Beranda blog Halaman 147

Wali Nanggroe Serahkan 2.000 Paket Makanan untuk Pengungsi Banjir dan Longsor di Pidie–Pidie Jaya

0
Wali Nanggroe Serahkan 2.000 Paket Makanan untuk Pengungsi Banjir dan Longsor di Pidie–Pidie Jaya. (Foto: For NUKILAN)

NUKILAN.ID | MEUREUDU – Kepedulian terhadap masyarakat Aceh kembali ditunjukkan Paduka Yang Mulia (PYM) Wali Nanggroe Aceh, Tgk. Malik Mahmud Al Haytar. Di tengah bencana banjir dan tanah longsor yang melanda, PYM Wali Nanggroe menyalurkan 2.000 kotak makanan siap saji kepada para pengungsi di Kabupaten Pidie dan Pidie Jaya, Senin (15/12/2025).

Bantuan kemanusiaan tersebut diserahkan untuk kemudian diterima langsung oleh Bupati Pidie, Tgk. Sarjani Abdullah, dan Bupati Pidie Jaya, Sibral Malasyi, bersama masing-masing tim. Selanjutnya, bantuan itu didistribusikan kepada masyarakat di lokasi-lokasi pengungsian yang terdampak paling parah.

Kedua kepala daerah menyampaikan apresiasi serta rasa terima kasih atas perhatian dan kepedulian PYM Wali Nanggroe Aceh, yang dinilai selalu hadir saat rakyat menghadapi situasi sulit akibat bencana.

Mereka menilai bantuan makanan siap saji tersebut sangat membantu meringankan beban para pengungsi, terutama di wilayah yang hingga kini masih mengalami keterbatasan akses akibat banjir dan longsor.

“Alhamdulillah, bantuan ini sangat berarti bagi masyarakat kami yang sedang berjuang bertahan di tengah bencana. Kepedulian PYM Wali Nanggroe Aceh menjadi penguat moral dan harapan bagi rakyat,” ujar kedua bupati dengan penuh haru.

Selain menjawab kebutuhan mendesak para pengungsi, bantuan ini juga menjadi simbol kuatnya nilai kebersamaan, solidaritas, dan kepedulian antarsesama dalam menghadapi cobaan. Diharapkan, semangat gotong royong tersebut terus terjaga dan menjadi kekuatan bersama untuk bangkit dari bencana di wilayah Aceh yang terdampak.

PP Muhammadiyah Salurkan Rp 1 Miliar untuk Korban Bencana di Aceh

0

NUKILAN.id | Banda Aceh – Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah menyalurkan bantuan senilai Rp 3 miliar untuk korban banjir dan longsor yang melanda tiga provinsi di Sumatera. Dana tersebut terdiri dari Rp 1 miliar untuk Aceh, Rp 1 miliar untuk Sumatera Utara, dan Rp 1 miliar untuk Sumatera Barat.

Penyerahan bantuan untuk Aceh dilakukan secara simbolis oleh Ketua Umum PP Muhammadiyah Prof. Haedar Nashir, M.Si., bersama para tokoh di Lantai 1 Gedung Dakwah/Masjid At-Taqwa Muhammadiyah Aceh, Banda Aceh, Senin (15/12/2025).

Prof. Haedar Nashir mengatakan, bantuan ini merupakan wujud kepedulian dan tanggung jawab PP Muhammadiyah beserta para kadernya untuk meringankan beban masyarakat Aceh yang terdampak musibah berat.

“Ini merupakan bagian dari kepedulian dan tanggung jawab pimpinan pusat bersama para kader terbaiknya untuk ikut meringankan beban warga dan saudara-saudara kita di Aceh yang mengalami musibah banjir dan longsor yang tidak ringan, bahkan terasa sangat berat,” kata Haedar kepada Nukilan.

Ia menjelaskan, Muhammadiyah melalui Lembaga Amil Zakat Infaq dan Shadaqah Muhammadiyah (Lazismu), Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC), serta seluruh komponennya terus bergerak melakukan tanggap darurat. Seluruh upaya tersebut dikoordinasikan dari Gedung Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Aceh.

Menurutnya, proses tanggap darurat bukanlah hal yang mudah karena dihadapkan pada berbagai kendala, termasuk kondisi dan akses lokasi terdampak bencana. Karena itu, gerak Muhammadiyah dilakukan seiring dan menjadi satu kesatuan dengan langkah pemerintah, baik pemerintah daerah maupun pemerintah pusat.

“Kami merasakan penderitaan dan musibah berat yang dialami saudara-saudara kami di Aceh. Selain terus berikhtiar, saling membantu, dan berbagi, kami juga berdoa agar penderitaan ini segera diringankan oleh Allah dan Aceh dapat pulih sebagaimana mestinya,” katanya.

Lebih lanjut, kata Haedar, penanganan bencana membutuhkan usaha bersama seluruh komponen, mulai dari warga, pemerintah, hingga organisasi keagamaan dan kemasyarakatan. Menurutnya, di tengah musibah besar, persatuan dan persaudaraan menjadi ujian sekaligus kekuatan utama.

“Semua tentu berproses. Mudah-mudahan kita semua dapat sabar, sungguh-sungguh, dan terus berikhtiar. Insyaallah Aceh akan segera bangkit,” ujarnya.

Terkait dampak bencana terhadap fasilitas Muhammadiyah, Haedar menyebutkan saat ini pendataan masih terus dilakukan, baik di Aceh maupun di wilayah terdampak lain seperti Sumatera Utara dan Sumatera Barat. Data tersebut bersifat dinamis dan akan terus diperbarui sebagai dasar penanganan pascabencana.

“Hal-hal yang menyangkut fisik relatif lebih mudah untuk diinventarisasi. Namun, yang tidak kalah penting adalah pendampingan psikososial dan spiritual bagi saudara-saudara kita yang terdampak,” jelasnya.

Dalam kegiatan tersebut, Ketua Umum PP Muhammadiyah didampingi sejumlah pimpinan dan tokoh, antara lain H. Yendra Fahmi, DR. Agung Danarto, M.Ag, dr. Agus Taufiqurrahman, AM., Kes., Sp.S., DR. Anwar Abbas, Bapak M. Sayuti, M.Ed., M.Pd., Ph.D., DR. Fajar Riza Ul Haq, Letjen TNI (Purn) Burhanudin Amin, Irjen Pol. Rusdianto, serta Irjen Pol. Syafrizal.

Reporter: Rezi

Mahasiswa UTU Salurkan Bantuan ke Pante Ceureumen, Soroti Krisis Lingkungan Aceh Barat

0
Mahasiswa UTU Salurkan Bantuan ke Pante Ceureumen. (Foto: For Nukilan)

NUKILAN.ID | MEULABOH – Pemerintahan Mahasiswa Universitas Teuku Umar (PEMA UTU) menyalurkan bantuan kemanusiaan kepada warga terdampak bencana di Kecamatan Pante Ceureumen, Aceh Barat, Minggu, 14 November. Aksi tersebut merupakan bentuk respons mahasiswa terhadap musibah alam yang berdampak serius pada kehidupan masyarakat setempat.

Bantuan yang disalurkan merupakan hasil penggalangan dana publik yang dilakukan di kawasan perkotaan Meulaboh, serta donasi melalui transfer dari berbagai elemen masyarakat. Penyaluran bantuan dipimpin langsung oleh Presiden Mahasiswa UTU, Putra Rahmat, dan diterima oleh kepala desa bersama aparatur gampong setempat.

Distribusi bantuan berlangsung tertib dan terkoordinasi dengan baik berkat keterlibatan aktif perangkat desa dalam memastikan bantuan diterima secara merata oleh warga terdampak. Meski dihadapkan pada keterbatasan akses dan kondisi medan menuju lokasi, hal tersebut tidak mengurangi komitmen mahasiswa UTU untuk menuntaskan misi kemanusiaan yang telah dirancang sejak tahap awal pengumpulan donasi.

Di luar penyaluran bantuan, PEMA UTU juga menyoroti bencana yang melanda sejumlah desa di Aceh Barat sebagai persoalan yang berkaitan erat dengan kerusakan lingkungan. Menurut mereka, dampak bencana mencerminkan menurunnya daya dukung alam akibat berbagai praktik eksploitasi yang berlangsung dalam jangka panjang.

Presiden Mahasiswa UTU menegaskan bahwa bencana tersebut tidak semata-mata disebabkan oleh faktor cuaca ekstrem.

“Faktor alam memang berperan, namun eskalasi dampak terjadi akibat aktivitas oknum-oknum mulai dari alih fungsi lahan, tambang ilegal, perusakan aliran sungai oleh perusahaan, hingga pembalakan liar. Ini menunjukkan lemahnya pengawasan dan kegagalan Pemerintah dalam melindungi ruang hidup masyarakat,” ujarnya.

PEMA UTU mendesak pemerintah daerah untuk segera mengambil langkah konkret sesuai arahan Kementerian ATR/BPN, antara lain percepatan penyediaan hunian sementara dan relokasi yang aman bagi warga terdampak, penataan ruang berbasis mitigasi bencana, serta percepatan legalisasi lahan. Selain itu, mereka juga menekankan pentingnya ketegasan negara, termasuk pencabutan Hak Guna Usaha (HGU), apabila terbukti merugikan kepentingan publik.

Melalui kegiatan tersebut, PEMA UTU menegaskan posisinya tidak hanya sebagai penggerak solidaritas kemanusiaan, tetapi juga sebagai kekuatan kritis yang mendorong keadilan ekologis dan perlindungan hak-hak masyarakat Aceh Barat.

Korban Bencana di Sumatera Tembus 1.022 Orang, Aceh Catat Angka Kematian Tertinggi

0
Proses perbaikan jembatan hancur terdampak bencana di Aceh (Foto: ANTARA FOTO/Syifa Yulinnas)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH — Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) memperbarui data korban bencana banjir bandang dan longsor yang melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Berdasarkan laporan terbaru, jumlah korban meninggal dunia tercatat mencapai 1.022 orang.

Mengacu pada data resmi BNPB yang dipantau pada Senin (15/12/2025), bencana tersebut juga menyebabkan kerusakan pada 158.049 unit rumah, dengan sebagian besar mengalami kerusakan berat. Selain itu, lebih dari 600 ribu warga dilaporkan masih berada di lokasi pengungsian.

BNPB juga mencatat terdapat 206 orang yang hingga kini masih dinyatakan hilang, sementara sekitar 7.000 orang lainnya mengalami luka-luka akibat bencana.

Dampak kerusakan tidak hanya terjadi pada permukiman warga. Sedikitnya 1.200 fasilitas umum terdampak, termasuk 219 fasilitas kesehatan, 581 fasilitas pendidikan, 434 rumah ibadah, 290 gedung perkantoran, serta 145 jembatan.

Aceh menjadi wilayah dengan jumlah korban meninggal terbanyak. Di provinsi tersebut, korban tewas mencapai 424 orang, dengan 4.300 orang mengalami luka-luka dan 32 orang dilaporkan hilang.

Sementara itu, di Sumatera Utara tercatat 355 orang meninggal dunia, 2.300 orang luka-luka, serta 84 orang masih dalam pencarian. Adapun di Sumatera Barat, jumlah korban tewas mencapai 243 orang, dengan 382 orang luka-luka dan 90 orang dinyatakan hilang.

BNPB menyebutkan, jumlah korban meninggal masih berpotensi bertambah seiring berjalannya proses pencarian dan evakuasi yang terus dilakukan oleh petugas bersama masyarakat. Saat ini, pemerintah fokus pada perbaikan infrastruktur yang rusak serta penyaluran bantuan bagi warga terdampak bencana.

FastDuk Pemerintah Aceh Masuk 28 Inovasi Terbaik Nasional KIPP 2025

0
FastDuk Pemerintah Aceh Masuk 28 Inovasi Terbaik Nasional KIPP 2025. (Foto: For Nukilan)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH — Pemerintah Aceh meraih penghargaan Outstanding Public Service Innovations (OPSI) dalam ajang Kompetisi Inovasi Pelayanan Publik (KIPP) Tahun 2025 yang diselenggarakan Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PANRB).

Penghargaan tersebut diberikan kepada inovasi FastDuk (Solusi Cepat Layanan Adminduk) yang digagas Dinas Registrasi Kependudukan Aceh. Inovasi ini dinilai berhasil menghadirkan layanan administrasi kependudukan yang lebih cepat, mudah, terintegrasi, serta mampu menjangkau wilayah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T) di Aceh.

Berdasarkan Keputusan Menteri PANRB Nomor 551 Tahun 2025, FastDuk ditetapkan sebagai salah satu dari 28 inovasi terbaik tingkat nasional. Melalui FastDuk, pemerintah daerah mempercepat berbagai layanan dokumen kependudukan, mulai dari penerbitan KTP elektronik, Kartu Keluarga, Akta Kelahiran, Akta Kematian, hingga perubahan data dan dokumen administrasi kependudukan lainnya.

Inovasi ini dirancang untuk memangkas prosedur birokrasi, meningkatkan ketepatan data kependudukan, serta memperluas akses pelayanan hingga ke wilayah terpencil. Dengan sistem yang lebih efisien, masyarakat di berbagai daerah Aceh dapat memperoleh layanan adminduk tanpa harus menghadapi proses yang berbelit.

Penghargaan OPSI KIPP 2025 diserahkan dalam kegiatan Peresmian Mal Pelayanan Publik dan Penyerahan Apresiasi OPSI KIPP 2025 yang berlangsung di Aula Kementerian PANRB, Jakarta, Senin (15/12/2025). Penghargaan tersebut diterima langsung oleh Asisten Administrasi Umum Sekretariat Daerah Aceh, Drs. Muhammad Diwarsyah, M.Si.

Capaian ini menegaskan komitmen Pemerintah Aceh dalam mendorong transformasi digital pelayanan publik sekaligus memperkuat tata kelola pemerintahan yang efektif, transparan, dan berorientasi pada kebutuhan masyarakat.

Bendera Putih Berkibar di Aceh, Warga Tak Mampu Bertahan dan Minta Pertolongan

0
Bendera putih berkibar di sejumlah titik di jalan-jalan Aceh sebagai tanda darurat. Warga menyerah menangani banjir di Aceh. (FOTO: ISTIMEWA)

NUKILAN.ID | IDI RAYEUK — Bendera putih terlihat berkibar di sejumlah ruas jalan di Aceh sebagai simbol kondisi darurat. Warga menyatakan tidak lagi sanggup menghadapi bencana banjir yang telah melanda wilayah tersebut selama hampir tiga pekan terakhir.

”Masyarakat menyerah dan butuh bantuan. Kami tidak sanggup lagi,” ujar Bahtiar, warga Alue Nibong, Peureulak, Kabupaten Aceh Timur, Minggu (14/12/2025).

Dikutip dari Kompas.id, warga menilai pemerintah pusat bergerak lamban dalam menangani bencana yang terjadi di Sumatera, khususnya di Aceh. Bendera putih tampak memenuhi jalan-jalan di Aceh Timur dan juga dikibarkan di sepanjang jalan nasional Banda Aceh–Medan hingga Kabupaten Aceh Tamiang.

Hingga tiga pekan pascabencana, bantuan dinilai masih sangat terbatas. Warga akhirnya berinisiatif saling membantu dengan mendirikan dapur umum secara mandiri. Namun, persediaan bahan makanan kian menipis dan kondisi kelaparan mulai dirasakan.

”Masyarakat di sini sudah tidak sanggup. Bendera putih ini tanda kami menyerah oleh keadaan,” ujar Zamzami, warga lainnya.

Juru bicara Gerakan Rakyat Aceh Bersatu, Masri, menyebutkan bahwa masyarakat benar-benar tidak mampu lagi mengatasi dampak bencana yang terjadi. Ia mendesak Presiden Prabowo Subianto untuk menetapkan status bencana nasional.

”Seluruh gerakan sipil di Aceh akan bersatu untuk aksi di jalan, mulai dari Langsa, Aceh Tamiang, Aceh Timur, Lhokseumawe, dan semua kabupaten lain di Aceh untuk menuntut pemerintah pusat menetapkan bencana Sumatera sebagai bencana nasional,” katanya.

Desakan tersebut disampaikan agar pemerintah pusat dapat mengambil langkah penanganan darurat secara terpadu, termasuk penambahan bantuan logistik, tenaga medis, alat berat, dan kebutuhan vital lainnya. Bantuan dari daerah dinilai tidak lagi mencukupi.

Selain itu, warga berharap pemerintah pusat segera melakukan pendataan kerusakan secara menyeluruh sebagai dasar relokasi, rekonstruksi, dan rehabilitasi wilayah terdampak. Jaminan pemulihan ekonomi juga menjadi tuntutan utama, terutama bagi masyarakat kecil yang kehilangan rumah, lahan, dan sumber penghidupan.

Masri menambahkan, pengibaran bendera putih merupakan isyarat kondisi darurat yang semestinya direspons cepat oleh negara.

”Bendera dikibarkan sebagai tanda darurat dan meminta dunia internasional membantu Aceh,” ujarnya.

Sementara itu, Juru Bicara Pemerintah Aceh, Teuku Kamaruzzaman alias Ampon Man, menilai kehadiran negara hampir tidak dirasakan masyarakat dalam menghadapi bencana kali ini.

“Negara seperti ada dan tiada untuk Aceh,” ujarnya, dikutip dari Tribunnews.com, Minggu (14/12/2025).

Mantan Sekretaris BRR Aceh-Nias itu menggambarkan kondisi masyarakat yang hidup berminggu-minggu tanpa listrik dan komunikasi, termasuk di wilayah yang relatif aman seperti Banda Aceh dan Aceh Besar. Kelangkaan BBM dan elpiji turut memperparah situasi, melumpuhkan UMKM dan industri rumah tangga, serta memicu kenaikan harga kebutuhan pokok.

Menurut Ampon Man, kemampuan penanganan bencana oleh lembaga pemerintah terlihat sangat terbatas. Ia menyoroti keterisolasian sejumlah daerah yang menyulitkan distribusi makanan dan minimnya pengiriman logistik besar-besaran melalui udara, berbeda dengan penanganan bencana tsunami 2004.

“Tidak tampak pengerahan komponen cadangan negara secara masif untuk pencarian dan penyelamatan korban,” kata dia.

Ia juga menilai PLN hanya melakukan perbaikan jaringan listrik dengan mekanisme normal tanpa langkah darurat seperti penyediaan generator di wilayah terdampak. Pertamina pun baru mulai menyalurkan BBM dan elpiji pada hari ke-10 setelah bencana.

Meski demikian, Ampon Man mengapresiasi Badan Pangan Nasional dan Bulog yang dinilai mampu menyediakan stok pangan yang cukup untuk kebutuhan posko kebencanaan.

Ia menegaskan, lambannya respons pemerintah pusat sama halnya dengan meremehkan upaya penyelamatan korban. Menurutnya, masyarakat Aceh harus berani menghadapi bencana dengan kekuatan sendiri.

Jaringan Operasional Bank Aceh Pulih Total, Seluruh Kantor Kini Kembali Melayani

0
Jaringan Operasional Bank Aceh Pulih Total, Seluruh Kantor Kini Kembali Melayani. (Foto: Humas Bank Aceh)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – PT Bank Aceh Syariah (BAS) menyatakan seluruh jaringan kantor operasionalnya telah kembali berfungsi sepenuhnya. Sebanyak 192 unit kantor yang terdiri dari Kantor Cabang (KC), Kantor Cabang Pembantu (KCP), dan payment point yang tersebar di wilayah Aceh, Medan, serta Jakarta, dipastikan telah beroperasi 100 persen sejak 11 Desember 2025.

Direktur Utama Bank Aceh, Fadhil Ilyas, mengatakan pemulihan operasional ini memungkinkan nasabah kembali menikmati layanan perbankan secara normal, terutama di wilayah yang sebelumnya terdampak bencana hidrometeorologi. Kondisi tersebut dinilai menjadi faktor penting dalam mendukung pemulihan ekonomi masyarakat pascabencana.

“Pada 11 Desember 2025, kami memastikan empat jaringan kantor yang tersisa, termasuk di wilayah Kualasimpang, Aceh Tamiang, dan sekitarnya, telah berfungsi sepenuhnya,” ujar Fadhil Ilyas di Banda Aceh, Sabtu (13/12/2025).

Sebelumnya, banjir yang melanda sejumlah kabupaten/kota menyebabkan 46 jaringan kantor Bank Aceh mengalami dampak serius hingga harus menghentikan layanan sementara.

Untuk mempercepat normalisasi operasional, Bank Aceh membentuk Tim Task Force Percepatan Pemulihan Operasional Kantor sejak akhir November 2025. Tim tersebut melakukan berbagai langkah penanganan darurat, mulai dari pembersihan lokasi, perbaikan infrastruktur, hingga pemulihan sistem teknologi informasi.

Fadhil Ilyas juga menyampaikan apresiasi kepada tim yang bekerja tanpa henti selama proses pemulihan berlangsung sejak pertama kali diturunkan.

Dengan pulihnya seluruh jaringan kantor, berbagai layanan utama perbankan seperti penarikan tunai, penyetoran dana, dan transfer kini kembali tersedia secara optimal bagi nasabah.

Selain layanan di kantor fisik, Bank Aceh memastikan layanan digital tetap berjalan maksimal selama 24 jam, termasuk operasional 130 unit ATM/CDM/CRM serta layanan mobile banking.

Meski demikian, masih terdapat dua KCP yang belum beroperasi secara maksimal akibat pasokan listrik yang belum pulih serta keterbatasan bahan bakar minyak untuk operasional genset. Layanan kepada masyarakat di wilayah tersebut tetap dialihkan melalui KCP terdekat.

Ke depan, Bank Aceh menegaskan komitmennya untuk menjadi garda terdepan dalam mendukung proses rehabilitasi dan rekonstruksi di Aceh. Pihak manajemen juga menyampaikan apresiasi kepada pemerintah daerah, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), aparat keamanan, serta berbagai pemangku kepentingan yang telah memberikan dukungan hingga operasional bank kembali berjalan normal.[

UIN Ar-Raniry Terjunkan 23 Relawan Mahasiswa Bantu Korban Bencana di Aceh

0
Foto bersama kegiatan UIN Ar-Raniry Banda Aceh mengirim 23 relawan untuk membantu masyarakat di sejumlah wilayah Aceh yang terdampak bencana. (FOTO: Humas UIN Ar Raniry Banda Aceh)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH — Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry Banda Aceh menurunkan 23 relawan mahasiswa untuk membantu masyarakat di sejumlah wilayah Aceh yang terdampak bencana alam. Para relawan tersebut akan bertugas di Aceh Timur, Kota Langsa, dan Kabupaten Aceh Tamiang.

Rektor UIN Ar-Raniry Banda Aceh Mujiburrahman menyampaikan bahwa keterlibatan mahasiswa dalam misi kemanusiaan merupakan bagian dari tanggung jawab sosial perguruan tinggi.

“Kehadiran relawan mahasiswa akan mampu menghadirkan semangat dan saling menguatkan masyarakat korban bencana. Semoga seluruh relawan selalu diberi kesehatan, perlindungan, dan kembali dengan selamat,” ujarnya di Banda Aceh, Minggu (14/12).

Ia menambahkan, pihak kampus juga berkomitmen memberikan dukungan kepada mahasiswa yang terdampak bencana. Dukungan tersebut diwujudkan melalui kebijakan peniadaan perkuliahan semester ganjil Tahun Akademik 2025/2026 bagi mahasiswa terdampak.

Perkuliahan yang belum selesai, termasuk pelaksanaan ujian akhir semester, akan dialihkan ke dalam skema penugasan alternatif.

Sebanyak 23 relawan yang tergabung dalam Dewan Eksekutif Mahasiswa (Dema) UIN Ar-Raniry dilepas secara resmi dari Posko Tanggap Bencana UIN Ar-Raniry. Selain bertugas di wilayah terdampak, para relawan juga membawa bantuan logistik serta pakaian layak pakai.

Rektor berharap, kehadiran relawan mahasiswa dapat memberikan dampak nyata dan membantu meringankan beban masyarakat yang terdampak bencana.

Sementara itu, Presiden Mahasiswa UIN Ar-Raniry Banda Aceh Tengku Raja Aulia Habibie mengapresiasi dukungan penuh pimpinan kampus terhadap gerakan kemanusiaan yang dilakukan mahasiswa.

Menurutnya, dukungan tersebut meliputi keringanan uang kuliah tunggal (UKT), pengakuan kegiatan kerelawanan sebagai Kegiatan Pengabdian Masyarakat (KPM), serta dukungan terhadap seluruh aktivitas relawan mahasiswa.

Para relawan dijadwalkan menjalankan tugas kemanusiaan selama beberapa pekan ke depan. Selain menyalurkan bantuan, mereka juga akan melakukan pembersihan tempat ibadah dan sekolah, serta membuka kelas belajar bagi anak-anak di posko pengungsian.

Sebelumnya, Dema UIN Ar-Raniry Banda Aceh bersama Aliansi Mahasiswa Aceh juga terlibat aktif dalam penyaluran bantuan kemanusiaan. Bantuan tersebut berupa logistik pangan, obat-obatan, perlengkapan kebersihan, dan pakaian layak pakai yang dihimpun melalui penggalangan solidaritas mahasiswa dan civitas academica kampus.

Pertamina Salurkan PLTS untuk Penerangan Posko Pengungsian Aceh Tamiang

0
PT Pertamina (Persero) membantu Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di sejumlah titik posko pengungsi di wilayah Aceh Tamiang. (FOTO: ANTARA/HO-Pertamina)

NUKILAN.ID | KUALA SIMPANG – PT Pertamina (Persero) menyalurkan bantuan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) ke sejumlah posko pengungsian di Kabupaten Aceh Tamiang. Bantuan tersebut merupakan bagian dari program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) perusahaan.

“Bantuan PLTS ini merupakan bagian dari program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL). PLTS mulai menerangi posko pengungsian Karang Baru, Kabupaten Aceh Tamiang, sejak Sabtu (13/12),” kata Vice President Corporate Communication PT Pertamina (Persero) Muhammad Baron dalam keterangan yang diterima di Banda Aceh, Minggu.

Ia menjelaskan, Pertamina menyalurkan tujuh paket PLTS dengan masing-masing unit berkapasitas 590 Wp (watt peak), inverter 1.000 Wp, baterai 2.000 Wh (watt hour), serta tujuh paket Solar LED berdaya 40 watt. Seluruh peralatan tersebut didatangkan langsung dari Jakarta.

Proses pemasangan instalasi PLTS melibatkan teknisi Perwira Pertamina Peduli yang merakit berbagai komponen hingga sistem listrik dapat digunakan untuk menerangi tenda-tenda pengungsian.

“Program ini sebagai bentuk kepedulian terhadap masyarakat terdampak bencana di Aceh Tamiang. Pertamina menyalurkan bantuan PLTS ini guna mendukung pemulihan kondisi darurat pascabencana,” ujar Baron.

Menurutnya, keberadaan PLTS sangat membantu pengungsi maupun relawan, terutama untuk penerangan pada malam hari. Selain itu, fasilitas tersebut juga dapat dimanfaatkan untuk mengisi daya baterai telepon seluler sebagai sarana komunikasi utama. Setiap unit PLTS mampu beroperasi hingga delapan jam per hari.

Sebagai perusahaan yang berperan dalam transisi energi, Pertamina menegaskan komitmennya untuk mendukung target Net Zero Emission 2060 serta terus mendorong program-program yang berkontribusi langsung terhadap pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs).

Sementara itu, Relawan Pertamina Peduli M. Abassi Ali Bilhadj menyampaikan bahwa proses perakitan PLTS berlangsung sekitar dua jam dan setelah dilakukan uji coba, sistem tersebut dapat langsung berfungsi.

Budaya Sekolah Maju Mendorong Efikasi dan Kepribadian Guru Unggul

0
Ilustrasi. (Foto: For NUKILAN)

NUKILAN.ID | OPINI – Budaya organisasi merupakan salah-satu pedoman yang menjadi dasar ideal untuk diterapkan dengan potret berbagai latar belakang, perusahaan, pemerintahan, bahkan sekolah sebagai lembaga penguatan karakter bagi setiap individu. Tentu  budaya sekolah tidak hanya menyoali tentang dokumen resmi seperti visi, misi, atau tata tertib yang disusun secara administratif melainkan sejatinya ia hidup dan berkembang melalui praktik keseharian warga sekolah, seperti cara guru mengelola pembelajaran, kepemimpinan kepala sekolah dalam mengambil keputusan, etos kerja tenaga kependidikan, serta pola interaksi sosial antarwarga sekolah. Jika dikaitkan dengan perspektif manajemen pendidikan, kekuatan budaya organisasi sangat ditentukan oleh kualitas psikologis dan sosial individu di dalamnya terlebih efikasi dan kepribadian dari setiap individu.

Efikasi diri adalah keyakinan individu terhadap kemampuannya untuk melaksanakan tugas dan mencapai tujuan tertentu. Hal ini tentu dibutuhkan di lingkungan sekolah, guru  yang cenderung memiliki efikasi diri yang tinggi akan memiliki kepercayaan diri profesional dalam mengelola kelas, merancang pembelajaran yang bermakna, serta merespons dinamika perubahan kurikulum dan tuntutan zaman. Tentu keyakinan tersebut tidak hanya akan berdampak pada kinerja individu, tetapi juga membentuk iklim organisasi yang lebih progresif. Sederhananya efikasi diri akan menjadikan guru lebih adaptif, dan kreatif bergerak sebagai organisasi pembelajar yang terus berkembang.

Namun yang tidak kalah penting ialah lahirnya suatu kondisi di mana efikasi diri tidak ditopang oleh kepribadian yang matang. Kepribadian mencerminkan pola sikap, nilai, dan cara individu berinteraksi dalam lingkungan kerja. Jika berbicara mengenai lingkungan sekolah, beberapa ciri kepribadian, seperti pribadi yang terbuka, bertanggung jawab, dan empatik mendorong terciptanya relasi profesional yang sehat dan kolaboratif. Guru dan pimpinan sekolah dengan kepribadian positif mampu menempatkan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi, mengelola perbedaan secara dewasa, serta menjaga profesionalisme di tengah tekanan dan kompleksitas pekerjaan pendidikan.

Sinergi antara efikasi dan kepribadian menjadi fondasi utama dalam pembentukan budaya organisasi sekolah yang kuat dan berkelanjutan. Guru yang memiliki keyakinan diri sekaligus integritas kepribadian tidak hanya berorientasi pada pencapaian target pembelajaran, tetapi juga berperan sebagai teladan dalam sikap, etika, dan komitmen profesional. Kepala sekolah dengan efikasi kepemimpinan yang tinggi serta kepribadian inklusif mampu menumbuhkan budaya dialog, refleksi kolektif, dan peningkatan mutu secara berkelanjutan.

Hubungan antara efikasi, kepribadian, dan budaya organisasi memiliki hubungan interkoneksi yang tidak dapat dipisahkan. Budaya sekolah yang sehat, yang ditandai oleh kepercayaan, penghargaan, keterbukaan, dan partisipasi, mampu memperkuat efikasi individu serta membentuk kepribadian kerja yang positif. Atau dengan kata lain, buadaya sekolah akan mendorong terciptanya efikasi dan kepribadian diri seseroang. Lingkungan kerja yang suportif juga akan membuat warga sekolah merasa dihargai dan diberi ruang untuk berkembang, sehingga kepercayaan diri dan tanggung jawab profesional tumbuh secara alami.

Dalam setiap organisasi ketidakseimbangan akan selalu ada, sehingga membangun budaya organisasi sekolah yang sehat tidak dapat dilakukan semata-mata melalui kebijakan struktural dan pendekatan administratif. Diperlukan strategi manajemen pendidikan yang berorientasi pada pengembangan efikasi dan kepribadian sumber daya manusia melalui pelatihan berkelanjutan, pembinaan profesional reflektif, serta praktik kepemimpinan yang humanis dan transformatif. Ketika warga sekolah berkembang secara profesional, psikologis, dan sosial, sekolah berfungsi sebagai komunitas belajar yang memanusiakan manusia.

Penulis: Maulana Iman Jaya (Mahasiswa Magister Manajemen Pendidikan, Universitas Pamulang)