Beranda blog Halaman 14

Sekian Lama Vakum, Himpunan Mahasiswa Aceh Selatan (HAMAS) Gelar Mubes Hari Ini

0
Ketua Panitia MUBES HAMAS, Rivaldi. (Foto: For Nukilan)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH — Setelah sekian lama vakum dari aktivitas organisasi, Himpunan Mahasiswa Aceh Selatan (HAMAS) kembali menggelar Musyawarah Besar (Mubes) pada Minggu (15/2/2026) di UPTD Balai Tekkomdik, Banda Aceh. Kegiatan ini menjadi momentum kebangkitan organisasi sekaligus ajang regenerasi kepemimpinan mahasiswa Aceh Selatan.

Musyawarah Besar yang mengusung tema “Regenerasi Kepemimpinan yang Demokratis & Akademis” tersebut merupakan forum tertinggi organisasi yang bertujuan mengevaluasi perjalanan kepengurusan sebelumnya serta merumuskan arah dan strategi gerakan HAMAS ke depan.

Ketua Panitia Pelaksana, Rivaldi, mengatakan bahwa pelaksanaan Mubes menjadi langkah awal kebangkitan kembali HAMAS sebagai wadah berhimpun mahasiswa Aceh Selatan di perantauan.

“Setelah cukup lama vakum, Mubes ini menjadi momentum konsolidasi untuk menghidupkan kembali semangat organisasi. Kami ingin HAMAS kembali hadir sebagai ruang intelektual, ruang solidaritas, sekaligus wadah perjuangan mahasiswa Aceh Selatan,” katanya kepada Nukilan.id, Minggu (15/2/2025).

Ia menambahkan, kegiatan ini akan diikuti oleh perwakilan mahasiswa dari setiap kecamatan se-Aceh Selatan yang berasal dari berbagai perguruan tinggi di Banda Aceh dan sekitarnya. Selain agenda sidang organisasi dan pemilihan kepengurusan baru, forum ini juga diharapkan mampu melahirkan gagasan-gagasan strategis terkait kontribusi mahasiswa terhadap pembangunan daerah.

Panitia berharap Musyawarah Besar HAMAS 2026 dapat menjadi titik awal lahirnya kepemimpinan baru yang demokratis, inklusif, serta mampu mengembalikan peran organisasi sebagai mitra kritis sekaligus motor gerakan mahasiswa Aceh Selatan.

Untuk diketahui, HAMAS yang sebelumnya dikenal sebagai wadah perkumpulan mahasiswa asal Aceh Selatan di Banda Aceh, sudah tidak lagi menjalankan aktivitas organisasi dan terkesan mati suri sejak 2023 lalu. (XRQ)

Reporter: Akil

PSPS Pekanbaru Tahan Imbang Persiraja 1-1 di Lampineung

0
PSPS Pekanbaru Tahan Imbang Persiraja 1-1 di Lampineung. (Foto: Nukilan/mediacenter.riau.go.id)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH — Laga perdana putaran ketiga Liga Championship Pegadaian musim 2025/2026 yang mempertemukan Persiraja Banda Aceh melawan PSPS Pekanbaru berakhir imbang 1-1. Pertandingan berlangsung di Stadion Haji Dimurthala, Lampineung, Banda Aceh, Sabtu (14/2/2026) malam.

Tim tamu PSPS Pekanbaru lebih dulu membuka keunggulan melalui Antonio Gamaroni pada menit ke-28. Gol tersebut lahir dari skema serangan balik cepat yang tersusun rapi.

Saat proses gol terjadi, empat pemain Persiraja yang mencoba mengawal pergerakan pemain PSPS gagal menutup ruang. Situasi itu dimanfaatkan dengan umpan matang ke depan gawang yang disambut Gamaroni tanpa penjagaan berarti. Gol tersebut sempat membuat Stadion Lampineung terdiam.

Persiraja baru mampu menyamakan kedudukan menjelang akhir pertandingan. Pada menit ke-88, winger asal Spanyol Juan Mera mencetak gol spektakuler lewat tendangan keras dari luar kotak penalti yang tak mampu dihentikan kiper lawan. Gol itu menyelamatkan tim berjuluk Lantak Laju dari kekalahan sekaligus memastikan kedua tim berbagi poin.

Dalam beberapa musim terakhir, PSPS Pekanbaru memang kerap menjadi lawan yang menyulitkan Persiraja. Tim asal Riau tersebut hampir selalu mampu mencuri poin saat bermain di Banda Aceh, bahkan ketika posisi mereka di klasemen tidak berada dalam kondisi terbaik.

Hasil imbang ini juga menjadi catatan tersendiri bagi pelatih baru Persiraja, Jaya Hartono, yang menjalani laga debutnya bersama tim. Sepanjang pertandingan, strategi yang diterapkan belum mampu membongkar pertahanan rapat PSPS yang menerapkan taktik “parkir bus”.

Setahun Kepemimpinan Muharram–Syukri di Aceh Besar, Publik Masih Menunggu Bukti Perubahan Nyata

0
Bupati dan Wakil Bupati Aceh Besar, Muharram Idris dan Syukri. (Foto: For NUKILAN)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH — Tepat satu tahun pasangan Muharram Idris dan Syukri memimpin Kabupaten Aceh Besar dengan membawa janji perubahan dalam tata kelola pemerintahan serta peningkatan kesejahteraan masyarakat. Namun hingga kini, sebagian publik masih mempertanyakan arah kebijakan dan wujud konkret perubahan yang dijanjikan tersebut.

Pemerhati sosial budaya sekaligus akademisi Universitas Iskandar Muda (UNIDA) Banda Aceh, M. Nur kepada Nukilan.id menilai belum terlihat pergeseran signifikan dalam pola pengelolaan pemerintahan daerah selama satu tahun kepemimpinan berjalan.

Menurutnya, sejumlah narasi pembangunan yang belakangan dipublikasikan justru lebih menyerupai kelanjutan program pemerintahan sebelumnya, bukan terobosan baru dari kepemimpinan saat ini.

Ia merujuk pada pemberitaan Harian Serambi Indonesia edisi Jumat, 13 Februari 2026, berjudul “Aceh Besar Menapak Fondasi, Merajut Harapan.” Dalam pemberitaan tersebut, beberapa program seperti pemberdayaan UMKM, bantuan modal usaha mikro, serta pendampingan pelaku usaha dinilai merupakan agenda berkelanjutan.

“Pertanyaannya sederhana, apakah program-program itu benar-benar tercantum dalam APBK 2026? Jika ada, jalankan secara serius dan tepat sasaran. Jika tidak, ini bukan sekadar janji kosong, tetapi bisa menjadi pembohongan publik,” tegas M. Nur.

Selain menyoroti program pembangunan, ia juga mengkritik gaya kepemimpinan yang dinilai masih didominasi kegiatan seremonial. Menurutnya, energi pemerintah daerah terlihat lebih banyak terserap pada aktivitas simbolik dibandingkan kerja substantif yang berdampak langsung kepada masyarakat.

“Publik bisa menilai secara kasat mata. Agenda masih didominasi seremoni. Jika pola kerja tidak berubah, maka sulit berharap lahirnya perubahan nyata,” ujarnya.

M. Nur juga menilai penataan struktur birokrasi berjalan lambat. Hingga satu tahun masa kepemimpinan, posisi pelaksana teknis program disebut belum tertata secara optimal, sehingga berpengaruh terhadap efektivitas pelaksanaan kebijakan pemerintah daerah.

“Bagaimana program dapat berjalan maksimal jika struktur eksekutornya belum jelas? Ini menimbulkan pertanyaan, apakah memang sudah ada perencanaan yang matang sejak awal,” katanya.

Di akhir pernyataannya, ia menegaskan bahwa kepemimpinan daerah membutuhkan ketegasan serta keberanian dalam mengambil keputusan, dengan orientasi pada hasil yang dapat dirasakan masyarakat.

“Kepemimpinan tidak cukup dengan retorika. Pemimpin harus tegas, berani menentukan arah, dan memastikan program berjalan. Jabatan publik bukan ruang untuk berjalan tanpa target yang jelas,” tutupnya. (XRQ)

Nilam Aceh Kembali Menguat di Tengah Tantangan Regulasi EUDR

0
Ilustrasi minyak nilam. (Foto: For Nukilan)

NUKILAN.ID | JAKARTA — Aceh pernah menjadi salah satu penghasil nilam terbesar di Indonesia pada awal hingga pertengahan 1990-an. Namun, konflik Gerakan Aceh Merdeka (GAM) yang disertai krisis moneter 1997–1998 membuat produksi nilam di wilayah berjuluk Serambi Mekkah tersebut mengalami penurunan signifikan.

Dalam tiga tahun terakhir, produksi nilam mulai menunjukkan tanda kebangkitan. Meski demikian, upaya pemulihan tersebut kembali menghadapi tantangan setelah sebagian lahan budidaya terdampak banjir bandang yang melanda sejumlah wilayah Aceh sejak November 2025.

Project Manager PROMISE II IMPACT International Labour Organization (ILO), Djauhari Sitorus, mengatakan beberapa daerah sentra nilam mengalami kerusakan akibat bencana tersebut.

“Ada beberapa kabupaten penghasil nilam (di Provinsi Aceh) yang terdampak (bencana), sehingga lahannya hancur. Kami sedang menjajaki bagaimana bisa mendukung itu (pemulihan),” ujar Djauhari dikutip Nukilan.id, Kamis (12/2/2026).

Saat ini, sejumlah wilayah terdampak telah memasuki fase rehabilitasi dan rekonstruksi pasca status tanggap darurat dicabut. ILO tengah mengumpulkan data lahan nilam yang rusak sambil menunggu arahan dari pemerintah daerah terkait langkah pemulihan.

ILO menyatakan kesiapan membantu proses rehabilitasi, terutama melalui penyediaan bibit bagi petani. Menurut Djauhari, nilam memiliki keunggulan karena masa panennya relatif singkat, yakni sekitar empat hingga lima bulan, lebih cepat dibandingkan komoditas seperti kopi atau kakao.

“Pelan-pelan dibantu (pemulihan lahan budi daya). Kami beruntung dengan mitra Universitas Syiah Kuala, universitas negeri di sana yang memang memilikinya pusat penelitian untuk atsiri, termasuk Nilam. Mereka membantu petani-petani Nilam,” tuturnya.

Upaya Menghidupkan Industri Nilam

Untuk memperkuat kembali industri nilam di Aceh, ILO menggandeng sejumlah tokoh lokal, salah satunya penerima Indonesia Innovator Award 2025, Syaifullah Muhammad. Kolaborasi tersebut menggabungkan keahlian teknis budidaya dengan penguatan aspek bisnis dan manajemen.

“Kami bertemu dengan beliau (Syaifullah Muhammad). Jadi, beliau aspek teknis budidaya nilamnya jago sekali. Kalau buat parfum dia hafal. Kami membantu dengan kewirausahaannya, akses keuangan, dan pembuatan ERP-nya (Enterprise Resource Planning). Jadi, saling menguntungkanlah gitu,” ucap Djauhari.

Selain itu, ILO juga bermitra dengan Universitas Syiah Kuala yang memiliki laboratorium pengujian kualitas nilam di Banda Aceh. Kampus tersebut menyediakan fasilitas produksi sekaligus pelatihan gratis bagi generasi muda untuk menjadi peracik parfum.

Pemerintah Kota Banda Aceh turut mendorong pengembangan industri nilam sebagai identitas daerah melalui kerja sama dengan ILO.

Tantangan Standar EUDR

Melalui program MyNilam, ILO membantu pelaku usaha memenuhi standar keberlanjutan guna memperluas akses pasar Eropa. Salah satu tantangan utama datang dari regulasi European Union Deforestation Regulation (EUDR) yang menuntut ketertelusuran produk secara ketat untuk memastikan tidak berasal dari aktivitas deforestasi.

Aturan tersebut mewajibkan produsen, termasuk petani di Aceh, menunjukkan lokasi penanaman dan panen nilam secara jelas. Budidaya harus dilakukan di lahan pertanian yang sah dan bukan kawasan hutan.

“Mereka (konsumen Eropa) harus tahu bahwa produk nilam ini dipanen dan ditanam bukan di wilayah yang dilarang, bukan di daerah hutan. Ada ketertelusuran tadi. Bisa dilacak karena manajemen kami itu bisa pengkodean poligon. Jadi mereka tahu di sistemnya tuh, ‘Oh si Bapak ini tuh lahannya di sini loh’, begitulah petanya,” tutur Djauhari.

Upaya pemulihan pascabencana dan penyesuaian terhadap standar internasional diharapkan menjadi momentum kebangkitan kembali industri nilam Aceh sekaligus membuka peluang ekspor yang lebih luas ke pasar global. (xrq)

Kemenag dan BI Tanam 5.000 Pohon Kopi di Aceh Tengah, Dorong Wakaf Produktif Berbasis Ekonomi Umat

0
Kemenag dan BI Tanam 5.000 Pohon Kopi di Aceh Tengah, Dorong Wakaf Produktif Berbasis Ekonomi Umat. (Foto: For Nukilan)

NUKILAN.ID | TAKENGON — Upaya memperkuat pengelolaan wakaf produktif sekaligus mendorong kemandirian ekonomi umat terus digalakkan Kementerian Agama (Kemenag) di Aceh. Kantor Kemenag Kabupaten Aceh Tengah bersama Bank Indonesia (BI) Cabang Lhokseumawe meluncurkan program penanaman 5.000 batang kopi di lahan wakaf seluas 2,5 hektare.

Program bertajuk Gerakan Berwakaf Pohon Kopi, Bermaslahat untuk Umat dan Menjaga Alam tersebut dipusatkan di tanah wakaf milik Yayasan Wakaf Ikhlas Beramal, Desa Paya Bener, Kecamatan Bebesen, Kabupaten Aceh Tengah, Jumat (13/2/2026).

Kepala Kantor Kemenag Aceh Tengah, Wahdi MS, mengatakan gerakan ini merupakan bentuk sinergi lintas lembaga dalam mengembangkan wakaf produktif berbasis sektor pertanian, sekaligus memperkuat pemberdayaan ekonomi umat yang selaras dengan pelestarian lingkungan.

“Kita berharap ini akan menjadi cikal bakal dari kebangkitan umat dan sekaligus sebagai solusi untuk perekonomian umat,” ujarnya dalam siaran pers Kemenag yang diterima Nukilan.id.

Ia menjelaskan, wakaf melalui program tersebut tidak hanya memiliki nilai ibadah, tetapi juga diharapkan mampu menghadirkan manfaat ekonomi berkelanjutan bagi masyarakat sekitar. Komoditas kopi dipilih karena menjadi salah satu potensi unggulan Aceh Tengah sekaligus dinilai ramah terhadap ekosistem setempat.

Sebelumnya, aparatur sipil negara (ASN) Kemenag telah menanam 2.000 batang kopi di lahan wakaf produktif Dusun Kala Wih Ilang, Kecamatan Pegasing, pada awal 2024 dan kini memasuki masa panen.

“Hasil panen kopi wakaf tersebut akan disalurkan untuk mendukung kepentingan pendidikan di Madrasah Ibtidaiyah Swasta (MIS) Kala Wih Ilang, sekaligus untuk pemberdayaan ekonomi bagi masyarakat mualaf dan masyarakat kurang mampu di wilayah setempat,” kata Wahdi.

Wakaf Produktif Diperluas

Kepala Unit Pelaksanaan Pengembangan UMKM, Keuangan Inklusif dan Syariah BI Lhokseumawe, Riemas Anugerah Maulana, menilai peluncuran 5.000 batang kopi di Kota Wakaf Aceh Tengah menjadi langkah awal yang positif dalam membangun manfaat sosial sekaligus ekonomi produktif.

Menurutnya, program tersebut tidak sekadar kegiatan penghijauan, tetapi diarahkan untuk memperkuat ekosistem ekonomi umat melalui pengelolaan wakaf yang produktif. Budidaya kopi diharapkan mampu memberikan nilai tambah ekonomi, membuka peluang usaha baru, serta mendorong kemandirian ekonomi berbasis potensi lokal.

Sementara itu, Kepala Kantor Wilayah Kemenag Aceh, Azhari, menyebut Aceh Tengah layak menyandang predikat Kota Wakaf karena berbagai inovasi pengembangan wakaf produktif yang telah dilakukan.

“Aceh Tengah dapat dijadikan contoh pengelolaan wakaf produktif dan ini harus menjadi semangat bagi kota dan kabupaten lainnya dalam mengelola wakaf,” ujar Azhari.

Aceh Tengah tercatat sebagai satu-satunya Kota Wakaf di Aceh dari enam kota wakaf pertama di Indonesia, bersama Kabupaten Siak, Kota Padang, Kabupaten Gunungkidul, Kabupaten Wajo, dan Kota Tasikmalaya.

Kemenag berharap pengembangan wakaf produktif terus diperluas di berbagai daerah di Aceh. Saat ini, program difokuskan pada pemanfaatan tanah wakaf yang sebelumnya terbengkalai, termasuk mendorong setiap ASN menanam satu pohon di lahan wakaf.

Gerakan tersebut menjadi pesan bahwa wakaf tidak hanya dimaknai sebagai simbol ibadah, tetapi juga sebagai instrumen nyata dalam mendorong kebangkitan ekonomi umat berbasis potensi lokal dan keberlanjutan lingkungan. (xrq)

Polisi Tertibkan Tambang Emas Ilegal di Geumpang, Tekankan Perlindungan Lingkungan dan Keselamatan Warga

0

NUKILAN.ID | SIGLI — Polda Aceh menegaskan komitmennya dalam memberantas aktivitas Pertambangan Emas Tanpa Izin (PETI) yang dinilai merusak lingkungan serta membahayakan keselamatan masyarakat.

Penegasan tersebut disampaikan Kabid Humas Polda Aceh, Kombes Pol Joko Krisdiyanto, terkait penertiban tambang emas ilegal yang dilakukan Polres Pidie bersama Polda Aceh dan TNI di kawasan pegunungan Geumpang, Kabupaten Pidie, Senin (9/2/2026).

“Kegiatan ini merupakan langkah nyata Polri dalam menegakkan hukum serta menjaga kelestarian lingkungan hidup. Penambangan ilegal tidak hanya melanggar aturan, tetapi juga menimbulkan dampak ekologis yang sangat serius, mulai dari kerusakan hutan hingga potensi bencana alam,” tegas Joko Krisdiyanto.

Operasi penertiban tersebut dipimpin langsung oleh Kasubdit IV Tipidter Ditreskrimsus Polda Aceh, Kompol Hermanto Bowo Laksono, S.I.K., dengan dukungan Kabag Ops Polres Pidie AKP Raja Amiruddin Harahap, S.Sos., serta Kasat Reskrim Polres Pidie AKP Dedy Miswar, S.Sos., M.H., bersama personel gabungan TNI dari Kodim 0102/Pidie.

Kabid Humas kepada Nukilan.id menjelaskan, tim gabungan menyasar sejumlah titik yang diduga menjadi lokasi aktivitas PETI di kawasan Km 17 dan Km 18 Alue Kamara, Gampong Pulo Loih, Kecamatan Geumpang. Untuk mencapai lokasi, personel harus menempuh perjalanan sekitar 25 kilometer menggunakan kendaraan, kemudian melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki sejauh kurang lebih 8 kilometer melewati medan pegunungan yang berat.

“Ini menunjukkan keseriusan aparat di lapangan. Medan yang sulit tidak menjadi penghalang bagi petugas untuk memastikan wilayah tersebut bersih dari aktivitas tambang ilegal,” ujarnya.

Di lokasi penertiban, petugas menemukan sejumlah titik bekas aktivitas penambangan emas ilegal. Meski tidak ditemukan pelaku di tempat dan aktivitas tambang telah berhenti beroperasi, aparat tetap mengamankan barang bukti berupa tiga drum berisi bahan bakar minyak jenis solar dan empat drum kosong. Seluruh barang bukti tersebut kemudian dititipkan di Polsek Geumpang.

Sebagai bagian dari langkah penegakan hukum sekaligus pencegahan, petugas juga memusnahkan satu unit alat ayakan dengan cara dibakar agar tidak dapat digunakan kembali. Selain itu, spanduk imbauan larangan pertambangan ilegal turut dipasang sebagai upaya preventif dan edukasi kepada masyarakat setempat.

“Kami ingin menegaskan bahwa Polri tidak hanya melakukan penindakan, tetapi juga mengedepankan upaya pencegahan melalui edukasi. Masyarakat diharapkan memahami bahwa PETI membawa dampak buruk jangka panjang, baik bagi lingkungan maupun kehidupan sosial,” jelas Joko Krisdiyanto.

Ia menambahkan, Polda Aceh bersama jajaran akan terus bersinergi dengan TNI, pemerintah daerah, serta instansi terkait guna melakukan pengawasan berkelanjutan dan penindakan tegas terhadap seluruh aktivitas pertambangan ilegal di wilayah Aceh.

“Kami mengimbau seluruh masyarakat agar tidak terlibat dalam penambangan tanpa izin. Mari bersama-sama menjaga alam Aceh agar tetap lestari demi generasi yang akan datang,” pungkasnya. (XRQ)

USK Perkuat Peran Guru Biologi dalam Edukasi Lingkungan Lewat Workshop di Banda Aceh

0
USK Perkuat Peran Guru Biologi dalam Edukasi Lingkungan Lewat Workshop di Banda Aceh. (Foto: For Nukilan)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH — Universitas Syiah Kuala (USK) menggelar workshop bertajuk “Peran Guru Biologi dalam Meningkatkan Kesadaran Lingkungan Hidup bagi Siswa dan Masyarakat” yang diikuti sekitar 60 guru biologi dari Kota Banda Aceh dan wilayah sekitarnya. Kegiatan tersebut berlangsung di SMA Negeri 11 Banda Aceh pada Kamis (6/2/2026).

Workshop dibuka secara resmi oleh Ketua Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Biologi Aceh, Samsuar, M.Pd. Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa guru biologi memiliki posisi strategis sebagai agen perubahan dalam menanamkan kesadaran lingkungan kepada peserta didik, terutama di tengah meningkatnya ancaman bencana hidrometeorologi seperti banjir dan longsor di Aceh.

Pada kegiatan ini, Abdullah hadir sebagai narasumber utama dan memaparkan berbagai strategi inovatif yang dapat diterapkan guru biologi untuk mengintegrasikan isu lingkungan hidup ke dalam kurikulum maupun proses pembelajaran di sekolah. Ia menekankan bahwa pendidikan biologi tidak hanya berfokus pada penguasaan konsep ilmiah, tetapi juga berperan dalam membentuk karakter siswa agar memiliki kepedulian terhadap kelestarian lingkungan.

Workshop tersebut merupakan hasil kolaborasi antara Ikatan Alumni Biologi FKIP USK, Pusat Riset Konservasi USK, dan MGMP Biologi Aceh. Selama kegiatan berlangsung, para peserta terlihat antusias mengikuti sesi diskusi serta berbagi pengalaman mengenai praktik pembelajaran berbasis lingkungan yang telah diterapkan di sekolah masing-masing.

Salah satu peserta, Rina, guru biologi dari salah satu SMA di Banda Aceh, menyampaikan bahwa kegiatan ini memberikan wawasan baru sekaligus inspirasi dalam mengembangkan pembelajaran biologi yang lebih kontekstual dan relevan dengan persoalan lingkungan di sekitar siswa. Ia berharap materi yang diperoleh dapat diterapkan serta disebarluaskan di lingkungan sekolah maupun masyarakat.

Melalui workshop ini, USK berharap kesadaran lingkungan dapat ditanamkan sejak dini melalui peran aktif guru di sekolah. Kegiatan tersebut juga diharapkan menjadi langkah awal dalam memperkuat gerakan pendidikan lingkungan yang berkelanjutan di Aceh, sejalan dengan upaya mitigasi dan pencegahan risiko bencana.

Aceh Barat Siapkan Puluhan Ekor Ternak Bantuan Presiden untuk Warga Terdampak Banjir Jelang Meugang

0
Ilustrasi sapi aceh. (Foto: sapibagus.com)

NUKILAN.ID | MEULABOH — Pemerintah Kabupaten Aceh Barat akan membeli puluhan ekor ternak kerbau dan sapi untuk disalurkan sebagai daging segar kepada masyarakat terdampak bencana banjir bandang. Bantuan tersebut bersumber dari dana Presiden Prabowo Subianto sebesar Rp1 miliar yang telah diterima pemerintah daerah.

Bupati Aceh Barat, Tarmizi, didampingi Wakil Bupati Said Fadheil di Meulaboh, Kamis, mengatakan bantuan daging tersebut akan dibagikan kepada masyarakat di 52 desa prioritas yang terdampak bencana alam, bertepatan dengan tradisi meugang menyambut bulan suci Ramadhan tahun ini.

“Ada 52 desa prioritas terdampak bencana alam yang akan mendapatkan bantuan daging segar di tradisi meugang menyambut bulan suci Ramadhan tahun ini,” kata Tarmizi.

Menurutnya, berdasarkan estimasi harga ternak di Aceh Barat, satu ekor kerbau diperkirakan seharga Rp20 juta dan mampu menghasilkan sekitar 100 hingga 120 kilogram daging yang nantinya dibagikan kepada masyarakat korban bencana.

Setelah dilakukan perhitungan kebutuhan untuk seluruh desa penerima, pemerintah daerah masih mengalami kekurangan tiga ekor ternak. Kekurangan tersebut, kata Tarmizi, akan ditutupi oleh pemerintah daerah melalui bantuan yang telah dihimpun dari aparatur sipil negara (ASN) di lingkungan Pemerintah Kabupaten Aceh Barat.

“Nanti kekurangan ini kami yang tutupi,” sebutnya.

Sebelumnya, Pemerintah Aceh menyampaikan bahwa Presiden Prabowo Subianto telah menyalurkan bantuan pembelian sapi untuk tradisi meugang bagi masyarakat terdampak bencana di Aceh dengan total nilai lebih dari Rp72,7 miliar.

Bantuan tersebut disalurkan melalui mekanisme transfer dana dari Presiden melalui Sekretariat Presiden langsung kepada 19 pemerintah kabupaten/kota pada Selasa (10/2/2026) dengan total anggaran Rp72.750.000.000.

Wakil Gubernur Aceh, Fadhlullah, mengatakan penyaluran bantuan kepada masyarakat akan dilakukan oleh masing-masing pemerintah kabupaten/kota setelah dana diterima oleh daerah yang terdampak bencana banjir bandang.

Reki Safari Kembali Pimpin PBFI Banda Aceh Periode Baru

0

NUKILAN.id | Banda Aceh – Perkumpulan Bina Raga Fitness Indonesia (PBFI) Kota Banda Aceh menggelar Musyawarah Cabang Luar Biasa (Muscablub) di Sekretariat Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kota Banda Aceh, Kamis (12/2/2026). 

Dalam musyawarah tersebut, Reki Safari, S.T. terpilih kembali sebagai Ketua Umum secara aklamasi. Reki Safari yang merupakan petahana kembali memperoleh kepercayaan dari seluruh peserta musyawarah untuk memimpin PBFI Banda Aceh periode mendatang. 

Muscablub yang berlangsung tertib dan lancar ini dihadiri oleh pengurus dan stakeholder cabang olahraga yang bernaung di bawah KONI Kota Banda Aceh tersebut.

Setelah terpilih, Reki memaparkan tiga agenda prioritas yang akan menjadi fokus kepemimpinannya. Pertama, melakukan penertiban dan pendataan seluruh pusat kebugaran (gym) yang beroperasi di wilayah Kota Banda Aceh.

Kedua, memperkuat pembinaan atlet bina raga dan fitness secara terstruktur dan berkelanjutan. Ketiga, meningkatkan kualitas serta profesionalisme pelatih pribadi (private trainer) dengan mewajibkan kepemilikan lisensi resmi dari PBFI Kota Banda Aceh.

“Program-program ini disusun dengan mempertimbangkan posisi Banda Aceh sebagai ibu kota provinsi yang menerapkan Syariat Islam, sehingga pengelolaan dan pembinaan olahraga kebugaran tetap selaras dengan nilai-nilai dan norma yang berlaku,” ujar Reki kepada Nukilan.

Terpilihnya kembali Reki Safari diharapkan dapat memperkuat eksistensi PBFI Banda Aceh dalam membina atlet dan mengembangkan olahraga kebugaran di ibu kota Provinsi Aceh.

Reporter: Rezi

Pemkab Aceh Besar Gelar Aksi Gotong Royong Massal Sambut Ramadhan 1447 Hijriah

0
Pemkab Aceh Besar Gelar Aksi Gotong Royong Massal Sambut Ramadhan 1447 Hijriah. (Foto: MC Abes)

NUKILAN.ID | JANTHO — Menyambut Bulan Suci Ramadhan 1447 Hijriah, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Aceh Besar melaksanakan kegiatan gotong royong massal yang melibatkan seluruh Aparatur Sipil Negara (ASN) dan pegawai PPPK di lingkungan pemerintah daerah, Jumat (13/02/2026).

Kegiatan yang dimulai sekitar pukul 08.30 WIB tersebut turut melibatkan unsur TNI dan Polri. Aksi bersih-bersih difokuskan pada area perkantoran pemerintah, tempat ibadah, ruas jalan utama, serta lingkungan permukiman masyarakat di wilayah Aceh Besar.

Gotong royong massal ini menjadi bagian dari upaya pemerintah daerah dalam menciptakan lingkungan yang bersih, sehat, dan nyaman menjelang bulan penuh berkah.

Wakil Bupati Aceh Besar, Drs. Syukri A. Jalil, mengatakan kegiatan tersebut memiliki makna strategis, tidak hanya berkaitan dengan kebersihan lingkungan, tetapi juga memperkuat nilai kebersamaan dan keteladanan ASN di tengah masyarakat.

“Gotong royong massal ini merupakan bentuk kesiapan Pemerintah Kabupaten Aceh Besar dalam menyambut Bulan Suci Ramadhan. Lingkungan yang bersih akan menciptakan kenyamanan dalam beribadah sekaligus menjadi contoh nyata bagi masyarakat untuk terus menjaga kebersihan dan kepedulian sosial,” ujarnya.

Ia menambahkan, momentum menjelang Ramadhan perlu dimanfaatkan untuk menumbuhkan kesadaran bersama mengenai pentingnya menjaga kebersihan sebagai bagian dari nilai keimanan dan tanggung jawab sosial.

“Kami berharap kegiatan ini tidak berhenti pada kegiatan seremonial semata, tetapi menjadi budaya yang berkelanjutan, baik di lingkungan ASN maupun masyarakat. Dengan lingkungan yang bersih dan tertata, insya Allah ibadah Ramadhan dapat dijalankan dengan lebih khusyuk,” tambahnya.

Sementara itu, Sekretaris Daerah (Sekda) Aceh Besar, Bahrul Jamil, menyampaikan bahwa kegiatan tersebut juga bertujuan memperkuat semangat kebersamaan dan nilai gotong royong di kalangan ASN.

“Gotong royong massal ini menjadi momentum untuk menumbuhkan rasa tanggung jawab bersama terhadap kebersihan dan kenyamanan lingkungan, khususnya dalam menyambut Bulan Suci Ramadhan,” ujarnya.

Dalam pelaksanaannya, Pemkab Aceh Besar secara khusus menugaskan Satuan Polisi Pamong Praja dan Wilayatul Hisbah (Satpol PP dan WH), Dinas Lingkungan Hidup, serta Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) untuk mengerahkan masing-masing 10 ASN guna melakukan pembersihan terpusat di kawasan Masjid Al-Munawwarah, yang menjadi salah satu pusat aktivitas ibadah masyarakat di ibu kota kabupaten.

“Masjid Al-Munawwarah merupakan salah satu pusat aktivitas ibadah masyarakat di ibu kota kabupaten. Karena itu, kami menurunkan personel secara khusus agar kebersihan dan kenyamanan lingkungan masjid benar-benar terjaga menjelang Ramadhan,” ujarnya.

Keterlibatan lintas perangkat daerah tersebut mencerminkan sinergi dan komitmen bersama dalam mendukung program kebersihan sekaligus meningkatkan pelayanan kepada masyarakat.

“Kami berharap kegiatan ini tidak berhenti sebagai agenda seremonial, tetapi menjadi budaya kerja dan kebiasaan positif yang terus dilaksanakan,” pungkas Sekda Aceh Besar. (XRQ)