Beranda blog Halaman 158

Bupati Aceh Selatan Janji Pulang Hari Ini dari Tanah Suci

0
Bupati Aceh Selatan, Mirwan MS. (Foto: Tiktok/@ hajimirwanofficial)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Keberangkatan Bupati Aceh Selatan, Mirwan MS, untuk menunaikan ibadah umrah di tengah bencana banjir bandang dan longsor yang melanda wilayahnya memicu kritik luas. Keputusan tersebut berbuntut pada pencopotannya dari jabatan Ketua DPC Gerindra Aceh Selatan dan rencana pemanggilannya oleh Gubernur Aceh, Muzakir Manaf atau Mualem.

Mirwan dinilai nekat meninggalkan daerah tanpa izin gubernur, meski situasi Aceh Selatan sedang dilanda bencana. Apalagi, bencana hidrometeorologi di Aceh menjadi perhatian nasional, dan beberapa wilayah terdampak jauh lebih parah.

Gubernur Aceh, Mualem, menegaskan bahwa dirinya sudah melarang Mirwan untuk tidak berangkat mengingat kondisi darurat di daerah tersebut. Namun, larangan itu tidak dipatuhi.

“Tidak saya teken (izin perjalanan luar negeri), walaupun Mendagri yang teken ya udah itu terserah sama dia. Tapi kami tidak teken, untuk sementara waktu jangan pergi. Dia pergi juga terserah,” ujar Mualem di Lanud Sultan Iskandar Muda, Aceh Besar, Jumat (5/12/2025) sore.

Ia menambahkan, karena dirinya tidak menandatangani izin tersebut, seluruh proses sanksi menjadi kewenangan Kementerian Dalam Negeri. “Apa Mendagri nanti kasih sanksinya apa,” katanya.

Juru Bicara Pemerintah Aceh, Muhammad MTA, menjelaskan bahwa pengajuan izin Mirwan masuk pada 24 November 2025 dan langsung ditolak karena Aceh sedang berada dalam status darurat bencana hidrometeorologi.

Ia menyebut Aceh Selatan merupakan daerah terdampak paling parah sehingga mereka mencoba menelusuri kabar keberangkatan Mirwan.

“Gubernur telah menegaskan apabila hal tersebut benar adanya, maka beliau akan melakukan teguran kepada Bupati Aceh Selatan,” ujarnya.

Dalam keterangan tertulis yang diterima Nukilan.id pada Jumat (5/12/2025), Mirwan menyebut dirinya telah memantau langsung kondisi banjir sebelum berangkat. Ia mengaku sudah meninjau pengungsian serta memimpin rapat koordinasi lintas OPD.

“Sebelum saya berangkat, saya sudah turun langsung mengecek kondisi masyarakat terdampak banjir dan memastikan seluruh OPD bekerja sesuai alur komando. Dari hasil koordinasi, situasi saat itu terkendali sehingga saya dapat menunaikan nazar saya untuk melaksanakan ibadah umrah,” tulis Mirwan.

Ia menegaskan bahwa keberangkatannya adalah nazar pribadi yang sudah lama direncanakan. Mirwan juga menyinggung surat penolakan izin dari gubernur yang, menurutnya, baru ia ketahui setelah berada di Mekkah.

“Surat dari Gubernur Aceh saya ketahui setelah saya berada di Tanah Suci.
Informasi dari daerah juga terlambat diterima karena jaringan telekomunikasi dan listrik di Aceh Selatan sempat padam akibat gangguan listrik di Aceh. Inilah yang menyebabkan adanya miskomunikasi,” jelasnya.

Meski berada di luar negeri, ia memastikan penanganan banjir tetap berjalan melalui posko utama dan OPD terkait.

“Saya akan segera kembali ke tanah air pada 6 Desember 2025, dan insyaAllah pada hari Minggu sudah tiba kembali di Aceh,” ujar Mirwan. (XRQ)

Reporter: Akil

Dinas Pertanahan Aceh Koordinasi Penanganan Logistik di Nagan Raya

0
Dinas Pertanahan Aceh Koordinasi Penanganan Logistik di Nagan Raya. (Foto: For Nukilan)

NUKILAN.ID | SUKA MAKMUE – Plt. Kepala Dinas Pertanahan Aceh, Dr. M. Nizwar, SH, MH, bersama Sekretaris Dinas, Devi Riansyah, A.Ks., M.Si, melakukan koordinasi dengan Pemerintah Kabupaten Nagan Raya terkait penanganan logistik bagi warga terdampak bencana. Pertemuan berlangsung di Posko Terpadu Tanggap Bencana, Kantor Bupati Nagan Raya, Sabtu (6/12/2025).

Dalam pertemuan itu, Dinas Pertanahan Aceh yang ditunjuk sebagai Koordinator Penghubung Pemerintah Aceh dengan Pemerintah Kabupaten Nagan Raya membahas kebutuhan logistik dan memastikan distribusinya berjalan lancar hingga titik-titik posko pengungsian.

Rapat koordinasi dihadiri Sekretaris Daerah Nagan Raya, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah, unsur Kodim, serta sejumlah SKPD terkait. Pembahasan difokuskan pada identifikasi kebutuhan mendesak di lapangan serta mekanisme pengiriman agar bantuan dapat diterima tepat waktu oleh para pengungsi.

Koordinasi lintas lembaga ini diharapkan memperkuat penanganan bencana dan memastikan tidak ada kendala dalam penyaluran bantuan. Pertemuan berlangsung di ruang Posko Terpadu Tanggap Bencana di bawah koordinasi Pemerintah Kabupaten Nagan Raya.

Bupati Aceh Selatan Dikritik HMP2T karena Berangkat Umrah di Tengah Pemulihan Banjir

0
Ketua Umum HMP2T, T. Ridwansyah. (Foto: Dok Pribadi)

NUKILAN.ID | TAPAKTUAN – Keputusan Bupati Aceh Selatan untuk berangkat umrah saat warga Trumon dan sejumlah kecamatan lain masih berjuang memulihkan diri pascabanjir mendapat sorotan tajam dari Himpunan Mahasiswa Pemuda dan Pelajar Trumon (HMP2T). Organisasi tersebut menilai langkah sang bupati tidak mencerminkan kepekaan kepemimpinan di tengah situasi darurat.

Ketua Umum HMP2T, T. Ridwansyah kepada Nukilan.id menilai keberangkatan itu sebagai ironi moral dan pukulan bagi masyarakat yang masih berkutat dengan proses pembersihan rumah, perbaikan akses, dan pemulihan kehidupan sehari-hari. Bagi Ridwansyah, kekecewaan publik kian berlapis setelah sebelumnya muncul pernyataan bahwa pemerintah daerah tidak mampu menangani banjir Trumon.

“Kami mahasiswa, para pemuda, para relawan, sedang mengumpulkan donasi, mengevakuasi masyarakat, mengangkat lumpur, dan bekerja tanpa tidur. Tapi pemimpin tertinggi daerah ini malah pergi umrah setelah mengaku tak mampu menangani banjir. Maaf, ini bukan soal ibadah, ini soal prioritas dan hati nurani!” tegasnya.

Ridwansyah menyampaikan bahwa tindakan tersebut layak dipertanyakan karena menyangkut sensitivitas, tanggung jawab moral, dan standar kepemimpinan dalam menghadapi masa-masa krisis.

Ia menekankan bahwa keputusan untuk meninggalkan daerah di saat masyarakat masih dilanda kesulitan bukan sekadar pilihan pribadi, tetapi menunjukkan kualitas kepemimpinan yang dipertontonkan kepada publik.

“Di saat rakyatnya masih menyeka air mata, di saat warga Trumon tidak tahu harus tidur di mana, pemimpin yang seharusnya berdiri paling depan malah tidak berada di tempat. Bagaimana mungkin seorang bupati mengangkat tangan, mengatakan tidak mampu, lalu pergi meninggalkan rakyat? Ini bukan teladan ini pengingkaran terhadap amanah,” ujarnya.

HMP2T menegaskan bahwa mereka tidak mempersoalkan ibadah umrah itu sendiri, melainkan waktu dan sikap pemimpin daerah yang dinilai tidak hadir saat masyarakat sangat membutuhkan dukungan.

“Kami ingin kepemimpinan yang punya hati. Kepemimpinan yang hadir di lumpur, bukan hanya hadir di baliho. Kalau pemimpin kami memilih pergi ketika rakyat tenggelam dalam kesulitan, kami sebagai mahasiswa wajib bersuara. Karena diam di tengah ketidakadilan adalah bentuk pengkhianatan terhadap nurani,” tutup Ridwansyah. (XRQ)

Reporter: Akil

Pemuda Trumon Nilai Kepergian Bupati Aceh Selatan ke Tanah Suci Tak Tepat di Tengah Bencana Banjir

0
Asaduddin, salah seorang pemuda Trumon. (Foto: Dok. Pribadi)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH — Asaduddin, salah seorang pemuda Trumon, mengkritisi keputusan Bupati Aceh Selatan yang berangkat menunaikan ibadah umrah saat wilayah tersebut sedang dilanda banjir di sejumlah kecamatan, termasuk Trumon Tengah.

Banjir yang merendam permukiman, merusak fasilitas umum, dan mengganggu aktivitas masyarakat ini dinilai membutuhkan perhatian penuh dari kepala daerah.

“Kami tentu menghargai ibadah dan niat baik beliau. Namun, sebagai pemimpin daerah, prioritas terhadap keselamatan dan penanganan bencana bagi masyarakat seharusnya menjadi hal utama,” ujar Asaduddin kepada Nukilan.

Ia menilai kondisi darurat menuntut pemimpin yang sigap, hadir, dan memberikan arahan langsung di lapangan. Minimnya koordinasi dari pimpinan daerah selama masa krisis, menurutnya, dapat memperlambat proses penanganan, mulai dari pendataan korban hingga distribusi bantuan.

“Kami berharap pemerintah kabupaten dapat menempatkan kepentingan masyarakat sebagai prioritas tertinggi. Kehadiran simbolis seorang pemimpin saat rakyat menderita memiliki dampak besar terhadap efektivitas penanganan dan moral warga,” tambahnya.

Asaduddin juga meminta pemerintah bergerak cepat dengan memperkuat koordinasi lintas instansi, mempercepat penyaluran bantuan, serta mengidentifikasi akar penyebab banjir untuk penanganan jangka panjang.

Di akhir pernyataannya, Asaduddin menegaskan bahwa kritik ini lahir dari kepedulian terhadap masyarakat Aceh Selatan, bukan untuk membatasi ibadah siapa pun. Ia juga menekankan bahwa “kami hanya ingin memastikan bahwa kepemimpinan daerah berjalan sesuai amanah, terutama ketika rakyat sedang membutuhkan, dan juga bupati Aceh Selatan harus meminta maaf kepada seluruh masyarakat Aceh Selatan secara terbuka.” (XRQ)

Reporter: Akil

Umrah di Saat Banjir, Mirwan MS Dicopot dari Ketua DPC Gerindra Aceh Selatan

0
Sekjen Gerindra Sugiono.(FOTO: Dok. Antara)

NUKILAN.ID | JAKARTA – Gerindra resmi memberhentikan Bupati Aceh Selatan Mirwan MS dari jabatannya sebagai Ketua DPC Gerindra Aceh Selatan. Langkah itu diambil setelah Mirwan menuai kritik karena berangkat umrah bersama keluarganya saat wilayahnya sedang dilanda bencana banjir.

Sekjen Gerindra Sugiono menyampaikan bahwa perilaku Mirwan mencerminkan kepemimpinan yang tidak semestinya.

“Tadi saya dilaporkan mengenai bupati Aceh Selatan yang juga merupakan Ketua DPC Gerindra Kabupaten Aceh Selatan. Sangat disayangkan sikap dan kepemimpinan yang bersangkutan,” kata Sugiono kepada wartawan, Jumat (5/12/2025).

Menurut Sugiono, keputusan pemberhentian itu sudah ditetapkan oleh DPP Gerindra.

“Oleh karena itu DPP Gerindra memutuskan untuk memberhentikan yang bersangkutan sebagai Ketua DPC Gerindra Aceh Selatan,” ujarnya.

Sebelumnya, dilansir Nukilan.id dari berbagai sumber keberangkatan Mirwan ke Tanah Suci di tengah kondisi darurat banjir menuai reaksi keras dari Gubernur Aceh Muzakir Manaf atau Mualem. Ia mengaku tidak memberikan persetujuan bagi Mirwan untuk bepergian ke luar negeri.

“Sudah tidak saya teken, walaupun Mendagri yang teken ya sudah itu terserah sama dia. Kami tidak teken untuk sementara waktu jangan pergi, dia pergi juga, terserah,” ucap Mualem dengan nada tinggi di Lanud Sultan Iskandar Muda, Aceh Besar, Jumat (5/12).

Mualem menyerahkan sepenuhnya kepada Menteri Dalam Negeri mengenai sanksi lebih lanjut terhadap Mirwan. Ia menegaskan kembali bahwa dirinya tidak menandatangani izin keberangkatan tersebut. (XRQ)

Reporter: AKIL

Mahasiswa Bakongan Raya–Trumon Raya Sesalkan Sikap Bupati Aceh Selatan yang Umrah Saat Banjir

0
Mahasiswa Bakongan Raya–Trumon Raya Sesalkan Sikap Bupati Aceh Selatan yang Umrah Saat Banjir. (Foto: For Nukilan)

NUKILAN.ID | TAPAKTUAN – Gelombang kekecewaan dari mahasiswa Bakongan Raya dan Trumon Raya terus menguat menyusul beredarnya informasi bahwa Bupati Aceh Selatan berangkat umrah di tengah upaya pemulihan pascabencana banjir besar di Trumon.

Keputusan tersebut dinilai kontra-produktif, terlebih setelah bupati sebelumnya menyatakan tidak mampu menangani banjir yang melanda kawasan itu.

Di saat warga masih berjibaku membersihkan lumpur, memperbaiki rumah yang rusak, dan bertahan dengan logistik terbatas, mahasiswa justru mengambil alih peran di lapangan. Mereka turun langsung menyalurkan bantuan, membuka donasi, hingga mengumpulkan kebutuhan darurat untuk warga terdampak.

Mahasiswa menyebut kondisi ini sebagai ironi, mengingat peran tersebut semestinya dipimpin dan dikoordinasikan oleh pemerintah daerah.

Salah satu mahasiswa Bakongan Raya dan Trumon Raya, Salim Syuhada JA, kepada Nukilan.id menyampaikan kritiknya secara tegas. Ia menyebut tindakan bupati sebagai kegagalan moral.

“Kami di lapangan mengangkat karung bantuan, mengetuk pintu masyarakat, bahkan merogoh kantong sendiri untuk bantu saudara kami di Trumon Raya. Tapi pemimpin kami justru memilih pergi umrah. Bukan ibadahnya yang kami persoalkan — tapi waktu dan prioritasnya. Bagaimana mungkin rakyat sedang tenggelam, sementara pemimpinnya malah menghilang?” ujarnya.

Salim menegaskan mahasiswa tidak sedang mencari sorotan publik, melainkan ingin menunjukkan pentingnya kepekaan moral pemimpin.

“Kalau mahasiswa saja bisa hadir di tengah rakyat tanpa memiliki kekuatan anggaran, mengapa seorang bupati yang punya otoritas dan sumber daya justru memilih pergi? Ini pertanyaan moral yang harus dijawab, bukan disembunyikan,” ungkapnya.

Mahasiswa Bakongan Raya dan Trumon Raya menyimpulkan sikap bupati tersebut menggambarkan lemahnya empati dan kurangnya sense of crisis dalam kepemimpinan daerah. Mereka mendesak bupati memberikan klarifikasi terbuka serta meminta pemerintah kabupaten mengevaluasi penanganan bencana secara menyeluruh.

“Sejarah bukan hanya mencatat derasnya banjir, tapi juga siapa yang hadir dan siapa yang pergi. Dan dalam tragedi ini, rakyat tahu persis siapa yang benar-benar berdiri di sisi mereka,” tutupnya. (XRQ)

Reporter: Akil

IMPS Kritik Keras Bupati Aceh Selatan yang Pergi Umrah Saat Warga Dilanda Banjir

0
Wakil Ketua Ikatan Mahasiswa Pemuda Samadua (IMPS), Ikhsan. (Foto: For Nukilan)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH — Kepergian Bupati Aceh Selatan, Mirwan MS, ke Tanah Suci untuk menunaikan ibadah umrah di tengah banjir besar yang melanda wilayahnya memicu gelombang kritik publik. Banjir akibat luapan Sungai Lae Soeraya merendam ratusan rumah, merusak lahan pertanian, serta memutus akses utama sehingga ribuan warga terjebak tanpa kepastian bantuan.

Kontroversi semakin mencuat setelah beredar surat resmi dari Bupati yang menyatakan ketidaksanggupannya menangani bencana secara mandiri dan meminta tambahan dukungan dari Pemerintah Provinsi Aceh. Isi surat tersebut membuat sebagian warga menilai pemerintah kabupaten tidak mampu mengendalikan situasi darurat.

Kemarahan publik memuncak karena di saat warga berjuang menyelamatkan diri dan harta benda, orang nomor satu di Aceh Selatan justru memilih berangkat umrah.

Wakil Ketua Ikatan Mahasiswa Pemuda Samadua (IMPS), Ikhsan, kepada Nukilan.id menyampaikan kecaman tegas terhadap keputusan tersebut.

“Saat rakyat terendam banjir, pemimpin pergi menunaikan umrah. Ini bukan hanya soal administrasi, tapi moral dan tanggung jawab. Rakyat butuh kehadiran pemimpin di tengah krisis, bukan surat atau ibadah pribadi,” tegas Ikhsan dalam keterangannya pada Jumat (5/12/2025).

Sementara itu, Pemerintah Kabupaten Aceh Selatan melalui BPBD menyatakan telah berupaya membuka akses ke daerah yang terisolasi, membangun jembatan darurat, dan menyalurkan bantuan kepada warga terdampak. Namun, kritik publik menilai bahwa upaya tersebut terasa pincang tanpa kehadiran langsung kepala daerah yang memimpin koordinasi lapangan.

Posisi Mirwan MS sebagai Ketua DPC Partai Gerindra Aceh Selatan juga menjadi perhatian tambahan, karena banyak pihak menilai seorang tokoh politik seharusnya menunjukkan keteladanan pada masa darurat.

Pernyataan publik pun mengeras. Bencana dianggap sebagai ujian bagi rakyat sekaligus menjadi cermin yang menggugurkan mereka yang sejak awal tidak layak disebut pemimpin.

Banjir di Aceh Selatan dilaporkan menelan puluhan korban jiwa dan merusak ratusan rumah. Hingga kini, proses evakuasi dan distribusi bantuan masih berlangsung, sementara warga menantikan hadirnya kepemimpinan yang nyata di tengah musibah. (XRQ)

Reporter: Akil

Mualem Siap Tegur Bupati Aceh Selatan yang Berangkat Umrah Saat Daerah Dilanda Bencana

0
Gubernur Aceh, Muzakir Manaf (Mualem), secara resmi membuka Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) dalam rangka penyusunan Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) Aceh 2025–2029, Rabu (9/7/2025). (Foto: Humas Aceh)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH — Gubernur Aceh Muzakir Manaf atau Mualem sebelumnya sudah menolak permohonan izin perjalanan luar negeri yang diajukan Bupati Aceh Selatan, Mirwan MS, untuk menunaikan ibadah umrah di tengah bencana banjir dan longsor yang melanda wilayah tersebut.

Permohonan itu diajukan Mirwan pada 24 November 2025. Namun, menurut Juru Bicara Pemerintah Aceh, Muhammad MTA, pemerintah provinsi telah memberikan balasan resmi bahwa izin tersebut ditolak.

“Gubernur telah menyampaikan balasan tertulis permohonan tersebut tidak dapat dikabulkan atau ditolak,” ujar Muhammad MTA, Jumat (5/12/2025).

Ia menjelaskan, Aceh Selatan termasuk daerah yang terdampak cukup berat akibat bencana hidrometeorologi. Bahkan, Bupati Mirwan sendiri sudah menetapkan status tanggap darurat penanganan banjir dan longsor di daerahnya.

Akan Diberi Teguran

MTA menyampaikan bahwa Gubernur Aceh berencana memberikan teguran kepada Mirwan karena tidak mengindahkan keputusan penolakan izin tersebut.

“Beliau (Gubernur Aceh) akan melakukan teguran kepada Bupati Aceh Selatan,” kata MTA.

Sebelumnya, Mirwan MS tetap berangkat umrah bersama keluarganya pada Selasa (2/12), lima hari setelah ia menerbitkan surat ketidaksanggupan penanganan tanggap darurat banjir dan longsor bernomor 360/1315/2025, yang dikeluarkan pada Kamis (27/11). Keberangkatan itu menuai kritik dari warga, terutama karena sejumlah masyarakat di wilayah Trumon masih tinggal di tenda pengungsian.

Penjelasan Pemkab Aceh Selatan

Kepala Bagian Protokol dan Komunikasi Pimpinan Aceh Selatan, Denny Saputra, membenarkan keberangkatan Bupati dan istrinya ke Tanah Suci. Ia berdalih bahwa keputusan itu diambil setelah melihat kondisi banjir yang disebut telah berangsur membaik.

“Keberangkatan Bupati Aceh Selatan beserta istri menjalani ibadah umrah ke tanah suci tentunya setelah melihat situasi dan kondisi wilayah Aceh Selatan umumnya yang sudah stabil, terutama debit air yang sudah surut di pemukiman warga pada wilayah Bakongan Raya dan Trumon Raya,” ujar Denny.

Profil Mirwan MS, Bupati Aceh Selatan yang Jadi Sorotan karena Umrah di Tengah Banjir

0
Bupati Aceh Selatan H Mirwan MS. (Foto: RRI)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Nama Bupati Aceh Selatan, Mirwan MS, kembali ramai dibicarakan di media sosial. Ia menjadi sorotan setelah terlihat berangkat umrah sementara sejumlah wilayah di Aceh Selatan masih terdampak banjir.

Sebelumnya, Mirwan juga menjadi perbincangan publik setelah menandatangani Surat Pernyataan Ketidaksanggupan untuk penanganan darurat banjir dan longsor pada Senin, 24 November 2025.

Amatan Nukilan.id, foto kepergian Mirwan ke Tanah Suci diunggah melalui Instagram @almisbahtravel. Keberangkatan itu menuai kritik karena dinilai meninggalkan masyarakat yang sedang menghadapi bencana. Ketua Umum PC Serikat Mahasiswa Muslimin Indonesia (SEMMI) Aceh Selatan, Heriadi, menilai umrah tersebut tidak sesuai dengan prioritas kondisi daerah.

Beberapa wilayah di Aceh dilanda banjir dan longsor pada akhir November hingga awal Desember 2025.

Riwayat Hidup dan Pendidikan Mirwan MS

Mirwan MS lahir di Peulumat, Aceh Selatan, pada 9 Maret 1975. Pendidikan dasarnya ditempuh di SDN 1 Peulumat pada 1983–1989. Ia kemudian melanjutkan ke SMP Labuhanhaji Timur (1989–1992) dan STMN 1 Banda Aceh (1992–1995). Pada tahun 2014, Mirwan meraih gelar Sarjana Ekonomi dari STIEM ISM.

Semasa kuliah, ia aktif dalam sejumlah organisasi. Mirwan pernah menjabat Ketua Kanomat (2004–2006), menjadi penasihat di Yayasan Panti Asuhan Payung Agung (2013–2016), serta pembina di Yayasan Panti Asuhan Mizan (2013–2023).

Ia juga menempuh pendidikan S2 dan memperoleh gelar Magister Sosial pada 2021. Pada periode yang sama, Mirwan tercatat sebagai Pembina Yayasan Panti Asuhan YPI (2019–2023) dan Dewan Penasihat PM Latim (2019–2023).

Karier Politik

Berdasarkan Info Pemilu KPU, Mirwan pernah maju sebagai calon Bupati Aceh Selatan pada Pilkada 2017 namun belum berhasil menang. Ia kemudian membina sejumlah organisasi, seperti Peppas (2022–2025) dan IKAMAS Jakarta (2023–2028).

Pada Pilkada 2024, Mirwan kembali bertarung bersama Baital Mukadis dari Partai Demokrat sebagai pasangannya. Politikus Partai Gerindra itu akhirnya resmi menjabat sebagai Bupati Aceh Selatan periode 2025–2030.

Letak Kabupaten Aceh Selatan

Kabupaten Aceh Selatan berada di wilayah selatan Provinsi Aceh. Secara geografis, daerah ini berbatasan dengan Aceh Barat Daya di bagian selatan, Aceh Tenggara di sebelah barat, serta Aceh Singkil dan Kota Subulussalam di bagian utara. (xrq)

Reporter: Akil

Pemkab Aceh Selatan Jelaskan Alasan Bupati Berangkat Umrah

0
Banjir menggenangi badan jalan nasional Aceh-Sumut di Desa Ladang Rimba, Kecamatan Trumon Tengah, Kabupaten Aceh Selatan, Sabtu (29/11/2025). (FOTO: ANTARA)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH — Pemerintah Kabupaten Aceh Selatan memberikan penjelasan terkait keberangkatan Bupati Aceh Selatan, Mirwan, yang saat ini berada di Tanah Suci untuk menjalankan ibadah umrah. Informasi tersebut menjadi sorotan publik dan ramai dibahas di media sosial karena bertepatan dengan situasi banjir yang melanda Aceh beberapa waktu terakhir.

Sebelumnya, Mirwan telah menerbitkan Surat Pernyataan Ketidaksanggupan dalam penanganan tanggap darurat banjir dan longsor yang terjadi di wilayah Aceh Selatan. Surat itu ditandatangani pada 27 November 2025.

Kepala Bagian Prokopim Pemkab Aceh Selatan, Denny Herry Safputra, menyampaikan bahwa keberangkatan Bupati bersama istri dilakukan setelah mempertimbangkan kondisi daerah yang dinilai telah membaik.

“Tentunya setelah melihat situasi dan kondisi wilayah Aceh Selatan umumnya yang sudah stabil, terutama debit air yang sudah surut di permukiman warga pada wilayah Bakongan Raya dan Trumon Raya,” ujar Denny saat dikonfirmasi, Jumat (5/12/2025).

Ia menegaskan bahwa tidak benar jika disebutkan Bupati meninggalkan daerah ketika bencana masih berlangsung.

“Narasi Bupati meninggalkan rakyatnya ketika bencana banjir melanda, kami sampaikan hal ini tidak tepat,” ucapnya.

Denny menjelaskan bahwa sebelum berangkat, Bupati Mirwan telah beberapa kali meninjau langsung kawasan terdampak banjir, termasuk wilayah Trumon Raya dan Bakongan Raya. Ia juga menyebutkan bahwa Bupati turut mengantarkan bantuan logistik dan memastikan kebutuhan warga tertangani.

“Bantuan dari pemerintah langsung tanpa kurang suatu apa pun,” katanya.

Pemkab menambahkan bahwa sejumlah titik pengungsian telah kosong karena masyarakat sudah kembali ke rumah masing-masing. Hal itu terutama terjadi di Kecamatan Trumon Tengah dan Trumon Timur.

“Terutama wilayah terdampak Kecamatan Trumon Tengah dan Trumon Timur sehingga tidak ada lagi masyarakat wilayah Aceh Selatan yang berada di lokasi pengungsian, demikian kami sampaikan,” tutur Denny.