Beranda blog Halaman 148

Perjalanan Panjang Bupati Aceh Timur Menembus Simpang Jernih Pascabencana

0
Perjalanan Panjang Bupati Aceh Timur Menembus Simpang Jernih Pascabencana (Foto: Tangkapan Layar)

NUKILAN.ID | IDI RAYEUK — Bupati Aceh Timur, Iskandar Usman Al-Farlaky, memimpin langsung rombongan pemerintah daerah menuju Kecamatan Simpang Jernih dalam rangka misi kemanusiaan pascabanjir dan longsor yang melanda wilayah tersebut. Rombongan berangkat pada Senin siang menggunakan 24 kendaraan roda empat dari Pendopo Bupati Idi.

Dari informasi yang diterima Nukilan.id, simpang Jernih menjadi salah satu kecamatan pedalaman yang hingga kini belum sempat dikunjungi langsung oleh Bupati setelah bencana. Sementara sejumlah kecamatan pedalaman lainnya yang juga tergolong sulit dijangkau telah lebih dahulu berhasil ditembus oleh rombongan pemerintah daerah.

Akses darat menuju Simpang Jernih pascabanjir belum sepenuhnya terbuka. Informasi terkait kemungkinan jalur darat baru diterima Bupati pada Minggu, 14 Desember 2025. Meski demikian, perhatian pemerintah daerah tetap diberikan sejak awal. Bantuan cepat tanggap telah lebih dulu disalurkan melalui jalur sungai dengan memanfaatkan kapal motor milik masyarakat setempat serta melalui jalur udara menggunakan helikopter.

Dalam video di sosial medianya, perjalanan darat dari Idi menuju Simpang Jernih yang biasanya dapat ditempuh dalam waktu empat hingga lima jam menjadi jauh lebih lama. Rombongan harus melintasi Kota Langsa dan Kabupaten Aceh Tamiang, yang juga terdampak banjir sehingga kondisi jalan terganggu.

Saat memasuki kawasan Simpang Semadam, rombongan melewati sejumlah gampong yang terdampak cukup parah, salah satunya Desa Babo. Jejak banjir di wilayah tersebut masih sangat terlihat, dengan bekas air yang mencapai dan bahkan melampaui atap rumah warga. Hingga saat itu, belum diketahui secara pasti jumlah korban jiwa di desa tersebut. Rombongan sempat berhenti sejenak sebelum melanjutkan perjalanan.

Unsur Muspika Simpang Jernih kemudian menjemput rombongan dan menuntun perjalanan menuju titik tujuan. Namun, pada pukul 20.24 WIB, rombongan terpaksa berhenti di Dusun Serkil, Desa Batu Bedulang, Kecamatan Bandar Pusaka. Kondisi jalan yang terjal, berlumpur, serta gelap membuat perjalanan tidak memungkinkan untuk dilanjutkan, sementara jarak menuju Simpang Jernih masih tersisa sekitar dua hingga tiga kilometer.

“Ya, tadi kami mengalami sedikit insiden karena jalur yang terjal dan berlumpur. Salah satu kendaraan sempat kehilangan fungsi rem dan terjadi benturan ringan dengan mobil di depan. Mengingat kondisi sudah gelap, kami memilih bermalam di sini dan melanjutkan perjalanan besok,” ujar Bupati Al-Farlaky.

Bupati menjelaskan bahwa target awal rombongan adalah menembus tiga desa untuk menemui langsung masyarakat terdampak, yakni Batu Sumbang, Batu Kera, Bidari, dan Rantau Panjang. Namun, berdasarkan laporan yang diterima, Desa Rantau Panjang hingga kini masih berada dalam kondisi terisolir.

“Besok kita targetkan minimal dua desa harus bisa kita tembus. Dari laporan yang masuk, wilayah tersebut merupakan daerah terparah dan banyak rumah warga yang hilang,” kata Bupati.

Meski medan yang dihadapi cukup berat dan penuh risiko, tekad Bupati untuk menemui langsung warga terdampak tidak surut.

“Kita tidak mundur. Insya Allah akan kita terobos. Besok kita upayakan masuk menggunakan sepeda motor trail dengan bantuan komunitas trail. Misi kemanusiaan ini tetap kita lanjutkan,” pungkas Al-Farlaky. (XRQ)

Reporter: AKIL

Kunjungan Bupati Al-Farlaky Menguatkan Anak-Anak Pengungsi di Pedalaman Aceh Timur

0
Bupati Aceh Timur, Iskandar Usman Al-Farlaky, S.H.I., M.Si., untuk menemui warganya yang terdampak banjir dan longsor. (Foto: Tangkapan Layar)

NUKILAN.ID | IDI RAYEUK — Medan ekstrem di kawasan pedalaman Kecamatan Pante Bidari tidak menyurutkan langkah Bupati Aceh Timur, Iskandar Usman Al-Farlaky, S.H.I., M.Si., untuk menemui warganya yang terdampak banjir dan longsor.

Dilansir Nukilan.id dari video sosial meianya, diketahui bahwa Bupati Aceh Timur tersebut pada Kamis malam, 11 Desember 2025, menempuh jalur Indra Makmur menggunakan mobil double cabin BPBD berpelat BL 1 D guna menjangkau Desa Sah Raja dan Desa Sijudo.

Di tengah sisa genangan dan lumpur yang belum sepenuhnya mengering, kedatangan rombongan disambut senyum anak-anak pengungsi. Mereka berlarian mendekat, sebagian menggenggam tangan orang tua, sebagian lain mengenakan pakaian sederhana. Keceriaan terpancar saat mereka disapa langsung oleh Bupati.

Bupati Al-Farlaky tampak berjongkok dan berbincang dengan anak-anak, menanyakan kabar, sekolah, serta kondisi mereka selama berada di pengungsian. Momen itu menjadi penguat di tengah situasi sulit pascabencana.

“Anak-anak adalah kelompok paling rentan saat bencana. Mereka harus tetap merasa aman dan diperhatikan,” ujar Bupati di sela kunjungan.

Kunjungan tersebut merupakan bagian dari upaya Pemerintah Kabupaten Aceh Timur memastikan kondisi para pengungsi sekaligus menyalurkan bantuan logistik bagi warga terdampak.
“Kunjungan tersebut merupakan bagian dari upaya Pemkab Aceh Timur memastikan kondisi pengungsi, sekaligus menyalurkan bantuan logistik bagi warga terdampak,” kata Al-Farlaky.

Di dua desa tersebut, Bupati meninjau langsung tenda pengungsian, dapur umum, serta ketersediaan kebutuhan dasar masyarakat. Akses yang tidak mudah dan jarak tempuh yang cukup jauh tidak menghalangi langkah orang nomor satu di Aceh Timur itu untuk melihat langsung kondisi rakyatnya.

Seorang warga setempat mengaku terharu atas kehadiran Bupati. “Kami merasa tidak sendiri. Anak-anak senang, kami pun merasa diperhatikan,” ujarnya.

Di akhir kunjungan, Bupati kembali menyempatkan diri menyapa anak-anak pengungsi. Senyum mereka menjadi simbol bahwa kehadiran pemimpin di tengah bencana bukan hanya tentang bantuan, tetapi juga tentang harapan. (XRQ)

Reporter: AKIL

Akses Jalan ke Pantan Cuaca Masih Sulit, Bantuan Logistik Masuk Terbatas

0
Ilustrasi daerah terisolir akibat banjir. (Foto: Antara)

NUKILAN.ID | GAYO LUES – Akses transportasi menuju Kecamatan Pantan Cuaca, Kabupaten Gayo Lues, hingga saat ini masih mengalami kendala akibat kondisi jalan yang sulit dilalui. Sejumlah titik di jalur Blangkejeren–Rikit Gaib–Pantan Cuaca dilaporkan mengalami kerusakan parah akibat material tanah yang turun dari perbukitan.

Kepala Kantor Urusan Agama (KUA) Pantan Cuaca, Rasyidan, mengatakan terdapat beberapa titik kritis yang menghambat mobilitas kendaraan. “Arah dari Blangkejeren menuju Kecamatan Rikit Gaib sampai Pantan Cuaca masih sulit dilalui. Titik pertama berada di sekitar gapura batas Kecamatan Rikit Gaib–Blangkejeren, kemudian di Kampung Tugel Baru tepatnya di depan PT Turki, dan titik ketiga setelah Kampung Cane Uken, Kecamatan Rikit Gaib, yang masih tertutup material tanah dari atas,” ujar Rasyidan kepada Nukilan, Minggu (14/12/2025).

Sementara itu, akses dari Kecamatan Pantan Cuaca menuju Kabupaten Aceh Tengah juga belum dapat dilalui kendaraan bermotor. Jalur tersebut saat ini hanya bisa dilewati sementara dengan berjalan kaki. Meski kondisi akses masih terbatas, bantuan logistik untuk masyarakat terdampak di Pantan Cuaca sudah mulai masuk. Namun, jumlah bantuan yang diterima belum maksimal.

“Bantuan dan logistik ke Pantan Cuaca sudah masuk, meskipun sifatnya masih terbatas,” kata Rasyidan.

Ia berharap penanganan segera dilakukan agar akses jalan dapat kembali normal dan distribusi bantuan ke wilayah Pantan Cuaca dapat berjalan lebih lancar. []

Reporter: Sammy

Medan Ekstrem Hambat Akses Tim Medis ke Desa Terisolasi di Pantan Cuaca

0
dokter spesialis anak Fakultas Kedokteran Universitas Abulyatama (Unaya), dr Aslinar. (Foto: Ist)

NUKILAN.ID | GAYO LUES — Medan yang sulit dan akses terbatas menjadi tantangan utama tim medis dalam menjangkau desa-desa terisolasi di Kecamatan Pantan Cuaca, Kabupaten Gayo Lues. Kondisi tersebut dihadapi tim dokter dan relawan saat memberikan pelayanan kesehatan ke Desa Seneren dan Desa Kuning Kurnia pada Rabu (10/12/2025) lalu.

Dokter spesialis anak Fakultas Kedokteran Universitas Abulyatama (Unaya), dr Aslinar, bersama Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Cabang Aceh, Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) Yogyakarta, Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI), serta sejumlah relawan lainnya, berangkat dari Blangkejeren untuk memberikan penanganan medis dan menyalurkan obat-obatan kepada warga.

“Untuk mencapai Desa Seneren, tim harus menyeberangi sungai yang arusnya deras. Perjalanan kemudian dilanjutkan dengan mendaki bukit yang tinggi dan turunan yang terjal dan ekstrem,” ujar dr Aslinar kepada Nukilan, Minggu (14/12/2025).

Ia menjelaskan, risiko perjalanan semakin tinggi ketika tim harus melintasi infrastruktur yang tidak layak. “Selanjutnya tim harus menyeberangi jembatan gantung sepanjang sekitar 200 meter yang mulai keropos,” katanya.

Perjalanan tidak berhenti di Desa Seneren. Tim kembali melanjutkan langkah menuju Desa Kuning Kurnia yang berjarak sekitar 1,6 kilometer dengan kondisi jalan becek dan berlumpur. Menurut dr Aslinar, letak Desa Kuning Kurnia pada dasarnya sudah terisolasi dari desa sekitarnya karena medan yang ekstrem. Akses ke desa ini semakin sulit dilalui setelah banjir bandang menerjang.

Pada Kamis (11/12/2025), tim bergerak menuju Dusun Lubuk Siyur, Desa Tetingi, Kecamatan Pantan Cuaca. Jarak tempuh mencapai sekitar 8,5 kilometer dari Desa Kuning Kurnia. “Perjalanan menuju ke desa ini juga melewati medan yang berat. Tim harus menyeberangi sungai yang sudah dipasang kayu penghubung kecil, kemudian melanjutkan perjalanan kaki selama 1,5 jam,” kata Wakil Ketua IDAI Cabang Aceh itu.

Kondisi tersebut menggambarkan beratnya tantangan akses pelayanan kesehatan di wilayah terpencil Gayo Lues, terutama pascabencana, yang masih membutuhkan perhatian serius dari berbagai pihak. []

Reporter: Sammy

Warga Meulaboh Datangi Kantor PLN, Protes Listrik Padam Berhari-hari

0
Warga mendatangi Kantor PT PLN ULP Meulaboh Kota, Kabupaten Aceh Barat guna memprotes pemadaman listrik berkepanjangan dan tidak adil, Sabtu (6/12/2025). Hingga Sabtu (13/12/2025) sebagian besar wilayah Aceh masih mengalami pemadaman listrik pascabencana alam banjir bandang pada Sabtu (26/11/2025) lalu. (FOTO: ANTARA/Teuku Dedi Iskandar)

NUKILAN.ID | MEULABOH – Warga Meulaboh, ibu kota Kabupaten Aceh Barat, memprotes pemadaman listrik yang berlangsung berhari-hari tanpa kejelasan. Aksi protes tersebut dilakukan dengan mendatangi Kantor PT PLN ULP Meulaboh Kota pada Sabtu (6/12/2025).

Hingga Sabtu (13/12/2025), sebagian besar wilayah Aceh masih mengalami gangguan listrik pascabencana banjir bandang yang terjadi pada Sabtu (26/11/2025). Kondisi ini memicu kekecewaan masyarakat karena pemadaman dinilai tidak adil dan tidak sesuai jadwal.

“Kami protes karena sangat kecewa dengan layanan PLN karena pemadaman listrik dilakukan berhari-hari tanpa kejelasan. Bahkan pemadaman listrik juga tidak adil, pilih kasih, dan membuat pelanggan kecewa,” kata Deni Setiawan kepada ANTARA, Sabtu.

Menurut Deni, pemadaman listrik di Aceh Barat, termasuk di pusat kota Meulaboh, dilakukan tanpa kepastian waktu dan kerap melenceng dari jadwal yang disampaikan. Ia mencontohkan, di ruas Jalan Teuku Umar dan kawasan tertentu yang terdapat pejabat, aliran listrik justru menyala selama berhari-hari tanpa padam.

Sebaliknya, di sejumlah permukiman warga, listrik padam hingga lima hari dan tidak menyala sama sekali.

Keluhan serupa disampaikan Ona Nuzul Fitri, warga Desa Seuneubok, Meulaboh. Ia menilai pemadaman berlangsung tidak adil karena di kawasan sekitar desanya listrik menyala, sementara di tempat tinggalnya justru padam berhari-hari.

Hal yang sama juga dirasakan Sabrina, warga Desa Suak Ribee, Meulaboh. Ia mengatakan pemadaman listrik di wilayah permukiman telah berlangsung hampir satu pekan.

“Pernah nyala sekali malam hari pukul 21.00 WIB, lalu paginya padam lagi. Sampai hari ini belum menyala lagi,” keluhnya.

Akibat pemadaman berkepanjangan tersebut, warga mengaku kesulitan mendapatkan air bersih, merasa kepanasan, serta tidak dapat beraktivitas secara maksimal. Selain itu, aktivitas ekonomi masyarakat juga ikut terganggu.

Warga juga menyoroti fakta bahwa Aceh Barat dan Nagan Raya merupakan daerah yang memiliki pembangkit listrik terbesar di Sumatera. Namun demikian, kedua wilayah tersebut justru mengalami pemadaman listrik hingga lebih dari dua pekan.

Sementara itu, Pimpinan PT PLN ULP Meulaboh Kota, Rian, mengatakan pemadaman listrik di wilayah Aceh Barat sepenuhnya berada di bawah pengaturan PT PLN Wilayah Aceh.

“Kami hanya bisa setting saja di sini (Aceh Barat), kami setting satu hari hidup dua hari padam atau kami atur 48 jam menyala, lalu setelahnya padam. Tapi sepenuhnya kendali (menyala atau padam) ada di provinsi, diatur di Banda Aceh,” kata Rian.

Ia menjelaskan, pihak ULP Meulaboh Kota hanya melaporkan kondisi serta jadwal pemadaman ke tingkat provinsi, karena keputusan akhir mengenai menyala atau padamnya listrik ditentukan di Banda Aceh.

Rian menambahkan, belum normalnya pasokan listrik di Aceh hingga saat ini disebabkan proses perbaikan jaringan listrik yang belum sepenuhnya rampung akibat kerusakan pascabencana banjir bandang.

Berkaca Pengalaman Tsunami 2004, Pemerintah Aceh Ajak UNDP dan UNICEF Bantu Korban Banjir

0

NUKILAN.ID | BANDA ACEH — Pemerintah Aceh mengajak lembaga internasional untuk turut membantu penanganan korban banjir dan longsor yang melanda sejumlah wilayah di Aceh dalam dua pekan terakhir. Ajakan tersebut disampaikan dengan berkaca pada pengalaman penanganan bencana besar tsunami Aceh 2004.

Juru Bicara Pemerintah Aceh, Muhammad MTA, menyampaikan hingga saat ini sebanyak 1.960 relawan dari 77 lembaga telah terlibat dalam proses pemulihan. Seluruh relawan tersebut tercatat dalam Desk Relawan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan Posko Aceh.

“Mereka merupakan lembaga atau NGO lokal, nasional, dan internasional. Besar kemungkinan keterlibatan lembaga dan relawan akan terus bertambah dalam respons kebencanaan ini,” ujar MTA dalam keterangan tertulis, Minggu (14/12/2025).

Atas nama masyarakat Aceh dan para korban terdampak, MTA menyampaikan apresiasi dan terima kasih dari Gubernur Aceh kepada seluruh relawan yang telah berkontribusi dalam penanganan dan pemulihan pascabencana.

“Kehadiran lembaga dan relawan ini kita harapkan dapat terus memperkuat kerja-kerja kedaruratan dan pemulihan bencana yang sedang berlangsung oleh institusi pemerintahan seperti TNI, Polri, BNPB, BPBA Aceh, Basarnas, Pemda Kabupaten/Kota, ormas/OKP secara mandiri, serta segenap masyarakat Aceh,” ujarnya.

MTA juga memaparkan sejumlah lembaga yang telah terdaftar dalam Desk Relawan BNPB untuk Aceh, di antaranya Save The Children, Islamic Relief, ABF, DH Charity, FKKMK UGM, dan Mahtan Makassar. Selain itu, terdapat pula Relawan Nusantara, Baznas, EMT AHS UGM, Koalisi NGO HAM, Katahati Institute, Orari, Yayasan Geutanyoe, serta sejumlah lembaga lainnya.

“Secara khusus, Pemerintah Aceh secara resmi juga telah menyampaikan permintaan keterlibatan beberapa lembaga internasional, mengingat pengalaman bencana tsunami 2004, seperti UNDP dan UNICEF,” tambah MTA.

Ia menegaskan, berbagai kebijakan strategis dalam upaya pemulihan Aceh akan terus dilakukan di bawah supervisi Pemerintah Pusat. “Mari kita terus bersatu dalam upaya mewujudkan Aceh yang lebih baik, bangkit dari bencana ini,” pungkasnya.

Sementara itu, BNPB melaporkan bahwa jumlah korban meninggal akibat banjir bandang dan tanah longsor di tiga provinsi, yakni Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Selatan, telah melampaui 1.000 jiwa. Berdasarkan Data Dashboard Penanganan Darurat Banjir dan Longsor Sumatera Tahun 2025 di laman Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Bencana (Pusdatin BNPB), tercatat sebanyak 1.003 orang meninggal dunia.

“Rekapitulasi terdampak bencana, meninggal dunia 1.003 jiwa, terakhir diperbarui pada 14 Desember 2025,” tulis data Pusdatin BNPB, yang dilihat Kompas.com pada Sabtu (13/12/2025) pukul 15.00 WIB.

Pertamina Peduli Salurkan 800 Liter Biosolar untuk Operasional RSUD Aceh Tamiang

0
Armada bahan bakar minyak (BBM) Pertamina melintasi jalur terendam banjir dalam perjalanan dari Medan menuju Aceh Tamiang, Selasa (2/12/2025), untuk mendistribusikan bantuan kepada korban terdampak banjir. (Foto: Tim Media Presiden Prabowo)

NUKILAN.ID | KUALA SIMPANG – PT Pertamina (Persero) melalui Patra Niaga Regional Sumatera Bagian Utara (Sumbagut) menyalurkan bantuan bahan bakar minyak (BBM) guna mendukung operasional RSUD Aceh Tamiang. Bantuan tersebut diberikan melalui program Pertamina Peduli sebagai bagian dari tanggung jawab sosial perusahaan.

Sejak rumah sakit mulai beroperasi beberapa waktu lalu, Pertamina Peduli secara rutin memasok 200 liter Biosolar per hari. BBM tersebut digunakan untuk menghidupkan genset PLN berkapasitas 100 kVA dan 66 kVA agar layanan kesehatan tetap berjalan.

Vice President Corporate Communication PT Pertamina (Persero) Muhammad Baron mengatakan, hingga Sabtu (13/12), Pertamina Peduli telah menyalurkan bantuan Biosolar sebanyak empat kali ke RSUD Aceh Tamiang.

“Total sudah kami salurkan 800 liter, dimana bantuan Pertamina Peduli dalam bentuk BBM ini sebagai bagian dari aksi kemanusiaan dalam mendukung opersional rumah sakit yang merupakan fasilitas umum vital dalam memberikan pelayanan kesehatan,” jelas Baron, Minggu (14/12/2025).

Baron menambahkan, upaya pemulihan distribusi energi terus dilakukan secara bertahap dengan melibatkan berbagai pihak. Ia memastikan masyarakat tidak perlu khawatir terhadap ketersediaan BBM.

“Masyarakat tidak perlu panik, karena stok BBM aman, namun pendistribusian perlu waktu karena dilakukan melalui jalur alternatif dan emergency,” ujarnya.

Lebih lanjut, Baron menjelaskan bahwa Pertamina terus berupaya memulihkan distribusi energi di wilayah terdampak pascabencana dengan mengoptimalkan jalur alternatif dan berbagai moda transportasi, serta menerapkan skala prioritas.

“Pemulihan distribusi energi di wilayah terdampak pascabencana terus diupayakan Pertamina bekerja sama dengan berbagai pihak melalui jalur-jalur alternatif dan menggunakan berbagai moda transportasi. Terdapat skala prioritas untuk operasional alat berat, operasional fasilitas layanan publik, rumah sakit, serta mendukung transportasi penyaluran bantuan kemanusiaan bagi masyarakat,” pungkas Baron.

Sebagai perusahaan yang berperan dalam transisi energi, Pertamina berkomitmen mendukung target Net Zero Emission 2060 dan mendorong program yang berkontribusi langsung pada pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs). Komitmen tersebut dijalankan seiring transformasi Pertamina yang berorientasi pada tata kelola, pelayanan publik, keberlanjutan usaha, dan lingkungan dengan penerapan prinsip Environmental, Social & Governance (ESG) di seluruh lini bisnis dan operasional perusahaan.

Pertamina Terapkan Skema Alternatif Jaga Pasokan BBM dan LPG di Aceh Pascabencana

0
Pertamina menyalurkan LPG dengan skid tank atau mobil tangki pengangkut LPG melalui jalur laut menggunakan kapal Ro-Ro dari Lhokseumawe ke Banda Aceh. (FOTO: ANTARA)

NUKILAN.ID | MEDAN — PT Pertamina Patra Niaga Regional Sumatra Bagian Utara (Sumbagut) mengoptimalkan berbagai skema alternatif untuk memastikan distribusi energi tetap berjalan di sejumlah wilayah Aceh pascabencana. Upaya ini dilakukan untuk menjaga ketersediaan BBM dan LPG di tengah keterbatasan akses logistik.

Untuk komoditas LPG, gangguan distribusi terjadi di beberapa wilayah akibat akses darat yang terbatas. Sebagai langkah mitigasi, Pertamina menyalurkan LPG melalui jalur laut menggunakan kapal Ro-Ro dari Lhokseumawe menuju Banda Aceh.

Total pengiriman melalui skema ini mencapai 990 metrik ton LPG guna memenuhi kebutuhan masyarakat dan mempercepat pemulihan distribusi di wilayah terdampak.

Sementara itu, kendala distribusi BBM dilaporkan terjadi di wilayah Aceh Tamiang. Pertamina melakukan penguatan pasokan dengan mengoptimalkan jalur distribusi yang masih memungkinkan agar layanan kepada masyarakat tetap berjalan. Saat ini, dua SPBU di Aceh Tamiang tetap beroperasi dengan dukungan genset karena kondisi kelistrikan yang belum sepenuhnya pulih.

Selain itu, penyaluran BBM juga dilakukan melalui skema canting, yakni distribusi BBM dari drum menggunakan metode sedot manual. Skema ini diterapkan sebagai solusi sementara agar masyarakat tetap dapat memperoleh BBM di tengah keterbatasan sarana operasional.

Pertamina turut mengimbau masyarakat untuk melakukan pembelian BBM secara bijak dan sesuai kebutuhan, serta mengatur waktu pembelian agar tidak dilakukan secara bersamaan.

Area Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagut, Fahrougi Andriani Sumampouw, mengatakan seluruh langkah pemulihan dilakukan secara bertahap dan melibatkan berbagai pihak.

“Pemulihan distribusi energi di wilayah terdampak bencana terus dilakukan bersama berbagai pihak dan difokuskan pada skala prioritas, seperti operasional fasilitas layanan publik, rumah sakit, serta kelancaran penyaluran bantuan kemanusiaan bagi masyarakat,” pungkas Fahrougi.

Danrem 011/Lilawangsa Bantah Tudingan Perampasan Bantuan: Ini Bencana, Jangan Asal Fitnah

0
Komandan Korem (Danrem) 011/Lilawangsa Kolonel Inf Ali Imran. (Foto: For NUKILAN)

NUKILAN.ID | Lhokseumawe — Komandan Korem (Danrem) 011/Lilawangsa Kolonel Inf Ali Imran membantah keras isu yang menuding prajurit TNI merampas bantuan kemanusiaan bagi korban bencana di Aceh. Ia menegaskan, informasi tersebut tidak benar dan berpotensi memicu keresahan di tengah situasi darurat.

“Saya Danrem 011/Lilawangsa, Kolonel Inf Ali Imran, membantah keras atas tuduhan kepada anggota TNI, merampas bantuan yang ada. Salah itu,” tegasnya kepada sejumlah wartawan di Korem 011/Lilawangsa, Lhokseumawe, Minggu (14/12/2025).

Amatan Nukilan.id, Ali Imran menjelaskan bahwa kehadiran TNI dalam proses penanganan logistik merupakan bagian dari pelaksanaan tugas negara. Pengamanan dan pengangkutan bantuan dilakukan atas perintah Menko Polhukam dan BNPB, dengan Korem 011/Lilawangsa ditetapkan sebagai posko bencana.

“TNI hanya menjalankan tugas membantu mengangkat bantuan dari pelabuhan ke posko terpadu yang dipimpin oleh BNPB. Kemudian bantuan ini akan distribusikan ke wilayah-wilayah,” ujarnya.

Menurutnya, mekanisme distribusi bantuan dilakukan secara tertib dan tercatat. Setiap bantuan yang masuk dan keluar didata dengan melibatkan aparat kewilayahan.

“Sistem pengambilan tercatat, barang masuk dan bantuan keluar, kecik, camat datang didampingi Babinsa dan Babinkatibmas ambil bawak,” jelasnya.

Langkah tersebut, kata Ali Imran, dilakukan agar penyaluran bantuan benar-benar adil dan merata bagi seluruh masyarakat terdampak.

“Biar kita bisa mendata dengan jelas, Desa mana yang sudah dapat dan mana yang belum. Jangan sampai terjadi ada desa yang tidak mendapatkan bantuan, misal, ada desa yang mengaku belum dapat bantuan, namun setelah di cek, ternyata sudah berulang kali dapat, sedangkan masih ada desa lain yang belum dapat bantuan, jadi kita atur dengan jelas,” imbuhnya.

Mantan perwira Kopassus itu menegaskan, sejak bencana melanda Aceh, dirinya bersama prajurit TNI terus bekerja tanpa henti membantu masyarakat. Selama tiga pekan terakhir, berbagai upaya dilakukan untuk penanganan darurat hingga pemulihan pascabencana.

“Ya tidak ada niat kami untuk merampas, saya sudah tiga minggu jungkir balik nih, saya orang Aceh, tidak mungkinlah, saya mau merampas bantuan untuk masyarakat saya sendiri,” katanya.

Ia menyebutkan, bantuan diperuntukkan bagi wilayah terdampak di 12 kabupaten/kota dalam wilayah Korem 011/Lilawangsa. Beberapa daerah seperti Bener Meriah, Aceh Tengah, dan Gayo Lues masih mengandalkan jalur udara untuk distribusi logistik.

“Bagi wilayah seperti Gayo Lues dan Aceh Tengah masih menggunkan jalur udara. Kalau habis, nanti darisini malikussaleh kita dorong bawa kesana menggunkan jalur udara. Bahkan saya perintahkan Dandim Aceh Utara, akan membawa secara estapet sampai ke kilometer yang sudah tembus empat dua. Bahkan sekarang dari Bener Meriah sudah banyak turun untuk mengambil bantuan,” terangnya.

Terkait insiden pembegalan bantuan di laut yang sempat viral beberapa hari lalu, Ali Imran menegaskan pihaknya tidak ingin peristiwa serupa terulang kembali.

“Jadi biar jelas siapa yang mengambil dan fitnah itu. Kejadian berapa hari kemarin, padahal turut membawa bantuan dengan Kapal ada TNI, tetapi Dia masih berani, dengan mengatas namakan seseorang, terus ambil. Tidak boleh,” tegasnya.

Ia menambahkan, bantuan yang disalurkan bukan milik pribadi, melainkan berasal dari pemerintah pusat, kementerian, lembaga negara, serta relawan dan donatur dari berbagai daerah.

“Bantuan yang dikirim kesini, itu mereka selalu nanya ke saya, Pak Danrem, saya sudah kiri mini, sampai engak barangnya. Saya pun binggung kemana barang itu, siapa yang mengambil. Karena itu kita baut system seperti ini agar ada pertanggung jawaban,” ungkapnya.

Ali Imran menegaskan, setiap bantuan yang diterima selalu didokumentasikan dan dilaporkan kepada para donatur.

“Misalnya dari relawan masyarakat Jakarta, begitu sampai, kita foto, video kan, dan kita laporkan. Pak/Buk ini sudah sampai barangnya, ini mau saya kirim ya ke wilayah ini. Bukan untuk saya, masih ada uang saya ya, dan ini untuk rakyat,” katanya.

Ia juga menyesalkan tudingan yang dialamatkan kepada TNI, di tengah kerja keras prajurit dalam penanggulangan bencana.

“Perjuangan para prajurit TNI dalam penangulangan bencana, seperti perbaikan jembatan yang putus dan jalan yang rusak, mendirikan dapur umum, menyedakan tenda, dan lain sebagainya, perjuangan kami malah di tuduh engak-engak oelh orang yang tidak bertanggung jawab,” ujarnya.

Danrem mengimbau masyarakat agar tidak mudah terprovokasi isu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan.

“Kita minta kepada Masyarakat untuk mengerti dan besabar, kita sedang mengalami bencana dan berupaya agar cepat pemulihan. Apalagi kita orang Aceh, mayoritas Agama Islam, memfitnah orang lain itu Dosa. Keinginan kita bersama, penyaluran bantuan tepat sasaran langsung kepada korban bencana,” harapnya.

Ia menegaskan, seluruh proses pengambilan bantuan dilakukan oleh perwakilan daerah dan tercatat oleh petugas satgas BNPB.

“Jadi BNPB itu punya data, bukan asal kasi, siapa yang datang kasi, tidak benar itu. Seperti awal bencana, saya upayakan agar Masyarakat mendapatan beras, kemudian kelangkaan minyak, saya juga upayakan ke SPBU,” sebutnya.

Selain itu, Ali Imran menyampaikan bahwa TNI bersama PLN saat ini tengah membangun tower listrik darurat untuk memulihkan pasokan listrik di wilayah terdampak.

“Sabar dulu, apabila nanti sudah jadi, baru bisa menymabung Listrik kita,” pungkasnya. (XRQ)

Reporter: Akil

77 Lembaga Kemanusiaan dan Hampir 2.000 Relawan Terlibat dalam Pemulihan Aceh

0
Juru Bicara Pemerintah Aceh, Muhammad MTA. Foto: (Humas Aceh).

NUKILAN.ID | BANDA ACEH — Pemerintah Aceh mencatat keterlibatan 77 lembaga kemanusiaan dengan total 1.960 relawan yang aktif membantu penanganan darurat hingga pemulihan pascabencana di sejumlah wilayah di Aceh.

Juru Bicara Pemerintah Aceh, Muhammad MTA, menyampaikan bahwa seluruh keterlibatan tersebut telah tercatat secara resmi melalui Desk Relawan yang dikoordinasikan BNPB bersama Posko Aceh. Lembaga-lembaga yang terlibat berasal dari tingkat lokal, nasional, hingga internasional, dan jumlahnya diperkirakan masih akan bertambah seiring berjalannya masa tanggap darurat dan pemulihan.

“Atas nama masyarakat Aceh dan para korban terdampak, Gubernur Aceh menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya atas niat baik dan kontribusi seluruh lembaga serta relawan yang telah turun langsung membantu pemulihan Aceh,” ujar Muhammad MTA dalam keterangan tertulis, Minggu (14/12/2025).

Ia menjelaskan, kehadiran relawan dan lembaga kemanusiaan diharapkan dapat memperkuat upaya penanganan darurat dan pemulihan yang selama ini telah dilakukan oleh pemerintah dan unsur terkait. Unsur tersebut meliputi TNI, Polri, BPBA Aceh, Basarnas, pemerintah kabupaten/kota, organisasi kemasyarakatan dan kepemudaan, serta masyarakat Aceh yang bergerak secara mandiri.

Sejumlah lembaga yang telah terdaftar di Desk Relawan BNPB untuk Aceh di antaranya Save the Children, Islamic Relief, ABF, DH Charity, FKKMK UGM, Mahtan Makassar, Relawan Nusantara, Baznas, EMT AHS UGM, Koalisi NGO HAM, Katahati Institute, Orari, Yayasan Geutanyoe, serta berbagai lembaga lainnya.

Selain dukungan dari dalam negeri, Pemerintah Aceh juga telah secara resmi menyampaikan permintaan keterlibatan lembaga internasional yang memiliki pengalaman panjang dalam penanganan bencana berskala besar, dengan merujuk pada pengalaman tragedi tsunami 2004. Beberapa lembaga internasional yang diminta untuk turut berperan antara lain UNDP dan UNICEF.

Muhammad MTA menegaskan, Pemerintah Aceh akan terus mengambil langkah-langkah kebijakan strategis dalam rangka pemulihan pascabencana dengan supervisi langsung dari Pemerintah Pusat.

“Kami mengajak seluruh elemen untuk terus bersatu dan saling menguatkan agar Aceh dapat bangkit dan pulih lebih baik dari bencana ini,” tutupnya.