Beranda blog Halaman 128

Sebagian Besar Madrasah Terdampak Bencana di Aceh Siap Gelar Pembelajaran Tatap Muka

0
MIN 5 Pidie Jaya hilang disapu banjir akhir November lalu. (Foto: Kemenag Aceh).

NUKILAN.ID | BANDA ACEH — Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kemenag) Aceh memastikan bahwa mayoritas madrasah yang terdampak bencana banjir dan tanah longsor di berbagai wilayah Aceh telah siap kembali melaksanakan pembelajaran tatap muka (PBM) mulai 5 Januari 2026.

Ketua Satgas Tanggap Darurat Kanwil Kemenag Aceh, Khairul Azhar, kepada Nukilan.id menyebutkan bahwa dari total sekitar 500 madrasah terdampak, sebanyak 440 madrasah telah dinyatakan siap untuk menyambut PBM sesuai jadwal.

“Berdasarkan data rekapan kesiapan dari kabupaten/kota terdampak, 440 madrasah sudah siap PBM pada 5 Januari,” katanya.

Sementara itu, terdapat 60 madrasah yang kondisinya belum sepenuhnya memungkinkan untuk melaksanakan kegiatan belajar mengajar secara normal. Meski demikian, Kemenag tetap mengupayakan agar proses pendidikan dapat berjalan melalui sistem kedaruratan.

“Sementara 60 madrasah yang belum siap itu terus berproses berapa kelas dulu, misalnya baru lima kelas siap, maka pembelajaran untuk lima kelas dulu,” ujarnya.

Untuk madrasah yang bangunannya hilang, roboh, atau tidak lagi layak digunakan akibat bencana, Kemenag telah menyiapkan berbagai skema alternatif, termasuk penggunaan tenda darurat maupun relokasi sementara.

Salah satu contoh paling terdampak adalah MIN 5 Pidie Jaya di Desa Seunong, Kecamatan Meurah Dua, Kabupaten Pidie Jaya, yang bangunannya hilang diterjang banjir bandang. Saat ini, kegiatan belajar siswa dipindahkan ke balai pengajian desa setempat.

“Kemudian di daerah lain juga sama, kalau misalnya tidak mungkin lagi, mereka berarti di tempat-tempat pengungsian,” sebutnya.

Selain dampak banjir dan longsor, situasi kedaruratan juga terjadi di wilayah Bener Meriah dan Aceh Tengah, menyusul meningkatnya aktivitas Gunung Api Burni Telong yang kini berstatus siaga. Sejumlah madrasah di daerah tersebut sementara difungsikan sebagai lokasi pengungsian warga.

“Burni Telong bergejolak, jadi ada madrasah yang dijadikan tempat pengungsi. Madrasah kita banyak di Bener Meriah dan Aceh tengah dijadikan tempat pengungsi,”

Khairul menegaskan bahwa pihaknya terus berkoordinasi dengan petugas di daerah untuk memastikan fasilitas pembelajaran tetap tersedia, baik melalui tenda darurat maupun pemanfaatan lokasi alternatif lainnya.

“Insya Allah kita berusaha semaksimal mungkin. Kalau tidak di tempat tenda darurat, berarti mencari lokasi tempat lain yang memungkinkan,” pungkasnya.

Dengan berbagai skema darurat tersebut, Kemenag Aceh berharap proses pendidikan tetap berjalan meskipun berada di tengah kondisi pemulihan pascabencana. (xrq)

Reporter: Akil

UTU Bekali 148 Mahasiswa KKN 2026, Fokus Bangkitkan Potensi Desa Aceh Jaya

0
Universitas Teuku Umar (UTU) melalui Pusat Kuliah Kerja Nyata (KKN) dan Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) menggelar pembekalan bagi 148 mahasiswa peserta KKN Reguler Angkatan XXV Tahun 2026. (Foto: HUMAS UTU)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Universitas Teuku Umar (UTU) melalui Pusat Kuliah Kerja Nyata (KKN) dan Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) menggelar pembekalan bagi 148 mahasiswa peserta KKN Reguler Angkatan XXV Tahun 2026. Kegiatan yang berlangsung selama dua hari, 2–3 Januari 2026, ini menjadi tahap persiapan intensif sebelum mahasiswa diterjunkan ke 20 desa di Kecamatan Panga, Kabupaten Aceh Jaya.

Pembekalan tersebut dibuka secara resmi oleh Rektor UTU yang diwakili Kepala Biro Akademik dan Kemahasiswaan, Rinaldi Iswan, S.T., M.Sc.

Kepada Nukilan.id, Rinaldi menegaskan peran strategis mahasiswa sebagai agen perubahan di tengah masyarakat.

“Mahasiswa harus mampu memberikan kontribusi nyata dan membangun sinergi yang kuat dengan Dosen Pembimbing Lapangan (DPL), pemerintah desa, hingga masyarakat agar KKN memberikan dampak berkelanjutan,” ujar Rinaldi.

Pada tahun ini, KKN UTU mengusung tema “Transformasi Potensi Alam dan UMKM Menuju Aceh Jaya Sejahtera dan Berkelanjutan” dengan tagline “Dari Desa Bangkit, Menuju Aceh Jaya Hebat.” Program tersebut menitikberatkan pada penguatan potensi desa, khususnya pemberdayaan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Staf Ahli Bidang Keistimewaan Aceh, Kemasyarakatan, dan SDM Kabupaten Aceh Jaya, Yenni Elfiana, S.Kep., M.Si., yang hadir mewakili Bupati Aceh Jaya, menyampaikan apresiasi atas kolaborasi UTU dengan pemerintah daerah. Ia berharap mahasiswa mampu membantu pemetaan potensi desa serta mendampingi UMKM dalam inovasi produk dan promosi digital.

“Kebangkitan desa adalah agenda nyata pembangunan daerah, bukan sekadar slogan. Mahasiswa diharapkan melakukan transfer teknologi tepat guna untuk memperkuat ekonomi desa,” tegas Yenni.

Sementara itu, Kepala Pusat KKN UTU, Dr. Ir. Fitriadi, S.T., M.T., IPM., menjelaskan bahwa materi pembekalan mencakup aspek filosofis, etika pengabdian, hingga kesiapan teknis di lapangan. Mahasiswa juga dibekali kemampuan administratif, termasuk penyusunan laporan akademik serta pemanfaatan aplikasi Sikamago sebagai sistem dokumentasi kegiatan KKN.

Secara komposisi, peserta KKN Angkatan XXV terdiri atas 77 mahasiswa laki-laki dan 71 mahasiswa perempuan, yang akan didampingi oleh 20 Dosen Pembimbing Lapangan (DPL). Para mahasiswa dijadwalkan berangkat ke lokasi pengabdian pada 5 Januari 2026 dan melaksanakan program kerja hingga 3 Februari 2026.

Melalui pembekalan ini, UTU optimistis para mahasiswa siap secara akademik maupun sosial untuk berkontribusi langsung dalam pembangunan masyarakat dan penguatan ekonomi desa di Kabupaten Aceh Jaya. (XRQ)

Reporter: Akil

Peristiwa 3 Januari 2005: Awal Dialog RI–GAM Pascatsunami Aceh

0
Dialog RI–GAM Pascatsunami Aceh. (Foto: For Nukilan)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH — Tiga hari setelah Aceh dilanda gelombang tsunami paling mematikan dalam sejarah modern, sebuah babak baru dalam perjalanan panjang konflik Aceh mulai ditulis. 3 Januari 2005 menjadi penanda awal terbukanya kembali pintu dialog antara Pemerintah Indonesia dan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) — sebuah momentum yang kelak mengantarkan Aceh pada perdamaian, sebagaimana dihimpun NUKILAN.ID dari berbagai sumber.

Kontak awal perdamaian antara Pemerintah Indonesia dan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) mulai dilakukan pada awal Januari 2005, menyusul bencana tsunami Aceh 2004, sebagai langkah membuka jalan menuju Perjanjian Damai Helsinki.

Konflik yang telah membara selama lebih dari tiga dekade itu tiba-tiba berada di persimpangan sejarah. Di tengah puing-puing kota, ribuan korban jiwa, dan ratusan ribu warga yang kehilangan rumah serta keluarga, kesadaran kolektif tumbuh bahwa perang tak lagi memiliki ruang di tanah yang sedang berduka — sebuah realitas yang juga tercatat dalam berbagai dokumen dan laporan kemanusiaan.

Pemerintah Indonesia dan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) memulai kontak awal perdamaian pada awal Januari 2005 sebagai langkah untuk mengakhiri konflik bersenjata yang telah berlangsung puluhan tahun di Aceh. Inisiatif ini menguat pasca-bencana tsunami yang melanda wilayah tersebut pada 26 Desember 2004.

Kontak perdamaian itu tidak langsung berlangsung di meja perundingan terbuka. Komunikasi dilakukan secara tidak langsung, melalui saluran-saluran diplomasi senyap dan pertemuan pendahuluan dengan fasilitasi pihak internasional, sebagaimana rangkaian peristiwanya.

Kontak awal ini dilakukan melalui komunikasi tidak langsung dan pertemuan pendahuluan dengan fasilitasi pihak internasional. Upaya tersebut bertujuan membuka kembali jalur dialog yang sebelumnya terhenti akibat eskalasi konflik antara kedua belah pihak.

Saat itu, Aceh berada dalam kondisi darurat kemanusiaan. Ratusan ribu warga terdampak, infrastruktur lumpuh, dan distribusi bantuan internasional membutuhkan stabilitas keamanan. Konflik bersenjata menjadi penghalang utama pemulihan — gambaran situasi yang dihimpun NUKILAN.ID dari berbagai sumber.

“Langkah perdamaian ini muncul di tengah situasi darurat kemanusiaan di Aceh, di mana ratusan ribu warga terdampak tsunami membutuhkan bantuan dan stabilitas keamanan. Pemerintah menilai penghentian konflik menjadi kunci percepatan pemulihan dan distribusi bantuan kemanusiaan di daerah tersebut.”

Upaya dialog yang semula rapuh itu perlahan menguat. Pintu perundingan resmi pun terbuka. Dunia internasional ikut terlibat secara langsung melalui lembaga Crisis Management Initiative (CMI) yang dipimpin mantan Presiden Finlandia, Martti Ahtisaari — proses panjang yang detailnya juga.

Pembicaraan awal ini kemudian berkembang menjadi serangkaian perundingan resmi yang dimediasi oleh Crisis Management Initiative (CMI) yang dipimpin mantan Presiden Finlandia, Martti Ahtisaari. Proses dialog tersebut berlangsung sepanjang 2005 dan melibatkan delegasi dari kedua pihak.

Delapan bulan setelah tsunami, tepatnya 15 Agustus 2005, sejarah mencatat momen yang dinanti puluhan tahun: penandatanganan Perjanjian Damai Helsinki. Senjata akhirnya diletakkan, konflik berakhir, dan Aceh memasuki era baru.

Hasil dari rangkaian perundingan itu akhirnya melahirkan Perjanjian Damai Helsinki yang ditandatangani pada 15 Agustus 2005. Kesepakatan tersebut menandai berakhirnya konflik bersenjata antara Pemerintah Indonesia dan GAM, sekaligus membuka babak baru bagi perdamaian dan pembangunan di Aceh.

Peristiwa 3 Januari 2005 kini dikenang sebagai titik balik — ketika dari puing kehancuran lahir harapan, dan dari tragedi terbesar muncul jalan menuju perdamaian terpanjang dalam sejarah Aceh. (XRQ)

Reporter: AKIL

Sebagian Besar Madrasah Terdampak Bencana di Aceh Siap Gelar Pembelajaran Tatap Muka

0
Satu-satunya fondasi tersisa dari MIN 05 Pidie Jaya, Aceh yang hilang diterjang banjir bandang, dan telah ditandai dengan tulisan oleh warga setempat, di Kabupaten Pidie Jaya, Aceh, Minggu (14/12/2025). (Foto: ANTARA/Rahmat Fajri)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH — Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kemenag) Aceh memastikan bahwa mayoritas madrasah yang terdampak bencana banjir dan tanah longsor di berbagai wilayah Aceh telah siap kembali melaksanakan pembelajaran tatap muka (PBM) mulai 5 Januari 2026.

Ketua Satgas Tanggap Darurat Kanwil Kemenag Aceh, Khairul Azhar, menyebutkan bahwa dari total sekitar 500 madrasah terdampak, sebanyak 440 madrasah telah dinyatakan siap untuk menyambut PBM sesuai jadwal.

“Berdasarkan data rekapan kesiapan dari kabupaten/kota terdampak, 440 madrasah sudah siap PBM pada 5 Januari,” katanya.

Sementara itu, terdapat 60 madrasah yang kondisinya belum sepenuhnya memungkinkan untuk melaksanakan kegiatan belajar mengajar secara normal. Meski demikian, Kemenag tetap mengupayakan agar proses pendidikan dapat berjalan melalui sistem kedaruratan.

“Sementara 60 madrasah yang belum siap itu terus berproses berapa kelas dulu, misalnya baru lima kelas siap, maka pembelajaran untuk lima kelas dulu,” ungkapnya.

Untuk madrasah yang bangunannya hilang, roboh, atau tidak lagi layak digunakan akibat bencana, Kemenag telah menyiapkan berbagai skema alternatif, termasuk penggunaan tenda darurat maupun relokasi sementara.

Salah satu contoh paling terdampak adalah MIN 5 Pidie Jaya di Desa Seunong, Kecamatan Meurah Dua, Kabupaten Pidie Jaya, yang bangunannya hilang diterjang banjir bandang. Saat ini, kegiatan belajar siswa dipindahkan ke balai pengajian desa setempat.

“Kemudian di daerah lain juga sama, kalau misalnya tidak mungkin lagi, mereka berarti di tempat-tempat pengungsian,” jelasnya.

Selain dampak banjir dan longsor, situasi kedaruratan juga terjadi di wilayah Bener Meriah dan Aceh Tengah, menyusul meningkatnya aktivitas Gunung Api Burni Telong yang kini berstatus siaga. Sejumlah madrasah di daerah tersebut sementara difungsikan sebagai lokasi pengungsian warga.

“Burni Telong bergejolak, jadi ada madrasah yang dijadikan tempat pengungsi. Madrasah kita banyak di Bener Meriah dan Aceh tengah dijadikan tempat pengungsi,” sebutnya.

Khairul menegaskan bahwa pihaknya terus berkoordinasi dengan petugas di daerah untuk memastikan fasilitas pembelajaran tetap tersedia, baik melalui tenda darurat maupun pemanfaatan lokasi alternatif lainnya.

“Insya Allah kita berusaha semaksimal mungkin. Kalau tidak di tempat tenda darurat, berarti mencari lokasi tempat lain yang memungkinkan,” pungkasnya.

Dengan berbagai skema darurat tersebut, Kemenag Aceh berharap proses pendidikan tetap berjalan meskipun berada di tengah kondisi pemulihan pascabencana. (XRQ)

Akademisi Apresiasi Danantara, Harap Pembangunan Huntara Aceh Tamiang Berkelanjutan hingga Pemulihan Ekonomi

0
Presiden Prabowo Subianto saat meninjau progres huntara di Aceh Tamiang, Aceh, Kamis (1/1/2026). (Foto: Dok. PT Hutama Karya (Persero))

NUKILAN.ID | JAKARTA — Sejumlah akademisi mengapresiasi langkah Danantara dalam membangun ribuan hunian sementara (huntara) bagi korban banjir bandang di Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh. Mereka berharap proyek kemanusiaan tersebut dilakukan secara berkelanjutan dan tidak berhenti pada penyediaan tempat tinggal darurat semata, melainkan juga mendorong pemulihan sosial, psikologis, dan ekonomi masyarakat terdampak.

Akademisi Universitas Esa Unggul, Iswadi, menilai pembangunan huntara oleh Danantara merupakan bagian penting dari proses pemulihan pascabencana. Menurutnya, hunian tersebut bukan sekadar tempat berlindung, tetapi memiliki peran strategis dalam memulihkan kehidupan warga.

“Saya berharap pembangunan ini terus dilaksanakan secara berkelanjutan, berorientasi pada kebutuhan masyarakat,” kata Iswadi dalam keterangan resmi Danantara, Jumat (2/1/2026).

Iswadi juga menekankan bahwa pembangunan huntara harus disertai perencanaan jangka panjang menuju hunian tetap bagi para penyintas. Ia mendorong agar pembangunan mengacu pada standar penanganan bencana tsunami Aceh 2004 yang telah terbukti memenuhi aspek keamanan, kelayakan huni, perlindungan lingkungan, serta kebutuhan sosial masyarakat.

“Dengan menerapkan standar yang telah teruji, diharapkan hunian sementara tidak hanya berfungsi sebagai tempat tinggal darurat, tetapi juga mampu mendukung proses pemulihan yang lebih baik dan bermartabat,” ujarnya.

Sejalan dengan itu, Guru Besar Universitas sekaligus Pengurus Pusat Taman Iskandar Muda, Umaimah Wahid, menilai keberadaan huntara sangat krusial bagi warga Aceh yang terdampak bencana. Namun, ia mengingatkan bahwa kerja-kerja kemanusiaan tersebut tidak boleh berhenti pada pembangunan fisik semata.

“Salah satu yang hilang adalah sawah, lahan mata pencaharian tertutup lumpur,” kata Umaimah.

Ia berharap pemerintah bersama para pemangku kepentingan turut memprioritaskan pemulihan sektor ekonomi masyarakat Aceh sebagai bagian tak terpisahkan dari proses rehabilitasi pascabencana.

Sebagaimana diketahui, Presiden Prabowo Subianto pada Kamis (1/1/2026) meninjau langsung progres pembangunan huntara di Aceh Tamiang. Proyek kemanusiaan tersebut mulai dikerjakan sejak 24 Desember 2025 dan dalam waktu kurang dari dua pekan telah menunjukkan perkembangan signifikan.

Danantara menargetkan menyerahkan 600 unit huntara kepada pemerintah daerah pada 8 Januari 2026 untuk kemudian didistribusikan kepada warga terdampak. Dalam tiga bulan ke depan, Danantara menargetkan pembangunan 15.000 unit huntara dengan jaminan kelayakan huni.

Chief Executive Officer (CEO) Danantara Indonesia, Rosan Roeslani, mengatakan capaian tersebut tidak terlepas dari sinergi lintas BUMN dan pihak terkait.

“BUMN bergerak cepat, bekerja di lapangan dalam kondisi yang tidak mudah, untuk memastikan masyarakat segera mendapatkan hunian yang layak,” tutur Rosan.

Ia menegaskan bahwa proyek kemanusiaan tersebut menjadi wujud komitmen bersama untuk mempercepat pemulihan Aceh pascabencana.

Gubernur Kaltim Salurkan Bantuan Rp3,5 Miliar untuk Korban Bencana Aceh

0
Gubernur Kaltim Salurkan Bantuan Rp3,5 Miliar untuk Korban Bencana Aceh. (Foto: For Nukilan)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH — Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur menyalurkan bantuan kemanusiaan senilai Rp3,5 miliar kepada masyarakat Aceh yang terdampak banjir lumpur dan tanah longsor. Bantuan tersebut diserahkan langsung oleh Gubernur Kalimantan Timur Dr. H. Rudy Mas’ud (Harum) saat melakukan kunjungan kerja ke Aceh, Jumat (2/1/2026).

Rombongan Gubernur Kaltim tiba di Bandara Internasional Sultan Iskandar Muda, Aceh Besar, sekitar pukul 02.45 WIB, dan disambut Wakil Gubernur Aceh H. Fadhlullah, Marlina Muzakir, serta Wali Kota Banda Aceh Illiza Sa’aduddin Djamal.

Dalam kesempatan tersebut, Rudy Mas’ud menyerahkan bantuan masyarakat Kalimantan Timur dengan total nilai Rp3,5 miliar. Bantuan tersebut terdiri dari Rp1,5 miliar untuk Pemerintah Provinsi Aceh, Rp1 miliar untuk Pemerintah Kabupaten Pidie Jaya, Rp700 juta bantuan logistik kebutuhan dasar bagi warga terdampak, serta Rp300 juta untuk penyediaan sarana air bersih melalui KNPI Kalimantan Timur di Kabupaten Pidie Jaya.

Rudy Mas’ud menyampaikan duka cita mendalam atas musibah yang menimpa masyarakat Aceh dan sejumlah wilayah lainnya. Ia menegaskan bahwa bantuan tersebut merupakan bentuk nyata solidaritas antardaerah.

“Bencana tidak hanya membutuhkan simpati, tetapi juga aksi nyata yang cepat dan tepat sasaran,” ujar Rudy Mas’ud.

Ia juga mengungkapkan bahwa sebelumnya Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur telah menyalurkan bantuan kemanusiaan tahap awal senilai Rp7,5 miliar untuk wilayah terdampak bencana di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat, dengan masing-masing provinsi menerima bantuan sebesar Rp2,5 miliar.

Sementara itu, Wakil Gubernur Aceh H. Fadhlullah menyampaikan apresiasi dan terima kasih atas kepedulian Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur dan masyarakat Kaltim terhadap warga Aceh yang terdampak bencana.

“Kami mengucapkan terima kasih atas kepedulian dan solidaritas Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur beserta seluruh masyarakatnya. Bantuan ini sangat berarti bagi masyarakat Aceh yang sedang dalam masa pemulihan,” kata Fadhlullah.

Usai penyerahan bantuan secara simbolis, Gubernur Kaltim melanjutkan kunjungan ke Kabupaten Pidie Jaya untuk menyerahkan bantuan secara langsung kepada masyarakat terdampak bencana.

Dalam kunjungan tersebut, Rudy Mas’ud didampingi Kepala Pelaksana BPBD Kaltim Buyung Dodi Gunawan, Kepala Diskominfo Kaltim M. Faisal, serta Kepala Biro Kesejahteraan Rakyat Setda Provinsi Kalimantan Timur Dasmiah.

Gubernur Kaltim Tawarkan 2.000 Beasiswa untuk Mahasiswa Aceh

0
Wakil Gubernur Aceh, H. Fadhlullah, bersama Ketua Tim Penggerak PKK Aceh, Marlina Muzakir, menjemput kedatangan Gubernur Kalimantan Timur, Rudy Mas’ud, di Bandara Sultan Iskandar Muda, Aceh Besar, Jumat (2/1/2026). (Foto : Biro ADPIM Aceh)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH — Gubernur Kalimantan Timur, Rudy Mas’ud, kembali menunjukkan solidaritasnya kepada masyarakat Aceh. Dalam kunjungan keduanya ke Serambi Mekkah, Jumat (2/1/2026), Rudy menyerahkan bantuan kemanusiaan senilai Rp1,5 miliar sekaligus menawarkan 2.000 kuota beasiswa penuh bagi mahasiswa asal Aceh yang ingin melanjutkan pendidikan di Kalimantan Timur.

Kedatangan Rudy Mas’ud di Bandara Sultan Iskandar Muda, Aceh Besar, disambut langsung oleh Wakil Gubernur Aceh H. Fadhlullah dan Ketua TP PKK Aceh Marlina Muzakir. Bantuan tersebut merupakan bentuk empati masyarakat Kalimantan Timur terhadap warga Aceh yang terdampak banjir bandang dan longsor, khususnya di Kabupaten Aceh Tamiang.

“Kami berharap Aceh dapat segera pulih dan bangkit seperti sedia kala. Masyarakat Kalimantan Timur ikut merasakan duka yang dialami saudara-saudara kami di Aceh,” ujar Rudy Mas’ud.

Selain bantuan dana, Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur juga menurunkan tim relawan ke wilayah terdampak untuk membantu proses penanganan darurat di lapangan.

Tak hanya fokus pada pemulihan jangka pendek, Rudy juga mengumumkan program strategis di bidang pendidikan. Pemerintah Provinsi Kaltim membuka 2.000 kuota beasiswa bagi mahasiswa asal Aceh dengan seluruh biaya pendidikan ditanggung oleh Pemda Kaltim.

“Kami ingin memastikan generasi muda Aceh tetap memiliki akses pendidikan yang kuat, terutama setelah musibah ini. Beasiswa ini kami siapkan sebagai bagian dari pemulihan jangka panjang,” kata Rudy Mas’ud.

Wakil Gubernur Aceh, Fadhlullah, menyampaikan bahwa kondisi wilayah terdampak bencana masih memerlukan perhatian serius. Ia mengungkapkan kerusakan yang terjadi cukup parah, terutama di sektor pertanian.

“Bahkan, sawah-sawah warga kini tertutup material banjir hingga berubah menjadi daratan, dan di beberapa lokasi ketinggian lahan persawahan lebih tinggi dibandingkan badan jalan raya,” kata Fadhlullah.

Fadhlullah menegaskan bahwa kunjungan tersebut merupakan wujud nyata solidaritas antar daerah. Ia juga menyampaikan terima kasih atas kepedulian berkelanjutan yang ditunjukkan oleh Pemerintah dan masyarakat Kalimantan Timur.

“Ini bukan kunjungan pertama. Bantuan dari Kalimantan Timur telah beberapa kali kami terima. Atas nama pemerintah dan masyarakat Aceh, kami menyampaikan apresiasi yang setinggi-tingginya,” ujarnya.

Dalam rombongan, turut hadir Ketua TP PKK Kalimantan Timur Sarifah Suraidah, yang memberikan dukungan langsung kepada perempuan dan keluarga korban bencana sebagai bagian dari upaya pemulihan sosial masyarakat.

Mahasiswa Agroteknologi USK Salurkan 1,39 Ton Beras untuk Korban Banjir di Aceh Tengah

0
Mahasiswa Agroteknologi USK Salurkan 1,39 Ton Beras untuk Korban Banjir di Aceh Tengah. (Foto: For Nukilan)

NUKILAN.ID | TAKENGON — Mahasiswa Agroteknologi angkatan 2020 Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala (USK) menyalurkan bantuan kemanusiaan berupa 1,39 ton beras, 100 kilogram pakaian layak pakai, alat sanitasi, Al-Qur’an, serta makanan ringan kepada korban banjir di sejumlah wilayah Aceh, Senin (29/12/2025) lalu.

Bantuan tersebut disalurkan ke beberapa gampong terdampak di Kecamatan Pegasing, Aceh Tengah, yakni Gampong Simpang Kelaping dan Kala Nare, serta ke Gampong Panten Nangka di Kecamatan Linge.

Kegiatan kemanusiaan ini merupakan hasil kolaborasi mahasiswa bersama Bapak Hero PTBC, Polsek Darul Kamal Polresta Banda Aceh, Ikatan Keluarga Besar Alumni Agroteknologi, Dosen Agroteknologi Fakultas Pertanian USK, dan RTQ Al Furqan Banda Aceh.

Perwakilan mahasiswa kepada Nukilan.id menyebutkan bahwa bantuan tersebut lahir dari kepedulian bersama terhadap warga yang terdampak bencana banjir di Kabupaten Pidie Jaya, Bireuen, dan Aceh Tengah.

“Bantuan ini merupakan niat tulus dan rasa simpati para mahasiswa, dosen, alumni, serta masyarakat Banda Aceh untuk meringankan beban saudara-saudara kita yang terdampak banjir,” ujar salah satu koordinator lapangan kegiatan tersebut.

Kepala Geuchik Gampong Panten Nangka, Saderman, menyampaikan apresiasi atas kepedulian para mahasiswa dan seluruh pihak yang terlibat.

“Terima kasih kepada adik-adik mahasiswa yang telah menyalurkan bantuan ini ke gampong kami. Bantuan ini sangat bermanfaat bagi masyarakat Gampong Panten Nangka,” kata Saderman.

Ia juga menyampaikan penghargaan kepada para donatur yang telah berkontribusi.

“Ucapan terima kasih juga kami sampaikan kepada seluruh donatur yang telah berdonasi. Semoga rezekinya dilipatgandakan oleh Allah SWT,” tambahnya.

Namun demikian, Saderman menekankan bahwa sejumlah wilayah di Kecamatan Linge masih membutuhkan perhatian serius.

“Beberapa gampong seperti Kutereje, Delung Sekinel, dan Reje Payung sampai saat ini sama sekali belum memiliki akses roda dua maupun roda empat. Kami berharap informasi ini dapat mendorong pemerintah dan masyarakat lainnya untuk segera memberikan bantuan,” ujarnya.

Penyaluran bantuan tersebut menjadi wujud nyata solidaritas mahasiswa dan masyarakat dalam merespons bencana, sekaligus memperlihatkan peran aktif kampus dalam kegiatan kemanusiaan di Aceh. (XRQ)

Reporter: Akil

PUPR Aceh Kirim Relawan Bersihkan Sekolah Terdampak Bencana di Aceh Tamiang

0

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Aceh mengirimkan puluhan relawan untuk melaksanakan kegiatan bersih-bersih pascabencana hidrometeorologi di Kabupaten Aceh Tamiang, Jumat (2/1/2026).

Pelepasan relawan dilakukan oleh Sekretaris Dinas PUPR Aceh, Ahmad Ricky Soehady, ST, MT, mewakili Kepala Dinas, di halaman Kantor Dinas PUPR Aceh. Kegiatan tersebut merupakan bentuk kepedulian sekaligus respons cepat PUPR Aceh terhadap dampak bencana yang melanda wilayah Aceh Tamiang.

Dari keterangannya kepada Nukilan, relawan PUPR Aceh difokuskan membantu pembersihan fasilitas pendidikan yang terdampak, sehingga proses belajar mengajar dapat kembali berlangsung dengan aman dan nyaman.

Selain menurunkan relawan, Kepala Dinas PUPR Aceh juga dijadwalkan turun langsung ke lokasi. Setelah meninjau kondisi di Aceh Tenggara, Kepala Dinas akan bergabung dengan tim relawan untuk melakukan kegiatan bersih-bersih di Aceh Tamiang.

Adapun lokasi kegiatan dipusatkan di SMP Negeri 1 Kejuruan Muda, Desa Kebun Rantau, Kecamatan Rantau, Kabupaten Aceh Tamiang, yang mengalami dampak cukup parah akibat bencana hidrometeorologi.

Kegiatan pembersihan fasilitas pendidikan tersebut direncanakan berlangsung selama tiga hari, mulai 2 hingga 4 Januari 2026, sebagai bagian dari upaya pemulihan pascabencana dan memastikan lingkungan sekolah kembali bersih serta layak digunakan.

Reporter: Akil

Aceh Masih Berpeluang Diguyur Hujan Lebat Malam Ini

0
Ilustrasi hujan. (Foto: Freepik)

NUKILAN.ID | SABANG — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Sultan Iskandar Muda (SIM) Aceh mengeluarkan peringatan dini cuaca ekstrem untuk wilayah Aceh pada Jumat (2/1/2026). Hampir seluruh wilayah Aceh diprakirakan mengalami hujan dengan intensitas sedang hingga lebat yang berpotensi disertai kilat, petir, dan angin kencang hingga pukul 20.30 WIB.

Kepala BMKG Aceh, Nasrol Adil, dalam laporan resmi yang diterima RRI, mengimbau masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan terhadap berbagai potensi bencana seperti banjir, tanah longsor, dan angin kencang akibat hujan yang berlangsung dalam durasi cukup lama.

“Potensi hujan disertai kilat/petir dan angin kencang hari ini diprediksi terjadi di wilayah barat-timur, utara-selatan, bahkan merata di hampir seluruh wilayah Aceh dari sore hingga malam ini,” ujar Nasrol Adil.

Menurut BMKG, kondisi cuaca ekstrem tersebut dipicu oleh beberapa faktor atmosfer, antara lain aktivitas gelombang Kelvin, adanya belokan angin, serta konvergensi yang mendorong pertumbuhan awan hujan di wilayah Aceh. Selain itu, suhu muka laut yang hangat di pesisir barat Aceh turut memperkuat pasokan uap air ke atmosfer.

“Bagi masyarakat yang tinggal di wilayah pesisir, nelayan dan operator kapal untuk tetap memperhatikan perkembangan informasi cuaca dari BMKG sebelum melaut,” jelasnya.

BMKG juga mengimbau masyarakat untuk terus memantau informasi resmi melalui aplikasi maupun media sosial BMKG. Selain itu, langkah-langkah mitigasi seperti menjaga kebersihan drainase dan tidak membuang sampah sembarangan diharapkan dapat membantu mengurangi risiko genangan air.

Warga yang tinggal di daerah lereng pegunungan dan sepanjang aliran sungai diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan banjir dan tanah longsor. BMKG menegaskan potensi bencana hidrometeorologi masih dapat terjadi apabila curah hujan terus meningkat dalam beberapa hari ke depan.