Beranda blog Halaman 114

Dinilai Cerminkan Ekonomi Pancasila, Pengamat Apresiasi Polda Aceh Salurkan Bibit Cabai untuk Warga Terdampak Banjir

0
Pengamat Ekonomi Kerakyatan di Aceh Strategy Advisory (ASA), Uqra Fhalinfarabi M.E. (Foto: Dok. Pribadi)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH — Langkah Polda Aceh menyalurkan bantuan berupa bibit tanaman dan perlengkapan penanaman kepada masyarakat terdampak banjir di Kota Langsa, Rabu (14/1/2026), mendapat apresiasi dari berbagai pihak. Bantuan tersebut diberikan sebagai bagian dari upaya pemulihan ekonomi dan penguatan ketahanan pangan pascabencana.

Kapolda Aceh Irjen Pol Marzuki Ali Basyah menyampaikan bahwa bibit yang diberikan, di antaranya bibit cabai, diharapkan dapat dimanfaatkan oleh warga sebagai kebun keluarga untuk menunjang kebutuhan sehari-hari.

Apresiasi salah satunya datang dari Uqra Fhalin Fharabi M.E, Pengamat Ekonomi Kerakyatan di Aceh Strategy Advisory (ASA). Dalam wawancaranya kepada Nukilan.id, Kamis (15/1/2026), Uqra menilai inisiatif tersebut sebagai langkah positif yang mencerminkan keberpihakan negara kepada masyarakat kecil.

“Kami mengapresiasi langkah Polda Aceh yang menyalurkan bibit cabai kepada warga terdampak banjir di Langsa. Meski ini bukan tugas utama kepolisian, inisiatif ini mencerminkan kehadiran negara yang berpihak pada rakyat kecil dalam situasi krisis,” ujarnya.

Menurut Uqra, bantuan tersebut memiliki nilai strategis karena bersifat produktif dan mendorong kemandirian ekonomi keluarga, bukan sekadar bantuan konsumtif jangka pendek. Hal ini dinilainya sejalan dengan prinsip ekonomi kerakyatan.

“Masyarakat tidak hanya dibantu untuk bertahan, tetapi juga diberi peluang untuk kembali berproduksi. Ini sejalan dengan prinsip ekonomi kerakyatan yang menempatkan rakyat sebagai pelaku utama pembangunan,” tuturnya.

Lebih lanjut, ia menilai program tersebut mampu memperkuat ketahanan pangan rumah tangga sekaligus membantu menekan beban pengeluaran warga setelah bencana. Ia pun mendorong agar program serupa dapat diperluas dan didukung lintas sektor.

“Program sederhana seperti ini, jika diperluas dan didukung lintas sektor, dapat mempercepat pemulihan ekonomi masyarakat dan memperkuat struktur ekonomi rakyat di tingkat paling bawah,” ungkapnya.

Uqra berharap model bantuan produktif ini dapat menjadi contoh bagi instansi lain dalam merancang program pemulihan ekonomi yang lebih adil, berkelanjutan, dan benar-benar menyentuh kebutuhan masyarakat terdampak bencana.

“Inilah praktik nyata ekonomi Pancasila, gotong royong, keadilan sosial, dan kemandirian rakyat,” tutupnya. (XRQ)

Reporter: AKIL

Lebih dari 18 Ribu Kelompok Rentan Terdampak Banjir di Aceh Utara

0
Tim DP3A Aceh saat melakukan trauma healing kepada anak-anak terdampak bencana di Aceh, Kamis (25/12/2025). (Foto: DP3A Aceh)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH — Bencana banjir bandang yang melanda Kabupaten Aceh Utara berdampak besar terhadap kelompok rentan. Hingga 13 Januari 2026, tercatat sebanyak 18.366 orang dari kelompok rentan terdampak, terdiri atas ibu hamil, balita, lanjut usia (lansia), serta penyandang disabilitas.

Juru Bicara Posko Tanggap Darurat Bencana Aceh, Murthalamuddin, mengatakan kelompok rentan menjadi prioritas utama dalam penanganan bencana.

“Kelompok rentan menjadi prioritas utama dalam setiap upaya penanganan, mulai dari evakuasi, penyediaan logistik, hingga layanan kesehatan di lokasi pengungsian,” ujarnya di Banda Aceh, Kamis (15/1/2026).

Dihimpun Nukilan.id berdasarkan data Pusat Informasi Posko Bencana Banjir Kabupaten Aceh Utara, kelompok rentan tersebut meliputi 1.433 ibu hamil, 9.525 balita, 6.895 lansia, serta 513 penyandang disabilitas.

Secara keseluruhan, bencana banjir di Aceh Utara berdampak pada 124.549 kepala keluarga atau 433.064 jiwa. Dari jumlah tersebut, sebanyak 16.201 kepala keluarga atau 54.795 jiwa terpaksa mengungsi di 160 titik pengungsian.

Selain menimbulkan pengungsian massal, banjir juga mengakibatkan korban jiwa. Tercatat sebanyak 245 orang meninggal dunia, sembilan orang dilaporkan hilang, dan 2.127 orang mengalami luka-luka.

Kerusakan infrastruktur dan permukiman warga pun tergolong parah. Sebanyak 72.364 rumah terendam banjir, 3.506 rumah dilaporkan hilang, 6.236 rumah mengalami kerusakan berat, 16.325 rumah rusak sedang, dan 20.280 rumah rusak ringan.

Murthalamuddin menegaskan, Posko Bencana Aceh bersama Posko Kabupaten Aceh Utara terus melakukan pendataan, evakuasi, serta distribusi bantuan dengan melibatkan berbagai instansi terkait.

“Upaya ini bertujuan agar penanganan darurat berjalan efektif dan warga terdampak, terutama kelompok rentan, mendapatkan perlindungan dan layanan yang memadai,” katanya. (XRQ)

Reporter: Akil

Polda Aceh Salurkan Bibit Cabai untuk Warga Terdampak Banjir di Langsa

0
Kapolda Aceh Irjen Pol Marzuki Ali Basyah (tengah) menyerahkan bantuan bibit tanaman dam perlengkapan penanaman kepada Polres Langsa untuk disalurkan kepada masyarakat terdampak bencana di Langsa, Aceh, Rabu (14/1/2026). (Foto: Bidhumas Polda Aceh)

NUKILAN.ID | LANGSA — Polda Aceh menyalurkan bantuan berupa bibit tanaman dan perlengkapan penanaman kepada masyarakat terdampak banjir di Kota Langsa, Rabu (14/1/2026). Bantuan tersebut diberikan sebagai bagian dari upaya pemulihan ekonomi dan ketahanan pangan pascabencana.

Kapolda Aceh Irjen Pol Marzuki Ali Basyah menyampaikan bahwa bibit yang diberikan, di antaranya bibit cabai, diharapkan dapat dimanfaatkan sebagai kebun keluarga.

“Bibit tanaman ini dijadikan kebun keluarga dan diharapkan dapat membantu meringankan beban ekonomi masyarakat. Serta menjadi langkah awal dalam mendukung pemulihan kehidupan warga dan peningkatan ketahanan pangan keluarga pascabanjir,” katanya.

Bantuan tersebut secara simbolis diserahkan Kapolda kepada Kapolres Langsa AKBP Mughi Preasetyo Habrianto di Mapolres Langsa untuk selanjutnya disalurkan kepada warga terdampak banjir.

Dalam pelaksanaannya, Polda Aceh menerapkan metode penanaman dengan memanfaatkan tanah lumpur sisa banjir yang dimasukkan ke dalam karung. Karung tersebut kemudian difungsikan sebagai polibag untuk menanam berbagai jenis tanaman, termasuk cabai. Setelah ditanami, polibag dibagikan kepada masyarakat dan ditempatkan di pekarangan rumah warga.

“Kami berharap bantuan bibit tanaman ini menghasilkan panen untuk kebutuhan sehari-hari masyarakat terdampak bencana banjir. Bantuan ini memanfaatkan tanah lumpur dari banjir,” ujar Marzuki Ali Basyah.

Kapolda menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan bentuk kepedulian Polri terhadap masyarakat yang terdampak musibah sekaligus dorongan agar warga dapat segera bangkit dan pulih pascabencana.

Melalui kegiatan tersebut, Polda Aceh berharap masyarakat di Kota Langsa dapat kembali menjalani aktivitas sehari-hari dengan semangat kebersamaan dan gotong royong.

“Polri tidak hanya hadir dalam menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat, tetapi juga berkomitmen memberikan dukungan kemanusiaan, terutama bagi masyarakat yang tertimpa musibah,” kata Marzuki Ali Basyah.

Dugaan Kekerasan di Sekolah, Gusmawi Mustafa: Anak Bisa Berada di Posisi Korban dan Pelaku

0
Koordinator Wilayah Barat Yayasan P2TP2A Rumoh Putroe Aceh, Gusmawi Mustafa. (Foto: Dok. Pribadi)

NUKILAN.ID | TAPAKTUAN — Kasus dugaan pengeroyokan terhadap Agus Saputra, seorang guru SMK di Jambi, menuai perhatian publik. Insiden yang terjadi pada Selasa (13/1/2026) itu bermula dari perselisihan di ruang kelas setelah seorang siswa melontarkan kata-kata tidak pantas saat ditegur.

Agus diduga bereaksi dengan menampar siswa tersebut, sebelum konflik berkembang dan melibatkan sejumlah siswa lain, meski pihak sekolah sempat melakukan mediasi.

Dalam perkembangannya, muncul dua versi berbeda mengenai pemicu kejadian. Pihak siswa mengklaim adanya ucapan bernada penghinaan terkait kondisi ekonomi, sementara Agus membantah tudingan tersebut.

“Saya tidak bermaksud mengejek. Kalimat itu adalah motivasi agar kita tidak bertingkah macam-macam di tengah keterbatasan,” tutur Agus.

Koordinator Wilayah Barat Yayasan P2TP2A Rumoh Putroe Aceh, Gusmawi Mustafa, menilai kasus ini tidak bisa dipahami secara sepihak. Ia menekankan pentingnya melihat peristiwa secara utuh dan berimbang, terutama karena melibatkan anak.

“Dalam banyak peristiwa kekerasan di sekolah, anak kerap berada dalam posisi ganda, sebagai korban sekaligus pelaku. Jika benar terdapat dugaan pemukulan dan ucapan yang melukai perasaan siswa lebih dahulu, maka itu merupakan bagian penting dari rangkaian peristiwa yang tidak boleh diabaikan,” ujar Gusmawi kepada NUKILAN.ID, Kamis (15/1/2026).

Menurutnya, sekolah seharusnya menjadi ruang aman bagi semua pihak. Ketika kekerasan justru diduga berawal dari figur otoritas, hal itu mencerminkan persoalan serius dalam relasi pendidikan.

Gusmawi menegaskan, guru memiliki tanggung jawab etika dan moral yang lebih tinggi karena posisinya sebagai pendidik dan teladan. Ia menyebut, tindakan kekerasan fisik maupun verbal dari guru tidak dapat dibenarkan dalam situasi apa pun.

“Sekalipun siswa mengeluarkan kata-kata yang tidak pantas, respon pendidik harus tetap berada dalam koridor pendidikan. Kekerasan fisik maupun verbal dari guru tidak dapat dibenarkan dalam kondisi apa pun,” katanya.

Ia juga menyoroti dampak psikologis yang dapat timbul jika siswa mengalami kekerasan, yang berpotensi memicu reaksi emosional lanjutan. Menurutnya, kesalahan anak merupakan sinyal adanya masalah dalam sistem pendidikan yang perlu dibenahi.

“Anak boleh salah. Namun kesalahan anak sejatinya adalah alarm bagi dunia pendidikan. Itu tanda bahwa pembinaan karakter, ruang dialog, dan mekanisme perlindungan belum berjalan sebagaimana mestinya,” ujarnya.

Gusmawi menekankan pentingnya pendekatan pembinaan, pendampingan psikososial, serta keadilan restoratif dalam menangani konflik yang melibatkan anak.

“Perlindungan anak tidak gugur hanya karena anak berbuat salah. Anak tetap berhak atas perlakuan manusiawi, bebas dari kekerasan, dan mendapatkan pendampingan yang layak,” tegasnya.

Di sisi lain, ia menilai perlindungan terhadap guru tetap penting, namun tidak boleh dijadikan pembenaran atas pelanggaran etika profesi. Menurutnya, kasus ini harus menjadi momentum evaluasi menyeluruh terhadap sistem pendidikan.

“Jika kekerasan dari figur otoritas tidak dihentikan sejak awal, maka rantai kekerasan akan terus berulang. Dunia pendidikan membutuhkan sistem pencegahan, bukan hanya penindakan,” katanya.

Menutup pernyataannya, Gusmawi menegaskan kembali tujuan utama pendidikan.

“Kekerasan siswa terhadap guru adalah kesalahan serius. Namun kekerasan guru terhadap siswa adalah pengkhianatan terhadap nilai dasar pendidikan. Anak boleh salah, tetapi anak tidak boleh dilukai,” pungkasnya. (xrq)

Reporter: Akil

Cegah Rentenir, RESYA Dorong Bank Gandeng Keuchik Sosialisasikan KUR Tanpa Bunga

0
Ilustrasi. (Foto: AI)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Pemerintah memberikan kebijakan relaksasi Kredit Usaha Rakyat (KUR) bagi pelaku usaha yang terdampak banjir dan longsor di Provinsi Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Kebijakan tersebut disampaikan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto pada Jumat (9/1/2026) melalui skema moratorium kolektibilitas agar para debitur memperoleh ruang pemulihan usaha pascabencana.

Kata Airlangga, pemerintah juga menurunkan beban bunga secara bertahap. Pada tahun 2026, bunga KUR ditetapkan menjadi nol persen sehingga debitur tak dibebani bunga sama sekali

Menanggapi kebijakan itu, Rakyat Ekonomi Syariah Aceh (RESYA) meminta perbankan sebagai penyalur KUR agar tidak bersikap pasif. Juru Bicara RESYA, Mukhlisin, dalam wawancaranya bersama nukilan.id, Selasa (13/1/2026), menilai bahwa bank harus proaktif menggandeng APDESI Aceh serta para keuchik supaya informasi relaksasi KUR benar-benar sampai kepada masyarakat terdampak.

“Di lapangan, banyak korban bencana belum mengetahui adanya kebijakan ini karena mereka sedang sibuk membersihkan rumah, lumpur, dan puing-puing kayu pascabanjir,” katanya.

Menurut Mukhlisin, dalam kondisi seperti ini sangat tidak realistis jika negara hanya menunggu masyarakat datang ke kantor bank. Ia menegaskan perlunya melibatkan aparatur gampong dalam menyosialisasikan kebijakan tersebut.

“Justru di situ peran keuchik dan aparatur gampong menjadi sangat strategis. Mereka paling dekat dengan warga, tahu siapa yang terdampak dan siapa yang membutuhkan bantuan permodalan segera,” ungkapnya.

Mukhlisin juga mengingatkan adanya ancaman serius jika ruang ini dibiarkan kosong, yakni masuknya rentenir yang bergerak agresif mencari korban di lapangan, berbeda dengan skema KUR yang menunggu pelaku usaha datang mengajukan pinjaman.

“Kalau para pelaku usaha ini lebih dulu terjerat pinjaman rentenir, mereka akan tercekik perlahan. Bunga mencekik, skema tidak transparan, dan pada akhirnya bukan pemulihan usaha yang terjadi, melainkan kemiskinan struktural baru,” jelasnya.

Dalam perspektif ekonomi syariah, Mukhlisin menilai praktik rentenir merupakan bentuk eksploitasi yang harus dicegah sejak awal. Karena itu, menurutnya, negara dan sistem perbankan memiliki tanggung jawab moral dan sosial untuk menutup ruang tersebut.

“Maka kolaborasi bank–APDESI–keuchik bukan sekadar teknis administrasi, melainkan benteng sosial agar masyarakat kecil tidak jatuh ke dalam jerat riba dan ketidakadilan,” pungkasnya.

Ia meyakini, jika sosialisasi dilakukan secara cepat dan terstruktur hingga tingkat gampong, maka kebijakan relaksasi KUR dapat benar-benar berfungsi sebagai instrumen penyelamat ekonomi rakyat pascabencana. (XRQ)

Reporter: AKIL

Pramuka MAN 2 Banda Aceh Perkuat Kolaborasi dengan DPKP, Rintis Pembentukan Saka Yudha Brama Jaya

0
Pramuka MAN 2 Banda Aceh menjalin kerja sama strategis dengan Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (DPKP) Kota Banda Aceh dalam penguatan pendidikan kepramukaan berbasis mitigasi bencana. (Foto: For Nukilan)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH — Pramuka MAN 2 Banda Aceh menjalin kerja sama strategis dengan Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (DPKP) Kota Banda Aceh dalam penguatan pendidikan kepramukaan berbasis mitigasi bencana. Sinergi tersebut terbangun melalui audiensi yang digelar di Kantor DPKP Kota Banda Aceh, Rabu (14/1/2026).

Audiensi dihadiri oleh Pembina sekaligus Ketua Gugus Depan Putra MAN 2 Banda Aceh, Kak Khaidir Marzuki, dan disambut langsung oleh Kepala DPKP Kota Banda Aceh M. Hidayat, S.Sos, bersama Sekretaris Dinas Sabri, S.Sos, Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan Zulfikri, S.E., M.Si, serta Kepala Seksi Abdul Mannan, S.Sos.

Pertemuan berlangsung dalam suasana hangat dan penuh keakraban. Selain mempererat silaturahmi, audiensi membahas rencana pembentukan Satuan Karya (Saka) Rintisan Yudha Brama Jaya di bawah naungan DPKP sebagai wadah pembinaan bagi Pramuka Penegak dan Pandega di Banda Aceh, khususnya dalam bidang pencegahan dan penanggulangan kebakaran.

Saka rintisan ini diharapkan mampu meningkatkan pengetahuan, keterampilan, serta kesiapsiagaan anggota Pramuka dalam menghadapi risiko kebakaran, sekaligus mencetak generasi muda yang tangguh, disiplin, dan responsif terhadap bencana.

Kepala DPKP Kota Banda Aceh, M. Hidayat, menyampaikan apresiasi atas inisiatif tersebut dan menegaskan kesiapan pihaknya untuk mendukung proses pembentukan Saka tersebut.

“Kami menyambut baik audiensi dan silaturrahmi ini. Pembentukan Saka Rintisan Saka Yudha Brama Jaya merupakan langkah yang sangat positif dan relevan dengan kebutuhan saat ini, khususnya dalam upaya pencegahan dan penanggulangan kebakaran. Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kota Banda Aceh siap mendukung pembinaan serta proses pembentukannya,” ujarnya.

Hal senada disampaikan Sekretaris Dinas DPKP Kota Banda Aceh, Sabri. Ia menyatakan komitmen penuh institusinya untuk bersinergi dalam penyusunan program kegiatan, materi pelatihan, serta pendampingan teknis agar Saka Yudha Brama Jaya dapat berjalan terarah dan berkelanjutan.

Sementara itu, Kak Khaidir Marzuki menilai audiensi ini sebagai langkah awal yang sangat penting dalam membangun kolaborasi antara dunia pendidikan, Gerakan Pramuka, dan instansi pemerintah dalam bidang kebencanaan.

“Audiensi ini menjadi momentum strategis bagi kami untuk memperkuat peran Pramuka sebagai wadah pendidikan karakter dan keterampilan hidup. Melalui rintisan Saka Yudha Brama Jaya, kami berharap Pramuka Penegak dan Pandega tidak hanya memahami teori, tetapi juga memiliki keterampilan praktis dan kesiapsiagaan nyata dalam menghadapi bencana, khususnya kebakaran,” ungkapnya.

Ia menambahkan bahwa dukungan penuh dari DPKP Kota Banda Aceh menjadi motivasi besar bagi Pramuka MAN 2 Banda Aceh untuk terus berkontribusi aktif dalam pembinaan generasi muda yang peduli, sigap, dan siap mengabdi kepada masyarakat.

Audiensi ini diharapkan menjadi fondasi kerja sama berkelanjutan antara Pramuka MAN 2 Banda Aceh dan DPKP Kota Banda Aceh dalam mewujudkan Pramuka yang berkarakter, berkompeten, serta siap menjadi garda terdepan dalam kesiapsiagaan dan penanggulangan bencana di Kota Banda Aceh.

Unmuha Kucurkan Beasiswa Rp4,67 Miliar untuk 178 Mahasiswa Baru

0
Ilustrasi kampus Universitas Muhammadiyah Aceh, Banda Aceh (Foto: Unmuha)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH — Universitas Muhammadiyah Aceh (Unmuha) kembali menegaskan komitmennya terhadap pemerataan akses pendidikan tinggi dengan menyalurkan beasiswa senilai total Rp4.672.000.000 kepada 178 mahasiswa baru pada Tahun Akademik 2025/2026.

Beasiswa tersebut diberikan dalam bentuk pembebasan biaya pendidikan penuh, mencakup Sumbangan Pembinaan Pendidikan (SPP) dan Dana Pengembangan Pendidikan (DPP). Bantuan ini diberikan secara berkelanjutan sesuai masa studi normal mahasiswa, yakni empat tahun untuk program sarjana dan tiga tahun untuk program diploma.

Rektor Universitas Muhammadiyah Aceh, Dr. Aslam Nur, M.A., menyampaikan bahwa program Beasiswa Unmuha merupakan bagian dari visi besar kampus dalam menghadirkan pendidikan yang inklusif dan berkeadilan.

“Unmuha berkomitmen penuh untuk meruntuhkan hambatan-hambatan yang menghalangi putra-putri terbaik bangsa dalam meraih cita-citanya. Dengan semangat inklusivitas ini, kita ingin memastikan bahwa keberagaman latar belakang ekonomi maupun sosial tidak menjadi penghalang bagi siapa pun untuk tumbuh, berkembang, dan berkontribusi di kampus tercinta ini,” ujar Rektor Unmuha dalam keterangannya yang diterima RRI Selasa (13/1/2026).

Ia menegaskan, beasiswa ini tidak hanya dimaknai sebagai bantuan finansial, melainkan sebagai investasi jangka panjang dalam pembangunan sumber daya manusia Aceh.

“Ini bukan sekadar angka, melainkan wujud nyata komitmen Unmuha agar pendidikan tinggi dapat menyentuh seluruh lapisan masyarakat. Kami ingin mencetak lulusan yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga berdampak bagi kemajuan daerah,” kata Aslam.

Menurutnya, sasaran utama program beasiswa tahun ini adalah mahasiswa yang memiliki potensi akademik namun terkendala secara ekonomi, sehingga hambatan finansial tidak lagi menjadi alasan untuk menghentikan pendidikan mereka di bangku perguruan tinggi.

Sebagai perguruan tinggi di bawah naungan Persyarikatan Muhammadiyah, Universitas Muhammadiyah Aceh yang berlokasi di Banda Aceh terus menjalankan tridarma perguruan tinggi—pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat—berlandaskan nilai Al-Islam dan Kemuhammadiyahan.

Disdikbud Banda Aceh Perkuat Pembelajaran Bahasa Inggris Lewat Kerja Sama dengan Relawan Australia

0
Kepala Disdikbud Kota Banda Aceh, Sulaiman Bakri bersama tim dari Australia saat dimulainya kembali program Fatih Volunteering Teaching Program (FVTP), Senin (12/1/2026). (Foto: For Nukilan)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH — Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Banda Aceh kembali memperkuat kualitas pendidikan dengan menjalin kolaborasi internasional bersama Australia melalui Fatih Volunteering Teaching Program (FVTP) yang berlangsung sejak 12 Januari hingga 5 Februari 2026.

Program ini menghadirkan tutor relawan dari Australia untuk mendampingi pembelajaran bahasa Inggris di sejumlah sekolah dasar (SD) dan sekolah menengah pertama (SMP) terpilih, baik negeri maupun swasta. Kegiatan dilaksanakan setiap Senin hingga Jumat pukul 08.00–12.00 WIB, dengan durasi satu minggu di setiap sekolah peserta.

Kepala Disdikbud Kota Banda Aceh, Sulaiman Bakri SPd MPd, menyampaikan apresiasi dan dukungan penuh terhadap keberlanjutan program tersebut. Ia menilai FVTP sejalan dengan upaya pemerintah daerah dalam meningkatkan mutu pendidikan, khususnya dalam penguasaan bahasa Inggris.

“Program FVTP ini sangat positif dan strategis. Selain meningkatkan kemampuan berbahasa Inggris, program ini melatih kepercayaan diri, keberanian berkomunikasi, dan membuka wawasan peserta global yang dilatih melalui interaksi langsung dengan tutor internasional,” ujar Sulaiman.

Pada pelaksanaannya, setiap sekolah diperkenankan memilih maksimal 20 peserta didik untuk mengikuti program intensif ini. Para siswa akan didampingi oleh dua tutor asal Australia, sementara pihak sekolah diminta menyiapkan ruang belajar yang mendukung kelancaran kegiatan.

Selain berdampak pada peningkatan kompetensi bahasa siswa, FVTP juga menjadi sarana memperkenalkan Banda Aceh di tingkat internasional. Pemerintah berharap sekolah dapat memanfaatkan program ini secara maksimal demi mendorong kualitas pendidikan yang lebih baik.

“Kami berharap kegiatan ini memberikan dampak nyata bagi peningkatan kualitas pendidikan di Kota Banda Aceh dan menginspirasi peserta didik untuk terus belajar,” tambah Sulaiman Bakri.

Wali Nanggroe Desak Evaluasi Perluasan Sawit Usai Banjir dan Longsor Aceh

0
wali nanggroe aceh
Wali Nanggroe Aceh, Teungku Malik Mahmud Al-Haythar, dalam tayangan Selamat Pagi Indonesia Metro TV, Senin (8/9/2025). (Foto: Tangkapan Layar)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Wali Nanggroe Aceh, Paduka Yang Mulia (PYM) Malik Mahmud Al-Haytar, meminta agar perluasan perkebunan kelapa sawit di Aceh ditinjau ulang. Permintaan itu disampaikan menyusul bencana banjir dan longsor yang melanda sejumlah wilayah di provinsi tersebut pada akhir November 2025.

Menurutnya, terdapat faktor mendasar yang memicu terjadinya bencana alam tersebut, yakni deforestasi hutan dalam skala besar untuk kepentingan pembukaan lahan perkebunan sawit.

“Dan kita lihat kenapa bencana ini terjadi. Bencana ini kerana hutan kita sudah banyak dibabat. Dan saya selalu bilang jangan babat hutan kita, dan jangan banyak tanam sawit”, tegas PYM Malik Mahmud kepada awak media saat berkunjung ke Kabupaten Aceh Tamiang belum lama ini.

Pernyataan itu disampaikan usai peninjauan dampak banjir di Kabupaten Aceh Tamiang. Dalam kesempatan tersebut, Wali Nanggroe turut didampingi Wakil Gubernur Aceh, Fadhlullah, serta Bupati Aceh Tamiang, Armia Fahmi.

Wali Nanggroe menegaskan bahwa pembangunan daerah tetap penting, termasuk dengan membuka peluang bagi investor untuk masuk ke Aceh. Namun, ia mengingatkan bahwa investasi tidak boleh mengorbankan kelestarian lingkungan dan kekayaan alam daerah.

“Investor tidak boleh menghancurkan kekayaan alam Aceh. Ini semua harus kita tinjau kembali”, tambah Wali Nanggroe yang turut didampingi Wakil Gubernur Aceh, Fadhlullah, juga Bupati Aceh Tamiang, Armia Fahmi.

Ia menekankan bahwa industri harus dibangun dengan prinsip keberlanjutan, tanpa merusak hutan yang selama ini menjadi benteng alami dari bencana. Menurutnya, keseimbangan antara pembangunan ekonomi dan pelestarian lingkungan menjadi kunci agar tragedi serupa tidak terulang di masa mendatang.

Lebih lanjut, Wali Nanggroe menyampaikan bahwa dirinya akan memanfaatkan jaringan internasional yang dimilikinya untuk mendukung upaya Pemerintah Aceh dalam menangani persoalan bencana. Ia menyatakan siap menyokong Gubernur Aceh, Muzakir Manaf, dalam mencari solusi atas persoalan tersebut.

Dalam amarannya, Wali Nanggroe juga mengajak seluruh elemen masyarakat di Aceh untuk bergotong royong membangun daerah dengan tetap menjunjung tinggi kearifan lokal yang menjadi identitas Aceh sebagai bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Wali Nanggroe Dorong Sinergi Penguatan Adat dan Syariat Islam Jawab Problematika Sosial Aceh

0
Wali Nanggroe Dorong Sinergi Penguatan Adat dan Syariat Islam Jawab Problematika Sosial Aceh. (Foto: Humas LWN)

NUKILAN.ID | Banda Aceh — Lembaga Wali Nanggroe Aceh menegaskan komitmennya untuk memperkuat nilai-nilai adat dan syariat Islam secara lintas sektor dalam menghadapi berbagai tantangan sosial yang kian kompleks di Aceh.

Penegasan tersebut mencuat dalam Rapat Koordinasi Pelaksanaan Nilai-Nilai Adat dan Nilai Syariat Islam di Aceh yang berlangsung di Ruang Rapat Sekretariat Wali Nanggroe Aceh, Selasa (13/1/2026). Pertemuan itu dihadiri unsur Majelis Wali Nanggroe, para kepala Satuan Kerja Perangkat Aceh (SKPA), akademisi, pimpinan dayah, serta perwakilan lembaga keagamaan dan adat.

Seusai rapat, sejumlah kepala dinas yang hadir menyampaikan pandangan mereka kepada Dialeksis. Kepala Dinas Syariat Islam (DSI) Aceh, Zahrol Fajri, menilai pelaksanaan syariat Islam di Aceh saat ini menghadapi tantangan serius.

Ia menyebut persoalan tersebut mencakup rapuhnya akidah, tekanan kemiskinan, pengaruh gaya hidup, melemahnya peran keluarga, hingga dampak teknologi dan media sosial, termasuk maraknya praktik pinjaman online. Selain itu, ia juga menyoroti tingginya angka perceraian, judi online, serta kasus HIV/AIDS di Aceh.

“DSI telah menjalankan berbagai langkah seperti penertiban usaha saat waktu shalat, pembatasan aktivitas malam bagi perempuan tanpa mahram, serta mendorong revisi Qanun Hukum Keluarga. Namun penguatan syariat tidak bisa hanya dibebankan pada satu institusi,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Gampong (DPMG) Aceh, Iskandar, menekankan pentingnya memperkuat peran mukim sebagaimana diamanatkan dalam Undang-Undang Pemerintahan Aceh (UUPA) dan Qanun Nomor 9 Tahun 2009. Menurutnya, mukim perlu didorong menjadi bagian integral dari struktur pemerintahan yang didukung perangkat dan anggaran melalui APBA.

Dari perspektif adat dan lingkungan, Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Aceh, A. Hanan, menyoroti urgensi penguatan hutan adat serta peran mukim dan pawang hutan dalam pengelolaan kawasan adat. Ia juga mendorong pembentukan badan pengelola hutan Aceh serta pengusulan kembali wilayah hutan adat.

Masukan strategis juga datang dari kalangan akademisi. Prof. Syamsul Rizal menilai isu adat, syariat, dan lingkungan harus ditempatkan sebagai agenda strategis Lembaga Wali Nanggroe. Sejalan dengan itu, Prof. Syahrizal Abbas menekankan pentingnya inventarisasi persoalan, penataan regulasi, serta penguatan kerja sama lintas sektor pada 2026.

Majelis Tuha Lapan Wali Nanggroe melalui Idris Thaib menegaskan bahwa nilai-nilai syariat seperti tauhid, akhlak, adab, dan gotong royong harus terintegrasi dalam seluruh kebijakan SKPA. Sementara itu, MPU Aceh meminta dukungan penuh pemerintah daerah dalam upaya pencegahan aliran sesat serta implementasi fatwa terkait judi dan game online.

Rapat tersebut menyimpulkan bahwa pelaksanaan nilai adat dan syariat Islam di Aceh membutuhkan penguatan regulasi, dukungan anggaran, serta koordinasi antarlembaga yang lebih solid. Lembaga Wali Nanggroe dipandang memiliki peran strategis sebagai pengawal, pengawas, sekaligus fasilitator dalam memastikan nilai-nilai adat dan syariat terimplementasi secara menyeluruh.

Sebagai tindak lanjut, disepakati pembentukan forum komunikasi lintas lembaga yang akan membahas secara teknis berbagai isu strategis terkait adat, syariat, dan lingkungan di Aceh.