Mayoritas Jamaah Haji Aceh Tahun 2026 Merupakan Korban Banjir dan Longsor

Share

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Keberangkatan ribuan jamaah haji asal Aceh tahun ini menyimpan kisah perjuangan yang menggetarkan. Di tengah kondisi daerah yang baru saja diterpa bencana banjir dan longsor, para calon tamu Allah tetap mantap menunaikan ibadah haji.

Sebanyak 5.500 jamaah asal Aceh, termasuk petugas kelompok terbang, dipastikan berangkat menuju Tanah Suci. Di balik proses keberangkatan itu, banyak jamaah harus meninggalkan kampung halaman yang porak-poranda akibat bencana alam.

“(Jamaah korban bencana) hampir 70% karena 18 kabupaten/kota yang terdampak,” terang Jamaluddin Affan Asyi, Koordinator dan Pengendali Jamaah Haji Aceh di Makkah, Minggu (10/5) malam waktu Arab Saudi.

Jamaluddin menuturkan, proses pelunasan biaya haji tahun ini menjadi salah satu yang paling emosional. Ia bersama tim harus turun langsung ke sejumlah wilayah terdampak untuk menemui para jamaah dan memastikan proses administrasi tetap berjalan.

Di sejumlah daerah, kata dia, banyak calon jamaah kehilangan tempat tinggal, harta benda, bahkan dokumen penting akibat banjir dan longsor. Salah satu pengalaman yang paling membekas baginya terjadi di Aceh Tamiang, saat sebagian besar calon jamaah mengalami kerugian besar.

“Yang paling menyedihkan saya itu di (Aceh) Tamiang. Rumah sudah enggak ada, dan waktu itu hanya satu yang bisa melunasi biaya haji,” tuturnya lirih.

Di tengah situasi tersebut, Jamaluddin mengaku sempat bertanya kepada salah seorang jamaah terkait alasan tetap berangkat meski baru saja tertimpa musibah.

“Kami tetap berangkat haji karena panggilan Allah. Tidak mungkin kami menunda haji ini,” ucapnya menirukan jamaah haji.

Selain kehilangan rumah dan barang berharga, banyak jamaah juga kehilangan dokumen kependudukan maupun dokumen perjalanan seperti paspor, KTP, dan kartu keluarga.

Pemerintah Aceh bersama pihak imigrasi kemudian bergerak cepat dengan membuka layanan jemput bola di lokasi terdampak. Bahkan, pelayanan administrasi sempat dilakukan dari sebuah warung kopi yang masih memiliki akses internet.

Untuk pengurusan paspor yang hilang, para jamaah tidak lagi diwajibkan melalui prosedur administrasi normal. Identitas mereka cukup diverifikasi ulang melalui pencocokan sidik jari di Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil.

“Dari situ datanya langsung keluar semua,” tutur Jamal.

Berkat berbagai upaya tersebut, seluruh jamaah haji Aceh akhirnya berhasil menyelesaikan proses pelunasan biaya haji. Aceh bahkan disebut menjadi provinsi pertama yang seluruh administrasi jamaahnya tuntas sebelum keberangkatan.

Kini, para jamaah asal Serambi Mekkah mulai tiba secara bertahap di Tanah Suci, sebagian besar melalui pemberangkatan gelombang kedua. Mereka datang bukan hanya membawa niat ibadah, tetapi juga kisah perjuangan, luka, dan harapan dari tanah Aceh yang baru saja diuji bencana.

Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News

Read more

Local News