Beranda blog Halaman 162

Prabowo Tinjau Kerusakan Jembatan Pante Dona yang Terputus Akibat Banjir Bandang di Aceh

0
Presiden Prabowo Subianto meninjau langsung Jembatan Pante Dona di Kabupaten Aceh Tenggara, Senin (1/12/2025). Jembatan tersebut putus total akibat banjir besar yang melanda Aceh. Hanya setengah rangka baja yang tersisa, ketika sebagian lainnya sudah jatuh di bawah sungai yang masih mengalir deras. (FOTO: Dok. Biro Pers, Media, dan Informasi Sekretariat Presiden)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Presiden Prabowo Subianto meninjau langsung kondisi Jembatan Pante Dona di Kabupaten Aceh Tenggara, Senin (1/12/2025). Infrastruktur ini putus total setelah banjir besar melanda Aceh dalam beberapa hari terakhir. Kini, hanya setengah rangka baja yang masih berdiri, sementara bagian lainnya hanyut terseret arus sungai yang masih mengalir deras.

Kerusakan parah pada jembatan tersebut menyebabkan ribuan warga terisolasi dan menghambat jalur logistik. Menurut siaran pers Sekretariat Presiden, Prabowo bergerak menuju lokasi sesampainya di Aceh untuk melihat langsung dampak kerusakan.

Arus banjir yang kuat menyeret material jembatan hingga membuat struktur penopang ambruk. Dari empat jembatan baja yang terdampak, Jembatan Pante Dona menjadi yang mengalami kerusakan terburuk. Saat berada di lokasi, Prabowo menelusuri tepian jembatan sambil memperhatikan kondisi konstruksi yang roboh. Ia juga berdiskusi dengan jajaran pemerintah terkait mengenai langkah percepatan pembangunan akses darurat agar mobilitas warga segera pulih.

Presiden menegaskan pentingnya memprioritaskan pembangunan kembali jembatan permanen agar aktivitas transportasi dan ekonomi masyarakat bisa kembali berjalan. Usai peninjauan, ia menyempatkan diri menyapa warga yang menunggu di sekitar lokasi. Seorang warga mewakili masyarakat Aceh Tenggara menyampaikan rasa terima kasih sambil berkata, “Presiden Prabowo, terima kasih sudah datang di Bumi Sepakat Segenep.”

Sementara itu, bencana banjir bandang dan tanah longsor melanda sejumlah wilayah di Sumatera, termasuk Aceh, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara. Berdasarkan data sementara BNPB, total korban meninggal dunia mencapai 442 jiwa, sementara 402 orang masih hilang.

Di Sumatera Utara, korban meninggal tercatat sebanyak 217 jiwa setelah tim SAR menemukan sejumlah korban yang sebelumnya hilang. Korban tersebar di Tapanuli Tengah, Tapanuli Selatan, Kota Sibolga, Tapanuli Utara, Humbang Hasundutan, Pakpak Barat, Kota Padang Sidempuan, Deli Serdang, dan Nias. Adapun korban hilang bertambah menjadi 209 orang seiring banyaknya laporan keluarga yang kehilangan anggota keluarga.

Di Aceh, tercatat 96 korban meninggal dan 75 orang hilang hingga Minggu (30/11/2025). Korban tersebar di Bener Meriah, Aceh Tengah, Pidie Jaya, Bireuen, Aceh Tenggara, Aceh Utara, Aceh Timur, Lhokseumawe, Gayo Lues, Subulussalam, dan Nagan Raya. Jumlah pengungsi mencapai 62.000 KK.

Di Sumatera Barat, jumlah korban meninggal mencapai 129 jiwa, 118 orang hilang, dan 16 mengalami luka-luka. Korban tersebar di Kabupaten Agam, Kota Padang Panjang, Kota Padang, Padang Pariaman, Tanah Datar, Pasaman Barat, Pasaman, Solok, Kota Solok, dan Pesisir Selatan.

Tim gabungan dari BNPB, TNI/Polri, Basarnas, kementerian/lembaga, serta pemerintah daerah terus bekerja mempercepat pencarian korban, distribusi logistik, serta pembukaan akses wilayah terdampak. (XRQ)

Komdigi Kirimkan 2 Ton Bantuan untuk Korban Bencana di Aceh

0
Komdigi Kirimkan 2 Ton Bantuan untuk Korban Bencana di Aceh. (Foto: Komdigi)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) Republik Indonesia menyalurkan bantuan seberat 2 ton untuk membantu masyarakat Aceh yang terdampak bencana alam.

Amatan Nukilan.id, penyaluran dilakukan pada Senin di Kantor Gubernur Aceh.

Kepala Balai Monitor Spektrum Frekuensi Radio Kelas II Banda Aceh, Luthfi, mengatakan bahwa bantuan tersebut berasal dari para pemangku kepentingan di lingkungan Komdigi.

“Bantuan yang kita salurkan ini bersumber dari stakeholder Komdigi untuk membantu meringankan beban masyarakat yang terdampak bencana,” ujarnya.

Bantuan diserahkan langsung kepada Ketua Posko Komando Tanggap Darurat Bencana Hidrometeorologi, M Nasir, yang juga Sekda Aceh. Prosesi penyerahan berlangsung di Posko Komando Tanggap Darurat Bencana Hidrometeorologi, Kantor Gubernur Aceh, Banda Aceh.

Luthfi menjelaskan bahwa bantuan tersebut meliputi kebutuhan pangan seperti beras, biskuit, mi instan, air mineral, serta perlengkapan sandang berupa mukena dan kebutuhan bayi. Ia berharap bantuan tersebut dapat segera dimanfaatkan oleh warga yang tengah menghadapi masa sulit.

“Kita berharap bantuan yang disalurkan ini dapat membantu meringankan beban masyarakat korban bencana,” katanya.

Bantuan dari berbagai pemangku kepentingan Komdigi itu rencananya akan dikirimkan ke Aceh Tamiang, yang hingga kini masih terisolasi akibat banjir dan tanah longsor. Pengiriman akan dilakukan melalui jalur laut menggunakan Kapal Basarnas.

Sebagaimana disampaikan Luthfi, “Insya Allah bantuan yang kita salurkan dan diterima langsung Sekda Aceh, M Nasir akan dibawa langsung dengan Kapal Basarnas lewat jalur laut.” (XRQ)

Reporter: AKIL

Lima Penyebar Hoaks Naiknya Air Laut di Pidie Jaya Ditangkap Polisi

0

NUKILAN.ID | MEUREUDU – Satreskrim Polres Pidie Jaya Polda Aceh menangkap lima terduga pelaku penyebar isu bohong atau hoaks terkait naiknya air laut, yang sempat memicu kepanikan warga pada Senin dini hari, 1 Desember 2025, di Desa Lhok Sandeng, Kecamatan Meurah Dua, Kabupaten Pidie Jaya.

Kelima terduga pelaku yang diamankan tersebut adalah DH (38), MN (23), NZ (22), RA (19), dan MR (50). Kelima terduga pelaku yang merupakan warga Pidie Jaya itu sebelumnya diamankan oleh warga, sebelum kemudian diserahkan ke pihak kepolisian.

Kabid Humas Polda Aceh, Kombes Joko Krisdiyanto, menjelaskan bahwa tindakan cepat perlu dilakukan untuk mencegah meluasnya kepanikan di tengah kondisi masyarakat yang sudah sangat terdampak bencana banjir. Kelima terduga pelaku tersebut kini telah ditahan di Polres Pidie Jaya untuk proses pemeriksaan lebih lanjut.

“Situasi banjir yang melanda Aceh saat ini sudah cukup membuat warga cemas. Penyebaran informasi palsu seperti isu naiknya air laut dapat memperparah kepanikan dan membahayakan keselamatan masyarakat. Karena itu, Polri harus bertindak tegas agar kepanikan tidak meluas,” ujar Kombes Joko dalam rilisnya, Senin, 1 Desember 2025.

Ia menambahkan bahwa kepolisian terus mengimbau masyarakat untuk tidak menyebarkan informasi apa pun sebelum mendapat kepastian dari sumber resmi. Dalam masa bencana, ujar Joko, stabilitas psikologis masyarakat sangat rentan, sehingga hoaks dapat menimbulkan dampak yang lebih luas.

Pihaknya juga memastikan bahwa penanganan terhadap para terduga penyebar hoaks dilakukan secara profesional dan tetap mengedepankan asas keadilan. Di sisi lain, aparat di lapangan terus bersinergi dengan pemerintah daerah, TNI, dan para relawan untuk fokus pada evakuasi, distribusi bantuan, serta pemulihan kondisi warga terdampak banjir.

“Kami meminta masyarakat tetap tenang, saling membantu, dan selalu mencari informasi melalui jalur resmi. Di tengah bencana seperti ini, kebersamaan dan ketahanan sosial menjadi kunci,” tutup Joko. []

Anggaran HIV di Aceh Hanya Rp 24 Juta, Dinkes Akui Belum Cukup

0
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Aceh, dr. Iman Murahman, Sp.KKLP, MKM. (Foto: For Nukilan)

NUKILAN.id | Banda Aceh – Alokasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Aceh (APBA) untuk program pencegahan dan penanggulangan HIV/AIDS (P2 HIV) tahun 2025 dinilai sangat memprihatinkan. Anggaran yang dialokasikan hanya sebesar Rp 24.160.000, sementara kebutuhan program jauh lebih besar dan lebih banyak ditopang pemerintah pusat.

Hal tersebut terungkap dalam kegiatan Media Briefing untuk Mengkampanyekan Upaya Pencegahan dan Penanggulangan HIV/AIDS dan PMIS di Aceh Tanpa Stigma dan Diskriminasi yang digelar di Banda Aceh, Senin (1/12/2025).

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Aceh, dr. Iman Murahman, Sp.KKLP, MKM, mengakui bahwa anggaran yang tersedia saat ini belum mencukupi kebutuhan program.

“Belum sesuai, tapi terus kita advokasi,” ujarnya kepada media, termasuk Nukilan.

Berdasarkan paparan dalam kegiatan tersebut, sumber pendanaan program P2 HIV Dinas Kesehatan Aceh tahun 2025 terdiri dari tiga komponen. Dukungan logistik dan obat-obatan lebih banyak ditopang oleh pemerintah pusat melalui APBN. 

Selain itu, bantuan dari Global Fund (GF-ATM) mencapai Rp 482.799.140, jumlah yang jauh lebih besar dibandingkan kontribusi APBA.

Minimnya alokasi APBA tersebut memunculkan pertanyaan terkait keseriusan Pemerintah Aceh dan DPRA dalam menangani persoalan HIV/AIDS yang masih menjadi ancaman serius bagi kesehatan masyarakat.

Meski menghadapi keterbatasan anggaran, Iman menegaskan bahwa pihaknya terus melakukan upaya pencegahan melalui berbagai saluran. Sosialisasi dilakukan melalui media sosial yang dikelola bidang promosi kesehatan (promkes).

Ia juga menaruh harapan besar pada peran edukasi bagi generasi muda sebagai kunci pencegahan HIV/AIDS di masa depan.

“Saya sangat positif, supaya anak-anak remaja ini benar-benar terpelajar dan tercegah dari HIV. Bahkan hal ini sudah saya sampaikan juga kepada pihak DPRA,” tambahnya.

Reporter: Rezi

Warga Aceh Tamiang Mengaku Belum Makan Selama Empat Hari, Terpaksa Minum Air Banjir

0
Ilustrsi Warga terdampak bencana banjir bandang dan longsor di Kabupaten Aceh Tamiang belum mendapatkan bantuan. (FOTO: ANTARA)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Warga yang terdampak banjir bandang dan longsor di Kabupaten Aceh Tamiang mengaku belum menerima bantuan sejak bencana melanda wilayah tersebut. Kondisi ini membuat warga mengalami krisis pangan dan air bersih.

Irwan, Jurnalis Transmedia yang turut menjadi korban banjir, mengatakan bahwa mereka sudah beberapa hari bertahan tanpa makanan dan bantuan apa pun.

“Kami sudah 3-4 hari belum makan. Kalau mengenai bantuan sama sekali kami belum ada menerima. Apapun bantuan kami belum ada terima,” ujar Irwan, Selasa (2/12/2025).

Menurut Irwan, situasi di lapangan sangat memprihatinkan. Warga terpaksa mengonsumsi sisa-sisa makanan yang terseret arus banjir untuk bisa bertahan hidup.

“Kami ambil seperti Indomie yang sudah basah. Kami panasi, kami rebus, kami makan,” katanya.

Krisis air bersih juga menghantui para penyintas. Irwan menyebut sebagian warga bahkan harus memanfaatkan air banjir yang diolah seadanya untuk minum.

“Kami sangat kehausan, untuk bertahan hidup, kami harus ambil air minum dari banjir itu. Kami panasi, kami minum bersama keluarga,” ujarnya.

Irwan menambahkan, beberapa hari lalu masih ada swalayan yang beroperasi, namun kini seluruh stok kebutuhan pokok telah habis. Hingga saat ini, warga terdampak belum menerima bantuan langsung.

“Karena sampai saat ini juga Bupati Aceh Tamiang belum terlihat. Kami mencari-cari bantuan, kami tidak tahu di mana. Tapi kemarin Kapolda Aceh ada datang ke Aceh Tamiang membawa bantuan tapi kami tidak dapat. Karena ini menyeluruh di Aceh Tamiang yang terkena, yang berdampak banjir ini,” tuturnya.

Warga berharap bantuan segera disalurkan mengingat kondisi yang semakin darurat dan jumlah penyintas yang terus membutuhkan pertolongan.

Permintaan Tinggi, Beras Bulog dan Telur Langka di Banda Aceh

0
Beras di toko Berkat Rahmat, Banda Aceh. (Foto: Nukilan/Rezi)

NUKILAN.id | Banda Aceh – Stok beras Bulog mulai menipis di sejumlah toko bahan pokok di Banda Aceh. Kondisi ini terjadi seiring tingginya permintaan warga, terutama di tengah situasi bencana banjir yang melanda Aceh dan Sumatera Utara.

Rahmat, pemilik toko beras Berkat Rahmat di Jalan Syiah Kuala, Banda Aceh, mengungkapkan bahwa stok beras Bulog di tokonya telah habis sejak kemarin. 

“Untuk stok beras saat ini masih aman, tetapi stok beras Bulog sudah habis sejak kemarin. Kita tidak tahu kapan akan masuk lagi beras Bulog karena kondisi saat ini,” kata Rahmat kepada Nukilan di tokonya, Senin (01/12/2025).

Menurutnya, warga berburu beras Bulog karena harga yang terjangkau. Harga normal beras Bulog seberat 5 kilogram dijual Rp65 ribu, namun ia menjualnya Rp62 ribu dengan mengambil untung tipis. 

“Warga memilih beras Bulog karena harganya terjangkau. Kita tidak tahu kapan akan masuk lagi, tergantung dari Bulognya,” katanya.

Untuk beras jenis lain, Rahmat menjual beras premium 15 kilogram seharga Rp235 ribu, ada pula yang Rp225 ribu. Sedangkan beras kualitas standar 5 kilogram dijual dengan kisaran harga Rp75 ribu, Rp80 ribu, dan Rp85 ribu.

Rahmat mengaku baru saja menerima pesanan borongan 100 karung beras untuk korban banjir di Aceh Utara. Meski permintaan tinggi akibat bencana, ia tetap mempertahankan harga normal dan tidak menaikkan harga. 

“Kita takut pelanggan kita lari kalau kita naikkan harga beras,” ungkapnya.

Ia menambahkan, selama kondisi bencana saat ini, omset di tokonya masih stabil, tidak ada penurunan dan tidak terpengaruh bencana. Hanya saja, stok beras Bulog yang sangat langka menjadi kendala.

Selain beras, Rahmat juga menjual minyak goreng Minyakita seharga Rp18 ribu hingga Rp19 ribu, dan minyak curah dijual Rp19 ribu hingga Rp20 ribu per kilogram.

Di sisi lain, kelangkaan juga melanda komoditas telur ayam. Rizal, pedagang di Pasar Al Mahirah, mengatakan harga terakhir telur yang ia jual mencapai Rp100 ribu per papan. 

“Saat ini telur sudah habis stok,” katanya.

Kondisi serupa juga ditemukan di kawasan Peunayong. Berdasarkan penelusuran, stok telur di pedagang kawasan tersebut juga kosong.

Reporter: Rezi

Mahasiswa Aceh Kecam Pemerintah Soal Respons Bencana: Urat Kepekaan Telah Mati

0
Mahasiswa Aceh Kecam Pemerintah Soal Respons Bencana: “Urat Kepekaan Telah Mati”

NUKILAN.ID | BANDA ACEH — Gelombang kritik tajam datang dari kalangan mahasiswa terkait lambannya penanganan bencana besar yang melanda Aceh dan sejumlah provinsi di Sumatra. Dua mahasiswa UIN Ar-Raniry, Robi Bayu Ardiansyah dan Azzumardi Azra, melontarkan kecaman keras kepada Pemerintah Pusat maupun Daerah yang dinilai gagal menunjukkan empati dan kecepatan tindakan di tengah krisis kemanusiaan.

Robi menilai respons pemerintah terhadap bencana yang menimbulkan ratusan korban jiwa itu mencerminkan sikap abai. Kepada Nukilan.id, ia menegaskan bahwa masyarakat kini berjuang sendiri menyelamatkan diri di tengah situasi yang terus memburuk.

“Sungguh memalukan melihat bagaimana pemerintah seolah tidak memiliki urat kepekaan sedikit pun terhadap bencana besar yang melanda Aceh dan Sumatra. Ketika masyarakat berjuang menyelamatkan diri dari puing-puing kehancuran, pemerintah justru sibuk berpangku tangan,” tegas Robi Bayu Ardiansyah.

Status Bencana Nasional yang Tertunda

Kritik paling keras diarahkan pada lambannya penetapan status bencana nasional. Robi menilai pemerintah “berpikir panjang” tanpa alasan jelas, padahal skala tragedi telah menunjukkan urgensi penanganan cepat.

“Penundaan yang tidak masuk akal ini membuat kondisi di lapangan semakin memburuk, korban terus bertambah, bantuan tersendat, dan masyarakat dibiarkan menanggung penderitaan tanpa kejelasan,” ujarnya.

Robi menambahkan, sikap pura-pura tidak tahu dan ketidakpedulian semacam itu bukan hanya menyakitkan, tetapi juga menunjukkan kegagalan pemerintah dalam menjalankan amanat kemanusiaan serta kewajiban konstitusional.

Ia menuntut tindakan cepat dan konkret. Nyawa manusia bukan angka statistik yang bisa ditunda penanganannya, dan tragedi sebesar ini tidak boleh dibiarkan menjadi bukti bahwa negara gagal hadir ketika rakyat paling membutuhkan.

Kritik Etika Kekuasaan

Azzumardi Azra menyoroti aspek etika kekuasaan dalam penanggulangan bencana. Ia menilai respons pemerintah menunjukkan pola birokratis yang menghambat kecepatan penanganan, mulai dari prosedur berbelit hingga minimnya inisiatif.

“Bencana menuntut kecepatan aksi dan kehadiran yang empatik. Jika bantuan dasar baru tiba setelah tiga hari dan evakuasi bergantung pada perahu rakyat, ini menunjukkan adanya defisit partisipasi yang akut. Kekuasaan yang tidak bergerak cepat dalam krisis kemanusiaan telah kehilangan legitimasi etisnya,” ujar Azzumardi.

Menurutnya, apa yang terjadi saat ini bukan sekadar bencana alam musiman, tetapi rapor merah bagi kepemimpinan daerah maupun pusat. Ia menyebut pemerintah telah gagal memenuhi tanggung jawab moral dan konstitusional terhadap keselamatan warga.

Seruan Mitigasi Jangka Panjang

Dalam pernyataannya, Azra menegaskan bahwa partisipasi pemerintah tidak boleh direduksi sebatas pembagian bantuan instan pascabencana. Ia menuntut partisipasi sejati yang menyasar akar persoalan melalui mitigasi struktural.

Tiga tuntutan yang disampaikan mahasiswa adalah:

  1. Audit lingkungan mendalam, terutama terhadap izin perkebunan dan pertambangan yang merusak daerah resapan air.

  2. Penegakan hukum menyeluruh untuk memberantas praktik illegal logging yang dinilai memicu longsor dan banjir bandang.

  3. Pengalokasian anggaran pro-mitigasi yang signifikan, transparan, dan fokus pada infrastruktur pencegahan, bukan hanya penanganan darurat.

Azra menutup dengan seruan agar pemerintah bertindak berdasarkan etika kekuasaan yang mengedepankan kemanusiaan dan mengambil langkah radikal agar tragedi tidak terus berulang.

Update Korban Jiwa

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan peningkatan jumlah korban jiwa akibat banjir dan longsor di Sumatra hingga 30 November 2025 malam. Total korban meninggal dunia mencapai 442 orang, sementara 402 orang masih dinyatakan hilang.

Rinciannya sebagai berikut:

  • Sumatera Utara: 217 meninggal, 209 hilang

  • Sumatera Barat: 129 meninggal, 118 hilang, 16 luka-luka

  • Aceh: 96 meninggal, 75 hilang

Data ini menunjukkan betapa mendesaknya penanganan bencana dan semakin menguatkan kritik mahasiswa tentang perlunya respons cepat dan sensitif dari Pemerintah. (XRQ)

Reporter: Akil

Mata Garuda Aceh Kirim Bantuan untuk 47 Desa Terdampak Banjir

0
Mata Garuda Aceh Kirim Bantuan untuk 47 Desa Terdampak Banjir. (Foto: For Nukilan)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH — Mata Garuda Aceh bergerak cepat merespons banjir yang melanda sejumlah wilayah di Aceh. Mengandalkan jaringan relawan di tingkat akar rumput, organisasi ini berhasil menyalurkan bantuan darurat ke 47 desa di enam kabupaten pada hari kedua masa tanggap darurat. Wilayah tersebut meliputi Aceh Utara, Pidie, Pidie Jaya, Aceh Timur, Lhokseumawe, dan Bireuen. Bantuan diantar langsung ke desa-desa yang terisolasi akibat kerusakan akses dan cuaca ekstrem.

Sejak donasi dibuka, dukungan publik yang terkumpul mencapai Rp85.501.000. Hingga 1 Desember 2025 pukul 05.48 WIB, sekitar Rp81.000.000 atau 94,7 persen telah disalurkan dalam bentuk bahan pangan, perlengkapan darurat, dan kebutuhan pokok lain. Sisanya, sekitar 5,3 persen, disiapkan untuk distribusi selanjutnya. Laporan penggunaan dana akan dirilis setelah masa tanggap darurat berakhir.

Tahap berikutnya akan difokuskan pada wilayah yang belum terjangkau, termasuk Aceh Tamiang dan Langsa, di mana pembentukan tim relawan lokal masih berlangsung untuk mempercepat distribusi bantuan.

Ketua Mata Garuda Aceh, Wildan Sani Rasyid, kepada Nukilan.id menyampaikan apresiasi atas dukungan masyarakat serta menyerukan perhatian lebih dari pemerintah pusat dan organisasi nasional. Ia menegaskan pentingnya solidaritas antardaerah dalam menghadapi bencana.

“Kami berharap pemerintah pusat dan berbagai organisasi nasional terus menunjukkan semangat membantu Aceh. Ini bukan hanya soal Aceh, tetapi soal menjaga solidaritas dan kesatuan bangsa. Ketika satu wilayah mengalami kesulitan, seluruh Indonesia selayaknya hadir bersama,” ungkapnya.

Aksi kemanusiaan ini turut didukung komunitas bisnis, akademisi, diaspora Aceh di luar negeri, serta berbagai individu dan kelompok seperti @Labbelajaribu, Bank Sahabat Sampoerna, @Najlacollection, PK123 LPDP, FJS-LPDP PK125, David, Ratna, dan banyak donatur lainnya.

Mata Garuda Aceh juga membuka ruang kolaborasi dengan berbagai pihak—baik lembaga pemerintah, organisasi masyarakat sipil, komunitas, maupun individu—untuk memperkuat penanganan bencana di Aceh. Informasi dan kerja sama dapat dilakukan melalui Instagram @matagaruda_aceh. (XRQ)

Reporter: AKIL

Pertamina Imbau Warga Tak Lakukan Panic Buying

0
Ilustrasi Pertamina. (Foto: Dok. Mypertamina).

NUKILAN.ID | LHOKSUKON — Pertamina Patra Niaga Regional Sumatera Bagian Utara terus bekerja memulihkan distribusi bahan bakar minyak (BBM) ke berbagai wilayah di Aceh yang terdampak banjir dan longsor. Kendala utama berasal dari akses jalan yang rusak, tergenang, atau terputus sehingga memperlambat pergerakan sejumlah mobil tangki.

Area Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Patra Niaga Sumbagut, Fahrougi Andriani Sumampouw, menyebutkan bahwa meski beberapa daerah masih terisolasi, suplai tetap diupayakan melalui rute alternatif. “Sejumlah wilayah yang terisolasi akibat bencana tetap dilayani kebutuhan BBM-nya melalui jalur distribusi alternatif, dengan suplai dilakukan secara bertahap menyesuaikan kondisi akses mobil tangka,” ujarnya, Minggu (30/11/2025).

Menurut Fahrougi, beberapa armada tangki masih tertahan di ruas jalan yang terendam atau putus, namun kendaraan lain yang dapat bergerak dimaksimalkan untuk memenuhi kebutuhan SPBU prioritas. Pelayanan BBM di sekitar wilayah bencana juga tetap berjalan, bahkan sejumlah SPBU yang memungkinkan beroperasi 24 jam.

Pertamina menegaskan bahwa stok BBM di Aceh secara umum masih mencukupi, dan suplai dari terminal BBM tetap berlangsung menyesuaikan kondisi lapangan. “Kami terus memaksimalkan dan mempercepat distribusi BBM ke seluruh lokasi banjir dan longsor di Aceh,” kata Fahrougi.

Komite BPH Migas, Fathul Nugroho, turut memantau langsung penyaluran BBM di Aceh pada 29–30 November 2025. Ia melihat distribusi dilakukan bertahap sesuai akses yang tersedia. “Dalam kondisi bencana seperti ini, konsumsi BBM yang wajar dari masyarakat sangat membantu agar suplai dapat dibagi secara merata,” ujarnya.

Fathul juga menekankan pentingnya menjaga ketertiban di SPBU. “Kami mengimbau masyarakat untuk tidak melakukan pembelian berlebihan atau panic buying. Pola konsumsi yang terukur akan mempercepat pemulihan pelayanan BBM di Aceh,” tambahnya.

Ia memastikan Pertamina Patra Niaga terus berkoordinasi dengan Pemerintah Aceh, BPBD, aparat keamanan, serta BPH Migas guna memastikan layanan energi tetap berjalan dan pemulihan distribusi dapat dipercepat.

Sebelumnya, banjir juga dilaporkan melanda wilayah Aceh Timur, Kota Lhokseumawe, Kabupaten Bireuen, Kota Langsa, Pidie, Pidie Jaya, dan Aceh Utara.

Pemerintah Pasang 10 Titik Internet Satelit Satria-1 untuk Pulihkan Koneksi di Wilayah Banjir

0
Foto udara pengendara melintasi jalan nasional Medan-Banda Aceh yang terendam banjir di Desa Peuribu, Arongan Lambalek, Aceh Barat, Aceh, Kamis (27/11/2025). Bencana banjir yang melanda 16 kabupaten/kota di Aceh selain berdampak pada ratusan ribu warga juga merusak sejumlah badan jalan dan jembatan sehingga memutuskan akses transpotasi darat. (FOTO: ANTARA)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Banjir bandang yang melanda sejumlah wilayah di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat menyebabkan akses komunikasi terputus di banyak kawasan. Untuk mempercepat pemulihan, Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) menyiapkan sepuluh titik layanan internet darurat berbasis satelit Satria-1.

Menteri Komunikasi dan Digital, Meutya Hafid, menegaskan bahwa layanan ini menjadi prioritas pemerintah untuk menghubungkan kembali warga yang selama beberapa hari terakhir tidak dapat berkomunikasi akibat kerusakan infrastruktur.

“Dengan cara ini, warga dapat kembali terhubung meskipun infrastruktur konektivitas sedang mengalami gangguan,” ujar Meutya dalam keterangan resminya, Senin (1/12/2025).

Meutya menjelaskan bahwa satelit Satria-1, yang mulai beroperasi sejak tahun lalu, memang dirancang untuk menjangkau daerah 3T serta wilayah yang sulit diakses, termasuk saat terjadi bencana besar. Pada Minggu (30/11), Tim BAKTI Komdigi bersama BNPB, Tim SAR, dan TNI telah memobilisasi perangkat ke sejumlah lokasi untuk mempercepat pengoperasian layanan tersebut.

Adapun sepuluh lokasi pemasangan internet darurat Satria-1 berada di:

  1. Bandara Pinangsori/Dr. Fredric Lumban Tobing, Tapanuli Tengah, Sumatra Utara

  2. SMAN 1 Plus Matauli Pandan, Tapanuli Tengah, Sumatra Utara

  3. Dekat Masjid Baitul Gafur, Aceh Utara, Aceh

  4. Command Center, Aceh Tengah, Aceh

  5. Kantor Wali Kota Lhokseumawe, Aceh

  6. Kota Langsa, Aceh

  7. Kabupaten Aceh Timur, Aceh

  8. Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh

  9. Jorong Bukik Malanca, Nagari Malalak Timur, Kecamatan Malalak, Agam, Sumatra Barat

  10. UPT BNPB Regional Sumatera Barat, Kota Padang, Sumatra Barat

Pemerintah juga mengimbau masyarakat untuk tetap waspada, mengikuti arahan tim di lapangan, serta memanfaatkan fasilitas internet darurat ini untuk mengakses informasi resmi selama masa pemulihan.