Beranda blog Halaman 113

Calon Rektor USK Diminta Maksimalkan Career Center Jika Terpilih

0
Calon rektor Universitas Syiah Kuala periode 2026-2031. (Foto: Nukilan)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Majelis Wali Amanat (MWA) Universitas Syiah Kuala (USK) resmi menetapkan tiga besar calon rektor dalam rapat yang digelar pada Senin (12/1/2026). Ketiganya adalah Prof. Dr. Ir. Agussabti, M.Si., IPU, Prof. Dr. Ir. Marwan, dan Prof. Dr. Mirza Tabrani.

Penetapan ini menjadi tonggak penting dalam rangkaian pemilihan rektor USK periode mendatang, sekaligus menjadi dasar bagi panitia untuk melanjutkan proses seleksi hingga tahap akhir penentuan rektor terpilih.

Ketua Panitia Pemilihan Rektor (PPR) USK, Prof. Dr. Rusli Yusuf, M.Pd., membenarkan bahwa seluruh proses penjaringan telah berjalan sesuai dengan tata kerja yang ditetapkan oleh MWA. Ia juga menyampaikan bahwa tahapan pemilihan rektor selanjutnya dijadwalkan berlangsung pada Februari 2026.

Di tengah bergulirnya proses demokrasi kampus tersebut, perhatian publik—termasuk alumni—mulai tertuju pada arah kepemimpinan USK ke depan, terutama terkait kontribusi nyata perguruan tinggi terhadap pengembangan sumber daya manusia Aceh.

Menanggapi hal itu, Nukilan.id menghubungi Ketua Ikatan Alumni Ilmu Pemerintahan Universitas Syiah Kuala, T. Auliya Rahman. Ia menilai, rektor terpilih nantinya perlu membangun hubungan yang lebih terintegrasi antara kampus dan alumni, bukan sekadar hubungan simbolik, melainkan kerja sama yang berdampak langsung bagi lulusan dan masyarakat.

Auliya menekankan bahwa salah satu pintu masuk strategis integrasi tersebut adalah dengan memaksimalkan peran pusat karier kampus, yang menurut pengamatannya masih belum berjalan optimal. Ia menyoroti masih inkonsistennya informasi lowongan kerja yang tersedia bagi alumni dan mahasiswa.

“Agar integrasi ini terjalin, kampus bisa membantu mencarikan peluang kerja dengan memaksimalkan career center. Di USK sudah ada UPT CDC, Career Development Center yang seharusnya bisa proaktif mencarikan peluang kerja,” ujarnya pada Kamis (15/1/2026).

Menurutnya, upaya tersebut perlu diperkuat dengan agenda yang lebih sistematis dan berkelanjutan, salah satunya melalui kegiatan yang mempertemukan langsung dunia pendidikan dan dunia kerja.

“Kemudian menyelenggarakan job fair, ini sudah mulai ada,” tambahnya.

Lebih jauh, sebagai bagian dari komunitas alumni, Auliya berharap para calon rektor tidak hanya berbicara visi besar, tetapi juga menyampaikan komitmen konkret sebelum mereka terpilih, khususnya terkait peran USK dalam pembangunan Aceh.

“Mereka harus komitmen agar USK kembali menunjukkan kontribusi realnya dalam pembangunan SDM Aceh, terlebih dalam pembangunan akademik dan keilmuan,” tegasnya.

Ia menilai, sudah saatnya perguruan tinggi terbesar di Aceh itu keluar dari orientasi capaian administratif semata dan lebih berpihak pada dampak nyata yang dirasakan masyarakat.

“Kampus sudah seharusnya tidak lagi lalai dengan target-target atau capaian yang hanya bernilai di atas kertas, namun nihil keberadaannya di masyarakat,” tutup Auliya.

Dengan proses pemilihan rektor yang masih berjalan, harapan alumni tersebut menjadi pengingat bahwa kepemimpinan USK ke depan bukan hanya soal tata kelola kampus, tetapi juga tentang bagaimana universitas hadir secara nyata dalam menjawab kebutuhan zaman dan daerah. (XRQ)

Reporter: AKIL

Kemenkes Lakukan Fogging di Huntara Aceh Tamiang untuk Tekan Risiko Penyakit Menular

0
Relawan TCK Kemenkes melakukan pengasapan untuk mencegah penyakit menular disebabkan nyamuk dan lalat di huntara Aceh Tamiang, Aceh, Kamis (15/1/2026). (Foto: ANTARA/Lintang Budiyanti Prameswari)

NUKILAN.ID | KUALA SIMPANG – Relawan Tenaga Cadangan Kesehatan (TCK) Kementerian Kesehatan melakukan pengasapan (fogging) dan penyemprotan insektisida di hunian sementara (huntara) Kabupaten Aceh Tamiang, Kamis (15/1/2026), sebagai langkah pencegahan penyakit menular pascabanjir dan longsor yang terjadi pada akhir November 2025.

Tenaga Sanitasi Lingkungan Kemenkes, Lucky Aris Suryono, menjelaskan bahwa kondisi pascabencana sangat rentan terhadap penyakit yang ditularkan melalui nyamuk dan lalat.

“Kalau dalam kondisi pasca-bencana ini sangat rentan penyakit-penyakit yang sifatnya disebabkan oleh faktor seperti lalat atau nyamuk. Nah, yang kita lakukan di huntara ini dalam rangka pengendalian faktor risiko tersebut. Kita sekarang sedang melakukan fogging (pengasapan) dan penyemprotan insektisida lalat untuk mengendalikan supaya tidak terjadi penyakit-penyakit seperti demam berdarah atau diare,” ujarnya.

Ia menambahkan, fogging dilakukan secara berkala dengan interval sekitar tiga bulan, disertai survei jentik oleh kader kesehatan. Jika ditemukan jentik nyamuk demam berdarah, langkah awal dilakukan melalui abatenisasi menggunakan larvasida sebelum dilakukan pengasapan lanjutan.

Selain pengendalian nyamuk, relawan juga melakukan penyemprotan larvasida pada tumpukan sampah untuk membasmi lalat hijau yang berpotensi menyebarkan penyakit. Edukasi kepada pengungsi turut diberikan, terutama terkait pengelolaan sampah, pencegahan genangan air, serta menjaga kebersihan lingkungan sekitar huntara.

“Seperti kalau sampah itu digunakan plastik-plastik sampah di tempat yang tertutup, jadi sebisa mungkin ketika ada sampah kalau memang belum tersedia tempat sampahnya, setidaknya mereka bisa menggunakan plastik dan itu ditutup,” kata Lucky.

Selain itu, aspek sanitasi, kualitas air, serta keamanan pangan di dapur umum juga menjadi perhatian.

“Biasanya di tempat pengungsian juga ada dapur-dapur umum, itulah yang kita pastikan keamanan pangannya, setidaknya mereka harus memenuhi lima kunci keamanan pangan yang sudah disyaratkan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan Kemenkes,” ujarnya.

Upaya ini dilakukan untuk memastikan lingkungan huntara tetap sehat dan meminimalkan risiko munculnya penyakit menular di kalangan pengungsi.

Aktivis Lingkungan Chiki Fawzi Ceritakan Kisah Pilu Menyaksikan Aceh Tamiang Bak Kota Lumpuh

0
Chiki Fawzi mengunggah video dari lokasi banjir di Sibolga dan Aceh Tamiang, menyoroti kayu gelondongan, penyakit warga, dan minta pemerintah melihat langsung. (Foto: Instagram.com/@chikifawzi)

NUKILAN.ID | JAKARTA – Aktivis lingkungan sekaligus pendiri Chikigo, Chiki Fawzi, membagikan pengalaman emosionalnya saat turun langsung ke sejumlah wilayah terdampak bencana ekologis di Sumatra. Kisah tersebut ia sampaikan dalam forum Semangat Awal Tahun 2026 yang digelar IDN Times.

Sejak akhir November 2025, Chiki telah melakukan perjalanan kemanusiaan ke berbagai daerah terdampak bencana, mulai dari Tapanuli Tengah, Langkat, Sibolga, hingga Aceh Tengah. Namun, menurut Chiki, kondisi paling memprihatinkan justru ia temukan di Aceh, khususnya Aceh Tamiang.

Perjalanan menuju Aceh Tamiang bukanlah hal mudah. Pada percobaan pertama, akses jalan menuju wilayah tersebut terputus akibat longsor. Ketika akhirnya berhasil masuk, pemandangan yang ia saksikan membuatnya terkejut.

“Pas sudah bisa dilalui mobil aku cukup kaget karena rusaknya itu sebegitu rusak jalannya. Terus pas masuk ke Aceh Tamiang lebih kaget lagi, karena ini satu kota tapi bener bener coklat dan bener-bener kota yang terendam lumpur,” ungkap Chiki.

Tak hanya kerusakan visual, kondisi lingkungan di lokasi juga meninggalkan kesan mendalam. Bau menyengat yang bercampur antara lumpur, debu, dan aroma bangkai semakin memperparah situasi. Kondisi menjadi kian sulit ketika hujan kembali mengguyur wilayah tersebut.

“Pas aku di sana aromanya tuh kayak aroma bangkai campur dengan aroma debu dan besoknya pas di Aceh Tamiang ternyata hujan lagi, jadi licin lagi. Jadi, aku melihat ini tempat yang sebenarnya sangat tidak layak karena kondisi yang seperti ini,” lanjutnya.

Chiki menegaskan bahwa dampak bencana tidak hanya dirasakan Aceh, tetapi juga wilayah lain seperti Sumatra Utara dan Sumatra Barat. Berdasarkan pengamatannya, luas wilayah terdampak di tiga provinsi tersebut mencapai skala yang sangat besar.

“Kalau di total, luas wilayah terdampak dari tiga provinsi ini mungkin sebesar Pulau Jawa. Ini adalah bencana ekologis yang luar biasa dampaknya,” kata Chiki.

Melalui media sosial, Chiki berharap lebih banyak masyarakat mengetahui kondisi nyata yang terjadi di Sumatra. Ia menilai, kepedulian dan bantuan sekecil apa pun sangat berarti bagi warga yang hingga kini masih bertahan di tengah lumpur dan kerusakan infrastruktur. (xrq)

24 Desa di Aceh Tengah Masih Terisolasi Pascabencana Banjir dan Longsor

0
Bupati Aceh Tengah Haili Yoga melintas di jembatan tali, di mana jembatan sebelumnya hilang diterjang banjir. (Foto: Humas Aceh Tengah)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Sebanyak 24 desa atau gampong di Kabupaten Aceh Tengah hingga kini masih terisolasi akibat terputusnya akses jalan dan jembatan pascabanjir bandang dan longsor yang terjadi pada 26 November 2025. Informasi tersebut disampaikan Juru Bicara Posko Penanganan Bencana Banjir dan Longsor Aceh, Murthalamuddin.

“Sesuai data yang disampaikan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Aceh Tengah, tercatat wilayah yang masih terisolir tersebar di Kecamatan Bintang, Ketol, Silih Nara, Rusip Antara, dan Linge. Pemerintah juga terus berupaya membuka akses,” kata Murthalamuddin di Banda Aceh, Kamis (15/1/2026)

Di Kecamatan Bintang, hanya satu desa yang masih terisolasi, yakni Desa Serule, dengan jumlah penduduk terdampak sebanyak 582 jiwa. Akses menuju desa tersebut belum dapat dilalui kendaraan roda dua maupun roda empat akibat timbunan longsor yang menutup badan jalan.

Kecamatan Ketol menjadi wilayah dengan jumlah desa terisolasi terbanyak. Sembilan desa terdampak di kecamatan ini, yakni Bergang, Karang Ampar, Pantan Reduk, Serempah, Bah, Bintang Pepara, Buge Ara, Kekuyang, dan Burlah, dengan total penduduk terdampak mencapai 4.951 jiwa.

“Wilayah di sana terisolir disebabkan jembatan putus serta longsor yang menutup badan jalan,” katanya.

Meski demikian, sebagian desa seperti Serempah dan Bah sudah mulai dapat dilalui kendaraan roda dua, namun kendaraan roda empat masih belum dapat melintas.

Sementara itu, di Kecamatan Silih Nara terdapat dua desa yang masih terisolasi, yaitu Terang Engon dan Bius Utama Dusun Gantung Langit, dengan jumlah penduduk terdampak sebanyak 254 jiwa.

“Akses menuju kedua desa tersebut tidak dapat dilalui baik menggunakan roda dua maupun empat akibat putusnya jembatan Mulie dan jembatan Gantung Langit,” katanya.

Di Kecamatan Rusip Antara, lima desa masih mengalami keterisolasian, yakni Pilar Jaya, Pilar Weh Kiri, Tirmiara, Mekar Maju, dan Arul Pertik, dengan total penduduk terdampak sebanyak 2.765 jiwa. Akses kendaraan roda dua mulai terbuka ke sejumlah desa, namun kendaraan roda empat masih belum dapat melintas karena longsor dan jembatan yang putus.

Adapun Kecamatan Linge menjadi wilayah terakhir yang masih terisolasi. Tujuh desa terdampak di kecamatan ini, yaitu Linge, Kute Reje, Delung Sekinel, Jamat, Reje Payung, Penarun, dan Umang, dengan total penduduk terdampak mencapai 2.362 jiwa. Keterisolasian disebabkan putusnya Jembatan Kala Ili serta longsor di beberapa titik jalan.

“Akses kendaraan roda dua hanya bisa ke Desa Penarun dan Umang, untuk kendaraan roda empat masih belum dapat melintas,” katanya.

Murthalamuddin menegaskan pemerintah terus melakukan upaya percepatan penanganan darurat dan pemulihan akses ke wilayah-wilayah terdampak, termasuk membuka jalur darat sementara dan memperbaiki infrastruktur yang rusak akibat bencana.

“Upaya penanganan terus dilakukan secara bertahap agar akses masyarakat kembali normal, terutama di desa-desa yang hingga kini masih terisolir,” kata Murthalamuddin.

Pesantren Darul Aitami Gelar Peringatan Isra’ Mi’raj, Doakan Kedamaian dan Keberkahan Aceh Selatan

0
Pesantren Darul Aitami Gelar Peringatan Isra’ Mi’raj, Doakan Kedamaian dan Keberkahan Aceh Selatan. (Foto: For Nukilan)

NUKILAN.ID | TAPAKTUAN – Pesantren Darul Aitami Kabupaten Aceh Selatan menggelar peringatan Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW pada Kamis malam (15/1/2026). Kegiatan yang berlangsung pukul 21.00 hingga 23.00 WIB tersebut diikuti pimpinan pesantren, dewan guru, santri, serta jamaah dengan penuh khidmat.

Peringatan Isra’ Mi’raj diisi dengan pembacaan Raja Shalawat, Dalail Khairat, dan doa bersama. Rangkaian ibadah ini bertujuan menumbuhkan kecintaan kepada Rasulullah SAW, memperkuat spiritualitas santri, serta memohon keberkahan dan perlindungan Allah SWT bagi masyarakat Aceh Selatan.

Pimpinan Pesantren Darul Aitami, Tgk. Sumardy Tarmisal, dalam tausiyahnya menegaskan bahwa peristiwa Isra’ Mi’raj menjadi momentum penting untuk memperkokoh iman dan ketakwaan umat Islam, khususnya melalui penjagaan shalat lima waktu sebagai perintah langsung dari Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW. Ia juga menekankan keutamaan shalawat dan dzikir sebagai amalan yang bernilai tinggi di sisi Allah.

Dalam kesempatan tersebut, Tgk. Sumardy Tarmisal mengingatkan jamaah pada firman Allah SWT:

“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan.” (QS. Al-Ahzab: 56)

Ia juga mengutip sabda Rasulullah SAW:
“Barang siapa yang bershalawat kepadaku satu kali, maka Allah akan bershalawat kepadanya sepuluh kali.” (HR. Muslim)

Melalui doa bersama, keluarga besar Pesantren Darul Aitami memohon agar Aceh Selatan senantiasa berada dalam lindungan Allah SWT, diberikan keamanan, persatuan, dan kesejahteraan, serta dijauhkan dari musibah dan perpecahan. Doa juga dipanjatkan agar para pemimpin daerah diberikan kekuatan, keikhlasan, dan kebijaksanaan dalam menjalankan amanah.

Peringatan ini diharapkan menjadi sarana turunnya rahmat Allah SWT, mempererat ukhuwah Islamiyah, serta meneguhkan peran pesantren sebagai pusat pembinaan iman dan akhlak umat. (xrq)

DPM USK Soroti Minimnya Keterlibatan Mahasiswa dalam Proses Pemilihan Rektor

0
Wakil Ketua DPM USK, Muhammad Alif Dhiya’ulhaq. (Foto: Dok. Pribadi)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH — Dewan Perwakilan Mahasiswa Universitas Syiah Kuala (DPM USK) menilai proses pemilihan Rektor USK belum sepenuhnya menjunjung prinsip transparansi dan partisipasi mahasiswa.

Perwakilan mahasiswa di Majelis Wali Amanat (MWA) disebut belum menjalankan fungsi representatif secara maksimal karena tidak membuka ruang komunikasi dan dialog dengan fakultas maupun organisasi kemahasiswaan (ormawa) di lingkungan USK.

Hal itu disampaikan Wakil Ketua DPM USK, Muhammad Alif Dhiya’ulhaq, kepada Nukilan.id pada Kamis, 15 Januari 2026. Menurutnya, pemilihan rektor merupakan agenda strategis yang akan menentukan arah kebijakan dan kepemimpinan universitas ke depan, sehingga aspirasi mahasiswa seharusnya dilibatkan secara luas.

“Pemilihan rektor tidak bisa dilakukan secara tertutup dan elitis. Mahasiswa adalah bagian penting dari tata kelola universitas dan aspirasinya harus didengar,” ujar Alif.

Alif menjelaskan, hingga kini MWA wakil mahasiswa belum pernah melakukan pertemuan bersama fakultas dan ormawa untuk membahas calon rektor maupun kriteria kepemimpinan universitas. Kondisi tersebut dinilai menunjukkan lemahnya mekanisme penyerapan aspirasi mahasiswa lintas fakultas.

Ia menambahkan, DPM USK sebenarnya telah mengambil inisiatif dengan memfasilitasi forum dialog terbuka yang dirancang sebagai ruang resmi bagi mahasiswa untuk menyampaikan pandangan, evaluasi, serta harapan terhadap figur rektor yang dinilai layak dan kompeten.

“Namun sangat disayangkan, MWA wakil mahasiswa tidak menghadiri forum yang telah kami fasilitasi. Ketidakhadiran ini menunjukkan sikap yang tidak sejalan dengan semangat partisipasi dan representasi mahasiswa,” katanya.

Menurut Alif, perwakilan mahasiswa di MWA seharusnya berfungsi sebagai jembatan aspirasi mahasiswa dalam pengambilan keputusan strategis universitas, bukan justru menjauh dari basis mahasiswa yang diwakilinya. Ia menegaskan bahwa representasi mahasiswa tidak cukup dimaknai secara struktural semata, tetapi harus diwujudkan melalui dialog aktif dan keterbukaan.

Alif juga menekankan pentingnya menghadirkan rektor USK yang memiliki integritas, kapasitas kepemimpinan, serta komitmen terhadap penguatan akademik, kesejahteraan mahasiswa, dan demokrasi kampus. Menurutnya, penilaian terhadap hal tersebut tidak dapat dilakukan secara objektif tanpa mendengar langsung suara mahasiswa dari berbagai fakultas dan ormawa.

“MWA wakil mahasiswa harus segera membuka dan melaksanakan dialog publik yang inklusif guna menyerap aspirasi mahasiswa dalam proses pemilihan Rektor Universitas Syiah Kuala. Ini adalah kewajiban moral agar keputusan yang diambil benar-benar mencerminkan kehendak mahasiswa,” tutupnya. (XRQ)

Reporter: Akil

Satgas Bencana Baitul Mal Aceh Bergerak Cepat Pulihkan Masjid dan Pesantren Pascabencana

0
Satgas Bencana Baitul Mal Aceh Bergerak Cepat Pulihkan Masjid dan Pesantren Pascabencana. (Foto: For Nukilan)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH — Satuan Tugas (Satgas) Bencana Baitul Mal Aceh melakukan aksi tanggap darurat dengan membersihkan sejumlah masjid dan pesantren yang terdampak banjir bandang di berbagai wilayah Aceh. Langkah ini dilakukan untuk mempercepat pemulihan sarana ibadah dan pendidikan keagamaan yang terdampak bencana.

Sejak pagi hari, personel Satgas berkumpul di halaman Kantor Baitul Mal Aceh untuk mengikuti arahan dan prosesi pelepasan. Mereka membawa berbagai peralatan kebersihan, seperti sekop, cangkul, sepatu boots, pakaian kerja, serta gerobak dorong guna mempercepat proses pembersihan lumpur, sampah, dan material sisa banjir yang menggenangi area masjid dan kompleks pesantren.

Dalam sambutannya, Ketua Baitul Mal Aceh, Tgk. H. Muhammad Yunus M. Yusuf, SH atau Abon Yunus, menegaskan bahwa gerak cepat ini merupakan bagian dari komitmen lembaga dalam merespons setiap musibah yang menimpa masyarakat Aceh. Ia menekankan pentingnya segera memulihkan fungsi masjid dan pesantren, terlebih menjelang datangnya bulan suci Ramadan.

“Masjid dan pesantren adalah tempat vital bagi masyarakat. Karena itu, kami berupaya agar aktivitas ibadah dan belajar mengajar dapat kembali berjalan secepat mungkin, apalagi sebentar lagi akan masuk bulan Ramadhan,” ujar Abon Yunus, Kamis (15/01/2026).

Ia berharap, kegiatan pembersihan yang dilakukan Satgas Bencana Baitul Mal Aceh dapat membantu meringankan beban masyarakat serta mempercepat proses pemulihan pascabencana. Ke depan, Baitul Mal Aceh juga menyatakan akan terus memantau perkembangan di lapangan dan menyalurkan bantuan lanjutan sesuai kebutuhan sebagai wujud tanggung jawab sosial dan kemanusiaan bagi warga terdampak.

Sementara itu, Koordinator Lapangan Satgas Bencana Baitul Mal Aceh, Tgk. Naga Selatan, menyampaikan bahwa sebanyak 21 relawan dikerahkan untuk membersihkan masjid dan pesantren terdampak selama 20 hari ke depan. Kegiatan tersebut akan dilaksanakan di Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh Timur, Aceh Utara, Bener Meriah, Bireuen, dan Pidie Jaya.

Pada kesempatan yang sama, Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA), Fadmi Ridwan, SP., M.A, berpesan kepada seluruh relawan agar selalu mengutamakan keselamatan diri, menjaga kekompakan tim, serta tetap fokus dan waspada saat menjalankan tugas di setiap lokasi.

Acara pelepasan Satgas Bencana Baitul Mal Aceh ditutup dengan doa bersama dan lantunan shalawat sebelum para relawan diberangkatkan, sebagai harapan agar seluruh kegiatan mendapat keberkahan dan perlindungan dari Allah SWT.

KSP Salurkan Mesin Penyuling Air untuk Warga Terdampak Banjir Aceh Timur

0
Kepala Staf Kepresidenan Muhammad Qodari mengunjungi warga terdampak bencana di Dusun Karang Kuda, Desa Bunin, Kecamatan Serbajadi, Kabupaten Aceh Timur, Provinsi Aceh, Rabu (14/01/2026). (Foto: For Nukilan)

NUKILAN.ID | IDI RAYEUK — Kepala Staf Kepresidenan Republik Indonesia, Muhammad Qodari, meninjau langsung kondisi warga terdampak banjir di Dusun Karang Kuda, Desa Bunin, Kecamatan Serbajadi, Kabupaten Aceh Timur, Rabu (14/1/2026).

Dalam kunjungan tersebut, Qodari menyerahkan bantuan berupa water purifier guna membantu pemenuhan kebutuhan air bersih dan air minum masyarakat.

Bantuan water purifier diberikan sebagai solusi darurat atas keterbatasan akses air bersih pascabanjir. Alat tersebut mampu menyaring air dari sumber yang tersedia agar layak konsumsi.

“Kita menyampaikan dukungan bantuan untuk water purifier atau penyulingan air, salah satu kebutuhan pokok di sini. Untuk kebutuhan air, 12 kilometer dari sini. Dengan adanya water purifier ini, insyaallah segera terpenuhi kebutuhan air minum, dengan kapasitas 3.000 liter per hari. Alhamdulillah airnya bisa langsung diminum,” kata Qodari di hadapan warga.

Qodari menjelaskan, Kantor Staf Presiden menyiapkan sejumlah unit water purifier untuk wilayah yang paling membutuhkan. Ia juga menyampaikan apresiasi kepada Kapolda Aceh, Irjen Pol Marzuki Ali Basa, atas masukan terkait kebutuhan tersebut, yang dinilai sangat sesuai dengan kondisi warga Dusun Karang Kuda.

“Kami terima kasih kepada Kapolda Aceh (Irjen Pol Marzuki Ali Basa) yang menyarankan water purifier ini, dan mendengarkan pernyataan dari Kepala Dusun, ternyata betul-betul yang diberikan ini relevan dengan situasi warga di sini,” tutur Qodari.

Dalam kunjungan tersebut, Qodari bersama Kapolda Aceh dan Bupati Aceh Timur, Iskandar Usman Alfarlaky, turut mencoba langsung air hasil penyulingan.

“Enak rasanya, ada manis-manisnya. Airnya sudah diperiksa secara aspek medis, aspek kesehatan, dan hasilnya baik. Mudah-mudahan bantuan ini bisa dimanfaatkan maksimal oleh warga di sini,” ujarnya.

Selain menyalurkan bantuan air bersih, Qodari dan Bupati Alfarlaky juga membahas rencana pembangunan hunian sementara dan hunian tetap bagi warga terdampak banjir, termasuk masyarakat Desa Bunin yang mengalami dampak cukup parah. Qodari mengakui masih terdapat persoalan lahan yang perlu diselesaikan dan akan segera dikoordinasikan dengan kementerian dan lembaga terkait.

“Ada permasalahan lahan yang harus diselesaikan, akan kami sampaikan kepada pihak Kementerian/Lembaga yang relevan, termasuk BUMN,” ujar Qodari.

Qodari juga memastikan persoalan penanganan bencana di Aceh Timur akan dibahas dalam rapat Satuan Tugas Penanganan Bencana Sumatra yang dijadwalkan berlangsung Kamis (15/1/2026).

“Segera kami sampaikan secara langsung kepada Pak Tito (Mendagri yang ditunjuk Presiden sebagai memimpin Satgas),” pungkas Qodari.

Sementara itu, Bupati Aceh Timur Iskandar Usman Alfarlaky menyampaikan apresiasi atas perhatian pemerintah pusat. Ia menyebut bantuan water purifier dari KSP, serta dukungan peralatan dari Polri seperti pompa apung dan dapur umum, sangat membantu percepatan pemulihan daerah.

“Termasuk alat pembersih berupa pompa apung dan dapur umum yang disediakan Polri, agar cepat pulih kembali, khususnya Aceh Timur,” kata Alfarlaky.

Ucapan terima kasih juga datang dari Kepala Dusun Karang Kuda, Rizky Ariga. Ia mengungkapkan bahwa selama ini warga harus membeli air minum dari luar desa dengan jarak cukup jauh.

“Ini sangat bermanfaat, karena selama ini untuk memenuhi kebutuhan air minum, kami harus beli 12 kilometer dari kampung ini,” ujar Rizky.

Dinkes Aceh Tamiang Teruskan Fogging di Lokasi Pengungsian Pasca-Banjir

0
ilustrasi fogging, (Foto: nusabali)

NUKILAN.ID | KUALA SIMPANG — Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Aceh Tamiang memastikan kegiatan pengasapan (fogging) dan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) di lokasi-lokasi pengungsian korban banjir terus berlanjut guna mencegah penyebaran penyakit, khususnya demam berdarah dengue (DBD).

Kepala Dinkes Aceh Tamiang Mustaqim mengatakan bahwa upaya tersebut masih dilakukan hingga saat ini, dengan fokus utama pada area pengungsian dan tenda-tenda warga.

“Kita masih terus fogging (pengasapan) terutama di lokasi pengungsian dan tenda-tenda tempat warga mengungsi,”

Menurutnya, sejauh ini sudah terdapat belasan titik yang menjadi sasaran penyemprotan pembasmi nyamuk Aedes aegypti. Pengasapan telah berlangsung sejak 20 Desember 2025, ketika banyak warga masih mengungsi di atas Jembatan Kuala Simpang, dan terus berlanjut hingga sekarang.

“Ada 17 lokasi di antaranya lokasi pengungsian GOR, gedung DPRK, RSUD dan terakhir tempat penginapan relawan Praja IPDN,”

Ke depan, Dinkes Aceh Tamiang menargetkan seluruh puskesmas, desa-desa yang dijadikan tempat pengungsian, serta rumah-rumah warga sebagai sasaran program fogging. Pelaksanaan kegiatan ini juga telah diteruskan ke tingkat desa melalui puskesmas dan puskesmas pembantu (pustu) dengan koordinasi pihak kecamatan.

“Program fogging ini juga sudah diteruskan ke desa-desa melalui puskesmas atau pustu (puskesmas pembantu) berkoordinasi dengan kecamatan setempat,”

Selain upaya pengendalian vektor penyakit, pelayanan kesehatan di puskesmas kini kembali berjalan normal setelah sebelumnya mengalami krisis air bersih. Pasokan air bersih dan air minum diperoleh dari fasilitas desalinasi RO yang dipasang oleh Satgas Air Universitas Pertahanan (Unhan) bekerja sama dengan Tim Yonzipur Kodam I/BB.

“Alhamdulillah puskesmas sudah aktif semua setelah pengerahan personel TNI dan Polri dan relawan membantu mempercepat pemulihan layanan kesehatan masyarakat. Ini kita mau pogging setiap puskesmas,”

Dengan langkah-langkah tersebut, Dinkes Aceh Tamiang berharap risiko penyakit pascabanjir, terutama DBD, dapat ditekan dan kesehatan warga tetap terjaga.

T. Auliya Tekankan Rektor USK Harus Berkarakter Pemecah Masalah dan Bebas dari Politik Praktis

0
T Auliya Rahman
Ketua Ikatan Alumni Ilmu Pemerintahan USK, T. Auliya Rahman. (Foto: Dok. Pribadi)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH — Majelis Wali Amanat (MWA) Universitas Syiah Kuala (USK) menuntaskan tahap awal penjaringan calon rektor, Senin (12/1/2026). Tahapan tersebut ditandai dengan penyampaian visi, misi, dan program kerja para kandidat yang berlangsung sejak pagi hingga sore hari.

Memasuki pukul 15.00 WIB, anggota MWA membuka hak suara dan menetapkan tiga nama yang lolos ke tahap berikutnya. Berdasarkan informasi yang diperoleh redaksi, tiga besar calon rektor USK yakni Prof. Dr. Ir. Agussabti, M.Si., IPU, Prof. Dr. Ir. Marwan, dan Prof. Dr. Mirza Tabrani. Keputusan tersebut menjadi dasar bagi panitia untuk melanjutkan proses seleksi menuju penetapan rektor terpilih pada tahapan berikutnya.

Ketua Panitia Pemilihan Rektor (PPR) USK, Prof. Dr. Rusli Yusuf, M.Pd., membenarkan bahwa seluruh rangkaian penjaringan telah berlangsung sesuai dengan tata kerja MWA. Ia menambahkan, agenda pemilihan rektor USK dijadwalkan berlangsung pada Februari 2026 sebagaimana telah ditetapkan oleh panitia pemilihan.

Di tengah dinamika proses seleksi tersebut, perhatian publik tidak hanya tertuju pada figur kandidat, tetapi juga pada arah kepemimpinan yang diharapkan mampu menjawab persoalan Aceh secara lebih substansial.

Ketua Ikatan Alumni Ilmu Pemerintahan USK, T. Auliya Rahman, menilai momentum pemilihan rektor ini sangat strategis bagi masa depan peran kampus dalam pembangunan daerah.

Saat diwawancarai nukilan.id, Kamis (15/1/2026), Auliya menegaskan bahwa USK memiliki posisi sentral dalam kehidupan sosial dan politik Aceh. Menurutnya, kepemimpinan rektor ke depan harus mencerminkan kebutuhan nyata masyarakat.

“Berkaca dari kondisi dan tantangan yang sedan dialami Aceh, saya rasa rektor USK ke depan harus memiliki karakter akademik dan problem solving, sehingga setiap keterlibatan dan dukungan yang diberikan oleh kampus kepada pemerintah berlandaskan data dan minim unsur politis,” katanya.

Pernyataan tersebut mencerminkan harapan agar USK tidak hanya menjadi institusi pendidikan semata, tetapi juga pusat solusi berbasis ilmu pengetahuan yang berdiri di atas kepentingan publik, bukan kepentingan kekuasaan.

Ketika ditanya mengenai nilai fundamental yang seharusnya menjadi fondasi kepemimpinan rektor di tengah dinamika dunia pendidikan dan tantangan global saat ini, Auliya menekankan pentingnya menjaga marwah akademik agar tetap kokoh dan tidak tergelincir ke dalam pusaran kepentingan politik praktis.

“Tentu saja harus ada nilai integritas dan independensi. Dalam artian rektor harus dapat menjaga netralitas dunia akademik di Aceh, tidak terseret arus politik praktis yang dpat merugikan masyarakat,” ungkapnya.

Pandangan tersebut memperkuat pesan bahwa kepemimpinan USK ke depan tidak hanya diuji oleh capaian administratif dan akademik, tetapi juga oleh keberanian moral untuk menjaga independensi kampus sebagai ruang berpikir bebas, kritis, dan berpihak pada kepentingan rakyat Aceh. (XRQ)

Reporter: AKIL