Monday, 5 October 2026 Banda Aceh 31°C
Jernih dan Mendalam
Mode Terang
Langganan
TERKINI
Edukasi

Disdik Aceh Dorong Anak Putus Sekolah Kembali Belajar melalui Program PJJ

Kepala Dinas Pendidikan Aceh, Murthalamuddin,(Foto: Humas Aceh)
Kepala Dinas Pendidikan Aceh, Murthalamuddin,(Foto: Humas Aceh)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Dinas Pendidikan Aceh memperluas upaya menekan angka putus sekolah dengan menghadirkan Program Pendidikan Jarak Jauh (PJJ). Program tersebut mulai disosialisasikan kepada masyarakat sebagai alternatif bagi anak yang kesulitan mengikuti pendidikan secara reguler.

Berdasarkan data yang dihimpun dari sejumlah sumber media digital, hingga September 2025 terdapat sekitar 56 ribu anak usia 16 hingga 18 tahun di Aceh yang tidak mengikuti pendidikan formal.

Kepala Dinas Pendidikan Aceh, Murthalamuddin, mengatakan pihaknya tengah menyiapkan sejumlah langkah untuk mendorong anak-anak yang telah berhenti sekolah agar kembali mendapatkan akses pendidikan.

“Salah satunya PJJ yang sedang dibuka saat ini. Di samping itu Disdik Aceh juga terus melakukan sosialisasi kepada masyarakat terkait persoalan ini sehingga jumlah peserta didik yang sudah terdaftar tahun ini meningkat,” terang Murthalamuddin melalui sambungan langsung kepada Dialeksis, Rabu, 8 Juli 2026.

Ia menjelaskan PJJ diperuntukkan bagi anak-anak yang memiliki kendala mengikuti kegiatan belajar mengajar secara langsung di sekolah. Dengan sistem tersebut, peserta didik tetap dapat memperoleh pembelajaran dengan waktu yang lebih menyesuaikan kondisi mereka.

Mengenai jumlah pendaftar, Murthalamuddin menyebut pihaknya belum memperoleh data terbaru dari SMA Modal Bangsa yang ditetapkan sebagai sekolah induk penyelenggara PJJ.

“Program ini baru dua hari kami sosialisasikan. Saya belum menanyakan langsung ke SMA Modal Bangsa berapa jumlah peserta yang sudah mendaftar. Namun kalau dilihat dari respons di media sosial, banyak yang bertanya, ingin mengetahui, dan tertarik mengikuti program tersebut,” ujarnya.

Selain mengandalkan sosialisasi, Disdik Aceh juga meminta para guru melakukan pendekatan langsung untuk menemukan anak-anak yang sudah tidak bersekolah.

Menurut Murthalamuddin, pihaknya telah mengeluarkan surat edaran agar guru tidak hanya menjalankan kewajiban mengajar, tetapi turut berperan mencari dan mengajak anak putus sekolah untuk kembali melanjutkan pendidikan.

“Disdik Aceh telah membuat edaran agar guru-guru mencukupkan jam belajar mengajar mereka sekaligus bersosialisasi mencari siswa. Istilahnya jemput bola,” katanya.

Upaya lain yang dilakukan Disdik Aceh yakni memberikan bantuan seragam sekolah secara gratis bagi anak putus sekolah, khususnya mereka yang berasal dari keluarga dengan keterbatasan ekonomi.

“Misalnya di SMA 13 Banda Aceh yang berada di kawasan pinggiran dan mayoritas siswanya berasal dari keluarga nelayan. Kita berikan seragam gratis. Di beberapa daerah yang kami anggap rentan dan memiliki angka putus sekolah tinggi juga dilakukan hal yang sama,” ungkapnya.

Murthalamuddin menilai persoalan ekonomi masih menjadi salah satu faktor utama yang menyebabkan anak-anak di Aceh berhenti sekolah. Kondisi tersebut membuat PJJ dinilai dapat menjadi pilihan bagi anak yang harus bekerja untuk membantu memenuhi kebutuhan keluarga.

“Misalnya ada anak yang bekerja di warung kopi. Kapan dia punya waktu untuk belajar? Melalui PJJ, modul pembelajaran bisa dikirim dalam bentuk soft copy sehingga lebih fleksibel. Sekitar 30 persen pembelajaran dilakukan melalui pertemuan daring dengan guru dari SMA Modal Bangsa, dan jadwalnya juga bisa dipilih oleh peserta,” jelasnya.

Disdik Aceh berharap kombinasi PJJ, sosialisasi, pendekatan langsung oleh guru, serta bantuan pendidikan dapat memperluas akses belajar bagi anak-anak yang telah putus sekolah.

Program tersebut diharapkan mampu mengembalikan lebih banyak anak usia sekolah ke jalur pendidikan sekaligus menekan angka putus sekolah di Aceh.

Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News