asing dengan menawarkan skema pengembangan aset yang matang. Riadi Husaini, perwakilan delegasi DPMPTSP Aceh, memaparkan bahwa proyek Lhoknga bukanlah investasi dari nol (greenfield), melainkan revitalisasi aset yang sudah ada (brownfield) dengan risiko yang lebih terukur.

Di hadapan para calon mitra strategis termasuk perwakilan dari perusahaan investasi global, Riadi menyajikan data kelayakan finansial yang agresif. Proyek yang terletak di Aceh Besar ini membutuhkan estimasi belanja modal (Capital Expenditure) sebesar USD 6,18 juta.

“Kami menawarkan tingkat pengembalian internal (Internal Rate of Return/IRR) sebesar 26,83 persen dengan Net Present Value (NPV) positif di angka USD 7,37 juta. Ini adalah indikator profitabilitas yang sangat sehat bagi investor,” jelas Riadi dalam sesi panel yang dimoderatori oleh Direktur IIPC Abu Dhabi, Nova Herlangga Masrie.

Riadi menambahkan bahwa investor diproyeksikan dapat mencapai titik impas (payback period) dalam waktu 11 tahun 5 bulan. Untuk menjamin kepastian usaha, Pemerintah Aceh menawarkan masa konsesi hingga 30 tahun yang dapat diperpanjang, serta opsi skema kerja sama mulai dari Bangun Guna Serah (BOT), usaha patungan (Joint Venture), hingga sewa jangka panjang.

Salah satu poin krusial yang ditekankan dalam presentasi tersebut adalah status legalitas lahan. Area seluas 57 hektare yang ditawarkan berstatus clean and clear dan sepenuhnya dimiliki oleh Pemerintah Aceh. Hal ini memberikan jaminan keamanan bagi investor asing yang sering kali terkendala isu pembebasan lahan di negara berkembang.

Proyek ini dirancang sebagai kawasan resor terintegrasi. Selain modernisasi lapangan golf 18 lubang yang menghadap langsung ke Samudra Hindia dan perbukitan kapur, rencana pengembangan juga mencakup pembangunan vila, fasilitas MICE, serta wahana olahraga air.

Kehadiran Aceh di Dubai tidak lepas dari peran Bank Indonesia. Kepala Perwakilan Bank Indonesia Tokyo, Imaduddin Sahabat, yang memberikan pidato kunci dalam acara tersebut, menjadikan forum ini sebagai etalase bagi proyek-proyek investasi daerah yang telah terkurasi (shortlisted) dan siap tawar.

Konsul Jenderal RI di Dubai, Denny Lesmana, dalam sambutannya juga menggarisbawahi pentingnya kemitraan ekonomi antara Indonesia dan Uni Emirat Arab, mengingat kedekatan budaya dan visi ekonomi kedua negara. Aceh, dengan statusnya sebagai destinasi wisata halal unggulan dunia dan penerapan syariat Islam, dinilai memiliki keunggulan komparatif kultural yang kuat untuk menarik minat investor Timur Tengah.

Forum ditutup dengan sesi business matching, di mana delegasi Aceh melakukan pertemuan one-on-one dengan calon investor untuk menindaklanjuti minat teknis terhadap pengembangan kawasan Lhoknga.

Ketua IKA Ilmu Pemerintahan USK Kritik Lambannya Respons Pemerintah Aceh Tangani Banjir

0
Ketua Bentara Muda Abdya, T. Auliya Rahman. (Foto: Dok. Pribadi)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH — Ketua Ikatan Alumni (IKA) Ilmu Pemerintahan Universitas Syiah Kuala (USK), T. Auliya Rahman, menyoroti keras lambannya respons Pemerintah Aceh dalam menangani bencana banjir yang melanda hampir seluruh wilayah Aceh dalam beberapa hari terakhir.

Ia menilai pemerintah terkesan pasif dan belum menunjukkan langkah konkret untuk melindungi masyarakat terdampak.

“Kejadian banjir yang menimpa hampir seluruh daerah Aceh kali ini adalah musibah yang sangat serius, dan pemerintah Aceh tidak sepatutnya hanya berdiam diri,” kata Auliya dalam keterangannya, Kamis (27/11/2025).

Ia menyoroti dua persoalan utama sejak banjir meluas: lambannya gerak pemerintah serta minimnya informasi yang diterima masyarakat.

Menurutnya, selain pemadaman listrik yang hampir menyeluruh—yang masih dapat dimaklumi karena potensi bahaya aliran listrik saat banjir—akses jaringan telekomunikasi di banyak daerah juga terganggu. Namun di tengah kondisi tersebut, ia menilai pemerintah belum menyediakan fasilitas alternatif untuk layanan maupun pusat informasi bagi warga.

“Terlepas dari fasilitas telekomunikasi yg terganggu, pemerintah Aceh sejauh ini belum menyediakan opsi fasilitas layanan dan pusat informasi lainnya. Selain itu kita juga belum mendapat informasi resmi dari Pemerintah Aceh terkait langkah-langkah serius apa yg selanjutnya akan dilakukan,” ujarnya.

Auliya juga menyoroti lemahnya proses evakuasi di sejumlah daerah. Menurutnya, beberapa lokasi menunjukkan akses mobilisasi yang terputus dan fasilitas perlindungan yang terbatas bagi masyarakat terdampak banjir.

“Hal ini menjadi bukti atas ketidakbecusan pemerintah Aceh selama ini dalam mengantisipasi dan memitigasi bencana,” kata dia.

Ia menegaskan bahwa Aceh memiliki anggaran besar yang seharusnya dapat dimanfaatkan untuk kesiapsiagaan bencana sejak jauh hari. Karena itu, ia meminta kebijakan pembangunan tidak hanya berfokus pada investasi atau proyek infrastruktur, tetapi turut memasukkan aspek keselamatan warga.

Auliya mengingatkan bahwa Aceh adalah daerah rawan bencana. Berkaca pada pengalaman tsunami 2004 dan banjir yang kerap berulang, menurutnya kerugian masyarakat seharusnya dapat diminimalisir melalui asesmen dan mitigasi yang tepat.

“Pemahaman terhadap mitigasi bencana seperti ini sudah seharusnya ‘dibumi’ kan di Aceh, bisa dengan kreasi budaya, ataupun lewat kurikulum di sekolah,” ujarnya.

Ia mencontohkan tradisi Nandong Smong di Simeulue yang terbukti menyelamatkan banyak warga saat tsunami 2004.

Dalam kritiknya, Auliya juga menyinggung faktor kerusakan lingkungan yang menurutnya tidak lepas dari kebijakan yang lebih berorientasi pada kepentingan tertentu.

“Bencana alam yang kita alami sekarang ini adalah dampak dari kerusakan lingkungan yang diwadahi lewat regulasi dan kebijakan yang hanya berorientasi pada keserakahan, tanpa pernah pikir panjang,” ujar dia.

Menutup pernyataannya, Auliya mengajak seluruh pihak mendoakan agar Aceh segera pulih dari bencana.

“Kita doakan semoga Aceh segera membaik, dan segala bencana yg kita alami menjadi ibrah bagi kita,” tutupnya. (XRQ)

Reporter: AKIL

Cuaca Ekstrem Ancam Aceh Besar, BPBD Minta Warga Tingkatkan Kewaspadaan

0
Kalaksa Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Aceh Besar, Ridwan Jamil. (FOTO: BPBD ACEH BESAR)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Hujan lebat yang mengguyur wilayah Aceh dalam dua hari terakhir menyebabkan cuaca ekstrem di sejumlah kawasan, termasuk Aceh Besar. Beberapa titik mulai tergenang banjir akibat curah hujan tinggi dan tersumbatnya saluran pembuangan.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Aceh Besar, Ridwan Jamil SSos MSi, mengimbau masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bencana yang bisa muncul sewaktu-waktu.

Imbauan tersebut disampaikan sebagai respons atas kondisi lapangan dan peringatan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Aceh yang meminta seluruh warga tetap waspada terhadap cuaca saat ini.

Ridwan menyebut intensitas hujan sedang hingga lebat merata di seluruh wilayah Aceh Besar. Berdasarkan informasi BMKG, hujan dengan intensitas serupa masih mungkin terjadi dalam waktu dekat.

“Maka kita mengingatkan warga Aceh Besar untuk selalu waspada, bila berpergian, baik jalur darat, maupun laut,” ujarnya.

Ia menambahkan, beberapa lokasi di Aceh Besar sudah menunjukkan adanya genangan air yang dipicu tingginya curah hujan sejak kemarin. Genangan ini juga diperparah oleh saluran pembuangan yang tersumbat di kawasan permukiman.

BMKG dalam rilisnya menyebut potensi cuaca buruk saat ini merupakan dampak tidak langsung dari perkembangan Bibit Siklon Tropis “95B” yang teramati di Selat Malaka.

“Ancaman Bencana dan Imbauan Kunci BMKG mengingatkan bahwa hujan yang terus-menerus dan berdurasi lama dapat memicu banjir, tanah longsor, dan angin kencang,” pungkasnya.

Mata Siklon Senyar Mulai Keluar dari Indonesia, Namun Hujan dan Badai Belum Berakhir

0

NUKILAN.ID | BANDA ACEH — Mata Siklon Senyar telah bergerak keluar dari wilayah Indonesia pada Sabtu (29/11/2025) sekitar pukul 06.00 WIB. Namun demikian, fase siklon belum sepenuhnya berakhir dan cuaca ekstrem masih terus dirasakan di sejumlah daerah, terutama di Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat, dan pesisir Bengkulu.

Hujan lebat dan angin kencang masih mengguyur berbagai wilayah. BMKG mengimbau warga untuk tetap waspada terhadap potensi cuaca ekstrem, khususnya di Aceh Singkil, Aceh Utara, Bireuen, Lhokseumawe, Kota Padang, dan Tanjungbalai, yang hingga pagi ini masih mengalami curah hujan tinggi.

Dikutip NUKILAN.ID dari BMKG, fase siklon diperkirakan akan benar-benar berakhir pada Sabtu (29/11/2025) menjelang tengah malam. Sementara itu, beberapa wilayah lainnya diperkirakan memasuki akhir fase siklon pada Jumat (28/11/2025) sekitar pukul 18.00 WIB.

Meski pusat siklon telah bergerak menuju wilayah Semenanjung Malaysia, potensi hujan deras, angin kencang, dan banjir susulan di Indonesia masih tinggi. Warga diimbau terus memantau informasi resmi dan meningkatkan kewaspadaan untuk melindungi diri dan keluarga.

Reporter: AKIL

Gempa M 6,3 Guncang Aceh, BMKG Pastikan Tidak Picu Tsunami

0
Ilustrasi gempa bumi. (Foto: Getty Images)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Gempa tektonik berkekuatan M6,3 mengguncang wilayah Aceh pada Kamis (27/11/2025) sekitar pukul 11.56 WIB. Dalam laporan resminya, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebut episenter gempa berada pada koordinat 2,67 LU dan 95,84 BT, atau berjarak sekitar 62 kilometer di barat laut Sinabang, Aceh.

Guncangan berasal dari kedalaman 10 kilometer di bawah permukaan laut. BMKG memastikan gempa tersebut tidak berpotensi menimbulkan tsunami.

Sembilan Kabupaten di Aceh Tetapkan Status Darurat Banjir

0
Banjir menlanda Kabupaten Aceh Singkil, Aceh. (Foto: Istimewa)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH — Sebanyak sembilan kabupaten di Provinsi Aceh menetapkan status darurat bencana banjir setelah wilayah itu diguyur hujan berintensitas tinggi selama sepekan terakhir.

Adapun daerah yang telah menyatakan status darurat tersebut meliputi Aceh Besar, Pidie, Aceh Utara, Aceh Singkil, Aceh Barat Daya, Aceh Tengah, Aceh Tenggara, dan Aceh Barat.

Pelaksana Tugas Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA), Fadmi Ridwan, menyebutkan bahwa keputusan penetapan status darurat dikeluarkan langsung oleh masing-masing kepala daerah berdasarkan perkembangan kondisi di wilayahnya.

“Daerah yang telah menetapkan status darurat bencana hidrometeorologi yaitu Aceh Besar, Pidie, Aceh Utara, Singkil, Aceh Barat Daya (Abdya), Aceh Tengah, Aceh Tenggara, dan Aceh Barat,” ujar Fadmi kepada wartawan, Rabu (26/11/2025).

Berdasarkan data sementara, total warga terdampak mencapai 46.893 jiwa, dengan 1.497 orang di antaranya terpaksa mengungsi. Banjir terparah tercatat terjadi di Aceh Timur, Aceh Singkil, dan Aceh Utara, dengan ketinggian air bervariasi hingga 80 sentimeter. Genangan juga merendam fasilitas publik dan lahan pertanian, dan hingga kini air masih belum surut di sejumlah titik.

Fadmi menjelaskan bahwa intensitas hujan yang tinggi memicu luapan sungai, sementara kondisi geologi yang labil turut memperparah terjadinya banjir di banyak wilayah.

BPBA, kata dia, terus berkoordinasi dengan BPBD kabupaten dan kota untuk memastikan penanganan darurat dilakukan secara optimal.

“Kami mengimbau masyarakat agar tetap waspada terhadap potensi banjir, tanah bergerak, dan longsor, terutama pada wilayah dengan curah hujan tinggi,” ujarnya.

5 Menara SUTT di Aceh Roboh Diterjang Banjir, PLN Bangun Tower Darurat

0

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – PT PLN (Persero) melaporkan lima menara Saluran Udara Tegangan Tinggi (SUTT) 150 kV di Aceh terdampak banjir bandang. Empat menara dilaporkan roboh, sementara satu lainnya mengalami kerusakan.

Manager Komunikasi dan TJSL PLN Unit Induk Distribusi Aceh, Lukman Hakim, mengatakan lima menara tersebut berada di wilayah Kabupaten Bireuen. Untuk mempercepat pemulihan, PLN mengerahkan tim gabungan dari Sumatera Utara, Riau, DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Jawa Tengah guna membangun lima menara darurat.

“Kami memohon dukungan dan doa agar pekerjaan teknis di lapangan berjalan lancar tanpa hambatan, sehingga pasokan listrik di Aceh dapat kembali normal secepat mungkin,” ujar Lukman dalam keterangan yang diterima, Kamis (27/11/2025).

PLN juga memobilisasi berbagai material pendukung dari Palembang, Lampung, Jambi, Pekanbaru, dan Padang untuk mempercepat penormalan sistem kelistrikan. Perkembangan pemulihan akan diumumkan secara berkala melalui saluran informasi resmi PLN.

Pelanggan yang membutuhkan informasi dapat memanfaatkan layanan 24 jam melalui aplikasi PLN Mobile atau menghubungi Contact Center PLN 123.

“Dengan kerja keras dan doa masyarakat, PLN optimistis pasokan listrik di Aceh akan segera kembali andal,” kata Lukman.

Kerusakan pada lima menara SUTT tersebut berdampak pada gangguan pasokan listrik di sejumlah wilayah, mulai dari Banda Aceh, Aceh Besar, Pidie, Pidie Jaya, Bireuen, Aceh Utara, Lhokseumawe, Bener Meriah, Aceh Tengah, Aceh Timur, Langsa, Aceh Tamiang, Aceh Jaya, Aceh Barat, Nagan Raya, Aceh Barat Daya, Aceh Selatan, hingga Aceh Singkil.

Unimal Liburkan Perkuliahan 26–27 November akibat Cuaca Ekstrem dan Banjir

0
Prof. Dr. Ir Herman Fithra, ASEAN Eng, Rektor Universitas Malikussaleh. (Foto: HUMAS UNIMAL)

NUKILAN.ID | LHOKSEUMAWE – Universitas Malikussaleh (Unimal) meliburkan kegiatan perkuliahan pada Rabu dan Kamis, 26–27 November 2025. Keputusan tersebut disampaikan menyusul kondisi cuaca ekstrem sejak 23 November 2025 yang menyebabkan banjir di Kota Lhokseumawe dan Kabupaten Aceh Utara.

Pihak kampus menyebut kebijakan ini diambil untuk menjaga keselamatan dan kenyamanan seluruh sivitas akademika.

Dilansir Nukilan.id dari keterangan yang diunggah melalui akun Instagram resmi @univ.malikussaleh, disampaikan bahwa semua Kegiatan perkuliahan pada hari Rabu dan Kamis pada tanggal 26 sampai dengan 27 November 2025 diliburkan sementara.

“Rektor menetapkan semua Kegiatan perkuliahan pada hari Rabu dan Kamis pada tanggal 26 sampai dengan 27 November 2025 diliburkan sementara,” tulis akun tersebut pada tanggal 25 Noveember 2025.

Unimal turut mengimbau mahasiswa serta dosen untuk tetap berhati-hati dan mengikuti perkembangan informasi resmi kampus. Informasi lebih lengkap mengenai pengumuman ini dapat diakses melalui website unimal.ac.id. (XRQ)

Reporter: AKIL

Banjir Meluas di Aceh Utara, Sawah hingga Fasilitas Publik Terendam

0
Ilustrasi sekolah terendam banjir di SD Tanah Jambo Aye, Kecamatan Tanah Jambo Aye, Kabupaten Aceh Utara, Minggu (23/11/2025)(FOTO: KOMPAS.COM/MASRIADI SAMBO)

NUKILAN.ID | LHOKSUKON – Banjir yang melanda Kabupaten Aceh Utara, Aceh, sejak beberapa hari terakhir kini meluas hingga mencakup delapan kecamatan. Luapan air merendam ratusan hektare area persawahan, tambak, hingga sejumlah perkantoran.

Kawasan terdampak berada di Kecamatan Tanah Jambo Aye, Seunuddon, Baktia Barat, Langkahan, Samudera, Syamtalira Aron, Lapang, dan Muara Batu. Banjir dipicu pendangkalan sungai dan muara sehingga air meluap saat intensitas hujan meningkat.

“Banjir menyebabkan terendamnya 616 hektare sawah, 555 tambak, sejumlah infrastruktur dan fasilitas publik, sekolah, perkantoran, tempat ibadah, dayah, rumah warga, serta akses jalan di sejumlah lokasi,” ujar juru bicara Pemerintah Aceh Utara, Muntasir Ramli kepada Nukilan.id, Selasa (25/11/2025).

Menurut laporan pemerintah daerah, total warga terdampak mencapai 4.555 orang. Dari jumlah tersebut, 1.754 jiwa terpaksa mengungsi ke lokasi yang lebih aman. BPBD Aceh Utara bersama sejumlah instansi saat ini terus melakukan evakuasi dan koordinasi penanganan.

“Bupati telah menginstruksikan tenaga kesehatan untuk melakukan pengecekan secara berskala kondisi kesehatan para pengungsi, terutama ibu hamil, anak-anak, balita, lansia, dan disabilitas,” tambah Muntasir.

Bupati Aceh Utara, Ismail A Jalil atau Ayah Wa, juga telah menyalurkan bantuan masa panik sejak Minggu (23/11) ke sejumlah titik pengungsian. Bantuan itu mencakup beras, sarden, mi instan, makanan anak-anak, minyak goreng, air mineral, telur ayam, kecap, saus, dan roti. (XRQ)

Reporter: AKIL