Beranda blog Halaman 1544

BMKG: Hujan Disertai Angin Kencang Masih Melanda Aceh Hingga 3 Hari ke Depan

0
Ilustrasi Hujan Lebat dan Angin Kencang. (Foto: BNPB)

Nukilan.id – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Aceh menyampaikan hujan dengan intensitas sedang hingga lebat, dan disertai angin kencang masih akan berlangsung hingga 2-3 hari ke depan di wilayah paling barat Indonesia itu.

Hal itu disampaikan Weather Forecaster BMKG Aceh, Stya Juangga Dirta dalam keterangannya kepada Nukilan, Jum’at (30/9/2022).

“Sebagian wilayah Aceh akan hujan dengan intensitas sedang hingga lebat, dan dapat disertai angin kencang yang akan berlangsung hingga beberapa hari kedepan,” katanya.

Stya mengatakan, potensi hujan lebat yang disertai angin kencang ini diprakirakan hampir merata di seluruh wilayah paling barat Indonesia itu.

“Kondisi musim transisi ini juga diperkuat dengan adanya pengaruh/dampak tidak langsung siklon tropis noru yang berada di daratan Vietnam bagian timur yang dapat mempengaruhi dan meningkatnya pertumbuhan awan konvektif,” jelasnya.

Stya menjelaskan berdasarkan prakiraan angin 3000 feet, pemantauannya masih ada belokan angin (shearline) dan juga konvergensi wilayah provinsi Aceh, dan juga diperkuat dengan masih terpantaunya peningkatan suhu muka laut (SST) di Samudera Hindia yang juga berkorelasi terhadap pembentukan awan konvektif/awan hujan di wilayah Aceh.

Selain itu, Stya menyebutkan, untuk perkiraan banjir hingga 1 Oktober 2022. Daerah yang patut diwaspadai ialah Bireuen, Aceh Timur, Kota Langsa, Aceh Utara, Aceh Selatan, Aceh Barat, Kota Banda Aceh, Aceh Tengah, Aceh Singkil, Aceh Tamiang, Subulussalam, Aceh Besar, Lhokseumawe, dan Aceh Jaya.

“Potensi hujan dengan intensitasnya akan menurun seiring dengan melemahnya dampak tidak langsung siklon tropis noru, dan juga selesainya masa transisi,” pungkas Weather Forecaster BMKG Aceh itu. [Wanda]

(Foto: Dok. BMKG Aceh)

 

Tingkatkan SDM Kesehatan, Dinkes Sabang Bekali Dokter dan Perawat Pelatihan Kegawatdaruratan

0

Nukilan.id – Guna meningkatkan kemampuan dan keterampilan SDM Kesehatan dalam menangani kasus kegawatdaruratan, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Sabang bekerja sama dengan Ambulans Gawat Darurat (AGD) 118 melakukan pelatihan Advanced Cardiovascular Life Support (ACLS) bagi Dokter dan Basic Trauma and Cardiac Life Support (BT&CLS) bagi perawat.

Pelatihan dilaksanakan pada 19 s/d 21 September 2022 untuk ACLS, sedangkan untuk BT&CLS dilaksanakan tanggal 20 s/d 29 September 2022.

Sekretaris Lembaga Perintis 119 Aceh, Rizki mengatakan, peserta pelatihan tersebut berasal dari tenaga kesehatan di RSUD Kota Sabang dan Puskesmas wilayah kerja Kota Sabang.

“Lembaga Perintis 119 Aceh ini selaku pelaksana kegiatan untuk mengelola pelatihan kegawatdaruratan yang dilaksanakan oleh AGD 118 di Kota Sabang,” ujar Rizki dalam keterangannya kepada Nukilan, Sabtu (1/10/2022).

Pelatihan tersebut dibuka langsung oleh Kepala Dinas Kesehatan Kota Sabang, dr. Edi Suharto.

“Melalui pelatihan ini diperoleh penguasaan materi dan keterampilan sebagai bekal dalam memberikan pertolongan pada penderita atau pasien dengan kondisi kegawatdarurtan. Dimana diharapkan pelatihan tersebut bisa memberikan bantuan kepada seluruh masyarakat sehingga bisa melakukan praktik nantinya di lapangan,” ujar dr. Edi Suharto saat ditemui di sela-sela kegiatan pada Kamis (29/9/2022).

dr. Edi menyampaikan pihaknya terus melakukan upaya peningkatan SDM Kesehatan dengan berbagai pelatihan yang akan terus dilaksanakan.

Sebab itu, kata dia, sangat diperlukan pengembangan sesuai dengan kompetensinya untuk mempertahankan dan meningkatkan pengetahuan serta keterampilannya.

“Pengembangan staf tersebut dapat diwujudkan dengan adanya pelatihan yang berkelanjutan dan kedepan akan terus melaksanakan pelatihan khususnya bagi tenaga kesehatan,” ujar dr. Edi.

Pada kesempatan tersebut, Koordinator dari AGD 118 Ners. Irawan menyampaikan pelatihan BT & CLS ini sebagai bekal agar mereka mampu memberikan dan menangani kondisi kegawatdaruratan akibat trauma dan kardiovaskular dengan memberikan bantuan hidup dasar untuk dapat menyelamatkan nyawa serta meminimalkan kecacatan dan kerusakan organ.

Pada sesi pelatihan kelas Dinkes Sabang ini, para intruktur yang dihadirkan untuk pelatihan ACLS yaitu dr. Wishnu Pramudito, Sp. B, dr. Arum Ernanti, Sp. An, dan Ns. Agung Sulisa serta untuk BT&CLS yaitu Ns. Muhammad Yusuf, Ns. Junaidi, S.Kep., M.Kep., Ns. Anwar Busyra, S.Kep, M.Kep. Phd (cand) serta beliau sendiri, ujar Irawan.

Untuk diketahui, Yayasan Ambulans Gawat Darurat 118 selaku pelaksana kegiatan pada 30 Agustus 2022 lalu telah mendapatkan Akreditasi A dari BPSDM Kemkes RI, sehingga menjadi institusi pendidikan swasta pertama yang memperoleh akreditasi A dari Dirjen Nakes Kemkes RI.

Ke depan AGD 118 dan Lembaga Perintis 119 Aceh selaku koordinator kegiatan pelatihan AGD 118 di regional Aceh akan terus fokus pada upaya peningkatan kompetensi SDM Kesehatan baik di tingkat RS/ Puskesmas Kabupaten/Kota yang ada di provinsi Aceh. []

1 Oktober Hari Kesaktian Pancasila, Ini Sejarahnya

0

Nukilan.id – Indonesia memperingati Hari Kesaktian Pancasila 1 Oktober sejak 1967. Hari bersejarah ini ditetapkan langsung oleh Presiden ke-2 Indonesia Soeharto.

Tepatnya, melalui Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 153 Tahun 1967 tentang Hari Kesaktian Pancasila.

Berdasarkan Keppres tersebut, pemerintah menetapkan agar Hari Kesaktian Pancasila diperingati oleh seluruh rakyat Indonesia secara khidmat dan tertib.

Namun, tahukah Anda tentang sejarah Hari Kesaktian Pancasila 1 Oktober tersebut? Berikut sejarahnya.

Sejarah Hari Kesaktian Pancasila 1 Oktober

Hari Kesaktian Pancasila diperingati setiap tanggal 1 Oktober untuk mengenang tujuh anggota Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat (TNI AD) yang tewas di Pondok Gede, Jakarta Timur atau dikenal dengan Lubang Buaya pada 30 September 1965.

Mereka terdiri atas:

  1. Jenderal TNI (Anumerta) Ahmad Yani
  2. Letnan Jenderal TNI (Anumerta) R. Soeprapto
  3. Letnan Jenderal TNI (Anumerta) S. Parman
  4. Mayor Jenderal TNI (Anumerta) M.T Haryono
  5. Mayor Jenderal TNI (Anumerta) D.I Pandjaitan
  6. Mayor Jenderal TNI (Anumerta) Sutoyo Siswomiharjo
  7. Kapten Czi (Anumerta) Pierre Andreas Tendean

Tujuh anggota TNI AD tersebut merupakan korban penculikan dan pembantaian kelompok Partai Komunis Indonesia (PKI) atau dikenal juga sebagai Gerakan 30 September 1965. Hal ini menjadi cikal bakal sejarah Hari Kesaktian Pancasila 1 Oktober.

Kala itu, kelompok PKI mendatangi rumah masing-masing korban, kecuali Pierre Andreas Tendean yang tengah berada di rumah Jenderal TNI A.H Nasution dan menjadi korban salah tangkap.

Kelompok PKI itu mengaku sebagai pasukan pengawal Istana (Cakrabirawa). Mereka berdalih akan menjemput para korban karena dipanggil oleh Presiden Soekarno, namun sebenarnya tidak.

R. Soeprapto, Sutoyo Siswomiharjo, S. Parman, dan Pierre Andreas Tendean ikut dengan mereka dalam keadaan hidup. Mereka kemudian dibawa ke sebuah markas di kawasan Pondok Gede, Jakarta Timur.

Setelah tiba di markas itu, keempat anggota TNI AD itu dibunuh. Lalu, mayat mereka dimasukkan ke sebuah sumur tua yang tak terpakai berdiameter 75 sentimeter dengan kedalaman 12 meter.

Sementara Ahmad Yani, M.T Haryono, dan D.I Pandjaitan ditembak di rumah masing-masing. Mayatnya kemudian dibawa ke markas tersebut dan dimasukkan ke dalam sumur tua yang kini dikenal sebagai Lubang Buaya.

Tujuh anggota TNI AD itu tewas pada 30 September 1965 menuju 1 Oktober 1965. Namun, mayat mereka baru ditemukan pada 4 Oktober 1965.

Setelah ditemukan, mayat tujuh anggota TNI AD ini dimakamkan secara kenegaraan di Taman Makam Pahlawan di Kalibata, Jakarta Selatan pada 5 Oktober 1965. Para korban G30SPKI ini kemudian diangkat menjadi Pahlawan Revolusi.

Selang setahun kemudian, Soeharto yang kala itu menjabat Panglima Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Pangkostrad) menetapkan 1 Oktober sebagai Hari Kesaktian Pancasila. Peringatan ini harus diikuti oleh seluruh pasukan TNI AD.

Setahun berikutnya, Soeharto yang telah menjadi Presiden ke-2 Indonesia menggantikan Soekarno, mengeluarkan Keppres 153/1967 yang menetapkan Hari Kesaktian Pancasila sebagai peringatan yang harus diikuti oleh seluruh masyarakat.

Artinya, tak hanya para anggota TNI AD saja. Ini menjadi penegasan terhadap sejarah Hari Kesaktian Pancasila 1 Oktober.

Lantas, apa pentingnya memperingati Hari Kesaktian Pancasila?

Berdasarkan Keppres 153/1967, tewasnya tujuh anggota TNI AD di peristiwa G30SPKI menandakan daya juang para anggota TNI AD atas gerakan-gerakan yang berusaha menghancurkan Pancasila.

Untuk itu, masyarakat Indonesia perlu ikut memperingati Hari Kesaktian Pancasila agar terus mengingat daya juang para Pahlawan Revolusi. [cnnindonesia]

Ulama Besar Yaman Kunjungi Studio Youtube Jalan Ary Official

0

Nukilan.id – Habib Abdullah bin Abdurrahman Al-Muhdhor bersilaturrahmi ke studio youtube Jalan Ary Official yang juga Kantor Dialeksis.com di Banda Aceh, Juma’t (30/9/2022) sore.

Kedatangan Habib Abdullah bersama rombongan disambut hangat oleh pemilik perusahaan media online Dialeksis, Aryos Nivada beserta karyawannya.

Pada kesempatan itu Habib Abdullah berbincang-bincang dalam podcast kanal youtube Jalan Ary Official terkait seputaran syariat islam di Aceh.

Dalam podcast itu Aryos Nivada meminta saran dan masukan dari Habib Abdullah Al-Muhdhor dengan kondisi di Aceh, serta bagaimana cara anak muda terhindar dari pengaruh global yang bisa menurunkan akidah.

Dengan rasa hormat dan bersyukur Aryos mengucapkan terimkasih kepada Habib Abdullah Al-Muhdhor yang telah meluangkan waktunya untuk berkunjung ke kantor Dialeksis dan mengisi podcast.

“Terima kasih kepada Habib Abdullah Al Muhdhor yang telah menyempatkan waktunya berkunjung ke studio Jalan Ary Official. Satu kehormatan bagi kami bahwa studio Jalan Ary Official kedatangan salah seorang ulama besar Yaman dan Guru Besar Rubath Tarim,” pungkasnya.

Reporter: Reji

Rektor UIN Ar-Raniry Mujiburrahman, Lantik 115 Perangkat Rektor Tahap Ke-III

0

Nukilan.id – Rektor Universitas Islam Negeri Ar-Raniry Banda Aceh Prof Dr Mujiburrahman, MAg melantik sebanyak 115 Perangkat Rektor tahap ke-III yang terdiri dari Ketua dan Sekretaris Program Studi serta Ketua Laboratorium pada Fakultas dan Pascasrjana di Lingkungan UIN Ar Raniry.

Prosesi pelantikan dan pengambilan sumpah jabatan tersebut disaksikan wakil rektor bidang akademik dan kelembagaan, Dr Muhammad Yasir Yusuf dan Kepala Biro AAKK Mirwan Fasta, MSi, berlangsung di Auditorium Prof Ali Hasjmy Kopelma Darussalam, Jumat (30/9/2022).

Rektor Mujiburrahman dalam amanatnya mengingatkan kepada pejabat di tingkat prodi yang baru dilantik, bahwa tantangan dipundak para pejabat prodi ke depan bukan tantangan yang kecil, kita akan berjuang dengan baik untuk masa depan lembaga, maka jika di tangan ketua dan sekretaris ini kinerjanya baik maka kita akan memperoleh hasil yang baik.

“Kita akan berjuang untuk pengembangan lembaga, maka jika ditangan bapak/ibu kinerjanya baik maka hasilnya baik, namun jika pada prodi terjadi kendala yang besar, maka ke depan produk UIN Ar-Raniry secara institusional juga akan mengalami kendala banyak. Oleh sebab itu perlu kami sampaikan bahwa di pundak pejabat prodi ini merupakan cerminan UIN Ar-Raniry ke depan itu dipertahuhkan,” ujarnya.

Mujiburrahman menegaskan, kepada pejabat prodi untuk melaksanakan tugas dan amanah dengan sebaik-baiknya, bekerjalah dengan dedikasi, tulus dan ikhlas. Bekerjalah dengan keras dan bekerjalah dengan cerdas serta keluarlah dari kecerdasan normatif dan menuju pola bekerja dengan kecerdasan tranformatif, sehingga semua prodi yang bapak dan ibu nahkodai itu mengalami kemajuan yang pesat di masa mendatang.

Rektor Mujib menyatakan, bahwa prosesi pelantikan bersama pada tingkat prodi ini merupakan tradisi baru yang dilakukan di lingkugan kampus UIN Ar-Raniry.

“Kami meminta kepada Kepala Biro agar para ketua dan sekretaris prodi serta ketua laboratorum juga dilantik secara bersama oleh rektor, sebab selama ini hampir tidak dilakukan pelantikan seperti ini pada tingkat prodi,” katanya.

Selanjutnya Mujib meminta kepada dekan pada masing-masing fakultas dan pascasarjana untuk melakukan prosesi serah terima jabatan dan memberikan piagam Penghargaan Pengkhidmatan kepada para pejabat yang telah mengabdi pada prodi masing-masing fakultas.

Karo AUPK UIN Ar-Raniry Ibnu Sa’dan, MPd menyebutkan, 115 pejabat yang dilantik pada tahap ke-III tersebut terdiri dari atas 53 ketua dan 53 sekretaris prodi serta 9 ketua laboratorium pada pascasarjana dan fakultas di Lingkungan UIN Ar-Raniry.

Ibnu menjelaskan, sebelumnya Rektor Mujiburrahman telah melakukan dua tahap pelantikan perangkat rektor, yaitu pada tahap pertama pelatikan para wakil rektor, dekan, direktur dan wakil direktur pascasarjana ketua lembaga dan kepala pusat.

Selanjutnya, pada tahap kedua rektor juga telah melantik para wakil dekan dan kepala unit pelaksana teknis (UPT), dan prosesi ini merupakan tahap ke tiga yang dilaksanakan rektor UIN Ar-Raniry Banda Aceh. []

Dinkes Aceh Beri Layanan Kesehatan Spesialis di Daerah Pedalaman dan Terpencil

0

Nukilan.id – Dinas Kesehatan Aceh, RSUZA, RSIA, Dinas Kesehatan Aceh Timur, RSU Peureulak, dan wakil dari Fakultas Kedokteran USK melakukan pengabdian masyarakat dalam bentuk pemberian layanan kesehatan spesialis yang gratis pada warga Aceh di Gampong Melidi dan Gampong Pante Kera Kecamatan Simpang Jernih Aceh Timur yang merupakan daerah pedalaman dan terpencil yang selama ini sangat sulit mendapat akses pada layanan kesehatan spesialis sejak tanggal 25-30 September 2022.

Kadis Kesehatan Aceh, dr. Hanif menyebutkan, kegiatan ini sebagai bentuk perhatian dari pemerintah Aceh kepada seluruh warganya meski berada pada daerah yang sangat sulit dijangkau sekalipun.

“Layanan kesehatan spesialis tersebut terdiri dari spesialis THT, Anak, Kandungan, Penyakit Dalam, Gigi dan layanan kesehatan umum,” sebutnya.

Kata dia, antusiasme warga yang mendapat layanan juga tidak terbatas kedua warga Gampong tersebut, bahkan diikuti oleh warga Tampur dari Kabupaten Gayo Lues.

dr. Hanif menambahkan bahwasanya sebelum tutup tahun 2022 berakhir pihaknya akan mengupayakan dua kegiatan yang sama, yakni Manggamat Kabupaten Aceh Selatan dan Pulau Aceh Kabupaten Aceh Besar dengan tim yang sama, tapi juga membuka peluang bagi perusahaan dan privat sektor lainnya untuk terlibat turut serta.

Dalam kesempatan sama, Akademisi Universitas Syiah Kuala (USK), Dr. Nasrul Zaman, ST, M.Kes yang ikut dalam kegiatan tersebut menambahkan, kalau aktifitas ini juga sebagai bentuk keadilan pembangunan dari pemerintah Aceh yang bisa dirasakan warga masyarakat dimana pun berada khususnya dalam layanan kesehatan.

“Kegiatan seperti ini harus mendapat dukungan dari semua pihak dan dapat diupayakan untuk ditambah kuantitas dan periodesasinya,” pungkas Dr. Nasrul. []

13 Pati Polri Mendapatkan Kenaikan Pangkat, Ini Daftarnya

0

Nukilan.id – Sejumlah perwira tinggi (Pati) Polri mendapatkan kenaikan pangkat setingkat lebih tinggi. Berdasarkan surat telegram (TR) dengan nomor STR/722/IX/KEP/2022, 13 Pati Polri naik pangkat baik dari Komisaris Besar (Kombes) ke Brigadir Jenderal (Brigjen) maupun Brigjen ke Inspektur Jenderal (Irjen).

Kepala Divisi Humas Polri Irjen Pol Dedi Prasetyo, membenarkan perihal 13 Pati Polri yang mendapatkan kenaikan pangkat. Ia menuturkan, upacara kenaikan pangkat akan dilaksanakan hari ini, Jumat, 30 September 2022, di Rupattama Mabes Polri.

“Upacara kenaikan pangkat akan dilaksanakan hari ini,” kata Dedi dalam keterangan tertulisnya, Jumat, 30 September 2022.

Dalam TR tersebut, sebanyak 5 pati Polri dari Brigjen naik pangkat menjadi Irjen. Sementara 8 lainnya naik pangkat dari Kombes menjadi Brigjen.

Lima pati Polri yang naik pangkat dari Brigjen ke Irjen yakni Irjen Pol Rudi Pranoto yang menjabat sebagai Widyaiswara Utama Sespim Lemdiklat Polri. Lalu ada Irjen Pol Darmawan yang menjabat sebagai Widyaiswara Kepolisian Utama TK I Sespim Lemdiklat Polri.

Selanjutnya ada Irjen Pol Gusti Ketut Gunawa jabatan Pati Polri (Penugasan pada Lemhanas RI). Kemudian Irjen Pol Agus Nugroho jabatan Pati Polri (Penugasan pada BPOM RI). Kelima Irjen Pol Amos Wau jabatan Pati Polri (Penugasan pada Lemhanas RI).

Adapun 8 pati Polri yang naik pangkat dari Kombes ke Brigjen yakni Brigjen Pol Giri Purwanto jabatan Karotekom Divisi TIK Polri. Brigjen Pol Singgamata jabatan Pati Korlantas Polri (Penugasan pada IPDN).

Brigjen Pol John Carles Edison Nababan yang menjabat sebagai Pati Ditreskrimsus Polda Sumut (Penugasan pada IPDN). Selanjutnya Brigjen Pol Harseno jabatan Pati Baintelkam Polri (Penugasan pada BIN).

Keenam ada Brigjen Pol Ruddi Setiawan jabatan Pati Ditresnarkoba Polda Aceh (Penugasan pada BNN). Kemudian Brigjen Pol Tubagus Ami Prindani jabatan Direktur Pencegahan Densus 88 Antiteror Polri. Delapan ada Brigjen Pol Mahmud Nazly Harahap jabatan Pati Baintelkam Polri (Penugasan pada BIN). [Wanda]

30 September, Melihat Sejarah Hingga Kronologi G30S PKI

0
Ilustrasi G30S PKI. (Foto: kobaran)

Nukilan.id – Gerakan 30 September (G30S) yang dilakukan oleh Partai Komunis Indonesia (PKI) atau dikenal dengan sebutan G30S PKI merupakan bagian dari sejarah Indonesia. Kenapa G30S PKI bisa terjadi, tentunya menjadi pertanyaan banyak orang.

Peristiwa kelam ini juga masih begitu melekat di ingatan masyarakat Indonesia, meski telah lama berlalu.

Kala itu, PKI yang merupakan salah satu partai tertua dan terbesar di Indonesia ini yang berhasil meraih 16,4 persen suara dan menempati posisi keempat di bawah PNI, Masyumi, dan NU.

Lantas seperti apa latar belakang terjadinya peristiwa ini? Berikut ulasannya yang dirangkum dari berbagai sumber.

Kenapa G30S PKI Bisa Terjadi?

G30S PKI terjadi pada 30 September pada malam hingga dini hari dan masuk ke 1 Oktober 1965. Peristiwa ini dimotori oleh pemimpin terakhir PKI yakni Dipa Nusantara Aidit atau DN AIdit.

Gerakan pemberontakan yang dilakukan oleh PKI ini mengincar perwira tinggi TNI AD Indonesia. Tiga dari enam orang yang menjadi target langsung dibunuh di kediamannya. Sementara itu, beberapa lainnya diculik dan dibawa menuju Lubang Buaya.

Keenam perwira tinggi yang menjadi korban G30S PKI antara lain Letnan Jenderal Anumerta Ahmad Yani, Mayor Jenderal Raden Soeprapto, dan Mayor Jenderal Mas Tirtodarmo Haryono.

Ada juga Mayor Jenderal Siswondo Parman, Brigadir jenderal Donald Isaac Panjaitan, dan Brigadir Jenderal Sutoyo Siswomiharjo.

Latar Belakang G30S PKI

G30S PKI dilatarbelakangi oleh dominasi ideologi Nasionalisme, Agama, dan Komunisme (NASAKOM) yang berlangsung sejak era Demokrasi Terpimpin diterapkan, yakni tahun 1959-1965 di bawah kekuasaan Presiden Soekarno.

Hal lain yang menyebabkan mencuatnya gerakan ini adalah ketidakharmonisan hubungan anggota TNI dan PKI. Pertentangan kemudian muncul di antara keduanya.

Selain itu, desas-desus Kesehatan Presiden Soekarno juga turut menjadi latar belakang pemberontakan G30S PKI.

Kronologi G30S PKI

Tindakan dan penyebarluasan ideologi komunis yang dilakukan oleh PKI menimbulkan kecurigaan dari kelompok anti-komunis. Hal tersebut juga mempertinggi persaingan antara elite politik nasional.

Di tengah kecurigaan tersebut, Komandan Batalyon I Kawal Resimen Cakrabirawa Letnan Kolonel Untung yang merupakan pasukan khusus pengawal presiden, memimpin sekelompok pasukan dalam melakukan aksi bersenjata di Jakarta.

Pasukan tersebut bergerak meninggalkan daerah Lubang Buaya pada tengah malam, pergantian Kamis, 30 September 1956 menuju Jumat, 1 Oktober 1965.

Kudeta yang sebelumnya dinamakan Operasi Takari ini diubah menjadi G30S PKI. Mereka menculik dan membunuh dan menculik para petinggi Angkatan Darat.

Selain enam jenderal yang gugur, ada pula ajudan Menhankam/Kasab Jenderal Nasution, Letnan Satu Pierre Andreas Tendean, dan Pengawal Wakil Perdana Menteri II Dr. J. Leimena, Brigadir Polisi Satsuit Tubun.

Salah satu jenderal yang berhasil selamat dari serangan adalah AH Naustion. Namun, putrinya yang bernama Ade Irma Suryani Nasution tidak dapat diselamatkan.

Sementara itu, G30S PKI di Yogyakarta dipimpin oleh Mayor Mulyono menyebabkan gugurnya TNI Angkatan Darat, Kolonel Katamso, dan Letnan Kolonel Sugiyono.

Kolonel Katamso adalah Komandan Korem 072/Yogyakarta, sedangkan Letnan Kolonel Sugiyono adalah Kepala Staf Korem. Keduanya diculik dan gugur di Desa Keuntungan, utara Yogyakarta.

Apa Tujuan G30S PKI?

Tujuan utama G30S PKI adalah menggulingkan pemerintahan era Soekarno dan mengganti ideologi negara Indonesia menjadi komunisme.

PKI sendiri disebut memiliki lebih dari 3 juta anggota dan membuatnya menjadi partai terbesar ketiga di dunia, setelah RRC dan Uni Soviet.

Adapun beberapa tujuan G30S PKI lainnya yang dikutip dari buku Sejarah untuk SMK Kelas IX oleh Pratowo adalah sebagai berikut:

  1. Menghancurkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan menjadikannya sebagai negara komunis.
  2. Menyingkirkan TNI Angkatan Darat dan merebut kekuasaan pemerintahan.
  3. Mewujudkan cita-cita PKI, yakni menjadikan ideologi komunis dalam membentuk sistem pemerintahan yang digunakan sebagai alat untuk mewujudkan masyarakat komunis.
  4. Mengganti ideologi Pancasila menjadi ideologi komunis. Kudeta yang dilakukan kepada Presiden Soekarno tak lepas dari rangkaian kegiatan komunisme internasional.

Itulah latar sejarah kenapa G30S PKI bisa terjadi. Semoga informasi ini dapat bermanfaat. [CNN]

Pangdam IM Terima Kedatangan Mahasiswa Asal Papua

0

Nukilan.id – Pangdam IM Mayjen TNI Mohamad Hasan beserta beberapa pejabat Kodam IM menerima kedatangan para mahasiswa asal Papua yang akan melanjutkan kuliah di Universitas Malikussaleh Lhokseumawe Aceh di Makodam IM, Rabu 28 September 2022.

Para mahasiswa yang datang dari Papua ini merupakan hasil implementasi dari kerja sama yang dibuat antara Universitas Malikussaleh dan TNI AD yang dalam hal ini oleh Kodam IM, dalam hal seleksi dan perekrutan calon mahasiswa penerima program Beasiswa ADik (Afirmasi Pendidikan Tinggi) bantuan dari Pemerintah.

Pangdam IM mengatakan bahwa pihak Kodam IM melalui Satgas BKO Apter dan Satgas Pamtas Penyangga Mobile Yonif Raider 113/SM yang sedang melaksanakan penugasan di wilayah Papua dan Papua Barat turut dilibatkan dalam merekrut calon mahasiswa dari wilayah 3T (Daerah Terdepan, Terpencil dan Tertinggal).

Selain dalam hal perekrutan, Kodam IM juga berkomitmen untuk memberikan dukungan menjadi orang tua asuh bagi mahasiswa Papua yang melaksanakan kuliah di Universitas Malikussaleh, memfasilitasi tempat magang atau kerja praktek mahasiswa dan dosen (seperti kegiatan KKL) serta memfasilitasi kegiatan peningkatan wawasan kebangsaan, bela negara, dan pengabdian kepada masyarakat.

“Ini adalah salah satu bentuk peran aktif TNI AD untuk ikut berperan aktif dalam upaya mencerdaskan kehidupan bangsa, serta ikut mewujudkan terbentuknya agent of change bagi kemajuan yang merata di seluruh bagian Negara Kesatuan Republik Indonesia”, ucap Pangdam IM.

Sementara itu Rektor Universitas Malikussaleh Prof. Dr. Ir. Herman Fithra, ST. MT. IPM. ASEAN Eng yang turut hadir dalam acara tersebut menyampaikan bahwa kerja sama antara pihak kampus dengan Kodam IM ini merupakan bagian dari upaya menyukseskan program Beasiswa ADik dan Kampus Merdeka, sesuai ketentuan dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi.

“Mereka yang datang ini merupakan putra-putri Papua pilihan, yang memiliki potensi akademik namun memiliki kendala-kendala seperti dari keluarga miskin, kondisi keterbatasan akses (afirmasi), terkena dampak bencana, konflik atau kondisi khusus, yang telah mendapat rekomendasi dan verifikasi dari Komando/Satuan Tugas/Pos TNI setempat”, jelas Rektor Unimal.

Sebanyak 10 orang mahasiswa ini berasal dari Kabupaten Puncak Jaya, Wamena dan Jayawijaya Papua yang akan melanjutkan studi jenjang D3 dan S1 di berbagai jurusan dan fakultas yang ada di Universitas Malikussaleh. [Wanda]

Kilas Sejarah: Pembubaran PKI dan Berangnya Presiden Soekarno

0

Nukilan.id – Membubarkan Partai Komunis Indonesia (PKI) menjadi langkah pertama Soeharto tak lama setelah menerima Surat Perintah 11 Maret 1966 (Supersemar) dari Presiden Soekarno.

Saat itu, Soeharto masih duduk sebagai Panglima Angkatan Darat (AD).

Tepat satu hari setelah mengantongi Supersemar yakni 12 Maret 1966, Soeharto, dengan mengatasnamakan Presiden Soekarno, mengeluarkan Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 1/3/1966.

Isinya, membubarkan Partai Komunis Indonesia, termasuk bagian-bagian organisasinya dari tingkat pusat sampai ke daerah beserta seluruh organisasi yang seasas, berlindung, dan bernaung di bawahnya.

Keppres tersebut juga menyatakan PKI sebagai organisasi terlarang di seluruh wilayah kekuasaan negara Republik Indonesia.

Diberitakan Harian Kompas pada 14 Maret 1966, Soeharto kala itu mengaku bahwa penerbitan keppres didasari dari hasil pemeriksaan dan Putusan Mahkamah Militer Luar Biasa terhadap tokoh-tokoh PKI yang dituduh terlibat dalam peristiwa Gerakan 30 September.

Keputusan tersebut lantas diperkuat dengan Ketetapan MPRS Nomor XXV/1966.

Tafsir Soeharto

Supersemar sendiri sedianya berisi dua pokok penting. Pertama, Soekarno memerintahkan Soeharto untuk memulihkan ketertiban dan keamanan umum pasca pembunuhan enam jenderal dan satu perwira Angkatan Darat pada 30 September 1965.

Kedua, Sang Proklamator meminta Soeharto untuk melindungi presiden, semua anggota keluarga, hasil karya dan ajarannya.

Namun, Soeharto tak melaksanakan perintah tersebut dan justru mengambil tindakan sendiri di luar perintah presiden, salah satunya dengan menerbitkan Keppres Nomor 1/3/1966.

Diakui oleh Probosutedjo, adik Soeharto, sebenarnya tidak ada kalimat perintah membubarkan PKI dalam Supersemar.

“Tetapi Mas Harto memiliki keyakinan bahwa pemulihan keamanan hanya akan terjadi jika PKI dibubarkan,” katanya dalam memoar Saya dan Mas Harto, dikutip dari Historia.id.

Buntut ulah Soeharto, terjadi demonstrasi besar-besaran. Soekarno pun murka.

Pada 14 Maret 1966, dia memanggil seluruh angkatan bersenjata ke Istana dan menumpahkan amarahnya. Soekarno bilang, Supersemar tidak pernah dimaksudkan untuk membubarkan PKI.

Namun, berangnya Bung Besar disikapi dengan tenang oleh Soeharto. Empat hari setelahnya, Soeharto justru kembali bergerak, menerbitkan Keputusan Presiden Nomor 5 tertanggal 18 Maret 1966.

Isinya, menahan 15 menteri yang dianggap terkait dengan PKI dan terlibat Gerakan 30 September 1965.

Sebagai gantinya, Soeharto mengangkat lima menteri koordinator ad interim yakni Sri Sultan Hamengkubuwono IX, Adam Malik, Roeslam Abdulgani, KH Idham Chalid, dan J Leimena. Soeharto juga mengangkat beberapa menteri ad interim lainnya hingga terbentuk kabinet baru.

Versi buku biografi Soeharto, penahanan itu dilakukan karena adanya demonstrasi yang menuntut perombakan kabinet.

Para demonstran menduga, sejumlah menteri terindikasi terlibat peristiwa G30S dan dekat dengan PKI. Mereka bahkan meminta menteri-menteri tersebut ditangkap dan diserahkan ke Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Kostrad).

Tiga bulan setelahnya, tepatnya 20 Juni-6 Juli 1966, Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara (MPRS) menggelar Sidang Umum.

Terjadi dua peristiwa besar dalam momen itu. Pertama, ditolaknya pidato pertanggungjawaban Soekarno berjudul Nawaksara. Lalu, ditetapkannya Supersemar melalui TAP MPRS Nomor IX/MPRS/1966.

Soekarno bukannya tinggal diam. Dia sempat mengecam aksi Soeharto yang menurutnya menyalahgunakan Supersemar dengan mengeluarkan pidato berjudul Jangan Sekali-kali Meninggalkan Sejarah alias Jas Merah.

Namun, pidato itu tak berarti banyak. Kekuasaan Bung Karno perlahan mulai digerogoti.

Politisi

Sejarawan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Asvi Warman Adam pernah mengatakan, upaya pembubaran PKI bisa dilihat dari sisi politis dan bukan ideologi.

Menurut Asvi, pembubaran PKI memudahkan upaya perebutan kekuasaan dari tangan Soekarno.

Asvi mengatakan, saat itu Soeharto berupaya memisahkan Soekarno dari orang-orang terdekat dan para pendukungnya yang setia.

“PKI itu pendukung Soekarno. PKI itu dibubarkan bukan karena ideologinya, tetapi karena partai yang mendukung Soekarno,” kata Asvi seperti diberitakan Kompas.com, 6 Maret 2016.

“Kabarnya anggotanya mencapai 3 juta orang. Artinya, 3 juta pendukung Soekarno itu sudah bubar,” tuturnya.

Seolah tak cukup merongrong kekuasaan Seokarno dengan membubarkan PKI dan mengganti para menteri, Soeharto juga membubarkan pasukan pengawal Presiden, Tjakrabirawa.

Mereka dipulangkan ke daerah masing-masing pada 20 Maret 1966. Pemulangan itu dilakukan terhadap empat batalyon dan satuan detasemen atau sekitar 3.000 sampai 4.000 orang.

“Orang-orang yang menjaga dan loyal kepada Soekarno itu disingkirkan. Mereka adalah kekuatan pendukung Bung Karno. Kemudian, tugasnya diserahkan kepada Pomdam Jaya. Seakan Soeharto ingin mengurung dan mengawasi Soekarno, bukan mengamankan,” tutur Asvi.

Hari-hari setelahnya, Soeharto menjadikan Soekarno “tahanan rumah” di Istana Bogor, lalu di Wisma Yaso di Jakarta.

Sang presiden pertama RI pun turun tahta setelah pidato pertanggungjawabannya ditolak MPRS pada 22 Juni 1966.

Tak sampai setahun setelahnya tepatnya Maret 1967, Soeharto ditunjuk sebagai “pejabat presiden”. Soeharto resmi menjabat presiden sejak 26 Maret 1968 dan berkuasa selama 32 tahun lamanya di Indonesia. [Sumber: Kompas]