NUKILAN.ID | Banda Aceh — Guru Besar Makroekonomi Internasional Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Syiah Kuala (FEB USK), Prof Rustam Effendi, menilai peningkatan jumlah pengangguran di Aceh pada triwulan I 2026 lebih relevan dikaitkan dengan kontraksi ekonomi secara kuartalan (quarter to quarter/Q-to-Q) dibanding pertumbuhan ekonomi tahunan (year on year/YoY).
Pernyataan itu disampaikan menanggapi data pertumbuhan ekonomi Aceh yang tercatat tumbuh 4,09 persen secara tahunan pada triwulan I 2026, sementara jumlah pengangguran justru meningkat menjadi sekitar 156 ribu orang.
Menurut Rustam, angka pertumbuhan ekonomi secara tahunan belum sepenuhnya menggambarkan kondisi riil ekonomi Aceh saat ini, terutama setelah dampak bencana yang memengaruhi aktivitas ekonomi masyarakat.
“Kalau angka 4,09 persen itu dilihat secara year on year, yakni triwulan I 2026 dibanding triwulan I 2025. Namun untuk Aceh, yang lebih cocok dilihat adalah secara quarter to quarter, karena menggambarkan kondisi pascabencana,” sebut Rustam.
Ia menjelaskan, secara kuartalan ekonomi Aceh mengalami kontraksi sekitar 0,61 persen pada triwulan I 2026 dibanding triwulan IV 2025. Kondisi tersebut dinilai sejalan dengan meningkatnya angka pengangguran.
“Ketika ekonomi mengalami kontraksi atau minus, itu relevan dengan bertambahnya jumlah pengangguran. Jadi kondisi itu masih logis,” ujarnya.
Menurut dia, jika pertumbuhan ekonomi benar-benar kuat sebagaimana tercermin pada data tahunan, secara teori seharusnya kondisi tersebut turut mendorong penciptaan lapangan kerja dan menekan angka pengangguran.
“Kalau ekonomi benar-benar tumbuh kuat, tentu sulit dibayangkan jumlah pengangguran justru bertambah. Itu logikanya,” kata Rustam.
Ia menilai dampak bencana banjir yang terjadi beberapa waktu lalu di Aceh menjadi faktor utama yang menyebabkan perlambatan aktivitas ekonomi di berbagai sektor produktif di Aceh. Proses pemulihan yang masih berlangsung membuat sebagian masyarakat belum kembali bekerja secara normal.
Rustam menyebut sektor pertanian, perdagangan, hingga usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) termasuk yang terdampak cukup besar. Banyak lahan pertanian yang belum kembali produktif, sementara aktivitas usaha masyarakat masih belum pulih sepenuhnya.
“Bencana menyebabkan banyak aktivitas ekonomi terhenti. Pertanian masih ada sawah yang belum ditanami kembali, UMKM terdampak, perdagangan belum maksimal. Itu berpengaruh terhadap lapangan pekerjaan,” ujarnya.
Ia menambahkan, struktur ekonomi Aceh yang masih didominasi sektor pertanian, perkebunan, peternakan, perikanan serta UMKM membuat dampak gangguan pada sektor tersebut berpengaruh langsung terhadap kondisi ketenagakerjaan.
“Lapangan usaha yang dominan di Aceh itu pertanian dan UMKM. Ketika sektor-sektor itu terganggu akibat bencana, maka dampaknya akan terlihat pada meningkatnya pengangguran,” kata Rustam.
Rustam menilai proses pemulihan ekonomi pascabencana menjadi faktor penting untuk menekan angka pengangguran, terutama melalui percepatan pemulihan sektor pertanian dan aktivitas usaha masyarakat. []
Reporter: Sammy

