NUKILAN.ID | OPINI – Dalam panggung politik, sejarah kerap berulang melalui aktor-aktor baru dengan lakon yang nyaris serupa. Kisah klasik pengkhianatan Marcus Junius Brutus terhadap Julius Caesar di Senat Romawi bukan sekadar dongeng masa lalu, melainkan cermin retak yang terus memantulkan dinamika politik kontemporer.
Hari ini, analogi tentang “tikaman dari dalam” (backstabbing) itu menemukan panggungnya di Aceh, ketika ketegangan mencuat antara Abang Samalanga selaku Ketua DPRA dengan Mualem (Muzakir Manaf) sebagai Ketua Umum Partai Aceh terkait polemik Pergub JKA.
Hubungan antara Mualem dan Abang Samalanga sejak awal merupakan gambaran relasi patron-klien politik yang sangat kuat. Mualem, sebagai figur sentral eks-kombatan sekaligus pemegang kendali utama Partai Aceh, bukan hanya pemimpin partai, tetapi juga sosok mentor yang membuka jalan bagi kader-kadernya untuk menduduki posisi strategis, termasuk kursi nomor satu di parlemen Aceh.
Karena itu, ketika Abang Samalanga mengambil posisi frontal dengan menolak Pergub yang didorong—atau setidaknya direstui—oleh partainya sendiri, publik disuguhi drama politik yang mengingatkan pada tragedi Senat Romawi tahun 44 SM.
Bagi Mualem, serangan dari oposisi tentu hanyalah riak biasa dalam dunia politik. Namun pembangkangan yang datang dari lingkaran dalam, terlebih dari kader yang dibesarkan oleh kekuatan politiknya sendiri, merupakan tamparan keras yang berpotensi meruntuhkan wibawa garis komando partai. Dalam politik, serangan lawan sering kali lebih mudah dihadapi dibanding luka yang datang dari tangan orang dekat.
Sebagaimana Brutus membenarkan tikamannya dengan kalimat legendaris, “Bukan karena aku kurang mencintai Caesar, tetapi karena aku lebih mencintai Roma,” setiap pembangkangan politik modern selalu membutuhkan jubah moral sebagai pembenaran.
Penolakan DPRA terhadap Pergub pun niscaya dibungkus dengan narasi pembelaan terhadap hak-hak rakyat, fungsi kontrol parlemen, hingga penyelamatan anggaran Aceh. Namun di balik retorika tersebut, publik tentu membaca adanya benturan kepentingan, perebutan pengaruh, hingga gejala retaknya soliditas internal partai yang kini mulai terendus ke permukaan.
Sejarah Romawi mencatat, konspirasi Brutus tidak melahirkan kedamaian, melainkan perang saudara berkepanjangan yang berujung pada kekalahannya sendiri di Pertempuran Philippi. Pada akhirnya, Brutus memilih mengakhiri hidup dengan pedangnya sendiri—sebuah simbol tragis dari manuver politik yang berbalik menghantam pelakunya.
Di panggung politik Aceh, langkah konfrontatif yang diambil Abang Samalanga juga menyimpan risiko serupa: sebuah “bunuh diri politik” yang berjalan perlahan. Melawan arus komando partai yang dipimpin figur sekuat Mualem dapat melahirkan konsekuensi logis, mulai dari isolasi politik, hilangnya basis loyalis partai, hingga ancaman Pergantian Antar Waktu (PAW) dari pucuk pimpinan DPRA.
Dalam tradisi politik yang sangat menekankan loyalitas, pembangkangan terbuka bukan sekadar perbedaan sikap, melainkan bisa dibaca sebagai bentuk perlawanan terhadap otoritas.
Pada akhirnya, publiklah yang akan menilai: apakah langkah ini benar-benar perjuangan prinsipil demi menjaga fungsi check and balance kelembagaan, atau sekadar manuver “Brutus modern” yang menukar loyalitas demi panggung personal dan pertarungan pengaruh di internal kekuasaan.
Namun satu hal yang pasti, sejarah telah berulang kali mengajarkan bahwa pengkhianatan politik jarang melahirkan stabilitas. Dan mereka yang memilih jalan menikam mentornya sendiri harus siap menghadapi “Pertempuran Philippi”-nya masing-masing pada ujung perjalanan kekuasaan.
Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News
Penulis: T. Auliya Rahman (Ketua Ikatan Alumni Ilmu Pemerintahan USK, Mahasiswa Program Magister Islam Pembangunan dan Kebijakan Publik di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta)

