Beranda blog Halaman 139

Forkopimda Banda Aceh Imbau Warga Tidak Rayakan Pergantian Tahun 2026

0
Forkopimda Banda Aceh Imbau Warga Tidak Rayakan Pergantian Tahun 2026. (Foto: Humas Banda Aceh)

NUKILAN.ID | Banda Aceh — Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Kota Banda Aceh mengeluarkan seruan bersama yang meminta masyarakat tidak menggelar perayaan malam pergantian Tahun Baru Masehi 2026.

Seruan tersebut disepakati dan ditandatangani dalam rapat koordinasi pengamanan Natal dan Tahun Baru (Nataru) yang berlangsung di ruang rapat Pendopo Wali Kota Banda Aceh, Rabu (24/12/2025).

Dalam seruan itu ditegaskan, “Kepada warga Kota Banda Aceh agar pada malam pergantian tahun baru Masehi 1 Januari 2026 tidak melakukan perayaan apapun baik di tempat terbuka maupun tempat tertutup seperti pesta kembang api, mercon atau petasan, meniup terompet, balap-balapan kendaraan dan permainan atau kegiatan hura-hura lainnya yang tidak bermanfaat serta bertentangan dengan Syariat Islam dan adat istiadat Aceh.”

Selain larangan tersebut, Forkopimda juga mengajak masyarakat untuk menjaga keharmonisan sosial.

“Memperkokoh persatuan dan kesatuan serta kerukunan umat beragama, meningkatkan kepedulian dalam menegakan syariat islam, saling menghormati dan membantu demi tercapainya ketertiban dan keamanan,” bunyi seruan itu.

Wali Kota Banda Aceh, Illiza Sa’aduddin Djamal, mengatakan Pemerintah Kota Banda Aceh bersama unsur Forkopimda telah menyepakati langkah pengamanan sekaligus larangan perayaan tahun baru dalam rangka menciptakan situasi yang kondusif.

“Kami menghimbau kepada warga Kota Banda Aceh untuk tidak merayakan tahun baru, mari memperbanyak ibadah, muhasabah (introspeksi diri), dan berdoa agar tahun baru membawa kebaikan,” ujar Illiza.

Ia menambahkan, meskipun sebagian besar masyarakat Banda Aceh tidak merayakan Natal dan Tahun Baru, pemerintah daerah tetap menyiapkan pengamanan secara maksimal.

“Meski sebagian besar warga Banda Aceh tidak merayakan natal dan tahun baru, namun Pemerintah Kota Banda Aceh bersama Forkopimda tetap akan melakukan pengamanan untuk menciptakan suasana yang kondusif serta menghindari hal-hal yang tidak kita inginkan,” tambahnya.

Rapat koordinasi tersebut turut dihadiri Wakil Wali Kota Banda Aceh Afdhal Khalilullah, Kapolresta Banda Aceh Kombes Pol Joko Heri Purwono, unsur Forkopimda, para asisten, camat, serta kepala organisasi perangkat daerah terkait. (xrq)

Jembatan Tenge Besi di Bener Meriah Kembali Bisa Dilintasi Kendaraan

0
Sejumlah kendaraan mulai melintas di kawasan Jembatan Tenge Besi di Desa Gemasih, Kecamatan Pintu Rime, Kabupaten Bener Meriah, Aceh, Rabu (24/12/2025) (Foto: Video Pemprov Aceh)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH — Aktivitas masyarakat di Kabupaten Bener Meriah mulai kembali normal setelah Jembatan Tenge Besi di Desa Gemasih, Kecamatan Pintu Rime, kini resmi dapat dilalui kendaraan, Rabu (24/12/2025).

Jembatan tersebut sebelumnya mengalami kerusakan akibat banjir yang melanda wilayah itu pada akhir November 2025, sehingga sempat menghambat mobilitas warga dan distribusi logistik ke sejumlah daerah pedalaman.

Sekretaris Daerah (Sekda) Aceh, M Nasir, menyampaikan bahwa berfungsinya kembali jembatan tersebut membawa harapan baru bagi masyarakat, khususnya dalam pemulihan aktivitas sosial dan ekonomi.

“Terhubungnya kembali Jembatan Tenge Besi ini membawa harapan baik bagi masyarakat,” kata M Nasir di Banda Aceh, Rabu (24/12/2025).

Menurut Nasir, pemulihan infrastruktur tersebut merupakan langkah krusial untuk memulihkan mobilitas warga sekaligus menjaga stabilitas ekonomi daerah. Ia optimistis normalisasi jembatan akan memperlancar distribusi logistik ke wilayah pedalaman, terutama ke Kabupaten Bener Meriah dan Aceh Tengah.

“Kita harapkan proses distribusi logistik ke wilayah pedalaman kembali lancar tanpa hambatan,” ujarnya.

Ia juga menjelaskan bahwa Jembatan Tenge Besi menjadi salah satu jalur utama bagi para petani di dataran tinggi Gayo. Selama jembatan terputus, aktivitas pertanian dan distribusi hasil panen ke luar daerah mengalami kendala yang berdampak pada menurunnya pendapatan petani.

“Dengan normalnya arus lalu lintas, hasil pertanian masyarakat kini bisa diangkut dengan mudah. Kami optimistis hal ini akan mempercepat pemulihan ekonomi masyarakat pascabencana,” kata dia.

Sementara itu, Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Aceh, Mawardi, memastikan kondisi lalu lintas di sekitar jembatan sudah kembali lancar. Meski demikian, ia mengingatkan masyarakat agar tetap menjaga ketahanan jembatan yang baru selesai diperbaiki.

“Petugas tetap mengimbau para pengendara untuk berhati-hati dan memperhatikan muatan kendaraan. Hal ini penting demi menjaga ketahanan jembatan dalam jangka panjang,” ujarnya.

Selain itu, Mawardi juga mengimbau pengguna jalan agar meningkatkan kewaspadaan, khususnya saat cuaca ekstrem atau melakukan perjalanan pada malam hari. Ia menyarankan masyarakat menunda perjalanan jika hujan deras dan tidak dalam kondisi mendesak.

“Kami imbau kepada pengendara, jika sedang turun hujan atau sudah sore hari sebaiknya ditunda dulu perjalanannya. Kecuali dalam keadaan mendesak,” ujarnya.

Hampir Seluruh Sekolah di Aceh Tamiang Terendam Banjir, Seragam Siswa Rusak

0
Personel Satuan Brimob Polri membersihkan lumpur dan puing kayu yang mengenangi pekarangan dan ruang sekolah di SD Negeri 1 Karang Baru, Aceh Tamiang, Aceh, Sabtu (20/12/2025). (Foto: ANTARA FOTO/Irwansyah Putra)

NUKILAN.ID | KUALA SIMPANG — Wakil Bupati Aceh Tamiang, Ismail, mengungkapkan bahwa dampak banjir yang melanda wilayah tersebut pada November lalu sangat parah terhadap dunia pendidikan. Ia menyebut hampir seluruh sekolah di Aceh Tamiang sempat terendam banjir.

“90 persen sekolah kami yang tenggelam. Kelasnya tenggelam dan kemungkinan baju-baju anak sekolah juga habis,” kata Ismail saat ditemui di Aceh Tamiang, Rabu (24/12/2025).

Tak hanya bangunan sekolah, berbagai fasilitas penunjang pendidikan juga ikut terdampak. Saat ini, proses pemulihan terus dilakukan dengan melibatkan berbagai pihak, mulai dari personel TNI hingga Polri yang turun langsung membersihkan lumpur dan sisa material banjir dari lingkungan sekolah.

Ismail menjelaskan bahwa kegiatan belajar mengajar di sejumlah sekolah masih berlangsung dalam kondisi darurat.

“Sekarang lagi ada upaya untuk pembersihan kelas-kelas sekolah. Ada beberapa sekolahnya yang belajar secara darurat. Intinya belum sempurna lah,” ujarnya.

Pemerintah daerah menargetkan seluruh sekolah yang terdampak dapat kembali beroperasi normal pada Januari 2026, bertepatan dengan dimulainya kembali aktivitas belajar setelah libur akhir tahun.

“Kita upaya Januari ini bisa masuk lah (sekolah). Setelah liburan dan tahun baru,” pungkasnya.

Dua Desa di Bener Meriah Kembali Terendam Banjir, Hujan Lebat Picu Listrik Padam

0
Banjir kembali terjadi di Bener Meriah (FOTO: Dok. Tangkapan Layar Media Sosial)

NUKILAN.ID | REDELONG — Banjir kembali melanda wilayah Kabupaten Bener Meriah, Aceh, pada Rabu malam (24/12/2025). Hujan deras yang mengguyur sejak sore hari menyebabkan debit air sungai meningkat dan merendam dua desa, yakni Buntul dan Lampahan.

Kepala Pusat Data dan Informasi Posko Penanganan Bencana Hidrometeorologi Kabupaten Bener Meriah, Ilham Abdi, dikutip Nukilan.id menjelaskan bahwa banjir terjadi akibat hujan lebat yang terus turun sejak sore.

“Di Bener Meriah banjir di Buntul dan Lampahan. Banjir akibat hujan lebat sejak sore tadi sehingga menyebabkan debit air sungai sejumlah titik kembali naik,” kata Ilham Abdi, Rabu (24/12/2025).

Meski banjir melanda sejumlah desa, Ilham memastikan lokasi pengungsian di wilayah tersebut tidak terdampak banjir. Namun, kondisi cuaca masih belum membaik karena hujan lebat terus mengguyur kawasan itu.

Selain banjir, gangguan juga terjadi pada akses komunikasi di Desa Pantan Kemuning, Kecamatan Timang Gajah. Hingga malam hari, kondisi desa tersebut belum dapat dipantau karena debit air masih meningkat.

“Sekarang listrik di Lampahan dan Buntul padam,” jelas Ilham.

Sebagai informasi, Kabupaten Bener Meriah sebelumnya juga sempat dilanda banjir bandang pada 26 November lalu. Bencana tersebut menyebabkan sejumlah jalan dan jembatan putus hingga wilayah itu sempat terisolasi. Pada hari yang sama, banjir juga kembali melanda Kabupaten Pidie Jaya, Aceh, dan berdampak pada belasan desa. (XRQ)

Reporter: AKIL

Banjir Kembali Rendam Pidie Jaya, Ketinggian Air Tembus Dua Meter

0
Kondisi di Pidie Jaya akibat hujan dengan intensitas tinggi melanda daerah itu. (FOTO: TANGKAPAN LAYAR)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Sejumlah permukiman warga di Kabupaten Pidie Jaya (Pijay), Provinsi Aceh, kembali terendam banjir setelah hujan dengan intensitas tinggi mengguyur wilayah tersebut sejak Selasa hingga Rabu (24/12/2025). Debit air Krueng Meureudu dan sejumlah sungai lainnya kembali meningkat dan menggenangi rumah warga yang sebelumnya masih dipenuhi lumpur sisa banjir.

Wakil Bupati Pidie Jaya, Hasan Basri, menyampaikan bahwa 19 desa di tiga kecamatan kembali terdampak banjir, yakni Kecamatan Meurah Dua, Meureudu, dan Bandar Dua.

Di Kecamatan Meurah Dua, air memasuki Desa Dayah Husen, Mancang, Dayah Kruet, Meunasah Raya, Blang Cut, Buangan, dan Beuringen.
Sementara di Kecamatan Meureudu, banjir melanda Desa Berawan, Meunasah Lhok, Grong-grong Beracan, serta Desa Masjid Tuha–Lhokga.

“Di Kecamatan Bandar Dua air menggenangi Desa Juelanga, Alue Keutapang, Paya Pisang Klat, Alue Mee, Babah Krueng, Blang Kuta, Drien Tujoh, dan Alue Sane,” kata Hasan dalam keterangan kepada Nukilan.id, Rabu (24/12/2025).

Seorang warga Pidie Jaya, Nasruddin, membenarkan bahwa air kembali memasuki rumah-rumah warga setelah hujan belum juga berhenti hingga Rabu malam.

“Iya, Bang. Air kembali menggenangi rumah warga pascadiguyur hujan yang sampai sekarang belum berhenti,” ujarnya saat dihubungi.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pidie Jaya, Muhammad Nur, menjelaskan bahwa hujan deras menyebabkan meluapnya air di beberapa sungai besar, yakni Krueng Meureudu, Krueng Beuracan, Krueng Ulim, serta krueng di kawasan Alue Keutapang.

“Ketinggian air bervariasi 1 sampai 2 meter. Lokasi terdampak hampir menyeluruh di delapan kabupaten yang ada di Pidie Jaya,” kata Muhammad Nur.

Ia memastikan kondisi pengungsi relatif aman karena sebagian besar lokasi pengungsian berada di kawasan yang lebih tinggi.

“Untuk masyarakat kita sendiri Alhamdulillah aman dan tertib, dan tidak terlalu panik karena sebelum itu sudah kita imbau. Kami mengimbau kepada warga kalau memang banjir semakin parah, segera bergeser ke tempat paling aman,” ujarnya. (XRQ)

Reporter: Akil

Mahasiswa UTU Salurkan Bantuan Kemanusiaan untuk Korban Banjir Aceh Tamiang

0
Mahasiswa UTU Salurkan Bantuan Kemanusiaan untuk Korban Banjir Aceh Tamiang. (Foto: For Nukilan)

NUKILAN.ID | KUALA SIMPANG — Pemerintahan Mahasiswa Universitas Teuku Umar (PEMA UTU) kembali menunjukkan kepeduliannya terhadap krisis kemanusiaan dengan menyalurkan bantuan bagi korban banjir di Kabupaten Aceh Tamiang, yang terjadi pada 26 November 2025. Penyaluran bantuan dilakukan di empat titik terdampak terparah, yakni tiga lokasi di Desa Perkebunan Pulau Tiga, Kecamatan Tamiang Hulu, serta satu titik di wilayah Kota Lintang.

Bencana banjir tersebut menyebabkan banyak warga kehilangan tempat tinggal, mengalami kekurangan pangan, serta terputus dari akses pelayanan dasar. Sejumlah fasilitas umum juga dilaporkan mengalami kerusakan berat, sehingga menghambat proses pemulihan pascabencana.

Akses menuju Desa Perkebunan Pulau Tiga dilaporkan sangat sulit akibat kondisi jalan yang rusak parah. Kendaraan tim PEMA UTU sempat mengalami hambatan dalam perjalanan, namun hal itu tidak menghalangi proses penyaluran bantuan sebagai wujud solidaritas kemanusiaan.

Dalam kegiatan tersebut, PEMA UTU menyalurkan makanan siap saji kepada masyarakat terdampak. Bantuan tersebut disambut haru dan antusias oleh warga yang selama ini mengalami keterbatasan pangan akibat bencana.

Selain makanan, PEMA UTU juga menyalurkan bantuan logistik sebanyak 5 ton berupa kebutuhan pokok serta menyerahkan satu unit genset untuk wilayah yang masih terisolasi dan belum mendapatkan pemulihan aliran listrik. Genset tersebut dimanfaatkan untuk kebutuhan penerangan dan menunjang aktivitas ibadah di masjid setempat.

Sebagai bentuk apresiasi dan kepercayaan masyarakat, Kepala Mukim bersama warga Desa Perkebunan Pulau Tiga secara langsung meminta agar spanduk PEMA UTU dipasang di Posko Utama Bantuan Kemanusiaan. Spanduk tersebut kini terpasang sebagai simbol kehadiran mahasiswa di tengah situasi darurat kemanusiaan.

Ketika tim PEMA UTU tiba di titik terakhir penyaluran bantuan di wilayah Kota Lintang, Presiden Mahasiswa UTU didatangi warga terdampak yang berharap PEMA UTU dapat menjadi penghubung antara masyarakat dan pemerintah. Warga menyampaikan harapan agar bantuan dan perhatian terus berlanjut, baik secara moral maupun material, khususnya dalam masa pemulihan pascabencana.

Presiden Mahasiswa UTU, Putra Rahmat, kepada Nukilan.id mengungkapkan keprihatinannya setelah menyaksikan langsung kondisi di lapangan.

“Sungguh memprihatinkan ketika saya melihat langsung kondisi masyarakat di lokasi. Setiap langkah yang saya lalui, air mata ikut keluar. Penderitaan ini sangat menusuk hati. Masyarakat berharap adanya perhatian dan pelayanan yang lebih serius dalam penanganan pascabencana. Mereka berharap pemerintah pusat menetapkan bencana ini sebagai bencana nasional serta membuka pintu bantuan internasional agar pemulihan dapat segera dilakukan,” ungkapnya pada Rabu (24/12/2025).

Aksi kemanusiaan tersebut melibatkan jajaran Pemerintahan Mahasiswa UTU, termasuk Wakil Ketua I dan Wakil Ketua II Majelis Permusyawaratan Mahasiswa (MPM) UTU, Menteri Sosial Masyarakat dan Lingkungan, serta seluruh anggota PEMA UTU.

PEMA UTU menegaskan komitmennya untuk terus mengawal aspirasi masyarakat Aceh Tamiang dan mendorong percepatan pemulihan dalam masa darurat kemanusiaan, agar warga dapat kembali hidup secara layak dan bermartabat. (XRQ)

Reporter: Akil

Pemerintah dan Telkomsel Kirim Genset serta Ponsel Pintar untuk Korban Banjir di Sumatra

0
Direktur Jenderal Komunikasi Publik dan Media (Dirjen KPM) Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi), Fifi Aleyda Yahya mengatakan bantuan ini untuk memastikan warga terdampak tetap dapat berkomunikasi, memperoleh informasi, dan menjaga ketenangan di tengah situasi darurat. (Foto: Audie Ichsan/Indonesia.go.id-KPM Kemkomdigi)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Pemerintah menyalurkan bantuan kemanusiaan berupa genset dan ponsel pintar bagi warga terdampak banjir di sejumlah wilayah Sumatra sebagai bagian dari upaya percepatan pemulihan layanan dasar, terutama listrik dan komunikasi.

Bantuan tersebut dilepas oleh Direktur Jenderal Komunikasi Publik dan Media (Dirjen KPM) Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi), Fifi Aleyda Yahya, mewakili Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid, di Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta, Senin (22/12/2025). Program ini merupakan hasil kolaborasi antara Kemkomdigi dan Telkomsel.

Dirjen KPM menyampaikan bahwa bantuan ini bertujuan memastikan masyarakat tetap dapat berkomunikasi, memperoleh informasi, dan menjaga ketenangan di tengah kondisi darurat.

“Bantuan itu menjadi simbol kehadiran pemerintah dan sektor privat untuk meringankan beban masyarakat terdampak banjir di Sumatra, juga sebagai wujud nyata gotong royong kita untuk memastikan kehidupan warga dapat kembali pulih setelah musibah ini,” tutur Fifi.

Bantuan logistik yang dikirimkan meliputi 100 unit genset 10 KVA guna mendukung pemulihan pasokan listrik secara darurat, serta 500 unit ponsel pintar untuk memudahkan komunikasi warga. Selain itu, turut disalurkan 1.500 paket perlengkapan ibadah yang terdiri dari jilbab, mukena, dan Al-Qur’an.

Penyaluran bantuan akan menjangkau seluruh wilayah terdampak banjir di Sumatra, dengan fokus pada daerah yang mengalami dampak terparah seperti Kabupaten Aceh Tamiang, Takengon di Kabupaten Aceh Tengah, serta Blangkejeren di Kabupaten Gayo Lues.

“Situasi di lapangan sangat dinamis. Banyak masyarakat yang sebenarnya sinyalnya sudah ada, tetapi handphone-nya rusak atau hilang akibat banjir. Karena itu, bantuan HP ini menjadi sangat penting,” ujar Fifi.

Ia menjelaskan bahwa pengiriman ponsel dan genset ditujukan untuk menjaga konektivitas warga agar tetap terhubung dengan keluarga dan memperoleh informasi terkini, sementara perlengkapan ibadah diharapkan dapat menjadi penguat batin bagi para korban.

Fifi menambahkan bahwa tidak ada kriteria penerima yang bersifat kaku dalam distribusi bantuan ponsel. Penetapan penerima dilakukan berdasarkan kebutuhan riil di lapangan dengan melibatkan Telkomsel, pemerintah daerah, serta tim tanggap bencana.

“Semoga bantuan ini dapat membantu warga agar dapat memberi kabar kepada keluarga sekaligus memberikan ketenangan batin,” tambah Fifi.

Ia juga menegaskan komitmen Kemkomdigi untuk terus mempercepat pemulihan infrastruktur digital agar seluruh wilayah terdampak bencana dapat kembali terhubung.

Relawan Petani Muda Millenial Kembali Buka Donasi untuk Korban Bencana di Aceh

0
Relawan Petani Muda Millenial (RPMM) kembali membuka program penggelangan donasi dalam rangka aksi pemuda peduli bencana alam Aceh 2025. (Foto: For Nukilan)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Relawan Petani Muda Millenial (RPMM) kembali membuka program open donasi dalam rangka aksi pemuda peduli bencana alam Aceh 2025. Kegiatan ini diumumkan langsung oleh Sekretaris RPMM, Oka Yulia atau yang akrab disapa Acong, melalui akun Instagram resmi @relawanpetanimillenial.

Kali ini, penyaluran bantuan akan difokuskan untuk tiga kabupaten yang terdampak bencana, yakni Aceh Utara, Aceh Timur, dan Aceh Tamiang.

Dalam keterangannya, Acong menjelaskan bahwa sebelumnya RPMM telah lebih dahulu menyalurkan bantuan ke sejumlah wilayah terdampak lainnya di Aceh.

Kali ini, penyaluran bantuan akan difokuskan untuk tiga kabupaten yang terdampak bencana, yakni Aceh Utara, Aceh Timur, dan Aceh Tamiang.

Dalam keterangannya, Acong menjelaskan bahwa sebelumnya RPMM telah lebih dahulu menyalurkan bantuan ke sejumlah wilayah terdampak lainnya di Aceh.

“Kami dari Relawan Petani Muda Millenial (RPMM) kembali melaksanakan open donasi secara online. Terhitung dari beberapa hari yang lalu kami dari RPMM sudah menyalurkan ke beberapa kabupaten yakni Aceh Barat, Nagan Raya, Aceh Selatan, Pidie Jaya dan Bireun yang keseluruhannya adalah daerah terdampak bencana. Untuk awal tahun 2026 ini kami akan kembali menyalurkan donasi ke daerah terdampak lainnya yang dalam hal ini adalah Kabupaten Aceh Utara, Aceh Timur dan Aceh Tamiang,” ungkapnya.

Ia juga mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk ikut berkontribusi dalam aksi kemanusiaan tersebut. Menurutnya, bantuan dalam bentuk apapun sangat berarti bagi para korban bencana dan merupakan wujud nyata solidaritas sosial.

“Kami dari RPMM turut menghimbau dan mengajak kepada lapisan masyarakat untuk sama-sama berkontribusi pada aksi pemuda peduli bencana alam Aceh ini. Tentunya bantuan apapun yang didonasikan akan sangat membantu saudara-saudara kita yang terdampak bencana. Hal ini juga adalah wujud konkrit dari solidaritas kemanusiaan yang nyata,” jelasnya.

Selain itu, RPMM juga menyatakan kesiapan untuk berkolaborasi dengan berbagai pihak yang memiliki tujuan serupa, yakni meringankan beban masyarakat terdampak.

“RPMM siap berkolaborasi dengan pihak manapun asalkan tujuan meringankan beban dan memberikan manfaat pada saudara-saudara kita yang terdampak bencana alam Aceh itu tercapai. Karena bagi kami tentunya tak ada yang lebih penting daripada kebermanfaatan yang bisa kita berikan dan dirasakan oleh para masyarakat terdampak,” lanjutnya.

Di akhir pernyataannya, Acong turut menyampaikan informasi kontak dan rekening bagi masyarakat yang ingin berpartisipasi dalam open donasi tersebut.

“Bagi yang berminat bisa mengkomunikasikan dengan kami contact person (CP) atau Whatsapp atas nama Oka Yulia 0813-9613-7185 dan bagi yang ingin berdonasi dalam bentuk uang tunai atau debit itu bisa melalui Dana: 087846381156 (A.N Muhammad Fikran) dan Bank Syariah Indonesia (BSI) 7236509278 A.N M. Khaisar. Untuk informasi lebih lanjut dan rincinya boleh langsung melalui WhatsApp ataupun Instragram kami, yakni @relawanpetanimillenial ,” tutupnya. (XRQ)

31 Korban Banjir dan Longsor di Aceh Belum Ditemukan, Korban Tewas Terus Bertambah

0
Tim Basarnas mengerahkan perahu karet untuk mengevakuasi warga yang terjebak saat bencana banjir bandang melanda Aceh pada akhir November 2025 lalu (Foto: Basarnas)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH — Hingga hampir satu bulan setelah bencana banjir bandang dan tanah longsor melanda Aceh, sebanyak 31 orang masih dinyatakan hilang. Sementara itu, jumlah korban meninggal dunia terus mengalami peningkatan.

Berdasarkan data resmi informasi bencana hidrometeorologi kabupaten/kota di Provinsi Aceh yang dipantau Nukilan.id melalui laman pintu.acehprov.go.id, Selasa (23/12/2025), bencana tersebut telah berdampak pada 198 kecamatan di 18 kabupaten/kota.

Jumlah warga terdampak tercatat mencapai 2.017.542 jiwa atau sekitar 540.281 kepala keluarga (KK). Dari jumlah tersebut, 374.827 jiwa atau sekitar 94.018 KK terpaksa mengungsi akibat rumah dan lingkungan tempat tinggal mereka rusak atau tidak lagi layak huni.

Data korban jiwa menunjukkan 502 orang meninggal dunia, sementara 31 orang lainnya masih belum ditemukan. Proses pencarian terus dilakukan oleh tim gabungan, namun terkendala medan berat akibat tumpukan material lumpur yang terbawa arus banjir.

Selain korban meninggal dan hilang, ribuan warga juga mengalami luka-luka, dengan rincian 4.939 orang luka ringan dan 474 orang luka berat.

Bencana ini turut menyebabkan kerusakan besar pada fasilitas umum. Tercatat 1.098 ruas jalan dan 492 jembatan mengalami kerusakan. Selain itu, 631 tempat ibadah, 468 sekolah, serta 193 unit rumah sakit dan puskesmas terdampak. Kerusakan juga terjadi pada 511 pondok pesantren dan 183 kantor pemerintahan.

Dari sisi kerugian material, sebanyak 125.842 unit rumah mengalami kerusakan. Sektor pertanian dan peternakan pun terdampak luas, meliputi 72.406 hektare sawah, 39.505 hektare tambak, 23.307 hektare kebun, serta 56.337 ekor ternak.

Pemerintah Aceh saat ini terus mengintensifkan langkah-langkah penanganan darurat, meliputi pencarian korban hilang, pemulihan infrastruktur, dan pemenuhan kebutuhan dasar para pengungsi. (xrq)

Reporter: Akil

TNI dan BNPB Percepat Pembersihan Sekolah Pascabanjir di Aceh Utara dan Aceh Tengah

0
Prajurit TNI membantu warga saat melewati Jembatan Bailey Awe Geutah yang baru selesai dibangun setelah sebelumnya putus akibat bencana banjir bandang di Bireuen, Aceh, Kamis (18/12/2025). (Foto: ANTARA FOTO)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH — Prajurit Tentara Nasional Indonesia (TNI) bersama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) serta masyarakat terus mengintensifkan upaya pembersihan fasilitas pendidikan yang terdampak banjir bandang di Aceh Utara dan Aceh Tengah.

Berdasarkan rilis Badan Komunikasi Republik Indonesia (Bakom RI) yang disampaikan di Jakarta, Selasa (23/12/2025), tim gabungan kembali membersihkan dua sekolah, yakni SD Negeri 01 Samudera di Aceh Utara dan SD Negeri 9 Kebayakan di Aceh Tengah, sebagai bagian dari percepatan pemulihan kegiatan belajar-mengajar.

Di lokasi, prajurit TNI bersama warga terlihat bergotong royong mengangkat endapan lumpur, menyemprot ruang kelas menggunakan air bersih, serta membersihkan area sekolah yang tertutup material sisa banjir. Lumpur tebal yang menempel di lantai, meja belajar, hingga dinding kelas dibersihkan meskipun dengan peralatan terbatas.

Kehadiran aparat di lapangan tidak hanya membantu secara fisik, tetapi juga memberikan dorongan semangat bagi para guru, siswa, dan warga yang sebelumnya kewalahan melakukan pembersihan secara mandiri karena mereka juga merupakan korban terdampak bencana.

Aksi tersebut mencerminkan kepedulian bersama terhadap keberlangsungan dunia pendidikan, khususnya bagi anak-anak yang terdampak banjir. Sekolah yang kembali bersih dan layak digunakan dinilai menjadi langkah awal penting dalam pemulihan kehidupan para pelajar agar tidak terlalu lama kehilangan kesempatan belajar.

Sejak hari pertama bencana banjir dan longsor melanda sejumlah wilayah di Aceh pada November lalu, pemerintah telah mengerahkan seluruh unsur, mulai dari TNI, Polri, hingga instansi terkait, untuk melakukan evakuasi dan membantu masyarakat terdampak.

Upaya penanganan kemudian berlanjut pada tahap pemulihan berbagai fasilitas umum. Hingga kini, aparat masih berada di lapangan membantu warga membersihkan dan memperbaiki sejumlah sarana vital, seperti jembatan, sekolah, kantor desa dan kelurahan, puskesmas, serta rumah ibadah, termasuk masjid dan gereja.

Kehadiran aparat di tengah masyarakat tersebut menegaskan bahwa negara tidak hanya hadir pada masa darurat, tetapi juga tetap mendampingi warga dalam proses pemulihan pascabencana.