Beranda blog Halaman 106

Perpisahan Haru Warnai Purna Tugas Ibu Asmidar B di KUA Kluet Utara

0

NUKILAN.ID | TAPAKTUAN — Suasana penuh haru dan keakraban menyelimuti keluarga besar Kantor Urusan Agama (KUA) Kluet Utara dalam acara perpisahan untuk Ibu Asmidar B yang resmi memasuki masa purna tugas.

Kegiatan yang digelar di kawasan Pantai Pasie Lembang tersebut menjadi lebih dari sekadar seremoni. Momen itu dimanfaatkan untuk mengenang perjalanan panjang pengabdian seorang aparatur yang selama ini setia menjalankan tugas pelayanan kepada masyarakat.

Seluruh jajaran pegawai KUA Kluet Utara hadir dalam nuansa kekeluargaan yang begitu terasa. Canda, cerita, serta rasa haru menyatu, menggambarkan besarnya peran dan kedekatan Ibu Asmidar B di lingkungan kerja.

Kepala KUA Kluet Utara, Bapak Donni, kepada Nukilan.id menyampaikan apresiasi atas dedikasi dan pengabdian yang telah diberikan selama bertugas. Menurutnya, sosok Ibu Asmidar B telah menjadi teladan bagi para pegawai dalam menjalankan amanah dan tanggung jawab.

“Ibu Asmidar B adalah sosok teladan bagi kita semua. Dedikasi dan tanggung jawab beliau menjadi bentuk jasa yang sangat berarti bagi KUA Kluet Utara,” ujar Bapak Donni.

Rekan-rekan kerja lainnya juga menilai pengabdian Ibu Asmidar B bukan hanya tercermin melalui pekerjaan, tetapi juga lewat ketulusan dan keikhlasan yang selama ini ditunjukkan dalam keseharian.

Sementara itu, dengan suara bergetar, Ibu Asmidar B menyampaikan rasa terima kasih atas kebersamaan yang telah terjalin selama ini. Ia juga menyampaikan permohonan maaf apabila selama bertugas terdapat kekhilafan, serta berharap tali silaturahmi tetap terjaga meski masa pengabdian telah berakhir.

Acara kemudian ditutup dengan penyerahan cenderamata sebagai simbol kenangan, dilanjutkan doa bersama agar beliau senantiasa diberikan kesehatan, kebahagiaan, dan keberkahan dalam menjalani masa pensiun.

Pemilihan Pantai Pasie Lembang sebagai lokasi kegiatan turut menambah kesan mendalam. Hamparan pantai yang indah, deretan pohon cemara yang rindang, serta deburan ombak yang menenangkan menghadirkan suasana hangat sekaligus reflektif. Lokasi tersebut memang kerap menjadi pilihan untuk berbagai kegiatan kebersamaan, mulai dari acara perpisahan hingga sekadar melepas penat maupun memancing.

Perpisahan ini bukan menjadi akhir dari perjalanan, melainkan awal babak baru bagi Ibu Asmidar B, dengan jejak pengabdian yang akan terus dikenang. (xrq)

Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News

Pemerintah Aceh Percepat Rehabilitasi dan Rekonstruksi Lahan Sawah Pascabencana

0
Sekretaris Daerah Aceh, M. Nasir. (Foto: For Nukilan)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Pemerintah Aceh terus mempercepat upaya rehabilitasi dan rekonstruksi lahan pertanian pascabencana sebagai bagian dari komitmen menjaga ketahanan pangan sekaligus memulihkan ekonomi masyarakat. Hal tersebut disampaikan Sekretaris Daerah Aceh, M. Nasir, terkait progres pelaksanaan berbagai program strategis sektor pertanian yang saat ini berjalan di sejumlah kabupaten/kota.

M. Nasir menjelaskan, total anggaran yang dialokasikan untuk program rehabilitasi dan rekonstruksi lahan pascabencana di Aceh mencapai Rp380.033.300.000. Anggaran tersebut mencakup berbagai kegiatan utama, mulai dari optimasi lahan (oplah), rehabilitasi lahan, hingga pembangunan infrastruktur pendukung seperti irigasi dan jalan usaha tani.

“Pemerintah Aceh saat ini fokus mempercepat seluruh tahapan kegiatan, mulai dari perencanaan hingga konstruksi dan pengolahan lahan, agar lahan pertanian yang terdampak bencana dapat segera kembali produktif,” ujar M. Nasir.

Pada program optimasi lahan untuk sawah dengan tingkat kerusakan ringan, Pemerintah Aceh mengalokasikan anggaran sebesar Rp155.658.250.000 dalam bentuk bantuan pemerintah. Program ini mencakup 16 kabupaten/kota dengan total luas lahan mencapai 27.071 hektare.

Untuk tahap perencanaan atau Survey, Investigasi, dan Desain (SID/DRT) yang dilaksanakan oleh USK, UNIMAL, dan UNSAM, progresnya telah mencapai 12.205 hektare atau sekitar 45 persen dari total target.

Selanjutnya, kegiatan konstruksi oplah dengan anggaran sekitar Rp124.526.600.000 akan dilaksanakan setelah tahap perencanaan rampung, disusul pengolahan lahan senilai Rp24.363.900.000. Kedua kegiatan tersebut dikelola pemerintah kabupaten/kota.

Sementara untuk lahan dengan tingkat kerusakan sedang, Pemerintah Aceh menjalankan program rehabilitasi lahan dengan total anggaran Rp65.236.050.000 yang mencakup lima kabupaten dengan luas 4.393 hektare. Saat ini, progres konstruksi rehabilitasi sawah yang dikerjakan kelompok tani bersama TNI telah mencapai sekitar 3.981 hektare atau sebagian besar dari target.

Di sektor irigasi, Pemerintah Aceh juga membangun berbagai infrastruktur pendukung. Untuk irigasi perpompaan, direncanakan pembangunan 641 unit di 16 kabupaten/kota dengan anggaran Rp98.073.000.000. Saat ini, sebanyak 70 unit atau sekitar 3,49 persen sedang dalam tahap pengerjaan, sementara sisanya masih dalam proses administrasi dan perencanaan.

Sementara pembangunan irigasi perpipaan di 13 kabupaten/kota sebanyak 149 unit dengan anggaran Rp14.006.000.000 telah menunjukkan progres sekitar 24 persen. Adapun pembangunan bangunan konservasi sebanyak 45 unit dengan anggaran Rp5.400.000.000 masih dalam tahap persiapan.

Untuk jaringan irigasi tersier, dari total 300 unit yang direncanakan dengan anggaran Rp30.000.000.000, saat ini sekitar 8 persen telah memasuki tahap pengerjaan. Selain itu, pembangunan Jalan Usaha Tani (JUT) sebanyak 106 unit dengan anggaran Rp11.660.000.000 juga masih dalam tahap awal dengan progres sekitar 8 persen.

M. Nasir menegaskan Pemerintah Aceh terus berkoordinasi dengan pemerintah kabupaten/kota, perguruan tinggi, serta berbagai pihak terkait guna memastikan seluruh program berjalan sesuai target.

“Kami optimis, dengan sinergi yang kuat antara pemerintah, akademisi, TNI, dan masyarakat, seluruh program ini dapat diselesaikan tepat waktu, sehingga lahan-lahan pertanian yang terdampak bencana dapat kembali dimanfaatkan secara optimal oleh petani,” pungkasnya.

Pemerintah Aceh berharap percepatan rehabilitasi dan rekonstruksi ini tidak hanya memulihkan kondisi lahan, tetapi juga meningkatkan produktivitas pertanian serta kesejahteraan petani di seluruh wilayah terdampak.

Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News

Warga Beutong Kirim Surat ke Presiden, Tegas Tolak Tambang Emas di Kawasan Hutan Aceh

0
Permukiman masyarakat Beutong Ateuh Banggalang, Nagan Raya Aceh. (FOTO: Dok Apel Green Aceh)

NUKILAN.ID | SUKA MAKMUE – Masyarakat Beutong Ateuh bersama komunitas Pawang Uteun, Yayasan APEL Green Aceh, Selamatkan Hutan Hujan, serta sejumlah organisasi masyarakat sipil resmi menyurati Presiden Republik Indonesia, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Pemerintah Aceh, dan sejumlah instansi terkait untuk menyampaikan penolakan terhadap rencana maupun aktivitas pertambangan emas di kawasan Beutong Ateuh, Kabupaten Nagan Raya, Aceh.

Surat tersebut dikirim sebagai bentuk keprihatinan atas ancaman kerusakan hutan hujan tropis, hilangnya sumber mata air, rusaknya bentang alam pegunungan, hingga meningkatnya risiko bencana ekologis apabila aktivitas pertambangan tetap dipaksakan hadir di wilayah yang selama ini menjadi ruang hidup masyarakat.

Bagi masyarakat Beutong Ateuh, hutan bukan sekadar kawasan alam yang bisa dieksploitasi. Hutan merupakan penyangga kehidupan, menjaga aliran sungai, melindungi tanah dari longsor, menyediakan sumber pangan dan obat-obatan alami, sekaligus menjadi bagian dari identitas serta sejarah masyarakat adat yang diwariskan secara turun-temurun.

Kawasan Beutong Ateuh sendiri berada dalam lanskap ekologis penting yang terhubung dengan Ekosistem Ulu Masen dan Kawasan Ekosistem Leuser, dua benteng terakhir hutan hujan tropis di Sumatra yang menjadi habitat satwa kunci seperti Gajah Sumatra, Harimau Sumatra, serta Orangutan Sumatra.

Masyarakat khawatir kehadiran tambang emas akan mempercepat pembukaan hutan, memperparah degradasi kawasan hulu, mencemari sungai, serta meningkatkan ancaman banjir dan longsor di wilayah permukiman warga.

Tokoh masyarakat Beutong Ateuh Banggalang, Tgk Diwa, mengatakan masyarakat selama ini hidup bergantung pada hutan dan sungai yang masih terjaga.

“Kami tidak butuh tambang. Hutan adalah sumber kehidupan kami. Kalau hutan rusak dan sungai tercemar, masyarakatlah yang pertama menjadi korban,” ujar Tgk Diwa.

Ia mengingatkan bahwa masyarakat Beutong masih dibayangi trauma banjir bandang yang melanda wilayah tersebut pada November 2025 lalu. Bencana itu merusak rumah warga, menghancurkan kebun masyarakat, serta menyebabkan sungai meluap membawa lumpur dari kawasan hulu.

Menurutnya, peristiwa tersebut menjadi peringatan nyata bahwa kerusakan bentang alam di kawasan hutan akan berdampak langsung terhadap keselamatan masyarakat.

“Baru lima bulan lalu masyarakat merasakan banjir bandang. Rumah rusak, kebun rusak, sungai meluap. Kami masih berusaha bangkit dari bencana, tetapi sekarang justru muncul lagi izin tambang emas. Ini sangat menyakiti masyarakat Beutong,” katanya.

Tgk Diwa menegaskan masyarakat menolak seluruh bentuk aktivitas pertambangan di wilayah mereka, baik tambang ilegal maupun tambang yang mengatasnamakan izin resmi negara.

Sementara itu, Marianne Klute dari Selamatkan Hutan Hujan menyatakan masyarakat adat Beutong Ateuh telah membuktikan selama ratusan tahun bahwa hutan dapat dijaga tanpa harus dirusak.

“Umat manusia berutang kepada masyarakat adat Beutong Ateuh karena mereka menjaga hutan selama berabad-abad. Dari hutan itu kita menikmati udara bersih, air bersih, dan kehidupan. Pertambangan bukan hanya merusak hutan dan fungsi ekologisnya, tetapi juga menghancurkan budaya dan identitas para penjaga hutan terbaik,” ujarnya.

Direktur Yayasan APEL Green Aceh, Rahmat Syukur, mengatakan surat kepada Presiden dan sejumlah lembaga pemerintah merupakan langkah mendesak agar negara hadir melindungi kawasan Beutong Ateuh dari ancaman eksploitasi industri ekstraktif.

“Jika tambang emas dipaksakan masuk ke Beutong Ateuh, ancaman yang muncul bukan hanya deforestasi, tetapi juga krisis air, konflik ruang hidup, hilangnya sumber penghidupan masyarakat, dan meningkatnya risiko bencana ekologis,” ujar Syukur.

Ia menambahkan, masyarakat sipil bersama jaringan lingkungan akan terus mengawal persoalan tambang emas di Beutong Ateuh karena aktivitas tersebut dinilai seharusnya tidak lagi muncul pasca Putusan Mahkamah Agung Nomor 91.K/TUN/LH/2020.

“Putusan Mahkamah Agung sudah jelas. Kawasan ini seharusnya tidak lagi dibayangi ancaman tambang emas. Tetapi hari ini justru muncul kembali sejumlah izin. Ini melukai rasa keadilan masyarakat Beutong Ateuh yang baru beberapa bulan lalu terdampak banjir bandang,” katanya.

Sementara itu, Ismail dari komunitas Pawang Uteun, kelompok masyarakat penjaga hutan adat di Beutong Ateuh, menegaskan keberadaan hutan bukan sekadar bentang alam, melainkan bagian dari sejarah dan jati diri masyarakat.

“Hutan ini warisan leluhur kami. Kalau hutan hilang, bukan hanya pohon yang hilang, tetapi juga sejarah, budaya, dan masa depan anak cucu kami,” katanya.

Dalam beberapa hari terakhir, dukungan terhadap penyelamatan hutan Beutong Ateuh terus mengalir dari berbagai jaringan masyarakat sipil nasional maupun internasional melalui kampanye lingkungan dan petisi penyelamatan hutan yang telah didukung puluhan ribu orang dari berbagai negara.

Masyarakat berharap Presiden Republik Indonesia, Kementerian ESDM, dan Pemerintah Aceh segera mengambil langkah konkret dengan menghentikan seluruh izin maupun rencana pertambangan emas di kawasan Beutong Ateuh serta memperkuat perlindungan terhadap hutan yang menjadi sumber kehidupan masyarakat.

Di tengah meningkatnya ancaman krisis iklim dan bencana ekologis di Aceh, masyarakat Beutong Ateuh menegaskan bahwa menjaga hutan berarti menjaga masa depan.

“Kami hanya ingin hutan kami tetap hidup, agar anak cucu kami masih memiliki sungai, udara bersih, dan tanah untuk bertahan hidup,” tutup Tgk Diwa.

Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News

BMKG Ungkap Wilayah Rawan Karhutla di Aceh Kian Meluas

0
Ilustrasi karhutla. (Foto: For Nukilan)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Aceh mengungkapkan wilayah rawan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Aceh mengalami peningkatan seiring kondisi cuaca kering dan bertambahnya hari tanpa hujan (HTH) di sejumlah daerah.

Dilansir dari perbincangan bersama RRI Banda Aceh, Senin (27/4) lalu, Koordinator Bidang Data dan Informasi BMKG Stasiun Meteorologi Sultan Iskandar Muda, Anang Heriyanto, M.Si, mengatakan hasil analisis BMKG menunjukkan adanya keterkaitan kuat antara parameter cuaca dengan potensi munculnya titik panas atau hotspot.

“Dari analisis BMKG dengan melihat parameter cuaca dan hari tanpa hujan, ketika periode tanpa hujan berlangsung lama maka potensi kebakaran hutan dan lahan atau munculnya hotspot menjadi lebih tinggi,” ujarnya.

Ia menjelaskan, berdasarkan pemantauan hari tanpa hujan (HTH), wilayah utara dan timur Aceh saat ini mengalami periode kering berkisar antara 6 hingga 20 hari. Daerah tersebut meliputi Aceh Utara, sebagian Aceh Timur, serta Lhokseumawe yang dinilai memiliki tingkat kerawanan lebih tinggi terhadap karhutla.

Menurut Anang, kondisi tersebut juga dipengaruhi masa peralihan musim yang kini mulai memasuki awal kemarau. Ia menyebut potensi kekeringan diperkirakan akan terus meningkat dalam beberapa bulan ke depan.

“Memasuki bulan Mei ini sudah awal musim kemarau, dan puncaknya diperkirakan terjadi pada Juni hingga Juli,” sebutnya.

Ia mengingatkan, tidak hanya wilayah yang telah disebutkan, daerah lain di Aceh juga perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran, terutama apabila tren hari tanpa hujan terus bertambah dan suhu udara semakin meningkat.

Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News

Manchester United Tundukkan Liverpool 3-2, Drama Lima Gol Warnai Old Trafford

0
manchester united
Matheus Cunha merayakan gol pembuka bersama rekan-rekannya saat Manchester United melawan Liverpool dalam laga Premier League, Minggu (3/5/2026) (c) (AP Photo/Dave Thompson)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH Manchester United meraih kemenangan dramatis atas rival abadinya, Liverpool, dengan skor 3-2 pada pekan ke-35 Premier League, Minggu (3/5/2026) malam WIB. Duel sengit di Old Trafford itu menghadirkan lima gol dan tensi tinggi sejak menit awal.

Amatan Nukilan.id, tuan rumah tampil agresif sejak peluit pertama dibunyikan. Gol pembuka lahir pada menit keenam melalui Matheus Cunha yang memanfaatkan bola liar di kotak penalti lawan. Delapan menit berselang, Benjamin Sesko menggandakan keunggulan Setan Merah setelah menyambar bola muntah hasil penyelamatan kiper Liverpool.

Gol Sesko sempat ditinjau melalui VAR karena dugaan handball dalam proses terciptanya gol. Namun wasit Darren England tetap mengesahkan gol tersebut, membuat Manchester United menutup babak pertama dengan keunggulan 2-0.

Memasuki babak kedua, Liverpool langsung merespons. Baru dua menit setelah kick-off, Dominik Szoboszlai memperkecil ketertinggalan lewat aksi individu yang menembus lini pertahanan tuan rumah.

Momentum Liverpool berlanjut pada menit ke-56. Kali ini Cody Gakpo sukses menyamakan kedudukan menjadi 2-2 setelah menerima umpan Szoboszlai.

Saat laga terlihat akan berakhir imbang, gelandang muda Kobbie Mainoo muncul sebagai pembeda. Pada menit ke-77, Mainoo melepaskan tembakan keras yang gagal diantisipasi kiper Liverpool dan memastikan kemenangan 3-2 untuk Manchester United.

Kemenangan ini membuat Manchester United kukuh di peringkat ketiga klasemen sementara dengan 64 poin, unggul enam angka dari Liverpool yang berada di posisi keempat. Hasil tersebut sekaligus memastikan langkah Setan Merah menuju Liga Champions musim depan semakin terbuka. (XRQ)

Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News

Muzakir Manaf Masuk 5 Besar Gubernur Berkinerja Terbaik Versi Anak Muda

0
Hasil survei 10 Gubernur terbaik menurut anak muda. (Foto: MudaBicara ID)

NUKILAN.ID | JAKARTA – Gubernur Aceh, Muzakir Manaf, mencatatkan prestasi membanggakan dalam persepsi publik nasional. Berdasarkan hasil survei terbaru yang dirilis oleh lembaga riset MudaBicara ID, tokoh kuat asal Serambi Mekkah ini berhasil menembus jajaran lima besar gubernur dengan kinerja terbaik menurut penilaian generasi muda (Milenial dan Gen Z).

Dikutip Nukilan, dalam laporan bertajuk “Tingkat Kepuasan Kelompok Muda terhadap Pemerintahan di Q1 2026”, Muzakir Manaf mengantongi persentase dukungan sebesar 7,2%. Angka ini menempatkan dirinya di posisi kelima secara nasional, bersaing ketat dengan pemimpin-pemimpin daerah populer lainnya dari seluruh Indonesia.

Pencapaian ini menjadi perhatian khusus mengingat posisi empat besar lainnya didominasi oleh nama-nama yang kerap menghiasi panggung politik nasional. Di posisi puncak, Sherly Tjoanda memimpin dengan 18,5 persen, disusul oleh Pramono Anung 17,3 persen, Dedi Mulyadi atau KDM 17,1 persen, dan Sri Sultan Hamengkubuwono X 15 persen.

Resonansi Kinerja di Mata Pemuda Keberhasilan Muzakir Manaf masuk dalam jajaran elit ini mengindikasikan bahwa gaya kepemimpinan dan program pembangunan di Aceh selama kuartal pertama tahun 2026 mendapatkan respons positif dari kelompok usia produktif. Anak muda dinilai melihat adanya stabilitas dan langkah konkret dalam tata kelola pemerintahan di ujung barat Indonesia tersebut.

Meski terpaut cukup jauh dari posisi tiga besar yang dipimpin oleh Sherly Tjoanda, posisi Muzakir Manaf tetap unggul di atas sejumlah kepala daerah kenamaan lainnya, seperti Anwar Hafid (7%), Mahyeldi Ansharullah (6,2%), hingga Bobby Nasution (3,1%).

Metodologi Riset Survei MudaBicara ID ini dilakukan sepanjang periode Januari hingga Maret 2026 dengan melibatkan 800 responden yang tersebar secara nasional. Responden berada dalam rentang usia 17 hingga 40 tahun, yang diambil menggunakan metode Stratified Random Sampling.

Teknik pengumpulan data dilakukan melalui Computer-Assisted Self Interviewing (CASI), sebuah metode wawancara mandiri berbasis komputer yang dinilai lebih akurat dalam menangkap aspirasi jujur dari responden muda.

Hasil survei ini secara keseluruhan menunjukkan dinamika menarik dalam kepemimpinan daerah di Indonesia. 

Munculnya nama Sherly Tjoanda sebagai representasi Indonesia Timur dan tetap kuatnya figur seperti Sri Sultan HB X serta Muzakir Manaf membuktikan bahwa anak muda saat ini tidak hanya terfokus pada popularitas media sosial, tetapi juga pada rekam jejak dan kapabilitas kepemimpinan di daerah masing-masing.

Reporter: Rezi

Komunitas Kamu DemRes dan GeRAK Aceh Kampanyekan Penolakan Wacana Pilkada Tidak Langsung

0

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Komunitas Koalisi Anak Muda Demokrasi Resilience (Kamu DemRes) bersama Gerakan Anti Korupsi (GeRAK) Aceh menggelar kampanye penolakan terhadap wacana pemilihan kepala daerah (Pilkada) tidak langsung di kawasan Car Free Day Banda Aceh, Minggu (3/5/2026).

Melalui aksi kampanye yang melibatkan anak muda, kedua komunitas tersebut mengajak masyarakat untuk tetap mengawal demokrasi serta mempertahankan hak rakyat dalam memilih pemimpin daerah secara langsung.

Koordinator Kamu DemRes, Dwy Alfina, mengatakan gerakan yang diinisiasi kalangan muda itu bertujuan menjaga kualitas demokrasi di daerah. Menurutnya, sistem Pilkada langsung merupakan bagian dari kedaulatan rakyat yang tidak bisa ditawar.

“Melalui aksi-aksi kreatif di jalanan, kami mengajak anak muda agar tidak acuh terhadap kedaulatan rakyat. Target kami sederhana, yaitu membangun solidaritas antar komunitas agar semakin kuat dalam mengawal isu demokrasi,” kata Dwy.

Ia menilai wacana pengembalian kewenangan pemilihan kepala daerah kepada DPRD berisiko menghilangkan hak masyarakat dalam menentukan arah kepemimpinan di daerah. Selain itu, sistem pemilihan tidak langsung dinilai berpotensi membuka ruang praktik politik yang tidak transparan.

“Kepala daerah yang dipilih tidak langsung cenderung lebih patuh pada partai daripada rakyat. Indonesia adalah negara demokrasi, jadi rakyat seharusnya memilih pemimpin secara terbuka,” ungkapnya.

Salah seorang peserta aksi, Muhammad, menegaskan bahwa Pilkada harus tetap melibatkan rakyat secara langsung sebagai wujud demokrasi yang sesungguhnya.

“Saya pribadi tidak setuju kalau pilkada diwakilkan oleh dewan, semakin ditekan semakin melawan kami,” ujarnya.

Sementara itu, Sekretaris Masyarakat Anti Hoaks Aceh (MAHA), Raudhah, menilai pemilihan kepala daerah tidak boleh dipisahkan dari partisipasi masyarakat.

“Pemilihan pemimpin harus melibatkan semua elemen masyarakat. Karena yang sangat merasakan dampaknya itu adalah masyarakat itu sendiri,” tegasnya.

Melalui aksi ini, para peserta berharap kesadaran publik, khususnya generasi muda, semakin meningkat dalam mengawal demokrasi dan memastikan hak pilih rakyat tetap menjadi penentu utama dalam memilih pemimpin daerah.

Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News

Tonicko Anggara Harap Kolaborasi Konservasi Lingkungan di Aceh Barat Terus Berlanjut

0
tonicko anggara
Koordinator Wilayah Aceh Badan Koordinasi Nasional Lembaga Pengembangan Partisipasi Masyarakat dan Pelestarian Lingkungan (BAKORNAS LEPPAMI) PB HMI, Tonicko Anggara. (Foto: Dok. Pribadi)

NUKILAN.ID | MEULABOH – Koordinator Wilayah Aceh Badan Koordinasi Nasional Lembaga Pengembangan Partisipasi Masyarakat dan Pelestarian Lingkungan (BAKORNAS LEPPAMI) PB HMI, Tonicko Anggara, berharap semangat kolaborasi lintas lembaga dalam menjaga kelestarian lingkungan dapat terus terawat dan berkelanjutan.

Hal tersebut disampaikan Tonicko usai suksesnya kegiatan aksi konservasi pohon kolaboratif yang digelar BAKORNAS LEPPAMI PB HMI bersama LSM Bumoe Indatu Ceudah di kawasan Masjid Agung Baitul Makmur, Aceh Barat, Minggu (3/5/2026).

Kegiatan tersebut mendapat dukungan dari PT Magellanic Garuda Kencana (MGK) sebagai sponsor utama dan melibatkan sekitar 80 peserta dari berbagai unsur. Di antaranya BAKORNAS LEPPAMI PB HMI, LSM Bumoe Indatu Ceudah, FORHATI Daerah Aceh Barat, PT Magellanic Garuda Kencana (MGK), Barisan Rakyat Aceh (BARA), Maritim Muda Nusantara (MMN) Aceh Barat, influencer dan konten kreator Aceh Barat, Lembaga Penyiaran Publik RRI Meulaboh, Dinas Lingkungan Hidup, serta Dinas Syariat Islam Aceh Barat.

Tonicko yang juga bertindak sebagai Ketua Panitia Pelaksana menilai, keterlibatan berbagai elemen dalam kegiatan tersebut menjadi bukti bahwa isu lingkungan hidup tidak bisa dijaga oleh satu pihak saja, melainkan membutuhkan sinergi dan komitmen bersama.

“Kami atas nama BAKORNAS LEPPAMI PB HMI yang juga merupakan ketua panitia pelaksana pada kegiatan kolaborasi dengan LSM Bumoe Indatu Ceudah berharap aksi nyata keberpihakan kepada lingkungan hidup ini yang dilaksanakan dengan semangat kolaborasi seperti ini dapat terus terawat, agar kelestarian alam dapat terus menerus kita rasakan dampak positifnya bagi kehidupan,” jelas Tonicko Anggara.

Menurut Tonicko, aksi konservasi pohon yang dilakukan bukan sekadar kegiatan seremonial, tetapi bentuk nyata kepedulian terhadap keberlangsungan lingkungan hidup bagi generasi mendatang.

Di akhir pernyataannya, Tonicko juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah mendukung suksesnya kegiatan tersebut, khususnya LSM Bumoe Indatu Ceudah yang menjadi mitra utama dalam pelaksanaan aksi konservasi.

“Kami ucapkan terimakasih kepada seluruh pihak yang terlibat, terkhusus untuk LSM Bumoe Indatu Ceudah karena telah menjadi mitra kerja yang sangat baik dan sangat luar biasa, kami juga belajar banyak tentang pohon dari BIC ini. Tentunya, ini adalah langkah nyata menjaga bumi demi terwujudnya keterjagaan kelestarian negeri,” tutup Tonicko Anggara.

Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News

LEPPAMI PB HMI Sukses Gelar Aksi Konservasi Pohon Kolaboratif di Aceh Barat

0
tonicko anggara
Koordinator Wilayah Aceh BAKORNAS LEPPAMI PB HMI yang juga Ketua Panitia Pelaksana, Tonicko Anggara. (Foto: Dok. Pribadi)

NUKILAN.ID | MEULABOH – Badan Koordinasi Nasional Lembaga Pengembangan Partisipasi Masyarakat dan Pelestarian Lingkungan (BAKORNAS LEPPAMI PB HMI) bersama LSM Bumoe Indatu Ceudah sukses menggelar kegiatan konservasi pohon kolaboratif di kawasan Masjid Agung Baitul Makmur, Aceh Barat, Minggu (3/5/2026).

Kegiatan tersebut terlaksana melalui kolaborasi lintas lembaga dengan dukungan sponsorship utama dari PT Magellanic Garuda Kencana (MGK). Sedikitnya 80 peserta ambil bagian dalam aksi peduli lingkungan tersebut.

Peserta yang terlibat berasal dari berbagai unsur, di antaranya BAKORNAS LEPPAMI PB HMI, LSM Bumoe Indatu Ceudah, FORHATI Daerah Aceh Barat, PT Magellanic Garuda Kencana (MGK), Barisan Rakyat Aceh (BARA), Maritim Muda Nusantara (MMN) Aceh Barat, influencer dan konten kreator Aceh Barat, Lembaga Penyiaran Publik RRI Meulaboh, Dinas Lingkungan Hidup, serta Dinas Syariat Islam Aceh Barat.

Koordinator Wilayah Aceh BAKORNAS LEPPAMI PB HMI yang juga Ketua Panitia Pelaksana, Tonicko Anggara, menyampaikan bahwa kolaborasi nyata lintas lembaga dalam agenda yang berpihak pada kelestarian lingkungan harus terus dijaga dan dirawat.

“Kami atas nama BAKORNAS LEPPAMI PB HMI yang juga merupakan ketua panitia pelaksana pada kegiatan kolaborasi dengan LSM Bumoe Indatu Ceudah berharap aksi nyata keberpihakan kepada lingkungan hidup ini yang dilaksanakan dengan semangat kolaborasi seperti ini dapat terus terawat agar kelestarian alam dapat terus menerus kita rasakan dampak positifnya bagi kehidupan,” jelas Tonicko Anggara dalam keterangan yang diterima Redaksi pada Minggu (3/5/2026).

Menurutnya, keterlibatan berbagai elemen dalam kegiatan konservasi ini menjadi bukti bahwa isu lingkungan hidup merupakan tanggung jawab bersama yang membutuhkan kerja kolektif dan berkelanjutan.

Di akhir kegiatan, Tonicko juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah mendukung terselenggaranya aksi konservasi tersebut, khususnya LSM Bumoe Indatu Ceudah yang menjadi mitra utama dalam pelaksanaan kegiatan.

“Kami ucapkan terimakasih kepada seluruh pihak yang terlibat, terkhusus untuk LSM Bumoe Indatu Ceudah karena telah menjadi mitra kerja yang sangat baik dan sangat luar biasa, kami juga belajar banyak tentang pohon dari BIC ini. Tentunya, ini adalah langkah nyata menjaga bumi demi terwujudnya keterjagaan kelestarian negeri,” tutup Tonicko Anggara.

Kegiatan konservasi pohon kolaboratif ini diharapkan menjadi langkah awal dalam membangun kesadaran kolektif masyarakat terhadap pentingnya menjaga lingkungan hidup, sekaligus memperkuat sinergi antarorganisasi dalam mewujudkan Aceh yang lebih hijau dan lestari.

Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News

Pramuka MAN 2 Banda Aceh Gelar Hiking di Lhok Mata Ie, Peserta Dibekali Navigasi dan Survival

0
Pramuka MAN 2 Banda Aceh Gelar Hiking di Lhok Mata Ie, Peserta Dibekali Navigasi dan Survival. (Foto: For Nukilan)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Pramuka MAN 2 Banda Aceh sukses menggelar kegiatan hiking di kawasan Lhok Mata Ie, Sabtu (2/5/2026). Kegiatan yang diinisiasi Dewan Ambalan Pramuka MAN 2 Banda Aceh ini berkolaborasi dengan Saka Wira Kartika Kota Banda Aceh Pangkalan Kodim 0101/KBA, serta mendapat dukungan dari Pembina Pramuka SMPIK Nurul Quran Aceh, Kak Deni Anjasmara.

Sebanyak 27 peserta mengikuti kegiatan tersebut, terdiri dari 24 peserta dari MAN 2 Banda Aceh, dua peserta dari SMK SMTI Kota Banda Aceh, dan satu peserta dari SMKN 5 Telkom Kota Banda Aceh. Seluruh peserta didampingi Pembina Pramuka MAN 2 Banda Aceh, Kak Khaidir Marzuki dan Kak Maulidiana, Pamong Saka Wira Kartika Kak Agil bersama Dewan Saka Wira Kartika, serta Kak Deni Anjasmara.

Selama kegiatan berlangsung, para peserta melakukan penjelajahan menyusuri jalur hiking di Lhok Mata Ie yang dikenal memiliki panorama alam yang indah dan masih asri. Medan yang dilalui cukup menantang, dengan jalur yang curam dan terjal, namun seluruh peserta mampu menyelesaikan perjalanan dengan baik tanpa kendala berarti.

Selain penjelajahan, peserta juga dibekali berbagai materi kepramukaan, mulai dari peta navigasi darat hingga teknik dasar bertahan hidup atau survival. Materi tersebut diberikan langsung di lapangan agar peserta tidak hanya memahami teori, tetapi juga dapat mempraktikkannya dalam kondisi nyata.

Salah seorang peserta dari SMKN 5 Telkom Kota Banda Aceh, Jihan Fatima Syachiraz, mengaku mendapatkan pengalaman baru dari kegiatan tersebut.

“Kegiatan ini sangat seru dan menantang. Saya mendapat banyak pengalaman baru, terutama tentang navigasi dan teknik bertahan hidup di alam terbuka,” ujarnya.

Hal senada disampaikan peserta dari SMK SMTI Kota Banda Aceh, Khafi Yush Shulhi. Menurutnya, kegiatan hiking tidak hanya melatih ketahanan fisik, tetapi juga mempererat kebersamaan antar peserta.

“Kegiatan ini bukan hanya melatih fisik, tetapi juga membangun kekompakan, kebersamaan, dan kerja sama di antara kami,” katanya.

Kegiatan hiking ini menjadi salah satu implementasi pendidikan kepramukaan berbasis pengalaman, yang tidak hanya meningkatkan keterampilan teknis, tetapi juga membentuk karakter peserta dalam hal disiplin, kerja sama, dan kepedulian terhadap lingkungan.

Melalui kegiatan tersebut, Pramuka MAN 2 Banda Aceh kembali menunjukkan komitmennya dalam menghadirkan program edukatif, menantang, dan bermanfaat bagi generasi muda, khususnya insan Pramuka di Kota Banda Aceh.

Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News