Beranda blog Halaman 127

Mahasiswa KPI UIN Ar-Raniry Ikuti Edukasi KI Kemenkumham

0
Mahasiswa KPI UIN Ar-Raniry Ikuti Edukasi KI Kemenkumham. (Foto: For Nukilan)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Mahasiswa Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) UIN Ar-Raniry, Ari Maulana, mengikuti kegiatan Edukasi Layanan Kekayaan Intelektual yang diselenggarakan Kantor Wilayah Kementerian Hukum Aceh di Aula Lantai 3 UIN Ar-Raniry, Kamis (16/04/2026).

Kegiatan bertajuk “Optimalisasi Perlindungan Kekayaan Intelektual dan Legalisasi Dokumen Melalui Apostille di Lingkungan Akademik” ini diikuti oleh mahasiswa, dosen, hingga peneliti. Dalam kegiatan tersebut, peserta mendapatkan pemaparan terkait layanan Kekayaan Intelektual (KI), Sistem AHU Online, serta layanan Apostille untuk legalisasi dokumen internasional.

Ari Maulana mengaku kegiatan tersebut sangat bermanfaat, terutama bagi dirinya yang sedang menyusun artikel ilmiah untuk dipublikasikan.

“Saya secara pribadi bersyukur sekali dapat menghadiri Edukasi Kekayaan Intelektual dari kemenkumham Aceh ini, selain mendapatkan ilmu baru dan memperluas cakrawala. Saya jadi lebih paham bagaimana melindungi hasil karya,“ ujarnya saat diwawancarai Nukilan.id pada Sabtu (18/4/2026).

Ia menambahkan, pemahaman terkait perlindungan kekayaan intelektual menjadi penting agar setiap karya, khususnya artikel ilmiah maupun skripsi, mendapatkan perlindungan hukum.

“Karena saya juga sedang membuat artikel ilmiah juga bersama dosen untuk dipublikasi dengan harapan karya kami dapat di daftarkan dan mendapatkan perlindungan Kekayaan Intelektual,” sambungnya.

Sementara itu, Kepala Kantor Wilayah Kementerian Hukum Aceh, Meurah Budiman, menegaskan bahwa perguruan tinggi merupakan salah satu motor utama dalam menghasilkan inovasi. Oleh karena itu, kesadaran terhadap pentingnya perlindungan kekayaan intelektual harus terus ditingkatkan.

“Kolaborasi dengan kampus penting untuk memastikan inovasi tidak hanya dihasilkan, tetapi juga terlindungi dan memberi manfaat,” kata Meurah.

Materi dalam kegiatan ini disampaikan oleh Kepala Divisi Pelayanan Hukum, Purwandani Harum Pinilihan, Kepala Divisi Peraturan Perundang-Undangan dan Pembinaan Hukum, M. Ardiningrat Hidayat, serta Penyuluh Hukum, Eva Juliana.

Selain edukasi, kegiatan ini juga dirangkai dengan penandatanganan nota kesepahaman antara kedua pihak serta perjanjian kerja sama dengan tiga fakultas di lingkungan UIN Ar-Raniry, yakni Fakultas Hukum dan Syari’ah, Fakultas Sains dan Teknologi, serta Fakultas Ekonomi dan Bisnis. Kerja sama tersebut diharapkan dapat mendorong peningkatan jumlah kekayaan intelektual yang dihasilkan dari lingkungan kampus. (XRQ)

Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News

Simulasi Penjelajahan, Penggalang SMPIK Nurul Quran Aceh Tempuh TKU dan TKK Bersama Pramuka MAN 2 Banda Aceh

0
Penggalang SMPIK Nurul Quran Aceh Tempuh TKU dan TKK Bersama Pramuka MAN 2 Banda Aceh. (Foto: For Nukilan)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH — Semangat kepramukaan tampak hidup di halaman SMPIK Nurul Quran Aceh, Meunasah Manyet, Kecamatan Ingin Jaya, Kabupaten Aceh Besar. Kegiatan yang berlangsung sejak pukul 08.00 hingga 13.00 WIB ini menjadi momentum penting bagi Pramuka Penggalang dalam menempuh Tanda Kecakapan Umum (TKU) dan Tanda Kecakapan Khusus (TKK) melalui pembelajaran berbasis praktik lapangan.

Kegiatan dikemas dalam bentuk simulasi penjelajahan dengan sejumlah pos ujian, seperti Pos Dasa Dharma Pramuka, Pos Sandi, Pos Pionering, Pos Semaphore, serta Pos Masak Rimba. Setiap pos dirancang untuk menguji keterampilan, pengetahuan, dan sikap peserta sesuai nilai-nilai dasar kepramukaan.

Kegiatan ini turut melibatkan Pramuka MAN 2 Banda Aceh sebagai fasilitator lapangan. Mereka membantu pembina dalam mengelola jalannya ujian di setiap pos agar berjalan sistematis, aman, dan edukatif. Rombongan dipimpin oleh Kak Khaidir Marzuki selaku pembina, bersama Dewan Ambalan Pocut Meurah Intan, yakni Syakila Humaira (Pradana), Alyfah Alyana (Juru Adat), dan Aulia Alrasyqa (Kerani), yang aktif mendukung teknis kegiatan.

Pembina Pramuka SMPIK Nurul Quran Aceh, Kak Deni kepada Nukilan.id menyampaikan bahwa kegiatan ini menjadi sarana evaluasi sekaligus penguatan karakter peserta didik. Menurutnya, metode simulasi penjelajahan mampu mengintegrasikan aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik dalam satu rangkaian kegiatan.

“Melalui pos-pos ujian ini, peserta tidak hanya diuji pengetahuannya, tetapi juga sikap, kerja sama, dan ketangguhan mereka dalam menghadapi tantangan,” ujarnya.

Sementara itu, Wakil Kepala Bidang Kesiswaan yang juga pembina upacara pelantikan, Kak Rohaya, menegaskan bahwa pencapaian TKU dan TKK bukan sekadar formalitas, melainkan bentuk pengakuan atas proses panjang peserta.

“Pelantikan ini adalah simbol kesiapan adik-adik untuk naik tingkat dalam tanggung jawab dan pengabdian sebagai Pramuka. Nilai-nilai yang ditanamkan hari ini diharapkan menjadi bekal dalam kehidupan sehari-hari,” ungkapnya.

Turut hadir dalam kegiatan tersebut Kak Rabiulyani selaku pembina dan guru BK, serta Kak Alif sebagai pembina putra, yang memberikan pendampingan selama kegiatan berlangsung.

Di akhir kegiatan, dilaksanakan upacara pelantikan TKU Pramuka Ramu dan Rakit, serta penyematan TKK kepada peserta yang telah menyelesaikan Syarat Kecakapan Khusus (SKK). Prosesi berlangsung khidmat dan menjadi penanda keberhasilan peserta dalam menempuh tahapan pembinaan kepramukaan.

Kegiatan ini tidak hanya memperkuat kompetensi teknis, tetapi juga mempererat sinergi antar gugus depan, khususnya antara Pramuka SMPIK Nurul Quran Aceh dan Pramuka MAN 2 Banda Aceh. Kolaborasi ini diharapkan terus berlanjut dalam membangun generasi muda yang tangguh, berkarakter, dan berjiwa kepemimpinan. (xrq)

Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News

Lima Perusahaan Sawit di Aceh Tamiang Raih Peringkat Merah dari Kementerian Lingkungan Hidup

0
Gambar Ilustrasi. (Foto: Istimewa)

NUKILAN.ID | KUALA SIMPANG – Sebanyak lima perusahaan kelapa sawit di Kabupaten Aceh Tamiang, Provinsi Aceh, memperoleh peringkat merah dalam penilaian kinerja pengelolaan lingkungan hidup tahun 2024–2025.

Mengutip KabarTamiang.com, kelima perusahaan tersebut adalah PT Sisirau, PT Simpang Kiri Plantation Indonesia, PT Bumi Sama Ganda, PT Padang Palma Permai (PPP) Minamas Plantation TME, serta PT Socfindo Indonesia – Sei Liput.

Penetapan ini tertuang dalam Keputusan Menteri Lingkungan Hidup/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup Republik Indonesia Nomor 1581 Tahun 2026 tentang hasil penilaian peringkat kinerja perusahaan dalam pengelolaan lingkungan hidup.

Berdasarkan data Kementerian Lingkungan Hidup, penilaian PROPER tahun ini melibatkan 5.126 perusahaan. Dari jumlah tersebut, sebanyak 4.982 perusahaan berhasil ditetapkan peringkatnya, sementara 144 perusahaan tidak dapat dinilai karena sudah tidak beroperasi.

Adapun rincian hasil penilaian menunjukkan 39 perusahaan meraih peringkat emas, 240 perusahaan peringkat hijau, 2.013 perusahaan peringkat biru, 2.596 perusahaan peringkat merah, serta 4 perusahaan mendapatkan peringkat hitam.

Penilaian PROPER sendiri merupakan instrumen kebijakan pemerintah untuk mendorong peningkatan kinerja perusahaan dalam pengelolaan lingkungan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Selain itu, program ini juga menjadi bentuk transparansi dan akuntabilitas dalam pengelolaan lingkungan hidup di Indonesia.

Dalam pelaksanaannya, penilaian dilakukan berdasarkan sejumlah kriteria, antara lain pengendalian pencemaran air, pemeliharaan sumber daya air, pengendalian pencemaran udara, pengelolaan limbah bahan berbahaya dan beracun (B3) maupun non-B3, serta pengendalian kerusakan lahan.

Selain itu, aspek lain yang turut dinilai mencakup efisiensi energi, penurunan emisi, efisiensi penggunaan air, pengurangan dan pemanfaatan limbah, perlindungan keanekaragaman hayati, pemberdayaan masyarakat, hingga kesiapsiagaan terhadap bencana dan inovasi sosial.

PROPER merupakan evaluasi terhadap ketaatan serta kinerja perusahaan dalam pengendalian pencemaran dan kerusakan lingkungan hidup, termasuk pengelolaan limbah B3, yang dilakukan secara berkala oleh pemerintah.

Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News

Plt Sekda Aceh Tamiang Terima 50 Ribu Mushaf Alquran untuk Korban Banjir

0
Pelaksana Tugas (Plt) Sekretaris Daerah Aceh Tamiang, Drs. Syuibun Anwar, menerima kunjungan lembaga Markaz Bersama Assunnah (MBA) beserta rombongan di ruang kerja Sekda, Kamis (16/04/2026). (Foto: For Nukilan)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Pelaksana Tugas (Plt) Sekretaris Daerah Aceh Tamiang, Drs. Syuibun Anwar, menerima kunjungan lembaga Markaz Bersama Assunnah (MBA) beserta rombongan di ruang kerja Sekda, Kamis (16/04/2026).

Kunjungan tersebut dilakukan dalam rangka penyaluran bantuan 50 ribu eksemplar mushaf Alquran untuk masyarakat terdampak banjir di Aceh. Bantuan ini selanjutnya akan diserahkan kepada Pemerintah Aceh untuk didistribusikan ke daerah terdampak.

Dalam sambutannya, Syuibun menyampaikan bahwa pihaknya akan memfasilitasi proses penurunan mushaf di Aceh Tamiang sebelum disalurkan lebih lanjut ke kabupaten/kota terdampak.

“Kita akan fasilitasi penurunan 50 ribu eks Mushaf di sini. Mushaf yang mulia ini akan segera kita salurkan,” ujar Syuibun.

Ia menjelaskan, mushaf tersebut nantinya akan didistribusikan ke 18 kabupaten/kota yang terdampak banjir di Aceh.

Sementara itu, Ketua Pembina MBA, Muhammad Wujud, mengatakan bantuan mushaf tersebut merupakan hasil donasi dari relawan, donatur, dan berbagai lembaga yang peduli terhadap masyarakat terdampak bencana.

“Mushaf ini langsung didatangkan dari Madinah menempuh perjalanan selama tiga bulan. Alhamdulilah hari ini sampai di Aceh Tamiang,” ucapnya.

Ia juga menjelaskan bahwa penurunan mushaf dilakukan di Aceh Tamiang karena adanya keterbatasan akses, terutama akibat kerusakan jembatan di wilayah Bireuen yang tidak memungkinkan dilalui truk bermuatan besar.

“Nanti akan kita lakukan serah terima bersama Kepala Dinas Syari’at Islam Aceh yang dalam hal ini mewakili Gubernur Aceh,” sebutnya.

Plt Kepala Dinas Syari’at Islam Aceh, Marzuki, S.Ag, MH, menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada MBA, PULDAPPI, serta para donatur atas bantuan yang diberikan.

Ia menambahkan bahwa mekanisme pendistribusian mushaf akan diatur lebih lanjut agar tepat sasaran.

“Al-quran itu Syifa. Dia lebih dari sekedar obat. Al-quran itu menjadi obat bagi jiwa, menjadi benteng bagi diri dari musuh yang tidak bisa kita lihat,” sebutnya.

Marzuki berharap mushaf yang disalurkan dapat menjadi cahaya dan pedoman hidup bagi masyarakat penerima manfaat.

Penyerahan bantuan secara simbolis dilakukan di halaman Kantor Bupati Aceh Tamiang, yang turut dihadiri unsur Forkopimda, perwakilan pemerintah daerah, Kepala Dinas Syariat Islam Aceh Tamiang, serta sejumlah lembaga pendukung penyaluran bantuan tersebut.

Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News

DPRK Subulussalam Desak PUPR Aceh Percepat Perbaikan Jalan Rusak

0
Anggota DPRK Subulussalam, Ardhi Yanto, saat mengunjungi Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Aceh untuk mengawal langsung program pembangunan jalan di Kota Subulussalam. (Foto: Dokumen untuK RRI)

NUKILAN.ID | SUBULUSSALAM – Kondisi ruas jalan provinsi di Kota Subulussalam yang rusak parah dan kerap memicu kecelakaan mendapat perhatian serius dari kalangan legislatif. Anggota DPRK Subulussalam, Ardhi Yanto, mendatangi langsung kantor PUPR Aceh untuk mendesak percepatan perbaikan di sejumlah titik rawan, Kamis (16/4/2026).

Dalam pertemuan tersebut, Ardhi menegaskan bahwa perbaikan jalan tidak boleh lagi ditunda karena menyangkut keselamatan masyarakat. Ia menilai kondisi jalan yang berlubang, bergelombang, serta minim penerangan sudah berada pada tahap membahayakan, terutama saat cuaca buruk.

“Jalan yang rusak harus segera diperbaiki tanpa ditunda. Kondisi jalan yang berlubang, bergelombang, dan minim penerangan sudah sangat membahayakan pengguna jalan,” tegas Ardhi Yanto.

Ia menyebut, kedatangannya ke Banda Aceh merupakan bentuk keseriusan dalam mengawal aspirasi masyarakat yang telah lama mengeluhkan kondisi infrastruktur tersebut. Menurutnya, perbaikan jalan menjadi kebutuhan mendesak untuk menunjang aktivitas ekonomi dan mobilitas harian warga.

Menanggapi hal itu, pihak PUPR Aceh menyatakan siap melakukan pemetaan terhadap titik-titik kerusakan yang tergolong darurat. Langkah ini dilakukan agar penanganan dapat diprioritaskan pada lokasi yang paling rawan dan berisiko tinggi terhadap keselamatan pengguna jalan.

Ardhi juga menyatakan komitmennya untuk terus memantau realisasi perbaikan hingga pekerjaan benar-benar dilaksanakan di lapangan. Ia berharap komunikasi antara pemerintah daerah dan provinsi dapat berjalan lebih intensif guna mempercepat proses penanganan yang selama ini dinilai terhambat birokrasi.

Kunjungan tersebut diakhiri dengan kesepakatan untuk mempercepat realisasi pembangunan jalan provinsi yang melintasi Subulussalam. Upaya ini diharapkan menjadi angin segar bagi masyarakat yang selama ini menginginkan infrastruktur jalan yang aman dan layak.

Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News

519 Jemaah Haji Aceh Utara Siap Berangkat, Manasik dan Vaksin Rampung

0
Ilustrasi haji. Biaya haji 2026. (FOTO: PIXABAY/ADLI WAHID)

NUKILAN.ID | LHOKSUKON – Sebanyak 519 calon jemaah haji asal Kabupaten Aceh Utara dipastikan siap berangkat pada musim haji tahun 2026. Jumlah tersebut terdiri dari 514 jemaah dan 5 petugas.

Kepala Seksi Bina Haji dan Pelayanan Kementerian Haji dan Umrah Aceh Utara, Ridwan, mengatakan seluruh persiapan utama telah rampung, mulai dari manasik, kelengkapan dokumen, hingga vaksin meningitis.

“Kami sedang mempersiapkan distribusi perlengkapan lainnya seperti memasang badge, pita tas dan tas. Setelah itu distribusi ke calon jemaah,” katanya, Jumat (17/4/2026).

Ridwan mengimbau seluruh calon jemaah untuk menjaga kondisi kesehatan agar tetap prima menjelang keberangkatan ke Tanah Suci.

Ia menjelaskan, ratusan jemaah tersebut akan terbagi dalam tiga kelompok terbang (kloter), yakni Kloter 3, Kloter 6, dan Kloter 11. Untuk Kloter 3, dijadwalkan berangkat dari Aceh Utara menuju Asrama Haji pada 6 Mei 2026.

Selain itu, pihaknya juga telah berkoordinasi dengan Pemerintah Kabupaten Aceh Utara terkait prosesi peusijuek (tepung tawar) yang akan dilaksanakan pada 21 Mei 2026 di Masjid Agung Baiturrahim Lhoksukon.

“Peusijuek sudah menjadi tradisi puluhan tahun saat pelepasan calon jemaah haji,” katanya.

Untuk mendukung kelancaran keberangkatan, transportasi dari Aceh Utara menuju Asrama Haji di Banda Aceh akan difasilitasi oleh pemerintah daerah.

“Kami imbau seluruh jemaah menjaga kebugaran agar tetap fit saat berangkat ke tanah suci,” katanya.

Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News

Mualem Pastikan JKA Tidak Dihapus, Hanya Dievaluasi untuk Perbaikan

0
Gubernur Aceh, Mualem yang didampingi Wakil Gubernur Aceh, Dek Fadh. (FOTO: HUMAS)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Gubernur Aceh, Muzakir Manaf (Mualem), menegaskan bahwa kabar mengenai penghapusan program Jaminan Kesehatan Aceh (JKA) tidak benar. Pemerintah, kata dia, saat ini hanya melakukan pembaruan serta perbaikan data guna meningkatkan akurasi dan kualitas layanan kepada masyarakat.

“Saya menegaskan bahwa anggaran Jaminan Kesehatan Aceh (JKA) bukan dipotong, melainkan sedang kami evaluasi agar pelaksanaannya lebih tepat sasaran dan berkeadilan,” kata Mualem di hadapan relawan dan tokoh masyarakat pada Rabu (15/4/2026) malam.

Menurut Mualem, langkah yang tengah dilakukan pemerintah saat ini adalah penataan kembali pembagian tanggung jawab antara program JKA dan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), termasuk kewenangan antara pemerintah provinsi dan pemerintah pusat.

“Sebenarnya JKA ini bukan dipotong, karena kita evaluasi dulu. Karena di masa sekarang, kita akan pisahkan, mana tanggung jawab JKA dan mana tanggung jawab JKN. Mana tanggung jawab provinsi dan mana tanggung jawab pusat,” kata Mualem yang didampingi Wakil Gubernur Aceh, Fadhlullah.

Ia menjelaskan, dari sekitar 5,6 juta penduduk Aceh, sebanyak 5,2 juta jiwa telah terdaftar dalam program BPJS Kesehatan melalui berbagai skema pembiayaan, termasuk JKA dan JKN.

“Mengingat kondisi fiskal Aceh saat ini, maka penyesuaian terhadap JKA perlu dilakukan dengan skema yang ada, agar benar-benar tepat sasaran. Apabila ke depan Dana Otsus Aceh kembali sebesar 2,5 persen, maka pelaksanaan JKA akan dikembalikan seperti semula,” pungkas Mualem.

Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News

Raihal Fajri Soroti Lemahnya Mitigasi Bencana di Aceh

0
raihal fajri
Aktivis sekaligus Direktur Eksekutif Katahati Institute, Raihal Fajri. (Foto: Dok. Pribadi)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH — Penanganan pasca bencana di Aceh kembali menjadi sorotan. Dalam wawancara bersama Nukilan.id pada Jumat (17/4/2026), aktivis sekaligus Direktur Eksekutif Katahati Institute, Raihal Fajri, menegaskan pentingnya perubahan paradigma pemerintah dalam mengelola risiko bencana.

Menurut Raihal, selama ini penanganan bencana cenderung berhenti pada tahap respons, tanpa diikuti langkah strategis yang berkelanjutan. Padahal, jika merujuk pada siklus kebencanaan, terdapat tahapan yang seharusnya dijalankan secara utuh dan terintegrasi.

“Kalau kita lihat tahapan penanganan bencana, mulai dari tanggap darurat, kemudian masa transisi pemulihan, lalu rehabilitasi dan rekonstruksi, hingga akhirnya ke tahap mitigasi. Nah, ke depan, seluruh kebijakan harus diarahkan pada mitigasi agar kejadian seperti ini tidak terulang,” katanya.

Ia menilai, kegagalan dalam memperkuat aspek mitigasi menjadi salah satu penyebab berulangnya bencana di wilayah yang sama dalam waktu relatif singkat. Kondisi ini, lanjutnya, menunjukkan bahwa upaya pemulihan belum menyentuh akar persoalan.

“Karena faktanya, belum sampai satu tahun, bahkan baru beberapa bulan, wilayah yang sama kembali dilanda banjir dan longsor. Respons masyarakat pun masih sama, panik dan tidak siap,” ungkap Raihal.

Selain itu, Raihal juga menyoroti aspek kebijakan yang dinilai kurang responsif, terutama terkait penetapan status bencana yang berdampak pada kecepatan dan efektivitas penanganan di lapangan.

“Salah satu catatan penting adalah soal penetapan status bencana. Waktu itu banyak pihak mendorong agar ditetapkan sebagai bencana nasional, tapi tidak terjadi. Akibatnya, penanganan menjadi lebih lambat. Walaupun pemerintah menyebut progres sudah 100 persen, tapi di lapangan tidak terlihat seperti itu,” jelasnya.

Ketimpangan antara laporan administratif dan realitas di lapangan, menurut Raihal, tercermin dari kondisi hunian sementara yang belum sepenuhnya layak bagi para korban terdampak.

“Itu pun masih banyak masalah, seperti ruang yang terbuka tanpa sekat, yang berpotensi menimbulkan persoalan serius, termasuk kekerasan seksual,” sebutnya.

Ia menambahkan, persoalan mendasar lainnya juga belum tertangani secara komprehensif, mulai dari sanitasi hingga perlindungan kelompok rentan yang kerap terabaikan dalam situasi darurat.

“Selain itu, masalah sanitasi, kebersihan lingkungan, serta perlindungan terhadap kelompok rentan seperti perempuan, anak, dan penyandang disabilitas juga belum optimal. Bahkan dalam pendataan, kelompok disabilitas harus mendata diri mereka sendiri karena belum ada sistem yang terfokus,” pungkasnya.

Raihal menegaskan, ke depan diperlukan komitmen yang lebih kuat dari pemerintah, baik pusat maupun daerah, untuk membangun sistem penanggulangan bencana yang tidak hanya reaktif, tetapi juga preventif dan inklusif. Tanpa perbaikan mendasar, risiko berulangnya bencana dengan dampak yang sama akan terus menghantui masyarakat di wilayah rawan seperti Aceh.

Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News

Cakupan Imunisasi di Aceh Masih Rendah, Media Didorong Perkuat Edukasi Publik

0
Pertemuan penguatan peran media dalam peningkatan cakupan imunisasi di Aceh yang digelar di Banda Aceh, Jumat (17/4/2026). (Foto: Pemerintah Aceh)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH — Upaya peningkatan cakupan imunisasi di Aceh kembali menjadi sorotan, menyusul masih rendahnya jumlah anak yang mendapatkan imunisasi lengkap. Hal ini mengemuka dalam pertemuan penguatan peran media dalam peningkatan cakupan imunisasi di Aceh yang digelar di Banda Aceh, Jumat (17/4/2026).

Pertemuan tersebut menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor, khususnya dengan media, dalam membangun kepercayaan masyarakat terhadap imunisasi.

Dokter spesialis anak, dr. Aslinar, Sp.A, M.Biomed, menjelaskan bahwa imunisasi merupakan intervensi kesehatan yang terbukti efektif dalam mencegah berbagai penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi (PD3I), sekaligus membentuk kekebalan kelompok (herd immunity).

Ia mengingatkan bahwa rendahnya cakupan imunisasi berpotensi membuka peluang terjadinya wabah penyakit menular, salah satunya campak yang memiliki tingkat penularan sangat tinggi.

“Campak itu sangat mudah menular. Satu penderita bisa menginfeksi 12 hingga 18 orang lainnya. Ini yang harus kita waspadai jika cakupan imunisasi rendah,” ujarnya.

Menurut Aslinar, lebih dari 20 jenis penyakit berbahaya sebenarnya dapat dicegah melalui imunisasi, yang hingga kini masih menjadi metode pencegahan paling efektif dan efisien dari sisi biaya.

Untuk mengejar ketertinggalan, berbagai strategi terus dilakukan, salah satunya melalui program imunisasi kejar (catch-up immunization) yang menyasar anak-anak yang belum mendapatkan imunisasi.

Ia juga menekankan pentingnya peran media dalam meningkatkan cakupan imunisasi. Media dinilai memiliki posisi strategis dalam membentuk persepsi publik, terutama di tengah masih adanya keraguan masyarakat terhadap imunisasi.

“Informasi yang disajikan harus akurat, edukatif, dan mampu menenangkan masyarakat”, ujar Aslinar.

Media diharapkan tidak hanya menyampaikan informasi, tetapi juga mampu mendorong masyarakat untuk datang ke fasilitas pelayanan kesehatan serta membawa anaknya untuk mendapatkan imunisasi.

Imunisasi, lanjutnya, merupakan salah satu bentuk ikhtiar orang tua dalam melindungi anak dari berbagai penyakit menular berbahaya yang berpotensi menyebabkan kecacatan hingga kematian.

Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News

28 Wartawan Aceh Kantongi Sertifikat Kompeten, AMSI Tekankan Profesionalisme Pers

0
Sebanyak 28 wartawan di Aceh berhasil meraih predikat kompeten dalam Uji Kompetensi Wartawan (UKW) yang digelar oleh Dinas Komunikasi, Informatika, dan Persandian Aceh bersama Asosiasi Media Siber Indonesia Aceh dan Lembaga Uji Kompetensi Wartawan Universitas Muhammadiyah Jakarta (LUKW UMJ) di Hotel Ayani Banda Aceh, 16-17 April 2026. (Foto: panitia)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Sebanyak 28 wartawan di Aceh dinyatakan kompeten dalam Uji Kompetensi Wartawan (UKW) yang diselenggarakan oleh Dinas Komunikasi, Informatika, dan Persandian Aceh bekerja sama dengan Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) Aceh dan Lembaga Uji Kompetensi Wartawan Universitas Muhammadiyah Jakarta (LUKW UMJ).

Pantauan Nukilan.id, kegiatan tersebut berlangsung di Hotel Ayani Banda Aceh pada 16–17 April 2026 dan diikuti peserta dari berbagai jenjang. Rinciannya, 18 wartawan kategori muda, 6 wartawan kategori madya, dan 4 wartawan kategori utama dari berbagai media di Aceh.

Pelaksanaan UKW ini menjadi bagian dari upaya meningkatkan kualitas serta profesionalisme insan pers di Aceh di tengah tantangan industri media yang terus berkembang.

Ketua AMSI Aceh, Aryos Nivada, menegaskan bahwa UKW merupakan langkah strategis dalam memperkuat kualitas jurnalisme di daerah.

“UKW ini bukan sekadar formalitas, tetapi menjadi standar penting untuk memastikan wartawan bekerja secara profesional dan bertanggung jawab,” ujarnya.

Menurut Aryos, tantangan dunia jurnalistik saat ini semakin kompleks, terutama di tengah derasnya arus informasi di era digital yang menuntut kecepatan sekaligus ketepatan.

“Wartawan hari ini tidak hanya dituntut cepat, tetapi juga harus akurat, berimbang, dan mampu menjaga etika jurnalistik,” katanya.

Ia juga menekankan pentingnya peran wartawan kompeten dalam menangkal penyebaran informasi yang tidak benar di tengah maraknya hoaks.

“Di tengah maraknya hoaks, wartawan harus menjadi rujukan informasi yang dapat dipercaya oleh masyarakat,” tegasnya.

Aryos berharap para peserta yang telah dinyatakan kompeten tidak berhenti pada pencapaian sertifikat semata, tetapi terus mengasah kemampuan dalam praktik jurnalistik sehari-hari.

“Jangan berhenti di sertifikat. Kompetensi itu harus terus diasah dalam praktik sehari-hari di lapangan,” tambahnya.

Sementara itu, penguji dari LUKW UMJ, Asep Setiawan, menilai UKW sebagai instrumen penting dalam menjaga marwah profesi wartawan.

“UKW ini menjadi alat ukur untuk melihat apakah seorang wartawan sudah memenuhi standar kompetensi atau belum,” ujarnya.

Ia menyebutkan, wartawan yang kompeten harus mampu memahami isu secara mendalam dan menyajikannya secara jelas kepada publik.

“Wartawan harus peka terhadap isu-isu yang berkembang dan mampu mengolahnya menjadi informasi yang bermanfaat,” katanya.

Selain itu, Asep juga menyoroti pentingnya integritas dalam menjalankan profesi jurnalistik. Ia berharap UKW tidak hanya menjadi ajang evaluasi, tetapi juga momentum pembelajaran berkelanjutan.

“Melalui UKW ini, wartawan diharapkan terus belajar, beradaptasi, dan meningkatkan kualitas kerja jurnalistiknya,” pungkas Asep. (XRQ)

Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News