Beranda blog Halaman 107

Salim Syuhada Kecam Pencatutan Nama HAMAS dalam Kontestasi FPMPA

0
Salim Syuhada. (Foto: For Nukilan)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH — Salim Syuhada mengecam keras tindakan oknum yang mencatut nama Himpunan Mahasiswa Aceh Selatan (HAMAS) dalam kepentingan Kongres Forum Paguyuban Mahasiswa Pemuda Aceh (FPMPA). Ia menilai praktik tersebut sebagai penyalahgunaan identitas organisasi yang tidak hanya melanggar etika, tetapi juga mencederai marwah kolektif mahasiswa Aceh Selatan.

Salim menegaskan, HAMAS adalah organisasi mahasiswa yang memiliki sejarah, struktur kepengurusan, serta mandat perjuangan yang jelas. Karena itu, klaim sepihak yang dilakukan tanpa dasar organisatoris yang sah dinilainya sebagai tindakan manipulatif yang tidak dapat dibenarkan, baik secara moral maupun organisatoris.

“Mengatasnamakan HAMAS tanpa mandat resmi adalah bentuk pembajakan identitas organisasi. Ini bukan sekadar pelanggaran administratif, tetapi juga pengkhianatan terhadap nilai kejujuran dan integritas gerakan mahasiswa,” tegas Salim.

Ia menambahkan, gerakan mahasiswa seharusnya dibangun di atas prinsip transparansi, demokrasi, serta tanggung jawab kolektif. Menurutnya, penggunaan nama organisasi untuk memperoleh legitimasi politik dalam forum tertentu merupakan praktik instan yang justru merusak nilai dasar perjuangan mahasiswa.

Salim juga mengingatkan agar Forum Paguyuban Mahasiswa Pemuda Aceh sebagai ruang konsolidasi mahasiswa daerah tidak disalahgunakan. Forum tersebut, kata dia, semestinya menjadi wadah pemersatu, bukan justru membuka ruang bagi praktik-praktik tidak etis yang berpotensi memecah solidaritas antar mahasiswa.

“Jika kongres dibangun di atas klaim palsu dan legitimasi semu, maka sejak awal ia telah kehilangan makna etik dan politiknya,” lanjutnya.

Atas kejadian itu, Salim Syuhada mendesak pihak-pihak terkait untuk segera memberikan klarifikasi secara terbuka serta menghentikan penggunaan nama HAMAS dalam bentuk apa pun tanpa persetujuan resmi organisasi. Ia juga mengajak seluruh mahasiswa Aceh untuk tetap bersikap kritis dan tidak membiarkan gerakan mahasiswa direduksi menjadi alat kepentingan segelintir pihak.

“Gerakan mahasiswa harus dijaga kemurniannya. Nama organisasi bukan alat transaksi, melainkan amanah sejarah,” tutup Salim.

Penanganan Terpadu Bencana Hidrometeorologi di Aceh Dipercepat

0
Proses perbaikan jembatan hancur terdampak bencana di Aceh (Foto: ANTARA FOTO/Syifa Yulinnas)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH — Pemerintah melalui Kementerian Pekerjaan Umum terus mempercepat penanganan bencana hidrometeorologi yang melanda sejumlah wilayah di Provinsi Aceh. Bencana banjir dan longsor tersebut berdampak luas terhadap infrastruktur strategis, seperti jalan, jembatan, sungai, hingga jaringan irigasi. Hingga pertengahan Januari 2026, tercatat 523 titik terdampak yang terdiri dari 465 titik banjir dan 58 titik longsor. Dampak bencana menyebabkan tanggul jebol, terputusnya ruas jalan dan jembatan, serta genangan air di sejumlah jalur vital. Pemerintah bergerak cepat guna menjamin keselamatan masyarakat sekaligus menjaga konektivitas antarwilayah.

Untuk mempercepat penanganan di lapangan, sebanyak 815 personel dikerahkan melalui kolaborasi lintas sektor. Dari jumlah tersebut, 581 personel berasal dari unsur TNI, Polri, dan masyarakat, serta melibatkan sekitar 12.000 tenaga kerja konstruksi. Dukungan peralatan juga dimaksimalkan dengan pengerahan 1.052 unit alat berat, 269 unit sarana dan prasarana, serta 912 unit bahan pendukung. Seluruh sumber daya tersebut difokuskan pada pembukaan akses, penanganan titik kritis, dan percepatan pemulihan infrastruktur terdampak. Data ini tercatat hingga 15 Januari 2026.

Pada sektor konektivitas, penanganan jalan dan jembatan nasional menunjukkan progres signifikan. Seluruh 54 titik konektivitas jalan dan jembatan nasional yang sebelumnya terdampak kini telah kembali berfungsi. Pulihnya akses ini memungkinkan distribusi logistik dan mobilitas masyarakat kembali berjalan normal. Pemerintah menjadikan pemulihan konektivitas sebagai prioritas utama guna menjaga aktivitas ekonomi dan kelangsungan pelayanan dasar, dengan pelaksanaan bertahap yang tetap memperhatikan aspek keselamatan.

Di sektor sumber daya air, penanganan masih terus berlangsung di sejumlah lokasi. Dari 14 daerah irigasi terdampak, sebanyak 10 daerah telah ditangani. Sementara itu, seluruh 10 bendung terdampak telah selesai diperbaiki. Penanganan juga dilakukan pada alur sungai, dengan 21 dari 30 sungai masih dalam proses penanganan untuk menekan risiko banjir susulan. Upaya pemenuhan kebutuhan air bersih turut diperkuat melalui pemasangan sumur bor. Hingga pertengahan Januari 2026, telah terpasang 8 sumur bor dalam dan 9 sumur bor dangkal, sementara puluhan unit lainnya masih dalam tahap pengerjaan.

Penanganan darurat juga menyasar pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat terdampak di lima kabupaten, yakni Aceh Tamiang, Aceh Utara, Pidie, Pidie Jaya, dan Bireuen. Sebanyak 30 dari 71 SPAM yang terdampak telah kembali berfungsi. Selain itu, 237 sarana dan prasarana pendukung, seperti toren, toilet darurat, biofilter, dan mobil tangki air, telah terpasang untuk mendukung kebutuhan masyarakat.

Pembangunan hunian sementara turut dikebut di sejumlah wilayah. Di Kabupaten Aceh Tamiang, pembangunan 84 unit hunian sementara telah mencapai progres 96,97 persen dan ditargetkan rampung pada 20 Januari 2026. Sementara itu, di Kabupaten Bener Meriah, pembangunan 480 unit hunian sementara masih berada pada tahap awal dengan target penyelesaian pada 15 Februari 2026.

BMKG Laksanakan Operasi Modifikasi Cuaca di Aceh untuk Reduksi Dampak Siklon Tropis Senyar

0
BMKG Laksanakan Operasi Modifikasi Cuaca di Aceh untuk Reduksi Dampak Siklon Tropis Senyar. (Foto: BMKG)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) bekerja sama dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaksanakan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) sebagai langkah mitigasi darurat pasca terjangan Siklon Tropis Senyar yang berdampak luas di Pulau Sumatera, khususnya Provinsi Aceh.

Siklon Tropis Senyar tercatat sebagai bencana hidrometeorologi ekstrem yang menimbulkan kerusakan lingkungan berskala besar, kerugian materiil signifikan, serta korban jiwa. Fenomena ini dinilai tidak lazim karena sistem siklon tumbuh dan menguat di wilayah yang relatif dekat dengan garis khatulistiwa, sehingga memberikan pengaruh langsung terhadap kondisi atmosfer di daratan Sumatera.

Sebagai bentuk respons atas situasi tersebut, BMKG bersama BNPB menggelar OMC Mitigasi Banjir Provinsi Aceh sejak 28 November 2025. Operasi ini masih terus berlangsung seiring proses evakuasi dan pemulihan yang belum sepenuhnya tuntas. Status tanggap darurat bencana di Aceh sendiri telah diperpanjang hingga 22 Januari 2026.

Direktur Tata Kelola Modifikasi Cuaca BMKG, Edison Kurniawan, menyampaikan bahwa pelaksanaan OMC didukung dua unit pesawat Cessna Caravan, yakni PK-SNP milik PT Smart Cakrawala Aviation (SCA) dan PK-SNN milik PT Milan Pillery Bersatu (MPB). Kedua pesawat tersebut beroperasi dari Posko Stasiun Meteorologi Sultan Iskandar Muda (SIM), Aceh.

“Hingga Minggu, 18 Januari 2026 atau hari ke-52 pelaksanaan, OMC telah melaksanakan 312 sorti penerbangan dengan total bahan semai yang digunakan mencapai 139,8 ton NaCl dan 156,6 ton CaO,” jelas Edison.

Hasil evaluasi BMKG menunjukkan bahwa kegiatan OMC mampu menurunkan intensitas curah hujan di wilayah Aceh hingga 32 persen. Penurunan ini dinilai memberikan kontribusi penting dalam mendukung penanganan darurat bencana sekaligus mempercepat pemulihan infrastruktur yang terdampak.

BMKG dan BNPB menegaskan komitmen penuh dalam mendukung pelaksanaan OMC sebagai bagian dari tahapan penanganan pascabencana, khususnya dalam proses rekonsiliasi dan rekonstruksi akibat banjir yang dipicu aktivitas Siklon Tropis Senyar.

“Upaya OMC akan sangat membantu untuk meminimalisir dampak cuaca ekstrem serta memberikan dukungan bagi pembangunan konstruksi hunian sementara, perbaikan jembatan penghubung, dan normalisasi aliran sungai di wilayah Provinsi Aceh,” ujar Edison.

Sebelumnya, BMKG melalui Tropical Cyclone Warning Center (TCWC) Jakarta telah memantau kemunculan Bibit Siklon 95B sejak 21 November 2025. Sistem tersebut kemudian berkembang menjadi Siklon Tropis Senyar pada 26 November dini hari di koordinat 5,0° Lintang Utara, dengan kecepatan angin maksimum mencapai 80 kilometer per jam. Kondisi ini memicu hujan lebat disertai angin kencang yang berlangsung secara persisten di wilayah Aceh.

Berdasarkan data pemantauan BMKG dan koordinasi lintas instansi, dampak Siklon Tropis Senyar menyebabkan lumpuhnya infrastruktur vital di 17 kabupaten/kota di Aceh. Banjir dengan ketinggian hingga lima meter di sejumlah titik memaksa puluhan ribu warga mengungsi. Selain menimbulkan korban jiwa, beberapa warga juga dilaporkan hilang akibat derasnya arus banjir dan longsor.

Kerusakan turut terjadi pada berbagai fasilitas publik, mulai dari kantor pemerintahan, sekolah, hingga layanan kesehatan yang tidak dapat beroperasi akibat genangan air bercampur sedimen. Dari sisi lingkungan, pendangkalan sungai dan sedimentasi dalam skala besar merusak ekosistem bantaran sungai serta meningkatkan potensi bencana lanjutan. Sejumlah jalur transportasi utama yang menghubungkan wilayah timur dan utara Aceh juga terputus, sehingga menghambat distribusi logistik dan bantuan kemanusiaan.

Menanggapi kondisi tersebut, pemerintah melalui sinergi BNPB, BMKG, dan Pemerintah Daerah Provinsi Aceh menginisiasi OMC sebagai strategi mitigasi darurat. Langkah ini bertujuan menekan potensi hujan ekstrem lanjutan, mendukung proses evakuasi, serta mengamankan pemulihan infrastruktur dan pembangunan hunian sementara agar tidak terganggu cuaca buruk susulan.

“Harapannya OMC dapat dilaksanakan secara tepat waktu dan tepat sasaran, sebagai bentuk upaya mitigasi dan penanggulangan bencana,” pungkas Edison.

Menteri PU Kebut Pembangunan Huntara di Aceh, Target Nol Warga Tinggal di Tenda Saat Ramadhan

0
Suasana hunian sementara bagi warga terdampak bencana di Aceh. (FOTO: Kementerian PU)

NUKILAN.ID | KUALA SIMPANG – Menteri Pekerjaan Umum (PU) Dody Hanggodo mendorong percepatan pembangunan hunian sementara (huntara) bagi masyarakat terdampak bencana di Provinsi Aceh. Pemerintah menargetkan tidak ada lagi warga yang tinggal di tenda ketika memasuki bulan suci Ramadhan 1447 Hijriah.

“Kita dorong secepat-cepatnya agar segera selesai. Kita semua bekerja keras supaya saat Ramadhan, kalau bisa nol warga yang tinggal di tenda. Kami ingin masyarakat bisa menjalankan ibadah di bulan Ramadhan dengan lebih tenang dan maksimal,” ujar Dody dalam keterangannya di Jakarta, Rabu (21/1/2026).

Saat ini, Kementerian PU tengah menyelesaikan tahap akhir pembangunan huntara di Kecamatan Karang Baru, Kabupaten Aceh Tamiang. Progres pembangunan telah mencapai 98,75 persen dan ditargetkan segera dapat dimanfaatkan oleh warga terdampak bencana.

Huntara tersebut dibangun menggunakan metode konstruksi modular dengan sistem Modular Lite (MOLI) tanpa alat berat, sehingga memungkinkan proses pembangunan dilakukan lebih cepat di tengah kondisi pascabencana. Pembangunan ini merupakan bagian dari paket Penanganan Keadaan Darurat Pascabencana Aceh 1.

Secara teknis, Huntara 1 di Aceh Tamiang dibangun di atas lahan seluas 5.427 meter persegi dengan total luas bangunan 2.052 meter persegi. Hunian ini terdiri atas tujuh blok bangunan dan satu mushola.

Sebanyak 114 modul disiapkan untuk menampung 84 kepala keluarga atau sekitar 336 jiwa. Fasilitas pendukung yang tersedia meliputi 42 unit mandi, cuci, kakus (MCK), area komunal multifungsi, area jemur, mushola, genset, serta toren air. Kebutuhan air bersih dipenuhi melalui sumur bor dan tandon, pengolahan air limbah menggunakan sistem biotek, serta pasokan listrik berasal dari PLN.

Dody menegaskan bahwa penyelesaian huntara sebelum Ramadhan sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto agar penanganan pascabencana tidak hanya berfokus pada pembangunan fisik, tetapi juga pada rasa aman dan kenyamanan masyarakat.

“Itu sudah menjadi arah Bapak Presiden. Kita memberikan dukungan penuh kepada masyarakat, khususnya di Aceh dan Sumatera Barat yang mayoritas Muslim, agar saat Ramadhan mereka bisa beribadah dengan lebih tenang, meskipun dalam kondisi pascabencana,” ujarnya.

Prabowo Cabut Izin 28 Perusahaan di Aceh, Sumut, dan Sumbar Terkait Pelanggaran Hutan

0
Perusahaan yang izinnya dicabut Prabowo (FOTO: Herdi Arif Al Hikam/detikcom).

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Presiden Prabowo Subianto mencabut izin usaha 28 perusahaan yang dinilai terbukti melakukan pelanggaran dalam pemanfaatan kawasan hutan pascabencana di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Daftar perusahaan tersebut diumumkan langsung oleh Istana Kepresidenan.

“Bapak Presiden mengambil keputusan untuk mencabut izin 28 perusahaan yang terbukti melakukan pelanggaran,” kata Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi di Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa (20/1/2026).

Menurut Prasetyo, perusahaan yang izinnya dicabut terdiri atas 22 Perusahaan Berusaha Pemanfaatan Hutan (PBPH) serta enam badan usaha nonkehutanan yang bergerak di sektor tambang, perkebunan, dan perizinan berusaha pemanfaatan hasil hutan kayu.

“28 perusahaan tersebut terdiri dari 22 Perusahaan Berusaha Pemanfaatan Hutan atau PBPH Hutan Alam dan Hutan Tanaman, seluas 1.010.592 hektare, serta 6 perusahaan di bidang tambang, perkebunan, dan perizinan berusaha pemanfaatan hasil hutan kayu atau PBPHHK,” ujarnya.

Dari total 22 PBPH yang dicabut izinnya, tiga perusahaan beroperasi di Aceh, enam di Sumatera Barat, dan 13 di Sumatera Utara. Sementara itu, enam badan usaha nonkehutanan yang izinnya dicabut tersebar di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.

Di Aceh, PBPH yang dicabut izinnya adalah PT Aceh Nusa Indrapuri, PT Rimba Timur Sentosa, dan PT Rimba Wawasan Permai. Adapun badan usaha nonkehutanan di Aceh yang terkena pencabutan izin yakni PT Ika Bina Agro Wisesa dan CV Rimba Jaya.

Di Sumatera Barat, enam PBPH yang dicabut izinnya meliputi PT Minas Pagai Lumber, PT Biomass Andalan Energi, PT Bukit Raya Mudisa, PT Dhara Silva Lestari, PT Sukses Jaya Wood, serta PT Salaki Summa Sejahtera. Dua badan usaha nonkehutanan di provinsi ini yang izinnya dicabut adalah PT Perkebunan Pelalu Raya dan PT Inang Sari.

Sementara di Sumatera Utara, pencabutan izin PBPH mencakup 13 perusahaan, di antaranya PT Anugerah Rimba Makmur, PT Barumun Raya Padang Langkat, PT Gunung Raya Utama Timber, PT Hutan Barumun Perkasa, hingga PT Toba Pulp Lestari Tbk. Selain itu, dua badan usaha nonkehutanan di Sumatera Utara yang dicabut izinnya adalah PT Agincourt Resources dan PT North Sumatra Hydro Energy.

Kebijakan pencabutan izin ini disebut sebagai langkah tegas pemerintah dalam menertibkan pemanfaatan sumber daya alam, khususnya di wilayah terdampak bencana, agar pengelolaan hutan dan lingkungan dilakukan sesuai aturan yang berlaku.

Kapolda Aceh Salurkan 300 Kasur dan Dana Hunian Sementara bagi Korban Banjir Bandang Ketambe

0
Kapolda Aceh Salurkan 300 Kasur dan Dana Hunian Sementara bagi Korban Banjir Bandang Ketambe. (Foto: For NUKILAN)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH Kapolda Aceh Irjen Pol. Drs. Marzuki Ali Basyah menyerahkan bantuan kemanusiaan kepada korban banjir bandang di Kecamatan Ketambe, Kabupaten Aceh Tenggara, Selasa, 20 Januari 2026.

Bantuan tersebut berupa 300 unit kasur tidur, paket sembako, serta Dana Tunggu Hunian (DTH) bagi warga yang rumahnya hanyut diterjang banjir.

Ratusan kasur tersebut merupakan hasil kolaborasi Kapolda Aceh bersama Yayasan PT Mapanbumi, Paramitha Foundation, dan Yayasan HOPE. Selain itu, Kapolda Aceh juga menyerahkan secara simbolis Dana Tunggu Hunian sebesar Rp1,8 juta untuk jangka waktu tiga bulan kepada para korban terdampak.

Seluruh bantuan diantarkan langsung oleh Kapolda Aceh ke lokasi bencana sebagai bentuk kepedulian dan kehadiran negara di tengah masyarakat yang sedang mengalami musibah.

Kepada Nukilan.id Kapolda menungkapkan bahwa dalam kunjungan tersebut ia juga berinteraksi langsung dengan para korban untuk melihat kondisi terkini serta mendengarkan kebutuhan mendesak warga, terutama menjelang bulan suci Ramadan yang akan datang pada Februari mendatang.

“Saya bersama pejabat utama Polda Aceh, didampingi Kapolres Aceh Tenggara beserta unsur Forkopimda, mengantar langsung bantuan kasur dan Dana Tunggu Hunian untuk korban banjir bandang di Ketambe. Sekaligus ingin menanyakan langsung apa saja kebutuhan mendesak para korban, khususnya menjelang bulan suci Ramadan,” ujar Irjen Pol. Marzuki Ali Basyah.

Kapolda Aceh juga mengajak seluruh elemen untuk terus memberikan perhatian dan dukungan secara berkelanjutan terhadap para korban banjir bandang, khususnya dalam menghadapi Ramadan.

Selain itu, dalam kunjungan kerjanya, Marzuki Ali Basyah menyampaikan apresiasi kepada Kapolres Aceh Tenggara AKBP Yulhendri, unsur Forkopimda, serta masyarakat atas sinergi dan kerja sama dalam penanggulangan bencana banjir bandang yang terjadi pada 27 November 2025 lalu.

Berkat kolaborasi seluruh pihak, Kabupaten Aceh Tenggara tercatat sebagai daerah pertama yang berhasil menurunkan status dari tanggap darurat bencana ke tahap pemulihan pascabencana. Menurut Kapolda Aceh, semangat kebersamaan tersebut mencerminkan moto “sepakat segenep” yang menjadi identitas dan karakter masyarakat Aceh Tenggara. (XRQ)

Reporter: Akil

Rusak Parah Pascabanjir, SMAS–SMPS Bustanul Ulum Bener Meriah Ajukan Relokasi Sekolah

0
SMAS–SMPS Bustanul Ulum Bener Meriah. (Foto: Fo Nukilan)

NUKILAN.ID | REDELONG – Banjir bandang yang melanda Kabupaten Bener Meriah pada akhir November 2025 lalu masih meninggalkan dampak serius, terutama terhadap sektor pendidikan. Salah satu lembaga pendidikan yang mengalami kerusakan berat adalah SMAS dan SMPS Terpadu Bustanul Ulum, yang hingga kini belum dapat menjalankan aktivitas belajar mengajar secara normal.

Kondisi tersebut disampaikan Kepala SMAS Bustanul Ulum, Jailani, S.Ag, saat menerima kunjungan Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pendidikan Aceh, Murthalamuddin, S.Pd., MSP, bersama tim Humas pada Selasa (20/1/2026).

Jailani menjelaskan, banjir bandang disertai tanah longsor yang terjadi pada 26 November 2025 menyebabkan sejumlah fasilitas sekolah mengalami kerusakan parah. Letak sekolah yang berada di tepi aliran sungai dinilai sangat rawan terhadap bencana susulan.

“Pasca banjir, ada beberapa gedung yang tidak bisa lagi kami fungsikan. Lokasi sekolah kami berada di pinggir sungai, sehingga kami sangat khawatir akan adanya banjir susulan,” ujar Jailani.

Ia merinci, kerusakan terjadi pada berbagai bangunan vital, mulai dari gedung asrama siswa, ruang kelas, hingga kantor sekolah yang mengalami retakan serius dan dinyatakan tidak layak digunakan. Selain itu, bangunan laboratorium di bagian belakang sekolah juga terdampak longsor, termasuk jembatan penghubung menuju permukiman warga dan akses ke pusat kota.

“Musala putra juga tidak bisa kami manfaatkan lagi karena tangganya ambruk, besinya sudah rusak. Begitu juga dengan perumahan guru, perpustakaan, ruang kepala sekolah, ruang administrasi, ruang guru, serta tiga unit ruang belajar, semuanya tidak bisa digunakan lagi,” jelasnya.

Tragedi banjir bandang tersebut tidak hanya menimbulkan kerusakan fisik, tetapi juga menelan korban jiwa. Seorang guru SMAS Bustanul Ulum dilaporkan meninggal dunia saat kejadian.

“Kami sangat berduka. Seorang guru kami, almarhum Sandika, meninggal dunia sekitar pukul 03.00 dini hari. Beliau terjebak di kamar mandi saat berupaya menyelamatkan siswa, hingga bangunan ambruk dan beliau terbawa arus banjir,” tutur Jailani.

Atas kondisi itu, pihak sekolah secara resmi mengajukan permohonan bantuan kepada Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia untuk mendukung pembangunan ulang sekaligus relokasi sekolah ke lokasi yang lebih aman.

“Kami sangat berharap kepada Bapak Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia untuk membantu kami dalam relokasi dan pembangunan kembali gedung SMAS dan SMPS Terpadu Bustanul Ulum. Agar proses pendidikan di dayah kami bisa kembali normal pasca bencana banjir bandang ini,” ungkapnya.

Harga Emas di Banda Aceh Cetak Rekor Tertinggi, Per Mayam Tembus Rp 8,3 Juta pada 20 Januari 2026

0
Ilustrasi untung rugi jual emas di toko perhiasan (Photo by Pixabay)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Harga emas per mayam di Banda Aceh kembali mencatatkan rekor tertinggi sepanjang sejarah perdagangan emas daerah tersebut. Pada Selasa (20/1/2026), harga emas mengalami kenaikan Rp 50.000 per mayam.

Kenaikan itu membuat harga emas yang sebelumnya berada di level Rp 8.250.000 per mayam, kini menjadi Rp 8.300.000 per mayam. Angka tersebut sekaligus menjadi harga tertinggi yang pernah tercatat di Banda Aceh.

Lonjakan harga emas per mayam di Banda Aceh dipengaruhi oleh kenaikan harga emas dunia serta meningkatnya harga emas Antam di pasar nasional. Situasi global yang belum stabil mendorong para investor kembali menjadikan emas sebagai aset lindung nilai atau safe haven.

Harga emas dunia sendiri dilaporkan berada pada level tertinggi, seiring meningkatnya kekhawatiran pasar global. Salah satu pemicunya adalah pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang mengancam akan mengenakan tarif tambahan terhadap sejumlah negara Eropa dalam sengketa terkait wilayah Greenland.

Dengan kondisi geopolitik dan ekonomi global yang masih penuh ketidakpastian, harga emas diperkirakan masih berpotensi bergerak fluktuatif, namun cenderung bertahan di level tinggi dalam waktu dekat.

Sementara itu, berdasarkan informasi dari Toko Emas Al-Fath di Pasar Ulee Kareng, Banda Aceh, harga emas hari ini dijual Rp 8.300.000 per mayam, atau naik Rp 50.000 dibandingkan hari sebelumnya.

“Harga emas hari ini di Toko Emas Al-Fath Rp 8.300.000 per mayam, belum termasuk ongkos. Naik lagi. Harga emas bisa berubah sewaktu-waktu,” demikian keterangan dari pihak Toko Emas Al-Fath dikutip dari SerambiNews.

Harga tersebut belum termasuk ongkos pembuatan, yang berkisar antara Rp 100.000 hingga Rp 150.000 per mayam, tergantung tingkat kerumitan model perhiasan.

Selain emas perhiasan, amatan Nukilan.id harga emas bersertifikat produksi Antam juga tercatat mengalami kenaikan. Mengacu pada data dari situs resmi Logam Mulia, harga emas Antam untuk pecahan 1 gram pada Selasa (20/1/2026) berada di level Rp 2.705.000. (XRQ)

Reporter: Akil

Bencana Banjir dan Longsor di Aceh Tewaskan 561 Orang, Lebih dari 91 Ribu Warga Mengungsi

0
Sejumlah pengendara melintasi jalan yang tergenang banjir di Bukit Tempurung, Kota Kuala Simpang, Kabupaten Aceh Tamiang, Provinsi Aceh, Jumat (9/1/2026). (FOTO: BNPB)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH — Bencana banjir dan tanah longsor yang melanda Aceh sejak 26 November 2025 telah menimbulkan dampak serius di 18 kabupaten/kota. Hingga 20 Januari 2026, tercatat 561 orang meninggal dunia, ribuan lainnya luka-luka, dan puluhan orang masih dinyatakan hilang.

Data tersebut dikutip Nukilan.id dari Laporan Harian Posko Health Emergency Operation Center (HEOC) Dinas Kesehatan Aceh. Bencana ini ditetapkan dalam Status Tanggap Darurat Bencana berdasarkan SK Gubernur Aceh Nomor 300.2/05/2026 tentang Penetapan Perpanjangan Status Tanggap Darurat selama 14 hari, terhitung sejak 9 Januari hingga 22 Januari 2026.

Selain korban meninggal, tercatat 456 orang mengalami luka berat, 4.939 luka ringan, serta 30 orang dilaporkan hilang. Dampak bencana juga memaksa warga mengungsi ke 988 titik pengungsian, dengan total 91.703 jiwa terdampak.

Sektor kesehatan turut mengalami tekanan berat. Sebanyak 23 rumah sakit pemerintah dan 309 puskesmas berada di wilayah kabupaten/kota terdampak. Dari jumlah tersebut, dua puskesmas dilaporkan belum dapat beroperasi, yakni Puskesmas Lokop di Aceh Timur dan Puskesmas Jambur Lak Lak di Aceh Tenggara.

Kerusakan parah juga terjadi pada fasilitas layanan kesehatan tingkat pertama. Sedikitnya 23 puskesmas mengalami rusak berat, di antaranya Puskesmas Langkahan, Blang Geulumpang, Simpang Tiga, Lhok Beuringen, Ranto Peurlak, Peunaron, Lokop, Matang Pudeng, Pante Bidari, Sungai Iyu, Manyak Paed, Sekerak, Karang Baru, Banda Mulia, Tamiang Hulu, Bandar Pusaka, Kejuruan Muda, Simpang Kiri, Rantau, Bendahara, Kuala Simpang, Jambur Lak Lak, dan Jangka Buya.

Pemerintah Aceh bersama lintas sektor terus melakukan penanganan darurat, termasuk pemenuhan layanan kesehatan bagi pengungsi dan percepatan pemulihan fasilitas kesehatan yang terdampak bencana. (XRQ)

Reporter: Akil

Pajak Kendaraan Bermotor Masih Jadi Penopang Utama PAD Aceh Barat

0
Ilustarsi pajak kendaraan bermotor. (Foto: Suarapemerintah)

NUKILAN.ID | MEULABOH – Penerimaan pajak dari sektor kendaraan bermotor masih menjadi salah satu andalan Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten Aceh Barat. Hal tersebut disampaikan dalam rapat pembentukan Satuan Tugas (Satgas) Optimalisasi PAD yang digelar di Ruang Rapat Teuku Umar Setdakab Aceh Barat, Senin, 19 Januari 2026.

Dalam rapat tersebut, Kepala Seksi Pendataan dan Penetapan Samsat Aceh Barat, Awal Muhaddir SR, SE, MSi, memaparkan realisasi penerimaan Pajak Kendaraan Bermotor (PKB) dan Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor (BBNKB) tahun 2025. Pemaparan dilakukan di hadapan Bupati Aceh Barat, Tarmizi SP, MM, serta jajaran Satuan Kerja Perangkat Kabupaten (SKPK).

Awal Muhaddir menyampaikan bahwa hingga akhir tahun 2025, realisasi penerimaan PKB dan BBNKB di Aceh Barat telah mencapai sekitar Rp21,8 miliar. Angka tersebut setara dengan 79,8 persen dari target yang ditetapkan sebesar Rp31 miliar.

Ia menilai, potensi peningkatan PAD dari sektor kendaraan bermotor di Aceh Barat masih terbuka lebar. Berdasarkan data Samsat, jumlah kendaraan yang beredar di wilayah tersebut mencapai sekitar 40 ribu unit setiap tahunnya, baik kendaraan baru maupun kendaraan bekas.

“Potensi kendaraan yang ada di Aceh Barat menjadi peluang utama dan terbesar dalam peningkatan PAD, khususnya dari sektor PKB dan BBNKB,” ujarnya.

Selain PKB dan BBNKB, Awal Muhaddir juga menyoroti peran penting opsen pajak kendaraan bermotor yang dibagikan kepada pemerintah kabupaten. Ia menjelaskan bahwa Pemerintah Kabupaten Aceh Barat menerima porsi sebesar 66 persen dari setiap pembayaran pajak kendaraan bermotor dan BBNKB.

“Sebesar 66 persen dari setiap pajak kendaraan yang dibayarkan langsung disetorkan ke rekening PAD Pemerintah Kabupaten Aceh Barat. Untuk tahun 2025, total realisasi opsen yang diterima tercatat sekitar Rp11,33 miliar,” katanya.

Menurut Awal Muhaddir, capaian tersebut menunjukkan kontribusi yang cukup signifikan terhadap PAD Aceh Barat. Ia memproyeksikan, penerimaan dari opsen pajak kendaraan bermotor akan terus meningkat seiring dengan bertambahnya jumlah kendaraan di daerah tersebut.

“Ini menjadi pedoman bagi kita bahwa penerimaan dari opsen setiap tahun akan terus bertambah. Sumber PAD ini dapat disinergikan untuk peningkatan layanan publik, fasilitas daerah, serta program pembangunan lainnya di Aceh Barat,” ucapnya.