Beranda blog Halaman 122

Unmuha Aceh Perluas Kemitraan Internasional, Jajaki Kolaborasi Industri dan Akademik di Malaysia

0
Unmuha menjajaki kemitraan dengan dua perusahaan, yakni PKT Logistics dan Gott Sdn Bhd. PKT Logistics merupakan perusahaan di sektor logistik otomotif, FMCG, dan Food & Beverage, yang menjadi target kerja sama dalam pengembangan manajemen rantai pasok berbasis teknologi digital. (Foto: For Nukilan)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Universitas Muhammadiyah Aceh (Unmuha) terus memperluas jejaring global melalui kunjungan strategis ke sejumlah institusi pendidikan dan perusahaan di Pulau Pinang, Malaysia.

Kegiatan tersebut berlangsung dalam rangka International Conference on Research, Innovation, Sustainability and Education (iRiseCon) 2026 di Politeknik Seberang Perai (PSP) pada 17–20 April 2026. Dalam forum ini, Unmuha juga berperan sebagai co-host konferensi.

Langkah ini menjadi bagian dari upaya meningkatkan mutu pendidikan, penguatan riset, serta pengembangan inovasi yang berbasis pada kebutuhan industri.

Dalam kunjungan tersebut, delegasi Unmuha menjajaki kerja sama dengan dua perusahaan, yakni PKT Logistics dan Gott Sdn Bhd. PKT Logistics merupakan perusahaan yang bergerak di sektor logistik otomotif, FMCG, dan Food & Beverage, yang menjadi target kolaborasi dalam pengembangan manajemen rantai pasok berbasis teknologi digital.

Sementara itu, Gott Sdn Bhd fokus pada pengembangan peralatan pelatihan teknis dan solusi pendidikan. Kerja sama ini diarahkan untuk meningkatkan kompetensi sumber daya manusia melalui pemanfaatan alat peraga dan sistem pelatihan modern.

Selain sektor industri, Unmuha juga memperkuat hubungan akademik dengan mengunjungi tiga perguruan tinggi, yakni Politeknik Seberang Perai, Politeknik Balik Pulau, dan Peninsula College Malaysia. Kolaborasi yang dibahas mencakup pertukaran mahasiswa dan dosen, riset bersama, serta pengembangan kurikulum berbasis kebutuhan industri regional.

Rektor Unmuha, Dr. Aslam Nur, M.A., menegaskan pentingnya penguatan jejaring internasional dalam menghadapi tantangan global yang semakin kompetitif.

“Kami berkomitmen membawa Unmuha melampaui batas nasional untuk menjawab tantangan zaman yang kompetitif. Melalui penguatan kemitraan internasional ini, kami berharap dapat memberikan nilai tambah bagi mahasiswa dan dosen dalam meningkatkan wawasan global,” ujarnya.

Dalam pertemuan dengan mitra industri dan akademik, juga dibahas peluang program magang internasional bagi mahasiswa dan dosen. Program ini diharapkan mampu mendorong transfer pengetahuan praktis serta memperkuat kesiapan lulusan menghadapi dunia kerja global.

Delegasi Unmuha dalam kegiatan ini terdiri dari Wakil Rektor I Dr. Nuzulman, S.E., M.Si., Wakil Rektor II M. Yamin, S.E., M.Si., Kepala KUI dan Kerja Sama Dr. Febyolla Presilawati, S.E., M.M., Kepala Bidang Penelitian, Pengabdian dan Pengembangan Masyarakat LP4M Qurratul Aini, S.T., M.T., serta Wakil Dekan III Fakultas Ekonomi Zulkifli Umar, S.E., M.Si.

Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News

Peringatan Hari Kartini: Perkembangan Perempuan Aceh Dinilai Positif Namun Belum Merata

0
Ilustrasi perempuan di Aceh. (Foto: ChatGPT)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH — Peringatan Hari Kartini setiap 21 April menjadi momentum untuk meninjau kembali perjuangan kesetaraan gender di Indonesia, termasuk di Aceh. Semangat yang diwariskan Raden Ajeng Kartini terus relevan di tengah dinamika sosial yang dihadapi perempuan hari ini.

Dalam konteks tersebut, Nukilan.id menghubungi Gebrina Rezeki, Kepala Sekolah HAM Perempuan, untuk menggambarkan kondisi terkini perempuan di Aceh, baik dari sisi pendidikan, ekonomi, maupun partisipasi publik.

Ia menilai, dalam beberapa tahun terakhir, terdapat perkembangan yang cukup menggembirakan, terutama dalam akses pendidikan dan keterlibatan sosial perempuan.

“Perempuan Aceh saat ini menunjukkan perkembangan yang cukup signifikan, khususnya di bidang pendidikan dan partisipasi sosial. Semakin banyak perempuan muda yang terlibat dalam komunitas, advokasi, dan ruang-ruang publik,” katanya pada Selasa (21/4/2026)

Meski demikian, capaian tersebut belum sepenuhnya diikuti dengan pemerataan di berbagai sektor. Ketimpangan, menurutnya, masih menjadi pekerjaan rumah yang belum terselesaikan, khususnya dalam aspek ekonomi dan representasi di ruang pengambilan keputusan.

“Banyak perempuan yang masih berada di sektor informal dengan perlindungan terbatas, serta belum optimalnya representasi perempuan dalam posisi strategis,” ungkapnya.

Lebih jauh, ia menyoroti bahwa persoalan yang dihadapi perempuan Aceh tidak hanya bersifat struktural, tetapi juga kultural. Norma dan konstruksi sosial yang berkembang di masyarakat dinilai masih menjadi penghambat bagi perempuan untuk berkembang secara setara.

“Tantangan terbesar yang kami lihat adalah masih kuatnya konstruksi sosial yang membatasi peran perempuan, baik secara langsung maupun tidak langsung. Selain itu, isu kekerasan terhadap perempuan masih menjadi persoalan serius yang membutuhkan perhatian kolektif,” jelasnya.

Dalam menghadapi tantangan tersebut, Gebrina menekankan pentingnya kerja bersama lintas sektor. Ia memandang bahwa perubahan tidak dapat berjalan sendiri, melainkan membutuhkan keterlibatan berbagai pihak untuk menciptakan ruang yang lebih adil bagi perempuan.

“Sebagai bagian dari gerakan masyarakat sipil, termasuk Sekolah HAM Perempuan Flower Aceh, saya percaya bahwa perubahan membutuhkan kolaborasi, antara generasi muda, komunitas, dan pemangku kebijakan untuk menciptakan ruang yang lebih aman, adil, dan inklusif bagi perempuan Aceh,” tutupnya

Momentum Hari Kartini pun tidak hanya menjadi seremoni tahunan, tetapi juga pengingat bahwa perjuangan kesetaraan masih berlangsung. Di Aceh, langkah maju telah terlihat, namun jalan menuju keadilan gender masih memerlukan komitmen bersama yang berkelanjutan. (XRQ)

Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News

Kemnaker Salurkan Rp32 Miliar untuk Pemulihan Ekonomi Aceh dan Sumut

0
Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Yassierli. (Foto: Kemnaker)

NUKILAN.ID | MEDAN – Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) menyalurkan bantuan program Kemnaker Peduli senilai Rp32.252.643.000 guna mempercepat pemulihan ekonomi masyarakat terdampak bencana di Aceh dan Sumatera Utara.

Bantuan tersebut diserahkan langsung oleh Menteri Ketenagakerjaan, Yassierli, di Balai Besar Pelatihan Vokasi dan Produktivitas (BBPVP) Medan, Selasa (21/4/2026). Penyaluran ini menjadi bagian dari upaya pemerintah dalam mendorong masyarakat agar kembali bangkit dan berdaya pascabencana.

Yassierli menyampaikan duka dan empati mendalam atas bencana yang melanda kedua provinsi tersebut. Menurutnya, dampak bencana tidak hanya menimbulkan kerugian material, tetapi juga memengaruhi kondisi sosial dan ekonomi masyarakat.

“Namun saya yakin, dengan semangat gotong royong dan ketangguhan masyarakat Sumatera Utara dan Aceh, kita akan mampu bangkit dan pulih bersama,” ujar Yassierli.

Ia menegaskan bahwa bantuan yang diberikan tidak sekadar simbolis, melainkan dirancang untuk memberikan dampak nyata terhadap pemulihan ekonomi serta peningkatan keterampilan masyarakat terdampak.

Adapun rincian bantuan tersebut meliputi program pelatihan vokasi bagi 4.516 orang di Sumatera Utara dengan anggaran Rp16.531.704.000 dan 2.438 orang di Aceh dengan anggaran Rp8.918.439.000. Program ini bertujuan meningkatkan keterampilan kerja agar masyarakat dapat kembali bekerja atau membuka usaha mandiri.

Selain itu, Kemnaker juga menyalurkan 40 paket kegiatan padat karya senilai Rp4.000.000.000 guna menciptakan lapangan kerja sementara dan menggerakkan ekonomi lokal. Program Tenaga Kerja Mandiri (TKM) turut diberikan sebanyak 400 paket dengan total anggaran Rp2.000.000.000 untuk mendorong tumbuhnya usaha kecil baru.

Bantuan lainnya berupa santunan bagi 28 pekerja terdampak kategori berat dan sedang dengan total nilai Rp52.500.000 dalam bentuk paket sembako dan tali asih. Sementara itu, dukungan wirausaha melalui program MPSI disalurkan sebesar Rp750.000.000 untuk memperkuat kapasitas usaha masyarakat.

Yassierli menambahkan, Kemnaker melalui BBPVP Medan dan Aceh juga menyiapkan program pemulihan jangka menengah dan panjang, termasuk pelatihan vokasi berbasis kebutuhan pascabencana, peningkatan keterampilan kerja, serta penguatan kewirausahaan.

Ia menekankan bahwa proses pemulihan harus berkelanjutan hingga masyarakat benar-benar mandiri secara ekonomi.

“Bencana boleh meruntuhkan bangunan, tetapi tidak boleh meruntuhkan semangat. Kita jadikan musibah ini sebagai titik untuk bangkit lebih kuat dan lebih siap menghadapi masa depan,” tegasnya.

Yassierli juga mengajak seluruh pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah daerah, dunia usaha, lembaga pelatihan, hingga masyarakat, untuk terus bersinergi dalam mempercepat pemulihan dan penguatan sumber daya manusia di Aceh dan Sumatera Utara.

Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News

Tito Karnavian Serahkan 5 Ambulans untuk Puskesmas Terdampak Bencana di Aceh Tengah

0
Ketua Satuan Tugas (Satgas) Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (PRR) Pascabencana Sumatera, Muhammad Tito Karnavian, menyerahkan bantuan lima unit ambulans untuk mendukung layanan kesehatan di Kabupaten Aceh Tengah. (Foto: Kemendagri)

NUKILAN.ID | TAKENGON – Ketua Satuan Tugas (Satgas) Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (PRR) Pascabencana Sumatera, Muhammad Tito Karnavian, menyerahkan bantuan lima unit ambulans untuk mendukung layanan kesehatan di Kabupaten Aceh Tengah.

Bantuan tersebut diperuntukkan bagi lima puskesmas yang terdampak bencana hidrometeorologi dan sempat terisolasi. Penyerahan dilakukan kepada Bupati Aceh Tengah, Haili Yoga, pada Senin (20/4/2026).

Tito menjelaskan, bantuan ambulans tersebut berasal dari Budi Gunadi Sadikin dan diharapkan dapat mempermudah akses layanan kesehatan bagi masyarakat.

“Lima kendaraan dari Bapak Menkes (Budi Gunadi Sadikin) ini akan bermanfaat untuk tenaga kesehatan di Aceh Tengah,” kata Tito dalam keterangan tertulis, Selasa (21/4/2026).

Ia menegaskan, pemulihan fasilitas kesehatan menjadi salah satu prioritas utama Satgas PRR sejak dibentuk oleh Presiden Prabowo Subianto. Menurutnya, fasilitas kesehatan memiliki peran penting sebagai garda terdepan dalam pemulihan sosial bagi masyarakat terdampak bencana.

“Oleh karena itu, saya bersama Menkes menyerahkan sejumlah kendaraan dan juga peralatan kesehatan dukungan dari Kemenkes, kepada semua daerah yang terdampak bencana, di antaranya untuk Kabupaten Aceh Tengah,” ujarnya.

Sementara itu, Haili Yoga menyampaikan bahwa lima ambulans tersebut akan langsung digunakan untuk memperkuat layanan di puskesmas yang membutuhkan dukungan mobilitas, yakni Puskesmas Bintang, Kepuyang, Pamar, Ketapang, dan Jagung.

“Kami atas nama masyarakat Aceh Tengah mengucapkan terima kasih kepada Menkes dan diberikan kepada Mendagri dan bapak Wakil Gubernur Aceh, untuk 5 Puskesmas yang terisolir. Masyarakat bahagia atas perhatian pemerintah luar biasa. Ambulan ini untuk melayani masyarakat. Jadi saya bahagia, semoga nanti petugas puskesmas semangat,” tutur Haili.

Kunjungan Tito ke Aceh Tengah merupakan bagian dari rangkaian agenda peninjauan progres rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana, sekaligus memantau kondisi terkini para penyintas.

Turut hadir dalam kegiatan tersebut Direktur Jenderal Bina Administrasi Kewilayahan Kemendagri Safrizal ZA, Wakil Gubernur Aceh Fadhlullah, serta jajaran Forkopimda Kabupaten Aceh Tengah.

Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News

Hari Bumi: Momentum Global Menjaga Kelestarian Planet

0
Hari Bumi. (Foto: Shutterstock)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Setiap tanggal 22 April, dunia memperingati Hari Bumi, sebuah momentum tahunan internasional yang bertujuan meningkatkan kesadaran, kepedulian, serta apresiasi manusia terhadap kelestarian planet tempat kita hidup.

Berdasarkan penelusuran Nukilan.id, Hari Bumi pertama kali digagas oleh Gaylord Nelson, seorang senator Amerika Serikat sekaligus pengajar lingkungan hidup, pada 22 April 1970. Inisiatif ini kemudian berkembang menjadi gerakan global yang menyerukan aksi nyata dalam melindungi lingkungan.

Seiring waktu, peringatan ini tidak hanya menjadi simbol, tetapi juga ajakan untuk menghadapi berbagai tantangan lingkungan, seperti perubahan iklim, polusi, serta ancaman terhadap keanekaragaman hayati.

Saat ini, Hari Bumi diperingati di lebih dari 175 negara di seluruh dunia dan dikoordinasikan secara global oleh Earth Day Network. Jaringan ini berperan penting dalam menggerakkan berbagai kampanye lingkungan lintas negara.

Lebih dari sekadar seremoni, Hari Bumi diisi dengan beragam aksi nyata oleh masyarakat. Mulai dari penanaman pohon, kegiatan bersih-bersih lingkungan, penghematan energi, hingga upaya mengurangi penggunaan plastik sekali pakai.

Momentum ini menjadi pengingat bahwa menjaga bumi bukan hanya tanggung jawab pemerintah atau organisasi tertentu, melainkan kewajiban bersama seluruh umat manusia. (XRQ)

Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News

Program Banda Aceh Berhaji Dorong Warga Siapkan Ibadah Haji Sejak Dini

0

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Suasana religius menyelimuti Masjid Oman Al Makmur, Selasa (21/4/2026) malam. Ratusan jemaah memadati masjid usai salat Isya untuk mengikuti kajian akbar “Banda Aceh Berhaji”, program kolaborasi Pemerintah Kota Banda Aceh bersama Bank Syariah Indonesia dalam mendorong kesiapan umat menuju Tanah Suci.

Kegiatan yang merupakan bagian dari peringatan HUT ke-821 Kota Banda Aceh ini dihadiri Wakil Wali Kota Banda Aceh, Afdhal Khalilullah, didampingi Sekdako Jalaluddin, unsur Forkopimda, SEVP Funding & Transaction BSI Ida Triana Widowati, serta masyarakat yang antusias mengikuti rangkaian acara.

Dalam sambutannya, Afdhal menyampaikan apresiasi atas kolaborasi yang terjalin antara Pemko Banda Aceh dan BSI. Ia juga menyampaikan salam dari Wali Kota Illiza Sa’aduddin Djamal yang berhalangan hadir.

“Kami menyampaikan apresiasi atas kolaborasi ini. Program Banda Aceh Berhaji bukan sekadar bagian dari peringatan hari jadi kota, tetapi merupakan langkah strategis dalam membangun kesadaran masyarakat untuk menunaikan ibadah haji secara lebih terencana,” ujarnya.

Ia menilai antusiasme masyarakat, khususnya generasi muda, menjadi sinyal positif bahwa kesadaran untuk berhaji terus meningkat. Menurutnya, ibadah haji tidak hanya membutuhkan kesiapan finansial, tetapi juga spiritual.

“Melalui program ini, kita tidak hanya mendorong masyarakat untuk menabung, tetapi juga memperkuat kesiapan spiritual sebagai bekal utama dalam menunaikan ibadah haji,” kata Afdhal.

Ia juga menyinggung panjangnya masa tunggu haji yang dapat mencapai puluhan tahun, sehingga perencanaan sejak dini menjadi langkah penting. “Kalau harus memilih, kita dorong untuk mulai merencanakan haji terlebih dahulu. Insya Allah, dari sana Allah akan memudahkan jalan hidup kita,” sebutnya.

Sementara itu, Deputi BSI Aceh, Saiful Musadi, menyampaikan bahwa kolaborasi ini merupakan bentuk nyata dalam memperkuat literasi keuangan syariah sekaligus mendampingi masyarakat merencanakan ibadah haji.

“BSI menyambut baik dan mendukung penuh inisiatif ini. Kegiatan Banda Aceh Berhaji sejalan dengan visi kami sebagai sahabat finansial, sosial, dan spiritual bagi masyarakat, khususnya dalam mendampingi perjalanan ibadah haji,” ujarnya.

Ia mengungkapkan, saat ini jumlah daftar tunggu haji di Indonesia mencapai sekitar 5,7 juta orang dengan rata-rata masa tunggu hingga 27 tahun. Di Banda Aceh sendiri, jumlah jemaah dalam daftar tunggu mencapai 18.855 orang, dengan sekitar 10.684 di antaranya merupakan nasabah BSI.

Kajian malam itu semakin hidup dengan kehadiran Hanan Attaki yang menyampaikan tausiah dengan pendekatan ringan dan dekat dengan generasi muda. Ia mengangkat tema “Gak Cuma Niat, tapi Mulai Ikhtiar ke Tanah Suci”, mengajak jemaah untuk mewujudkan niat berhaji menjadi langkah nyata.

Program ini menjadi bagian dari upaya Pemerintah Kota Banda Aceh dalam membangun masyarakat yang tidak hanya kuat secara ekonomi, tetapi juga kokoh secara spiritual. Momentum HUT ke-821 Kota Banda Aceh dimanfaatkan untuk menghadirkan kebijakan yang menyentuh langsung kebutuhan masyarakat, termasuk dalam mempersiapkan perjalanan ke Baitullah.

Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News

Semangat Kartini dan Realitas Perempuan Aceh Hari Ini

0
gebrina
Kepala Sekolah HAM Perempuan, Gebrina Rezeki. (Foto: Dok. Pribadi)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Peringatan Hari Kartini setiap 21 April tidak sekadar menjadi seremoni tahunan, tetapi juga momentum refleksi terhadap posisi dan peran perempuan di berbagai daerah, termasuk Aceh yang memiliki kekhasan adat dan nilai syariat.

Semangat perjuangan Raden Ajeng Kartini kembali menjadi rujukan dalam melihat sejauh mana nilai emansipasi perempuan menemukan relevansinya di masa kini.

Menanggapi hal tersebut, Nukilan.id menghubungi Gebrina Rezeki, Kepala Sekolah HAM Perempuan, untuk menggali pandangannya terkait dinamika perempuan Aceh saat ini.

Gebrina menilai, perjuangan Kartini tidak bisa lagi dimaknai sebagai narasi sejarah semata, tetapi harus dilihat sebagai fondasi yang terus hidup dalam gerakan perempuan modern.

“Sebagai generasi muda, saya melihat perjuangan R.A. Kartini bukan sekadar sejarah, tetapi fondasi gerakan hari ini. Nilai-nilai yang ia perjuangkan, akses pendidikan, kebebasan berpikir, dan keberanian bersuara masih sangat relevan dalam konteks perempuan Aceh,” katanya pada Selasa (21/4/2026).

Menurutnya, terjadi pergeseran dalam orientasi perjuangan perempuan, dari sekadar memperoleh izin menuju pengakuan atas kapasitas dan peran yang setara.

“Hari ini, perempuan Aceh tidak lagi hanya berjuang untuk ‘diizinkan’, tetapi untuk diakui kapasitasnya dan dilibatkan secara setara dan bermakna dalam berbagai ruang,” jelasnya.

Ia juga menyoroti bahwa semangat Kartini kini hadir dalam bentuk yang lebih kontekstual, tercermin dari keberanian perempuan muda Aceh dalam mengambil peran di tengah berbagai batasan sosial dan kultural.

“Semangat Kartini hadir dalam setiap upaya perempuan muda yang berani mengambil peran, meskipun masih berhadapan dengan batasan sosial dan kultural,” sebutnya.

Lebih lanjut, dalam konteks Aceh yang lekat dengan adat dan syariat, Gebrina menekankan bahwa emansipasi perlu dipahami secara kontekstual dan tidak konfrontatif.

“Emansipasi perempuan di Aceh harus dipahami secara kontekstual, bukan sebagai bentuk penolakan terhadap adat dan syariat, melainkan sebagai upaya menghadirkan keadilan di dalam kerangka nilai tersebut,” pungkasnya.

Ia menegaskan, emansipasi bukan berarti meninggalkan identitas, tetapi justru memperkuat posisi perempuan agar memiliki akses dan ruang yang setara tanpa tercerabut dari akar budaya dan religiusitas.

“Bagi saya, emansipasi adalah tentang memastikan perempuan memiliki akses, ruang, dan suara yang setara, tanpa kehilangan identitas kultural dan religiusnya,” ungkapnya.

Dalam kerangka itu, emansipasi dipandang sebagai proses yang terus bergerak, di mana perempuan tidak lagi menjadi objek, melainkan subjek aktif dalam menafsirkan nilai-nilai yang dijalani.

“Ini adalah proses negosiasi yang terus berjalan, di mana perempuan Aceh tidak hanya menjadi objek nilai, tetapi juga subjek yang aktif dalam menafsirkan dan menjalankan nilai-nilai tersebut,” tutupnya.

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa semangat Kartini tetap relevan, namun membutuhkan pembacaan yang kontekstual agar mampu menjawab tantangan zaman tanpa mengabaikan identitas lokal masyarakat Aceh. (XRQ)

Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News

Bulan Zulkaidah Momentum Memperbanyak Amal dan Menahan Diri

0
Ilustrasi puasa. (Foto: Gemini AI)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH — Setelah berakhirnya bulan Syawal 1447 Hijriah, umat Islam kini memasuki bulan Zulkaidah, salah satu fase penting dalam kalender hijriah yang kerap luput dari perhatian. Padahal, bulan ini memiliki kedudukan istimewa sebagai bagian dari bulan-bulan haram yang dimuliakan dalam Islam.

Melihat momentum tersebut, Nukilan.id mewawancarai Ustaz Miswal untuk menggali amalan yang dianjurkan selama bulan Zulkaidah. Ia menegaskan bahwa bulan ini sejatinya menjadi ruang refleksi spiritual bagi setiap Muslim.

“Di antaranya adalah memperbanyak amal saleh. Karena pahala dilipatgandakan pada bulan haram, maka dianjurkan untuk memperbanyak salat sunnah, sedekah, zikir, dan tilawah Al-Qur’an,” katanya pada Selasa (21/4/2026)

Penekanan pada amal saleh ini bukan tanpa alasan. Dalam tradisi Islam, bulan-bulan haram memiliki nilai keutamaan yang berlipat, sehingga setiap kebaikan yang dilakukan memiliki bobot lebih tinggi dibandingkan waktu lainnya.

Tak hanya itu, dimensi pengendalian diri juga menjadi sorotan penting. Ustaz Miswal mengingatkan bahwa menjaga diri dari perbuatan dosa merupakan bagian tak terpisahkan dari kemuliaan bulan ini.

“Selain itu, kita juga dianjurkan untuk lebih kuat dalam meninggalkan maksiat. Sebagaimana firman Allah, ‘janganlah kalian menzalimi diri kalian.’ Maka penting untuk menjaga lisan, menjauhi dosa yang tersembunyi, serta menahan emosi. Ini sering menjadi ujian yang paling nyata dalam kehidupan sehari-hari, yaitu kemampuan untuk mengendalikan amarah,” ungkapnya.

Dalam konteks kehidupan modern yang serba cepat dan penuh tekanan, kemampuan mengendalikan emosi dan menjaga lisan menjadi tantangan tersendiri. Karena itu, Zulkaidah hadir sebagai pengingat untuk kembali menata batin.

Lebih lanjut, ia juga menyinggung amalan puasa sunnah yang tetap relevan untuk diamalkan selama bulan ini, meskipun tidak ada puasa khusus yang disyariatkan.

“Amalan lain yang dapat dilakukan adalah puasa sunnah. Memang tidak ada puasa khusus di bulan Zulkaidah, namun kita bisa melaksanakan puasa Senin-Kamis, serta puasa Ayyamul Bidh pada tanggal 13, 14, dan 15 setiap bulan hijriah. Ini termasuk amalan yang memiliki keutamaan,” pungkasnya.

Amalan-amalan tersebut menjadi sarana menjaga konsistensi ibadah, sekaligus melatih kedisiplinan spiritual yang berkelanjutan.

Tak kalah penting, Zulkaidah juga dipandang sebagai gerbang menuju bulan Zulhijjah, yang dikenal dengan puncak ibadah tahunan umat Islam.

“Kemudian, bulan Zulkaidah juga menjadi momen persiapan menuju Zulhijjah. Bisa dikatakan, bulan ini adalah ‘pemanasan’ menuju musim ibadah besar di bulan Zulhijjah. Maka, ini menjadi waktu yang tepat untuk memperbaiki niat dan meningkatkan kualitas amal,” jelasnya.

Persiapan ini menjadi krusial, mengingat keutamaan luar biasa yang terdapat pada awal Zulhijjah, sebagaimana disampaikan dalam banyak riwayat.

“Sebagaimana diketahui, sepuluh hari pertama di bulan Zulhijjah merupakan hari-hari yang sangat utama. Amal saleh yang dilakukan pada hari-hari tersebut bahkan lebih baik daripada jihad di jalan Allah,” tutupnya.

Dengan demikian, Zulkaidah tidak sekadar bulan peralihan, melainkan fase strategis untuk memperkuat fondasi ibadah. Ia menjadi ruang jeda yang sarat makna, tempat setiap Muslim menata kembali niat, memperbaiki amal, dan mempersiapkan diri menyambut puncak kemuliaan di bulan berikutnya. (xrq)

SPs USK dan Mata Garuda Aceh Kolaborasi Perkuat Persiapan Seleksi Substansi LPDP

0
SPs USK dan Mata Garuda Aceh Kolaborasi Perkuat Persiapan Seleksi Substansi LPDP. (Foto: For Nukilan)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Sekolah Pascasarjana (SPs) Universitas Syiah Kuala (USK) berkolaborasi dengan Mata Garuda Aceh dalam memperkuat kesiapan calon penerima beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP), khususnya pada tahap seleksi substansi.

Kegiatan yang berlangsung di Mini Theater Lantai 2 Gedung Utama SPs USK, Selasa (21/4/2026), mengusung tema Workshop dan Sharing Session “Droe keu Droe”: Kupas Tuntas Beasiswa LPDP: Strategi, Tips dan Trik, Mock-Up, dan Persiapan menuju Seleksi Substansi. Kegiatan ini diikuti lebih dari 45 peserta dari seluruh Aceh yang telah lulus seleksi administrasi dan akan menghadapi tahap wawancara pada awal Mei 2026 secara daring.

Direktur SPs USK, Prof Dr Hizir, melalui Wakil Direktur Bidang Akademik, Dr Muhammad Ikhsan Sulaiman, M.Sc., IPU., Asean Eng., saat membuka kegiatan menekankan pentingnya peningkatan kualitas sumber daya manusia Indonesia, khususnya pada jenjang magister dan doktoral.

Ia menyebutkan bahwa Indonesia masih tertinggal dibanding negara tetangga dalam hal tenaga kerja terampil di level pendidikan tinggi. Karena itu, pengembangan talenta melalui beasiswa dan riset menjadi kunci menuju visi Indonesia Emas 2045.

“4000 kursi kosong beasiswa tersebut harus diraih oleh anda semua, semangat!” ujar Ikhsan di hadapan peserta.

Kegiatan ini juga merupakan agenda berkala yang diselenggarakan SPs USK dalam mendukung calon mahasiswa, baik yang akan melanjutkan studi di dalam maupun luar negeri. Salah satu program studi yang turut mendorong peningkatan kualitas SDM adalah Program Studi Doktor Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial (DPIPS).

Koordinator Prodi DPIPS, Dr Muhammad Aulia, MTESOL., M.A., menyampaikan bahwa Aceh termasuk dalam 10 besar provinsi penerima beasiswa LPDP secara nasional.

“Aceh termasuk provinsi yang ke-10 terbanyak sebagai penerima beasiswa LPDP,” ujarnya.

Ia juga menambahkan bahwa Kota Banda Aceh masih mampu mempertahankan posisi kedua dalam Indeks Pembangunan Manusia (IPM) di tingkat kota secara nasional, meskipun tantangan pemerataan pembangunan masih terjadi di sejumlah daerah.

“Banda Aceh juga mempertahankan ranking kedua Indeks Pembangunan Manusia dari seluruh kota di Indonesia, meskipun masih banyak kerja keras untuk daerah seperti Subulussalam, Simeulue, dan Aceh Barat Daya,” kata Aulia.

Sementara itu, Ketua Mata Garuda Aceh, Wildan Sani Rasyid, S.Pd.I., M.Ed., menjelaskan bahwa kegiatan ini dirancang untuk memberikan simulasi nyata kepada peserta melalui sesi mock-up wawancara.

“Akan ada mock-up test dimana setiap calon akan mengadakan simulasi wawancara untuk mempersiapkan diri mereka pada seleksi yang dijadwalkan 2 minggu lagi,” ujarnya.

Ia juga menyebutkan bahwa kegiatan ini menghadirkan sejumlah alumni LPDP yang telah menempuh studi di luar negeri, seperti Fadli Nora Iranda (Inggris), Nadya Shifani (Inggris), Zahra Amalia (Jepang), serta alumni yang sedang menempuh studi di dalam negeri seperti Hikmat Maswara.

Wildan menegaskan pentingnya memperluas kegiatan serupa agar semakin banyak putra-putri Aceh yang mampu bersaing dan meraih beasiswa pendidikan.

“Kegiatan yang sama harus lebih masif dilakukan demi Aceh yang lebih inklusif dan merata perkembangannya,” ujarnya.

Melalui kolaborasi ini, diharapkan para peserta semakin siap menghadapi seleksi substansi LPDP dan mampu meningkatkan peluang keberhasilan, sekaligus berkontribusi terhadap pembangunan sumber daya manusia di Aceh.

Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News

Kapolres Aceh Tengah Dampingi Kunjungan Mendagri Tinjau Sinkhole di Ketol

0
Kunjungan kerja Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia, Prof. Drs. H.M. Muhammad Tito Karnavian, M.A., Ph.D., ke lokasi sinkhole di Kampung Pondok Balik, Kecamatan Ketol, Kabupaten Aceh Tengah, Senin (20/4/2026). (Foto: For Nukilan)

NUKILAN.ID | TAKENGON – Kapolres Aceh Tengah AKBP Muhamad Taufiq, S.I.K., M.H. mendampingi kunjungan kerja Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia, Prof. Drs. H.M. Muhammad Tito Karnavian, M.A., Ph.D., ke lokasi sinkhole di Kampung Pondok Balik, Kecamatan Ketol, Kabupaten Aceh Tengah, Senin (20/4/2026).

Kunjungan yang berlangsung sekitar pukul 17.00 WIB tersebut merupakan bagian dari upaya pemerintah pusat untuk meninjau langsung kondisi lapangan pascakejadian sinkhole yang berdampak terhadap lingkungan dan akses masyarakat.

Turut hadir dalam kegiatan tersebut Wakil Gubernur Aceh Fadhlullah, utusan Kepala BNPB selaku penanggung jawab lapangan wilayah Aceh Tengah Brigjen TNI Mohammad Syech Ismed, Bupati Aceh Tengah Haili Yoga, Dandim 0106 Aceh Tengah Letkol Inf Raden Herman Sasmita, serta sejumlah pejabat dari Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) Provinsi Aceh dan unsur Forkopimda.

Setibanya di lokasi, Menteri Dalam Negeri menerima pemaparan dari BPJN Provinsi Aceh terkait kondisi terkini sinkhole, termasuk dampak yang ditimbulkan serta langkah penanganan yang telah dan akan dilakukan. Setelah itu, Mendagri bersama rombongan meninjau langsung lokasi untuk melihat tingkat kerusakan secara nyata.

Kunjungan ini bertujuan untuk memperoleh gambaran faktual di lapangan, menilai tingkat kerusakan, serta mengidentifikasi potensi risiko lanjutan akibat fenomena tersebut. Pemerintah juga mendorong percepatan penanganan, baik jangka pendek maupun jangka panjang, melalui koordinasi lintas instansi.

Kapolres Aceh Tengah AKBP Muhamad Taufiq menyatakan pihaknya turut mengawal seluruh rangkaian kegiatan agar berjalan aman dan kondusif.

“Pengamanan dilakukan secara maksimal untuk memastikan seluruh kegiatan kunjungan kerja berlangsung aman, tertib, dan lancar,” ujarnya.

Rangkaian kunjungan kerja berakhir sekitar pukul 17.40 WIB, dilanjutkan dengan keberangkatan rombongan Menteri Dalam Negeri menuju Kota Takengon.

Secara keseluruhan, kegiatan berlangsung dalam situasi aman, tertib, dan kondusif, dengan sinergi antara aparat keamanan, pemerintah daerah, dan instansi terkait.

Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News