NUKILAN.ID | Banda Aceh — Guru Besar Makroekonomi Internasional Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Syiah Kuala (FEB USK), Prof Rustam Effendi, menilai pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS berpotensi meningkatkan harga berbagai barang impor dan menambah tekanan terhadap perekonomian nasional.
Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada perdagangan terkini tercatat berada di kisaran Rp17.650 hingga Rp17.670 per dolar AS. Angka tersebut menunjukkan pelemahan dibanding awal tahun dan bahkan menyentuh rekor terendah baru bagi rupiah.
Menurut Rustam, kenaikan harga akan paling terasa pada komoditas yang bergantung pada bahan baku impor atau memiliki kandungan impor tinggi dalam proses produksinya.
“Kalau rupiah melemah, barang-barang impor pasti naik. Produk yang menggunakan bahan baku impor juga akan terdampak. Semua yang memiliki kandungan impor tinggi, harganya akan lebih mahal,” ujar Rustam kepada Nukilan, Selasa (19/5/2026).
Ia mencontohkan sejumlah kebutuhan masyarakat seperti susu bayi dan produk konsumsi lain yang masih bergantung pada bahan baku atau komponen impor berpotensi mengalami kenaikan harga apabila pelemahan rupiah terus berlanjut.
“Sebagian besar produk yang dihasilkan masih mengandung bahan baku impor. Dalam istilah ekonomi disebut import content tinggi. Kalau kandungan impornya tinggi, otomatis akan terdampak ketika dolar menguat,” sebutnya.
Selain faktor kurs, Rustam menyebut kondisi geopolitik global, termasuk konflik internasional, turut memengaruhi stabilitas ekonomi dan perdagangan. Menurutnya, situasi tersebut dapat menghambat ekspor sekaligus meningkatkan tekanan terhadap kebutuhan devisa negara.
Ia menjelaskan, Indonesia membutuhkan dolar dalam jumlah besar untuk memenuhi kebutuhan impor, terutama komoditas energi seperti bahan bakar minyak (BBM). Ketergantungan terhadap impor menyebabkan kebutuhan valuta asing meningkat ketika harga energi global naik.
“Kita membeli minyak menggunakan dolar. Ketika kebutuhan dolar meningkat karena impor besar, sementara pasokan terbatas, maka dolar akan semakin mahal. Itu hukum permintaan dan penawaran,” katanya.
Rustam menambahkan, pelemahan rupiah juga berpotensi memperbesar beban subsidi pemerintah, terutama pada sektor energi. Kondisi tersebut dikhawatirkan mengurangi ruang fiskal yang seharusnya dapat digunakan untuk pembangunan sektor lain.
“Semakin lemah nilai tukar kita, semakin besar biaya yang harus dikeluarkan untuk membeli barang impor. Beban subsidi juga bisa meningkat karena kebutuhan energi masih bergantung pada impor,” ujarnya.
Terkait langkah yang perlu dilakukan pemerintah, Rustam menilai peningkatan kemampuan menghasilkan devisa menjadi salah satu upaya penting untuk menjaga stabilitas nilai tukar. Namun, kondisi perdagangan global yang dipengaruhi konflik internasional disebut menjadi tantangan tersendiri bagi peningkatan ekspor.
“Ekspor juga menghadapi kendala akibat situasi global. Padahal kemampuan menghasilkan devisa sangat penting untuk memperkuat cadangan dolar dan menjaga stabilitas ekonomi,” kata Rustam.
Ia menilai penguatan sektor produksi dalam negeri dan pengurangan ketergantungan terhadap barang impor menjadi langkah jangka panjang yang perlu diperkuat guna mengurangi tekanan terhadap rupiah dan ketahanan ekonomi nasional. []
Reporter: Sammy

