Wednesday, 7 October 2026 Banda Aceh 26°C
Jernih dan Mendalam
Mode Terang
Langganan
TERKINI
Edukasi

BNNP Aceh Soroti Narkotika sebagai Ancaman Keamanan Global dalam Kuliah Umum FISIP USK

Kepala Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Aceh, Brigjen Pol. Dr. Dedy Tabrani, S.I.K., M.Si (Foto: Humas BNNP Aceh)
Kepala Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Aceh, Brigjen Pol. Dr. Dedy Tabrani, S.I.K., M.Si (Foto: Humas BNNP Aceh)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Kepala Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Aceh, Brigjen Pol. Dr. Dedy Tabrani, S.I.K., M.Si., menjadi pemateri dalam kuliah umum yang digelar Program Studi Hubungan Internasional, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Syiah Kuala (USK), Selasa, 6 Oktober 2026.

Kegiatan yang berlangsung di Aula FISIP USK tersebut diikuti sekitar 90 mahasiswa. Kuliah umum mengangkat tema “Hubungan Internasional dalam Memandang Dunia: Perspektif Idealisme, Realisme, Neorealisme, dan Konstruktivisme dalam Program P4GN BNN.”

Dalam materinya, Dedy Tabrani menjelaskan bahwa persoalan narkotika perlu dipandang lebih luas. Menurutnya, narkotika bukan hanya berkaitan dengan kriminalitas dan kesehatan, tetapi juga telah menjadi persoalan keamanan nasional serta kejahatan terorganisasi lintas negara (transnational organized crime).

Karena jaringan peredaran narkotika beroperasi melintasi batas negara, penanganannya membutuhkan keterlibatan dan kerja sama berbagai negara. Upaya tersebut mencakup penguatan penegakan hukum, pengawasan wilayah perbatasan, pertukaran informasi dan intelijen, hingga kerja sama internasional.

“Persoalan narkotika tidak mengenal batas negara. Karena itu, penanganannya juga tidak bisa dilakukan oleh satu negara saja. Diperlukan kerja sama, pertukaran informasi, penguatan kapasitas, dan komitmen bersama,” ujar Dedy.

Dedy kemudian menguraikan sejumlah perspektif dalam Hubungan Internasional yang dapat digunakan untuk memahami persoalan narkotika. Perspektif Realisme dan Neorealisme, misalnya, melihat narkotika sebagai salah satu ancaman terhadap keamanan nasional. Dalam kerangka tersebut, negara dituntut memperkuat kapasitas untuk menjaga wilayah, mengawasi perbatasan, serta memutus mata rantai jaringan narkotika.

Sementara itu, perspektif Idealisme menekankan pentingnya kerja sama dan keberadaan institusi internasional dalam menghadapi ancaman narkotika yang melibatkan berbagai negara.

Adapun Konstruktivisme melihat bahwa pemberantasan narkoba juga berkaitan dengan pembentukan norma dan perubahan perilaku di tengah masyarakat.

“P4GN bukan hanya tentang menangkap pelaku. Kita juga harus membangun norma sosial bahwa narkoba adalah ancaman bersama, memperkuat ketahanan masyarakat, melakukan pencegahan, pemberdayaan, dan memastikan penyalahguna mendapatkan rehabilitasi,” jelasnya.

Dedy juga mendorong generasi muda, terutama mahasiswa Hubungan Internasional, untuk memahami persoalan narkotika sebagai bagian dari dinamika keamanan global.

Menurutnya, mahasiswa memiliki peran penting dalam melihat isu narkotika melalui berbagai sudut pandang sekaligus ikut meningkatkan kesadaran publik mengenai bahaya penyalahgunaan narkoba.

Kuliah umum tersebut berlangsung secara interaktif. Mahasiswa turut berdiskusi dan menyampaikan pertanyaan mengenai perkembangan kejahatan narkotika lintas negara, keamanan perbatasan, kerja sama antarnegara, serta langkah Indonesia dalam menghadapi ancaman narkotika.

Kegiatan ini sekaligus menjadi bagian dari upaya BNNP Aceh dan FISIP USK memperkuat kolaborasi antara pemerintah dan perguruan tinggi dalam mendukung program Pencegahan dan Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkotika (P4GN).

Kolaborasi tersebut diharapkan dapat mendorong lahirnya generasi muda yang kritis dan memiliki wawasan global, sekaligus mampu berkontribusi dalam menciptakan lingkungan pendidikan dan masyarakat yang Bersih dari Narkoba (Bersinar).

Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News