Beranda blog Halaman 1161

Jadi Pembicara di UIN Ar-Raniry, Asisten Sekda Aceh: Pemimpin yang Baik Lahir dari Pengikut yang Baik

0
Asisten Bidang Administrasi Umum Sekda Aceh, Iskandar. (Foto: Dok. Pribadi)

NUKILAN.id | Banda Aceh – Menjadi seorang pemimpin memerlukan proses panjang dan pembelajaran mendalam. Menurut Asisten Bidang Administrasi Umum Sekda Aceh, Iskandar, pembelajaran kepemimpinan bisa dimulai dari tahapan sebagai seorang pengikut.

“Pemimpin yang baik lahir dari pengikut yang baik,” ujarnya saat mengisi materi Pendidikan dan Pelatihan Kepemimpinan Mahasiswa (Diklatpim) UIN Ar-Raniry Banda Aceh di ruang rapat Rektor UIN Ar-Raniry, Rabu (15/5/2024).

Iskandar hadir sebagai narasumber dalam Diklatpim yang diselenggarakan oleh Pusat Kerohanian Moderasi Beragama (PKMB) UIN Ar-Raniry. Dalam kesempatan tersebut, ia memberikan motivasi serta berbagi pengalaman kepada para mahasiswa untuk mempersiapkan diri sebagai pemimpin masa depan.

Acara tersebut diikuti oleh 50 mahasiswa dari tiga kampus, yakni 43 mahasiswa UIN Ar-Raniry, lima mahasiswa Universitas Syiah Kuala, dan dua mahasiswa Universitas Bina Bangsa Getsempena (UBBG).

Dalam pemaparannya, Iskandar menekankan bahwa jabatan pemimpin bukanlah sesuatu yang instan dan bisa diduduki oleh sembarang orang.

“Menjadi seorang pemimpin haruslah terlebih dahulu melewati berbagai proses dan pembelajaran,” tegasnya.

Lebih lanjut, Iskandar menjelaskan bahwa pembelajaran menjadi pemimpin yang baik juga bisa diperoleh dari berbagai biografi tokoh bangsa terdahulu. Ia menyebut banyak inspirasi yang dapat diambil dari tokoh-tokoh bangsa Indonesia, seperti Bung Karno dan Bung Hatta.

“Oleh sebab itu, pergunakanlah masa muda untuk belajar banyak hal agar dapat menjadi sosok yang bermanfaat bagi diri sendiri dan lingkungan sekitar di masa depan nanti,” pungkasnya.

Melalui kegiatan ini, diharapkan para mahasiswa dapat memetik pelajaran berharga dan mempersiapkan diri menjadi pemimpin yang tangguh dan inspiratif.

Editor: Akil Rahmatillah

BAN PDM Provinsi Aceh Gelar Sosialisasi Akreditasi PAUD/RA

0
BAN PDM Provinsi Aceh Gelar Sosialisasi Akreditasi PAUD/RA. (Foto: Humas Aceh)

NUKILAN.id | Idi Rayeuk – Kepala Kantor Kementerian Agama (Kakankemenag) Aceh Timur H. Salamina memaparkan dukungan Kementerian Agama dalam Pelaksanaan Akreditasi PAUD/Raudatul Atfal (RA) 2024.

Hal itu disampaikan, Salamina dalam kegiatan Sosialisasi akreditasi Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) oleh Badan Akreditasi Nasional Pendidikan Anak Provinsi Aceh, di Aula Kemenag Aceh Timur, Senin (13/5/2024).

Kegiatan ini diinisiasi oleh Badan Akreditasi Nasional Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah (BAN PDM) Provinsi Aceh dengan fasilitator Rosmiati, Kabid Paud Yusnil Amri pada Dinas pendidikan.

“Peranan Kementerian Agama dalam hal ini mencakup pengembangan kurikulum yang relevan, juga pelatihan guru untuk meningkatkan kualitas pengajaran,” ucap Salamina.

Akreditasi ini, lanjut dia, merupakan salah satu upaya penting dalam memastikan bahwa pendidikan tetap bermutu, relevan, dan berkualitas.

Ia menyebutkan bahwa Kemenag sangat mendukung akreditasi PAUD, karena akreditasi akan memberikan keuntungan-keuntungan bagi lembaga pendidikan dan masyarakat, sehingga semakin yakin dan mempercayakan anak-anak untuk dididik di lembaga tersebut karena kualitas mutu yang dimilikinya.

Lebih lanjut, Salamina menambahkan, Akreditasi bukan sekadar tuntutan regulasi tetapi diperlukan bagi penguatan kelembagaan dan mengetahui kelayakan sebuah lembaga pendidikan.

“Diharapkan melalui kegiatan sosialisasi ini, satuan pendidikan baik PAUD maupun RA di Aceh Timur dapat mendukung dan memahami pentingnya standar mutu dalam dunia pendidikan, sehingga pendidikan anak usia dini di Aceh Timur dapat terus berkembang dan memberikan manfaat yang optimal,” tutupnya.

Editor: Akil Rahmatillah

RSUD Langsa Buka Poliklinik Urologi dan Hadirkan Dokter Spesialis Baru

0
RSUD Langsa Buka Poliklinik Urologi dan Hadirkan Dokter Spesialis Baru. (Foto: Humas Aceh)

NUKILAN.id | Langsa

Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Langsa sejak meraih akreditasi paripurna bintang lima beberapa bulan lalu, terus berbenah tingkatkan pelayanan kesehatan dengan membuka poliklinik urologi.

Humas RSUD Langsa, Arwinsyah SKM menyampaikan, saat ini rumah sakit telah buka poliklinik urologi mendampingi pelayanan unggulan yang telah hadir seperti pelayanan traumatologi, kebidanan, anak dan penyakit dalam.

Dia mengatakan, urologi adalah pengobatan penyakit pada sistem saluran kemih baik pada pria, wanita hingga anak-anak. Klinik spesialis urologi tersebut dihadirkan untuk melengkapi pelayanan kesehatan kepada masyarakat.

“Spesialis urologi ini memberikan khusus pelayanan kesehatan kepada masyarakat yang mengalami penyakit pada sistem saluran kemih yang ditangani oleh dokter spesialis urologi, dr Ahlan Syahreza SpU,” kata Arwinsyah, Selasa (14/5/2024).

Selain itu, kata Arwinsyah, ada tujuh bidang penanganan di klinik spesialis urologi tersebut. Pertama, penanganan batu saluran kemih, meliputi open surgery, ureterorenoskopi (URS), litotripsi batu kandung kemih dan PCNL (Percutaneus Nephrolitotomy).

Kedua, penanganan gangguan prostat, meliputi biopsi prostat, TURP (transurethra resection of prostat). Ketiga, penanganan gangguan kelainan, meliputi congenital (bawaan) pada anak, kelainan ginjal congenital, hipospadia, undesendent testis (UDT), buried penis, dan mengompol pada anak.

Lalu keempat, rekonstruksi urologi, yaitu penyempitan saluran kemih. Kelima, masalah kesuburan pria dan gangguan seksual, meliputi varikokel, disfungsi ereksi, ejakulasi dini.

Keenam, penanganan keganasan pada saluran kemih, meliputi transurethra resection of bladder tumor (TUR BT), tumor testis dan tumor ginjal serta ketujuh, penanganan gangguan berkemih pada wanita, di antaranya caranculae urethra, fistula vesicovagina, dan ureterovagina.

Lanjut Arwinsyah, untuk melengkapi dan penunjang pelayanan medis, rumah sakit milik pemerintah ini telah menghadirkan berbagai dokter spesialis baru yang ikut bergabung seperti dokter anestesi, mata, orthopedi, urologi dan THT.

RSUD Langsa juga berhasil mendorong dan memberikan kesempatan bagi dokter umum untuk sekolah spesialis diantaranya spesialis penyakit dalam, spesialis mata, spesialis anak, spesialis bedah plastik, spesialis THT, spesialis paru, spesialis neurologi, spesialis radiologi dan sup spesialis jantung.

“Pelayanan medis hal utama yang diterapkan di RSUD Langsa demi memberikan layanan kesehatan bagi masyakarat Langsa dan terus berbenah diri,” pungkas Arwinsyah.

Editor: Akil Rahmatillah

Melacak Jejak Sejarah Aceh di Bulan Mei

0
Tgk Hasan Tiro bersama sejumlah petinggi GAM di Swedia. (Foto repro: Suparta dari dok pribadi)

NUKILAN.id | Banda Aceh – Mei, bulan kelima dalam kalender Masehi, menjadi saksi bisu berbagai peristiwa penting dalam sejarah Aceh. Dari masa ke masa, bulan ini menyimpan cerita heroik, pengkhianatan, peperangan, hingga upaya damai yang terus mengiringi perjalanan Serambi Mekkah. Meskipun banyak yang melupakan, peristiwa-peristiwa ini tetap dikenang sebagai bagian penting dari sejarah panjang Aceh yang penuh liku.

Setelah melakukan penelusuran digital dan merujuk berbagai referensi, Nukilan.id kali ini menyajikan berbagai peristiwa penting yang terjadi pada bulan Mei dalam sejarah Aceh. Semoga artikel ini dapat menambah wawasan sejarah para pembaca dan memberikan pemahaman yang lebih dalam tentang perjalanan Aceh.

Salah satu peristiwa heroik yang layak dikenang adalah kegagalan serangan Portugis di Pedir pada tahun 1521. Armada laut Portugis di bawah pimpinan Jorge de Brito berupaya menyerang Pedir, namun upaya ini berhasil digagalkan berkat bantuan dari 1.000 tentara dan enam gajah perang dari Kerajaan Aceh Darussalam. Pimpinan armada Portugis, Jorge de Brito, tewas dalam pertempuran ini. Kisah ini menjadi simbol kegigihan dan keberanian Aceh dalam menghadapi ancaman asing, sekaligus menegaskan peran strategis Aceh di Selat Malaka.

Pada 12 Mei 1869, Sultan Mansyur Syah memberi gelar kepada seorang Tionghoa bernama Ang Pi Auw yang berhasil mendekati Sultan dengan menyamar sebagai mualaf. Dia diberi nama baru, Chik Putih, dan diangkat sebagai Panglima Setia Bakti. Namun, belakangan Ang Pi Auw kembali berpihak kepada Belanda dan berperan dalam penyerangan Belanda ke Idi pada 7 Mei 1873. Peristiwa ini menggambarkan kompleksitas politik dan diplomasi di Aceh, serta bagaimana intrik dan pengkhianatan mewarnai perjuangan melawan kolonialisme.

Mei juga menjadi bulan penuh pertumpahan darah selama masa kolonial Belanda. Pada 11 Mei 1904, Kampung Penosan diserang oleh Belanda, menewaskan 191 pria dan 95 perempuan serta anak-anak. Peristiwa serupa terjadi di Kampung Tempeng pada 18 Mei 1904, di mana 125 pria dan 51 perempuan serta anak-anak menjadi korban. Serangan-serangan ini menunjukkan betapa brutalnya upaya Belanda dalam menaklukkan Aceh, serta bagaimana masyarakat Aceh tetap gigih melawan penjajahan meski harus menelan banyak korban jiwa.

Pada masa pendudukan Jepang, Mei 1943 menjadi titik awal pembentukan satuan Heiho di Aceh. Jepang merekrut pemuda lokal untuk memperkuat pertahanan di Aceh, yang kemudian ikut serta dalam latihan militer dan bergabung dengan tentara reguler. Pasukan Heiho ini menunjukkan bagaimana pendudukan Jepang mempengaruhi dinamika militer di Aceh dan membentuk struktur pertahanan yang kelak berperan dalam masa perjuangan kemerdekaan.

Setelah Indonesia merdeka, Aceh terus menjadi daerah yang penuh gejolak. Pada 16 Mei 1949, Tgk Daud Beureueh diangkat sebagai Gubernur Militer Aceh dan Tanah Karo oleh Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI) untuk mengantisipasi serangan Belanda. Namun, ketidakpuasan terhadap kebijakan pemerintah pusat yang tidak memenuhi aspirasi Aceh untuk menjalankan pemerintahan berlandaskan syariat Islam mendorong Tgk Daud Beureueh mendeklarasikan perlawanan melalui bendera Darul Islam.

Dekade berikutnya, pada 20 Mei 1977, Gerakan Aceh Merdeka (GAM) didirikan oleh Hasan Tiro dengan dukungan dari tokoh-tokoh Aceh yang tidak puas dengan kondisi politik dan sosial. GAM menjadi simbol perlawanan terhadap pemerintahan Indonesia dan menuntut kemerdekaan Aceh. Gerakan ini memperpanjang daftar konflik bersenjata di Aceh yang terus berlangsung hingga penandatanganan kesepakatan damai di Helsinki pada 15 Agustus 2005.

Tragedi Simpang PT KKA pada 2 Mei 1999 menjadi contoh lain dari kekerasan yang terjadi di Aceh. Unjuk rasa damai berujung pada penembakan membabi buta oleh tentara, menewaskan 65 orang dan melukai 125 lainnya. Insiden ini menambah daftar panjang pelanggaran HAM di Aceh dan menegaskan pentingnya upaya damai untuk menghentikan kekerasan.

Mei 2003 menandai dimulainya status darurat militer di Aceh, yang diumumkan oleh Presiden Megawati. Ribuan tentara dan polisi dikerahkan untuk meredam konflik, namun hanya memperpanjang penderitaan rakyat Aceh. Status ini baru dicabut pada Mei 2005, setelah gempa bumi dan tsunami mengguncang Aceh, membuka jalan bagi kesepakatan damai di Helsinki.

Sejarah Aceh di bulan Mei adalah cerita tentang perjuangan, pengorbanan, dan harapan. Peristiwa-peristiwa ini tidak hanya menjadi bagian dari catatan sejarah, tetapi juga pelajaran berharga tentang keteguhan dan keinginan untuk mencapai kedamaian. Semoga kita semua bisa mengambil hikmah dari sejarah panjang ini, dan terus berupaya menjaga perdamaian dan keadilan di Aceh serta seluruh Indonesia.

Reporter: Akil Rahmatillah

Badan Legislasi DPRA Bahas Raqan Aceh Mengenai Grand Design Syariat Islam

0
Badan Legislasi DPRA Bahas Raqan Aceh Mengenai Grand Design Syariat Islam. (Foto: Humas Aceh)

NUKILAN.id | Banda Aceh – Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA) melalui Badan Legislasi (Baleg) sedang melakukan pembahasan secara berkelanjutan mengenai Rancangan Qanun (Raqan) Aceh, tentang Grand Design atau Rencana Induk tentang Syariat Islam, Senin (13/5/2024).

Dalam serangkaian pertemuan yang sudah berlangsung beberapa kali, Banleg DPRA telah mengundang beberapa pihak terkait, termasuk 10 Satuan Kerja Perangkat Aceh (SKPA) pelaksana, MPU (Majelis Permusyawaratan Ulama), serta melibatkan para Guru Dayah dan Perwakilan Ormas di Ruang Serbaguna Gedung DPRA.

Ketua Banleg DPR Aceh, Mawardi menyatakan bahwa Raqan tersebut akan merumuskan strategi pelaksanaan Syariat Islam dalam jangka waktu 20 tahun ke depan, dengan 5 target utama yang mencakup tata kelola pemerintahan, pendidikan, kepastian hukum, dan ekonomi.

Raqan ini diharapkan menjadi pedoman bagi pembangunan Aceh dalam berbagai sektor, termasuk lingkungan, keuangan, dan ekonomi, serta akan dievaluasi secara berkala untuk menetapkan target baru.

Mawardi juga menjelaskan bahwa proses pembahasan Raqan melibatkan berbagai metode, termasuk diskusi internal antara pemerintah dan Badan Legislasi, serta roadshow ke beberapa kabupaten dan kota untuk mendapatkan masukan dari masyarakat luas, tokoh masyarakat, dan ahli di berbagai bidang terkait.

Para anggota Badan Legislasi dan pembicara lainnya menekankan pentingnya dukungan serta masukan dari seluruh masyarakat Aceh dalam penyempurnaan Raqan ini. Mereka juga menyoroti perlunya pengaturan yang bijaksana terkait penerapan Syariat Islam, termasuk aturan bagi non-Muslim.

Tgk H. Muhammad Yusuf A. Wahab (Tu Sop Jeunieb) yang juga hadir dalam pembahasan raqan tersebut menyampaikan bahwa perlu strategi untuk memperkuat wilayah syariah dan memberikan pemahaman kepada masyarakat.

“Pertama persoalan syariat islam,kita ingin menemukan syariat islam dengan kecerdasan kita yang bisa kita pertanggungjawabkan dunia dan akhirat. Pemegang otoritas dan pemegang kewenangan ini harus bersinergi. Kita harus punya strategi untuk memperkuat wilayah syariah, juga perlu mensyariatkan perpolitakan di Aceh dan qanun yang bermoral buat generasi di pendidikan,” ujar Tu Sop.

Prof. Dr. H. Syahrizal, M.A.Guru Besar UIN Ar-Raniry Banda Aceh menegaskan bahwa Raqan ini merupakan arah kebijakan pembangunan Syariat Islam di Aceh dan akan menjadi panduan bagi semua lembaga pemerintah dalam menjalankan Syariat.

“Selama ini, sudah banyak qanun yang berkaitan dengan Syariat Islam, tetapi masih bersifat parsial. Raqan ini adalah arah kebijakan dan pembangunan Syariat Islam yang harus dijalankan oleh semua lembaga pemerintah Aceh,” kata Prof. Syahrizal.

Sementara itu, Prof. Dr. Nazaruddin A. Wahid, MA Guru Besar menyoroti pentingnya menghindari tumpang tindih dengan qanun-qanun yang sudah ada, serta perlunya menjaga agar implementasi Syariat Islam sesuai dengan nilai-nilai rahmatan lil alamin.

Dukungan dari berbagai pihak seperti Tim Pemerintah Aceh, Fakultas Hukum Unsyiah, MPU Aceh, Dinas Dayah Aceh, serta Satpol PP, menunjukkan komitmen bersama untuk menyempurnakan Raqan ini agar dapat menjadi landasan yang kokoh dalam implementasi Syariat Islam di Aceh, dengan mengedepankan nilai-nilai keadilan, kesetaraan, dan kesejahteraan bagi seluruh masyarakat.

Editor: Akil Rahmatillah

Kakanwil Kemenkumham Aceh Pesan kepada CPNS Baru Jaga Integritas dan Loyalitas

0
Kakanwil Kemenkumham Aceh Pesan kepada CPNS Baru Jaga Integritas dan Loyalitas. (Foto: Humas Aceh)

NUKILAN.id | Banda Aceh – Sebanyak 37 Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) Kantor Wilayah Kemenkumham Aceh mengikuti kegiatan orientasi pada Selasa (14/5/2024), di aula Bangsal Garuda.

Meurah Budiman, Kepala Kantor Wilayah Kemenkumham Aceh memberikan arahan langsung kepada CPNS yang akan ditugaskan pada Lapas dan Rutan di Aceh.

Setidaknya, ada dua poin penting yang ditekankan Meurah kepada seluruh tunas pengayoman tersebut. Secara tegas ia meminta untuk menjaga integritas dalam menjalankan tugas.

“Selamat bergabung, kalian adalah orang terpilih dari ribuan peserta yang sudah mendaftar. Maka penting saya tekankan untuk jaga integritas kalian,” tegas Meurah.

Bagi Meurah, integritas merupakan sikap penting yang harus dimiliki oleh setiap individu. Apalagi sebagai ASN Kemenkumham yang mempunyai visi agar masyarakat memperoleh kepastian hukum.

“Jadi jangan kalian gadaikan integritas kalian dengan apapun. Bawa pengaruh baik, jangan sampai kalian yang terpengaruh dengan hal buruk,” ungkapnya.

Selain itu, tak kalah penting lainnya bagi Meurah adalah soal loyalitas. Di hadapan seluruh CPNS ia meminta untuk menjaga loyalitas terhadap organisasi.

“Ya harus loyal, jangan sampai menjadi orang yang tidak loyal, bahkan menjatuhkan reputasi organisasi,” harapnya.

Sebelumnya, seluruh CPNS sudah melakukan orientasi di beberapa UPT Pemasyarakatan di wilayah Banda Aceh dan Aceh Besar. Orientasi dilakukan sebelum nantinya mereka ditugaskan ditempat masing-masing.

Editor: Akil Rahmatillah

Penduduk Miskin di Aceh Minta Program Bantuan Listrik Gratis Dilanjutkan

0
Penduduk Miskin di Aceh Minta Program Bantuan Listrik Gratis Dilanjutkan. (Foto: Dinas ESDM Aceh)

NUKILAN.id | Banda Aceh – Sejak tahun 2014 sampai 2023 lalu, atau selama 10 tahun, sudah 21.068 orang penduduk miskin di Aceh, menerima bantuan pemasangan aliran listrik gratis dari Pemerintah Aceh melalui Dinas Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Aceh.

“Kendati Pemerintah Aceh sudah memasang 21. 068 sambungan jaringan listrik gratis untuk penduduk miskin, tapi antriannya masih banyak sekitar belasan ribu lagi. Penduduk miskin di Aceh, minta program ini terus dilanjutkan,” kata Kepala Dinas Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Aceh, Ir Mahdinur yang didampingi Kabid Listriknya, Dedi kepada acehtrend.com, Selasa 14/5/2024) di Banda Aceh.

Mahdinur yang didamping Kabid listriknya Dedi mengungkapkan, penduduk miskin penerima bantuan pemasangan jaringan listrik gratis, sangat mengucapkan terima kasih kepada Pj Gubernur Aceh, Bustami SE, MSi, yang pada tahun ini, masih melanjutkan program pemasangan listrik gratis tersebut.

Para penerima bantuan Listrik gratis, kata Mahdinur, pada saat kami berkunjung ke rumahnya, untuk melihat pemasangan jaringan listrik gratis itu apakah sudah sesuai dengan standar yang diberlakukan oleh PLN, mereka nyatakan sudah, dengan wajah tersenyum manis, senang dan riang gembira.

Meski mereka hanya mendapat listrik hanya 2 amper atau 900 watt, tapi pada malam hari rumahnya sudah ada penerangan dan arus Listrik bisa digunakan untuk kesejahteraan keluarga, termasuk belajar sekolah dan mengaji di rumah.

Pada tahun anggaran 2024 ini, sebut Mahdinur, sehubungan dengan telah menurunnya penerimaan dana Otsus Aceh, dari 2 persen setara dana alokasi umum (DAU) nasional, menjadi 1 persen setara DAU nasional, anggaran yang dialokasikan untuk pemasangan bantuan listrik gratis itu, cuma untuk 621 orang penduduk miskin.

Calon penerima pemasangan listrik gratis itu, ungkap Mahdinur, datang dari pemerintah kabupaten/kota mengusulkannya kepada Gubernur Aceh.

Gubernur Aceh menyerahkan daftar penerima bantuan program pemasangan listrik gratis dari kabupaten/kota kepada Dinas ESDM Aceh. Untuk pelaksanaannya di lapangan Dinas ESDM bekerjasama dengan mitra kerja perusahaan swasta yang bergerak dalam bidang usaha pemasangan jaringan listrik (instalatur).

Untuk tahun ini, penyebaran bantuan pemasangan listrik gratis, hanya terbatas bagi 13 daerah dari 23 kabupaten/kota, yaitu Kabupaten Simeulue 167 orang, berikutnya Kota Subulussalam, Nagan Raya, Aceh Barat Aceh, Aceh Jaya, Aceh Tengah, Aceh Tamiang, Aceh Timur, Aceh Utara, Bireuen, Pidie masing-masing mendapat alokasi 29 orang, kemudian Aceh Besar 93 orang, Pidie Jaya 61 orang.

Tujuan dari program bantuan pemasangan listrik gratis bagi penduduk miskin, kata Mahdinur, untuk membantu penduduk miskin yang pendapatannya rendah, bisa mendapatkan pemasangan jaringan listrik secara gratis dari Pemerintah Aceh.

Program penyaluran bantuan listrik gratis ini, dilaksanakan di lingkungan daerah yang sudah ada jaringan listrik PLN untuk rumah tangga, sehingga pemasangan jadi cepat.

Manfaat yang dirasakan penerima bantuan listrik gratis ini, menurut Mahdinur, cukup banyak. Antara lain, biaya hidup jadi lebih efisien dan bisa meningkatkan pendapatan, kalau penghuninya kreatif dan inovatif dalam berusaha.

Contohnya, dengan kehadiran jaringan listrik disebuah rumah miskin yang penghuninya berstatus tukang kayu, ia bisa menggunakan peralatan kerja perkayuan dari mesin listrik, untuk bekerja.

Ia bisa bekerja malam hari, sehingga produktivitas jam kerjanya meningkat, pendapatan harian bisa naik. Begitu juga bagi nyak-nyak dan emak-emak pembuat kue, bisa berjualan kue menggunakan pemasak dari alat listrik. Ia bisa menggunakan arus listrik yang terdapat di rumahnya, untuk mendukung kegiatan usaha jualan kuenya.

Program bantuan pemasangan jaringan listrik garis ke rumah penduduk miskin, memberikan dampak yang sangat luas bagi rakyat miskin, mulai dari sektor usaha pendidikan, pertanian, peternakan, perikanan, perdagangan, jasa pertukangan, sosial, agama dan lainnya.

Tujuan lain, dari program bantuan pemasangan jaringan listrik gratis ke rumah penduduk itu, ungkap Mahdinur, adalah untuk meningkatkan kesejahteraan penduduk miskin, sehingga bisa ke luar dari lingkaran kemiskinan. Semakin banyak penduduk miskin yang sejahtera, maka angka kemiskinan penduduk miskin di Aceh, bisa menurun.

“Kalau 10 tahun lalu jumlah penduduk miskin di Aceh mencapai di atas 25 persen, dengan adanya berbagai program bantuan, dari pemerintah Aceh, termasuk program bantuan pemasangan listrik gratis, jumlah penduduk miskinnya sekarang sudah menurun menjadi sebesar 14 persen lagi,” tutur Mahdinur.

Kabid Listrik Dinas ESDM Aceh, Dedi menyebutkan, daya mampu pasok pembangkit listrik lokal di Aceh, menurut PLN, saat ini sudah mencapai 814,1 mega watt (MW). Sementara beban puncak listrik di Aceh hanya 586,3 MW. Ini artinya Aceh sudah surplus arus dan daya listrik sebesar 228 MW. Daya dan arus Listrik yang surplus itu, di kirim untuk pemenuhan kekurangan listrik di wilayah Sumut. Dan sebaliknya, jika pembangkit listrik lokal di Aceh mengalami gangguan, kekurangan listrik di Aceh disuplai dari pembangkit di Sumut.

Dengan kondisi yang sudah surplus arus dan daya listrik dari pembangkit lokalnya, kata Dedi, untuk penyediaan tambahan arus dan daya listrik, pada pelaksanaan kegiatan PON XXI Aceh – Sumut, September 2024 mendatang, kondisi kelistrikan di daerah ini jadi relatif aman dan diharapkan tidak ada pemadaman bergilir.

Editor: Akil Rahmatillah

Membanggakan! Guru SD di Aceh Selatan Raih Medali Perunggu Tingkat Nasional

0
Yusriati, guru honorer di Sekolah Dasar (SD) Negeri 4 Kandang Kecamatan Kluet Selatan Kabupaten Aceh Selatan. (Foto: Humas Aceh)

NUKILAN.id | Tapaktuan – Yusriati, guru honorer di Sekolah Dasar (SD) Negeri 4 Kandang Kecamatan Kluet Selatan Kabupaten Aceh Selatan berhasil meraih medali perunggu tingkat nasional pada peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2024.

Yusriati meraih medali perunggu pada cabang lomba Sain Bidang Bahasa Indonesia berdasarkan pengumuman yang diterima oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Aceh Selatan dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemdikbudristek) pada Selasa (14/5/2024).

“Selamat kepada Yusriati atas prestasi yang diraih di level nasional semoga menjadi motivasi bagi guru-guru di Aceh Selatan untuk meraih prestasi baik di tingkat provinsi maupun nasional,” kata Kadisdikbud Aceh Selatan, Akmal.

Secara terpisah, Kepala SD Negeri 4 Kandang, Safrizal menyampaikan ucapan selamat kepada salah seorang gurunya, yakni Yusriati atas perolehan medali perunggu pada lomba yang dilaksanakan oleh Kemdikbudristek pada Hardiknas 2024.

Safrizal menjelaskan, Yusriati mengikuti cabang lomba Sains Bidang Bahasa Indonesia jenjang SD melaui daring melalui website hardiknas 2024 kemdikbusristek.

“Yusriati merupakan guru honorer yang telah lama mengabdi di SD Negeri 4 Kandang, namun tidak menyurutkan langkahnya untuk mengikuti lomba,” kata Safrizal.

Kepala sekolah menambahkan, ini membuktikan semangat guru honorer tidak kalah dengan guru pegawai negeri untuk meraih prestasi.

“Atas dedikasinya selama ini, semoga suatu saat nanti Yusriati diangkat menjadi Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK),” tutup Safrizal.

Editor: Akil Rahmatillah

Bank Aceh Salurkan Zakat Perusahaan Rp.14,3 Miliar

0
Plt. Direktur Utama Bank Aceh, Fadhil Ilyas. (Foto: Dok Pribadi)

NUKILAN.id | Banda Aceh – PT. Bank Aceh Syariah telah mengadakan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) Tahunan Tahun Buku 2023 dan salah satu agendanya telah menyetujui penyaluran zakat perusahaan sebesar Rp.14,3 milyar untuk tahun 2024
Zakat perusahaan tersebut rencananya akan disalurkan melalui Baitul Mal Aceh dan Baitul Mal Kabupate/Kota se-Aceh.

Penyetoran zakat perusahaan merupakan salah satu bukti kontribusi nyata Bank Aceh bagi masyarakat Aceh. Plt. Direktur Utama Fadhil Ilyas mengatakan, Bank Aceh merupakan BUMD pertama di Aceh yang menyalurkan zakat perusahaan.

“Alhamdulillah, Bank Aceh merupakan BUMD pertama milik Rakyat Aceh yang menyalurkan zakat perusahaan,” ujar Fadhil.

Zakat berperan penting dalam mekanisme distribusi pendapatan dalam perekonomian. Hal ini dapat terwujud jika potensi zakat benar-benar dapat dieksplorasi secara efektif dan berdaya guna. Atas maksud tersebut Bank Aceh berkolaborasi dengan Baitul Mal agar zakat dapat tersalurkan tepat sasaran dan dapat dirasakan langsung manfaatnya oleh masyarakat yang membutuhkan.

Fadhil Ilyas menambahkan bahwa Bank Aceh sebagai bank syariah dalam menjalankan usahanya tidak hanya berorientasi pada profit tetapi juga aktifitas sosial yang mengandung nilai ibadah dan memiliki manfaat untuk kemaslahatan umat. Salah satunya melalui penyaluran zakat perusahaan. Fadhil juga berharap kontribusi zakat dari Bank Aceh dapat meningkatkan kesejahteraan dan pengentasan kemiskinan.

Bank Aceh juga mengajak kepada nasabah dan masyarakat untuk dapat berzakat sekaligus berinfaq melalui memiliki layanan ZIS pada Action Mobile Banking Bank Aceh. Mari bersama perkuat ekonomi daerah melalui zakat dan infak.

Editor: Akil Rahmatillah

Sukseskan PON XXI Aceh – Sumut 2024, BPOM Aceh dan BNNP Kolaborasi Cegah Peredaran Narkotika

0
BPOM Aceh dan BNNP Kolaborasi Cegah Narkotika Demi Sukseskan PON XXI Aceh - Sumut 2024. (Foto: Humas Aceh)

NUKILAN.id | Banda Aceh – Kunjungan kerja yang dipimpin oleh Kepala BNNP Aceh, Brigjen Pol. Marzuki Ali Basyah beserta Tim ini bertujuan untuk memperkuat kolaborasi dalam rangka pencegahan penyalahgunaan Narkotika terutama ganja pada makanan di Aceh.

Selain itu, Koordinasi lintas instansi ini merupakan bentuk dukungan BPOM Aceh dan BNNP dalam meysukseskan PON XII Aceh – Sumut yang akan diselenggarakan pada September 2024 mendatang.

Dalam diskusinya, Marzuki menyampaikan bahwa Aceh merupakan salah satu provinsi dengan beragam kuliner khas yang menggugah selera, yang kaya dengan rempah-rempah khusus yang digunakan, membuat cita rasa kuliner aceh menjadi lebih nikmat.

“Tentunya dengan solidnya kerjasama BNNP dan BPOM Aceh nantinya, dapat melindungi pelaku usaha kuliner dan menghilangkan stigma agar aceh bukan lagi terkenal karena ganjanya, tapi syariahnya,” ucap Marzuki.

Dari segi kesiapan laboratorium, BPOM Aceh sangat siap mendukung pengujian terutama dalam bahan makanan menggunakan Gas Chromatography-Mass Spectrometry (GC-MS).

“Karena selama ini kami telah mengujinya secara mandiri, namun saat ini metodenya sedang dalam percepatan validitas terutama dalam persediaan bahan baku pembanding untuk kemudahan pengujian,” tambah Yudi.

Pihaknya yakin sinergitas ini dapat segera mewujudkan aceh bersinar, artinya bersih dari penyalahgunaan narkotika terutama pada makanan,” tutupnya.

Editor: Akil Rahmatillah