Beranda blog Halaman 129

30 Hari Menyusuri Aceh, Muslim Ayub Pimpin Langsung Aksi Kemanusiaan di Wilayah Bencana

0
30 Hari Menyusuri Aceh Muslim Ayub Pimpin Langsung Aksi Kemanusiaan di Wilayah Bencana. (Foto: For Nukilan)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH — Anggota Komisi XIII DPR RI Fraksi Partai NasDem, Muslim Ayub, melaksanakan aksi kemanusiaan di berbagai wilayah terdampak bencana di Provinsi Aceh selama 30 hari penuh, sejak 30 November hingga 31 Desember 2025, bersama NasDem Peduli Bencana Aceh.

Selama sebulan di lapangan, Muslim Ayub menempuh perjalanan ribuan kilometer, menyusuri wilayah barat hingga timur Aceh, dari pesisir hingga daerah pedalaman dan pegunungan yang sulit dijangkau. Rangkaian kunjungan dimulai dari Banda Aceh, berlanjut ke Meulaboh dan Nagan Raya, kemudian wilayah selatan seperti Trumon, Singkil, dan Subulussalam yang mengalami dampak banjir dan kerusakan infrastruktur cukup parah.

Perjalanan kemanusiaan berlanjut ke kawasan pedalaman Kutacane untuk penguatan logistik, kemudian menuju wilayah pegunungan Gayo Lues. Tim selanjutnya bergerak ke wilayah timur Aceh, meliputi Aceh Tamiang, Aceh Timur, dan Aceh Utara, sebelum mengakhiri rangkaian kegiatan di Pidie Jaya.

Dalam menjangkau masyarakat terdampak, tim menghadapi medan berat dan akses terputus. Saat jalan darat tidak dapat dilalui, perjalanan dilakukan menggunakan sampan, bahkan dilanjutkan dengan berjalan kaki ketika kendaraan tidak memungkinkan. Upaya tersebut dilakukan demi memastikan bantuan dan kehadiran negara benar-benar sampai kepada masyarakat, termasuk di wilayah yang sempat terisolasi.

Di lokasi pengungsian, Muslim Ayub tidak hanya melakukan peninjauan. Ia memilih tinggal dan berbaur bersama warga, turut memasak dan makan bersama di tiga titik pengungsian. Keterbatasan di lapangan menjadi bagian dari keseharian tim, namun dinilai tidak sebanding dengan kondisi warga yang kehilangan tempat tinggal dan sumber penghidupan akibat bencana.

Perjalanan tersebut juga diwarnai kendala teknis, mulai dari truk bantuan yang tersangkut lumpur, pecah ban kendaraan, hingga dua kali kecelakaan lalu lintas. Meski demikian, seluruh agenda tetap dilanjutkan hingga semua wilayah yang direncanakan berhasil dikunjungi.

Dalam pelaksanaan tugas, Muslim Ayub menunjukkan kepemimpinan yang tegas dan bertanggung jawab. Ia memberikan instruksi langsung, termasuk menegur tim apabila terjadi keterlambatan atau hambatan yang berpotensi mengganggu distribusi bantuan. Ketegasan itu diterapkan demi memastikan seluruh proses berjalan cepat, disiplin, dan berorientasi pada kepentingan masyarakat.

Menurut Muslim Ayub, situasi bencana tidak memberi ruang untuk penundaan. Kecepatan dan ketepatan kerja menjadi tanggung jawab kemanusiaan yang harus diutamakan.

“Kondisi darurat menuntut kerja cepat dan tepat. Kepentingan kemanusiaan harus menjadi prioritas utama, di atas kepentingan apa pun,” tegas Muslim Ayub.

Aktivitas kemanusiaan ini berlangsung masif dan menyasar berbagai titik wilayah terdampak. Didampingi aparat TNI dan Polri, tim bergerak cepat menyalurkan bantuan serta memastikan kebutuhan dasar warga terpenuhi. Keterlibatan TNI–Polri memperkuat kerja lapangan dan menjaga stabilitas, terutama di wilayah sulit diakses.

Kegiatan tersebut juga melibatkan para Ketua DPD Partai NasDem di berbagai daerah, termasuk Ketua DPD Kabupaten Aceh Tamiang, sehingga koordinasi penanganan bencana berlangsung kolektif, terstruktur, dan berkelanjutan.

Melalui kegiatan ini, Muslim Ayub menegaskan bahwa bantuan tidak hanya berupa logistik, tetapi juga kehadiran, empati, dan kepastian bahwa masyarakat terdampak tidak menghadapi musibah sendirian. Partai NasDem melalui NasDem Peduli Bencana Aceh menegaskan komitmennya untuk terus hadir dalam setiap situasi darurat dan memperkuat solidaritas kemanusiaan.

Di tengah lumpur, banjir, dan keterbatasan akses, perjalanan 30 hari bersama masyarakat Aceh ini menjadi refleksi bahwa kepemimpinan sejati bukan tentang jarak, melainkan tentang kehadiran, ketegasan, dan keberpihakan pada nilai-nilai kemanusiaan.

PLN Pastikan Listrik Tersambung di Seluruh Hunian Sementara Aceh Tamiang

0
PLN Pastikan Listrik Tersambung di Seluruh Hunian Sementara Aceh Tamiang. (Foto: Istimewa)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH — PT PLN (Persero) memastikan seluruh rumah dan fasilitas umum (fasum) di kawasan Rumah Hunian Danantara (Huntara) Aceh Tamiang telah tersambung jaringan listrik. Dukungan infrastruktur kelistrikan ini menjadi bagian dari upaya percepatan pemulihan masyarakat pascabencana melalui penyediaan kebutuhan dasar yang layak.

Pembangunan Huntara tidak hanya menitikberatkan pada konstruksi bangunan, tetapi juga kelengkapan fasilitas dasar seperti listrik, air bersih, sanitasi, dan layanan kesehatan. Pemerintah bersama Danantara Indonesia menempatkan kelistrikan sebagai salah satu prioritas utama agar warga dapat segera menempati hunian dengan aman dan nyaman.

Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo menegaskan kesiapan PLN dalam mendukung penuh pembangunan Huntara, khususnya melalui penyediaan listrik yang aman dan andal untuk setiap unit hunian yang telah selesai dibangun.

“Setiap unit hunian yang telah selesai dibangun, kami pastikan listriknya juga sudah tersedia dan dapat langsung menyala, sehingga masyarakat bisa segera menempati tempat tinggalnya dengan aman dan nyaman,” kata Darmawan dalam keterangan tertulis, Jumat, 2 Januari 2026.

Saat ini, PLN telah menyelesaikan penyediaan infrastruktur kelistrikan di kawasan Huntara Aceh Tamiang, mulai dari pembangunan trafo, jaringan distribusi, hingga pemasangan kWh meter di seluruh hunian yang telah berdiri. Jaringan listrik tersebut telah terhubung sepenuhnya dan dinyatakan mencukupi untuk kebutuhan rumah warga maupun fasilitas umum di kawasan tersebut.

600 Unit Huntara Siap Diserahkan

Hasil sinergi lintas kementerian, Danantara Indonesia, dan Pemerintah Daerah menunjukkan perkembangan signifikan. Sebanyak 600 unit Huntara dijadwalkan akan diserahkan kepada Pemerintah Daerah pada 8 Januari 2026, untuk kemudian disalurkan kepada warga terdampak bencana.

Chief Executive Officer (CEO) Danantara Indonesia, Rosan Roeslani, menyebut bahwa pembangunan Huntara secara nasional ditargetkan mencapai 15 ribu unit dalam tiga bulan ke depan yang tersebar di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat.

“Target pembangunan Rumah Hunian Danantara di Aceh Tamiang ditetapkan secara jelas sejak awal, dan capaian hingga 1 Januari 2026 menunjukkan komitmen kuat seluruh pihak untuk menepatinya. BUMN bergerak cepat, bekerja di lapangan dalam kondisi yang tidak mudah, untuk memastikan masyarakat segera mendapatkan hunian yang layak,” ujar Rosan.

Sebelumnya, Chief Operating Officer (COO) Danantara Indonesia Dony Oskaria bersama Darmawan Prasodjo meninjau langsung progres pembangunan Huntara beserta infrastruktur kelistrikannya. Darmawan kembali menegaskan bahwa listrik merupakan kebutuhan dasar yang wajib tersedia bagi masyarakat di lokasi hunian sementara.

“Karena itu, PLN berupaya menghadirkan listrik yang prima di kawasan Huntara. Sehingga, masyarakat dapat segera tinggal, anak-anak bisa kembali belajar dengan nyaman, dan keluarga dapat menjalani aktivitas sehari-hari dengan lebih layak. Ini adalah komitmen kami untuk terus mendampingi masyarakat bangkit dari bencana,” katanya.

Tanggul Sungai Rusak, Banjir Kembali Rendam Permukiman di Aceh Tamiang

0
Tanggul Sungai Rusak, Banjir Kembali Rendam Permukiman di Aceh Tamiang. (Foto: CNN Indonesia)

NUKILAN.ID | KUALA SIMPANG — Banjir kembali melanda Kampung Raja, Kecamatan Bendahara, Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh, setelah tanggul sungai dilaporkan jebol pada Kamis (1/1/2026) malam. Luapan air sungai kembali merendam jalan penghubung antarkecamatan serta kawasan permukiman yang sebelumnya telah porak poranda akibat banjir bandang.

Tokoh pemuda Bendahara Hilir, M Daud, mengatakan bahwa banjir terjadi akibat kerusakan tanggul yang hingga kini belum diperbaiki.

“Kampung kami banjir lagi akibat tanggul jebol belum diperbaiki,” ujar M Daud.

Ia menjelaskan, peristiwa jebolnya tanggul terjadi sekitar pukul 18.00 WIB dan meluas hingga pukul 21.00 WIB. Titik tanggul yang jebol berada di jalur penghubung antara Kecamatan Bendahara dan Seruway, menyebabkan air sungai meluap ke jalan serta kawasan permukiman warga.

Akibat kejadian tersebut, warga Kampung Raja yang sebelumnya masih bertahan di tenda-tenda pengungsian kembali terdampak.

“Dampak tanggul jebol, Kampung Raja yang kondisinya masih banyak orang mengungsi di tenda kembali terendam banjir,” lanjutnya.

Menurut M Daud, banjir susulan ini diduga kiriman dari wilayah hulu sungai akibat hujan deras yang terjadi di kawasan pegunungan. Ia juga mengungkapkan bahwa kerusakan tanggul telah terjadi sejak banjir bandang pada 26 November 2025 dan belum mendapatkan penanganan maksimal.

“Jebolnya sejumlah tanggul di pesisir Bendahara ini akibat banjir bandang November 2025, meliputi beberapa titik yaitu Kampung Raja, Lubuk Batil, dan Marlempang,” katanya.

Kondisi tersebut menimbulkan kecemasan bagi warga di wilayah hilir sungai.

“Hari ini kami merasa cemas apabila mendapat kabar intensitas hujan lebat di wilayah hulu, maka kampung-kampung di hilir bisa terendam banjir kembali karena tanggul penahan sungai sudah pada jebol,” tambah M Daud.

Selain di Kecamatan Bendahara, banjir juga terjadi di Desa Selamat, Kecamatan Tenggulun, pada Rabu (31/12) malam akibat meluapnya sungai di kawasan objek wisata pemandian Gunung Pandan. Kepala Desa Kampung Selamat, Suherman, menyebut banjir tersebut tidak berlangsung lama.

“Air masuk kampung sampai kawasan tower saja mau ke arah Gunung Pandan. Banjir akibat hujan deras di wilayah atas. Tidak ada korban dan warga mengungsi, hanya banjir lewat,” ujar Suherman.

Hingga kini belum dilaporkan adanya korban jiwa dalam peristiwa banjir tersebut, namun kerusakan infrastruktur dan kondisi tanggul yang belum tertangani masih menjadi kekhawatiran utama masyarakat.

Prajurit TNI Terjun ke Sungai, Selamatkan Warga Aceh Tengah yang Terbawa Arus Banjir

0
Tangkapan layar video viral personel TNI menyelamatkan warga Aceh Tengah yang jatuh dari sling. (Foto: dok. Istimewa)

NUKILAN.ID | TAKENGON – Tiga prajurit TNI melakukan aksi penyelamatan dramatis terhadap seorang warga yang terjatuh ke sungai saat mencoba menyeberang di wilayah Sungai Burlah (Berawang Gajah), Kecamatan Ketol, Aceh Tengah. Aksi heroik tersebut terekam video dan menjadi viral di media sosial.

Peristiwa itu terjadi ketika korban hendak menyeberangi sungai menggunakan tali sling karena akses jalan darat terputus akibat banjir. Saat berada di tengah sungai, korban kehilangan keseimbangan dan terjatuh, lalu terseret arus yang cukup deras.

Melihat kejadian tersebut, tiga personel TNI yang berada di lokasi segera bertindak. Mereka adalah Serka Suyanto dari Koramil 09/Ketol Kodim 0106/Aceh Tengah, serta Serda Suherman dan Serda Agus dari Yon TP 854/Dharma Kersaka, Brigif 90/Yudha Guna Dharma.

Salah seorang prajurit langsung berenang menuju korban di tengah arus deras, sementara dua prajurit lainnya membantu proses evakuasi dari darat hingga korban berhasil diselamatkan.

“Kami melihat warga terjatuh dan langsung terseret arus. Tanpa berpikir panjang, kami segera terjun ke sungai untuk menolong. Ini sudah menjadi tugas dan kewajiban kami sebagai prajurit TNI untuk selalu hadir membantu masyarakat,” kata Suyanto, Jumat (2/1/2026).

Setelah berhasil dievakuasi, korban diperiksa dan dipastikan dalam kondisi aman. Menurut Suyanto, keselamatan warga menjadi prioritas utama, terlebih dalam situasi darurat yang mengancam nyawa.

Diketahui, sejumlah akses jalan dan jembatan di Aceh Tengah mengalami kerusakan akibat banjir bandang yang terjadi Rabu (26/11/2025). Sebagai solusi sementara, beberapa sungai dipasangi tali sling agar warga tetap dapat melintas.

Bupati Aceh Tamiang Ajukan BLT Rp1 Juta per KK dan Bantuan Pangan Pascabencana

0
Armia Fahmi Bupati Aceh Tamiang menyampaikan laporan kepada Prabowo Subianto Presiden RI dalam agenda rapat terbatas (Ratas) pasca-bencana Sumatera di Kabupaten Aceh Tamiang, Provinsi Aceh, Kamis (1/1/2026). (Foto: Tangkapan Layar Youtube Setpres)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH — Bupati Aceh Tamiang, Armia Fahmi, menyampaikan tiga permintaan utama kepada Presiden RI Prabowo Subianto dalam rapat terbatas terkait percepatan pemulihan pascabencana di Aceh Tamiang, Kamis (1/1/2026).

Dalam laporan tersebut, Armia menekankan kebutuhan mendesak pembangunan hunian tetap bagi warga terdampak banjir. Berdasarkan pendataan pemerintah desa, sebanyak 37.888 rumah hilang dan 4.839 rumah rusak berat, sehingga total kebutuhan hunian tetap mencapai 42.727 unit.

“Terima kasih, kami sudah dibantu Danantara untuk hunian sementara sebanyak 600 unit dan nanti ada tambahan lagi untuk huntap dan lainnya,” kata Armia, Kamis (1/1/2026) seperti dikutip Antara.

Permintaan kedua berkaitan dengan dukungan pasokan pangan bagi masyarakat. Dengan jumlah penduduk mencapai 313.245 jiwa, pemerintah daerah telah menghitung kebutuhan pokok berupa beras, telur, minyak goreng, dan gula untuk enam bulan ke depan.

Armia menyebut kondisi ekonomi masyarakat masih berat, terutama menjelang bulan suci Ramadan dan Idul Fitri 2026.
“Pasti masyarakat kami kesulitan, terutama menjelang Ramadan dan Idulfitri,” ujarnya.

Usulan ketiga adalah bantuan langsung tunai (BLT) bagi 111.570 kepala keluarga. Ia berharap setiap keluarga dapat menerima bantuan sekitar Rp1 juta sepanjang tahun ini untuk membantu pemulihan ekonomi pascabencana.

“Kami akan buat surat resmi kepada menteri terkait untuk kebutuhan tersebut,” katanya.

Armia menutup penyampaiannya dengan mengapresiasi perhatian pemerintah pusat serta berharap proses pemulihan dapat berlangsung cepat sehingga kehidupan masyarakat Aceh Tamiang kembali normal.

Menanggapi permintaan itu, Presiden Prabowo Subianto menyatakan pemerintah akan melakukan perhitungan ulang anggaran dan menyesuaikannya dengan data yang tersedia agar bantuan tersalurkan secara tepat.

“Nanti kita hitung dan integrasikan dengan data semua supaya nanti tepat sasaran,” kata Presiden.

Prabowo Perintahkan Operasi Rekayasa Besar Pulihkan Sungai Aceh, Lumpur Bencana Berpeluang Dijual

0
Gubernur Aceh Dampingi Presiden Prabowo Tinjau Lokasi Banjir dan Longsor di Sejumlah Kabupaten. (Foto: For Nukilan)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Presiden Prabowo Subianto memerintahkan pelaksanaan operasi rekayasa berskala besar untuk memulihkan kondisi Aceh pascabencana banjir bandang dan longsor yang terjadi sejak akhir November 2025. Perintah tersebut disampaikan dalam rapat terbatas bersama sejumlah kementerian dan lembaga di Kabupaten Aceh Tamiang, Kamis (1/1/2026).

Dalam rapat itu, Prabowo menyetujui rencana normalisasi sungai-sungai di Aceh yang akan dilakukan mulai dari muara melalui jalur laut. Menanggapi usulan Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin, Prabowo menegaskan bahwa pekerjaan ini merupakan proyek teknik berskala besar.

“Baik, saya kira ini ya sudahlah, kita bikin operasi besar saja, ya kan? This is a big, big engineering operation. Tapi intinya saya sangat setuju ya,” ujar Prabowo.

Presiden menekankan bahwa normalisasi sungai membutuhkan koordinasi lintas kementerian, keahlian teknik khusus, serta keterlibatan berbagai pihak, termasuk TNI, pemerintah daerah, BUMN karya, Kementerian PUPR, fakultas teknik, hingga perusahaan-perusahaan besar dunia yang berpengalaman di bidang rekayasa dan pengerukan.

“Saya kira silakan Menteri Pertahanan dan TNI koordinasi sama gubernur-gubernur ya. Silakan cari, bicara dengan ahli-ahli engineering ya, dari mungkin dari BUMN karya, dari PU dan juga dari fakultas-fakultas teknik kalau perlu dari perusahaan-perusahaan besar di dunia yang mampu membuat engineering work,” kata Prabowo.

Ia juga mengingatkan pentingnya melibatkan perusahaan-perusahaan yang memiliki keahlian dalam dredging atau pengerukan, terutama yang biasa menangani proyek-proyek pelabuhan.

“Ini kan engineering work skala besar ya, jadi dredging (pengerukan). Ada perusahaan-perusahaan besar yang punya keahlian di bidang ini, dredging untuk pelabuhan dan sebagainya,” ujarnya.

Selain fokus pada pemulihan sungai, Prabowo mengungkapkan adanya minat pihak swasta untuk membeli lumpur sisa bencana yang mengendap di sungai, sawah, dan kawasan permukiman. Informasi tersebut ia peroleh dari laporan para kepala daerah.

“Gubernur melaporkan ke saya ada pihak-pihak swasta yang tertarik, dia bisa manfaatkan lumpurnya di mana-mana, jadi tidak hanya di sungai, tapi yang di sawah dan sebagainya. Silakan, ini saya kira bagus sekali. Jadi tolong ini didalami dan kita laksanakan, ya,” ujar Prabowo.

Menurutnya, jika lumpur tersebut dimanfaatkan dan dijual kepada pihak swasta, hasilnya dapat memberikan manfaat langsung bagi daerah.

“Nanti juga bermanfaat itu kalau bisa lumpurnya kalau ada swasta mau beli, ya monggo silakan, langsung dinikmati oleh daerah-daerah, ya kan? Benar, enggak? Gubernur, Bupati ada semangat sedikit, ya, kalau tahu begitu,” kata Prabowo.

Menutup arahannya, Prabowo meminta seluruh jajaran pemerintah dan pemangku kepentingan mengerahkan semua kemampuan untuk mempercepat penanganan dampak bencana dan proses normalisasi sungai.

“Pokoknya kita kerahkan semua upaya kita, ya, jadi jangan salah,” tegasnya.

Pengetatan Fiskal Era Prabowo: Kepala Daerah ‘Pening’, Transfer Pusat Tak Lagi Bisa Diandalkan

0
Ilustrasi. (Foto: AI)

NUKILAN.ID | INDEPTH – Pemerintah daerah kini dipaksa berpikir lebih keras dalam mengelola keuangan. Pengetatan anggaran tak lagi menjadi pilihan, melainkan keniscayaan, menyusul keputusan pemerintah pusat memangkas Transfer ke Daerah (TKD) dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2026.

Kebijakan tersebut sontak memantik kegelisahan di tingkat daerah. Sejumlah kepala daerah mengaku ‘gerah’, lantaran wilayah yang mereka pimpin belum sepenuhnya memiliki kemandirian fiskal untuk menggerakkan roda ekonomi tanpa sokongan signifikan dari pusat.

Reaksi terbuka pun bermunculan. Tak lama setelah wacana pemangkasan TKD dilontarkan, sebanyak 18 dari total 38 gubernur se-Indonesia mendatangi kantor Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa, Selasa (7/10/2025). Langkah ini menjadi sinyal keras penolakan sekaligus bentuk klarifikasi atas arah kebijakan fiskal nasional.

Para gubernur yang tergabung dalam Asosiasi Pemerintah Provinsi Seluruh Indonesia (APPSI) mempertanyakan alokasi TKD dalam RAPBN 2026 yang dipatok sebesar Rp650 triliun. Angka tersebut menyusut tajam—sekitar 24,8 persen—dibandingkan proyeksi TKD tahun 2025 yang mencapai Rp864,1 triliun.

Bagi para pemimpin daerah, pemangkasan ini bukan sekadar persoalan angka di atas kertas. Penurunan TKD dinilai berpotensi langsung menggerus kapasitas fiskal daerah, termasuk dalam memenuhi kewajiban rutin seperti pembayaran gaji aparatur sipil negara (ASN) serta belanja operasional pemerintahan.

Kecemasan tersebut bukan tanpa dasar. Hingga kini, ketergantungan banyak daerah terhadap dana transfer pusat masih sangat tinggi. Fakta ini turut diperkuat oleh data yang disampaikan Ketua Komisi II DPR, Rifqinizamy, yang menunjukkan bahwa kemampuan fiskal daerah belum sepenuhnya siap menghadapi skema pengetatan anggaran ala sentralisasi fiskal.

Dalam konteks ini, pemangkasan TKD tak hanya dibaca sebagai upaya efisiensi negara, tetapi juga menandai perubahan relasi pusat-daerah: anggaran tak lagi bersifat ‘cuma-cuma’, dan daerah dipaksa bergerak lebih mandiri—meski belum semuanya siap.

Mayoritas Daerah Masih Bergantung pada Transfer Pusat

Kemandirian fiskal daerah di Indonesia masih jauh dari harapan. Dari total 546 pemerintah daerah, sebanyak 493 daerah atau sekitar 90,3 persen masih sangat bergantung pada transfer dana dari pemerintah pusat. Kondisi ini mencerminkan lemahnya kapasitas fiskal daerah dalam menopang kebutuhan pembangunan secara mandiri.

Hanya 26 daerah atau sekitar 4,76 persen yang dinilai benar-benar mampu berdiri di atas kaki sendiri. Daerah-daerah ini memiliki Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang lebih besar dibandingkan dana transfer dari pusat, sehingga ruang fiskalnya relatif lebih longgar.

Sebaliknya, sebagian besar daerah berada dalam kondisi fiskal yang rapuh. Bahkan terdapat daerah dengan kontribusi PAD yang sangat minim, yakni di bawah 10 persen dari total APBD. Papua Pegunungan, misalnya, hanya mencatat PAD sebesar 8,4 persen. Sementara itu, Aceh memiliki PAD 26,48 persen dan Gorontalo 22,95 persen. Dengan struktur seperti ini, daerah praktis tidak memiliki pilihan selain mengandalkan suntikan dana dari pemerintah pusat untuk menjalankan roda pemerintahan dan pembangunan.

Di sisi lain, terdapat daerah dengan kemampuan fiskal yang jauh lebih kuat. Kota Surabaya, Jawa Timur, menjadi contoh daerah yang relatif mandiri, dengan PAD yang telah mencapai 72 persen dari total anggaran daerah.

Di tengah derasnya kritik dan protes dari sejumlah kepala daerah atas kebijakan pemangkasan Transfer ke Daerah (TKD), Menteri Keuangan Purbaya justru merespons dengan sikap tenang. Ia menilai polemik pemotongan anggaran merupakan reaksi yang wajar, namun tidak seharusnya mengaburkan persoalan utama, yakni kualitas penyerapan anggaran daerah.

“Jadi semuanya kalau dipotong anggarannya pasti protes. Ya pertengahan tahun depan mungkin ada ruang untuk ini ke atas, meng-update kalau ekonomi sudah mulai bagus dan pajak kita membaik,” kata Purbaya, Kamis (9/10/2025) lalu, dikutip dari sekitarkaltim.id.

Menurut Purbaya, peluang pelonggaran fiskal akan sangat bergantung pada kinerja ekonomi nasional dan peningkatan penerimaan pajak pada tahun mendatang. Jika kedua indikator tersebut menunjukkan tren positif, pemerintah membuka kemungkinan untuk kembali menambah alokasi anggaran ke daerah.

“Kalau ekonomi bagus otomatis ya pajaknya naik ya. Nanti kita lihat, saya pesan ke mereka pastikan aja penyerapan anggaran bagus, tepat waktu dan gak ada yang bocor. Kalau itu terjadi maka tahun depan kita bisa surplus ke atas, dan (minta) ke DPR untuk menambah,” jelasnya.

Kebijakan pemangkasan TKD sendiri bukan tanpa alasan. Pemerintah pusat menilai penyerapan anggaran di banyak daerah masih sangat rendah dan bermasalah. Bahkan, Purbaya sebelumnya mengungkap adanya indikasi daerah yang secara sengaja mengendapkan dana transfer pusat di perbankan, alih-alih segera menggunakannya untuk program pembangunan.

Fenomena ini dinilai tidak hanya menghambat efektivitas belanja negara, tetapi juga mengganggu perputaran ekonomi di tingkat lokal. Meski bertujuan memperbaiki tata kelola fiskal, kebijakan pemangkasan TKD tetap menyisakan risiko, terutama bagi daerah yang struktur pendapatannya sangat lemah.

Salah satu dampak yang dikhawatirkan adalah langkah instan pemerintah daerah dalam mengejar pendapatan, seperti menaikkan pajak secara agresif. Kasus di Kabupaten Pati menjadi contoh konkret. Masyarakat setempat memprotes kebijakan pemerintah daerah yang menaikkan pajak secara drastis demi menambal kekurangan pendapatan.

Meski tidak sepenuhnya disebabkan oleh pemangkasan TKD, kebijakan tersebut setidaknya memberi justifikasi bagi sebagian kepala daerah untuk mencari sumber pendapatan cepat, tanpa mempertimbangkan daya tahan sosial masyarakat.

Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) kerap menjadi instrumen favorit karena mudah dipungut dan hasilnya langsung masuk ke kas daerah. Namun, jika dilakukan tanpa perhitungan matang, kebijakan ini berpotensi memicu gejolak.

“Kita khawatirkan kejadian di Pati, terulang lagi. Karena Bupatinya menaikkan PBB (Pajak Bumi dan Bangunan). Ternyata, daerah lain juga sama. Bahkan ada yang naiknya semena-mena, sampai ribuan persen. Menimbulkan gelombang protes yang bisa memicu gejolak sosial. Itu yang tidak kita inginkan,” kata Ekonom UPN Veteran Jakarta, Achmad Nur Hidayat (ANH) dikutip dari sumber yang sama.

Tarik-Ulur Desentralisasi Fiskal di Tengah Wacana Efisiensi Anggaran

Kebijakan pemangkasan Transfer ke Daerah (TKD) dalam APBN 2026 mulai memantik perdebatan luas. Achmad Nur mencatat, bukan hanya kepala daerah, tetapi juga kalangan birokrat fiskal hingga akademisi mempertanyakan kesesuaian kebijakan tersebut dengan amanat Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2022 tentang Hubungan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah (HKPD).

Keraguan itu muncul karena TKD selama ini menjadi instrumen utama desentralisasi fiskal, yang memberi ruang bagi daerah untuk mengelola pembangunan sesuai kebutuhan lokal. Ketika anggaran tersebut dipangkas, muncul kekhawatiran bahwa esensi desentralisasi justru mengalami penyempitan.

“Atau, jangan-jangan, kita sedang menyaksikan pergeseran makna dari desentralisasi fiskal menjadi recentralisasi bantuan sosial (bansos) yang dibungkus dengan jargon efisiensi? Itu yang harus dijawab,” imbuhnya.

Sejumlah pihak bahkan membaca kebijakan ini sebagai sinyal arah politik baru di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo. Pemangkasan TKD dinilai berpotensi menjadi instrumen untuk memperkuat kendali pemerintah pusat terhadap pemerintah daerah—sebuah pola yang mengingatkan pada praktik sentralisasi kuat di masa Orde Baru, ketika hampir seluruh keputusan strategis daerah ditentukan dari pusat.

Padahal, sejak era Reformasi, tata kelola pemerintahan Indonesia bergerak ke arah sebaliknya. Otonomi daerah diperkuat, salah satunya melalui pemilihan kepala daerah secara langsung, yang menempatkan legitimasi kepemimpinan di tangan rakyat, bukan pemerintah pusat.

Jika memang terdapat kehendak politik untuk menggeser kembali pola hubungan pusat-daerah menuju sentralisasi, sebagian kalangan menilai hal itu bukanlah persoalan prinsip, selama dijalankan secara terbuka, terukur, dan berkeadilan. Transparansi dan kepastian mekanisme menjadi syarat mutlak agar kebijakan tersebut tidak melahirkan ketimpangan baru.

Namun, kekhawatiran tetap mengemuka. Ada dugaan bahwa arah kebijakan ini berpotensi ditarik ke kepentingan jangka pendek, termasuk untuk kepentingan suksesi politik pada pemilu mendatang. Meski demikian, isu tersebut masih berada pada wilayah spekulasi dan terus menjadi perdebatan di tengah pro dan kontra yang berkembang.

Sampai saat ini, kepastian mengenai pemangkasan TKD belum juga ditetapkan. Pemerintah masih membahas wacana tersebut bersama DPR. Arah final kebijakan itu baru akan terlihat secara konkret ketika APBD 2026 disahkan melalui rapat paripurna DPR di masing-masing daerah. (XRQ)

Reporter: Akil

Prabowo Tinjau Pembangunan Huntara di Aceh Tamiang, Hutama Karya Ambil Peran dalam Pemulihan Warga

0
Presiden RI Prabowo Subianto meninjau progres pembangunan hunian sementara (Huntara) bagi warga terdampak banjir di Kabupaten Aceh Tamiang, Kamis (1/1/2026). (ist)

NUKILAN.ID | KUALA SIMPANG – Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto melakukan peninjauan langsung terhadap progres pembangunan Hunian Sementara (Huntara) bagi masyarakat terdampak banjir di Kabupaten Aceh Tamiang, Kamis (1/1/2026). Kunjungan ini menandai keseriusan pemerintah dalam menggeser penanganan bencana dari fase tanggap darurat menuju fase pemulihan, dengan fokus utama percepatan penyediaan tempat tinggal sementara yang aman dan layak.

Dalam agenda tersebut, Presiden Prabowo didampingi Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), Chief Executive Officer BPI Danantara Rosan Roeslani, Kepala Badan Pengaturan BUMN sekaligus Chief Operational Officer BPI Danantara Dony Oskaria, serta Gubernur Aceh Muzakir Manaf. Turut mendampingi, Direktur Utama Hutama Karya Koentjoro dan Direktur Operasional II Hutama Karya Gunadi.

Rombongan meninjau langsung kawasan huntara beserta fasilitas pendukung untuk memastikan kesiapan hunian transisi bagi warga terdampak banjir.

Presiden Prabowo menegaskan bahwa pemerintah memandang serius penanganan bencana dan berkomitmen meringankan beban masyarakat. Ia juga mengapresiasi peran Danantara dalam percepatan pembangunan hunian sementara serta menekankan pentingnya koordinasi yang ketat agar seluruh proses berjalan tertib dan efektif.

“Saya terima kasih sama Danantara yang telah melakukan suatu pekerjaan yang saya lihat baik. Ini membangun hunian dalam waktu singkat itu suatu prestasi. Nanti saya minta Danantara untuk berkoordinasi dekat dengan BNPB dan pemerintah daerah,” ujar Prabowo.

Lebih lanjut, Presiden menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang terlibat serta menekankan bahwa kolaborasi lintas sektor menjadi kunci percepatan pemulihan pascabencana. Ia juga meminta agar layanan dasar seperti sekolah dan puskesmas segera dipastikan kembali berfungsi agar aktivitas masyarakat dapat berangsur normal.

Pembangunan huntara ini merupakan bagian dari program kolaborasi sejumlah BUMN Karya yang telah dimulai sejak Rabu (24/12/2025). Hutama Karya berkontribusi dalam pembangunan 198 unit dari total 600 unit huntara yang direncanakan. Pembangunan unit lainnya akan terus dilanjutkan sesuai target pemerintah.

Lokasi huntara berada di Jalan Banda Aceh–Medan, Kebun Tj. Seumantoh, Kecamatan Karang Baru, Kabupaten Aceh Tamiang. Hunian ini disiapkan sebagai tempat tinggal transisi dan telah memenuhi standar minimum Huntara Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).

Selain unit hunian, kawasan huntara juga dilengkapi fasilitas pendukung seperti sanitasi dan toilet, dapur umum, pasokan air bersih, akses internet, mushola, serta prasarana jalan internal. Fasilitas ini disiapkan untuk menjaga kebersihan lingkungan, menunjang aktivitas harian warga, serta memastikan kebutuhan ibadah dan memasak tetap terpenuhi selama masa pemulihan.

Direktur Utama Hutama Karya Koentjoro menegaskan komitmen perusahaan dalam mendukung pembangunan nasional.

“Kami dengan semangat bersama seluruh sumber daya yang kami miliki, optimis dapat bersinergi bersama melayani dengan memberikan kontribusi terbaik. Kami yakin, Huntara dapat hadir untuk memulihkan kehidupan yang lebih layak bagi warga yang terdampak,” jelasnya.

Sementara itu, Dony Oskaria menyampaikan bahwa penyerahan huntara kepada masyarakat dijadwalkan pada 8 Januari 2026.

“Nanti akan dibangun juga di tempat lain,” ujarnya.

Ia juga menambahkan bahwa selain huntara, pemerintah akan membangun hunian tetap (huntab). Dari total 15.000 huntara yang disumbangkan Danantara, 12.500 unit dialokasikan untuk Aceh, sementara sisanya disiapkan untuk Sumatera Utara dan Sumatera Barat.

Kehadiran Presiden Prabowo dalam peninjauan tersebut diharapkan semakin memperkuat sinergi seluruh pihak sehingga pembangunan huntara dapat berjalan optimal dan segera dimanfaatkan oleh masyarakat terdampak sebagai bagian dari proses pemulihan yang lebih terstruktur.

Data Terbaru Bencana Alam di Aceh per 2 Januari 2026

0
Proses perbaikan jembatan hancur terdampak bencana di Aceh (Foto: ANTARA FOTO/Syifa Yulinnas)

NUKILAN.ID | JAKARTA — Bencana alam yang melanda sejumlah wilayah di Provinsi Aceh sepanjang 2025 hingga awal 2026 telah menimbulkan dampak luas, mulai dari korban jiwa hingga kerusakan infrastruktur dan harta benda warga.

Dihimpun Nukilan.id berdasarkan laporan Media Center Posko Tanggap Darurat Bencana Hidrometeorologi Aceh yang dirilis pada Jumat, 2 Januari 2026 pukul 21.00 WIB di Banda Aceh, tercatat sebanyak 18 kabupaten/kota terdampak bencana.

Dalam laporan tersebut disebutkan, jumlah warga terdampak mencapai 670.266 kepala keluarga atau 2.581.880 jiwa. Dari total tersebut, 539 orang dilaporkan meninggal dunia, 31 orang hilang, 4.939 orang mengalami luka ringan, dan 474 orang luka berat.

Selain korban jiwa, bencana juga menyebabkan gelombang pengungsian besar. Tercatat terdapat 1.008 titik pengungsian yang menampung 58.766 kepala keluarga atau 233.003 jiwa.

Kerusakan juga terjadi pada berbagai fasilitas umum. Sebanyak 227 gedung atau kantor dilaporkan rusak, 638 rumah ibadah, 670 fasilitas kesehatan, serta 1.687 fasilitas pendidikan mengalami kerusakan akibat bencana.

Sektor infrastruktur turut terdampak signifikan. Data menunjukkan 1.593 ruas jalan mengalami kerusakan, serta 468 unit jembatan terdampak.

Sementara itu, kerugian harta benda warga juga terbilang besar. Sebanyak 145.186 unit rumah dilaporkan rusak. Selain itu, bencana menyebabkan kematian 63.187 ekor ternak, merusak 51.335 hektare sawah, 25.074 hektare kebun, serta 39.910 hektare tambak.

Pusat Informasi dan Media Center Komdigi menegaskan bahwa angka-angka tersebut masih bersifat dinamis dan dapat berubah seiring perkembangan kondisi di lapangan serta proses pendataan lanjutan. (Xrq)

Reporter: Akil

Presiden Prabowo Isi Malam Tahun Baru dengan Doa Bersama Warga Terdampak Bencana di Tapsel

0

NUKILAN.ID | MEDAN – Presiden Prabowo Subianto memilih menghabiskan malam pergantian Tahun Baru 2026 dengan berdoa bersama warga di kawasan terdampak bencana. Kegiatan tersebut berlangsung di Desa Batu Hula, Kecamatan Batang Toru, Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatra Utara, pada Rabu malam, 31 Desember 2025.

Amatan Nukilanmid dari siaran langsung Youtube Sekretariat Preaiden, tanpa kemeriahan pesta atau pertunjukan kembang api, malam Tahun Baru dijalani secara sederhana dan penuh makna. Presiden hadir langsung di tengah masyarakat, menyapa anak-anak, berbincang dengan keluarga terdampak bencana, serta duduk bersama warga dalam suasana hangat dan kebersamaan.

Kehadiran Presiden mencerminkan perhatian negara terhadap masyarakat yang tengah menghadapi masa sulit. Tidak hanya sebagai kepala pemerintahan, Presiden Prabowo hadir memberi penguatan moral dan harapan, bahwa negara tetap bersama rakyat di saat-saat sulit.

Dalam kesempatan itu, Presiden mengajak warga untuk terus berdoa dan menjaga keteguhan hati dalam menghadapi cobaan.

“Kita tentunya berdoa terus bahwa Yang Maha Kuasa akan memberi yang terbaik untuk kita. Kita menghadapi kesulitan, musibah, dan tantangan. Tapi kita harus terus semangat, ikhlas, kuat, dan tegar jiwa kita,” ujar Presiden di Desa Batu Hula, Kecamatan Batang Toru, Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatra Utara, Rabu malam (31/12/2025).

Presiden Prabowo juga menyampaikan ucapan selamat Tahun Baru 2026 yang penuh doa dan harapan.

“Selamat Tahun Baru, Tahun 2026. Semoga Yang Mahakuasa selalu memberi yang terbaik kepada kita semua,” ucapnya.

Doa bersama tersebut menjadi wujud solidaritas dan semangat gotong royong antara pemerintah dan masyarakat. Di tengah keterbatasan pascabencana, kehadiran Presiden memberikan ketenangan serta penguatan batin bagi warga.

Malam Tahun Baru di wilayah terdampak bencana itu menjadi pengingat bahwa pemulihan tidak hanya soal infrastruktur, tetapi juga tentang memulihkan semangat, harapan, dan optimisme masyarakat dalam menyongsong tahun yang baru.

Reporter: Akil