Beranda blog Halaman 108

LPSK Siap Kawal Kasus Kekerasan Balita di Daycare Banda Aceh

0
Rekaman CCTV menunjukkan dugaan kekerasan terhadap balita oleh pegawai daycare di Banda Aceh, (22/4/2026). (Foto: Dok. Istimewa)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) menyatakan akan turun langsung mengawal kasus dugaan kekerasan terhadap anak yang terjadi di Daycare Baby Preneur, Kota Banda Aceh. Kasus ini mencuat pada April lalu dan kini telah memasuki tahap penyidikan dengan penetapan tiga tersangka.

Mengutip Tempo.co, Wakil Ketua LPSK, Sri Suparyati, mengatakan pihaknya akan memberikan pendampingan dalam penanganan kasus tersebut. Namun, hingga saat ini belum dipastikan kapan tim LPSK akan tiba di Banda Aceh.

“Belum turun. Tapi kami akan turun,” kata Sri Suparyati pada Sabtu (2/5/2026).

Sementara itu, Kepolisian Resor Kota (Polresta) Banda Aceh telah menetapkan tiga tersangka dalam kasus dugaan penganiayaan terhadap balita berusia 18 bulan di Daycare Baby Preneur. Ketiganya merupakan pengasuh di tempat penitipan anak tersebut, masing-masing berinisial DS (24), RY (25), dan NS (24).

DS lebih dahulu ditetapkan sebagai tersangka, kemudian disusul RY dan NS setelah polisi melakukan gelar perkara dan menemukan alat bukti baru.

“Kami telah selesai melaksanakan gelar perkara, di mana dalam suatu rangkaian ditemukan fakta-fakta dan dua alat bukti yang cukup, sehingga ditetapkan dua tersangka baru,” ujar Kepala Satuan Reserse Kriminal Polresta Banda Aceh, Komisaris Miftahuda Dizha Fezuono, Rabu (29/4/2026).

Dizha menjelaskan, berdasarkan hasil pengembangan penyelidikan, RY dan NS diduga melakukan kekerasan terhadap dua balita dengan cara mencubit pipi, menjewer telinga, hingga memukul bagian pantat secara berulang.

“RY dan NS melakukan penganiayaan atau kekerasan terhadap dua balita dengan cara mencubit pipi, menjewer telinga, dan memukul di bagian pantat secara berulang kali,” ujarnya.

Polisi menyebut motif ketiga tersangka melakukan penganiayaan karena kesal terhadap korban yang tidak menurut saat hendak diberikan makanan. Dari motif tersebut, penyidik menilai para tersangka tidak menjalankan profesinya secara profesional sebagai pengasuh anak.

Dalam kasus ini, ketiga tersangka dijerat dengan Pasal 77B juncto Pasal 76B juncto Pasal 80 ayat (1) juncto Pasal 76C Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak. Selain itu, para tersangka juga dikenakan Pasal 466 ayat (1) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2023 tentang Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP), dengan ancaman pidana penjara maksimal lima tahun dan denda Rp72 juta.

“Untuk ketiga tersangka saat ini sudah ditahan di rumah tahanan Polresta Banda Aceh,” kata Dizha.

Berdasarkan data perizinan Pemerintah Kota Banda Aceh, Daycare Baby Preneur diketahui tidak memiliki izin operasional. Pemerintah setempat kini telah menutup tempat penitipan anak tersebut secara permanen. (XRQ)

Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News

Hari Kebebasan Pers Sedunia 2026, Ini Sejarah dan Tema yang Diusung Tahun Ini

0
Hari kebebasan pers
Hari kebebasan pers sedunia 2026. (Foto: Nukilan)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Setiap 3 Mei, dunia memperingati Hari Kebebasan Pers Sedunia atau World Press Freedom Day (WPFD) sebagai momentum untuk menegaskan pentingnya kebebasan pers serta dukungan terhadap media yang menghadapi berbagai bentuk pembatasan dan tekanan.

Dilansir Nukilan.id dari laporan UNESCO, peringatan ini juga menjadi pengingat bagi pemerintah di seluruh dunia untuk menghormati komitmen terhadap kebebasan pers, sekaligus menjadi ruang refleksi bagi insan media terkait etika profesi dan kebebasan berekspresi.

Hari Kebebasan Pers Sedunia pertama kali diproklamasikan oleh United Nations General Assembly pada 1993, menyusul rekomendasi yang diadopsi pada Konferensi Umum UNESCO tahun 1991.

Penetapan tersebut tidak lepas dari seruan para jurnalis Afrika yang melahirkan Windhoek Declaration, sebuah tonggak penting dalam perjuangan kebebasan pers di tingkat global.

Setiap tahunnya, peringatan ini menjadi momen untuk merayakan prinsip dasar kebebasan pers, mengevaluasi kondisi kebebasan media di berbagai negara, membela media dari berbagai bentuk ancaman, serta memberikan penghormatan kepada jurnalis yang gugur saat menjalankan tugas.

Pada 2026, Hari Kebebasan Pers Sedunia mengusung tema “Shaping a Future at Peace”. Konferensi global peringatan tersebut dijadwalkan berlangsung pada 4-5 Mei 2026 di Lusaka, Zambia.

Konferensi itu akan diselenggarakan bersama Pemerintah Zambia dan digelar beriringan dengan RightsCon 2026, yang mempertemukan pegiat kebebasan pers, komunitas hak digital, serta berbagai pemangku kepentingan di bidang teknologi, hak asasi manusia, dan ruang sipil.

Berdasarkan tren global yang diidentifikasi UNESCO, tema tahun ini akan berfokus pada tiga pilar utama.

Pilar pertama menyoroti hubungan antara kebebasan pers, perdamaian, keamanan, dan pembangunan ekonomi, dengan menekankan pentingnya jurnalisme independen dalam membangun kepercayaan publik dan mendukung proses pemulihan di tengah konflik maupun krisis.

Pilar kedua membahas transformasi digital, kecerdasan buatan, dan integritas informasi, termasuk bagaimana platform digital, algoritma, hingga teknologi AI membentuk ulang kebebasan berekspresi, independensi media, dan kepercayaan publik.

Sementara pilar ketiga berfokus pada keberlangsungan, pluralisme, dan inklusi media, termasuk penguatan media lokal, kepentingan publik, serta keterlibatan kelompok muda dan suara-suara yang selama ini kurang terwakili.

Peringatan Hari Kebebasan Pers Sedunia 2026 kembali menegaskan bahwa kebebasan pers bukan hanya fondasi demokrasi, tetapi juga bagian penting dalam menciptakan masyarakat yang damai, inklusif, dan berkelanjutan. (xrq)

Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News

Angka Partisipasi Sekolah di Aceh Lampaui Rata-rata Nasional

0
SISWA
Ilustrasi siswa sekolah dasar di Aceh. (Foto: ChatGPT)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Setiap pagi, ribuan anak di berbagai pelosok Aceh mengenakan seragam, memanggul tas, lalu melangkah menuju ruang-ruang belajar. Di balik rutinitas sederhana itu, tersimpan satu pesan penting, yaitu pendidikan di Aceh masih terus bergerak, dan dalam banyak indikator, bahkan melampaui rata-rata nasional.

Dilansir Nukilan.id dari Data terbaru Badan Pusat Statistik melalui Statistik Pendidikan Provinsi Aceh 2024, partisipasi pendidikan di Aceh terus bergerak positif. Bahkan dalam lima tahun terakhir, Angka Partisipasi Sekolah (APS) Aceh tercatat konsisten berada di atas rata-rata nasional pada hampir seluruh kelompok usia sekolah.

Perjalanan pendidikan itu dimulai sejak usia dini. Semakin banyak anak yang mendapatkan akses pendidikan sejak kecil, semakin kuat fondasi mereka untuk melanjutkan ke jenjang berikutnya.

BPS mencatat, angka partisipasi anak pada program Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) usia 3–6 tahun di Aceh mengalami peningkatan. Pada 2023, angka partisipasi tercatat sebesar 42,94 persen, lalu naik menjadi 43,12 persen pada 2024.

Kenaikan ini memang terlihat tipis. Namun di balik kenaikan 0,18 poin itu, tersimpan pesan penting bahwa kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pendidikan sejak usia dini terus tumbuh.

Hampir Seluruh Anak Usia SD Bersekolah

Pada kelompok usia 7–12 tahun atau jenjang sekolah dasar, Aceh nyaris mencapai partisipasi penuh. Berdasarkan data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2020–2024, capaian Aceh selalu berada di atas angka nasional.

Pada 2020, APS Aceh tercatat 99,84 persen, lebih tinggi dibanding nasional yang berada di angka 99,26 persen. Tahun 2021, angkanya berada di level 99,67 persen, lalu 99,44 persen pada 2022, 99,43 persen pada 2023, dan 99,42 persen pada 2024.

Sementara secara nasional, angka tersebut bergerak di kisaran 99,10 hingga 99,26 persen. Artinya, hampir seluruh anak usia sekolah dasar di Aceh masih berada di bangku pendidikan.

Jenjang SMP Tetap Stabil

Pada kelompok usia 13–15 tahun atau jenjang sekolah menengah pertama, capaian Aceh juga menunjukkan kestabilan yang kuat. Tahun 2020, APS Aceh mencapai 98,49 persen, jauh di atas rata-rata nasional sebesar 95,74 persen.

Angka itu kemudian berada di level 98,42 persen pada 2021, 97,96 persen pada 2022, 97,72 persen pada 2023, dan sedikit naik menjadi 97,77 persen pada 2024.

Di periode yang sama, angka nasional bergerak dari 95,74 persen menjadi 96,17 persen. Selisih yang konsisten ini menunjukkan akses pendidikan menengah pertama di Aceh tetap terjaga.

SMA Masih Unggul Jauh dari Nasional

Keunggulan Aceh semakin terlihat pada kelompok usia 16–18 tahun atau jenjang sekolah menengah atas. Pada 2020, APS Aceh tercatat sebesar 83,27 persen, sementara nasional hanya 72,72 persen.

Tahun 2021, angkanya naik tipis menjadi 83,28 persen. Kemudian berada di angka 83,10 persen pada 2022, meningkat menjadi 83,41 persen pada 2023, dan sedikit turun ke angka 81,55 persen pada 2024.

Meski mengalami penurunan, Aceh tetap unggul hampir tujuh poin dibanding angka nasional yang pada 2024 berada di level 74,64 persen.

Capaian ini menunjukkan bahwa akses pendidikan menengah atas di Aceh masih relatif lebih kuat dibanding banyak daerah lain di Indonesia.

Akses Perguruan Tinggi Juga Lebih Tinggi

Pada kelompok usia 19–23 tahun atau usia perguruan tinggi, Aceh juga menunjukkan performa yang konsisten. Tahun 2020, APS Aceh tercatat sebesar 34,89 persen, lebih tinggi dibanding nasional yang berada di angka 27,41 persen.

Angka tersebut kemudian bergerak menjadi 34,95 persen pada 2021, 34,31 persen pada 2022, naik menjadi 35,24 persen pada 2023, dan berada di angka 34,81 persen pada 2024.

Sementara secara nasional, angka partisipasi perguruan tinggi hanya bergerak dari 27,41 persen menjadi 29,01 persen. Selisih yang tetap terjaga ini menunjukkan bahwa akses masyarakat Aceh terhadap pendidikan tinggi masih relatif kuat.

Di balik seluruh angka itu, ada guru-guru di kota hingga pelosok yang terus menjaga semangat pendidikan tetap hidup. Dan selama angka partisipasi sekolah tetap tinggi, harapan bahwa pendidikan menjadi jalan menuju masa depan yang lebih baik akan terus tumbuh di Aceh. (XRQ)

Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News

Harga Emas di Banda Aceh Turun ke Rp 7,89 Juta per Mayam di Awal Mei 2026

0
Perhiasan emas di Toko Emas Italy di sekitaran Pasar Aceh, Banda Aceh. (Foto: Nukilan/Rezi)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH — Harga emas di Banda Aceh pada Sabtu (2/5/2026) terpantau mengalami penurunan dibandingkan bulan lalu. Jika pada awal April 2026 harga emas sempat menyentuh Rp8.280.000 juta per mayam, kini turun ke level Rp7.890.000 per mayam.

Berdasarkan pantauan Nukilan di toko emas Bina Nusa di kawasan Pasar Aceh, harga emas kadar 99 persen hari ini berada di angka Rp7.890.000 per mayam, turun signifikan dibandingkan Selasa (7/4/2026) yang tercatat Rp8,28 juta per mayam dan belum termasuk ongkos pembuatan.

Sementara itu, jika dibandingkan dengan sehari sebelumnya, Jumat (1/5/2026), harga emas perhiasan justru mengalami kenaikan tipis sebesar Rp30.000 dari Rp7.860.000 per mayam.

Harga emas perhiasan tersebut belum termasuk ongkos pembuatan. Di Banda Aceh, biaya pembuatan emas umumnya berkisar antara Rp100.000 hingga Rp200.000 per mayam, tergantung model dan tingkat kerumitan desain perhiasan.

Untuk emas lokal kadar 99,5 persen, harga jual pada 2 Mei berada di level Rp2.380.000 per gram dan harga beli Rp2.320.000 per gram. Angka ini naik Rp10.000 dibandingkan sehari sebelumnya, yakni Rp2.370.000 untuk harga jual dan Rp2.310.000 per gram untuk harga beli.

Di sisi lain, harga emas logam mulia (LM) kadar 99,99 persen tidak mengalami perubahan pada harga jual yang tetap di angka Rp2.510.000 per gram. Namun, harga beli turun tipis menjadi Rp2.440.000 per gram dari sebelumnya Rp2.445.000 per gram.

Pergerakan harga emas yang fluktuatif ini dipengaruhi oleh dinamika pasar global serta nilai tukar rupiah. Meski sempat berada di level tinggi pada April lalu, harga emas kini menunjukkan tren koreksi di awal Mei.

Reporter: Rezi

KPH VII Aceh Dorong Pengelolaan Hutan Berbasis Ekonomi Masyarakat

0
Ilustrasi. (Foto: Gemini AI)

NUKILAN.ID | KUALA SIMPANG – Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Wilayah VII Aceh terus mendorong program pengawasan dan pelestarian hutan yang selaras dengan upaya peningkatan ekonomi masyarakat di sekitar kawasan hutan.

Kepala UPTD KPH Wilayah VII Aceh, Fajri, mengatakan upaya menjaga kelestarian hutan sembari meningkatkan kesejahteraan masyarakat merupakan program yang memiliki dasar hukum dan telah diatur oleh negara. Salah satu program yang saat ini terus diperkuat di Aceh Tamiang adalah perhutanan sosial (PS).

Melalui program tersebut, KPH mendampingi kelompok masyarakat dalam memanfaatkan kawasan hutan secara legal dan berkelanjutan, termasuk untuk pengembangan sektor perkebunan.

“Untuk wilayah hulu sudah berjalan program PS di Tenggulun, sedangkan di pesisir ada di Bendahara dan kecamatan lainnya,” kata Fajri, Sabtu (25/4/2026).

Ia menjelaskan, program perhutanan sosial telah diatur dalam Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja serta Peraturan Pemerintah Nomor 23 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Kehutanan. Namun, menurutnya, masih banyak masyarakat yang belum memahami skema tersebut sehingga masih ada yang memilih mengelola kawasan hutan secara ilegal.

“Kami terus berjalan memberi pemahaman kepada masyarakat, tujuannya agar keberadaan hutan di kampung mereka bisa dikelola secara legal, maka terjadi peningkatan ekonomi,” ujarnya.

Dalam pelaksanaannya, KPH Wilayah VII juga menilai sosialisasi terkait pengelolaan dan pengawasan kawasan hutan perlu diberikan kepada aparatur sipil negara (ASN) baru, khususnya yang direkrut melalui skema Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK).

Sosialisasi tersebut difokuskan pada penguatan kapasitas aparatur dalam penegakan hukum serta pengamanan kawasan hutan.

“Pegawai baru ini juga butuh diberi pemahaman karena mereka berasal dari berbagai latar belakang instansi dan belum memiliki dasar pengetahuan mengenai pengawasan hutan,” jelasnya.

Pada kesempatan itu, Fajri turut mengapresiasi dukungan dari Forum Konservasi Leuser (FKL) yang dinilai telah berkontribusi dalam mendukung terlaksananya kegiatan tersebut. Menurutnya, kolaborasi lintas pihak menjadi faktor penting dalam menjaga kawasan hutan sekaligus mendorong manfaat ekonomi bagi masyarakat sekitar.

“Harapan kami ke depan hutan bisa terus terjaga, ekonomi masyarakat meningkat, dan semua ini menjadi kebaikan bersama,” ujarnya.

Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News

Rayakan Hardiknas 2026, Berikut 21 Link Twibbon Gratis yang Bisa Langsung Digunakan

0
HARDIKNAS
Contoh twibbon peringatan Hari Pendidikan Nasional (Foto: twibbonize)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) diperingati setiap 2 Mei sebagai momentum penting bagi dunia pendidikan di Indonesia. Peringatan ini menjadi pengingat akan pentingnya pendidikan dalam mendorong kemajuan bangsa sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap peran strategis dunia pendidikan.

Hardiknas juga dimaknai sebagai bentuk penghormatan terhadap jasa Ki Hajar Dewantara, tokoh yang memiliki kontribusi besar dalam perkembangan pendidikan nasional.

Berbagai cara dapat dilakukan untuk merayakan Hari Pendidikan Nasional, salah satunya melalui kampanye digital di media sosial. Salah satu bentuk partisipasi yang kini populer adalah membagikan twibbon sebagai simbol dukungan terhadap dunia pendidikan.

Twibbon dinilai efektif untuk menyebarkan pesan positif secara luas dan menjangkau berbagai kalangan. Selain itu, penggunaan twibbon juga menjadi bentuk sederhana dalam menunjukkan kepedulian terhadap kemajuan pendidikan di Indonesia.

Berikut Nukilan.id sajikan sejumlah link twibbon Hari Pendidikan Nasional 2026 yang dapat digunakan secara gratis:

Masyarakat dapat memilih desain twibbon sesuai preferensi masing-masing sebelum membagikannya melalui media sosial. Partisipasi sederhana ini diharapkan dapat memperkuat semangat bersama dalam mendukung kemajuan pendidikan nasional. (xrq)

Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News

Disnak Aceh Temukan Harga Ayam Pedaging Dijual di Atas HET, Konsumen Berpotensi Dirugikan

0
Ilustrasi ayam. (Foto: dahu-cikeusal.desa.id)

NUKILAN.ID | SUKA MAKMUE – Dinas Peternakan Aceh menemukan harga jual ayam potong atau ayam pedaging di sejumlah kabupaten/kota di Aceh masih dijual di atas Harga Eceran Tertinggi (HET). Bahkan, harga jual di tingkat pedagang ditemukan mencapai Rp85 ribu per ekor, jauh di atas harga ideal yang berkisar Rp60 ribu hingga Rp65 ribu per ekor.

“Ada empat kabupaten dengan harga ayam potong mahal, melebihi HET, yakni Nagan Raya, Aceh Selatan, Simeulue, dan Aceh Tenggara,” kata Kepala Dinas Peternakan Provinsi Aceh, Safridhal, di Nagan Raya, Jumat (1/5/2026).

Safridhal mengatakan, tingginya harga jual ayam pedaging tersebut berpotensi merugikan masyarakat selaku konsumen karena harga yang dipatok tidak sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan pemerintah.

“Berdasarkan pantauan, ada yang menjual hingga Rp85.000 per ekor. Namun, harga idealnya berkisar Rp60 ribu hingga Rp65 ribu per ekor,” sebut Safridhal.

Selain persoalan harga, pihaknya juga menyoroti praktik penjualan ayam potong di Kabupaten Nagan Raya yang masih belum menggunakan alat timbangan, sehingga berpotensi menimbulkan kerugian bagi pembeli.

Karena itu, Dinas Peternakan Aceh mendorong agar penjualan ayam pedaging dilakukan berdasarkan berat per kilogram dengan menggunakan timbangan, sehingga transaksi dapat berlangsung lebih transparan dan tidak merugikan masyarakat.

Safridhal menegaskan pihaknya akan terus melakukan pengawasan terhadap penjualan ayam pedaging di berbagai kabupaten/kota di Aceh. Langkah ini dilakukan agar para pedagang mematuhi harga yang telah ditetapkan pemerintah serta tidak membebani masyarakat dengan harga jual yang melampaui ketentuan.

Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News

Hutama Karya Salurkan Ratusan Paket Sekolah bagi Siswa Terdampak Banjir di Aceh Tamiang

0
Analyst TJSL Hutama Karya, Harya Digdaya, saat memberikan kata sambutan di SDN Medang Ara, Kecamatan Karang Baru, Kabupaten Aceh Tamiang pada Rabu 29 April 2026 (Foto: Dokumentasi PT Hutama Karya)

NUKILAN.ID | KUALA SIMPANG – PT Hutama Karya (Persero) menyalurkan bantuan perlengkapan sekolah bagi siswa terdampak banjir dan longsor di Kabupaten Aceh Tamiang. Bantuan tersebut merupakan bagian dari program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) melalui program HK Peduli: Edu Infra.

Program ini digulirkan sebagai bentuk dukungan terhadap pemulihan sektor pendidikan pascabencana hidrometeorologi yang sempat mengganggu aktivitas belajar mengajar. Sejumlah siswa dilaporkan kehilangan perlengkapan sekolah akibat bencana tersebut.

Penyaluran bantuan dilakukan pada Rabu (29/4/2026) di dua sekolah, yakni SD Negeri Medang Ara dan SD Negeri Alur Baung, Kecamatan Karang Baru. Kegiatan ini juga menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Ulang Tahun ke-65 PT Hutama Karya.

Sebanyak 264 paket perlengkapan sekolah disalurkan kepada siswa yang membutuhkan. Bantuan tersebut terdiri dari seragam lengkap, jilbab, tas, sepatu, hingga perlengkapan alat tulis.

Bantuan diserahkan langsung oleh Analyst TJSL Hutama Karya, Harya Digdaya, kepada pihak sekolah yang turut didampingi Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Aceh Tamiang, Sepriyanto. Program ini diharapkan dapat membantu siswa kembali mengikuti kegiatan belajar dengan lebih nyaman.

Plt Executive Vice President Sekretaris Perusahaan Hutama Karya, Hamdani, mengatakan program tersebut merupakan bentuk kepedulian perusahaan terhadap dampak sosial yang ditimbulkan pascabencana, khususnya di sektor pendidikan.

“Kami memahami bahwa dampak bencana tidak hanya dirasakan secara fisik, tetapi juga memengaruhi semangat belajar anak-anak yang kehilangan perlengkapan sekolah mereka,” ujarnya, Kamis (30/4/2026).

Ia menjelaskan, melalui program HK Peduli: Edu Infra, Hutama Karya ingin memastikan kehadiran perusahaan dapat dirasakan langsung oleh masyarakat, sekaligus membantu memulihkan semangat belajar para siswa.

“Kami berharap perlengkapan sekolah ini dapat membantu mengurangi trauma, dan memotivasi anak-anak untuk kembali belajar dan meraih cita-cita,” katanya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Aceh Tamiang, Sepriyanto, mengapresiasi langkah cepat Hutama Karya dalam membantu pemulihan sektor pendidikan di wilayahnya. Menurutnya, bantuan tersebut sangat tepat sasaran dan memberi manfaat langsung bagi siswa terdampak.

Ia menilai dukungan tersebut penting agar para siswa dapat kembali menjalani proses belajar mengajar dengan baik, sekaligus membantu meringankan beban keluarga pascabencana.

Di SD Negeri Medang Ara, sebanyak 120 paket perlengkapan sekolah disalurkan kepada siswa, sementara di SD Negeri Alur Baung sebanyak 144 paket bantuan diberikan guna mendukung keberlangsungan aktivitas belajar.

Melalui program ini, Hutama Karya menegaskan komitmennya dalam mendukung pembangunan sumber daya manusia, sekaligus terus berkontribusi nyata bagi masyarakat dan pembangunan nasional.

Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News

Alasan Pengasuh Daycare di Banda Aceh Aniaya Bayi, Kesal Korban Tak Nurut Saat Diberi Makan

0
Ilustrasi Daycare. (Foto: ChatGPT)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Polisi menetapkan tiga pengasuh tempat penitipan anak (daycare) di Kota Banda Aceh sebagai tersangka kasus dugaan penganiayaan terhadap tiga bayi. Ketiga pelaku mengaku melakukan kekerasan karena kesal korban tidak menurut saat diberi makan.

“Pelaku sebagai pengasuh kesal terhadap korban karena tidak menuruti di saat akan diberikan makanan,” kata Kasat Reskrim Polresta Banda Aceh, Kompol Miftahuda Dizha Fezuono, kepada wartawan, Kamis (30/4/2026).

Menurut Dizha, tindakan yang dilakukan para tersangka menunjukkan ketidakprofesionalan dalam menjalankan tugas sebagai pengasuh anak. Saat ini, polisi masih terus mendalami kasus tersebut, termasuk menyelidiki legalitas yayasan tempat penitipan anak itu.

“Kami sedang melakukan penyelidikan lebih lanjut tentang legal atau ilegal yayasan tersebut dan tentunya akan dilakukan pengembangan terkait masalah proses hasil penyelidikan,” jelas Dizha.

Adapun tiga pengasuh yang telah ditetapkan sebagai tersangka masing-masing berinisial RY (25), NS (24), dan DS (24). Berdasarkan hasil penyelidikan, para pelaku diduga melakukan penganiayaan dengan cara mencubit pipi korban, menjewer telinga, hingga memukul bagian pantat secara berulang kali.

Saat ini, ketiganya telah ditahan di sel Mapolresta Banda Aceh.

Polisi menjerat para tersangka dengan Pasal 77B juncto Pasal 76B juncto Pasal 80 Ayat (1) juncto Pasal 76C Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, dan/atau Pasal 466 Ayat (1) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2023 tentang Kitab Undang-Undang Hukum Pidana, dengan ancaman hukuman maksimal lima tahun penjara.

Sebelumnya, Pemerintah Kota Banda Aceh menyegel secara permanen tempat penitipan anak bernama Baby Preneur Daycare yang berlokasi di Lamgugob, Kecamatan Syiah Kuala, Banda Aceh, Rabu (29/4/2026) sore.

Penyegelan dilakukan langsung oleh Wali Kota Banda Aceh, Afdhal Khalilullah, dengan memasang surat penyegelan yang ditandatangani Kasatpol PP dan WH Kota Banda Aceh, Muhammad Rizal. Petugas Satpol PP juga memasang garis pembatas berwarna kuning di lokasi.

“Hari ini kita datang kemari untuk kita melakukan penyegelan secara permanen karena memang sudah terbukti ada kesalahan-kesalahan setelah dilakukan penyelidikan,” kata Afdhal.

Afdhal menegaskan, Pemerintah Kota Banda Aceh tidak akan memberikan izin kepada tempat penitipan anak tersebut untuk kembali beroperasi. Selain itu, pemerintah juga akan memberikan pendampingan kepada korban dan keluarganya.

“Yang pasti kita juga akan memberikan pendampingan terhadap orang tuanya dan balitanya,” jelas Afdhal.

Sementara itu, Pemerintah Kota Banda Aceh mengungkapkan bahwa tempat penitipan anak tersebut tidak memiliki izin operasional.

“Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kota Banda Aceh menyatakan bahwa berdasarkan hasil pemeriksaan Baby Preneur Day Care tidak memiliki izin operasional,” kata Anggota Tim Koordinasi Percepatan Pembangunan (TKPP) Kota Banda Aceh, Sulthan Muhammad Yus, dalam konferensi pers di Balai Kota, Selasa (28/4/2026) malam. (xrq)

Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News

Peringati May Day, Polda Aceh Salurkan 2,5 Ton Beras untuk Peserta Hari Buruh di Banda Aceh

0
Wakapolda Brigjen Pol Ari Wahyu Widodo menyerahkan beras kepada peserta Hari Buruh Internasional di Banda Aceh, Jumat (1/5/2026). (FOTO: Bidhumas Polda Aceh)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Kepolisian Daerah (Polda) Aceh menyalurkan bantuan pangan berupa 2,5 ton beras kepada para peserta peringatan Hari Buruh Internasional atau May Day 2026 yang dipusatkan di kawasan Taman Sari, Kota Banda Aceh, Jumat (1/5).

Kepala Bidang Humas Polda Aceh, Kombes Pol Joko Krisdiyanto, mengatakan peringatan May Day di Banda Aceh berlangsung tertib, aman, dan lancar.

“Sebagai bentuk kepedulian sosial, Polda Aceh menyalurkan bantuan pangan berupa 2,5 ton beras kepada para peserta May Day yang dipusatkan di kawasan Taman Sari,” katanya.

Peringatan Hari Buruh Internasional tersebut diikuti sekitar 250 peserta, termasuk tiga penyandang disabilitas. Kegiatan itu tidak hanya menjadi ruang penyampaian aspirasi para pekerja, tetapi juga dirangkai dengan aksi sosial dan pelayanan dari aparat kepolisian.

Selain pembagian bantuan pangan, kegiatan May Day juga diisi dengan aksi donor darah yang digelar bekerja sama dengan PMI Banda Aceh. Donor darah tersebut melibatkan peserta kegiatan maupun masyarakat umum.

“Selain itu, peringatan May Day juga dirangkai dengan donor darah juga dilaksanakan bekerja sama dengan PMI Banda Aceh. Donor darah melibatkan peserta dan masyarakat,” kata Joko Krisdiyanto.

Untuk memastikan kegiatan berjalan kondusif, Polda Aceh bersama Polresta Banda Aceh mengerahkan ratusan personel gabungan yang ditempatkan di sejumlah titik strategis di sepanjang rute kegiatan. Personel bertugas mengatur arus lalu lintas, mengawal jalannya aksi, serta menjaga keamanan selama kegiatan berlangsung.

Rangkaian kegiatan dimulai sejak pagi dengan titik kumpul di halaman Masjid Raya Baiturrahman. Acara diawali dengan sambutan panitia, menyanyikan lagu Indonesia Raya, serta pembacaan doa.

Selanjutnya, massa yang tergabung dalam Aliansi Pekerja Aceh melakukan konvoi menggunakan kendaraan roda dua dan roda empat dengan rute dari depan masjid menuju Simpang Lima. Massa sempat berhenti di depan Gedung DPRA sebelum melanjutkan perjalanan melalui sejumlah ruas jalan utama dan berakhir di kawasan Taman Sari.

“Selama perjalanan, peserta May Day menyampaikan aspirasi terkait isu ketenagakerjaan. Setibanya di lokasi akhir, kegiatan dilanjutkan dengan serta penyerahan santunan kematian secara simbolis kepada ahli waris buruh,” kata Joko Krisdiyanto.

Sementara itu, Ketua Aliansi Pekerja, Saiful Maret, menyampaikan apresiasi kepada pihak kepolisian atas dukungan dan pelayanan selama rangkaian kegiatan May Day berlangsung.

“Peringatan May Day di Banda Aceh tidak hanya menjadi ajang penyampaian aspirasi, tetapi juga momentum memperkuat solidaritas serta kepedulian sosial di tengah masyarakat,” kata Saiful Maret.

Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News