Beranda blog Halaman 108

DPRK Aceh Selatan Apresiasi Program MBG, Dorong Perbaikan Gizi dan Ekonomi Gampong

0
Sekretaris Komisi IV Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten (DPRK) Aceh Selatan, Novi Rosmita, S.E., M.Kes. (Foto: For Nukilan)

NUKILAN.ID | TAPAKTUAN – Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten (DPRK) Aceh Selatan menyatakan dukungan terhadap keberlanjutan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dinilai efektif dalam meningkatkan kualitas gizi masyarakat sekaligus menggerakkan perekonomian di tingkat gampong.

Sekretaris Komisi IV DPRK Aceh Selatan, Novi Rosmita, SE., M.Kes, menilai kolaborasi antara pemerintah pusat melalui Badan Gizi Nasional (BGN) dengan mitra pelaksana di gampong menjadi pendekatan pembangunan yang relevan dalam menjawab tantangan gizi dan kesejahteraan masyarakat.

“Dari perspektif kami di legislatif, MBG adalah sebuah lompatan besar. Program ini tidak hanya soal memberi makan anak-anak, tetapi membangun fondasi generasi emas Aceh Selatan. Dampaknya langsung terasa, baik dari sisi kesehatan maupun ekonomi masyarakat,” ujar Novi Rosmita saat meninjau salah satu dapur pelayanan MBG, Selasa (20/1/2026).

Sebagai Sekretaris Komisi IV yang membidangi kesehatan dan kesejahteraan rakyat, Novi menyebut aspek standar kesehatan dan tata kelola program menjadi perhatian utama DPRK. Ia menilai keberhasilan operasional dapur-dapur MBG di Aceh tidak terlepas dari sistem manajemen yang kuat di tingkat regional.

Dalam kesempatan tersebut, Novi juga menyampaikan apresiasi terhadap kinerja Badan Gizi Nasional Regional Aceh yang dipimpin oleh Mustafa Kamal. Menurutnya, komunikasi yang terjalin antara BGN dan pemerintah daerah berlangsung baik dan konstruktif.

“Kami mengapresiasi kinerja BGN Aceh. Komunikasi yang dibangun sangat harmonis dengan pemerintah daerah. Standar kesehatan diterapkan secara ketat, namun tetap memberi ruang bagi UMKM dan mitra lokal untuk berkembang. Ini penting, terutama karena program berskala nasional tetapi dijalankan dengan pendekatan lokal,” tegas Novi.

Lebih lanjut, Novi menyoroti perhatian Kepala BGN Regional Aceh terhadap persoalan yang sempat dialami sejumlah mitra dapur MBG di Aceh Selatan, yang sebelumnya terdampak kasus penipuan oleh yayasan pusat. Ia menyebut respons cepat dan pendampingan langsung dari pimpinan regional menjadi faktor penting keberlangsungan program.

“Alhamdulillah, berkat bantuan dan respons cepat dari Kepala Regional Aceh, para mitra bisa terselamatkan dan dapur kembali beroperasi. Ini menunjukkan bahwa negara benar-benar hadir melindungi pelaksana di lapangan,” ujarnya.

Novi menegaskan, DPRK Aceh Selatan akan terus memberikan dukungan politik sekaligus melakukan pengawasan agar Program Makan Bergizi Gratis berjalan secara berkelanjutan, tepat sasaran, dan memberikan manfaat optimal bagi anak-anak serta perekonomian masyarakat gampong.

BPBD Aceh Barat Salurkan Masker untuk Siswa SD di Tengah Ancaman Asap Karhutla

0
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Aceh Barat melakukan pembagian masker kepada murid Sekolah Dasar Negeri (SDN) 8 Meulaboh di Desa Suak Raya, Kecamatan Johan Pahlawan, seiring meluasnya kebakaran lahan di kawasan tersebut, yang berpotensi terjadinya gangguan pernapasan dan kesehatan. Hingga Selasa (20/1/2026) luas lahan yang terbakar di kawasan tersebut sudah mencapai sembilan hektare. ANTARA/HO-BPBD Aceh Barat

NUKILAN.ID | MEULABOH – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Aceh Barat menyalurkan masker kepada murid Sekolah Dasar Negeri (SDN) 8 Meulaboh yang berada di Desa Suak Raya, Kecamatan Johan Pahlawan. Langkah ini dilakukan menyusul meluasnya kebakaran lahan di wilayah tersebut yang berpotensi menimbulkan gangguan pernapasan dan kesehatan, khususnya pada anak-anak.

“Pembagian masker kepada murid SD ini sebagai upaya untuk melakukan edukasi kepada anak-anak, terhadap bahaya asap yang ditimbulkan dari bencana kebakaran lahan,” kata Plt Kepala BPBD Kabupaten Aceh Barat, Teuku Ronal Nehdiansyah, kepada wartawan di Meulaboh, Selasa (20/1/2026).

Selain membagikan masker, BPBD Aceh Barat juga memberikan sosialisasi kepada para murid mengenai bahaya kabut asap bagi kesehatan serta cara melindungi diri saat beraktivitas di lingkungan yang terpapar asap.

Ronal menjelaskan, partikel halus yang terkandung dalam asap kebakaran lahan memiliki risiko tinggi memicu infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), terutama bagi anak-anak usia sekolah. Oleh karena itu, pihaknya terus mengintensifkan upaya edukasi dan pencegahan di sekolah-sekolah yang berada di sekitar lokasi kebakaran.

Sebagai langkah perlindungan dini, BPBD Aceh Barat turut mendistribusikan ratusan masker kepada seluruh siswa dan guru. Masker tersebut berasal dari stok bantuan Dinas Kesehatan Aceh Barat yang dialokasikan khusus untuk penanganan dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

“Kesehatan anak-anak adalah prioritas utama. Kami ingin memastikan mereka terlindungi saat berada di area sekolah yang terpapar asap,” ujarnya.

Sementara itu, BPBD Aceh Barat hingga Selasa (20/1/2026) masih terus melakukan upaya pemadaman kebakaran lahan yang terjadi di Desa Lapang dan Desa Suak Raya, Kecamatan Johan Pahlawan, Meulaboh. Total luas lahan yang terbakar di kedua lokasi tersebut telah mencapai sekitar sembilan hektare.

Rinciannya, kebakaran di Desa Suak Raya telah menghanguskan sekitar enam hektare lahan, sedangkan di Dusun Ujong Beurasok, Desa Lapang, luas lahan yang terbakar mencapai tiga hektare.

Ia menambahkan, kebakaran lahan yang berlangsung sejak pekan lalu telah menimbulkan asap tebal yang mengganggu pernapasan masyarakat di sekitar lokasi. Kondisi cuaca yang terik serta tiupan angin kencang juga menyebabkan api terus menjalar dan berpotensi meluas ke area lain, sehingga petugas harus bekerja ekstra dalam melakukan pemadaman di berbagai titik.

PDIP Beri Bantuan Sarana Pendidikan bagi Siswa Korban Banjir di Aceh

0
Ketua DPD PDI Perjuangan Aceh Jamaluddin Idham dan Wakil Ketua Komisi X DPR-RI, MY Esti Wijayati salurkan bantuan untuk sekolah terdampak bencana banjir. (Foto: Dok. PDIP)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI Perjuangan) kembali menyalurkan bantuan kepada masyarakat terdampak banjir di Aceh. Memasuki 50 hari pascabencana, partai berlambang banteng moncong putih itu kini memfokuskan perhatian pada pemulihan aktivitas sosial, khususnya di sektor pendidikan.

Bantuan yang disalurkan berupa sarana pendidikan bagi siswa di Aceh Utara, meliputi seragam sekolah, tas, perlengkapan belajar, serta berbagai kebutuhan penunjang kegiatan belajar-mengajar lainnya yang diperlukan oleh siswa dan pihak sekolah.

Penyaluran bantuan dilakukan langsung oleh Ketua DPD PDI Perjuangan Aceh Jamaluddin Idham bersama Wakil Ketua Komisi X DPR RI MY Esti Wijayati. Kegiatan tersebut turut dihadiri Kepala Dinas Pendidikan Aceh serta Kepala Dinas Pendidikan Aceh Utara.

Jamaluddin Idham mengatakan, peninjauan dan penyaluran bantuan tersebut merupakan bentuk kepedulian partai dalam membantu pemulihan proses belajar-mengajar setelah bencana banjir melanda wilayah tersebut.

“Banjir tidak boleh menghambat anak-anak untuk terus mendapatkan pendidikan yang layak. Kami ingin memastikan kegiatan belajar tetap berjalan dan semangat siswa tidak surut,” kata Jamaluddin Idham, Selasa (20/1).

Ia berharap bantuan yang diberikan dapat meringankan beban siswa dan orang tua, sekaligus mempercepat pemulihan aktivitas pendidikan di daerah terdampak banjir. Jamaluddin juga mengajak para siswa untuk tetap bersemangat belajar meskipun sementara waktu proses pembelajaran masih dilakukan di tenda-tenda pengungsian.

Sementara itu, MY Esti Wijayati yang juga membidangi pendidikan di Komisi X DPR RI menegaskan akan mendorong pemerintah untuk segera melakukan perbaikan terhadap sekolah-sekolah yang terdampak banjir agar kegiatan belajar-mengajar dapat kembali berlangsung secara normal.

“PDI Perjuangan berkomitmen untuk terus mendukung pemulihan sektor pendidikan di daerah terdampak bencana,” imbuh Jamaluddin.

Karhutla Aceh Barat Meluas 9 Hektare, Asap Mulai Ganggu Kesehatan Warga

0
Kebakaran lahan di Aceh Barat meluas hingga sembilan hektare. BPBD berupaya padamkan api dan bagikan masker untuk lindungi kesehatan anak-anak. (Foto: ANTARA FOTO/SYIFA YULINNAS) Baca artikel CNN Indonesia "Karhutla Meluas Jadi 9 Hektare, Kabut Asap Mulai Selimuti Aceh Barat" selengkapnya di sini: https://www.cnnindonesia.com/nasional/20260120101717-20-1318772/karhutla-meluas-jadi-9-hektare-kabut-asap-mulai-selimuti-aceh-barat. Download Apps CNN Indonesia sekarang https://app.cnnindonesia.com/

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Aceh Barat terus meluas hingga mencapai sekitar sembilan hektare. Peristiwa ini terjadi di Desa Suak Raya dan Desa Lapang, Kecamatan Johan Pahlawan, Meulaboh, dan telah menimbulkan kabut asap yang mengganggu aktivitas serta kesehatan warga.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Aceh Barat masih melakukan upaya pemadaman di sejumlah titik kebakaran.

Pelaksana Tugas Kepala BPBD Aceh Barat, Teuku Ronal Nehdiansyah, mengatakan, “Saat ini upaya pemadaman masih terus kami lakukan.”

Rinciannya, luas lahan terbakar di Desa Suak Raya mencapai sekitar enam hektare, sedangkan di Dusun Ujong Beurasok, Desa Lapang, sekitar tiga hektare. Kebakaran yang telah berlangsung sejak pekan lalu itu diperparah oleh cuaca panas dan angin kencang sehingga api terus menjalar ke area lain.

Teuku Ronal menjelaskan bahwa kabut asap mulai dirasakan masyarakat sekitar dan berpotensi menimbulkan gangguan pernapasan. Kondisi tersebut membuat petugas harus bekerja ekstra dalam memadamkan api di berbagai sisi lokasi kebakaran.

Ia menambahkan, “Saat ini jilatan api terus menjalar perlahan dan berpotensi meluas, karena tiupan angin di sekitar lokasi kejadian sangat kencang.”

Dalam proses pemadaman, BPBD Aceh Barat dibantu oleh personel TNI, Polri, serta masyarakat setempat guna mencegah kebakaran semakin meluas.

Selain fokus pada pemadaman, BPBD Aceh Barat juga membagikan masker kepada murid Sekolah Dasar Negeri (SDN) 8 Meulaboh di Desa Suak Raya sebagai langkah perlindungan kesehatan.

“Pembagian masker kepada murid SD ini sebagai upaya untuk melakukan edukasi kepada anak-anak, terhadap bahaya asap yang ditimbulkan dari bencana kebakaran lahan,” ujar Teuku Ronal.

BPBD turut memberikan sosialisasi kepada siswa mengenai bahaya kabut asap dan cara menghindarinya saat beraktivitas. Menurut Ronal, partikel halus dari asap kebakaran berisiko menyebabkan infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), terutama pada anak-anak usia sekolah.

Sebagai langkah pencegahan dini, ratusan masker didistribusikan kepada siswa dan guru dengan dukungan stok dari Dinas Kesehatan Aceh Barat.

“Kesehatan anak-anak adalah prioritas utama. Kami ingin memastikan mereka terlindungi saat berada di area sekolah yang terpapar asap,” katanya.

Polda Lampung Gagalkan Penyelundupan 10,63 Kg Sabu Asal Aceh di Tol Trans Sumatera

0
Barang bukti yang diamankan oleh Polda Lampung dalam ungkap kasus upaya penyelundupan narkotika jenis sabu. Provinsi Lampung, Selasa (20/1/2025). (Foto: Polda Lampung)

NUKILAN.ID | BANDAR LAMPUNG – Direktorat Reserse Narkoba Polda Lampung menggagalkan upaya penyelundupan narkotika jenis sabu seberat 10,63 kilogram yang berasal dari Provinsi Aceh. Pengungkapan kasus ini dilakukan pada Kamis, 15 Januari 2026, di Jalan Tol Trans Sumatera ruas Terbanggi Besar–Pematang Panggang–Kayu Agung (Terpeka) KM 228, Kabupaten Mesuji.

Kabidhumas Polda Lampung Kombes Pol Yuni Iswandari menyampaikan bahwa sabu tersebut ditaksir bernilai sekitar Rp15 miliar dan rencananya akan dikirim ke Pulau Jawa. Untuk mengelabui petugas, narkotika itu disembunyikan di dalam truk dengan modus ditutupi muatan durian.

Dalam pengungkapan ini, polisi mengamankan tiga tersangka, yakni YD (33) sebagai kurir, serta YT (28) dan MR (42) yang berperan sebagai pendamping selama perjalanan. Ketiganya telah diamankan di Mapolda Lampung untuk menjalani proses hukum.

Pengungkapan kasus ini merupakan hasil penyelidikan intensif selama sekitar satu pekan. Polda Lampung masih terus mengembangkan kasus tersebut guna mengungkap jaringan peredaran narkotika lintas provinsi yang terlibat. Dengan penggagalan penyelundupan ini, diperkirakan sekitar 40 ribu jiwa berhasil diselamatkan dari ancaman penyalahgunaan narkoba.

Hampir 92 Ribu Warga Aceh Masih Mengungsi, Aceh Utara Jadi Penyumbang Terbesar

0
Kepala Dinas Pendidikan Aceh, Murthalamuddin,(Foto: Humas Aceh)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH — Jumlah warga Aceh yang masih berada di pengungsian akibat banjir dan longsor terus bertahan di angka tinggi. Hingga Senin (19/1/2026) pukul 13.14 WIB, tercatat 24.426 kepala keluarga (KK) atau 91.962 jiwa masih mengungsi di 988 titik yang tersebar di sejumlah kabupaten dan kota.

Berdasarkan data Pos Komando Tanggap Darurat Bencana Hidrometeorologi Aceh, Aceh Utara menjadi daerah dengan jumlah pengungsi terbanyak. Di wilayah tersebut, sebanyak 33.261 jiwa atau 9.242 KK tercatat mengungsi di 210 titik.

Jumlah pengungsi terbanyak berikutnya berada di Kabupaten Gayo Lues dengan 18.944 jiwa atau 5.571 KK yang tersebar di tujuh titik. Pidie Jaya menempati urutan selanjutnya dengan 14.794 jiwa atau 4.037 KK di 38 lokasi pengungsian.

Di Aceh Tamiang, tercatat 6.052 jiwa atau 707 KK yang mengungsi di 513 titik. Sementara itu, Aceh Tengah melaporkan 5.306 jiwa atau 1.075 KK di 61 titik pengungsian, disusul Bireuen dengan 4.897 jiwa atau 1.397 KK di 59 titik.

Wilayah lain yang masih memiliki pengungsi antara lain Aceh Timur dengan 3.862 jiwa atau 1.056 KK di 53 titik, Nagan Raya sebanyak 2.472 jiwa atau 817 KK di enam titik, serta Bener Meriah dengan 2.116 jiwa di 39 titik. Kabupaten Pidie melaporkan 137 jiwa atau 30 KK di dua titik, sedangkan Kota Lhokseumawe mencatat 119 jiwa atau 37 KK pengungsi.

Juru Bicara Posko Penanganan Bencana Banjir dan Longsor Aceh, Murthalamuddin, menyatakan pemerintah bersama seluruh unsur terkait terus berupaya memenuhi kebutuhan dasar para pengungsi.

“Pemerintah bersama seluruh pihak terkait terus melakukan upaya penanganan di lapangan. Distribusi logistik, layanan dapur umum, serta koordinasi lintas sektor terus diperkuat agar kebutuhan pengungsi dapat terlayani dengan baik,” ujar Murthalamuddin, Senin (19/1/2026).

Ia juga menyampaikan bahwa dari total 18 kabupaten/kota yang terdampak, tujuh daerah sudah tidak lagi memiliki pengungsian, yakni Aceh Selatan, Subulussalam, Langsa, Aceh Barat, Aceh Singkil, Aceh Tenggara, dan Aceh Besar.

Secara keseluruhan, bencana banjir dan longsor yang terjadi sejak akhir November 2025 berdampak pada 2.584.067 jiwa atau 670.826 KK di Aceh. Dalam peristiwa tersebut, tercatat 561 orang meninggal dunia dan 30 orang lainnya masih dinyatakan hilang.

Pemerintah Aceh Buka Rincian Anggaran Penanganan Bencana Hidrometeorologi

0
Juru Bicara Pemerintah Aceh, Muhammad MTA. Foto: (Humas Aceh).

NUKILAN.ID | BANDA ACEH — Pemerintah Aceh memaparkan secara terbuka pengelolaan anggaran penanganan banjir dan tanah longsor yang telah ditetapkan sebagai bencana tingkat Aceh. Sejak penetapan status tersebut, pemerintah langsung membentuk Pos Komando Tanggap Darurat Bencana Hidrometeorologi Aceh sebagai pusat koordinasi lintas sektor.

Juru Bicara Pemerintah Aceh, Muhammad MTA, menyebut pendirian posko menjadi langkah mendesak agar penanganan darurat berjalan terkoordinasi dan efektif. “Posko ini menjadi pusat komando. Di dalamnya terlibat semua komponen dan instansi, sehingga penanganan darurat bisa dilakukan secara terpadu,” ujar MTA di Banda Aceh.

Terkait anggaran, MTA menjelaskan bahwa hingga 31 Desember 2025, bantuan keuangan dari pemerintah daerah lain yang masuk ke Rekening Kas Umum Daerah (RKUD) Aceh tercatat sebesar Rp32.404.958.400. Dari jumlah tersebut, Rp26.774.964.200 telah disalurkan ke kabupaten dan kota terdampak melalui Bantuan Keuangan Khusus (BKK) dalam dua tahap.

Pada tahap pertama, Pemerintah Aceh menyalurkan Rp8,8 miliar kepada 18 kabupaten/kota dengan mempertimbangkan jumlah jiwa terdampak, pengungsi, serta status kebencanaan. “Pada tahap pertama, Pemerintah Aceh menyalurkan Rp8,8 miliar kepada 18 kabupaten/kota. Penyaluran ini mempertimbangkan jumlah jiwa terdampak, jumlah pengungsi, serta status bencana di masing-masing daerah,” kata MTA.

Sementara tahap kedua, Rp17.974.964.200 disalurkan kepada 11 kabupaten/kota dengan mempertimbangkan akses wilayah, jumlah pengungsi, bantuan khusus dari daerah pemberi, serta status kebencanaan. Sisa bantuan keuangan sebesar Rp5.629.994.200 akan dianggarkan kembali sesuai ketentuan pada tahun anggaran berjalan.

Selain BKK, Pemerintah Aceh juga mengalokasikan Belanja Tidak Terduga (BTT) sebesar Rp80.973.612.274, termasuk bantuan Presiden senilai Rp20 miliar. Hingga kini, dana yang telah dicairkan mencapai Rp71.490.612.745 dan disalurkan ke sejumlah Satuan Kerja Pemerintah Aceh (SKPA).

Namun, sebagian anggaran tidak terserap optimal karena keterbatasan waktu dan efektivitas kebutuhan di lapangan. “Sebesar Rp21.272.642.507 dikembalikan ke kas daerah dan akan dibelanjakan kembali pada tahun anggaran 2026,” jelas MTA.

Penggunaan BTT didominasi belanja logistik dan penanganan darurat. Hingga akhir Desember 2025, sekitar 695 ribu ton logistik telah disalurkan ke daerah terdampak parah. SKPA teknis juga fokus pada perbaikan akses jalan, sungai, jembatan, pembersihan material bencana, serta pembiayaan relawan di Posko Tanggap Darurat.

“Semua kegiatan dilakukan sesuai tupoksi masing-masing SKPA dan akan dilaporkan secara khusus sesuai mekanisme perundang-undangan,” tegasnya.

Menutup keterangannya, MTA mengapresiasi pengawasan publik terhadap kebijakan Pemerintah Aceh. “Kami berterima kasih kepada semua pihak, baik secara personal maupun kelembagaan. Pengawasan ini kami pandang sebagai bagian dari upaya bersama mewujudkan pemerintahan yang baik, agar Aceh dapat bangkit dan pulih dari bencana,” pungkasnya.

Auliya Rahman Kritik Wacana Perubahan Patokan Mahar di Aceh: Jangan Jadikan Mayam Sebagai Kambing Hitam

0
T Auliya Rahman
Ketua Ikatan Alumni Ilmu Pemerintahan USK, T. Auliya Rahman. (Foto: Dok. Pribadi)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH — Ketua Ikatan Alumni Ilmu Pemerintahan Universitas Syiah Kuala (USK), T. Auliya Rahman, mengkritik wacana penggantian patokan mahar dari satuan mayam ke gram emas yang diinisiasi salah satu keuchik di Aceh. Menurutnya, kebijakan tersebut berpotensi keliru dalam membaca persoalan mendasar yang dihadapi generasi muda Aceh.

Auliya Rahman, yang saat ini tengah menempuh studi Magister Islam Pembangunan dan Kebijakan Publik di UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta, menegaskan bahwa mayam tidak seharusnya dijadikan kambing hitam atas sulitnya generasi muda untuk menikah.

“Kalau kita jujur melihat persoalan ini, yang mahal itu bukan mayamnya, tapi gaya hidupnya,” kata Auliya, Senin (19/1/2026).

Ia menjelaskan, dalam ajaran Islam sendiri tidak ada ketentuan baku mengenai jumlah mahar. Bahkan, kata dia, mahar bisa diberikan dalam bentuk yang sangat sederhana. Auliya juga mengingatkan bahwa dalam sejarah Aceh, ketika kondisi ekonomi masyarakat masih sulit, mahar perempuan Aceh hanya berkisar antara tiga hingga lima mayam.

“Islam tidak pernah mempersulit mahar. Bahkan dalam hadis disebutkan mahar bisa berupa cincin besi. Jadi kalau hari ini dianggap memberatkan, yang perlu diluruskan adalah cara pandang kita,” ujarnya.

Lebih lanjut, Auliya menilai perubahan patokan mahar dari mayam ke gram berpotensi menggeser nilai adat dan budaya Aceh tanpa dasar yang kuat. Ia mengingatkan bahwa mayam tidak hanya digunakan dalam konteks pernikahan, tetapi juga berkaitan dengan berbagai ketentuan adat lainnya.

“Perubahan ini tidak sesederhana mengganti satuan. Mayam berkaitan dengan banyak aspek adat, termasuk denda adat dan ketentuan lain dalam qanun. Kalau mahar diubah ke gram, apakah denda adat juga akan ikut diubah?” katanya.

Menurut Auliya, kebijakan tersebut justru berisiko menimbulkan ketidakadilan jika hanya diterapkan pada mahar, sementara aspek adat lainnya tetap menggunakan patokan lama.

Ia juga menilai pemerintah dan tokoh adat belum sepenuhnya tepat dalam membaca persoalan generasi muda Aceh. Auliya menegaskan bahwa masalah pernikahan tidak bisa direduksi hanya pada jumlah mahar semata.

“Persoalan besarnya adalah lapangan kerja yang sempit, jaminan pendidikan dan kesehatan yang belum kuat, literasi keuangan yang minim, serta ketidakpastian hidup setelah menikah,” pungkasnya.

Selain itu, Auliya mengingatkan bahwa perhatian pemerintah tidak seharusnya hanya tertuju pada upaya mendorong pernikahan dini atau mempercepat pernikahan generasi muda. Ia menilai angka perceraian yang terus meningkat di Aceh juga menjadi persoalan serius yang perlu mendapat perhatian.

“Kalau hanya fokus bagaimana orang cepat menikah, tapi abai pada kesiapan mental, ekonomi, dan bimbingan pra-nikah, kita justru berisiko melahirkan generasi yang lemah,” kata dia.

Auliya menutup pernyataannya dengan menegaskan bahwa menjadikan mayam sebagai sumber masalah utama merupakan bentuk kegagalan dalam menganalisis persoalan sosial secara utuh.

“Jangan-jangan kita hanya sedang mencari kambing hitam untuk menutupi kegagalan negara dan pemangku kebijakan dalam menjamin kehidupan yang layak bagi generasi muda Aceh,” tutupnya. (XRQ)

Reporter: AKIL

Dr. Masrizal Dorong Pelibatan Majelis Adat dan Pengaturan Qanun dalam Perubahan Mahar Manyam ke Gram

0
Sosiolog Beberkan Alasan
Koordinator Prodi Magister Damai dan Resolusi Konflik (MDRK) Sekolah Pascasarjana USK, Dr. Masrizal. (Foto: Dok. Pribadi)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Melambungnya harga emas murni yang kini menembus angka Rp8.000.000 per manyam di Aceh Timur mulai memunculkan kegelisahan baru, terutama di kalangan generasi muda yang tengah bersiap membangun rumah tangga. Biaya mahar yang kian tinggi dinilai menjadi salah satu penghalang utama bagi pasangan muda untuk melangkah ke jenjang pernikahan.

Merespons realitas tersebut, Pemerintah Gampong Alue Ie Mirah, Kecamatan Indra Makmu, Aceh Timur, mewacanakan terobosan kebijakan dengan mengubah penyebutan satuan mahar dari manyam ke gram. Langkah ini dipandang sebagai upaya menyesuaikan adat dengan kondisi ekonomi masyarakat yang terus bergerak dinamis.

Keuchik Gampong Alue Ie Mirah, Romi Syahputra, menegaskan bahwa wacana tersebut tidak berhenti sebatas gagasan. Ia menyebutkan, pemerintah gampong akan segera menerbitkan Peraturan Gampong (Pergam) sebagai dasar hukum penerapan kebijakan tersebut.

“InsyaAllah dalam waktu dekat kita akan mengeluarkan aturan gampong. Penyebutan mahar tidak lagi menggunakan manyam, tapi gram. Ini murni untuk meringankan beban masyarakat, khususnya anak muda kita yang ingin menyempurnakan ibadah pernikahan,” ujar Romi yang juga menjabat sebagai Ketua Forum Keuchik Kecamatan Indra Makmu, Selasa (6/1/2026).

Romi menekankan, perubahan satuan mahar ini sama sekali tidak dimaksudkan untuk menghapus atau mereduksi nilai adat yang telah lama hidup di tengah masyarakat Aceh. Sebaliknya, kebijakan tersebut justru diharapkan menjadi jembatan agar adat tetap relevan dan tidak memberatkan di tengah tekanan ekonomi modern.

Namun demikian, wacana ini juga memantik diskusi di kalangan akademisi dan pemerhati sosial. Pada Jumat (16/1/2026), Nukilan.id menghubungi Dr. Masrizal, seorang sosiolog Aceh, untuk meminta pandangannya terkait potensi risiko sosial dan budaya dari kebijakan tersebut.

Ia mengakui bahwa setiap perubahan dalam praktik adat hampir selalu membawa konsekuensi tertentu, termasuk dalam hal pernikahan yang sarat makna simbolik.

“Dalam kajian sosiologi, ini bisa dilihat sebagai komodifikasi pernikahan, di mana ada potensi pergeseran makna pernikahan menjadi lebih berfokus pada nilai material dibandingkan nilai spiritual dan emosional,” ujarnya.

Menurut Dr. Masrizal, risiko tersebut tidak bisa diabaikan begitu saja, terutama jika kebijakan hanya dipahami sebatas teknis penggantian satuan, tanpa menyentuh akar persoalan tingginya tuntutan mahar. Ia menilai, tanpa pendekatan yang tepat, perubahan ini justru bisa melahirkan persoalan baru di tingkat sosial.

“Jika tidak diimbangi dengan kebijakan yang adil dan inklusif, perubahan ini juga berpotensi memperlebar ketimpangan sosial,” ungkapnya.

Lebih jauh, Dr. Masrizal mengingatkan bahwa adat Aceh bukan sekadar simbol, melainkan sistem nilai yang hidup dan diwariskan lintas generasi. Karena itu, setiap bentuk penyesuaian harus dilakukan secara hati-hati agar tidak mengikis makna tradisional yang terkandung di dalamnya.

“Pengaruh terhadap tradisi dan budaya Aceh juga perlu dicermati. Jika tidak disertai upaya pelestarian nilai-nilai adat, perubahan seperti ini bisa perlahan menggerus makna tradisional itu sendiri,” katanya.

Ia menegaskan pentingnya koordinasi lintas lembaga adat agar kebijakan yang diambil tidak berdiri sendiri dan tetap berada dalam koridor adat Aceh yang diakui secara kolektif.

“Karena itu, ketika sebuah gampong ingin menerapkan sistem mahar dari manyam ke gram, harus ada koordinasi dengan majelis adat setempat, baik di tingkat kecamatan maupun kabupaten,” ujarnya.

Tak kalah penting, Dr. Masrizal menyoroti aspek edukasi publik. Menurutnya, masyarakat perlu memahami substansi perubahan ini agar tidak menimbulkan kesalahpahaman atau penolakan di kemudian hari.

“Masyarakat harus diberi pemahaman bahwa perubahan ini bukan sekadar mengganti satuan, tetapi bagian dari upaya mencari solusi untuk menekan tingginya mahar,” jelasnya.

Dr. Masrizal yang juga Koordinator Prodi Magister Damai dan Resolusi Konflik (MDRK) Sekolah Pascasarjana USK tersebut juga mendorong agar kebijakan tersebut memiliki landasan hukum yang kuat dan disusun melalui mekanisme yang transparan.

“Diskusi dengan aparatur gampong perlu dilakukan, bahkan jika perlu dituangkan dalam bentuk qanun, lalu dikoordinasikan dengan biro hukum. Dengan begitu, apa yang diterapkan memiliki landasan yang kuat dan bisa diakui sebagai adat istiadat yang sah,” tambahnya.

Pada akhirnya, Dr. Masrizal menilai bahwa wacana perubahan satuan mahar ini dapat menjadi momentum penting bagi Aceh dalam merespons persoalan sosial secara lebih adaptif, tanpa harus tercerabut dari akar budaya yang telah menghidupi masyarakatnya selama ini.

Langkah Gampong Alue Ie Mirah pun kini menjadi sorotan, sekaligus contoh bagaimana adat dan realitas ekonomi dapat didialogkan secara terbuka demi mencari jalan tengah yang lebih berkeadilan. (XRQ)

Reporter: AKIL

Abu Heri Apresiasi Program Padat Karya Tunai Kementan di Aceh: Sawah Pulih, Ekonomi Petani Terjaga

0
Langkah cepat Kementerian Pertanian (Kementan) dalam menjalankan arahan Presiden Prabowo Subianto untuk memberikan upah kerja atau skema Cash For Work (Padat Karya Tunai) bagi petani di Aceh mendapat apresiasi luas. Dukungan penuh dan apresiasi salah satunya datang dari Anggota DPR Aceh dari Fraksi Partai Aceh, T. Hari Suhadi, yang akrab disapa Abu Heri.

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Langkah cepat Kementerian Pertanian (Kementan) dalam menindaklanjuti arahan Presiden Prabowo Subianto melalui skema Cash For Work atau Padat Karya Tunai bagi petani di Aceh mendapat respons positif dari berbagai pihak.

Salah satu apresiasi datang dari Anggota DPR Aceh Fraksi Partai Aceh, T. Heri Suhadi atau yang akrab disapa Abu Heri. Ia menilai kebijakan pemberian upah kerja sebesar Rp120 ribu per hari kepada petani yang terlibat dalam pemulihan sawah terdampak banjir sebagai langkah konkret yang benar-benar menyentuh kebutuhan masyarakat bawah.

Menurut Abu Heri, program tersebut memberi manfaat ganda bagi petani yang tengah menghadapi kondisi sulit pascabencana. Selain membantu memperbaiki lahan pertanian, skema ini juga memberikan pemasukan tunai bagi keluarga petani.

“Kita kasih jempol ya, dan kita sangat mendukung dan mengapresiasi gebrakan Menteri Pertanian ini. Dengan skema Cash For Work, warga petani memiliki kesempatan untuk mendapatkan pemasukan tunai, terutama dalam menghadapi bulan suci Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri yang sudah di depan mata,” ujar Abu Heri dalam keterangan tertulisnya, Senin (19/1/2026).

Ia menambahkan, secara teknis program ini juga mempercepat pemulihan sektor pertanian di wilayah terdampak banjir. Petani dapat langsung membersihkan sawah yang tertutup lumpur, sehingga proses produksi pangan bisa segera kembali berjalan.

“Pada saat yang sama, petani bisa langsung bergerak membersihkan lahan sawah mereka yang tertutup lumpur. Jadi, pemulihan lahan jalan, dapur warga juga tetap mengepul,” jelasnya.

Lebih jauh, Abu Heri menyebut kebijakan ini sejalan dengan gagasan yang selama ini ia dorong di tingkat daerah. Ia mengaku telah lama mengusulkan agar penanganan pascabencana tidak hanya berfokus pada pembangunan infrastruktur besar, tetapi juga mengedepankan bantuan langsung berbasis kerja bagi masyarakat terdampak.

Melihat efektivitas program Cash For Work di sektor pertanian, ia berharap pola serupa dapat diterapkan oleh kementerian dan lembaga lain yang terlibat dalam penanganan bencana di Aceh.

“Kami berharap skema Cash For Work ini juga diterapkan oleh kementerian dan lembaga lain yang ambil bagian dalam percepatan masa tanggap darurat, maupun di daerah yang sudah memasuki masa transisi darurat ke pemulihan,” tegasnya.

Menurut Abu Heri, bantuan berbasis kerja jauh lebih bermartabat dan efektif karena mampu menggerakkan roda ekonomi lokal di tengah situasi sulit.

“Ini adalah bentuk kehadiran negara yang nyata bagi rakyat Aceh,” pungkasnya.